TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
199 #RESIGN?


__ADS_3

Woow 1 episode lagi bakal tamat yaa 😂😂


Ok, MarKiCa .... Mari Kita Baca 😍


❤️❤️❤️❤️❤️


Setelah peristiwa dirinya memergoki sang suami berpelukan mesra dengan Jane, Sofi memutuskan untuk pulang kembali ke kediaman orang tuanya. Ia membawa puing-puing kehancuran hatinya bersama derai air mata sepanjang perjalanan turut bersamanya. Tuan dan Nyonya Husein yang saat itu tengah berada di ruang keluarga terkejut mendapati sang putri kesayangan kembali dengan raut mendung membayang dalam wajahnya. Nyonya Husein yang hendak bertanya segera mengurungkan niatnya ketika Tuan Husein menyentuh lengannya dengan gelengan samar memberi isyarat untuk membiarkan saja Sofi dengan apapun yang dialaminya.


Dan hari ini Sofi mendatangi kamar Azad dengan membawa satu box kecil.


“Azad, apa Kakak bisa minta tolong?” Tanya Sofi pada adiknya yang tengah berkutat dengan ponselnya.


Azad mengalihkan perhatiannya mendongak pada sang kakak. “Tentu, soal apa Kak?”


Sofi mengeluarkan box kecil berwarna merah itu dari saku dressnya. “Aku memerlukan uang.”


“Jangan bilang kalo Kakak mau menjualnya. Itu cincin kawin dari Kak Ram kan?” Azad memicing menatap lurus sang kakak yang berdiri di depannya.


“Azad, aku benar-benar sedang membutuhkan uang.” Sofi berputar menuju sofa single di pojok kamar Azad.


“Aku akan telpon kak Ram.”


“Jangan! Untuk apa?” Cegah Sofi.


“Kak, kau masih istrinya. Kalian belum resmi bercerai, jadi kamu masih ada dalam tanggungannya.” Azad menghampiri duduk di samping Sofi. “Dan calon keponakanku ini, dia butuh seorang ayah.” Azad memegang perut buncit Sofi.


“Dia nggak akan lagi peduli pada kami.” Sofi menggeleng dengan raut sendu, matanya berkabut menunduk menatap sang calon buah hati di dalam rahimnya sana yang mungkin sedang merasakan jua kepedihannya.


“Kenapa kamu bilang begtu, Kak?”


Sofi berusaha menahan air matanya agar tak sampai luruh. Ia melengos meghindari tatapan Azad. “Aku melihatnya di rumah perempuan itu.” Lirihnya penuh kegetiran.


“Di rumah Jane?” Azad tak percaya.


Sofi mengangguk samar. “Aku membuntuti Kak Ram sampai kesana, dan aku melihat mereka …..” Suara Sofi tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


“Apa yang kamu lihat Kak?” Azad penuh rasa ingin tahu.


Kilasan adegan Ramzi memeluk mesra Jane (jika dilhat dari anggle Sofi) berkelabat di benak Sofi membuatnya tak kuasa menahan buliran bening mencipta basah di kedua pipi mulusnya.


“Apa yang mereka lakukan? Apa mereka melukaimu, Kak? Katakan! Apa mereka berbuat kasar padamu?” Azad geram, tangan kanannya mengepal kuat. Azad menyangka Jane benar-benar menerusakan kegilaannya dan tak mengindahkan peringatannya untuk meninggalkan Ramzi. Dengan cepat ia meraih ponselnya kembali mencari nomer Jane.


“Azad kau mau apa?” Sergah Sofi.


“Aku nggak bisa membiarkan Jane merusak rumah tangga kakakku!”


Sofi merebut ponsel Azad. “Tak ada gunanya. Aku sudah lelah dengan semua ini, Azad.” Sofi mengehala nafas panjang seolah pasrah.


Azad menatap sendu pada sang kakak. Tatapan Sofi kosong ke depan, pikirannya carut marut. Ia sendiri sungguh tak menghendaki semuanya menjadi seperti ini. Ia yang dulu bak ratu di istana sang suami, kini terabaikan bahkan dianggap tiak ada oleh suaminya sendiri. Sofi mengusap kedua matanya yang basah. Azad semakin merasakan nyeri dalam hatinya melihat nasib sang kakak.


“Kak, apa kau bersedih untuk Kak Ram?” Lirih Azad.


Sekali lagi Sofi menghela nafas, ia menyandarkan punggungnya pada bantal sofa yang empuk. “Entahlah …” Desahnya seolah tanpa harapan.


“Kak, itu berarti kau mulai mencintai suamimu.” Azad meraih jemari kakaknya menggenggamnya erat untuk memberinya keyakinan. “Kau cemburu kan melihatnya dengan Jane?”


Sofi diam. ia sendiri bertanya-tanya dalam hati, benarkah seperti itu? benarkah dia mulai mencintai Ramzi? Dia memang kerap meradang melihat suaminya dekat dengan Jane, tapi itu lebih karena ia takut kehilangan ladang emasnya berupa harta kekayaan sang suami bukan karena saking cintanya. Namun sekarang? Apa benar cintanya yang membuatnya sampai rela melelehakan air matanya seperti itu?


“Sebaiknya besok aku antar kamu pulang, Kak.” Ucap Azad kemudian.


“Nggak.” Sofi menggeleng kuat. “Aku nggak mau menginjakkan kaki disana.”


“Kita selesaikan semuanya, kau jangan lari dari masalah.”


“Kenapa harus aku? Kenapa bukan Kak Ram yang mendatangiku?” Sofi menaikkan intonasinya.


“Karena kamu yang harus mencari kepastian Kak. Demi anakmu, kau tak bisa membiarkannya berlarut-larut terus.”” Azad bersungguh-sungguh.


“Aku nggak sudi. Dia yang harus mencariku, dan aku nggak akan membiarkannya pergi dengan mudah tanpa memberiku harga yang pantas!”


“Astaga, Kak! Masih saja soal harta yang kau pikirkan!” Azad jengkel. “Anakmu itu lebih dari segalanya.”


