
Hangat matahari pagi membelai wajah cantik Sofi yang tengah berdiri di balkon kamarnya, pandangannya jatuh pada hamparan bening kolam renang di lantai satu hotel tempatnya tinggal selama beberapa waktu ini. Tampak dua orang berenang di sana, sepertinya mereka tamu hotel yang sedang menginap juga, dan sepertinya mereka adalah sepasang kekasih atau mungkin saja pengantin baru, sebab beberapa kali Sofi menangkap adegan romantis diantara keduanya yang tak ragu untuk saling berpeluk dan mencumbu satu sama lain.
“Ternyata kamu disini.” Suara Ramzi sedikit mengejutkan kegiatan Sofi. “Kamu ngeliatin apa?” berdiri di samping Sofi dan ikut mengamati obyek yang menjadi pengamatan istrinya.
“Tadi Kak Ram dari mana?” Sofi memutar tubuhnya menghadap Ramzi.
“Mengambil handphone di mobil. Ternyata semalam aku meninggalaknnya di sana.” Merangkul bahu Sofi. “Kamu kangen berenang?”
Membuang pandangan kembali pada dua insan yang kini tengah asyik bersenda gurau. Suasana hotel pagi ini tak ramai, mungkin karena tamu hotel tak banyak jadi kedua insan itu menikmati kolam renang layaknya kolam pribadi mereka. Sang pria naik ke tepi dan menjumput setangkai bunga sepatu yang tumbuh tak jauh di pinggiran kolam dekat rumpun bunga cendrawasih, menyelipkannya pada daun telinga kanan sang wanita. Keduanya tertawa riang.
“Sofia.” Meraih pinggang Sofi.
Cup!
Mengecup sekilas bibir sang istri yang wajahnya murung sejak tadi.
“Apa jika aku kembali tinggal bersamamu, papamu akan menerimaku?”
Pertanyaan Sofi membuat Ramzi terdiam sejenak. Memang mereka belum membicarakan soal ini setelah berbaikan beberapa waktu yang lalu.
“Mau dia terima atau tidak, itu tak jadi masalah buatku.” Menggenggam kedua tangan Sofi dnegan tatapan meyakinkan.
“Tapi aku ingin kembali ke istana megahmu, disana banyak kenangan tentang kita.” Cicit Sofi seraya tertunduk.
“Aku akan bangunkan istana baru untukmu, yang lebih besar dan megah.”
Menggeleng, ”bisakah kita kembali kesana saja?” masih dengan menunduk. “Bersama anak kita kelak.”
Segera merengkuh Sofi ke dalam dekapan, merasa agak mustahil jika sang ayah akan dapat menerima istrinya dengan tangan terbuka dan senyum bahagia. Seperti tau kegelisah sang suami, Sofi melerai pelukan dan menuntut jawaban dengan tatapan kedua mata indah bola pingpongnya.
“Kak Ram … “ panggilnya.
“Hem, mungkin setelah papa melihat cucunya dia akan berubah pikiran.” Mengusap wajah mellow Sofi untuk menenangkannya. “Jika tidak, aku akan cari cara lain.”
Senyuman segara terbit di wajah polos Sofi yang tanpa make up. “Terima kasih.”
“Untukmu apa sih yang nggak?” Balas tersenyum.
“Aku rasa Tuhan terlalu baik mengirimkan laki-laki yang luar biasa sepertimu, Kak. Kamu benar-benar menaklukan aku dengan kebesaran cintamu.”
“Jangan memujiku, nanti aku GR.” Tawa Ramzi berderai, sudah lama rasanya dia tak tertawa sebahagia itu.
Sementara itu pagi hari yang sama di tempat yang berbeda, Hanson tampak sedang menunggu Haji Barkah di teras rumah Pak Haji.
“Son, masuk aja! Ngapain lu nunggu disitu, kayak orang mau minta sumbangan aja?” Ucap Om Jaka yang baru nongol dari dalam rumah bersiap hendak ke toko matrial di kota.
