
Sejak menguping kegiatan Via dan Mirza malam itu, Bujel sekarang kalo ngeliat Via Mirza jadi gimana gitu. Mirza sih sebenernya egepe ya, kerena dia emang udah sebel dari sejak pertama ketemu sama itu mahluk yang nggak jelas dari spesies apaan, tapi Via diem-diem merasa agak aneh juga, pasalnya beberapa kali ketemu Bujel, dia menatap Via dengan pandangan sulit diartikan. Dan hari ini week end, semua teman Via dan Mirza berencana ngumpul di rumah Via. Firman dan Yanti sudah datang lebih dulu untuk membantu mempersapkan semuanya.
“Vi, aku ke pasar dulu ya.” Ucap Yanti. “Buahnya ketinggalan nih, belum kebeli.”
“Nggah usah pake buah lah, cemilannya udah banyak kok.” Sergah Via yang sedang merapikan tikar di teras samping rumah yang lebih luas dan adem.
“Sekalian sama mau beli susunya Gio, takut kehabisan nanti aku tinggal sampe siang.” Yanti nyengir.
“Oh…” Via mengangguk.
“Aku temenin, Bun!” Firman dengan sigap mengambil alih motor yang hendak dinaiki istrinya. Jadilah mereka berdua pergi ke pasar.
Via menyusun beberapa wadah yang sudah terisi makanan dan sesekali menggesernya karena dianggap kurang pas letaknya.
“Kok sepi, pada kemana mereka?” Mirza muncul dengan teko teh panas.
“Ke pasar Mas, beli buah sama susunya Gio.” Via mengambil teko dari tangan suaminya.
“Pantesan si Gio sehat dan montok bener ya, rajin minum susu dia.” Mirza nyengir duduk di samping sang istri yang langsung melirik tajam padanya. “Lho, aku bener kan, Sayang? Susu itu memang membuat tubuh kita sehat dan kuat.” Sambungnya seraya memperagakan gaya bak binaragawan.
“Hem!” Sahut Via seadanya.
“Mas juga nanti malam mau minum susu deh biar sehat dan …”
“Kenapa harus tunggu malem? Sekarang aja aku bisa bikinin kok!” Potong Via dengan ketus.
“Duuh, masa nggak ngerti?” Mirza menowel dagu Via, gemas dia ngeliat si istri berubah judes begitu. “Bukan susu yang itu maksud Mas.”
“Ih, Mas tuh bisa nggak sih sebentar aja nggak piktor?” Via beringsut menjauh dari suaminya karena sebel.
“Bukan piktor, Sayang.”
“Terus apa namanya? Mesum? Pikiran kotor sama mesum itu nggak ada bedanya tau!”
“Kalo sama istri sendiri ya nggak piktor dong?”
“Udah ah, terserah!” Via bangkit.
“Eeh, mau kemana? Mirza menarik pergelangan tangan sang istri hingga Via terduduk di pangkuannya. Kesepatan, Mirza malah melukin Via.
“Mas, lepasin ih! Aku mau ambil gelas!” Via berusaha berontak.
“Nanti aja ambil gelasnya, belum pada dateng juga kok mereka.” Mirza mendusel-nduselkan wajahnya pada rabut Via yang tergerai semerbak mewangi. (Nah, mendusel-dusel, pada ngarti kagak nih? Kosakata baru ya selain kemarin terkucrut! Wkwkwk 🤣🤭).
“Mas, ngapain sih? Nggak enak ah nanti kalo dilihat orang lewat.”
Bukannya berhenti, Mirza malah semain menjadi. “Wangi banget rambut kamu, Sayang. Pake sampo apaan sih? Kayaknya aromanya aku kenal.”
“Sampo kucing!”
“Sampo kucing?” Reflek Mirza melepaskan pelukannya, Via menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan diri. “Kucingnya siapa? Kita kan nggak punya kucing?”Heran Mirza.
Via berdecak kesal. “Sampo yang kayak biasanya lah, sampo lidah mertua!" Ketus Via.
"Waduh! Serem amat nama samponya?" Mirza sok kaget.
"Ck, ini sampo yang kayak biasanya! kamu aja yang lebay Mas! Emang dasar modus, piktor!” Cebik Via.
“Jadi kamu cuman ngerjain aku aja, Sayang?” Mirza mendekat mau menggelitik pinggang istrinya.
“Mas! Nih!” Via mengambil garpu dan mengacungkannya tepat di muka suaminya. “Jangan nakal ya, ntar aku sunat punyamu pake ini!”
