
Suasana makan malam di rumah kontrakan Mirza mendadak sedikit tegang ketika Om Jaka membahas soal teman-teman Ramzi yang masih menginap di rumah Mirza yang dulu. Mirza seketika mendorong piringnya padahal masih belum menghabiskan isinya. Via tak berani buka suara, dari cara suaminya memandang Om Jaka ia yakin kali ini suaminya benar-benar kesal.
“Sebaiknya Om suruh mereka pulang sekarang juga. Aku nggak suka mereka tinggal lama-lama disana.” Ucap Mirza dingin.
“Santai dong!” Om Jaka cuek menyuapkan makanannya. “Kan elu bilang rumah itu bukan rumah elu lagi? Kenapa elu musti sewot?”
Mendengus kasar. “Jangan nambah masalah deh, Om. Kalo Om nggak nyuruh mereka pergi, aku yang akan usir mereka.”
“Kemaren elu baek-baek aja deh, kenapa sekarang jadi marah-marah?”
“Si Azad adeknya Sofi itu dia ngejar-ngejar Riri. Ibu jadi ngomelin aku dikira aku nampung keluarga pelokor di rumahku, tau!” Gusar Mirza.
Mencomot udang krispy dan memakannya lagi. “Oh, jadi itu masalahnya? Bagus dong! Elu sama Sofi ntar bakal sodaraan?”
“Om, aku serius!” Mirza menaikkan nada suaranya.
Sedikit tersentak. “Ok!” Memandang Mirza dengan ekspresi kaget. “Gue yang akan bilang sama Mbak Har.”
“Bilang apaan?”
“Bilang buat jodohin Riri sama Azad. Kan Mbak Har pingin punya mantu yang kaya raya?”
Mirza bangkit membuat kursi terdorong mengeluarkan suara berisik.
“Eeet, santai bro. santai … jangan emosian dong. Gue becanda.” Om Jaka menenangkan seraya menepuk-nepuk bahu ponakan semata wayangnya. “Takut banget lu sama ibu mertua elu? Via aja kagak pernah takut sama emak elu yang lebih kejam dari Mbak Har. Ya nggak Vi?” Melirik Via yang sedari tadi hanya menjadi penonton.
“Bukan begitu, Om. Mas Mirza hanya ingin menjaga peasaan ibu aja.” Via akhirnya bersuara.
Om Jaka menghela nafas pendek. “Si bule temanya Azad itu, dia lagi belajar ilmu agama sama ayah mertua gue. Dia punya keinginan menjadi mualaf. Gue cuma … “
“Kalo gitu suruh aja dia tinggal di rumah Om Jaka!” Sela Mirza.
“Nggak bisa gitu dong, Za. Kamar di rumah gue udah penuh. Dua kamar di pavilun juga udah ada pegawai ayah.”
“Suruh dia tidur di gudang!”
“Hem, Za. Sejak kapan sih elu jadi tegaan banget sama orang lain?” Menatap keponakannya meminta pengertian.
“Om, aku bener-bener nggak mau berhubungan lagi dengan oang-orang yang ada kaitannya sama Sofi. Dan semuanya itu bukan karena aku sendiri, tapi karena aku ingin menjaga hati istri aku, hati ibu mertua aku dan orang-orag yang pernah aku kecewakan di masa lalu.” Papar Mirza bersungguh-sungguh.
“Emang apa hubungannya si bule itu sama Sofi? Kan dia cuman temennya adeknya Sofi?”
“Dia itu mantan pacarnya Sofi! Dan dia yang menghamili Sofi terus Sofi ngaku-ngaku dia hamil anak aku!”
“Waaaat?” Om Jaka sekonyong-konyong melototkan kedua matanya. “Be- beneran lu? Se-seriusan lu?” Om Jaka sampe terbata-bata saking kagetnya.
“Baba bebe baba bebe, ngomomg yang bener!” Ejek Mirza kesal. “Kaget kan sekarang?”
