TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
42 KATA MAAF YANG TERTUNDA ___________________________________


__ADS_3

DOENG!


“Heh! Kamu cepetan sini, bantuin gue!” Perintah Om Jaka pada Udin yang baru datang.


Ya, tamu yang datang pada waktu yang kurang tepat itu tak lain adalah si Udin.


“Tapi, tapi … “


“Nggak ada tapi tapi, cepetan!” Om Jaka nggak mau dengar alasan Udin karena melihat Sofi yang mulai lemas.


Akhirnya mau tak mau Udin membantu Om Jaka mengangkat Sofi ke dalam mobil Om Jaka.


“Cepat masuk!” perintah Om Jaka lagi yang melihat Udin hanya berdiri setelah meletakkan Sofi di jok tengah. “Kamu ikut ke rumah sakit.”


“Kok saya jadi ikutan sih, Om?” Udin protes kebingungan tiba-tiba dirinya disuruh ikut mengantar ke rumah sakit padahal sama sekali nggak tau permasalahan apa yang terjadi.


"Udah, nggak usah banyak tanya." Om Jaka mendorong Udin memaksanya masuk.


Mobil Om Jaka langsung pergi meninggalkan rumah Mirza menuju rumah sakit di kota.


Mirza memandang Via dengan sayu setelah menutup pintu.


“Sayang, sekali lagi makasih kamu udah …”


“Jangan senang dulu, Mas. Urusan kita belum selesai sampai di sini.” Potong Via tegas.


Mirza membelalak tak percaya.


“Aku bersikap seperti tadi hanya untuk menjaga harga dirimu sebagai seorang suami.” Lanjut Via dingin. “Selain itu aku nggak mau melihat selingkuhan mu itu merasa menang dariku.” Pungkasnya lantas berbalik meninggalkan Mirza.


“Sayang, tunggu dulu!” Cegat Mirza.


“Apa lagi?”


“Apa itu berarti kamu belum memafkan aku?” Mirza menatap manik mata Via dengan sendu.


“Apa kamu pikir kamu pantas untuk dimaafkan?” Sinis Via.


Mirza terdiam. Perasaannya yang sempat lega kini kembali sesak seketika. Tanpa Mirza ketahui Via pun merasakan hal yang sama.


“Tadinya aku akan memaafkan mu, Mas. Tapi setelah wanita itu datang dan mengaku hamil karena perbuatan mu, semuanya hancur, Mas. Hancur! Aku pikir hubungan kalian nggak sejauh itu, aku sangat kecewa sama kamu!” Via kembali menangis.


Mirza meraih tangan Via dan berlutut di sampingnya. “Sayang, demi apapun aku siap menerima konsekuensi dari kesalahan yang aku perbuat. Tapi tolong, jangan tinggalkan aku. Aku mohon, sayang.” Mirza mengeratkan genggaman tangannya seolah takut Via akan benar-benar pergi darinya.


“Bangun, Mas.” Ucap Via bergetar.


Mirza menggeleng, tatapannya kini menunduk lurus ke lantai.


“Bangun, Mas!” Ucap Via sekali lagi dengan intonasi agak tinggi. “Kamu itu laki-laki, kamu tidak pantas mengiba dan merendahkan dirimu pada perempuan.”


“Aku nggak akan bangun sebelum kamu memaafkan ku dan berjanji tak kan pernah pergi dariku.” Mirza tergugu hingga bahunya berguncang-guncang.


Air mata Via pun mengalir deras hingga menetes membasahi tangan Mirza. Dipandanginya kepala laki-laki yang berlutut di sampingnya itu. Di satu sisi dia sangat mencintai suaminya tapi di sisi lain dia merasa sangat sedih, marah dan kecewa pada penghianatan yang telah diperbuat suaminya itu. Selama ini sama sekali tak pernah terbesit dalam pikirannya akan mengalami cobaan yang begitu hebat dalam rumah tangganya, juga tak pernah membayangkan suatu hari akan berpisah dengan lelaki yang sangat dicintainya itu akibat kehadiran orang ketiga.


Slide demi slide kenangan masa lalu melintasi benak Via. Dari pertama mereka bertemu hingga akhirnya menjalani biduk rumah tangga hampir lima tahun ini Mirza memperlakukannya dengan sangat baik. Dia laki-laki yang lembut dan sangat romantis. Mirza tak pernah marah serius padanya. Pertama kali dia melihat Mirza murka adalah barusan ketika berhadapan dengan Sofi. Suaminya itu terus mengelak untuk bertanggung jawab. Dia yakin betul kalau dia bukanlah ayah dari anak Sofi.