Mirza malah tergelak, membuat tampang Via makin sebel. Tanpa mereka sadari ternyata di luar pagar di bawah rimbunnya tanaman bunga bougenvil yang berwarna warni pada sesosok yang sedari tadi memperhatikan mereka dengan raut kesal. Sudah bisa didugem kan siapa dia? Yup, the one and only, Bujel.
“Tuh kan, mereka itu emang nggak ada ahlak! Mesra-mesraan di di luar rumah.” Gerutu Bujel mengepalkan tangannya. “Nggak bisa dibiarin ini, jangan sampe adegan tak senonoh mereka di ruang tamu malam itu terulang lagi di sini. Bisa ternoda mataku yang tak berdosa ini.”
Semilir angin menggoyangkan dahan tanaman sayur yang bederet rapih di halaman samping, Mirza menyibak anak rambut di dahi Via. “lebih baik kau tikam aku dengan cintamu, daripada kau sunat aku dengan garpu, Sayang.” Mirza mulai lagi dengan aksinya.
“Abisnya Mas usil terus!”
“Sini dong deketan duduknya.” Mirza menepuk tikar untuk Via segera kembali ke sampingnya. “Mas cuman gemes aja kalo ngeliat kamu jutek gitu rasanya pingin langsung …”
Via melotot lagi.
“Pingin langsung makan. Mas laper, Sayang.” Mirza nyengir. “Suapin itu dong, mereka lama banget sih nggak dateng-dateng.” Mirza menunjuk kue di dekat Via.
Via cuilin sedikit dan mneyuapkannya ke mulut Mirza. Sekali, dua kali biasa aja, lama-lama Via yang gantian usil. Beberapa kali dia melesetin suapannya padahal Mirza udah buka mulut lebar-ebar. Tak ayal hal itu membuat Mirza sebel, Via puas banget sampe terkekeh geli melihat suaminya. Mirza membalasnya dengan menghujani wajah cantik istrinya dengan ciuman bertubi-tubi.
“Astoge! Mereka sungguh Ter-la-lu!” Pekik Bujel tertahan. Matanya melotot menonton adegan no sensor di teras samping rumah Via itu. Bujel menyingsingkan lengan bajunya bersiap menghentikan aksi suami istri yang sudah membuat jiwanya tercabik-cabik itu. Namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, sebuah klakson mobil membuatnya berjingkat kaget.
TIIIIN ….!
“Eh, combro …. Eh, combro ….!” Bujel sampe latah saking kagetnya. Ia menoleh pada si empunya mobil.
Khusni turun bersama Yana dan melihat Bujel dengan tatapan penuh selidik.
“Lagi ngapain, Bu? Kenapa ibu ngintipin rumah teman saya?” Khusni langsung mengintrogasi.
“Ibu ibu, enak aja! Panggil saya Jeng!” Bujel mengkalrifikasi. “Jeng Jelita Manjalita! Paham?” Tegasnya nggak terima.
“Bodo amat, nggak urusan! Mau jelita kek, mau jengkelitan kek! Yang jelas situ udah bertindak mencurigakan mengendap-endap, ngintipin rumah teman kita!” Balas Khusni cuek.
“Iya, betul! Pasti situ mau maling ya!” Timpal Yana.
“Enak aja!”
“Khusni? Yana?” Panggil Mirza dan Via bersamaan menghampiri karena mendengar ribut-ribut di luar halaman rumah.
“Eh, Za. Ini ada maling yang lagi mengintai rumah kamu nih!” Khusni menunjuk Bujel.
“Enak aja, aku bukan maling!” Bujel gedek banget dari tadi dituduh maling.
“Kalo bukan maling apa dong? Kenapa situ tadi kayak ngintip mengamti suasana dari luar sini?” Yana ikut gemas.
Via dan Mirza yang tau kesalahpahan ini berusaha meluruskan.
__ADS_1
“Dia warga koplek sini kok.” Ucap Mirza.
“Tuh, dengerin kata Mas Chico Jericko!” Bujel songong sok ngerasa dibelain. “Kita tetanggaan kan ya, Mas?” Bujel melirik genit.
“Yakin kamu, Za? Khusni mengernyit heran. “Mahluk nggak jelas begini bentukannya tetangga kamu?”
“Kayak begini gimana maksud kamu? Body semok bohay bahenol begini kamu bilang nggak jelas bentuknya?” Bujel jengkel sambil meliuk-liukkan tubuhnya di depan Khusni.
“Tutup matakamu, Cintaku. Aku nggak mau mata kamu langsung katarak gegera ngeliat dia!” Yana menutup kedua mata Khusni dengan telapak tangannya.
