TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
139 #PERINGATAN


__ADS_3

Ruang meeting kantor Bu Elin hanya menyisakan beberapa orang saja seusai pertemuan penting barusan. Danar nampak duduk di dekat Bu Elin sambil membereskan tumpukan kertas yang berserak di depannya sementara Via sudah kembali ke lantai empat tempatnya bekerja.


“Setelah ini kamu mau kemana?” Tanya Bu Elin pada Danar.


“Kembali ke hotel.” Sahut Danar singkat.


Bu Elin tersenyum menatap putra angkatnya yang belakangan ini cukup sibuk membantu mengurus bisnisnya.


“Ibu bangga padamu, Danar.” Ucap Bu Elin lirih.


Danar menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada ibunya. “Kenapa Ibu bilang begitu?”


“Nggak papa, Ibu hanya ingin memujimu saja.”


Danar cuek lantas kembali membereskan kertas-kertas itu dan memasukkan ke dalam tasnya, para staf sudah keluar meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


“Danar, apa kamu perlu seorang sekertaris?”


Danar yang hampir beranjak mengurungkan niatnya dan kembali melihat wajah cantik ibu angkatnya yang sangat anggun dan keibuan itu.


“Pekerjaanku saja nggak jelas, kenapa harus pakai sekertaris segala?”


Bu Elin terkekeh kecil mendengar penuturan Danar.


“Aku benar kan? Ibu menyuruhku menggantikan Pak Narto jadi manager di hotel, ibu juga memintaku untuk turut mengembangkan resort. Sebanarnya pekerjaanku apa?” Raut Danar lempeng saja, tak terlihat kesal tidak pula cukup senang.


“Sudahlah, nggak usah banyak protes. Masih bagus kerjaanmu yang sekarang daripada hanya mengurusi kedai kopi.”


Danar mendengus kasar. “Kedaiku sepi karena kesibukan yang ibu berikan padaku.”


“Jangan terlalu dipikirin, kan ada Ari disana?”


Danar tak menyahut, baginya percuma saja bicara banyak tentang keinginannya mengurusi kedai kopi pada ibunya karena Bu Elin nggak akan membiarkannya begitu saja.


“Presentasimu tadi bagus kok, Ibu rasa kamu memang berbakat.” Bu Elin menepuk-nepuk pundak Danar. “Kamu  lihat kan tadi para calon client kita tertarik dengan penawaran kamu? Itu awal yang baik.” Bu Elin tersenyum puas. “Ya, meskipun memang masih bagusan presentasi Via waktu itu sih.”


Danar sedikit shock mendengar kalimat terakhir ibunya. “Ibu ini lagi muji aku atau menjatuhkan aku sih?”


“Ya ampun, santai aja. Kok kamu malah sinis begitu?” Bu Elin kembali terkekeh. “Ibu kan nggak bilang presentasi kamu jelek?”


Danar tak menanggapi, dia berdiri dan menenteng tasnya meninggalkan ruang meeting. Namun langkahnya terhenti ketika mencapai pintu ruangan, hampir saja ia bertabrakan dengan seseorang yang masuk dengan tergesa.


“Eh, Maaf!” Ucap orang itu yang ternyata Via.


“Ada apa, kok kayaknya buru-buru begitu?” Tanya Danar tanpa menggeser posisinya yang tepat di depan Via.


“Ada e mail dari Disbudpar, aku rasa Bu Elin harus melihatnya.” Sahut Via yang membawa print out e mail ditangannya.


“Oh…” Danar ber O ria sambil mengagguk.


“Heum, iya …”


“Ya udah, kesana aja.” Danar mempersilakan.


“Kayaknya aku perlu jalan untuk lewat.” Ucap Via karena Danar masih terpaku meghalangi langkahnya.


“Oh, begitu?”


“Iya, kamu ngalangin jalan.”


“Masa sih?”


Hal konyol yang dilakukan mereka berdua tak luput dari perhatian Bu Elin. Matanya menatap lekat pada dua manusia yang berdiri di ambang pintu yang saling berhadapan itu.

__ADS_1


“Ada apa, Vi?” Tanya Bu Elin sedikit nyaring membuat keduanya melihat pada Bu Elin.


