
Hi, readers kesayangan ….
Terima kasih banyak ya udah kasih jempolnya dan selalu dukung othor awut-awutan ini. 🙏🙏🙏
Yang masih diem-diem bae, plis … jempolnya mana…?😀
Apa….? Lagi cantengan…?🤣🤣
Hemm, pinjem jempol tetengga boleh deh …😆😆
Komen ya, komen, komen, komen …. 😍
Biar othor makin semangat dan makin sayang sama kalian semua 🤗🤗🤗
Buat rekan sesama author tercinta, thank you so much gais kalian terbaik😘😘😘
❤️❤️❤️❤️❤️
Sejak menginap di rumah Via, toko kue Tia jam bukanya jadi tak tentu. Beberapa pelanggan sempat komplain namun dengan sabar Tia menjelaskan kalau ia sedang sibuk merawat salah satu keluarga yang sakit. Seperti sore ini ketika ia baru saja akan tutup toko, seorang pelanggan ingin memesan kue namun terpaksa Tia menolaknya.
“Padahal Bunda bisa saja kan terima orderan dan mengerjakannya di rumah Via?” tanya Arya begitu pelanggan tadi meninggalkan toko.
“Belum rejeki kita Yah,” Tia mengunci pintu toko.
“Atau kita minta dari toko cabang kuenya Bu Elin yang lain?”
Memandang suaminya, “Bunda masih belum mau nerima orderan apa-apa Yah. Bunda pingin bantu selesaikan masalah Via dulu.”
“Mau bantuin gimana? Jangan bilang mau mempengaruhi Via untuk pisah sama Mirza ya?”
Mendelik kesal, “jangan mulai lagi deh. Bunda lagi nggak mau debat sama Ayah!” merebut kunci motor dari tangan suaminya.
“Lho, Bunda mau ngapain?” heran melihat istrinya sudah naik motor lebih dulu.
“Mau pulang, kalo Ayah nggak setuju sama cara Bunda mending ayah tidur aja di toko!”
“Jangan gitu dong, Bun” segera menghampiri dan membujuk sang istri. “Ayah cuman nggak mau Via sama Mirza pisah, itu aja.”
“Ayah nggak mikirin perasaan Via? Dia itu tertekan, dia nggak bisa mengungkapkan isi hatinya karena sangat peduli dengan persaan ibu mertuanya yang durjana itu. Kalau dia terus-terusan gini, itu sangat nggak baik buat kesehatan mental dan juga perkembangan janinnya. Ayah ngerti nggak sih?”
Arya melongo, baru kali ini dia lihat seorang Cyntia Hasan yang sudah sekian lama dinikahinya berbicara dengan nada keras, dimuka umum pula, sehingga sempat beberapa orang yang melihatnya mengira mereka sedang bertengkar.
“Bun, pelanin suaranya dong. Nggak enak dilihat orang” lirih Arya disertai senyum salah tingkah pada mereka yang kebetulan sedang melintas di depan tokonya.
“Habis Ayah yang mulai duluan sih.”
“Ya udah, Ayah nggak akan ngomong lagi” membuat gerakan mengunci mulutnya. “Sekarang ayok kita pulang, kasihan Ica juga udah sore ini.” Mengambil alih kemudi motor, dengan raut kesal Tia geser ke boncengan. Mereka pun melaju menuju rumah Via.
_
_
_
“Tante lihat, aku udah mandi!” seru Ica yang keluar dari kamar mandi Via dengan air masih menetes-netes dari rambutnya yang basah.
“Ya ampun, Ica mandi sendiri Nak?” mata Via yang masih terasa berat membulat seketika demi melihat keponakannya.
“Heem,” mengangguk lantas mengeringkan badan dan rambutnya dengan handuk bergambar Elsa Frozen.
“Maafin Tante ya Sayang,” menyeret langkah menghampiri Ica yang sudah siap dengan baju gantinya sendiri.
“Kok minta maaf? Aku kan udah gede Tante, udah bisa mandi sendiri. Lagian kata Bunda aku nggak boleh ngerepotin Tante Via, aku harus jagain Tante Via” celotehan Ica membuat hati Via mengahangat, ia usap pipi gembul Ica dengan senyuman.
“Kita ke kamar mandi lagi yuk, Tante bilasin siapa tau masih ada kuman yang nempel di badan Ica,” membujuk karena tak begitu yakin anak usia 5 tahun bisa mandi dengan benar.
“Aku udah bersih kok,” tolak Ica. “Udah gosok gigi, udah sabunan dan sampoan juga. Coba cium rambut aku Tante,” mendekatkan kepalanya. “Harum kan?”
Tersenyum lagi, “iya harum, tapi –“
“Aku juga udah bisa pake baju sendiri lho” sela Ica meraih bajunya di atas nakas kemudian segera mengenakannya. “Dede bayi, kamu lihat Kakak Ica kan? Kakak Ica udah pinter, nanti kalo kamu lahir dan udah gede kamu juga pasti pinter kayak kakak Ica.” Mengelus-elus perut Via dengan celotehan riangnya.