“Sembarangan! Aku colok juga lama-lama mata kalian!” Geram Bujel pada Yana dan Khusni.
NGIIIK ….
SREEET….
Firman mengehentikan motornya, Yanti langsung turun dari boncengan. “Ada apa ini? Kok ngumpul di sini?” Tanya Yanti heran. “Kok ada dia segala sih, Vi? Kamu undang dia?” Yanti melihat Bujel dengan tatapan tak suka.
“Nggak, tadi ….”
“Tadi dia kepergok lagi ngintipin rumahnya Olive! Makanya aku sama cintaku lagi nyidang dia nih! Gerak-geriknya mencurigakan banget!” Sambar Yana.
“Ohh, emang dia nih trouble maker kok!” Yanti maju. “Ngapain kamu pake ngintip-ngintip segala?” Yanti menowel kasar lengan Buel. “Jangan bilang kalo kamu mau nyuri sayuran Via lagi ya? Tempo hari kamu kan yang manen tanaaman tomat sama cabai Via tanpa permisi? Hayo ngaku!” Yanti menatap tajam penuh intimidasi.
“Emh…, ehh… nggak kok ….” Bujel terbata. “Aku … Cuma belum bilang aja sama Jeng Via.” Bujel malu banget ternyata aksinya tempo hari terbongkar.
“Ya itu namanya maling!” Geram Yanti.
“Ya udah yok, kita bawa aja dia ke pos security!” Yana dengan kekuatannya yang strong menggeret paksa lengan Bujel.
“Eeeh, apa-apan ini!” Bujel meronta dan berhasil melepaskan diri. “Kenapa jadi aku yang mau dilaporin sih? Aku tuh tadi lagi mergokin aksi tak senonoh Jeng Isyana dan Mas Chicko di teras. Justru aku mau kasih peringatan mereka buat jangan mesum di tempat umum! Harusnya mereka dong yang dilaporin, bukan aku!” Sangkal Bujel penuh pecaya diri.
Kontan saja Via dan Mirza saling pandang. “Tak senonoh gimana maksudnya?” Via heran.
“Tadi itu apa? Peluk-pelukan? Cium-cium? Kalian itu bikin mata aku polusi, tau!” Kesal Bujel.
“Tunggu tunggu, jadi kamu tadi ngeliatin mereka?” Tanya Firman yag sedari tadi hanya menyimak.
“Iya! Bukan itu aja, malam itu pun aku jadi saksi perbuatan tak senonoh mereka yang dilakukan di ruang tamu. Telingaku mendengar dengan jelas kalimat-kalimat erotis mereka! Kayak nggak ada tempat lain aja mereka ngelakuin begituan di ruang tamu. Dan tadi aja kalo nggak ada kalian mungkin mereka mengulanginya di teras!” Papar Bujel panjang lebar. Sontak semua yanga da disitu menatap Bujel dengan geram.
“Kenapa pada ngeliatin aku kayak gitu?” Bujel sok nggak bersalah.
“Heh, ikan buntal!” Hardik Yanti galak. “Mau mereka ngelakuin dimana kek, terserah mereka! Ini kan rumah mereka?”
“Betul! Sapa yang bilang ini tempat umum?” Timpal Yana. “Tindakan situ melanggar HAM tau! Mengintip dan menguping kegiatan orang lain! Bisa kena pasal perbuatan tak menyenangkan!”
“Sebentar.” Sela Via. “Jadi kamu sengaja nyamperin rumah aku malam itu dan mengira aku sama Mas Mirza …?” Via tak melanjutkan kalimatnya dan membekap mulutnya sendiri tak habis pikir.
“Aku nggak sangaja nyamperin kok, cuman kebetulan lewat!” Elak Bujel. “Kalian aja yang berisik, jadinya kan aku kepo.”
“Hemm, nggak beres ni orang!” Khusi jengkel.
“Yang nggak beres tuh mereka!” Bujel menunjuk Via dan Mirza. “Memangnya apa lagi kalo bukan lagi begitun? Sampe pada muncrat kemana-mana lah, hot lah, pelan-pelan lah, apa cooba kalian pikir?”
“Iya bener, malam itu kan kita mau makan mie rebus.”
“Nggak mungkin!” Sanggah Bujel. “Aku denger sendiri kalian sampe keringetan ngos-ngosan kok!”
Yanti yang sudah hilang kesabaran langsung menepok jidat Bujel tak tanggung-tanggung.
PLOK!
“Makanya punya laki jangan kelamaan dibiarin selingkuh sama ikan pesut! Jadi ngeres kan tuh pikiran!” Yanti berkacak pinggang di depan tampang Bujel yang shock.
