
Pengacara berpenampilan nyentrik itu segera menyambut Mirza dengan hangat, senyumnya mengembang lebar seolah ia telah lama mengenal Mirza padahal baru pertama kali bertemu. Hotman segera memanggil waiter untuk memesan menu.
“Sayang sekali ya Nona Livia tak ikut?” ujar Hotman kemudian.
“Iya, Bang. Kebetulan ibu mertua datang berkunjung, jadi nggak enak kalo ditinggal.”
Hotman manggut-manggut. Waiter datang menghidangkan menu makan siang mereka.
“Kita makan siang dulu saja ya, baru setelah itu kita bicara soal Bu Endang.”
Mirza setuju, perutnya emang udah dangdutan sedari tadi.
“Oya, Bang Hotman bukannya kata Om Jaka udah pulang ke Jakarta ya?” tanya Mirza disela-sela makan siangnya.
“Itulah, begitu aku dapat kabar soal Bu Endang yang dipindahkan ke RSJ, kemarin malam aku langsung bertolak kesini.”
Mengulas senyum tipis, “jadi ngerepotin Bang Hotman nih.”
“Sudah kewajiban,” balas tersenyum pula. “ Ya, biarpun mamak kau itu tak mau pakai pengacara, tapi rasa persahabatan aku dengan Jack yang membuat aku datang untuk kembali mengurus kasusnya.”
“Makasih ya, Bang.”
Mereka pun melanjutkan ritual santap siang sampai usai, dan Mirza segera mengutarakan keingintahuannya tentang kelanjutan kasus ibunya dengan kondisinya yang seperti sekarang ini.
“E, jadi begini, Za” Hotman mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan. “Menurut pandangan hukum, disamping syarat-syarat objektif melakukan tindak pidana, harus dipenuhi pula syarat-syarat subjektif atau syarat-syarat mental untuk dapat dipertanggungjawabkan dan dijatuhkan pidana kepada pelaku.”
Mirza menyimak dengan seksama, bagaimana pun juga masalah hukum adalah hal baru baginya, ia harus benar-benar mengerti dengan penjelasan Hotman agar tak salah paham.
“Nah, kemampuan bertanggungjawab berhubungan dengan Pasal 44 KUHP yang di dalamnya mengatur mengenai keadaan seseorang yang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban pidananya,” lanjut Hotman. “Adapun pasal tersebut diartikan sebagai berikut; Seseorang apabila telah melaksanakan suatu perbuatan yang melanggar hukum, yang mana seharusnya dapat dimintai pertanggungjawaban, tetapi karena adanya suatu penyakit atau gangguan dalam kejiwaannya maupun gangguan dalam kemampuan berpikir sehatnya, maka ia tidak dapat dipertanggungjawabkan pidananya.”
“Itu berarti kasus hukum ibu nggk bisa dilanjutkan kan, Bang?” kejar Mirza antusias.
“Bisa dibilang begitu, tapi tentu tidak serta merta langsung berhenti. Semuanya harus ada prosesnya, saya akan urus ke pengadilan dengan bukti-bukti dari rumah sakit tentunya.”
“Saya percaya sama Bang Hotman, tolong upayakan yang terbaik buat ibu ya, Bang,” ucap Mirza penuh permohonan.
“Tentu. Sebagai lawyer papan atas pasti saya akan bekerja dengan maksimal,” sahut Hotman yang mulai narsis.
Mirza kini bisa bernapas sedikit lebih laga, ia akan fokus untuk kesembuhan mental sang bunda.
Mereka berdua pun melanjutkan membahas segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dan upaya-upaya apa saja yang akan ditempuh guna melepaskan Bu Een dari jerat hukum.
Sumber:
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
https://unsplash.com/
-
-
-
Merasa asing di rumah sendiri tentu sangat tidak menyenangkan, terlebih lagi semua pelayan pun seolah tak ada yang memandang Sofi dan Mirza sama sekali. Sebenernya itu tak terlalu menggangu Ramzi, dia bisa order makanan di luar sesuai yang dia mau. Namun nggak bagi Sofi. Hal itu membuat Sofi tak tahan, ia berkemas membereskan semua pakaiannya dan Arfan.
