TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
76 #OPOR AYAM


__ADS_3

Senyum Via langsung mengkeret dan melihat pada suaminya.


“Mmm, itu karena … semalem … “ Via menggaruk pelipisnya. “Mas Mirza …”


“Karena aku denger Via muntah-muntah semalam, Bu.” Sahut Mirza yang melihat wajah istrinya seperti meminta pertolongan. “Jadi aku tanya Via kenapa, terus Via bilang dia hamil, Bu.” Mirza menjelaskan.


“Oh, ya sudah kalo kamu sudah tau.” Bu Harni tersenyum.


Mereka kemudian memulai acara sarapan bersama pagi itu.


Ceklek


Pintu kamar tengah terbuka, wajah Om Jaka yang sudah segar muncul dari sana.


“Wah, sudah rame rupanya.” Ucap Om Jaka dengan senyum.


‘Eh, ayok Dik Jaka sarapan.” Bu Een menawari.


“Lho, ada Om Jaka?” Via dan Riri keheranan hampir bersamaan.


“Iya, semalem dateng sama Mirza.” Sahut Om Jaka.


“Sini Om, sarapan.” Panggil Riri.


“Om mau ngopi dulu. Nggak biasa nih pagi-pagi kalo langsung makan nasi, harus ada kopi hitam dulu baru sarapan.” Ucap Om Jaka dengan senyum lebarnya melangkah ke dapur.


“Biar aku aja yang bikinin, Om.” Sergah Tia yang udah selesai nyuapin Riri.


“Wah, jadi ngerepotin kamu Tia”


“Nggak lah, Om.” Via mengambil gelas dari rak dan membuka toples kopi hitam dengan cekatan.


“Eh, suami kamu mana? Nggak ikut nginep disini?” Tanya Om Jaka yang tak melihat Arya diantara anggota keluarga yang lain.


“Nggak Om, jagain rumah.”


Om Jaka manggut-manggut.


“Iya tuh si Mirza lebay banget, cuman mau ke Jakarta sehari aja segala keluarga dari nenek sampe cucu diboyong kemari buat nemenin istrinya.” Seloroh Om Mirza sambil terkekeh. “Takut banget istrinya diserang sama monster mamalia dan calon mantu kesayangannya.” Lanjut Om Jaka setengah berbisik.


“Hey, monster mamalia itu kan Mbakyunya Om Jaka!” Seru Mirza dari meja makan, rupanya ia mendengar kalimat Om Jaka.


“Eh, elu denger ya, Za?” Kepala Om Jaka menyembul dari balik didinding dapur dengan tampang innocent-nya. “Ati-ati Za. Bisa kualat elu ngatain emak elu sendiri monster mamalia.” Lanjut Om Jaka menahan tawa.


“Kan Om Jaka yang bilang duluan?” Sahut Mirza agak kesal.


“Abis ini elu musti cepet-cepet minta maap sama emak elu ye!” Seru Om Jaka sambil ngeloyor ke halaman belakang. “Eh, makasih ya kopinya Tia!” lanjutnya sambil mengangkat gelas kopinya dan tersenyum pada Tia.


“Oke, sama-sama Om.”


Tia segera bergabung di meja makan sementara Mirza terlihat kesal dengan ulah Omnya yang kocak itu.


“Udah, nggak usah cemberut gitu, Za. Ntar anak elu mukanya jelek!” Kelakar Tia menggoda adik iparnya.


Via dan yang lain hanya tersenyum.


“Emangnya siapa yang mau punya anak? Mirza emang udah berhasil buntingin Via?” Tiba-tiba Om Jaka nongol lagi.


“Yaah, Om Jaka telat.” Celetuk Riri sambil mengunyah sarapannya.


“Eh, serius?” Om Jaka nggak percaya. “Beneran, Vi? Elu udah berhasil dibuntingin sama Mirza?” Om Jaka mendekati Via masih dengan mimik tak percaya.


“Om Jaka nih ganti dong kosakatanya!” Mirza sewot. “Jangan pake kate buntingin, nggak enak didenger.” Protes Mirza.


“Terus apa? Menghamili? Jadi kamu udah menghamili Via, Za?” Tanya Om Jaka lagi kali ini pada Mirza.


“Aduh, udah deh Om! Nggak dua-duanya, itu kesannya aku secara tak sengaja menghamili anak orang.” Mirza kesal beneran.


“Oh, iya ya. Kayak sama si Sofi itu? Hehe ...” Om Jaka malah nyengir kuda.


“Om!” Mirza melotot.