“Sekarang udah jelas kan? Emang situ yang punya bakat nggak bener! Dasar rempong! Ogah banget kalo aku sih punya tetangga model begini!” Yana mencibir kesal.
“Udah, sana pergi! Ganggu suasana aja!” Usir Khusni.
“Buruan pergi sana!” Yana mendorong Bujel yang masih terpaku. “Atau mau aku lempar pake ban mobil nih!” Ancam Yana.
Bujel pun buru-buru ngibrit takut dilempar ban mobil beneran sama Yana walau pun hatinya masih sanksi akan peristiwa malam itu yang ia yakini kebenarannya.
Selepas kepergian Bujel, acara makan-makan pun dimulai. Mereka menyantap makanan sambil berbagi cerita dan sesekali diselingi gurauan. Yana dan Khusni yang juga membawa makanan menambah semarak menu yang terhidang.
“Darling, udah dong jangan nambah terus.” Khusni mengingatkan Yana yang udah entah keberapa kalinya mengambil lauk buat dicemilin.
“Eeh, maaf hilaf, Cintaku!” Yana pun mengurungkan niatnya.
“Oh, iya buahnya lupa belum dicuci.” Yanti teringat buah-buahan yang sedari tadi masih di dalam plastik.
“Sini biar aku aja!” Via mengambilnya dari tangan Yanti dan masuk untuk mencuci buah.
“Jadi kapan nih pesta lajangnya?” Tanya Firman pada Khusni.
“Wah, nggak sempat kayaknya, Man. Besok aku harus balik Bandung lagi buat ngurus cuti, abis itu langsung akad di rumah dia.” Khusni melirik Yana yang lagi bantuin Yanti mengumpulkan piring kotor.
“Bisa kali sebelum akad? Iya kan, Man?” Mirza memberi kode dengan matanya pada Firman.
“Iya tuh, dasar dia nggak niat!” Cibir Firman.
“Ya anggep aja ini pesta lajangnya, hehe…” Khusni nyengir kuda.
“Mana bisa? Harusnya Cuma kita-kita aja dong kaum pria?” Sanggah Mirza.
“Betul! Kita bikin kecil-kecilan aja. Ajak Danar sekalian, atau bila perlu di kedainya dia aja. Gimana?” Usul Firman bersemangat.
“Hem, maksa! Iya deh, coba aku hubungi Danar dulu ya.”
Mirza dan Firman saling melempar senyum, sementara Khusni sedang sibuk menelpon dan agak menjauh. Yanti dan Yana membawa piring dan gelas kotor ke dalam.
“Aduh, aku lupa nih janjian sama adik kamu, Liv!” Seru Yana.
“Sama Riri?” Heran Via yang sudah mempersiapkan buah segar di nampan.
“Iya, emangnya kamu punya adik berapa Olive?” Cebik Yana yang kemudian mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
“Janjian mau ngapain?” Via kepo.
“Aku pesan catering sama aneka kue buat acara akad di rumahku nanti. Kalo buat resepsi sih kan di Bandung, jadi udah diurus keluarga Khusni.” Sahut Yana sambil jarinya lincah mengetik pesan.
“Oh, bagus deh. Biar tambah maju usaha barunya Riri.” Via ikut senang kemudian dia keluar diikuti Yanti untuk membawa piring-piring makanan yang lain.
Acara beres-beres pun usai. Kini mereka tengah menikmati cemilan dan kopi hangat, Via dan Yanti memilih teh karena lebih menyukai teh daripada kopi. Perhatian mereka kemudian teralihkan pada sebuah sepeda motor yang memasuki halaman.
“Assalamualaikum. Halo semuanya….” Sapa Riri dengan senyum manisnya.
“Wah, bos catering datang nih!” Seloroh Khusni. “Bagus juga Ri, kamu bersolo karier biar usaha kamu lebih maju1” Khusni yang sudah mengetahui kabar tentang Riri mengacungkan jempol memberi dukungan.
“Hehe…., makasih Mas.” Riri tersipu dibuatnya.
“Mbak Via kok nggak bilang-bilang sih mau ada acar makan-makan? Tau gini kan aku ikut nimbrung?” Seperti biasa Riri merajuk pada sang Kakak.
“Lah ini kamu udah dateng kan?” Sahut Via.
“Ish, ini kan kabetulan aku lagi ada janjian sama Kak Yana.” Riri melihat Yana yang dari tadi senyum-senyum.