“Kau bisa bicara seperti itu karena tidak dalam posisi sepertiku.” Sofi tak kalah jengkelnya, hilang sudah kesedihannya berganti dengan emosi yang meluap. “Sekarang mana surat-surat perusahaan Alatas. Berikan padaku.” Pinta Sofi.


Deg!


Azad ingat surat perusahaan Alatas yang disimpannya sudah diserahkan oleh papanya pada Tuan Alatas.


“Cepat berikan padaku!”


“Mau kau apakan, Kak?” Azad terlihat gugup.


“Bukan urusanmu.” Sofi bangkit menuju brankas.


Azad berjalan cepat mendahului. “Kak, sebenarnya … Papa sudah menyerahkannya pada Tuan Alatas.”


Sofi tersentak, matanya membulat menatap tak percaya. Ia ingin marah mengapa Azad dan Tuan Husein menyerahkan begitu saja padahal dia sudah mengambilnya dengan susah payah. Namun sejurus kemudian matanya goyah, sendinya terasa melemah. Azad segera membawanya kembali ke sofa. Bitiran bening kembali tumpah fari kedua netra indahnya, Sofi benar-benar merasa dikhianati keluarganya sendiri.


“Mengapa kalian tega melakukannya padaku …..?” Gumam Sofi dengan penuh kekecewaan.


“Kak, bukan begitu ….”


“Pantas saja kalian tak pernah menanyakan kabarku selama aku tak disini.” Kesedihan kian menyesakkan dadanya. “Kalian memang sudah tak peduli lagi padaku. Bahkan papa dan mama tak menegurku ketika di meja makan.”


“Kak, percayalah kami selalu ada untukmu. Aku dan Papa hanya tak mau dianggap telah merampas apa yang bukan milik kami. Dan memang tak seharusnya kamu melakkan itu, Kak.” Tatapan Azad memohon pengertian sang kakak.


“Kau sama sekali tak mengerti!” Sentak Sofi. “Aku kecewa pada kalian, aku benci kalian semua! Aku bahkan membenci diriku mengapa harus berada ditengah-tengah kalian yang tak pernah mengerti akan mauku!” Pekik Sofi masih dengan berurai air mata lantas bangkit dengan langkah lebar dan membanting pintu kamar Azad.


BLAM!


❤️❤️❤️❤️❤️


Mirza masih berkutat dengan mesin cuci ketika Via keluar kamar sambil menguap memegangi perutnya yang terasa lapar. TV di ruang tengah tampak menyala tanpa ada penonton, Via berjalan lurus ke dapur.


“Mas, kok nggak bangunin aku sih?” teguran Via agak mengagetkan Mirza.


Ia menoleh. “Maaf Sayang, Mas lihat kamu pules banget setelah shalat subuh.” Mirza memindahkan semua pakaian dari pengering ke dalam wadah dan mengangkatnya ke halaman belakang untuk menjemurnya.


Via mengikuti dan mengambil tempat di atas kursi bambu teras belakang rumahnya. Ia perhatikan semua yang dilakukan suaminya. Bukannya dia tak menyadari, Via memang merasakan ada sedikit yang berbeda dari sikap suaminya belakangan ini. Meski Mirza berusaha selalu bersikap manis, namun insting seorang istri tetap lebih tajam dari pada silet.


“Mas, aku …..” Via mendekat.


“Tetap ditempatmu, Sayang. Jangan sentuh apapun.” Titah Mirza sebelum Via ikut meraih baju dalam keranjang.


Via terpaksa nurut, niatnya mau membantu tak diijinkan oleh sang suami. Bukankah ia sudah lebih sehat dari beberapa hari yang lalu?


Heh…. Via mendesah ringan kembali pada tempat duduknya menunggu sang suami selesai bermesraan dengan jemuran baju.


Membosankan! Via melayangkan pandangan ke sekitaran halaman belakang yang tak terlalu luas itu. Dua ekor burung gereja hinggap di pagar rumah berjingkat-jingkat saling berkejaran. Sepertinya mereka sepasang kekasih, atau sekedar TTM {teman tapi mesum 🤭🤭), begitu pikir Via. Lelah berkejaran, salah satunya berpindah ke dahan pohon mangga tetangga, alih-alih mengejar seekor lainnya malah terbang meninggalkannya entah.


Pandangan Via kini beralih pada pohon pepaya yang buahnya cukup lebat. Biasanya Bujel yang selalu memanennya, namun sejak dia disemprot habis-habisan oleh Yana dan Khusni, itu orang jarang terlihat batang tumitnya lagi.


“Mas, aku pingin makan oseng buah pepaya dikasih ikan teri.” Ucap Via yang tiba-tiba membayangkan makanan yang kerap dimasak ibunya ketika ia masih tinggal di rumah Bu Harni. Itu sudah lama sekali, tetiba Via kangen dengan masakan ibunya.


“Nanti Mas buatkan.” Jawab Mirza tanpa menoleh, tangannya terampil mejemur baju-baju hingga selesai.


“Emh, tapi aku mau ibu yang masakin buat aku.” Cicit Via.


Mirza membawa keranjangnya yang sudah kosong menghampiri. “Baiklah Sayang, Mas akan telpon ibu nanti.” Ia masuk untuk membersihkan diri. “Sayang, kita sarapan yuk!” Seru Mirza kemudian.


Raut tak bersemangat terlukis jelas di wajah cantik Via, namun ketika melihat sajian yang terhidang di atas meja makan seketika matanya membola.



“Mas, kamu masak tumis kangkung?”


“Iya. Kamu kan nggak ke kantor Sayang. Jadi nggak papa dong kalo kamu ngantuk?” Mirza menyunggingkan senyum tipis. “Oya sebentar, Mas lupa udangnya” Gegas Mirza mengambil udang goreng tepung yang masih berada di dapur.


"Ini dia, udang goreng tepungnya."



“Enak banget ini Mas, pedesnya pas.” Via memuji masakan suaminya setelah menyendokkan tumis kangkung ke dalam mulutnya.


