
Terima kasih untuk nggak SPAM di lapak othor ini 🙏❤️
saling dukung dengan sportif 💪💪
Tap .. tap ... tap ...
Sofi mendekati meja Jane dengan langkah cepat.
BRAK..!
Dua paper bag dilempar ke atas meja dengan keras membuat Ramzi dan Jane kaget.
“Sofia...” Ramzi melihat pada istrinya seraya bangkit buru-buru menenangkannya namun Sofi menepis Ramzi dan menatap Jane dengan kilatan emosi.
“Kau! Dasar perempuan tak tau diri!” Sofi menunjuk wajah Jane yang tegang karena sama sekali tak mengira dengan kedatangan Sofi. “Masih berani kamu merayu suamiku? Apa perlu aku memperlakukanmu lebih buruk lagi?” Teriak Sofi yang membuat siapa saja yang ada di dalam cafe itu memperhatikan ulahnya.
“Hah? Gawat!” Pekik Bobby yang melihat Sofi ngamukin Jane. Dia buru-buru mendekati meja Jane.
“Sayang, kamu ...”
“Diam!” Sofi menunjuk wajah Ramzi kali ini. “Sekali kamu membelanya, akan aku permalukan dia di sini!”
“Dengarkan aku!” Ramzi tak mau kalah.
“Kau membentakku, Kak?” Sofi tak percaya Ramzi berani membentaknya. “Kau membentakku hanya gara-gara perempuan tak tau malu ini?”
“Yang kamu lihat tadi nggak sama seperti yang kamu pikirkan! Aku hanya ingin membantunya mencarikan pekerjaan.” Ramzi menjelaskan.
Sofi tersenyum sinis. “Oh, bagus sekali. Kau masih peduli padanya rupanya?”
“Dia kawanku. Dia mantan asisitenku, dia sudah banyak membantuku.”
“Bela saja di terus, dan kau akan meneyesalinya!” Balas Sofi dengan amarah yang tertahan karena seisi ruangan tampak memperhatikannya. Sofi lekas mengambil kembali paper bagnya kemudian berjalan cepat meninggalkan cafe diikuti puluhan pasang mata yang menatapnya.
“Jangan di kejar, Kak.” Azad mencegat langkah Ramzi yang bermaksud menyusul Sofi.
“Dia pergi dengan marah, aku khawatir terjadi apa-apa dengannya.”
“Kita duduk.” Azad malah mengajak Ramzi kembali ke mejanya semula setelah meminta Bobby untuk mengajak Jane pulang.
“Aku harus menjelaskan padanya kalau tadi aku nggak bermaksud apa-apa, aku hanya kasihan pada Jane.” Ungkap Ramzi.
“Kau nggak perlu menjelaskan apa-apa.” Sahut Azad santai.
Ramzi menatap Azad tak mengerti.
“Percaya padaku. Kak Sofi akan baik dengan sendirinya.” Azad meyakinkan kemudian memanggil waiter untuk memesan makanan dan minuman.” Kau belum makan siang kan, Kak?” Tanyanya pada Rmazi yang nampak gusar. “Mau makan apa?”
“Terserah kamu saja.”
Azad kemudian menyebutkan pesanannya untuk Ramzi. Sementara itu di parkiran mall Sofi tampak celingukan sambil menuju mobilnya.
“Hah, kemana si brewok itu? Kok dia nggak ngejar aku sih?” Sofi menghentikan langkahnya tepat di samping mobilnya melihat ke pintu keluar mall yang mengarah langsung ke parkiran. “Harusnya kan dia ngejar aku dan memohon-mohon kayak di adegan-adegan drama itu? Huh! Benar-benar sialan si brewok itu!” Sofi menghentakkan kakinya jengkel.
Dibukanya pintu mobilnya dengan kasar kemudian dilemparkannya dua paper bag di jok samping dan dia pun duduk di balik kemudi masih berharap Ramzi menyusulnya, namun kemudian dia terperanjat.
“Astaga! Jangan-jangan dia malah enak-enakan di dalem sama si bekas asistennya itu? Heh, nggak bisa dibiarin ini!” Sofi keluar mobil lagi bergegas akan kembali ke dalam, namun sebelum mencapai pintu masuk ia menghentikan langkahnya. “Ah, tapi gengsi juga. Masa aku balik lagi sih? Tadi kan aku lagi marah ceritanya?”
Akhirnya Sofi memilih pergi meninggalkan mall dan kembali ke rumah dengan perasaan kesal.
Ramzi baru saja menyelesaikan makan siangnya.
“Aku ada pertemuan sebentar lagi, Kak.” Ucap Azad.
“Oke, pergilah. Nggak apa-apa.” Ramzi mempersilakan.
“Ingat kataku, kau nggak usah membujuk apalagi merayu kakakku untuk meminta maaf.”
