
Menjalani LDR dengan jarak yang cuman secuil nyatanya tetap saja menyiksa bagi Mirza. Meski jauh-jauh hari sebelum kejadian ini diriya dan Via telah berhasil melalui berkali-kali LDR dengan jarak ribuan mil jauhnya ketika dia masih meyandang gelar sebagai Popaye si pelaut.
Mirza tengah berkutat dengan gawainya sambil senyu-senyum sendiri, rayuan pulau kelapa, atau lebih tepatnya rayuan romansa kemesuman jarak jauh tak henti-hentinya dilepaskannya pada sang istri.
Mirza
Heem, Sayang. Makan yang banyak biar makin semok ya. Mas mantep pegangnya kalo semok, wkwkwkk…😍😍
Via
Apaan sih Mas? Mulai deh!😏
Mirza
Titip salam buat dede bayi ya, bilangin nanti ayah Mirza secepatnya tengoki dia. Udah kangen berat nih…😘😘
Via
Hish! Tengokin macam apa nih maksudnya? 🙄
Mas udah makan belum? Ibu gimana keadaannya?
Mirza
Pura-pura nggak ngerti ya Bunda Via…. 😂Pasti kangen juga kan pingin ditengokin? 😝Tungu ya, ntar malem Mas ke tempat Mbak Tia.
Via
Waaaat?? 😱😱Nggak usah!
Ditanyain juga, ibu gimana keadaannya?
Mirza
Hem… nggak usah tanyain ibu lah, udah baikan kok. Tanyain si otong aja ini, Sayang. Dia benar-benar sedang tak baik-baik saja.😭😭
Via
Ya amfuun! Dah ah, aku mau bantuin Mbak Tia dulu. Aku lagi di toko kue nih Mas, lumayan rame hari ini tokonya. Bye, luv you😘😘
Mirza
Eh tunggu, dong. Main bye bye aja. Kasih dulu foto selfienya Sayang, sebagai obat kangen …
Beberapa saat menunggu setelah mengirim pesan tak kunjung ada balasan dari Via membuat Mirza kembali mengetik pesan lagi. Namun belum juga terkirim, seruan Bu Een dari kamarnya membuat Mirza urung melanjutkan mengetik pesannya.
“Za …!”
Segera Mirza mendekat. “Ya, Bu? Ibu perlu sesuatu?” Tanyanya pada sang ibu yang tengah berjalan merambat berpegangan pada pintu kamar mirip anak kecil yang lagi belajar jalan.
“Ibu mau keluar, bosan di kamar terus.”
Mirza menyambut tangan sang ibu dan membimbingnya menuju teras depan rumah, mendudukkannya perlahan disana.
“Duduk sini, Za. Ibu mau ngomong sama kamu.” Pinta Bu Een ketika Mirza hendak beranjak.
“Ibu mau makan?”
“Bukan, ibu mau bilang-“ Bu Een berhenti sebentar, menoleh pada sang putra kesayangan dengan raut serius. “Kamu kan sekarang udah nggak kerja, gimana kalo kamu urus toko sembako ibu aja?”
Mirza tak langsung menjawab. Jika ibunya bukan tipe orang yang menganut paham nyinyirisme terhadap sang menantu, mungkin ia akan langsung setuju dengan tawaran itu.
“Za, istri kamu juga kan nganggur, lantas gimana kalian bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari kalo sama-sama nggak kerja?”
Ada benarnya juga perkataan ibunya, namun sekali lagi tawaran itu akan berakibat buruk untuk kelangsungan rumah tangganya jika ia menerimanya.
“Emh, aku nanti omongin dulu deh sama Via.” Mirza tak enak mau langsung menolak.
“Alah! Nggak usahlah minta pendapat istri kamu, nggak penting!” Bu Een manyun membuang muka.
“Bu, biar bagaimana pun juga aku nggak bisa mengambil keputusan sendiri. Aku kan berumah tangga berdua sama Via, bukan sendirian?”
Bu Een tak menyahut. Dia sebenarnya mengerti itu adalah bentuk penolakan halus dari anaknya. Bu Een berencana akan mencari cara lain untuk memaksa Mirza setuju dengan tawarannya.
“Itu kamar mandi di kamar ibu udah Via sikat belum? Jangan sampe ibu keplesat lagi ya!” Akhirnya justru kalimat itu yang keluar dari mulut Bu Een.