“Sofia, kau mau kemana?” Ramzi keluar dari kamar mandi memandang heran.
“Aku dan Arfan mau pulang, terserah kalau kau mau tetep tinggal disini,” sahutnya tanpa menoleh.
“Pulang kemana? Disini rumahmu sekarang.”
Berbalik dengan tatapan kesal, “bukan rumah jika tak ada kenyamanan, bukan rumah jika tak ada kehangatan dari keluarga, dan bukan rumah jika kita merasa asing di dalamnya!”
“Kau hanya perlu sedikit lebih bersabar, kita udah sepakat akan memulainya lagi kan?” meraih pundak Sofi namun cepet Sofi menepisnya.
“Mungkin aku membuat keputusan yang keliru, dan sekarang aku putuskan untuk meninggalkan istana Tuan Alatas yang terhormat ini!”
“Sofia, kamu nggak bisa melakukan itu,” Ramzi mengejar Sofi yang hendak meraih Arfan. “Selangkah saja kau keluar dari runagan ini, maka aku akan –“ Ramzi tak melanjutkan kalimatnya.
“Akan apa? Apa kau akan menceraikanku?” suara Sofi bergetar. “Kamu nggak bisa mengancamku seperti itu, Kak!” ia terduduk di sisi ranjang. “Ini nggak adil buat aku. Aku udah berusaha jadi istri yang kamu inginkan, tapi untuk tinggal disini aku nggak bisa. Aku dan Arfan nggak bisa menghabiskan waktu seharian mengurung diri di kamar terus-menerus. Bahkan untuk keperluan makan saja mereka tak ada yang mau melayaniku,” Sofi mulai terisak.
“Aku mengerti, aku akan bicara sama papa.”
“Nggak, kamu nggak ngerti apa-apa! Yang kamu pikirin cuman mau mendapatkan hati papamu lagi, tapi mengabaikan perasaanku!” menatap tajam dengan kedua netranya yang sudah banjir air mata. “Papamu kejam, papamu jahat! Dia sangat jahat padaku!”
Melangkah tenang berdiri tepat di depan istrinya, “apa kau lupa yang kau lakukan pada papa dulu?”
Sofi mendongak, tak percaya sang suami bertanya seperti itu. “Jadi maksudmu, dia mau balas dendam?”
“Itu kedengarannya berlebihan, lebih tepatnya hanya memberi pelajaran.”
“Aku tahu aku salah di masa lalu, tapi aku sudah berubah sekarang, seharusnya papamu sadar itu!”
“Kalau begitu minta maaflah padanya.”
Sontak berdiri, “minta maaf katamu?”
“Iya. Kan kamu sendiri ngaku kalo kamu salah?”
“Kak Ram kamu main-main denganku,” mengukir senyum sarkas.
“Jadi kamu nggak mau melakukannya?”
Sofi mendengus kesal, baginya bukan perkara minta maafnya yang susah, tapi orag yang dimintai maafnya lah yang membuatnya berpikir ribuan kali. “Aku bukannya nggak mau –“ ucap Sofi gusar. “Tapi kau saja yang anak kandungnya yang sudah berulang kali minta maaf padanya tetap tak dihiraukan, apalagi aku?” lanjut Sofi tak yakin.
“Kau kan belum mencobanya.”
Kembali mendudukkan dirinya di sisi ranjang, ia sadar betul prilakunya dahulu sangat brutal sebagai seorang menantu.
“Baiklah, aku kasih waktu untuk berpikir,” tersenyum simpul. “Aku mau pergi dulu, siang ini Azad dan Jane akan bertolak ke Jerman kan? Aku mau pastikan kantor aman saat mereka tinggalkan,” melangkah untuk berganti pakaian. “Oya, soal pelayan kau tenang saja, aku akan urus semuanya.”