“Nanti aja Om, aku nungu Pak Haji sambil baca nih.” Memperlihatkan buku bacaannya.
“Sok iyess lu!” Cibir Om Jaka. “Ayah masih lama datengnya, palingan setengah jam lagi baru balik jogging. lagian elu kepagian datengnya.”
“Nggak papa, Om.”
“Beb, bekal makan siangnya kok nggak dibawa sih?” Denaya nongol dengan kotak makan siang untuk Om Jaka.
“Oh iya, lupa. Sorry, Han.”
Ada getar-getar aneh tanpa permisi tiap kali Hanson melihat Denaya. Sedari pertama kali bertemu di rumah Bu Een, Hanson memang sudah terpesona dengan Denaya. Tambah lagi belakangan ini dia rutin mengunjungi rumah Pak haji Barkah untuk memperdalam ilmu agama Islam yang otomais makin sering bertemu dengan Denaya.
“Hanson, kamu udah sarapan?” Tanya Denaya membuyarkan keterpesonaan Hanson.
“Eh, u-udah.” Sahut Hanson agak gagap.
“Kalo belum nanti sarapan bareng ayah ya.”
“Thanks, Angel.”
“Apa lu bilang?” Sontak Om Jaka kaget. “Lu panggil bini gue apaan tadi?” Lotot Om Jaka.
“Emh, oh i-tu, bukan, aku tadi salah sebut.” Hanson jadi salting tiba-tiba kerena keceplosan. Ia memang punya sebutan khusus untuk Denaya, meski hanya di dalam hati. Angel – entahlah, mungkin kedengaran lebay. Tapi dalam pemikiran Hanson Denaya itu sosok muslimah sempurna, cantik alami, smart dan sholehah.
“Sapa yang lu panggil angel (baca dalam bahasa jawa) ?” Om Jaka masih menatap Hanson.
“Maaf Om, aku – hanya mengagumi Denaya.” Aku Hanson jujur banget.
“Coba bilang sekal lagi?” Om Jaka menunjukkan bogemnya dengan wajah kesal.
“Beb, udah!” Denaya coba menenangkan suaminya.
“Gue gibeng juga lu lama-lama! Berani-beraninya suka sama bini gue!”
“Bebeb, udah!” Denaya menarik kepalan tangan Om Jaka jangan sampe meluncur bebas ke wajah Hanson. “Dia kan cuman kagum, Beb.”
“Elu lagi! Seneng lu dikagumin sama bule sableng ini?” Semprot Om Jaka yang langsung membuat nyali Denaya ciut.
“B-bukan gitu, Beb … “
“Jangan-jangan selama ini tanpa sepengetahuan gue kalian saling curi-curi pandang terus saling kagum terus lama-lama saling cinta?”
“Astaghfirullah, Beb.” Kaget Denaya tak menyangka tuduhan suaminya sejauh itu.
“Om Jaka salah paham, aku hanya …”
“Diem lu! Ngomong lagi gue bikin nyonyor beneran mulut elu ntar!” Ancam Om Jaka semakin emosi, sungguh ia tak terima istrinya ternag-terangan dikagumi oleh laki-laki lain didepannya.
“Jaka, Denaya, ada apa ini?” Haji Barkah yang datang masih dengan setelan celana trainingnya bertanya keheranan.
“Ini nih, murid ayah bule sableng ini naksir sama Denaya!” Geram Om Jaka menurunkan tinjunya.
“Nggak, Pak Haji. Ini salah paham.” Hanson mengklarifikasi.
Pak Haji Barkah melihat mereka bertiga bergantian. “Dena.” Panggilnya pada Denaya yang masih menunduk dengan wajah memerah karena tadi habis dibentak Om Jaka.
“Dena nggak tau apa-apa Yah, dua orang somplak ini yang tau-tau ribut.” Denaya berani bersuara karena ada ayahnya, matanya melihat pada Om Jaka yang masih kesal dan Hanson yang merasa bersalah.