“Iya, Bu. nanti aku yang bersihkan kamar mandinya.”
“Kok kamu sih?” Bu Een menoleh dengan mimik tak suka. “Suruh aja istri kamu, biar dia banyak gerak. Jangan mentang-mentang lagi hamil terus jadi males!. kamu juga sih, teralalu menjain dia. Ntar dia ngelunjak!”
“Via udah aku anterin pulang Bu dari kemarin.”
TOWOWEW!
Bu Een melebarkan matanya seolah tak percaya. Hem, nggak sadar rupanya dia kalo sang menantu yang selalu disia-siakannya itu sudah tak ada di rumahnya. Bu Een juga nggak ngeh kalo mobil Mirza nggak ada, dia mengira Mirza memasukkan mobilnya di garasi. Untungnya sih Bu Een kan lagi sakit, jadi nggak mungkin meriksa ke garasi. Bisa teriak histeris dia kalo tau mobil Mirza bermetamorfosis jadi motor bututnya Arya.
“Pantesan aja dari tadi pagi nggak kelihatan batang hidungnya.” Ucap Bu Een. “Baguslah, memang lebih baik dia di rumah jadi kamu lebih fokus ngurus ibu.”
“Ya udah, aku ke dalam dulu Bu mau bersihin kamar mandi ya.” Mirza bangkit meninggalkan ibunya.
_
_
_
Di toko kue Tia, pembeli terakhir baru saja keluar. Via menghampiri Ica yang tertidur pulas di tikar dekat pintu belakang.
“Ya ampun, ponakan tante yang cantik capek ya?” Via mengusap lembut kepala Ica seraya menyelonjorkan kakinya di samping Ica.
Tia tersenyum melihatnya. “Kamu juga istirahat Vi, nanti kalo kecapekan malah Mbak lagi yang diomelin sama suami kamu.”
“Kecapekan apa sih Mbak? Orang dari tadi cuman bantuin yang ringan-ringan aja kok.” Via masih ngelus kepala sang keponakan, ia tatapi wajah polos Ica yang pulas tampak semakin menggemaskan.
Tia mengambil cheese cake dan memberikannya pada Via. “Cobain nih, ini buatan Mbak sendiri lho.”
“Mbak udah nggak nyetok kue dari tempat Bu Elin lagi?” Via menerima cheese cake dan mencicipinya. “Enak, Mbak.”
Tia ikut duduk selonjoran di samping sang adik. “Beberapa kue andalan sih masih dipasok dari Bu Elin, tapi Mbak juga bikin beberapa kue sendiri yang nggak nyamain kue dari sana. Biar dagangan Mbak makin lengkap kan?”
Via mengangguk seraya menyuapkan kembali cheese cakenya. “Tapi apa Bu Elin nggak keberatan, Mbak?”
“Emang dari dulu kan kesepakatannya gitu, Vi. Bu Elin nggak mengharuskan Mbak menjual kue dari produksinya. Mbak bebas mau bikin olahan kue apa aja yang penting dalam sebulan tercapai target penjualannya.” Papar Tia.
Via manggut-manggut masih asyik dengan cheese cakenya.
“Mbak rasa sih dulu itu Bu Elin hanya murni mau membantu Mbak dan Mas Arya aja, nggak terlalu maksain buat bisnis. Kan dulu itu Danar lagi deket-deketnya sama Riri.”
Perkataan Tia sontak membuat Via mengehentikan tangannya yang hendak menyuapkan suapan cheese ceke terrakhirnya. Ia ingat bagaimana dulu kedua orang itu memang sangat dekat dan akrab, namun tak disangka hubungan mereka harus kandas dengan begitu cepat.
Suara gemerincing lonceng pintu toko Tia membuat perhatian Tia dan Via segera teralihkan ke arah pintu.
“Assalamualaikum., Mbak Tia ….” Suara yang sangat familiar di telinga Tia dan Via membuat keduanya kompak berdiri untuk sekedar memastikan.
“Danar?” Tia seperti tak percaya, dia sampe lupa menjawab salam saking surprisenya. Tak dinyana, barusan aja dia lagi ngomongin Danar sama Via, tau-tau orangnya nongol. “Eh, Wa alaikumsalam.” Lanjut Tia yang teringat kemudian.
Danar tersenyum manis. Manis banget malah, manis alami tanpa pemanis buatan. Dan senym manisnya makin merekah ketika melihat Via juga ada di sana.