“Ah, ya. Aku mau tanya soal itu.” Ramzi mebersihkan mulutmya dengan lap yang disediakan. “Kakakmu memang sangat temperamental, aku kadang kewalahan dengannya. Kenapa kau melarangku, bukannya justru dia kan bertambah marah padaku nanti?”
Azad tersenyum simpul. “Dalam waktu dua atau tiga hari jika dia masih marah padamu kau boleh meminta denda padaku.”
Ramzi malah terkekeh. “Yakin sekali kamu?”
“Dia kakakku, aku tahu perangainya.”
Ramzi menganggukkan kepalanya. “Oke. Terima kasih traktirannya ya.”
Azad pergi lebih dulu meninggalkan Ramzi yang masih menikmati minumannya. Azad tau Sofi sama sekali nggak peduli dengan Ramzi. Tadi itu pasti hanya acting! Lebih dari itu, Sofi pasti akan kewalahan sendiri jika dicuekin Ramzi sebab dia nggak akan mendapatkan kesempatan mengambil apa yang diincarnya dari Ramzi.
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari ini Bu Elin meminta Via datang menemuinya di kantor. Bu Elin mengatakan ingin membahas tentang rencana pengembangan resort di kawasan pantai itu, dengan sedikit khawatir Via memenuhi permintaan Bu Elin itu.
“Langsung masuk aja Mbak, Ibu udah nunggu dari tadi.” Sera sekertaris Bu Elin mempersilakan Via masuk.
Bu Elin langsung menyambut Via dengan senyuman. “Duduk, Vi.” Ucap Bu Elin mempersilahkan.
“Makasih, Bu.” Via duduk di depan Bu Elin.
“Coba lihat ini. Gimana menurut kamu?” Bu Elin menyodorkan konsep pengembangan resortnya, Via mengamatinya seksama. Sejujurnya dia sangat baru dalam hal ini, tapi perlahan dia mampu mencerna maksud dan keinginan dari bosnya itu.
“Bagus, Bu. Dan kalo menurut saya kita juga perlu menggandeng pihak swasta, mereka pasti tertarik karena produk mereka juga ikut kita promosikan nanti.”
“Setuju. Saya juga berpikiran sama.” Bu Elin menjentikkan jarinya. “Saya ada pertemuan dengan dinas budaya dan pariwisata sebentar lagi, kamu ikut ya?”
Via agak kaget. “Saya, Bu?”
“Iya. Dan nanti kamu yang presentasi.” Ujar Bu Elin santai.
“Presentasi?”
“Kenapa? Kamu kan tadi udah baca konsepnya. Tinggal dipaparkan saja, gampang itu. Nggak formal-formal amat kok, santai saja.” Bu Elin membereskan mejanya dan mempersiapkan semua yang akan dibawanya sementara Via masih melongo terkejut dengan tugas dadakan yang diamanatkan padanya.
Namun dengan setengah nekad, Via meyakinkan diri untuk menyanggupinya juga.
Ting!
Pintu lift terbuka, Via dan Bu Elin sudah sampai di lantai bawah, mobil Bu Elin sudah disiapkan di di depan kantor.
“Kamu bisa nyetir kan?” Tanya Bu Elin pada Via.
Via menggeleng tersenyum malu.
“Oke, nggak papa. Kali ini saya yang nyetir. Nanti kamu harus belajar ya.” Bu Elin membuka pintu mobil dan bergegas masuk.
Via mengikuti duduk di sebelah Bu Elin, dalam hatinya malu juga kanapa harus berangkat disupirin sama bosnya. Benar-benar keterlaluan, nyesel juga dia nggak pernah mau disuruh belajar nyetir sama Mirza dari dulu.
“Saya lebih suka nyetir sendiri dari pada pake sopir, Vi. Kecuali kalo keluar kota.” Bu Elin membuka obrolan dalam perjalanan.
Via hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kok ibu tau?” Via malah balik tanya.
“Riri yang cerita.”
“Ooh. Iya, saya udah bilang kok, Bu.”
“Bagus, restu suami itu penting banget lho Vi, buat kita para istri yang ingin berkarir.” Ungkap Bu Elin.
Mobil Bu Elin terus melaju menuju gedung Dinas Budaya dan Pariwisata kota Kabupaten dengan diselingi obrolan ringan. Tak lama mereka sampai di jalan Jl. R.A Kartini, kawasan tersebut memang kawasan perkantoran, di sana terdapat beberapa gedung perkantoran dinas instansi lain yang berjajar berdekatan.
SREET...
Bu Elin menghentikan mobilnya di parkiran.
"Next time kamu yang harus datang sendiri dengan tim kamu, saya sekarang hanya nemenin kamu aja.” Ucap Bu Elin sebelum turun dari mobi dengan senyum yang sulit Via artikan.
Mereka kemudian masuk dan langsung menuju ruang pertemuan, beberapa pejabat dinas terkait yang sudah akrab dengan Bu Elin langsung menyambut kedatangan Bu Elin dan Via.
“Oke, langsung saja ya. Pemaparannya akan disampaikan oleh staf saya.” Ucap Bu Elin tanpa basa basi.