Om Jaka mengusap wajahnya kasar, bersandar dengan pandangan masih tak percaya.
Bip! Bip!
Notifikasi pesan masuk di ponselnya menyadarkan Om Jaka dari kemelongoannya, mendesah pelan setelah membaca isi pesannya. “Hem, gue harus pergi nih.” Ucapnya kemudian. Soal temen-temennya Azad itu ntar gue pikirin lagi. Oya, gue kesini sebenarnya mau ngasih ini nih.” Membuka tas slempang yang sedari tadi dipakainya, lantas menyerahkan sebuah amplop besar yang isinya cukup tebal.
Menerima dan melongok isinya. “Uang apa ini? Banyak banget?” Tanya Mirza.
“Sewa empang dari Pak Karto. Itung dulu dah, semuanya 100 juta.”
“Ck, kenapa nggak ditransfer aja sih?” Berdecak kesal mengeluarkan gepokan uang dari dalam amplop.
“Pak Karto sendiri yang ngasih chas ke gue sore tadi waktu gue tutup toko, makanya gue mampir kesini.”
“Pas!”
“Pas dari mana? Udah lu itung beneran belom?” Om Jaka sangsi.
“Ya dibikin pas ajalah, males juga ngitungnya. Makasih ya Om, tau aja kalo aku lagi butuh diut.” Tersenyum lebar. “Ini rejeki dede bayi, Sayang.” Meraih tangan Via.
“Huu .. tadi aja lu marah-marah, sekarang cengar-cengir! Gue tabok juga lu pake gepokan duit!” Omel Om Jaka seraya bangkit. “Ya udah gue cabut dulu deh.”
“Mau kemana Om? Makanannya belum diabisin tuh.” Timpal Via.
“Gara-gara laki lu, selera makan gue jadi ilang.” Melirik sebal pada Mirza. “Gue mau anterin si Ramzi, katanya Sofi bosen di hotel pingin jalan-jalan cari angin.”
“Haish! Udah dibilangin juga jangan berurusan lagi sama Sofi.” Kembali kesal pada Om nya.
“Ini demi kemanusiaan.” Balas Om Jaka lantas ngeloyor pergi.
Mirza tak mengantar Omnya sampai ke depan, raut wajahnya masih menyiratkan kekesalan padahal sebelumnya sempat menguap.
“Mas –“ Menyentuh lengan suaminya. “Mas bilang sudah berdamai dengan masa lalu, lantas kenapa Mas masih kesal kalo ada yang nyinggung soal Sofi?” Menatap intens kedua mata Mirza.
“Mas cuman nggak mau nanti kalo ibu udah siuman Sofi masih berada disini.” Ucap Mirza datar.
“Tapi kan Sofi baru melahirkan, Mas? Bayinya juga masih dirawat intensif, dia nggak mungkin pergi sebelum bayinya benar-benar sehat.”
“Nggak tau ah, Sayang. Mas nggak mau bahas soal dia lagi.”
“Mas beneran udah move on dari masa lalu kan?” Mencari kesungguhan dari sorot mata sang suami.
“Kenapa kamu nanya gitu, Sayang? Kamu meragukanku?” Malah balik bertanya. Keduanya bersitatap dalam.
Via tau suaminya tak berdusta. “Bersikaplah bijak Mas. Perasaanku sudah baik-baik saja. Soal ibuku, jangan terlalu dipikirkan. Toh Riri juga sudah punya Toni, nggak mungkin dia akan pindah ke lain hati.”
Mengangguk seraya menyelipkan helaian rambut Via ke telinganya. “Kamu benar Sayang. Suamimu hanya khawatir jika ibu siuman, dia akan berulah lagi dengan menggunakan Sofi.”
“Suaminya Sofi tentu tak akan tinggal diam, Mas. Buang semua kekhawatiranmu itu.”