“Eh, Vi. Ada kamu juga ternyata?” Danar coba bersikap biasa aja, walau ia sendiri tak memungkiri degupan jantungnya memang iramanya berubah agak-agak sedikit berdisko setelah melihat wajah ayu yang selalu didambakannya itu tersaji di depan matanya.
Via balas tersenyum. “Iya, kok tumben kamu ke toko Mbak Tia. Ada apa?”
“Emh, aku disuruh ibu nih.”
__ADS_1
“Nganterin kue?” Sambar Tia.
“Bukan. Justru aku kesini mau beli kue disuruh ibu, Mbak.”
“Beli kue?” Tia dan Via kompakan.
“Iya. Jadi kan ibu ceritanya baru aja sembuh abis sakit, terus tiba-tiba katanya pingin makan kue yang katanya cuman ada di toko kuenya Mbak Tia.” Danar menjelaskan.
“Bu Elin sakit?” Tia dan Via kompakan lagi membuat Danar melebarkan senyumnya.
“Kompak banget sih kakak adik? Udah mirip lagi jawab lomba cerdas cermat aja.” Seloroh Danar.
“Eh, bukan gitu Danar. masalahnya aku nggak tau kalo Bu Elin sakit. Ya ampun, maaf ya. Nanti aku ke rumah Bu Elin. Sampein salamku ya.” Tia merasa tak enak hati.
“Nggak papa, Mbak. Lagian ibu udah baikan kok.”
“Eh, tadi mau cari kue apa?” Tanya Via memangkas rasa bersalah kakaknya.
“Oh iya, apa ya namanya …?” Danar mengingat-ingat sebentar. “Madu-, apa ya sejenis dodol atau jenang gitu?”
“Madumongso?” Untuk kesekian kalinya Tia dan Via kompakan lagi.
“Ah, ya itu. madumongso!” Danar menjentikkan jarinya.
“Sebentar ya, kayaknya masih deh.” Tia berjalan ke etalase dekat show case dan mengambil 2 toples madumongso. “Cuman tersisia ini.” Tia memberikannya pada Danar.
“Ini aja udah cukup kok, Mbak.” Danar menerimanya dengan senang karena berhasil mendapatkan kue yang diidamkan sang ibu. “Ibu bilang madumongso buatan Mbak Tia enak banget, aku jadi penasaran mau mencicipinya.” Danar mengambil satu dari dalam toples.
“Eh, duduk dulu Danar.” Tia mempersilakan Danar duduk di kursi sisi ruangan. “Mbak bikinin minum dulu ya.”
“Nggak usah, Mbak. Aku nggak lama kok.” Sergah Danar yang sudah mulai mencicipi kue madumongsonya. “Hem, enak ternyata kuenya Mbak.” Ucap Danar disela-sela makannya. “Rasanya unik.”
Tia tersenyum seraya meletakkan sebotol air mineral dingin dan duduk di kursi depan Danar. “Air putih aja nih kalo kamu buru-buru mau pulang.”
“Makasih Mbak.” Danar melahap kuenya sampai tandas. “Vi, kamu lagi bisulan atau gimana? Kok berdiri aja disitu?” Ledek Danar sambil membuka satu lagi madumongso.
Via jadinya mau tak mau ikut mendaratkan pantat di samping Tia. “Kamu kok jam segini keluyuran sih? Emangnya nggak kerja?” Via baru sadar kalo ini masih jam kerja. Pandangannya semakin merasa aneh manakala sadar Danar emang Cuma pake kaos doang.
“He em, aku emang nggak kerja.” Ucap Danar dengan santainya, dibukanya tutup botol dan doi minum dengan semangatnya. Rasa manis agak sedikit asam meninggalkan rasa haus ditenggorokannya sehingga bikin dia haus.
“Ijin apa bolos?” Tanya Via kepo.
“Mau tau aja apa mau tau banget?” Danar menyeka bibirnya yang basah setelah minum.
“Nggak mau tau sih, cuman heran aja. Pak bos kok jam kerja begini kelayaban cuman pake kaos oblong.” Cibir Via sdikit sebal.
Danar malah nyengir. “Aku udah nggak kerja lagi.”
Via kaget sebentar. “Resign maksudnya?” Tanyanya makin kepo.
“He em.” Danar bangkit menuju etalase depan mengamati deretan kue-kue disana.