“Oh, jadi ini stafnya Ibu? Saya kira calon mantu, Bu?” Seloroh seorang pejabat daerah yang ikut duduk di sana.
Bu Elin hanya menanggapinya dengan senyuman, Via mendadak jadi kaku. Belum juga dia siap menerima kenyataan kalau ia harus presentasi dadakan, eh malah dibecandaain calon mantu lagi.
Bermula dengan agak grogi Via menjabarkan poin-poin penting yang menjadi sasaran tujuan pembangunan resort yang digaung-gaungkan perusahaan Bu Elin sebagai bentuk dukungan terhadap pemajuan di sektor pariwisata daerah, Via pelan-pelan mampu menguasai jalannya presentasi dengan baik. Terlebih lagi Bu Elin sangat membantu dengan menayangkan slide demi slide poin-point penting itu beserta penjelasan detailnya yang sudah dipersiapkannya lebih dulu dan diperlihatkan melalui layar proyektor dengan sangat gamblang.
“Wah, memang beda ya kalo yang presentasi cantik itu gampang banget nyambungnya?” Seloroh Bapak yang tadi seusai Via emnutup pemaparannya.
Via hanya tersenyum kecil, dalam hatinya dia kurang sreg digodain begitu sama bapak-bapak, terlebih lagi dia seorang pejabat daerah. Rasanya kurang pantas saja. Purwanto, demikian Via membaca nametag yang menempel di baju dinas pak pejabat itu.
“Ada partanyaan? Silakan diajukan, saya dan staf saya akan senang sekali menjawabnya.” Bu Elin mmepersilakan yang hadir untuk bertanya.
“Saya rasa sudah cukup jelas.” Ucap Pak Kabid (kepala bidang). “Langsung saja Bu diresmikan. Ijinnya semua sudah beres kan?”
“Sudah, Pak. Rencananya memang dalam waktu dekat ini, karena masih ada sedikit yang harus dibereskan.” Sahut Bu Elin.
Bapak Kabid manggut-manggut.
__ADS_1
Setelah dirasa cukup, merekapun berpamitan.
“Kita makan siang dulu ya, Vi?” Ucap Bu Elin.
“Oke, Bu.”
Drrrt.. drrrrt...
Ponsel Via bergetar dari dalam tasnya kerana ada pesan masuk. Beruntung tadi sengaja dalam mode getar, coba kalo nggak? Bisa dibayangin kan lagi presentasi terdengar bunyi blukutuk blukutu dari ponselnya? Hehe....
Mirza
Hai, sayang. Gimana hari pertama kamu masuk kerja?
Via
Lancar, Mas. Alhamdulillah. Aku malah ditodong suruh langsung presentasi di kantor Disbudpar.
Mirza
Wow, hebat dong! Keren baget istri Mas.😍😍
Via
berkat doa Mas juga tentunya🙏😘😘
Via asyik senyum-senyum sendiri berbalas pesan dengan Mirza, Bu Elin yag melirik sekilas ikut tersenyum dibuatnya.
Bip Bip
Ponsel Bu Elin juga ternyata berbunyi, segera Bu Elin memakai earphonenya.
“Ya, Halo.”
“(...............)"
“Udah selesai kok, ngapain kamu baru telpon?”
“(..............)”
“Ini mau makan siang. Ya udah nanti kita ketemu disana aja.”
Bu Elin kembali fokus mengemudi setelah selesai menerima panggilan. Mobilnya menuju salah satu rumah makan ternama di kota itu.
“Ayok, Vi. Kita turun.” Ajak Bu Elin setelah sampai dan membuka seatbeltnya.
Bu Elin berjalan menenteng tasnya dnegan Via berjalan di sebelahnya.
“Ini restoran kolega saya.” Bu Elin meberitahukan.
Via mengangguk dan mengikuti langkah Bu Elin yang menuju meja di sisi kiri ruangan begitu mereka memasuki restoran. Via tau restoran ini tempat para pejabat dan pengusaha sering makan, cukup beruntung juga Via diajakin Bu Elin kesini.
“Kemana sih dia? Katanya udah ada disini?” Bu Elin sedikit celingukan mencari seseorang setelah duduk di kursi empuknya.
“Apa ibu ada janji dengan seseorang?” Tanya Via pada Bu Elin.
“Iya, tadi Danar telpon minta ketemuan di sini.” Sahut Bu Elin seraya meraih ponselnya dari dalam tas.
Deg!
Danar?
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaaaa....
Asyiiiikkk, ketemu Danar ...🤩🤩
Yeiiiii, makan siang bareng Danar ya Vi?😍😍
Yang seneng Via ketemu sama Danar, mana suaranya.....?😂😂😂
Up sedikit dulu ya Kak, kita lanjutin nanti.
Jangan lupa dukung othor selalu dengan like dan komen.🙏🙏
Rate 5 selalu dan vote seikhlasnya😊😊
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1