Mata Via terpejam, sementara Mirza sama sekali tak bergeming dari sisinya. Laki-laki baik hati itu pasti perasannya kini hancur seperti dirinya. Namun apakah dia mampu mempercayai suaminya lagi? Sepertinya selingkuh adalah dosa yang tak termaafkan. Dia juga tak sanggup kalau harus kehilangan Mirza.


Via menghela napas berat.


“Aku memaafkan mu." Ucap Via serak.


Mirza mendongak, matanya yang basah mecari keyakinan pada mata Via yang juga sudah banjir air mata sedari tadi. “Katakan itu sekali padaku, sayang.”


“Aku memafkan mu, Mas." Ucap Via sekali lagi dengan segala kesungguhannya.

__ADS_1


Mirza langsung berdiri mendekap Via erat sekali dan mencium pucuk kepala Via dengan air mata haru.


“Terima kasih banyak, sayang. Terima kasih.” Mirza melepaskan dekapannya dan mengusap lembut air mata Via. “Aku tidak akan pernah mengulangi lagi kebodohan ku, aku bersumpah demi Tuhan.”


Via mengangguk. Perasaannya sulit terlukiskan, antara bahagia tapi belum sepenuhnya lega. Karena walau bagaimana pun kini ada Sofi yang tengah hamil dan siap kembali mengancam kebahagiaan mereka.


“Tidak akan ada yang mampu memisahkan kita, kecuali maut. Itu pun hanya sesaat, karena aku yakin Tuhan pasti akan mempersatukan kita kembali di kehidupan selanjutnya.”


Mirza meraih dagu Via dan mengecup bibir Via lembut.


__________


BRAK!


Ramzi menggebrak meja kerjanya hingga membuat dua orang laki-laki berbadan kekar yang berdiri di depannya kaget bukan kepalang.


“Aku nggak mau tau, kalian harus menemukan dia secepatnya! Dan jangan kembali sebelum kalian membawanya ke hadapanku!”


Kedua lelaki hitam berbadan kekar itu mengangguk takut.


“Jika kalian sampai gagal, kalian harus mengembalikan uang yang sudah kalian terima sebanyak sepuluh kali lipat! Atau keluarga kalian akan menerima akibatnya!”


Kedua mata mereka langsung membelalak. Sejenak kemudian mereka sibuk menghitung dalam hati berapa uang yang harus dikembalikan jika tugas mereka gagal.


“Kalian paham?!”


“Paham, Tuan.” Sahut mereka berbarengan.


Ramzi kemudian menyuruh mereka keluar ruangannya dengan isyarat tangannya. Dihempaskan nya pantatnya kemudian di atas kursi empuk dengan gusar sambil menimang-nimang ponselnya.


“Kamu berani memblokir nomorku, lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu.” Ramzi menyeringai sambil memandangi foto seorang wanita cantik yang menjadi wallpaper ponselnya.


“Sofia Alta Husein, semua pengorbananku tidak gratis!” Lanjut Ramzi lalu terbahak sambil berputar-putar di atas kursi kerjanya yang empuk.


__________


“Heh, elu ngapain ikutan keluar?” Tanya Om Jaka begitu tau diikuti Udin.


“Kan Om keluar, jadi aku ikutan.” Sahut Udin lempeng.


“Masuk, sana. Jagain dia!” Perintah Om Jaka.


“Tapi, saya …”


“Jagain dia, gue mau sholat maghrib dulu." Perintah Om Jaka kemudian ia membuka dompetnya. "Ini buat elu kalo lu laper!” Om jaka memberikan tiga lembar uang ratusan ribu pada Udin.


Kontan saja mata Udin melotot dan tangannya langsung menyambar uang itu secepat kilat. Wus!


“Beres, Om!” Sahutnya mantap lantas mencium uang itu sebelum memasukkannya ke dalam saku bajunya.


“Dasar mata duitan, lu!”


“Waduh, gawat!" Pekik Udin kemudian yang melihat 11x panggilan tak terjawab dari Bu Een di ponsel nya yang baru saja dikeluarkan dari saku celana pendeknya.


“Apaan?” Tanya Om Jaka rada penasaran.


Udin memperlihatkan ponselnya. “Ini, ibu nelponin mulu dari sore kayaknya.”


“Kok bisa nggak elu jawab?” Om Jaka heran.


“Saya silent, Om. Kan tadi sore dipaksa ikut nganterin tuh cewek kesini sama Om Jaka. Jadi saya takut kalo ditanyain Ibu.” Sahut Udin cemberut.


Tak lama ponsel Udin menyala memperlihatkan panggilan dari Bu Een.


“Nah, kan bener. Ibu telpon lagi nih.” Udin panik.

__ADS_1


“Ya udah cepetan angkat, takut amat lu!”


“H – halo, Bu …” Sahut Udin gemeteran.