“Mana bisa? Kamu kan Pak Bos Danar yang terhormat.” Via tak mempercayai begitu saja ucapan Danar.
“Bisa lah, suka-suka aku.” Jawab Danar enteng. “Mbak, ini kue apa namanya?” Danar menunjuk kue di etalase yang menarik perhatiannya seolah tak ingin membahas rasa penasaran Via lebih lanjut. “Aku mau ini juga, tolong dibungkus sekalian sama madumongsonya tadi ya.”
Tia beranjak untuk mengambilkan kue yang diminta Danar. “Oh, ini muffin.” Tia mengambilkan beberapa kue muffin coklat dan memasukkannya ke dalam wadah.
“Nggak usah banyak-banyak Mbak.”
“Nggak papa, buat kamu apa sih yang nggak?” Seloroh Tia dengan senyuman.
“Jadi berapa semuanya, Mbak?” Danar mengeluarkan dompetnya.
“Eh, nggak usah. Bawa aja semuanya.” Tolak Tia seraaya mengemas semua kue Danar.
“Kok gitu? Aku disuruh beli lho sama ibu bukan minta, Mbak.”
“Iya, tau. Tapi beneran nggak usah dibayar. Bawa aja buat Bu Elin, nanti Mbak kesana buat jenguk ibu kamu ya.”
“Heh…, sama aja dong kalo gitu?” Dengus Tia tak kuasa menolak kalo alasanya buat Ica. “Untung dia lagi tidur, kao nggak dia bisa histeris liat kamu Danar.” Tia meihat pada Ica yang terlelap.
Danar ikut memandang wajah polos Ica yang nampak sangat nyenyak tidurnya. “Salam buat Ica ya, Mbak.”
Tia mengangguk. “Iya. Jangan lupa sampaikan juga salamku buat Bu Elin ya.”
“Oke. Ya udah aku pamit, makasih mbak.” Danar menenteng katung kue belanjaannya. “Vi, aku duluan ya.”
Via hanya mengangguk. Meski sebenarnya Danar masih sangat ingin berlama-lama disana, tapi dia nggak mau terlena dalam pesona istri orang. Karena itu akan semakin menyiksa batinnya untuk sulit melupakan Via.
Danar pulang dengan membawa kebahagiaan dalam hatinya. Dia sudah cukup puas walau hanya sekejap perjumpaannya dengan Via. Sepanjang jalan tak henti-hentinya ia tersenyum saking senangnya, andai dia nggak pake masker kayaknya udah kering tuh gigi nyengir mulu dari tadi naik motor dari kampung Via menuju kota.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari belum terlalu malam, namun udara terasa cukup dingin. Via membenahi selimut Ica yang melorot. Anak itu memang tak mau jauh dari tantenya, setiap malam tidur bersama Via. Sehari-hari juga kerjaannya nggondelin Via terus. Via tersenyum mengamati wajah Ica, hari ini Ica tak terlalu banyak tingkah. Via mencium gemas pipi bakpau keponakannya itu.
Tu tuk tuk …
Samar-samar terdengar seperti suara ketukan dari luar. Via menajamkan pendengarannya.
Tuk tuk tuk ….
Ah ya, benar! Itu suara ketukan, datangnya dari arah jendela. Tiba-tiba Via merasa merinding. Dilihatnya jam dindng di atas meja samping ranjang. Masih pukul 9.15 malam.
Tuk tuk ….
Terdegar lagi suara itu. Via malah meringkuk mendekap tubuh Ica ikut masuk ke dalam selimut.
Drrrrt drrrrt….
Ponselnya bergetar membuatnya sedikit kaget. Via meraihnya, “Mas Mirza?” Lirihnya menggeser tanda hijau pada layar gawainya. “Halo, Mas.”
“Sayang, Mas di luar. Bukain jendelanya.” Ucap Mirza dengan suara agak berbisik.
“Ha? Di luar? Di luar mana?” Via menyingkap selimut kaget.
“Disini, di dekat jendela kamar.” Bisik Mirza kemudian membuat suara ketukan lagi pada daun jendela kamar sehingga Via turun untuk membukanya.
Duk!
“Aww…!” Mirza meringis memegangi jidatnya. “Liat-liat dong, Sayang.” Ucap Mirza memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket.
“Ish, lagian Mas ngapain malem-malem malah nongol lewat jendela? Bukannya lewat pintu?”” Omel Via.
“Ssssssttt!” Mirza menempalkan jari telunjuknya pada bibir Via.