“Oh, ini ada e mail masuk, Bu!” Sahut Via yang kemudian mengambil langkah ke kiri, namun Danar justru minggir ke sisi yang sama, begitu pun ketika Via ke kanan, Danar malah ikut juga.


“Danar, kamu bisa minggir nggak?” Via sedikit menajamkan matanya.


“Oke, nggak masalah.” Danar mepet ke dinding.


“Dari tadi kek!” Ketus Via kemudian berjalan menuju Bu Elin.


Danar memandangi punggung Via kemudian bergeges keluar dari ruangan dengan senyum menghias wajah gantengnya.


 ❤️❤️❤️❤️❤️


Pagi yang kurang bersahabat, hujan turun sejak dini hari membuat cuaca dingin dan Sofi masih belum beranjak dari peraduan. Ramzi yang sudah rapi menatap wajah istrinya yang masih pulas. Perlahan ia duduk di tepi ranjang mengelus lembut pipi Sofi.


“Sayangku, apa kamu sakit?” Tanya Ramzi.


Sofi menggeliat perlahan, mengerjapkan matanya dan menatap wajah brewok suaminya.


“Jam berapa sekarang? Apa sudah pagi?” Sofi melihat keluar jendela yang terbuka lebar, cahaya matahari yang tak kentara membuatnya melirik jam di atas nakas.


“Apa kamu nggak enak badan?” Ramzi mengulang pertanyaannya.


“Entahlah, Kak. Rasanya badanku lemas dan pegal-pegal, kepalaku juga agak pusing.” Sofi memegangi pelipisnya.


“Kamu pasti kecapekan. Dua hari tidur di rumah sakit membuatmu kurang istirahat.”


“Mungkin.” Angguk Sofi.


“Ya sudah, bersihkan dirimu dulu, aku akan minta pelayan untuk mengantarkan sarapanmu kemari.” Ramzi bangkit hendak keluar kamar namun lengkahnya terhenti kala melihat istrinya masih saja asyik di dalam selimut. “Perlu aku bantu ke kamar mandi?”


Sofi menggeleng. “Aku bisa sendiri.”


Ramzi turun untuk memberitahukan pada pelayan mengantar sarapan ke kamar istrinya, Tuan Alatas sudah selesai sarapan dan bersiap berangkat.


“Akan aku minta asistenku untuk menemuainya. Aku nggak ke kantor hari ini.” Sahut Ramzi kemudian berbicara pada pelayan perempuan yang berdiri tak jauh dari meja makan. “Tolong bawakan sarapanku dan sarapan untuk istriku ke kamar.”


Pelayan itu mengangguk dan segera berlalu.


Tuan Alatas memicingkan mata menatap putranya. “Kau ini kenapa?”


“Tidak apa-apa, Sofi sedang tak enak badan dan aku ingin menemaninya di rumah.” Sahut Ramzi kemudian bergegas pergi sebelum ayahnya bicara lebih banyak lagi.


“Ram ….!”


“Aku akan ke ruang kerja untuk memeriksa apa ada berkas yang perlu ditandatangani atau tidak.” Sahut Ramzi menoleh sebentar kemudian buru-buru menaiki anak tangga.


Tuan Alatas mehela nafas kasar. Ia mengambil keputusan hal seperti itu tak boleh didiamkan lama-lama.


Dua orang pelaan masuk membawakan sarapan ketika Sofi sedang mengeringkan rambut dengan hair dryer. Kedua pelayan itu meletakkan baki sarpan di meja balkon kamar sesuai perinah Sofi. Kemudian sofi baru sadar kalau menu sarapannya terlalu banyak.


“Hey, buat siapa satunya?” Tanya Sofi.


“Tuan Ram juga meminta sarapan di kamar, Nyonya.”


“Oh, begitu.” Sofi mengangguk. “Terus kemana dia sekarang?”


“Sedang d ruang kerja.”


“Bailak, makasih ya.”


Kedua pelayan itu mangagguk dan berlalu. Agak aneh bagi Sofi karena tak biasanya suaminya itu sarapan di kamar, biasanya dia kan sarapan di meja makan dengan ayahnya sambil berbincang soal agenda kerja hari itu ataupun membahas hal lain seputar bisnis.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, Ramzi belum juga muncul. Sofi mendapat ide dadakan untuk iseng menjalankan rencananya yang belum tuntas. Dengan seulas senyum dan tubuh yang lumayan sudah bugar seusai mandi, Sofi bangkit berniat menyusul Ramzi ke ruang kerjanya. Sementara di ruang kerja Ramzi, Tuan Alatas baru saja masuk dengan langkah gusar.