“Udah, udah. Nggak usah pada ribut.” Bu Harni menengahi.


“Tau tuh, Om Jaka! Lagian nggak usah deket-deket sama Via, ntar Via mual lagi liat tampang Om Jaka.” Mirza masih terlihat kesal.


“Siapa juga yang mau deketin Via, orang gue mau ambil rokok!” Om Jaka ngeloyor ke kamarnya.


Tia dan yang lainnya malah tersenyum menyaksikan adegan Om dan keponakannya itu yang udah bersitegang sepagi ini.


“Udah, ayok lanjutin sarapannya.” Ajak Bu Harni. “Oya, Za. Ibu kepikiran mau nyampein kabar bahagia ini sama ibu kamu dan si pelakor itu.” Lanjut Bu Harni kemudian.


“Ibu, udah dong, pasti Ibu mau cari gara-gara lagi.” Ucap Via khawatir.


“Siapa yang mau cari gara-gara? Ibu cuman mau nyampein kabar baik kok.” Elak Bu Harni.


“Biar nanti aku sendiri yang menyampaikan berita bahagia ini, Bu.” Jawab Mirza sambil mulai makan.

__ADS_1


“Iya bener, jangan sampe emak elu kagak tau kalo mau punya cucu. Yang ini cucu asli bukan kaleng-kaleng!” Om Jaka nongol lagi. “Jangan lupa sebelum itu elu siapin petugas medis, biar kalo emak elu atau Sofi pingsan karena kaget denger kehamilan Via bisa ada yang langsung nolongin. Jangan gue terus yang kebagian angkat-angkat orang pingsan!” Cerocos Om Jaka.


“Berisik aja deh Om, ini. Udah sana katanya mau ngopi?” Usir Mirza.


“Orang gue cuman ngasih saran kok!” Kilah Om Jaka sambil ngeloyor.


“Awas aja kalo nongol lagi. Lagian dari tadi bolak balik terus udah kayak setrikaan.” Gerutu Mirza.


“Jangan marah-marah dong, sayang.” Via menjawil pipi Mirza sambil tersenyum menggodanya.


Mirza merengut keki, dongkol banget pagi ini sama Omnya.


________________


Di rumah Bu Een, Sofi nampak sedang sibuk di dapur.


“Kak, lagi ngapain?” Tegur Azad.


“Masak.”


Sejak kapan Kak Sofi bisa masak?” azad heran.


“Diam aja deh, nggak usah cerewet.”


“Kita jadi pulang hari ini kan?” Azad meyakinkan. “Kak Sofi udah janji lho.”


“Iya.” Jawab Sofi tanpa melihat adiknya, ia terus mengaduk masakannya. “Udah kamu sarapan sana. Ibu udah beliin kamu nasi uduk tuh di meja makan.”


“Kak Sofi nggak sarapan?”


“Udah.”


Azad menuju meja makan. Sofi melongok pada Azad yang nampak sudah bersiap akan sarapan. Setelah yakin tak ada orang. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku dressnya dan memasukkannya ke dalam kuah opor ayam yang sedang dimasakanya, lalu kembali mengaduknya lagi.


Bu Een masuk bersama Udin dari pintu belakang.


“Sof, kamu lagi ngapain?” Tanya Bu Een yang melihat Sofi nggak biasa-biasanya berada di dapur.


“Oh, ini Bu lagi bikin opor ayam.” Sahut Sofi agak kaget. Untung aja aksinya nggak ketahuan.


“Lho, kamu nggak mau makan sarapan yang udah ibu beliin?”


“Makan kok Bu. Ini aku masak khusus buat Mirza, kan aku hari ini mau pulang ke Jakarta. Aku pingin masakin buat dia sebagai tanda perpisahan.” Ucap Sofi sok perhatian.


Bu Een menatap Sofi sendu.


“Tenang aja, Bu. Aku pasti balik lagi.” Bisik Sofi karena takut di dengar Azad.


“Kamu janji, ya? Ibu nggak mau kehilangan cucu ibu, ibu mau melihatnya lahir dan membesarkannya di sini.” Bu Een sudah mau menangis.


“Bu, jadi nggak nyuruh aku belanja ke kota?” Tegur Udin yang sedari tadi hanya berdiri di dekat pintu menyaksikan adegan itu di dapur.


“Ah, kamu ini merusak momen aja, Din! Nggak tau orang lagi sedih mau perpisahan.” Bu een kesal. “Sebentar, aku ambilin dulu daftar belanjanya.” Bu Een menuju kamarnya.