Mendekatkan diri lantas memberi kecupan singkat pada bibir sang istri. “Makasih, Sayang.”
-
-
-
Langkah Om Jaka yang baru memasuki lobi hotel terhenti ketika Ramzi memanggilnya. Om Jaka segera memutar langkah, ternyata Ramzi dan Sofi sudah menunggunya disana.
“Maaf ya, merepotkan Om Jaka.” Sambut Ramzi.
“Hem, kalo bukan karena bini elu yang lagi butuh refreshing gue males kesini nih.”
Bangkit dengan senyum agak sungkan. “Padahal aku udah bilang Kak Ram jangan merepotkan Om Jaka.”
“Aku kan nggak tau tempat hiburan di kota ini.” Ramzi membela diri.
“Tempat hiburan? Maksunya club malam?” Om Jaka kaget. “Eh, Sofi. Elu tu baru abis ngelahirin, masa udah mau kelayapan di club malam? Gila lu dasar!” Sentak Om Jaka tak habis pikir.
“Emh, bukan …, maksudku tempat hiburan, apa itu … tempat buat sekedar duduk santai, kita bisa relax sambil makan atau … “
“Oooh, itu maksudnya?” Bibir Om Jaka membulat seraya manggut-manggut. “Lu pada mau kemana emang? Ini cuman kota kecil nggak semegah Jakarta, kalo cari tempat nongkrong mungkin ya tempatnya biasa aja nggak terlalu mewah kayak di Jakarta.”
“Kemana aja deh Om, yang penting aku bisa refresh. Ke taman juga boleh.” Usul Sofi.
“Buset! Mau ngapain lu ke taman malem-malem, Sof? Mau main ayunan sama kuntilanak?”
“Taman kota Om! Bukan taman makam!” Kesal Sofi.
“Iya, Om. Ke taman bagus juga tuh. Kita bisa kulineran sambil duduk-duduk santai.” Ramzi setuju.
“Males gue, banyak pengamen.” Tolak Om Jaka, lantas dia berpikir sejenak. “Aha! Gue tau, ke kedai kopi aja yok! Kita berangkat pake mobil gue aja.” Bangkit langsung mendahului malangkah keluar lobi tanpa menunggu jawaban Sofi dan Ramzi.
Kurang dari sepuluh menit mereka sudah tiba di parkiran kedai kopi Nostalgia. Seorang pelayan langsung menyambut mereka begitu memasuki kedai.
“Kita di luar aja ya, enak seger udaranya nih.” Memimpin mengambil tempat duduk di area outdoor, Sofi dan Ramzi segera mengekor.
“Silakan, Pak. Pelayan menyodorkan daftar menu.
“Nah, elu pilih dah tuh semua makanan sama minuman yang elu semua pengen. Malem ini gue yang traktir.” Om Jaka mengeluarkan rokok kretek dari saku bajunya. “Semua menu disini dijamin enak.” Imbuh Om Jaka, sebatang rokok dinyalakan, asapnya membumbung di udara.
“Jangan makan yang pedas ya, aku takut kamu sakit perut.” Ucap Ramzi penuh perhatian pada Sofi.
Sofi mengangguk, ia lantas memilih menu makanan dan minuman yang diinginkannya. “Om Jaka mau makan apa?” Tanya Sofi setelah selesai memesan makanan untuk dirinya dan Ramzi.
__ADS_1
“Gue espresso aja deh, masih kenyang.”
“Baik, mohon ditunggu ya Pak.” Ucap sang pelayan.
“Eeh, bentar.” Om Jaka menahan. “Bos elu ada?”
“Mas Danar?” Tanya sang pelayan.
“Iye, Danar Hadi Pramana. Panggil bos elu kemari. Bilang ada tamu dari jauh pingin ketemu.”
Meski agak heran, sang pelayan manut juga. Ia lantas pergi setelah mengagguk sopan.