Tak bisa dipungkiri, sikap Ica sukses membuat Via haru, harusnya ia juga mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari suaminya. buru-buru ia usap kedua netranya yang muai mengembun. Saat ini ia sungguh sangat butuh perhatian, ia merasa diambang kehancuran bersama sang calon buah hati.
Ica terus mengusap dan sesekali mencium perut buncin tantenya sambil bercerita pada calon adik sepupunya itu tentang apa saja yang sudah ia lakukan seharian ini. Aksinya baru berhenti ketika terdengar bunyi bel pintu dari depan.
“Itu pasti Bunda,” Ica berjingkat riang. “Bunda ... " Berlarian membukakan pintu tamu, detik berikutnya celotehannya terdengar nyaring berbincang dengan ayah dan bundanya yang baru saja datang.
__ADS_1
“Mbak, udah pulang?” sapa Via keluar kamar.
“Muka kamu kok pucet, Vi?” Tia malah balik nanya.
“Tante Via kepalanya pusing katanya, Bun” mengadu pada sang bunda. “Tadinya aku mau telpon Bunda minta beli obat, tapi kata Tente Via nggak usah.”
Menghela napas. “Kamu udah makan?”
Menggeleng, “belum laper Mbak. Tapi udah minum susu sama makan roti kok.”
Menurunkan Ica dari gendongan. “Ica main sama ayah dulu ya, Bunda mau masak buat makan malam” meminta Ica menyusul Arya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar.
“Nanti aja Mbak masaknya, lagian kan Mbak Tia baru aja pulang pasti capek.” Medaratkan bokongnya di sofa ruang tengah, tangannya meraih remote TV.
“Sekalian capeknya,” ngeloyor menuju dapur.
Via tau semua keluarganya sangat menyayanginya meskipun menunjukkan sikap yang berbeda, namun tetap saja masih ada yang kurang. Saat ini ia sangat menginginkan suaminya berada di sampingnya, entahlah apakah dia egois jika meminta Mirza hari ini pulang dan bermalam di rumah? Lantas siapa nanti yang akan menjaga ibu mertuanya? Kedua mata bening itu kembali menghangat, gegas ia seka kasar dengan jemarinya sebeum luruh dan seseorang melihatnya menangis. Meski ia tengah sedih, namun ia tak ingin terlihat lemah di depan orang-orang yang sudah sangat perduli dengannya.
Sejenak Via larut dalam tayangan TV yang ditontonnya, aroma masakan juga sudah tercium harum dari dapur. Bunyi bel kembali terdengar, perasaan bahagia seketika menyeruak, Via pikir itu pasti Mirza. Ia menoleh pada jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore lebih beberapa menit.
“Biar aku aja yang buka!” Seruan Ica mengurungkan Via yang baru saja bersiap akan bangkit.
“Makasih Ica Sayang.”
“Heem, itu pasti Om Mirza” berlari riang menuju ruang tamu. “Om ganteng ….?” Pekiknya surprise kala melihat wajah Danar yang muncul dari balik pintu.
“Hai, cantik” senyum lebar Danar tak kalah surprisenya mendapati Ica yang membukakan pintu.
Suara ICa sungguh berisik membuat Tia dan Via bersamaan melihat ke ruang tamu.
“Danar?” Sapa Via.
“Hai, Vi.” Balasnya dengan senyum ramah.
“Ica, kok Omnya nggak disuruh masuk sih?” Tegur Tia pada Ica yang malah gelendotan di lengan kekar Danar.
“Aku cuman mampir kok Mbak, mau ngasihin ini buat Via.” Memberikan bugkusan berisi kebab pada Via.
“Apa ini?” heran Via.
“Tadi siang Chelsi kesini?” mengernyit.
“Danar, ayo masuk dulu.” Ucapan Tia memutus keheranan Via. “Mbak bikinin minum ya.”
“Nggak usah Mbak, aku mau balik lagi ke kedai.”
“Hem, kalo gitu nggak usah datang lagi kesini.” Tia setengah mengancam.
“Baiklah kalo Mbak Tia memaksa,” Danar menurut.
“Tante aku minta kebabnya boleh nggak?” menatap isi bungkusan di atas meja yang mengeluarkan aroma sedap.
“Boleh dong, “mengambilkan untuk sang keponakan.
“Tapi aku mau disupin sama Om ganteng” menatap Danar dengan puppy eyesnya.
Via melotot tak percaya. “Ish, Ica –“
“Iya, sini Om suapin” tanpa sungkan Danar menyuapi Ica, Via geleng-geleng kepala dibuatnya.
“Tante makan dong kebabnya, kan Tente Via juga belum makan?” Ucap Ica disela-sela mengunyahnya. “Apa Tante Via mau disuapin sama Om Ganteng juga?” imbuh Ica dengan muka polosnya.
Hampir saja Via mencubit pipi gembul Ica karena gemas campur sebal jika Tia tak keburu datang membawakan 3 cangkir teh hangat.
“Nah, ini minumnya.” Tia meletakkan cangkir di atas meja.
“Lihat Mbak, anakmu manja banget sama Danar” melirik sebal pada Ica.