“Kalo gitu makan yang banyak ya, biar kamu sama dede bayinya sehat. Nih udangnya juga, habisin ya.” Mirza mengambikan beberapa udang ke dalam piring Via.


“Makasih Sayang. Kamu memang suami yang super baik, tau aja nafsu makanku sekarang lagi bertambah.” Via memasukkan sepotong udah goreng ke dalam mulutnya.


“Selamanya aku akan menjadi suami terbaik untukmu, Sayang.” Mirza mengusap tangan kiri Via dengan tatapan penuh arti. “Karena nggak akan ada yang bisa menggantikan aku.”


Deg!


Via balas menatap ditengah kegiatannya mengunyah. Kalimat itu mungkin terdengar biasa saja jika Via tak sedang merasakan suaminya akhir-akhir ini agak berbeda, namun jelas Via merasa ada makna dibalik ucapan yang baru saja dilontarkan sang suami.


“Tentu Mas, kamu tak akan tergantikan.” Balas Via menggenggam erat jemari suaminya. “Selamanya.”


Mirza tersenyum lantas mencium buku-buku jemari Via lembut. “Ya udah, ayok kita makan lagi Sayang.”


Via pun kembali melanjutkan sarapannya, ia makan dengan sangat lahap. Mirza mencuri pandang disela-sela makannya.


Vi, aku percaya kamu tak pernah mengkhianatiku. Aku tau kau wanita yang sangat tulus dan setia. Sampai kapan pun aku tak kan rela jika harus kehilanganmu, dan akan aku lakukan apapun untuk tetap membuatmu berada di sampingku. Monolog hati Mirza penuh keyakinan.


TLUING … TLUING .. TLUING … WING…


TLUING … TLUING .. TLUING … WING WING…


Suara nyaring dari ponsel Mirza sedikit menyita perhatian mereka. Mirza bangkit menuju ruang tengah mengambil ponselnya disana.


“Om Jaka?” Gumamnya setelah melihat layar ponselnya. “Halo, Om?” Sapanya seraya kembali melangkah ke ruang makan.


“Za, elu berangkat jam berapa? Ke rumah gue dulu apa langusung?” Tanya Om Jaka di seberang.


Mirza mengernyit. “Berangkat kemana Om?”


“Ya elah! Elu amnesia apa gimana? Kan hari ini hari nikahannya si Udin? Gue udah bilang dari jauh-jauh hari sama elu kan?” Om Jaka terdengar gemas.


Mirza menepok jidat. “Ya ampun iya! Kenapa bisa lupa ya?”


Via sontak melihat pada suaminya. “Lupa apa, Mas?” Tanya Via penasaran.


“Hari ini si Udin nikah, Sayang.” Jawab Mirza menghempaskan pantat di kursinya lagi.


“Jadi gimana? Kalo elu mau ke rumah gue dulu ya gue tungguin nih?” Om Jaka tak sabaran.


Mirza melihat jam dinding. Pukul 08.10. “Langsung ketemu di rumah Udin aja deh.” Sahut Mirza.


“Oke. Si Via ikut kagak? Kalo Dena sih gue bilang kagak usah ikutan, soalnya bayi gue suka rewel kalo banyak orang. Kagak kayak papanya, alim. Heran gue tuh bayi bisa kayak gitu nurunin siapa.” Celoteh Om Jaka.


Mirza melihat Via yang menghabiskan suapan pertamanya. “Kayaknya Via juga nggak ikut Om. Dia baru sakit harus bed rest.”


“Ya udah, sampe ketemu ya. jangan telat lu, ijab qobulnya jam 10, ntar kita barengan ngiring pengantin ke rumah mempelai wanita.” Om Jaka mengingatkan sebelum mengakhiri percakapan.


Mirza lantas membereskan bekas sarapan. “Kamu nggak papa kan Sayang ditinggal di rumah? Mas nggak mau kamu ikut terus kecapekan.” Ujaranya pada Via.


“Iya, nggak papa Mas.” Via pasrah. “Sampein salam aku buat Udin ya. semoga pernikahannya sakiah mawaddah warrahmah.”

__ADS_1


“Amin. Iya Sayang, nanti Mas sampein.” Mirza bangkit hendak membawa piring kotor ke wastafel.


“Eh, itu udang gorengnya Mas nggak abis jangan dibuang dong.” Ucap Via yang melihat beberapa udang goreng masih teronggok di piring suaminya. “Sini aku abisin Mas, kan sayang ih.”


“Ya ampun, istri Mas ini laper apa doyan ya?” Goda Mirza. “Kan itu masih banyak Sayang.” Mirza menunjuk piring berisi udang goreng di dekat Via.


“Iya, tapi yang itu jangan dibuang Mas. Mubazir tau!” Via merebut udang goreng dari bekas piring Mirza dan mengumpulkannya dengan si teman udang goreng yan lain. “Dicocol mayonnais sama saos cabe enak banget ini.” Via meraih botol mayonais dan botol saos cabe.


Mirza geleng-geleng kepala seraya tersenyum lebar. “Luar biasa emang istri Mas sekarang.”


Via cuek tak menanggapi, ia asyik dengan si udang goreng di depannya. Setelah badannya merasa pulih, entah mengapa nafsu makannya sekarang seperti bertambah-tambah.


“Sayang, Mas siap-siap dulu ya. takut telat nanti.” Ucap Mrza setelah selesai mencuci piring.


“Emang acaranya jam berapa Mas?”


“Jam 10.”


“Kan masih lama? Perjalanan dari sini kesana cuman setengah jam.”


Mirza sekali lagi mengulas senyum. “Lebih baik menunggu kan daripada ketinggalan?”


Mirza segera menuju kamar untuk mandi dan ganti baju. Meskipun subuh tadi udah mandi tapi ia merasa harus kembali membersihkan tubuhnya dari keringat dan bau asap dapur. Selesai mandi Mirza segera memakai baju, ia mengenakan batik, mengingat ini acara resmi. Ia ingin tampil rapih di hari pernikahan Udin dan tak ingin mengecewakan Udin karena Udin baginya sudah seperti keluarga sendiri.