“Apaan sih, Mas?” Via menepisnya.
“Biar terkesan romantis kayak Romeo dan Julliet gitu, Sayang. Hehe….” Mirza nyengir seraya mendekatkan wajahnya menangkupkan kedua tangannya pada wajah sang istri. “Mas kangen berat, sayang ….”
“Ekhem!” Suara deheman dari ruang tamu membuat Mirza sedikit kaget. “Bun, kayaknya ada suara orang deh. Bunda denger nggak?” Terdengar Arya bertanya pada Tia.
“Suara apa, Yah?” Tia heran.
“Kayak ada orang ngobrol gitu, coba kecilin volume TV-nya.” Perintah Arya.
Mirza dan Via terdiam. Mereka mendadak pias, tampangnya udah kayak orang baru tercyduk razia SATPOL PP. heran, padahal kan meraka suami istri ya? Hedeh….
“Mana? Nggak ada suara apa-apa, Yah?” Tia heran.
“Kayaknya Ayah salah denger deh. Ya udah besarin lagi volume TV-nya Bun.”
Mirza dan Via bernafas lega.
__ADS_1
“Ish! Lagian kanapa sih kita kok pake sembunyi-sembunyi kayak gini Mas?” Via tersadar dan melepaskan tangan Mirza dari wajahnya. “Aneh banget!”
“Iya juga ya, hehe….” Mirza kembali nyengir. “Tadi kamu belum tidur kan, Sayang?”
“Baru mau tidur, Mas.”
“Bagus deh, bukain jendelanya lebar lagi, sayang. Mas mau masuk.” Pinta Mirza seraya meraih jemari Via.
“Ngrepotin aja deh, lewat pintu depan aja Mas. Lagian apa Mas mau tidur di sini? Ibu gimana di rumah nanti?” Via sungguh tak habis pikir dengan kelakuan suaminya itu.
“Mas nanti pulang kok. Mas cuman mau numpang ngecas aja sebentar, Sayang.”
“Numpang ngecas?” Via melongo heran.
Mirza tersenyum penuh arti. Perlahan tangan kanannya meraih tengkuk sang istri, didekatkannya bibirnya pada wajah Via yang masih tampak bertanya-tanya itu.
A deep and wet kiss mendarat pada bibir Via yang sangat dirinduinya. Mereka sampai hampir kehabisan nafas karenanya. Via mendorong perlahan pundak suaminya.
“Ngertikan sekarang maksud Mas, hm?” Mirza mengusap bibir basah Via.
Aih, Via jadi tersipu malu dibuatnya. Dia hanya tersenyum. “Mas yakin mau melakukannya?” Tanya Via kemudian.
“Yakin banget Sayang. Kanapa emangnya? Kamu nggak kangen sama suamimu ini?” mengusap lembut pipi Via dengan mengulas pandangan penuh kerinduan.
Via membuka lebar daun jendela kamar, “Ica mau ditaroh dimana coba?”
Mirza membulatkan matanya, melihat dengan jelas si keponakan yang tengah tertidur di atas kasur bergelung selimut.
“Ya ampun! Apa dia selalu tidur sama kamu, Sayang?” Mirza menahan kecewa.
“He em.” Via mengangguk.
“Kita bisa melakukannya di lantai.” Usul Mirza.
“Ih, ngga mau. Badanku pegal-pegal nanti.”
“Kita pelan-pelan aja, Sayang.” Tatapan Mirza memohon.
“Ntar kalo Ica kebangun gimana, Mas?”
“Kita jangan berisik, Sayang.” Mirza udah mau nyosor lagi, doi kayaknya udah nggak sabaran tuh pingin segera ngecas. 🤭🤭
“Bukannya Mas ya yang paling berisik?” Via mecebik seraya menghindar.
"Nggak. Kamu, Sayang."
“Enak aja! Mas tau!"
"Kamu, Sayang!”
“Mas.”
“Kamu.”
“Mas!”
“Kamu, Sayang ….”
“Mas, Mas, Mas, Mas …. Pokoknya Mas yang paling berisik!
“Kam ….”
“Mirza? Via?” Tegur Arya yang tau-tau entah nongol dari mana udah berdiri tak jauh dari Mirza dengan memegang senter di tangannya.
“Eeh, Mas Arya? Dari mana Mas malem-malem?” Mirza menoleh sambil cengengesan untuk menutupi kekagetannya.