Sofi tak menanggapi, ia baringkan tubuhnya di samping Arfan yang terlelap. Ramzi pun gegas keluar kamar setelah rapi. Ia mencari seseorang.
“Sini, kau!” menggeret sosok tinggi kekar ke sisi lorong begitu ia berhasil menemukannya.
“Tuan muda, ada apa?” Gerald berusaha melepaskan cekalan tangan Ramzi.
“Aku mau mulai sekarang kamu perintahkan semua pelayan melayani istri dan anakku dengan baik!” ucap Ramzi datar namun tegas.
“Memangnya ada apa, Tuan?”
“Jangan pura-pura tidak tau!”
Menundukkan wajahnya, “aku tak punya kuasa, Tuan Besar yang memberi perintah.”
“Kalau begitu lakukan tanpa sepengetahuan papa.”
“Tuan muda –“
“Apa kamu lupa bagaimana dulu kamu datang ke rumah ini?” sedikit mengintimidasi.
“Justru karena saya tahu diri siapa saya dahulu, saya tidak berani membantah Tuan Besar,” masih dengan pandangan menunduk tak berani menatap Ramzi.
“Bagus, berarti kamu tau kan apa yang dapat membuat papa bahagia dihari tuanya?”
Mengangkat pandangannya tak paham dengan perkataan Ramzi.
“Hidup bersama anak, menantu dan cucunya, menepuk dada Gerald. “keuali jika kamu punya rencana jahat sengaja ingin membuat hubunganku dan papa berakhir selama-lamanya dan papaku hidup menderita dihari tuanya.”
__ADS_1
Sontak menegakkan wajahnya sepenuhnya, “tidak, saya tidak mungkin punya niat jahat seperti itu, Tuan Muda.” Sorot mata Gerald penuh kesungguhan. “Tuan Besar yang telah mengangkat saya dari jalanan, maka saya akan berbuat apapun yang terbaik untuk Tuan Besar.”
“Kalau begitu lakukan perintahku, karena aku sedang berusaha mengembalikan hubungan baikku dengan papa.”
Mengangguk, “saya akan membantu Anda mulai sekarang.”
“Itu baru Gerald yang bisa aku andalkan,” tersenyum sambil menepuk pundak Gerald kemudian berlalu pergi.
-
-
-
Hari berajak sore, Bu Harni dan Via tengah menemani Nala bermain di halaman belakang ketika Jumilah tergesa berjalan ke arah mereka.
“Mbak, ada tamu.”
Beranjak menghampiri, “siapa, Jum?”
“Nggak tau, orangnya cakep! Ganteng banget dah pokoknya!” Jumilah semangat banget. “Ayo cepet Mbak, liat sendiri, ntar keburu pergi orangnya,” menggeret tangan Via tak sabaran. “Mirip Nicholas Saputra orangnya. "
Berhenti ketika sudah sampai ruang tamu, Via melihat punggung lebar berdiri membelakanginya di teras depan.
“Tuh, orangnya Mbak.” Tunjuk Jumilah.
“Danar?” sapa Via mendekat.
Berbalik dengan senyum manisnya yang memperlihatkan deretan gigi rapi putih menawan. “Hai, Vi.”
“Astaga, Njum mau pingsan liat senyumnya,” gumam Jumilah sambil menangkup wajahnya sendiri yang entah sudah seperti apa rupanya saking terpesonanya.
“Aku kesini mau ambil sayuran, kata Yanti kamu udah pulang.”
“Halo, Mbak Via!” sambung Chelsi muncul belakangan dengan membawa dua keranjang sayur.
“Hai, Chel.” Balas Via. “Oh iya, ayok duduk dulu.” Mengajak kedua tamunya duduk di bangku teras.
“Lama ya Mbak, kita nggak ketemu? Mbak Via apa kabar?” Chelsi seperti biasanya selalu ramah dan terlihat ceria.