“Sayang, Mas pergi ya.” Pamit Mirza menyusul Via ke dapur yang ternyata lagi bikin susu.


Via menoleh. “Mas! Kenapa pake batik sih?” Respon Via tak suka.


“Lah, emang kenapa? Masa suruh pake baju koko? Emangnya Mas mau jumatan?” Heran Mirza.


“Ganti! Nggak pantes ah!” Via merengut.


“Masa sih? Ini baju batik kita yang couplean itu lho. Masih bagus kan?” Mirza mmemperhatikan penampilan dirinya.


“Pokoknya ganti ya ganti. Aku nggak suka ngeliatnya. Aneh!” Cebik Via.


“Mas sih keliatan aneh?” Gumam Mirza namun ia nurut juga mengganti bajunya.


Mirza kembali ke kamar dan mengambil kemeja navy lengan panjang.


“Kalo yang ini gimana Sayang? Pantes kan?" Tanya Mirza pada Via yang kini sudah berada di ruang tengah baru saja selesai minum susu hamilnya.


“Kenapa malah pake kemeja sih, Mas?” Makin aneh tau!”


“Haish! Apa mas pake singlet aja kondangannya kalo gitu?” Mirza mendengus kasar.


“Eh jangan! aurat tau!” Via memajukan bibirnya kesal.


“Ya terus Mas harus pake baju apa? Pake batik salah pake kemeja salah?”


“Bukan salah Mas, tapi nggak pantes!” Ralat Via. “Pake kaos ajalah nggak usah ribet. Lebih praktis dan simple.”


“Masa acara resmi suruh pake kaos sih, Sayang? Mas keliatan nggak menghargai Udin dong kalo gitu?” Protes Mirza.


“Jadi Mas nggak mau nurutin kata aku? Mas suka ya kalo jadi perhatian perempuan-perempuan di luar sana? Mas itu inget udah punya istri, bentar lagi mau punya anak! Jadi jangan suka tebar pesona sama perempuan lain!” Cerocos Via terang-terangan.


Mirza kaget mendengar rentetan kalimat istrinya yang menggebu terdengar penuh kecemburuan itu. Namun ia sama sekali tak marah, Mirza justru tersenyum menjawil pipi istrinya yang menggelembung kesal.


“Jadi istri Mas ini jealous nih veritanya?” Goda Mirza.


“Ish! Siapa yang jealous?” Via memalingkan wajahnya.


“Itu tadi kenapa ngomel-ngomel nggak jelas gitu kalo nggak jealous?”


“Nggak! Aku cuman nggak suka ngeliat Mas keliatan ganteng di luar rumah!” Via keceplosan, spontan mengatupkan bibirnya.


Mirza merangkul pundak Via seraya mengangkat dagunya. “Mas seneng kamu cemburu, itu tandanya kamu sangat mencintai suamimu ini.” Tutur Mirza. “Tapi kamu harus tau Sayang, walau banyak perempuan diluar sana yang tersenyum pada suamimu ini, hanya senyummu yang paling indah untuk suamimu. Dan satu lagi, Mas nggak berniat buat tebar pesona, Mas hanya ingin tampil terbaik di acaranya Udin.”


“Tapi aku nggak suka Mas!” Kilah Via. “Pokoknya ganti pake kaos titik!” Via kekeh.


Mirza menghela napas kasar. Untung ia punya stok sabar yang sangat banyak, ia pilih mengalah mengingat kondisi kehamilan Via yang menyebabkan emosinya tak stabil.


“Baiklah, Mas pake kaos.”


“Gitu kek dari tadi!” Ketus Via.


Orang hamil kadang tingkahnya susah ditebak, emosinya cenderung berubah-ubah. Sebentar manis, sebentar asem. Heh …. Sekali lagi Mirza mengehela nafas panjang seraya memilah kaos dalam lemari pakaiannya. Lantas ia menjatuhkan pilihan pada kaos abu-abu monyet yang berkerah. (note: kaosnya ya yang berkerah bukan monyetnya 😁😁). Mirza pikir ini lebih sopan daripada kaos lainnya yang terkesan santai. Setelah selesai berganti pakaian, Mirza melihat penampilannya di depan cermin.


“Mudah-mudahan Via nggak protes lagi.” Guamamnya, namun sejurus kemudian ia merasa kayak ada aneh dalam dirinya. Kali ini beneran aneh. Dia merasa salah kostum. Meski penampilannya nggak se-ekstrim Om Jaka waktu mau berangkat ke empang, tapi tetep aja dia merasa kurang pantas.


“Ya ampun, kenapa sih para wanita suka banget suaminya keliahatan jelek?” Keluh Mirza yang ingat Denaya juga menyuruh Omnya untuk tak terlihat menarik di mata umum.


Mirza membuka pintu lemari sebelahnya. Deretan jas tergantung rapi di sana, Mirza mengambil satu yang berwarna senada. Segera memakainya kemudian mengncir rambut gondrongnya ke belakang.


“Kayak gini kayaknya lumayan. Via kan paling ilfil kalo liat aku dikucir.” Mirza nyengir memnadangi pantulan wajahnya di cermin.


“Sayang, Mas udah selsai. Mas pergi sekarang ya?” Pamitnya sekali lagi.


“Mas Mirzaaaaaa……..!” Pekik Via demi melihat penampilan sumainya sekarang.



“Apalagi Sayang? Apa suamimu ini tetap terlihat tampan menawan, hm?” Mirza sedikit frustasi tapi tak mau ikut emosi. Ia malah mengembangkan senyumnya. “Maaf Sayang, Mas udah tamvan dari sononya. Ini anugrah Illahi, kamu harus bersyukur akan hal ini."


Via bangkit menghampiri. “Lepas jasnya! Disuruh pake kaos malah pake jas! Aku nggak suka, Mas! Nggak suka… !” Via memukul-mukul lengan suaminya kesal.