Tia tersneyum, “dia kan memang begitu?” Tia kembali masuk setelah mempersilakan Danar menikamti tehnya.
“Tante makannya belepotan tuh!” Ica cekikikan menunjuk sudut bibir Via yang nampak ada sedikit mayonise menempel disana.
Meraba sudut bibirnya, lantas tanpa sengaja tangan kanannya bersentuhan dengan tangan Danar ketika hendak mengambil tisu di atas meja.
SREET.
Bersitatap sejenak.
__ADS_1
“Ini buat kamu,” Danar yang sudah lebih dulu mengambilnya menyerahkan pada Via, lekas menghalau debaran jantung yang dulu pernah ia rasakan.
“Makasih" bergumam dan buru-buru mengelap sudut bibirnya.
Hening, Ica asyik menikmati suapan kebabnya sedangkan Via nampak menahan mual.
“Kamu kenapa?” agak heran melihat Via.
Tanpa menjawab Via berjalan cepat menuju kamar mandi hampir menabrak Tia yang muncul membawakan cemilan.
“Vi, kamu kenapa?” menyusul sang adik setelah meletakkan toples camilan di atas meja.
Via mengguyur wastafel setelah selesai menumpahkan isi perutnya, dahinya mengembun dengan nafas agak tersengal.
“Vi, kamu muntah?”
Memegangi pelipisnya seraya mengangguk.
Segera membimbing Via menuju ranjangnya, “kamu tiduran aja. Mbak carikan obat dulu ya.” keluar menuju kamarnya dan mendadak kesal melihat suaminya sudah terlelap di atas kasurnya. “Hem, kebiasaan! Sore-sore malah tidur.” Gerutu Tia sebal lantas pergi ke ruang depan.
“Via, kenapa Mbak?” Danar segera menyambut penasaran.
“Maaf ya Danar, Mbak bisa minta tolong sama kamu nggak beliin obat buat Via? Dia emang lagi kurang sehat dari tadi pagi.”
“Apa kita bawa ke dokter aja, Mbak?” diliputi kecemasan seketika, ia teringat kondisi Via ketika di Puncak beberapa waktu yang lalu.
“Nanti aja, Mbak kabari Mirza dulu.”
Mengangguk paham, memang seharusnya suaminyalah yang lebih pantas membuat keputusan untuk Via. “Ya udah, aku beliin obatnya sekarang. Bentar ya Mbak, apotiknya deket kok cuman di depan kompleks sini.” Segera keluar dan berlalu dengan motornya.
“Hey, Danar!” Tia berusaha menyusul namun Danar keburu pergi. “Padahal kan aku belum bilang apa-apa Via sakitnya apa?” bergumam heran sendiri.
Tanpa disuruh, Ica segera merapikan bungkusan kebab dan gegas mencuci tangan lantas menemani sang tante di kamar.
“Sabar ya Tante, Om Danar lagi beliin obat buat Tante Via.” Suara Ica mendayu-dayu seraya memijit kaki Via dengan tangan mungilnya.
Via tersenyum dengan kedua mata yang sayup-sayup menahan kantuk. Rasanya dia letih sekali, seharian ini ia merasa tidak fit, bahkan barusan mual, padahal ini kan sudah masuk tri semester akhir, kenapa masih saja mual?”
“Vi, minum dulu ini obatnya ya?” Tia masuk menyadarkan lamunan Via. “Danar ternyata tau kamu pusing dan mual, padahal Mbak belum bilang apa-apa sama dia.” Membantu Via duduk dan mengasongkan segelas air putih dan sebutir obat pada adiknya. “Ini aman untuk ibu hamil, tenang aja.”
“Makasih, Mbak.” Tersenyum setelah selesai meminum obatnya.
“Iya, kamu tiduran lagi aja. Mbak keluar dulu ya. Ica temani tante ya Nak?” mengelus pucuk kepala Ica.
“Iya, Bunda.”
“Mbak, sampaikan terima kasihku buat Danar.”
Tia mengangguk lantas keluar. Danar nampak sudah bersiap akan pergi.
“Mbak aku pemisi dulu ya, udah mau maghrib ini.”
“Oh, iya. Maaf ya ngerepotin kamu.”
“Nggak papa.”
“Via nitip ucapan makasih buat kamu.”
“Iya, sama-sama. Semoga Via cepat sembuh ya.” melangkah menuju teras diiringi Tia tepat bersamaan dengan mobil Mirza yang memasuki halaman rumah.
“Danar,” sapa Mirza setelah turun dari mobil.
“Za, baru pulang?”
“Iya,” menagngguk dengan senyum tipis namun tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya kenapa Danar bisa ada di rumahnya jam segini, ditambah lagi Tia yang menatapnya seolah penuh penghakiman.
❤️❤️❤️❤️❤️
Mas Danar lagi, Mas Danar lagi yang nolongin Via 🙄🙄
Kenapa sih Thor? keknya harus banget ya Danar yang nolongin tiap Via sakit? 😏😏
Othornya resek nih, mihak Danar kayaknya wkwkwk…😆😆
Kita lanjut nanti ya,
love you all, gais 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1