“Baik,” sahut Via dengan senyuman. “Kamu sendiri gimana? Betah ya kerja di tempat Danar, nggak jadi buka outlet kebab lagi nih ceritnya?”
“Ya habis gimana, aku diancem kalo berenti Mbak,” melirik Danar yang duduk di sebelahnya.
“Siapa yang ngancem?” protes Danar. “Kamu sendiri kan yang nawarin punya menu baru di kedai dan bilang mau tanggungjawab buat pengolahannya?”
“Oh, iya Mbak, sekarang tuh di kedai Mas Danar ada olahan serba organik lho. Makanya kita ambil sayuran disini buat nyukupin suplainya. Ntar Mbak Via harus cobain ya, salah satunya ada kebab bikinanku yang daging sama sayurnya juga organik. Pokonya dijamin mantul deh!” Chelsi mempromosikan produknya.
“Iya deh, kapan-kapan aku cobain.”
“Jangan kapan-kapan dong, tapi secepatnya Mbak.”
“Kalo gitu minta delivery order aja.”
“Beres, bisa banget. Ntar aku sendiri yang anterin kesini. Free ongkir buat Mbak Via,” tawa Chelsi renyah disambut senyum Via yang sumringah.
“Ekhem, jadi bisa kita ambil sayurannya sekarang?” kalimat Danar menhentikan keceriaan Chelsi.
“Hem, gini nih kalo punya bos kaku kayak kanebo kering,” gerutu Chelsi.
Via hampir tertawa mendengarnya, untung dia ingat ada Jumilah yang dari tadi cuman berdiri kayak tiang listrik. “Oya Jum, tolong buatin minum dulu ya buat Danar sama Chelsi.”
“Siap, Mbak. Mau minum apa Mas –“ ragu dan Malu-malu menyebut nama Danar.
“Apa aja yang penting jangan terlalu manis,” sahut Danar.
“Iya sih, soalnya Mas ganteng udah manis banget sampe bikin gula darah Njum naik,” lirih banget gak kedengeran siapa-siapa, lantas segera masuk ke dalam.
“Terus Mas Danar ngapain? Cuman ngeliatin doang gitu?”
“Ya suka-suka aku dong, aku kan bos kamu?”
“Harusnya kamu tadi pagi telpon dulu, biar Jumilah siapin. Jadi Chelsi ngak perlu repot-repot metik sendiri, kasian kan dia?” Via memandang punggung Chelsi dari kejauhan, kedua tangannya mulai memanen aneka sayuran organik di samping halaman.
“Nggak papa, biasanya sama Yanti juga gitu kok. Chelsi biasa ambil sendiri, biar dia gak manja jadi karyawan.”
Via mengulas senyum tipis, “kalo diliat-liat, kalian cocok lho.”
Sontak menatap datar, “maksudnya?”
“Kalian kayaknya jodoh deh,”
Memalingkan pandangannya seolah tak mendengar apa-apa, lantas berjalan mendekati Chelsi. “Siniin keranjang satunya! Lelet banget jadi manusia!”
Jumilah datang dengan dua gelas es sirup coco pandan, “ini Mbak minumnya.”
“Taroh di meja aja, Jum.”
Jumilah meletakannya di meja teras, ikut mengamati Danar Dan Chelsi sebentar. “Mas Danar sama Mbak Chelsi itu nggak pacaran kan, Mbak?”
“Kenapa emangnya?”
“Ya kalo nggak, Njum masih punya kesempatan dong, hehe …”
Geleng-geleng kepala, “dasar kamu, Jum! Gak bisa liat cowok cakep!”
“Tuh kan, Mbak Via juga setuju kalo Mas Danar cakep?” tersenyum lebar menunjuk wajah Via. “Mbak Via udah lama ya kenal sama Mas Danar?”
“Nanya mulu kamu, kayak polantas!” sedikit kesal.