“Stop Sayang. “ Mirza menenangkan istrinya meraih kedua tangannya dan membawanya dalam pelukan. “Dengar, apa Mas pernah melarangmu berhias jika ngin berangkat kerja?” Tanya Mirza lembut.


Via mendorong suaminya perlahan, menatap wajah berkharisma dengan lesung pipi itu dalam, lantas menggeleng samar.


“Mas kamu ….”


“Suuut!” Mirza menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Via. “Jangan ngomong lagi, atau Mas akan lanjutin ciumannya di kamar dan nggak jadi kondangan.”


“Ih, nakal….” Via mencubit kecil pinggang Mirza.


Mirza meringis, cepat meraih tangan itu dan menciuminya. “Maksih Sayang, bibir kamu nikmat. Rasa udang goreng pedas saus mayonais.”


Via melotot sudah bersiap hendak melayangkan cubitan lagi namun tangan Mirza segara mencekalnya dan bibir Mirza bergerak lebih gesit. Ciuman 2 detik setengah basah setengah kering mampir kembali di bibir ranum Via.


“Itu untuk cubitanmu tadi.” Mirza tersenyum membuat Via tak kuasa kembali mencebik demi menahan malu kenapa suaminya itu suka banget nyosor tak tau sikon. “Mas pergi ya, jangan lupa rindukan Mas sampai pulang nanti.” Mirza menowel hidung Via.


Via mengangguk tersenyum manis melepas sang suami dengan penuh kelegaan.


"Hemmm, bête! Aku ngapain dong nunggun Mas Mirza pulang?" Dengus Via setelah mobil Mirza menghilang dari pandangan. Ia melangkah gontai menutup pintu.


"Aha! Aku telpon Yana aja, ngobrol sama dia gimana kabarnya di Bandung ya?" Via bersemangat mencari hengpongnya. Sementara itu Mirza sudah dalam perjalanan, ia melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Pukul 08.40.


“Masih sempat. Aku harus tuntaskan semuanya hari ini juga.” Gumam Mirza melihat sekilas pada sebuah amplop putih yang ia simpan di atas dashboard sengaja ditutupi dengan topinya.


Mirza mengambil arah belok kanan setelah lampu merah menuju kantor Via. Mobilnya kini sudah memasuki parkiran gedung perkantoran.


NGIIK ….


Mobil Via terparkir sempurna. Ia masukkan amplop putih panjang itu ke dalam saku dalam jasnya. Kemudain ia meraih gawainya.


“Halo, Danar. Kamu sibuk nggak? Aku mau ketemu sebentar, bisa?” Tanya Mirza langsung.


Ya, dia menelpon Danar untuk menuntaskan sebuah urusan yang beberapa waktu ini mengganjal di hatinya. Tanpa sepengetahuan Via, semalam Mirza telah membuat surat pengunduran diri Via dan hari ini ia akan memberikannya pada Danar. Terkesan agak licik memang karena Mirza juga memalsukan tanda tangan Via di sana.


“Em, ya ada. Kamu mau kesini jam berapa, Za?” walau rada surprise ada apa gerangan Mirza mendatanginya namun Danar mau juga menemuinya.


“aku udah di parkiran kantor kamu sekarang.”


“Oya. Kalo gitu kita ketemu di resto samping kantor aja.”


“Jangan, biar aku yang ke sana.” Mirza tak enak hati, pasalnya ini soal penting, ia harus menemui Danar secara resmi pula.


“Oke, langsung naik saja. Aku akan memberitahu sekertarisku.”


“Baik.” Mirza mengakhiri percakapan dan keluar mobil melangkah mantap memasuki gedung perkantoran itu.


Ini sudah jam kerja, suasana loby lengang. Mirza terus melangkah menuju meja receptionis. Sang reseptions langsung berdiri menyambut sebelum Mirza mengatakan apapun.


“Pak Mirza ya?” Sapanya dengan senyum terbaiknya.


Mirza mengangguk “Iya, saya mau ketemu dengan Pak Danar.”


“Oya, silakan langsung ke lantai empat saja. Pak Danar sudah menunggu anda.” Ucap sang receptionis masih dengan senyum mengembang di bibir merahnya.


“Oke, makasih ya.” Pungakas Mirza lantas segera berlalu.


Si receptoionis mengangguk lantas mengikuti Mirza dengan tatapannya sampai tubuh Mirza menghilang di lorong menuju lift. Terpesona dia sama si abang tamvan! 😍😍


Tak berapa lama Mirza sudah berada di lnati 4 dan seorang waita muda dengan rok dan blazer mencirikan bahwa dirinya adalah sorang sekretaris segara menyambut Mirza.


“Bapak Mirza Mahendra?” dari intonasi si perempuan muda itu cenderung lebih menebak daripada bertanya.


Mirza hanya mengangguk.


“Mari ikut dengan saya, Pak Danar sudah menunggu anda.” Ucap sang sekretaris sopan dengan senyuman.


Mirza segera mengikutinya. Memperhatikan si sekretaris yang berjalan di depannya.


Kenapa Danar nggak naksir sekretarisnya aja? Kenapa harus Via yang dia taksir, kalo seandainya itu benar? Padahal sekretarisnya dia lumayan bening dan cakep. Hash! Mikir apaan sih aku! Mirza sibuk membatin sampai ia tak sadar beberapa pasang mata melihat ke arahnya saat melewati ruang karyawan menuju ruang Danar.


“Cil, itu kan suaminya Via?” Vony menarik lengan baju Cila untuk segera melihat Mirza sebelum dia masuk ruangan Danar.


“Eh, iya lho bener. Itu si babang ganteng suaminya Via yang ketemu gue sama Ayang gue tempo hari lalu.” Malah Milen yang bersemangat. “Mau ngapain ya dia kesini?”


“Yang jelas bukan nyariin elo!” Sambar Vony.


“Ish, gue juga tau. Lagian gue udah punya ayang Rindra kok.” Cebik Milen. “Tapi kalo si babang ganteng suaminya Via suka sama gue, ya gue kagak nolak.”


“Idih, kepedean lo!” Cibir Vony.


“Biarin, tapi kan gue udah laku. Kagak kayak elo!”