“Semuanya masuk, kita bicara di dalam.” Titah Haji Barkah melangkah mendahului menuju ruang tamu.
Setelah meneguk air mineral dari botol minumnya, Haji Barkah mengendar pandang pada ketiga mahluk didepannya.
“Sekarang katakan, tadi kalian ngapain? Kenapa bisa seperti itu?” Suara Haji Barkah tenang.
“Aku yang salah, Pak Haji.” Sahut Hanson cepat.
__ADS_1
“Bagus deh lu kalo ngaku salah!”
“Jaka diam dulu. Lanjutkan, Hanson.”
Menghela napas sebentar. “Sebelumnya maafkan aku Om Jaka.”
“Belum apa-apa udah minta maap lu!”
“Jaka …” Pak Haji menatap tajam membuat Om Jaka diam.
“Aku memang sudah kagum pada Denaya sejak pertama melihatnya di rumah Bu Endang.”
“Mampus!”
“Jaka!” Pak Haji terpaksa agak meninggikan nada suaranya.
“Dia ngaku terang-terangan Yah!”
“Kita dengarkan dulu penjelasan Hanson agar nggak semakin salah paham.” Pak Haji memberi penekanan.
“Pantesan aja lu pingin belajar agama sama ayah mertua gue, rupanya modus lu ya? pingin deketin bini gue?” Om Jaka seolah tak mempedulikan ayah mertuanya yang sudah berkali-kali memperingatkannya.
“Om Jaka tunggu, aku belum selesai bicara.”
“Mau bicara apa lagi lu?”
“Jaka kamu bisa diam atau tidak?” Sentak Haji Barkah.
Om Jaka segera patuh.
“Saya mungkin bersalah karena mengagumi istri orang, tapi perasaan ini jujur murni hanya sebuah kekaguman. Sebelumnya saya belum pernah bertemu dengan wanita shalihah seperti Denaya.”
“Udah lu jangan ulang-ulang terus muji-muji bini gue, ntar idungnya dia ngembang kayak kerupuk kena minyak panas.”
Bugh!
Satu bantal sofa tepat mengenai muka Om Jaka.
“Udah tua tapi pikiran kayak bocah!” Kesal Denaya.
“Lu ngatain gue tua? Ada si bule aja lu bilang gitu! Kemarin-kemarin lu bilang gue manis, ganteng menawan. Ck, sekarang dengan cepat lu pindah haluan.”
“Jaka, sudah! Jangan diteruskan.” Haji Barkah menyudahi pertikaian unfaedah itu. “Saya ambil kesimpulan, ini murni salah paham. Saya yakin Hanson tidak punya maksud lain pada Denaya.”
“Kok ayah malah belain dia sih?” Tuduh Om Jaka seraya menunjuk Hanson kesal.
“Jaka, dia ini sudah punya calon istri.”
“Tau. Si rumit itu kan, yang demennya pake kutang doang sama celana kurang bahan terus duduknya ngangkang?”Ceplos Om Jaka.
“Bebeb! Kamu sedetail itu memperhatikannya?” Denaya melotot galak. “Kamu pernah liat si rumit itu pake … “
“Rumi. Calon istri saya namanya Rumi, bukan rumit.”
“Bodo amat! Kagak penting buat gue!” Om Jaka cuek.
“Jawab dulu! Kamu pernah liat dia kutangan doang, Beb?” Denaya bersiap kembal dengan bantal Sofa di tangannya.
“Ya gue dua kali ke rumah Mirza ngeliat dia pakeannya kayak gitu, Han!” Om Jaka jujur banget.
Pukulan bantal sofa bertubi-tubi didaratkan Denaya pada wajah Om Jaka.
“Ampun, Han. Ampun!”
“Mata kamu sudah ternoda melihat aurat yang bukan muhrim!” Sembur Denaya.
“Gue kagak sengaja, Beb. Beneran.”
Pak Haji Barkah memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. “Dengarkan kali ini ayah bicara yang terakhir.”