“Ya bukannya gitu, soalnya tadi pas liat Mas Danar ketemu Mbak Via tatapannya kayak agak beda gitu sekilas. Kayak –“ mikir sebentar. “ Kayak ada cling! Gitu.”
“Ck, sotoy!”
“Vi, siapa sih tamunya?” Bu Harni tau-tau muncul dengan menggendong Nala.
Belum sempat Via menjawab, Danar yang kebetulan udah selesai dengan kerjaannya barjalan mendekat.
“Eh, ada Nak Danar?” Bu Harni surprise.
“Bu, gimana kabarnya?” menyalami Bu Harni setelah lebih dulu membersihkan tangannya.
“Baik, Nak Danar sendiri gimana kabarnya? Kok lama sih nggak main? Ibu kan jadi kangen sama Nak Danar,” peres banget dah si Bu Harni, hihihi….
Danar cuman senyum, disusul Chelsi yang kemudian membawa keranjang yang juga sudah penuh.
“Emh, ini –“
“Kenalkan, saya Chelsi, Bu. karyawan di kedainya Mas Danar.” Chelsi emnjawab keraguan Bu Harni.
“Oh, iya, iya –“ mengangguk, ada segurat senyum kelegaan disana. “Eh, ini minumannya ayok silakan diminum dulu.”
“Jadi Danar ini sekarang bisnis makanan organik lho, Bu.” ujara Via pada Bu Harni.
“Wah, bagus dong. Makin sukses ya, hebat kamu Nak Danar,” puji Bu Harni.
“Aamiin, masih belajar Bu. ini juga idenya Chelsi,” sahut Danar meletakkan kembali minumannya.
“Berarti kamu pasti butuh suplai sayuran organik banyak dong, Nak Danar?”
__ADS_1
“Lumayan, Bu. selain dari sini, aku juga ambil dari beberapa temen, dan papa juga kan nanam sayuran organik di rumah.”
Bu Harni manggut-manggut, “kalo gitu kamu harus tanam yang lebih banyak lagi, Vi. Bila perlu sampe ke atas-atas genteng tuh kamu tanamin sayuran sekalian,” usul Bu Harni.
“Ibu ini aneh-aneh aja, siapa yang mau nanem?”
“Suruh aja si Jumilah! Dia kan biasa manjat-manjat?”
Jumilah lagsung keki, “ibu madam sembarangan aja, dikira Njum monyet suka manjat-manjat?”
Mendadak Nala rewel dalam gendongan Bu Harni.
“Tuh kan, Inces aja nggak terima Njum disamain kayak monyet!” celetuk Jumilah.
“Gerah kali dia nih, udah waktunya mandi apa ya?” Bu Harni melongok ke ruang tamu, hampir jam empat sore.
“Ya udah sini, biar Njum aja ibu madam yang mandiin,”
“Eh, jangan! Biar saya aja, kan mumpung neneknya lagi disini,” tak mau menyerahkan Nala. “Nak Danar, Nak Chelsi, ibu tinggal mandiin Nala dulu ya. silakan dilanjut ngobrol-ngobrolnya.” Bu Harni pamit ke dalam diikuti Jumilah.
“Ibunya Mbak Via lucu ya? sayang banget sama cucunya,” ucap Chelsi dengan senyuman.
“Ya gitu deh, tapi kadang terlalu posseive.”
“Seneng liat Nala sehat, udah tambah besar ya dia?” timpal Danar.
“Alhamdulillah.”
“Udah sore nih Mas Danar, kita juga pamit yok!” ajak Chelsi. “Ntar si Ari nggak ada yang bantuin di kedai kalo kelamaan ditinggal.”
“Ya udah sana, bawa dulu saurannya ke mobil!”
Mengerucutkan bibirnya, “aku lagi yang disuruh?”
“Nggak usah protes!”
“Iya, iya, Pak Bos!” segera menenteng keranjang menuju mobil.
“Tuh kan, kalian tuh cocok tau, kayak ada chemistry gitu,” ucap Via setelah Chelsi menjauh.