“Heh, Udin! Dari mana aja kamu? Ditelponin dari sore ampe ratusan kali kenapa nggak kamu angkat telponnya? Minggat kemana kamu, hah? Udah disampein belum sama Mirza kalo besok pagi-pagi ambil mobil di rumah Haji Barkah? Mana si Mirza juga ditelponin nggak aktif lagi. Dasar kalian berdua nggak ada yang becus ya!” Omelan Bu Een yang memekakkan telinga langsung membuat nyali udin mengkeret.


Om Jaka yang di samping Udin saja bisa mendenger dengan jelas ocehan Kakaknya itu sampe bikin Om jaka geleng-geleng kepala. Untung aja ponsel Udin nggak di-loud speaker. Coba kalo pake loud speaker kayaknya semua mayat yang ada di kamar jenazah rumah sakit itu pada bangun saking kagetnya dikira lagi diintrogasi malaikat dalam kubur. Wkwkwkwk.


Om Jaka mengambil ponsel Udin.


“Udah selesai pidatonya, Mbakyu?” Tanya Om Jaka kalem.


“Hah? Jaka? Kok kaya suara Jaka sih ini?” Bu Een terdengar kaget tak percaya begitu mendengar suara Om Jaka di hp Udin.


“Iya ini gue, Jaka Sutrisna si duda keren idaman para janda muda sejagat raya. Kenapa emangnya?” Celoteh Om Jaka.


“Ngapain kamu sama si Udin? Mana Udin, mana dia? Kenapa dia nggak angkat telpon dari sore tadi? Udah pergi ninggalin toko nggak balik-balik, sekarang malah enak-enakan sama kamu. Awas aja nanti kalo ketemu tuh anak, biar aku pecat sekalian!” Bu Een masih terus mengomel menumpahkan segala kekesalannya yang rupanya sudah dipendamnya sedari sore tadi.


“Napas dulu, Yu. Napas …. Jangan ngomel mulu, keriputnya nambah lagi tuh kalo kebanyakan ngomel.” Ledek Om Jaka sambil menahan tawanya.


“Heh, Jaka, aku nggak lagi becanda ya. Mana si Udin? Cepetan, aku mau ngomong sama dia!” Teriak Bu Een nggak sabaran.


“Udin lagi gue suruh buat menjalankan tugas penting.”


“Tugas penting apaan? Jangan macem-macem ya, ini toko udah mau tutup nggak ada yang bantuin ngangkatin barang-barang, gimana sih?”


“Ya udah ntar gue yang bantuin, nggak usah khawatir. Ngomel mulu lu kayak toa tukang parabot, berisik!”


“Heh, nggak sopan lu ya! lu gue, lu gue sama orang tua! Gue ini kakak elu, tau! Pake ngatain gue kayak toa tukang parabot lagi, dasar adek kurang ajar lu ya!” Maki Bu Een makin emosi jiwa.


“Lha itu sampean juga ngomongnya pake lu gue, lu gue?”


“Gue kan lebih tua dari elu, bebas!”


“Oke, tarik sis ! Semongko …. ! Monggo kalo mau ngomel lagi, tapi gue matiin dulu hpnya si Udin ya.”


KLIK!


Om jaka beneran matiin sambungan teleponnya hingga membuat Bu Een makin berang di seberang.


“Nih!” Om Jaka memberikan ponsel pada Udin. “Udah, nggak usah takut, lu! Tenang aja gue yang beresin masalah majikan elu yang cerewet itu!” Om Jaka menenangkan Udin yang sedari tadi nampak pucat penuh kekhawatiran.


Om Jaka kembali membuka dompetnya dan memberikan tiga lembar uang ratusan ribu lagi pada Udin.


“Ini gue tambahin. Tapi elu nginep sini. Abis sholat maghrib gue mau pulang istirahat di rumah Yu Een, besok pagi gue kesini lagi.” Pesan Om Jaka.


Seketika wajah Udin langsung sumringah, senyumnya makin lebar tapi tak selebar daun kelor tentunya.


“Beres, Om!”


“Kalo ada apa-apa hubungi gue.”


Udin mengacungkan dua jempolnya.


Om Jaka melangkah pergi meninggalkan Udin yang tengah berbahagia mendapatkan rejeki nomplok. Baginya uang segitu adalah gajinya selama hampir dua minggu bekerja di toko Bu Een.


_______


_______


________ bersambung ☺️


Hai, halo akak-akak author dan pembaca semua. Makasih ya yang udah setia dukung author dan Via ☺️☺️☺️🙏🙏🙏🙏


Jangan lupa selalu like, komen, rate 5 🌟 dan votenya ya 😘😘🤗😘❤️❤️❤️😘🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2