Keduanya langsung diam memperhatikan, jika sang ayah sudah bertutur datar sperti itu pastilah sudah melewati ambang batas kesabarnnya.
“Jaka, yang kamu alami terhadap calon istri Hanson itu sama halnya seperti yang dialami Hanson pada Denaya. Suatu ketidaksengajaan yang tak dapat dihindarkan, atau hadir dengan sendirinya tanpa perencanaan.”
Ketiganya terdiam, menelaah kalimat demi kalimat yang Pak Haji ucapkan.
“Jaka, apa kamu sengaja datang ke rumah Mirza untuk menemui calon istri Hanson yang pakaiannya mini itu?” Tanya Pak Haji kemudian.
“Kagak, Yah.” Menggeleng yakin.
“Begitu juga Hanson.”
“Sumpah demi Allah, aku juga tak punya maksud lain datang berguru pada Pak Haji. Semuanya murni karena aku ingin belajar tenatang islam, dan hanya karena Allah.” Papar Hanson.
“Blagu lu! Muslim aja belom, udah sumpah pake bawa-bawa Allah segala!”
“Jaka!”
“Tapi emang bener kan Yah? Dia belum resmi jadi muslim?”
“Itu sebabnya pagi ini dia datang kesini, kami akan membicarakan rencana Hanson yang akan segera memluk Islam dalam waktu dekat ini. Sebenarnya, sudah sejak lama ayah memintanya, namun Hanson masih belum puas dengan pemahamannya tentang Islam.”
Hanson tertunduk, ia merasa malu karena ingin menyampaikan sesuatu.
“Kamu mau bilang sesuatu?” Pak Haji seperti mengetahui isi hati Hanson.
Mengangguk. “saya ingin buat pengakuan dosa.”
“Pengakuan dosa?” Pak Haji, Om Jaka, Denaya hampir bersamaan.
“Saya ingin melebur semua salah dan dosa saya pada semua orang yang sudah saya sakiti. Mudah-mudahan mereka mau memaafkan saya, agar langkah saya dalam berislam lebih ringan.”
“Subhanallah.”Pak Haji kagum. “Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Saya ingin bertemu Sofia, Ramzi, Mirza dan juga istrinya untuk minta maaf secara langsung pada mereka.” Lirih Hanson.
“Baiklah, besok kita akan mengundang mereka kesini. Jaka tolong kamu hubungi mereka.”
“Kok gue sih, Yah?”
“Nggak sopan banget sih? Sama orang tua gue gue?” Kesal Denaya.
__ADS_1
“Maksudnya, dia sendiri kan bisa hubungi mereka semua minta datang kesini Han?” Menatap Istrinya meminta dukungan.
“Aku nggak pnya nomor kontak mereka semua.”
“Alesan aja lu! Nih gue kasih, mau apa lu?”
“Jaka, sudahlah. Tolong bantu Hanson.” Pak Haji memohon. “Jika kamu memudahkan urusan orang lain, maka Allah akan memdahkan pula segala urusanmu.”
“Heem, iya iya.” Om Jaka akhirnya mau juga.
“Makasih Om.” Ucap Hanson.
“Ngerepotin gue aja lu!” Omel Om Jaka. “Jangan seneng dulu lu. Gue masih belom percaya soal perasaan elu ke bini gue.”
“Asataghfirullah, Jaka. Kenapa masih dibahas?” Pak Haji tak habis pikir.
“Abisnya dia ini playboy durjana Yah, wajar kan kalo aku masih sangsi sama pengakuannya. Dia ini kagak bisa liat perempuan cakep. Kayaknya liat kambing dibedakin juga langsung diembat sama dia!” Cerocos Om jaka.
“Bebeb! Berarti kamu nyamain aku sama kambing?” Denaya berkacak pinggang manatap suaminya tajam.
Tak mau menerima resiko yang lebih buruk lagi, Om jaka memilih segera ambil langkah seribu seraya menenteng kotak bekal makan siangnya.
“Aku pamit, assalamualaikum!” Seru Om Jaka berlari ke luar rumah.