Sofi mematikan kompor setelah yakin masaknnya matang sempurna. Lantas pergi karena mau mandi dan siap-siap.


Udin menghampiri Azad yang lagi sarapan.


“Jadi bener Mas Azad mau bawa Mbak Sofi pulang?” Tanya Udin pada Azad.


“Eh, kamu Din?” Azad sedikit kaget. “Iya, nanti agak siangan kami kayaknya pulang. Emang kenapa?”


“Nggak papa, Mas.”


“Kak Sofi emang harus balik lagi ke Jakarta, kehadirannya disini cuman jadi perusak rumah tangga orang aja.” Sesal Azad setelah menghabiskan sarapannya.


“Moga-moga aja Mbak Sofi insyaf ya, Mas. Soalnya dia juga pake repot-repot segala bikin masakan kesukaan Mas Mirza sebagai tanda perpisahan.” Udin ikut berharap.


Azad tersenyum. “Iya, smeoga saja. Karena selama ini Kak Sofi nggak pernah masak.”


“Mbak Sofi bela-belain pagi-pagi tadi ke pasar lho Mas buat beli bahan masakannya.” Terang Udin.


“Oya?”


“Iya, aku tahu waktu aku baru dateng mau buka toko, Mbak Sofi bilang sendiri mau ke pasar, gitu katanya.” Udin bercerita sampai kemudian Bu Een muncul.


“Din, ini daftar belanjaannya dan uangnya.” Bu Een menyerahkan daftar belanjaan dan sejumlah uang pada Udin.


Udin menerimanya dan meneliti satu-satu tulisan yang ada di sana dan menghitung uangnya.


“Oke, Bu.”


“Hati-hati ya, selesai belanja langsung pulang, jangan kelayaban.” Pesan Bu Een.


Udin mengangguk.


“Oya, Mas Azad. Hati-hati pulang ke Jakartanya ya. Kapan-kapan main ke sini lagi, ya.” Ucap Udin seraya mengulurkan tangannya pada Azad sebagai tanda perpisahan.

__ADS_1


“Iya, Din. Makasih, ya.” Azad menyambut uluran tangan Udin dan menepuk bahunya lantas keluar bersama Udin.


Bu Een melongok ke dapur.


“lho, kemana si Sofi? Kok masaknnya ditinggalin sih?” Gerutu Bu Een yang tak mendapati Sofi di dapur. Kemudian Bu Een membuka tutup panci masakan Sofi. “Hemm, baunya harum banget. Kayaknya enak nih.” Bu Een tergiur karena melihat kuah opor yang berlinang-linang santan dan daging ayam yang sedemkian empuknya menul-menul seperti memanggil hati nurani Bu Een untuk mencobanya.


Bu Een pun mengambil mangkuk dan sendok.


“Cobaain sedikit boleh kali ya? Ini kan banyak, masa mau buat Mirza semua?” Bu Een bicara pada dirinya sendiri sambil menyendokkan opor ayam ke dalam mangkuk dan mulai mencicipi kuahnya. “Heemm, beneran enak masakan si sofi ini.” Bu Een mengecap-ngecap kuah yang begitu terasa gurih di lidahnya. “Bener-bener calon mantu idaman dia. Udah cantik, kaya raya, pinter masak lagi.” Puji Bu Een sambil membawa mangkuknya menuju toko.


Sementara itu Sofi yang sudah selesai mandi dan ganti baju kembali menuju dapur untuk menyiapkan hasil masaknnya.


“Lho, tadi kayaknya aku tutup deh pancinya. Ini siapa yang buka ya?” Sofi heran mendapati pancinya yang terbuka. “Ah, mungkin cuman perasanku aja kali ya tadi ditutup?” Ucap Sofi akhirnya setelah mengingat-ingat.


Kemudian Sofi memindahkan seluruh opor ayam buatanya ke dalam wadah tuperber warna ungu tua dan siap membawanya ke rumah Mirza.


“Nggak sia-sia aku belajar semaleman cara buat opor ayam kesukaan kamu dari yutup, Za.” Sofi tersenyum puas atas hasil karya masakkannya. “Karena aku nggak bisa berbuat banyak dan terpaksa harus pulang sekarang, aku ingin kasih kamu pelajaran kecl-kecilan, sayang. Biar kamu inget terus sama aku.” Sambung Sofi kali ini dengan senyum devilnya.


Sofi melihat Azad sedang mempersiapkan mobilnya.


“Kita pergi sekarang, Zad.” Ucap Sofi.