“Gue rasa dia nyamperin Pak Bos mau kepoin gue deh, kan gue waktu itu jengukin Via ke rumahnya. Jadi dia tertarik sama gue.” Vony malah pasang senyum jumawa.


“Haish! Dasar jombol karatan! nggak mungkin Mas ganteng itu suka sama elo!” Balas Milen sebal.


“Kalian ini kok malah ributin suami orang sih? Minat jadi pelakor?” Cila menatap kesal Milen dan Vony.


“Abisnya suaminya Via itu emang cakep bener, ya kan? elo juga setuju sama gue kan?” Vony sedikit maksa. “kesannya tuh dia itu macho, keren, gagah perkosa… ehh oops....!” Vony menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya.


“Dasar jomblo mesum!” Ejek Milen.


“Elo kagak tau sih, dia itu ternyat baik banget tau orangnya. Gue dibikin minum waktu ke rumahnya. Kelihatan banget kalo dia itu perhatian orangnya. Duuuh… pokoknya dia suami idaman banget deh.” Vony sampe merem melek membayangkan wajah Mirza.


“Ish, jijay gue sama elo!” Milen kembali ke kursinya sedangkan Cila tak ambil pusing walau sebenarnya hati kecilnya bertanya-yanya penasaran dengan kedatangan Mirza.


Sementara itu MIrza telah berada di ruang kerja Danar dan sudah mengerahkan surat pengunduran diri Via pada Danar Sang sekretaris pun sudah kembali ke habitatnya.


“Kalau ini sudah keputusan Via, aku nggak bisa bilang apa-apa. Walau sebenernya aku cukup menyayangkan pengunduran dirinya ini.” Ucap Danar seolah tak rela melepaskan Via dari kantornya.

__ADS_1


“Hem, ya mau gimana lagi. Kandungan Via lemah, dia tak boleh lelah dan stress.” Sahut Mirza senetral mungkin meski sebenarnya dia sangat ingin menanyakan langsung soal perasaan Danar pada istrinya.


Danar mengangguk. “Perusahaan akan sangat kehilangan, ia karyawan yang berbakat dan cakap dalam banyak hal. Kamu tau dia mendapat penghargaan karyawan terbaik kan?”


Mirza tersenyum. “Ya aku tau. Tapi aku nggak mungkin tetep membiakannya bekerja, kami sudah menunggu 7 tahun untuk punya anak.”


“Langkah Via sudah benar, keluarga adalah yang utama.” Danar sepakat. “Selamat menantikan sang buah hati ya, Za. Sampaikan salamku untuk Via.”


“Makasih, aku akan sampaikan.” Mirza bangkit. “Kalo gitu aku pamit ya.”


“Jangan sungkan untuk memberitahuku jika butuh bantuan.” Danar menepuk bahu Mirza dengan senyuman.


“Ya, tapi aku pastikan Via nggak akan merepotkanmu lagi. Maksih sudah banyak menolong Via selama ini ya.”


Deg!


Etah kenapa kalimat Mirza seolah menohok ulu hati Danar. aku pastikan Via nggak akan merepotkanmu lagi. Ulang batin danar. Kenapa Mirza berkata seperti itu?


“Emh, Via tak pernah merepotkanku. Snatai saja.” Danar segera menepis perasaannya sendiri .


“Skali lagi makasih ya. kamu bos yang sangat baik.” Mirza menjabat erat tangan Danar. “Omong-omong, apa sekretarismu tadi masih jomblo?” Mirza menyeringai memperlihatkan senyum lesung pipinya.


Danar mengernyit. “Maksudmu?”


“Ya kamu tentu bisa mengajaknya sekedar makan malam kalau perempuan yang bersamamu malam itu terlalu sibuk kan?" Mirza terkekeh kecil, ia melihat perubahan raut wajah danar. “kidding, Bro.” Mirza gantian menepuk bahu Danar. “Carilah pasangan, agar kamu tak terlalu betah di kantor.” Mirza mengeling lantas melambaikan tangan sebelum keluar ruangan.


Danar mengikuti sampai pintu dengan senyuman, namun sejurus kemudian senyumnya langsung musnah seiring tubuh tegap Mirza menghilang dari pandangan.


Apa maksudnya dia berkata seperyi itu? apa dia …..


“Pak, meeting kita akan segera dimulai. Kita sudah terlambat beberapa menit.” Suara merdu mendayu sang sekretaris membuyarkan parasangka dalam benak Danar.


Gegas Danar mempersiapkan diri menuju ruang meeting, dan Mirza pun sudah meljukan mobilnya meninggalkan parkiran. Satu ganjalan dalam hatinya terselesaikan. Kini tinggal bagaimana dia harus menjelaskannya pada Via.


“Hem, harusnya Danar paham dengan candaanku.” Guam Mirza sambil fokus pada kemudianya. “Itu pun kalo dia laki-laki cerdas,” decihnya.


Tak ingin terlambat, Mirza menambah kecepatan laju mobilnya. Setengah jam kemudian ia sudah sampai di kediaman sederhana Udin. Om Jaka segera menghampiri begitu MIrza turun dari mobil.


“Lama bener sih lu? Nyasar kemana?” Sapa Om jaka dengan gaya khasnya.


“Ada urusan bentar tadi Om.”


“Sok penting lu!” Om Jaka mencibir kesal lantas segera mengajak Mirza ke dalam.


Mirza segera menemui Udin untuk mengucakan selamat. Ia memeluk Udin yang udah rapi dengan setelan jas dan peci hitam dengan berkalungkan untaian bunga melati di lehernya khas pengantin laki-laki.


“Selamat ya, Din. Akhirnya kamu nikah juga.” Mirza tersenyum lebar. “Oya Via nitip salam dan ucapan selamat buat kamu. Maaf dia nggak bisa hadir karena lagi sakit.”


“Iya Mas, nggak papa. Makasih banyak. Aku seneng banget, semua ini juga berkat bantuan Mas Mirza.” Balas Udin dengan senyum bahagia.