“Kamu itu yang dari mana? Malem-malem kok nongol di gelap-gelapnya, aku kira siapa tadi, Za.” Arya setengah kesal.
“Aku sengaja kesini dari rumah Mas.”
“Kalo gitu ngapain nggak ketok pintu dari depan?” Heran Arya.
“Kan ceritanya biar lebih dramatis, Mas? Kayak adegan-adegan penyelamatan anak perawan yang besoknya mau dikawinin paksa sama orang tuanya gitu.” Mirza malah nyengir.
Spontan Via mencubit gemas lengan suaminya. Entah ide dari mana lagi suamnya itu. sebelumnya dia bilang biar mirip Romeo Julliet, barusan malah bilang biar mirip adegan dramatis penyelamatan anak perawan. Hemmm… ada-ada aja!
“Sayang, kok nyubit sih?” Protes Mirza mengusap lengannya.
“Abisnya Mas itu suka ngasal deh!” Via cemberut.
“Ada Apa, Yah? Kok kayak ribut-ribut sih?” Tia muncul belakangan.
“Malam, Mbak Tia.” Mirza malah dadah dadah kayak Miss Universe.
“Mirza?” Tia tak dapat menutupi kagetnya.
“Kelakuan adik ipar kamu itu emang kadang ajaib, Bun. dia nemuin istrinya sendiri masa lewat jendela?” Ujar Arya.
“Abisnya udah kangen berat. Maklumin aja lah Mas, Mbak.”
“Ya udah masuk, Za.” Ajak Tia. “Yah, ayok pindahin Ica ke kamar kita.” Tia segera tanggap dengan maksud kedatangan sang adik ipar.
Arya segera masuk diikuti Tia dan Mirza.
“Makasih ya Mbak. Mbak Tia emang paling pengertian banget deh.” Ucap Mirza setelah mereka sampai kamar Via.
“Tapi aku nggak mau tanggungjawab ya kalo ibu kamu nysulin kesini sambil ngomel-ngomel.” Ucap Arya yang menggendong tubuh mungil Ica.
“Nggak bakalan Mas, ibu udah aku kasih obat tidur. Haha….”
“Mas, Ih!” Via menyikut perut suaminya membuat tawa Mirza terhenti.
“Becanda, Sayang. Masa Mas tega?” Mirza mengusap pucuk kepala istrinya. “Ibu emang udah tidur kok, tenang aja.”
Tia dan Arya geleng-geleng kepala melihat tingkah Mirza. Mereka segera keluar kamar membiarkan dua sedjoli itu sesuka hatinya menumpahkan kerinduan yang mungkin sudah sampai ujung ubun-ubun. Tak ingin membuang banyak waktu, Mirza segera mengunci pintu kamar.
“Ayok, Sayang. Kita cuss!” Diraihnya pinggang istrinya yang masih cukup ramping, merapat dengan perutnya.
“Mas, tunggu.” Via menutup bibir Mirza dengan telapak tangannya. “Bersih-bersih dulu sana. Main nyosor aja.”
Mirza menurut. Dia dudukkan istrinya di tepi ranjang. “Tunggu disini ya. jangan keman-mana, Sayang. Suamimu akan segera kembali setelah pesan-pesan berikut ini.” Candanya seraya mencubit gemas ujung hidung istrinya.
“He em. Cepatan, jangan kelamaan Mas. Ntar aku tinggal tidur, nih.”
“Aih, istriku sudah nggak sabar rupanya.” Menowel pipi Via dengan senyum menggoda.
“Ish! Aku hitung sampai 3 ya ….”
“Wait, Sayang!” Mirza segera membuka kembali kunci pintu kamar dengan tergesa dan ngacir ke belakang. Maklumlah rumah kontrakan Tia kan nggak ada kamar mandi dalam kamarnya, jadi kudu keluar dulu kalo mau MCK. Via tertawa geli dengan tingkah polah suaminya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf ya, upnya telat…😊😊
Terima kasih sudah membaca🙏🙏
Like komen selalu ya Kak🤩🤩
Vote juga boleh banget lho…😉😉
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
Note;
__ADS_1
Madumongso adalah makanan ringan asal Jawa Timur. Makanan ringan ini terbuat dari ketan hitam sebagai bahan dasarnya. Rasanya asam bercampur manis karena ketan hitam sebelumnya diolah dahulu menjadi tapai. (sumber; google)