“Om Jaka kenal sama yang punya tempat ini?” Tanya Ramzi.
“Kenal banget. Dia bosnya Via dulu.”
“Via pernah bekerja disini?” Sofi penasaran.
“Nggak, di perusahaannya dia.”
Sofi mengernyit, meski masih kepingin tahu tapi ia tak melanjutkan kekepoannya. Ia lebih memilih untuk menikmati suasana kedai yang ternyata asyik juga menurutnya. Tampak beberapa pengunjung yang baru datang dan mengambil tempat duduk agak jauh dari tempatnya, Sofi terus saja memindai seisi kedai. Lampu-lampu yang menyala, pepohohan yang bergoyang perlahan menghembus udara dingin, alunan musik dari mini stage, dan masih banyak lagi. Sofi menikmatinya.
“Harusnya elu belum boleh keluyuran, Sof.” Perkataan Om Jaka mengusik kegiatan pengamatan Sofi.
“Kenapa, Om?”
“Pan elu masih masa nifas. Kalo di kampung gue nih, wanita baru ngelahirin pamali kelayaban, apalagi malem-malem begini.”
“Aku juga tadi bilang begitu, Om.” Timpal Ramzi. “Tapi dia terus merengek, bosan di hotel katanya.”
“Kamu sama sekali nggak ngerti perasaanku, Kak. Aku selalu teringat bayiku kalo berdiam di hotel.” Lirih Sofi dengan raut sedih. “Adai diperbolehkan, aku juga mau masuk ruang NICU.”
“Mau ikutan tidur di incubator lu? Aneh-aneh aja!” Om Jaka terkekeh lantas mengisap kembali rokok disela kedua jarinya. “Sorry ya Sof, gue ngerokok nih.”
“Heem.”
Tak berapa lama makanan mereka datang bersamaan dengan Danar yang juga turut mengantarkan pesanan mereka.
“Astaga, Danar. Elu emang bos super duper keren dah, mau turun langsung ngelayanin pengunjung.” Puji Om Jaka disertai senyum lebar.
“Biasa aja kali Om, tiap hari juga aku gini kok.” Menarik kursi di samping Om Jaka.
“Cocok juga lu pake apron barista, ketimbang pake dasi sama jas. Hahaa…. “Om jaka tertawa lebar sampe Danar ikut ketawa dibuatnya. “Eh, maap. Kidding, bro1” Menepuk pelan pundak Danar.
“Aku justru seneng kok, Om. Emang inilah duniaku sekarang.” Tersenyum manis, manis sekali sampe bikin Sofi meleleh.
“Oya Danar, kenalin ini Ramzi dan Sofi istrinya.” Om Jaka memperkenalkan Ramzi dan Sofi pada Danar. “Mereka temen gue dari Jakarta.”
Danar menyambut ramah, sekali lagi senyuman Danar membuat Sofi terkesima.
“Kamu bosnya Via?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Sofi.
Seketika Danar heran, kok dia bisa kenal Via? Batin Danar.
“Oh, tadi gue cerita kalo Via pernah bekerja di perusahaan elu.” Om Jaka menerangkan seolah mendengar suara hati Danar.
Danar menagngguk. “Itu dulu, sebelum aku resign.”
“Danar ini putra tunggal pemilik hotel tempat kalian menginap. Orang tuanya pengusaha property sukses di kota ini. Bukan itu saja, bisnis keluarganya dimana-mana. Dari mulai mini market, resort, toko kue, dan …”
“Udah deh, Om. Nggak usah lebay.” Danar jadi tak enak hati Om Jaka terlalu memuji kesuksesan orang tua angkatnya.
“Asal kalian tahu, dia ini tadinya CEO saah satu perusahaan orang tuanya, tapi malah lebih memilih jadi CEO kedai kopi” Seolah belum puas Om Jaka terus saja nyerocos sambil tertawa.