-
-
-
“Mas, ada apa nih Om Jaka dari tadi nelpon?” Via membawa ponsel suaminya masuk kamar.
“Angkat aja, sayang.” Mirza tengah sibuk memasukkan beberapa potong baju ganti ke dalam tasnya.
“Nggak ah, Mas aja.” Mengasongkan ponsel ke depan wajah sang suami.
“Halo, Om. Assalamualaikum.” Sapa Mirza.
“Lama bener lu, lagi di dalem sumur ya?” Omel Om Jaka. “Eh, sori. Wa alaikumussalam.” Lanjutnya yang baru ingat belum menjawab salam.
“Lagi siap-siap mau berangkat kerja ada apaan emang?”
“Besok sore datang ke rumah gue ya sama Via.”
Melihat Via yang duduk di sampingnya. “Ada apaan sih? Via udah makin besar perutnya khawatir kalo pergi-pergi.”
“Lebay lu! Timbang ke rumah gue doang! Ada perlu penting ini.”
“Penting banget?”
“Lumayan.”
Via bertanya dengan menggerakkan bibirnya tanpa suara, Mirza menggeleng. “Insaya Allah deh.”
“Ok. Jangan telat ya.”
“Tapi aku masih belum tau nih acaranya apaan.”
“Ntar juga elu tau. Eum, biar elu kagak bolak balik, ntar Via bareng gue aja sekalian pulang dari toko. Gimana?”
“Ya nanti aku tanya Via dulu.”
“Sip. Nanti kabarin ya. bye!” Om Jaka mengakhiri panggilannya.
“Ada apa sih, Mas?” Via makin penasaran.
“Om Jaka besok sore ngundang kita ke rumahnya. Nggak tau ada acara apaan, lumayan penting katanya.”
Via hanya maggut-manggut.
“Oya, kamu mau bareng Mas apa sama Om Jaka?”
Berpikir sebentar. “Biar Mas nggak capek bolak-balik, mending aku bareng Om Jaka aja deh.”
“Beneran nggak papa?”
“He em.”
“Ya udah, ntar hati-hati ya. malam ini Mas nggak pulang, seperti biasa bermalam di rumah sakit jagain ibu. Kita ketemu besok sore di rumah Om Jaka.”
“Iya, Mas.”
“Maafin Mas ya Sayang, sering meninggalkanmu.” Mengusap pipi Via dengan sorot mata sendu.
“Asalkan ibu kembali sehat, aku rela Mas.”
“Kamu memang istri yang super baik. Doakan saja, akhir minggu ini operasi tulang selangka ibu akan berjalan sesuai rencana.”
“Akhir minggu ini?” Via antusias.
Mirza menagngguk. “Dokter Leonard bilang begitu. Keseluruhan luka bekas operasi di kepala ibu sudah pulih, saraf-saraf ibu juga sudah berangsur normal.”
“Alhamdulillah. Mas aku mau ketemu ibu.”
“Insya Allah kalo waktunya udah tepat Sayang.”
“Besok setelah dari rumah Om Jaka, gimana?”
“Kita liat nanati ya, sayang.”
“Please … “ memasang puppy eyes.
“Mungkin besoknya aja, siapa tahu kita pulangnya malam Sayang.”
Mendengus kecewa. “Terserah Mas deh.” Pasang wajah cemberut.
“Jangan cemberut Sayang, Mas nanti nggak jadi berangkat kerja. Senyum manisnya mana?”
Sesegera mungkin ditariknya kedua sudut bibirnya membuat satu senyuman yang agak dipaksakan, Mirza membalasnya dengan hujan ciuman di kening, kedua mata, hidung, kedua pipi , bibir,dagu dan terakhir di perut buncit Via membuat Via kewalahan dnegan limpahan cinta dan kasih sayang suaminya yang tiada terkira itu.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, maafkan kalo banyak typo ya 🙏🙏😊😊
Love you all🤗🤗🤗😘😘😘