Tak mau menanggapi, malah meraih kembali gelasnya untuk menandaskan isinya. “Oya omong-omong, yang tadi dibilang ibu ada benernya juga lho,” ujar Danar kemudian.
Mengernyit, “soal?”
“Soal memperbanyak tanaman sayuran organik kamu.”
Mengangguk, “O.”
“Kok cuman o?”
“Iya masalahnya aku masih bingung, lahan di rumahku kan cuman segini?”
“Mungkin kamu bisa buat rak susun dengan panjang yang disesuaikan, kayak yang ada di rumahku sama rumah Yanti.”
“Yanti juga tanam sayuran organik?” Via belum tau.
“Baru mau mulai, dia bilang terinspirasi kamu gara-gara diamanatin ngurusin tanaman kamu selama ditinggal ke Jakarta.”
Manggut-manggut, “bagus deh, nanti yang suplai sayuran buat kedai kamu tambah banyak kan?”
“Iya, soalnya aku ada rencana mau buka cabang khusus buat kedai makanan organik aja.”
“Wah, hebat!” Via senang, “berkat ide briliantnya Chelsi kan ini semua?”
“Kenapa ujung-ujungnya selalu larinya ke dia sih?” Danar agak sebel.
“Lho tapi emang bener kan, yang punya ide pertama bikin menu olahan organik itu siapa? Chelsi kan?”
“Hem,”
“Danar,” sedikit menyerongkan posisi duduknya agar lebih dekat. “Nggak ada salahnya lho kamu buka hati buat dia.”
Terdiam, menatap sesaat wajah di depannya kemudian acuh lagi.
“Chelsi itu baik, cantik, smart dan –“
“Udah sore,” melihat casionya, “aku pamit ya.” bangkit.
“Aku lagi ngomong lho.”
“Aku tau arahnya kemana. Oke, akan aku pertimbangkan. Makasih lho usulannya.”
“Tapi aku belum selesai,” ikut bangkit seolah ingin menahan kepergian tamunya, pada saat yang sama mobil MIirza memasuki halaman.
Via dan Danar serempak mengalihkan pandangan pada mobil itu sampai Mirza turun.
“Wah, ada tamu rupanya?” sambut Mirza dengan senyum lebar. “Kok nggak disuruh masuk, Sayang?” melihat sekilas pada dua gelas yang telah kosong di meja teras.
“Hai, Za. Apa kabar?” Danar mengulurkan tangan.
“Baik,” balas Mirza. “Masuk yok, masa di luar aja?”
“Aku udah mau pulang kok, tadi abis ambil sayuran.”
“Oh, udah dari tadi toh?” merangkul pundak Via. “Bentar lagi nggak papa, kan kita lama nggak ketemu.”
“Mas Danar, jadi pulang nggak?!” teriak Chelsi yang nongol dari balik kaca jendela mobil.
Danar tersenyum, “udah ditunggui tuh. Aku permisi ya.” segera menuju mobilnya.
Mirza tak melepaskan tangannya dari pundak sang istri sampai mobil Danar keluar pagar dan menghilang.
“Mas kok gitu banget sih?” menatap sang suami.
“Gitu gimana?”
“Tadi itu sama Danar. Dia kesini sama Chelsi, tau!”
“Selama dia masih jomblo, Mas akan tetap siaga level 13!”
“Ish, dasar lebay!” mencubit pinggang Mirza.
“Lebay tanda cinta, mmmuah!” mengecup sekilas bibir Via tanpa ancang-ancang lantas segera ngibrit masuk ke dalam.
-
-
💕💕💕💕💕
Hi, dear …
Komplit kan part ini, ada Mirza, Ramzi, Danar nongol semua 😂😂
Especially yang kangen Danar, seneng dong karena lama gak ketemu..
☺☺
Makasih ya masih mantengin tulisan othor awut-awutan ini🙏🙏 Menuju ending kok, hehe … insya allah😇😇
__ADS_1
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