“Bisa aja.” Danar menggaruk pelipisnya yang nggak gatal sambil lagi-lagi tersenyum, dan lagi-lagi seperti magnet sukses menarik perhatian Sofi. Ramzi yang menyadari hal itu berinisiatif mangalihkan topik pembicaraan.
“Apa kamu sudah menikah?”
Glek!
Ditanya begitu, Danar spontan terdiam. Lantas menggeleng dengan senyum tipis.
“Belum.”
Danar nyengir.
“Oh, sorry. Aku nggak bermaksud … “Ramzi menjeda kalimatnya karena menyadari ternyata itu tema yang senditif.
“It’s ok.”
“Ya udah, cepetan dimakan. Ntar keburu dingin lho.” Ucap Om Jaka mematikan puntung rokok dalam asbak lantas mengambil cangkir espressonya. “Gue minggir dulu ya, silakan kalian nikmatin makan malam berdua kalian.” Om Jaka bangkit. “Danar, temenin gue yok!”
Mereka berdua mengambil tempat duduk agak jauh dari meja Ramzi dan sofi. Danar antusias menjadi teman ngobrol bagi Om Jaka, dia merasa senang karena sudah lama nggak ketemu sama Om Jaka. Namun baru sebentar perhatiannya tercuri pada seorang gadis yang baru datang dan langsung menuju mini bar dimana Ari sedang menyibukkan diri disana. Gadis itu menyapa Ari, mereka nampak mengobrol, Danar penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
“Danar, lu dengerin gue kagak sih?” Om Jaka membuat Danar mengalihkan kembali perhatiannya.
“Eeh, iya. Kenapa Om?”
“Hem, elu ngelitin apaan sih?” Om Jaka ikut melihat objek yang tadi menjadi perhatian Danar. “Oh, cewek itu ya? cakep juga dia. Manis, imut dan menggemaskan kayak bola bekel.”
“Om Jaka ada-ada aja. Masa cewek dibilang kayak bola bekel?” Danar terekeh mendengarnya.
“Lah elu perhatiin aja deh, bentukan cewek model begitu pasti gerakannya lincah dan gesit kesana kemari macam bola bekel.”
Danar hanya geleng-geleng kepala. “Sebelumnya om Jaka ngomong apaan tadi?”
“Yang mana ya? gue lupa dah ah kalo udah liat cewek cantik.”
“Hem, aku bilangin sama Denaya tamat riwayat Om Jaka.” Seloroh Danar.
“Yah, jangan dong.” Om Jaka udah khawatir aja. “Oh, tadi gue ngomongin kedai elu ini. Jadi keliatan makin luas setelah dipugar. Nyaman dan makin asyik buat nongkrong.”
“Alhamdullah kalo gitu, pengunjung juga jadi makin betah kan Om?”
“Oh iya dong, gue aja betah.” Mencubit cangkir espressonya lantas menyesap isinya sampe merem melek saking nikmatnya, Danar cuman seyum-senyum melihat tingkah Om Jaka yang selalu ajaib itu.
“Chelsi! Ini matcha lattenya ketinggalan!”
Pekikan suara Ari sukses membuat Danar ikut menoleh.
“Oh, jadi namanya Chelsi?” Gumam Om Jaka. “Buruan deketin, ajak kenalan.” Mengompori seraya melihat pada Chelsi yang menghentikan langkah tak jauh dari meja meraka.
“Ya ampun! Iya, sampe lupa. Kamu sih ngajakin aku ngobrol terus.” Senyum Chelsi pada Ari yang mendekat membawakan matcha latte pesanannya. “Maksih ya.”
“Heem, dan ini pisang bakar kejunya bonus buat kamu.”
“Wah, kalo beli minuman disini dapet bonus ya?” Chelsi berbinar bahagia menerimanya.
“Eits, tapi bonusnya bukan buat sembarangan orang lho. Cuman buat orang spesial aja.” Sahut Ari dengan senyuman pedenya.