“Bantuin apaan dia? Yang ada juga gue yang udah mungut elu, nyelametin elu yang hari itu nangis-nangis sampe ingus elu luber kena baju gue!” Sambar Om jaka yang sontak saja membuat tergelak semua yang mendengarnya.


“Om, jangan kennceng-kenceng dong. Malu…” Bisik Udin.


“Tau nih, suka benget buka aib orang.” Timpal Mirza.


“Din, gimana udah siap?” Pak Haji Barkah muncul menanyakan kesiapan Udin.


“Sudah pak haji.” Jawab Udin mantap.


“Ya udah, ayok segera berangkat. Udah setengah sepuluh lebih ini.” Pak Haji mengingatkan.


Udin pun keluar rumah diiring oleh neneknya dan beberapa kerabat lainnya menuju mobil pengantin.


“Za. Gue ikut mobil elu ya?” Ucap Om jaka.


“La, emang Om kesini naik apaan?”


“Bareng Ayah tadi, tapi kan itu udah dijadiin mobil pengantin. Males gue disana, isinya bangsa kadaluarsa semua, bau minyak angin. Pening pala gue!” uCap Om jaka seenaknya.


Mirza cuman mengelus dada, OmnYa itu emang antik. Nggak sadar diri kalo dirinya juga sudah tuwir, pake nggak mau satu mobil sama para orang tua lagi. Namun tanpa banyak kata Mirza hanya nurut saja.


Mobil pengantin berjalan paing depan. Pak haji duduk di depan disamping sopir, Udin duduk di jok tengah diapit nenek dan sodaranya yang juga hampir seumuran dengan neneknya. Di jok belakang tak jauh beda, para tetua keluarga berada disana. Rupanya itu yang dimaksud dengan bangsa expired alias kadaluarsa oleh Om jaka.


Iring-iringan romabongan pengantin sangat panjang melewati depan rumah Bu Een karena rumah Ice Juice memang kearah sana. Tak kurang dari 15 mobil turut serta dalam rombongan pengantin itu. selain mobil Om jaka dan Mirza, ada juga beberapa mobil yang sengaja dsewa Haji Barkah untuk para tetangga dan saudara Udin yang ingin turut mengantarkan. Tak hanya itu, mobil truk pengantar pasir, mobil pick up pengangkut batako sampe odong-odong pun turut serta sehingga menambah panjang iring-iringan pengantar pengantin itu. hari ini memang special. Karena Haji Barkah meliburkan semua karyawannya di 8 cabang toko matrialnya untuk ikut menghadiri hari bahagia Udin.


“Perasaan waktu aku nikah nggak rame banget kayak gini deh yang nganterin.” Ucap Mirza ditengah perjalanan.


“Ya makanaya jadi anak buah gue biar elu nikah banyak yang ngiring.” Sahut Om Jaka.


“Maksud Om Jaka aku suruh nikah lagi gitu?” Mirza menoleh pada Omnya.


“Gue nggak bilang gitu kok, tapi kalo elu mau ya ….”


“Aku aduin sama Via biar dipecat jadi Om lho!” Ancam Mirza memicingkan matanya.


“Dih! Elu sendiri yang ngambil kesimpulan kayak gitu.” Kilah Om Jaka.


Perdebatan antara Om dan keponakan itu terjeda karena bunyi notifikasi pada gawai Om Jaka. Rupanya Denaya yang mengirim pesan. Dia nitip dibelikan oleh-oleh ketika Om Jaka pulang nanti. Om Jaka dengan cepat membalas pesan Denaya.


“Bini gue ada aja titipannya kalo pas gue keluar. Heran, doyan banget makan dia sekarang.” Gerutu Om Jaka setelah memasukkan gawainya ke dalam saku kemejanya.


“Namanya juga wanta menyusui Om, wajarllah. Via yang baru hamil juga gitu kok sekarang.” Sahut Mirza menaggapi kalimat OmNya yang terdenagr seperti curcol itu.


“He em, mana gue sekarang udah kagak kebagian susunya lagi. Tau gitu, sejak baru ceprot gue kasih susu formula aja tuh bayi biar gue kagak mupeng mulu tiap malem.”


“Ish! Dasar somplak!” Mirza berdecih kesal, bisa-bisanya Omnya punya pikiran ajaib kayak gitu.


“Eh, elu juga bakal ngerasin nanti Za! Nanti bayi kalian akan menguasai aset bini elu yang berharga itu. dan elo bakalan mupeng kayak gue!” Balas Om Jaka.


“Nggak lah, aku malah bersyukur kalo anak kami ntar bisa full ASI selama 2 tahun.”


“Blagu lu! Awas aja ntar kalo ngeluh sama gue!” Sinis Om Jaka.


“Nggak bakalan. Emangnya Om Jaka?”


“Kenapa emang gue?”


“Curcol.”


“Kagak pernah!”


“Lha, barusan apa?”


“Bukan! Gue lagi ngelindur tadi.” Om Jaka membuang pandangan kesal.


Mirza tersenyum geli ngeliat tampang Omnya yang suram.


“Etapi kalo aku perhatiin tampang Om Jaka emang agak tirus ya sekarang? Sering begadang ya Om?” Mirza mulai lagi.


“Huuh, bukan lagi.” Om Jaka kembali memperlihatkan tampang kesuhnya. “Itu orok kalo siang pules bener tidur seharian. Tapi kalo malem, tidur lima menit sepuluh menit bangun dia. Yang ganti popok lah, yang aus lah, hem ada aja dah pokoknya.”


“Persis papanya ya banyak tingkah?” Cengir Mirza.


“Kagak! Gue kan alim orangnya.” Om Jaka tak terima. “Dan lu tau kagak, yang lebih bikin gue tepok jidat nih, kalo gue udah mulai merayap deketin emaknya, ehh dia kayak ada alarmnya gitu, pasti langsung nangis. Bisa banget kan tuh bayi? Hadeh, ampun dah!”


Mirza makin cekikikan mendengar celotehan Omnya. “Sabar ya Om….”