“Kakak yakin?”


“Iya, kenapa memangnya?” Sofi malah balik nanya.


Azad tak menyahut, ia tak ingin bertanya dua kali karena takut kakaknya berubah pikiran.


Bu Een yang mendengar percakapan mereka langsung keluar dari toko.


“Bu, aku pamit ya.” Sofi mencium punggung tangan Bu Een dan memeluknya. “Nggak usah sedih, Bu. Jangan bikin Azad curiga.” Bisik Sofi.


Bu Een mengangguk samar dan mengusap punggung Sofi, ia yakin calon mantu kesayangannya itu bakal balik lagi ke rumahnya. Semalam setelah larut dan menunggu Azad tidur, mereka bicara tentang bagaimana nasib anak yang ada dalam kandungan Sofi. Dan untuk sementara ini sambil memikirkan rencana selanjutnya, Sofi harus rela pulang ke Jakarta dan Bu Een menurutinya walau dengan berat hati.


“Bu, terima kasih sudah menjaga Kakak saya dengan baik.” Ucap Azad.


Bu Een melepaskan pelukannya Sofi dan menerima uluran tangan Azad yang berpamitan padanya.


“Kalian hati-hati ya. Jangan lupa kabari ibu kalau sudah sampai ya, Sof.” Bu Een benar-benar sedih karena kehilangan calon mantu dan calon cucunya atau lebih tepatnya lagi kehilangan anak buahnya yang bisa ia gunakan untuk memisahkan Mirza dari Via.


“Pasti, Bu.”


Azad dan sofi pun kemudian masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil Azad meninggalkan halaman rumah Bu Een dengan dilepas lambain tangan dan raut sedih Bu Een. Dan ketika mobil Azad menghilang di tikungan jalan, Bu Een ingat dengan opor ayamnya yang belum habis. Maka cepat-cepat ia kembali ke toko untuk menyantap opor ayamnya.


“Jangan lupa mampir ke rumah Mirza dulu, Zad. Kamu masih ingat kan jalannya?” Ucap Sofi.


“Masih kayaknya, Kak.” Jawab Azad agak ragu.


Semoga saja aku bisa ketemu cewek itu lagi. Ya ampun, cewek galak dan judes itu kenapa masih juga aku ingat? Padahal dia jutek banget, malah manggil aku Tuan Takur lagi! Tapi dia manis banget, cantik dan imut wajahnya. Rasanya aku belum pernah bertemu cewek macam itu. Dan dia nampak makin cantik kalo lagi marah. Menggemaskan!


Azad bermonolog dalam hati mengingat wajah Riri dan diam-diam mengharapkan bertemu Riri lagi.


Sementara itu Via juga sibuk dengan hayalannya sendiri.


Untung aku beli obat cuci perut ini di apotik waktu itu, jadi bisa aku pake buat ngasih pelajaran awal sama kamu, Za. Tadinya aku mau gunain obat ini buat rencanaku yang lebih cemerlang, tapi apa mau dikata, Za? Aku harus pulang, dan aku masih nggak rela kalo harus menyerah. Semoga opor ayam ini bisa selalu mengingatkanmu padaku.


Sofi senyum-senyum sendiri membayangkan rencananya sendiri, Azad melirik dengan ekor matanya.


“Kok Kak Sofi senyum-senyum gitu, kenapa?” Tanya Azad.


“Ah, nggak papa.” Sofi membuang muka karena takut Azad mencurigainya.


“Kak Sofi ngapain sih pake perpisahan segala sama Kak Mirza? Cari ribut aja!” Ucap azad kemudian.


“Kakak sekalian mau ambil barang-barang Kakak yang masih disana, zad.” Jawab Sofi meyakinkan adiknya.


Beberapa menit kemudian mobil Azad sampai di halaman rumah Mirza yang luas. Azad pun menghentikan mobilnya, Sofi bersiap turun setelah merapikan diri sebentar dan tak lupa membawa opor ayam buatannya.


“Kak, inget ya. Jangan bikin perkara.” Pesan Azad pada kakaknya.


“Kamu tenang aja.”


Sofi keluar dengan langkah mantap diikuti Azad yang agak khawatir.


TING TONG


Sofi menekan bel dengan percaya diri.


________________


Sampe sini dulu ya Kak, lanjutannya besok lagi ☺️☺️☺️


Terima kasih sudah selalu ngikutin Livia dan Mirza🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Semoga nggak bosen buat ngasih like, komen, rate 5 dan vote ya😍😍😍😊🤩🤩


Luv u all🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2