“Ekhem!” Danar segaja berdehem agak kenceng hingga membuat Chelsi dan Ari menoleh ke arahnya.
“Mas Danar?” Chelsi surprise melihat Danar ada di sana, lebih surprise lagi si Ari. Dia nggak nyangka Chlesi kenal sama bosnya.
Bangkit mendekat. “Ri, balik kerja sana!” Titah Danar pada Ari membuat Chelsi terheran-heran.
“Huh, Mas Danar nggak bisa liat orang lagi usaha.” Gerutu Ari.
“Tunggu, tunggu. Mas Danar ini … “ Chelsi tak melanjukan kalimatnya, dia melihat Danar dan Ari bergantian.
“Mas Danar yang punya kedai ini, bosnya aku. Puas kamu, Mas?” Ari cemberut lantas ngeloyor pergi.
Chelsi masih dalam mode heran, kenapa si Ari? Kok dia gitu sih? Batinnya.
“Danar, ajak dia duduk sini dong.” Panggil Om Jaka.
“Emh, maaf bukannya nggak sopan. Tapi aku lagi buru-buru.” Chelsi menyahut dengan senyuman.
“Udah mau pulang ya?” Tanya Danar.
“Iya. Tadi aku mampir kesini buat beli ini, eh malah dikasih bonus pula.” Memperlihatkan minuman kesukaannya dan pisang bakar keju.
“Kamu suka matcha?”
__ADS_1
“Matcha latte, suka banget.” Tersenyum lagi.
“Lain kali aku yang bikinin pasti lebih enak dari pada bikinan Ari.”
“Oya?” Tertawa namun segera menutup mulutnya dengan jari-jari lentiknya begitu sadar Danar memandanginya. “Eh, Maaf Mas. Ok, lain kali aku pasti mampir kesini lagi.”
“Asiiik, ada yang janjian nih.” Sela Om Jaka tapi pura-pura nggak melihat ke arah mereka, dok sibuk memainkan kotak rokoknya.
“Nggak usah didengerin, Om Jaka emang gitu orangnya.” Ucap Danar agak pelan.
Bangkit mendekat seaya merangkul pundak Danar. “Danar ini laki-laki baik lho, Chel.”
“Ih, Om Jaka nggak usah sok kenal deh.”
“Chelsi kan namanya dia?” Heran Om Jaka.
Chelsi mengangguk sambil tersenyum.
“Nah, tuh bener kata dia.”
“Iya, tapi Om Jaka nggak usah main nimbrung aja ah. Kesannya kan jadi sok kenal.” Danar gak sebal.
“Diem lu. Gue lagi mau promosiin elu nih.” Omel Om Jaka. “Nah Chel, sampe dimana tadi ya?” berpikir sebentar. “Oya, Danar ini laki-laki baik. Ganteng, mapan, sopan, rajin menabung, masa depan cerah, pekerja keras, pokoknya intinya elu kagak bakalan nyesel dah kalo kenal lebih deket sama dia. Ya sukur-sukur bisa lebih dari itu.”
“Apaan sih, Om?” Melotot tajam. “Chel, sorry ya.”
Chelsi jadi agak tak enak hati. “Nggak papa. Ya udah, kalo gitu aku permisi dulu ya.” segera memutar lagkah dan berlalu.
“Om, haduh … Om Jaka parah banget deh.” Danar menyugar rambutnya agak kesal.
“Semua ini gue lakuain biar elu bisa beneran move on dari Via.”
JRENG!
Danar seketika melongo kaget. Jadi Om Jaka tau kalo aku punya perasaan sama Via? Tapi dari mana dia tahu? Aku nggak pernah bilang sama siapaun tentang persaanku ini.
“Hoy! Bengong aja lu!” Menonjok legan Danar. “Udah, gue mau balik.” Pergi menuju Ramzi, kebutulan Ramzi dan Sofi juga sudah selesai dengan makan malam mereka.