Om Jaka manyun kembali membuang pandangan. Lantas matanya menangkap sesosok mahluk astral lagi berdiri di depan rumahnya dengan pandangan sulit diartikan.


“Eeh Za! Emak lu tuh!” Ujar Om Jaka menunjuk pada mahluk astral yang tak lain adalah Bu Een yang tangah berdiri memandangi mobil yang berduyun-duyun melewati depan rumahnya.


Mirza melihat dari kaca sepion. “Ya ampun! Ibu apa nggak diundang ya Om sama Udin?” Kaget Mirza, dia juga baru ngeh kalo ibunya tak ada dalam acara sakral si Udin.


“Gue yang ngelarang Udin buat jangan ngundang emak elu.” Jawab Om Jaka lugas.


Mirza menoleh. “Lho, kenapa Om?”


“Jangan pura-pura bego lu. Elu kan tau emak lu itu super duper trouble maker!” Kesal Om Jaka. “Inget waktu nikahan gue sama Denaya kagak lu? Gue kagak mau itu terjadi lagi di nikahannya Udin sama si Ice Juice.”


Mirza menghela napas. “Ibu pasti bakalan marah besar kalo tau Om Jaka ngelarang Udin ngundang dia.”


“Bodo amat!” Om Jaka cuek.


Iring-iringan pengantin masih terus berlangsung dan Bu Een masih dengan kemelongoannya di depan rumahnya. Saking penasarannya dia lantas lebih mendekat ke arah jalan dan menengok mobil yang berjalan paling depan yang sudah berbelok di ujung persimpangan.


“Oy Bu! kenapa kok mukanya kayak keheranan gitu?” Tegur Romlah seorang tetengga Bu Een yang sedang melintas.


“Eh, ini acara kawinan atau apaan sih? Kok saya tadi kayak liat mobilnya anak saya Mirza sama si Jaka?” Tanya Bu Een masih dengan wajah penasarannya.


“Lah, emang Bu Een nggak tau? Ini kan hari nikahannya si Udin? Wajar aja kalo Mas Mirza sama Om Jaka ikut nganterin.” Heran Romlah.


“Apa? Nikahannya Udin?” Sekonyong-konyong mata Bu Een membulat sempurna.


“Iya. Emang Bu Een nggak diundang? Padahal kan Udin kerja di Bu Een lama? Kok bisa sih dia nggak ngundang Bu Een? Saya aja diundang kok, ntar abis dzuhur resepsinya.” Romlah semakin terheran-heran.


“Emang dia nikah sama siapa, kok banyak banget yang ngaterin?”


“Ya sama pacarnya lah, siapa lagi kalo bukan sama si Ice Juice! Itu semua mobil yang sewa Haji Barkah, kan si Udin sekarang kerja di tempatnya Haji Barkah. Malahan seserahannya nih saya denger-denger disumbang sama Pak Haji dan Om Jaka. Beruntung banget ya si Udin, udah dapet bini cantik kinyis-kinyis sekarang kerja sama orang baik dan nggak pelit lagi!” Sindir Romlah dengan mimik nyinyirnya.


Bu Een tak mempedulikan nyinyiran si Romlah. Dia sibuk mengumpat dalam hati. Batin Bu Een meronta bergejolak tak terima, ia sungguh sangat merasa tak dihargai. Kenapa Udin bisa sampai hati tak mengundangnya ke acara nikahannya? Ia terus ngedumel jengkel dalam hati sampai tak sadar si Romlah udah berlalu dan mobil iring-iringan mobil pengantin pun telah usai.


“Dasar kamu tak tau terima kasih, Din! awas aja kamu, pernikahan kamu nggak akan bahagia karena tanpa doa restu saya!” Bu Een melanjutkan kejengkelannya dengan mengepalkan tangannya. “Ini semua pasti ulah si Jaka! Dia pasti udah ngeracuni si Udin sampe dia nurut nggak ngundang saya! Awas kamu Jaka! Kamu juga kenapa ikut-ikutan, Za? Mau jadi anak lebih durhaka kamu? Kalian semua memang nggak ada yang bener jadi orang! Kalian bakal terima pembalasannya nanti!” Bu Een memutar langkahnya menuju rumah.


PLETAK!


Tiba-tiba sebuah jambu air jatuh mengenai kepala Bu Een.


“Aduh!” Bu Een mengaduh mengusap kepalanya yang meski nggak benjol tapi lumayan membuatnya meringis.


“Dasar kamu jambu, berani sama saya? Awas ya, saya tebang nanti kamu!” Omel Bu Een pada pohon jambu depan rumahnya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hadeh! Semakin nggak jelas aja ya Bu Een? Wkwkwk…🤣🤣🤣🤣🤣


Gimana-gimana… udah pada bosen ya sama ceritanya othor? 1 episode lagi nyampe episode 200 nih. Niatan awal othor mau tamatin di episode 200 yaa.


Kita liat besok ya, kalo jari-jari othor sanggup keriting nyelesein semua permasalahan tokohnya maka ya end aja. Tapi sih ya kayaknya…. Belum, hehehe….


Terima kasih buat readers yang selalu setia mengikuti tulisan othor awut-awut-awutan ini ya 🙏🙏🙏🙏🙏


Like like like likeeeee .... jangan ada yang kelupaan 😀😀😀😀


Komen komen komen komeeeen. ... jangan ada yang ketiggalan😁😁😁😁


Vote? Kagak usah! Sampe sekarang othor kagak ngarti gunanya vote buat apaan?wkwkwk…😅😅😅


ikut-ikutan othor kece lainnya aja sih minta di vote, ehe! 🤭🤭


Yang penting mah othor tugasnya nulis ehhh ngetik ngetik ngetik dan ngetiiik….


Sukur ada yang baca walau baru sedikit. Pokoke reader semuanya dan sahabat sesama author dari A sambe Zet , KALIAN SEMUA LUAR BIASAAAAA ……!!! 😍😍😍😍😍


I love you all 🤗🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


Mmmmmmuuuaaaaaaaachhh ….. 😘😘😘😘😘


__ADS_2