“Ram, Papa mau bicara!” Tuan Alatas masuk dan langsung duduk di depan Ramzi dengan wajah yang sangat serius.


“Ada apa, Pa? Apa ada hal penting?” Tanya Ramzi tanpa melihat ayahnya.


“Papa sudah memperingatkanmu agar jangan memberikan celah pada istrimu! Kau boleh menidurinya tapi jangan pernah kamu termakan jebakannya!”


“Aku nggak ngerti maksud Papa.”


“Ram, lihat papa!” Suara Tuan Alatas sedikit meninggi karena merasa dicuekin sehingga mau tak mau Ramzi melihat juga padanya. “Dia itu wanita yang licik! Kamu jangan percaya begitu saja padanya.”


“Maksud Papa dia berbohong kalau dia sedang sakit?”


Tuan Alatas menggeram kian jengkel. “Otakmu benar-benar tak bisa berpikir jernih!”


“Pa, sudahlah. Jangan ikut campur urusan pribadiku. Aku tau apa yang harus aku lakukan.” Ramzi mulai terpancing ikut kesal.


“Jangan ikut campur katamu? Papa melihat dengan mata kepala sendiri kau dihianati, apa Papa harus diam saja? Dan sekarang kamu menerimanya dengan lapang hati tak curiga sedikitpun padanya, padahal sudah jelas-jelas dia tak pernah mencintaimu!”


SREET ….!


Sofi yang sampai di depan ruang kerja Ramzi spontan mengerem langkahnya begitu mendengar suara ayah mertuanya dengan nada tinggi. Dari celah pintu yang agak terbuka, Sofi menguping pembicaraan mereka.


“Kalo Papa jadi kamu, Papa akan amankan semua aset berharga yang Papa punya sebelum wanita jal*ng itu merampok semua milikmu!”


“Papa terlalu berlebihan.”


“Suatu saat jika kamu benar-benar kehilangan semua milikmu, kamu akan ingat kata-kata Papa ini!" Tuan Alatas menatap penuh amarah.


Ramzi memalingkan wajahnya tak mau menatap mata nanar ayahnya.


Tuan Alatas tersenyum sinis melihat ekspresi anaknya. “Bahkan untuk hal sekecil ini pun kau rela diperbudak oleh si jal*ng itu! Papa benar-benar tak habis pikir!” Nafas Tuan Alatas sedikit  terengah karena berusaha mengendalikan emosinya.


Sofi di luar ruangan tak kalah geramnya.


Dasar tua Bangka bau tanah kurang ajar! Berani kau menyebutku ja*ang! Memangnya kau pikir kau itu siapa? Lihat saja wahai tua bangka kep*rat, kau akan aku buat jadi gelandangan dan mati dalam keadaan mengenaskan setelah aku tendang kau dari rumahmu sendiri! Tunggu pembalasanku!


“Papa peringatkan, jika sikapmu masih lembek seperti ini, Papa dengan terpaksa akan menonaktifkan kamu dari perusahaan!” Tegas Tuan Alatas yang langsung membuat Sofi mengehentikan monolog dalam hatinya.


“Papa mengancamku? Kenapa Papa mencampur adukan urusan pribadi dengan pekerjaan?” Ramzi tak habis pikir.


“Ini semua demi kebaikanmu. Pikirkan perkataan Papa!” Putus Tuan alatas seraya bangkit.


Sofi buru-buru pergi sebelum ayah mertuanya itu memergoki aksinya yang tengah asyik menguping pembicaraan mereka.


❤️❤️❤️❤️❤️


Nahh.... kira-kira apa Ramzi bakal nuruti perkataan ayahnya atau tetep bucin sama Sofi... 🤔🤔🤔


Tungguin kelanjutannya... 😊😊


Dan jangan bosan untuk selalu dukung othor dengan like, komen, rate 5 dan vote seikhlasnya yaa....🤩🤩🤩


Terima kasih🙏🙏🙏😍😍😍


Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2