“Danar, kami pamit ya.” Ucap Ramzi pada Danar yang berjalan mendekat.
“Makasih traktirannya ya.” Om Jaka melambaikan tangan lantas keluar kedai duluan.
“Om, persaan tadi waktu baru datang Om Jaka deh yang bilang mau traktir kita? Kok jadi malah Danar sih traktir?” Protes Sofi sebelum masuk mobil.
“Udah gak papa, yang penting kalian udah kenyang kan?” Om Jaka cuek aja, dia lantas mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran, sementara Danar masih sibuk dengan perasaannya sendiri. Dia sungguh tak menyangka Om Jaka mengetahui rahasia hatinya.
-
-
-
Di kamar hotel, selesai membersihkan diri Sofi segera disambut pelukan Ramzi dari belakang.
“Apa kamu senang malam ini?” Mengendus harum aroma tubuh sang istri.
Menggeliat perlahan. “Lumayan.”
“Kok cuma lumayan?”
“Ya terus aku harus bilang apa?”
“Sofia –“ membalikkan tubuh sang istri lurus menghadapnya. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“Kenapa Kak Ram mendadak jadi serius begini?” Sofia menaruh curiga.
“Kita harus saling terbuka, agar tak ada kesalah pahaman lagi.”
“Salah paham?” Sofi heran.
“Dengar, aku nggak suka dengan cara kamu memandang Danar tadi waktu di kedai.”
JLEB!
Kalimat Ramzi langsung menuju sasaran.
“Emh, emangnya … kenapa? Kenapa Kak Ram bilang begitu.” Sofi agak gelagapan, ternyata suaminya sangat peka.
“Sofia, mungkin dulu kamu adalah perempuan yang bebas. Yang bisa sesuka hati menebar pesona dan mudah berkencan dengan siapapun, tapi sekarang kamu adalah istriku. Baik buruknya kamu adalah menjadi tanggungjawabku. Kita sudah sepakat merubah sikap dan perilaku kita yang buruk di masa lalu. Aku minta, mulai saat ini dan seterusnya, hanya boleh ada aku laki-laki yang kamu pandangi dengan tatapan mata indahmu itu.”
Kata-kata Ramzi lugas, jelas dan tegas membuat Sofi seketika menyadari kesalahnnya.
“Kak Ram, aku … “
Menempelkan telunjuknya pada bibir merah merekah sang istri. “Nggak usah bilang apa-apa. Cukup patuhi perintahku sebagai suamimu. Aku nggak terima pembelaan, selama aku benar kamu wajib patuh.”
Mengangguk seperti seorang anak kecil yang memang patuh akan kata-kata yang diperuntukkan baginya.
“Terima kasih, Sofia.” Meraih dagu sang istri, mencium lebut bibirnya, makin lembut, makin menuntut dan makin dalam penuh kenikmatan hingga Sofi tersadar dan melepsakan ciuman yang mulai memanas itu.
“Kak, aku masih masa nifas.” Lirihnya menundukkan wajah seolah tak kuasa menatap wajah suaminya.
“Aku tahu. Dan aku akan sabar menunggu.”
Cup!
Mengecup sekilas kening istrinya dan merangkulnya menuju bed king size yang terhampar melambai-lambai untuk segera disinggahi.
-
-
bonus visual senyum Mas Danar yang bikin meleleh
-
-
satu lagi bonusnya 😊
-
-
-
Visualnya siapa yaa 🤩
-
-
-
Neng Chelsi ( bukan Chelsea ) yang kata Om Jaka imut, lucu dan menggemaskan lincah kesana kemari kayak bola bekel 😂😂
❤️❤️❤️❤️❤️
readers ...... tengkyuuuu masih setia membaca karyaku 🙏🙏🙏
like
komen
vote
maafin ya kalo banyak typo 🙏
love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1