“Lagian ini acara couple , Ri. Yang jomblo dilarang nimbrung!” Sambung Mirza yang langsung mendapatkan lirikan tajam sang istri. Mirza tak sadar ia secara tak sengaja menggores luka hati Riri.
Riri sontak terdiam, namun langsung bisa mengatasi perasaannya. “Iya deh, ini kan acaranya Om-om dan Tante-tante. Aku kan masih imut dan lucu jadi belum boleh ikutan ya?”
Mirza merasa bersalah walau melihat roman muka Riri yang berusaha biasa aja. “Aduduh…, adik Mas yang lucu dan imut ini jangan cemberut dong.” Mirza coba mencairkan suasana dengan merangkul pundak Riri. “Maafin ya, nanti Mas cariin calon suami buat kamu yang sama gantengnya kayak Masmu ini, oke?”
“Ogah! Percuma ganteng kalo jadi Popaye, sering ditinggal melaut. Yang ada ntar sering galau merana kayak Mbak Via tuh!” Riri menunjuk kakaknya dengan bibirnya yang maju beberapa centi.
Semuanya tertawa mendengar jawaban Riri. Suasana pun makin ramai dengan kehadiran Riri. Gadis periang itu memang selalu membagikan aura ceria dibalik sikapnya yang kadang cuek dan jutek. Keseruan mereka pun terjeda sebentar ketika seorang laki-laki dengan suara baritonnya menyapa mereka.
“Danar? Kirain nggak jadi kesini?” Khusni sedikit surprise menyambut kedantangan Danar, rupanya tadi dia sempat membicarakan sesuatu di telpon dengan Danar.
“Aku sekalian jalan mau ke kedai jadi mampir kesini.” Sahut Danar, lantas matanya tertuju pada satu sosok.
Riri?
Oh, bukan!
Tapi, Via!
“Kamu bukan mau mengantarkan kerjaan lembur buat aku kan?” Canda Via pada Danar yang seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Nggak, aku janjian sama Khusni.” Kali ini baru Danar melihat pada Riri. “Ri, ada kamu juga? Apa kabar?” Danar sedikit canggung.
“Baik, Mas.” Jawab Riri lugas, tak sedikit pun dia canggung ataupun sejenisnya. “Mas Danar gimana kabarnya?”
“Baik juga.”
“Oh …” Riri mengangguk tersenyum simpul.
“Iya.” Balas Danar pun dengan senyuman.
“Ekhem, ini kayak lagi acara sesi perkenalan ya? Garing banget deh kalian!” Celetuk Khusni.
“Sayang, tolong bikini minum buat Danar ya.” Mirza langsung berinisiatif.
“Oh, oke Mas. Kamu mau minum apa, Danar?”
“Air putih aja.”
“Serius?”
Danar mengangguk.
“Ri, kita ke dalem aja yuk buat bahas menu makanannya.” Ajak Yana pada Riri.
“Oke, ayok!” Riri mengekor Yana.
“Kalo gitu aku pamit deh, takut Gio nangis.” Yanti bangkit. “Mas Fiman masih mau disini?”
“Iya, nanti nyusul. Bawa aja motornya.” Ucap Firman.
Jadilah hanya tinggal empat laki-laki di teras samping itu. via kemudian muncul dengan segelas air putih untuk Danar.
“Sayang, kopi Mas abis nih. Tolong buatin lagi ya?” Pinta Mirza.
“Hem, tadi kenapa nggak sekalian?”
“Mas lupa, hehe…”
“Tapi Mas udah minum dua cangkir kopi lho. Pagi tadi bangun tidur kan udah minum juga?” Via mengingatkan.
“Iya nggak apa-apa, Sayang. Sekali-kali lah.”
“Tapi ntar malem susah tidur lho.”
“Nggak bakalan, kan ada kamu.” Mirza menowel hidung Via dengan senyum genit.
Adegan barusan sukses bikin hati Danar meringis. Namun ia cepat sadar diri, tak pantas ia merasa sakit hati. Siapalah dia?
“Ekhem! Perasaan yang mau jadi pengantin baru aku sama Yana deh, kenapa jadi kalian yang sok romantis gitu ya?” Khusni menginterupsi Mirza dan Via.
“Huu! Dasar sirik! Kita emang selalu romantis tau! Iya kan, Sayang?” Mirza merangkul pundak Via dengan senyum lebar.
Hem, harusnya aku tadi nggak dateng ke sini. Semoga kamu dan Mirza bahagia selalu ya Vi. Kalian memang pasangan yang serasi kok. Aku bahagia melihatmu bahagia.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca …🙏🙏😍😍
Like dan
Komen ya kak…🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1