
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Ramzi pulang ke rumah. Tuan Alatas menempatkan Ramzi di kamar pribadinya di lantai empat. Dia ingin putranya itu membuang semua hal yang berhubungan dengan sang menantu. Sejak tiba di rumah tadi pagi, Ramzi belum berkata sepatah katapun, ia bahkan tak mau menyentuh makanannya sama sekali. Tuan Alatas tak kurang akal, ia merasa inilah kesempatannya untuk menghapus semua memori Ramzi tentang istri tak tau malunya itu.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu kamar diketuk, Gerald masuk bersama seseorang setelah Tuan Alatas mempersilakannya.
“Ram, coba liat siapa yang datang.” Ucap Tuan Alatas pada sang putra yang masih menatap kosong.
Ramzi menoleh lemah. “Jane…?” Gumamnya. Ada rasa nyelekit dihatinya, mengetahui yang datang bukan orang yang ia harapkan.
“Halo, Ram. Bagaimana keadaanmu?” Jane meghampiri dengan senyum manis mengembang dibibirnya.
Ramzi kembali membuang pandangnya, menatap lurus tembok tanpa respon apapun. Jane melihat pada Tuan Alatas.
“Ram, Jane datang untuk menjengukmu.” Tuan Alatas memberi isyrat pada Jane untuk lebih mendekat. “Papa tinggal dulu. Jane tolong temani Ram, bantu dia kalau butuh apa-apa ya.” Tuan Alatas melangkah keluar diikuti Gerald sang pelayan.
Jane duduk di tepi ranjang. “Ram, kamu pasti mengira Sofi yang datang kan?”
Deg!
Jantung Ramzi sontak berdetak kencang, Jane ternyata tau isi hatinya. Ia menoleh pelan melihat pada Jane yang sangat tenang.
“Maaf ya, kalau kedatanganku membuatmu terganggu. Aku cuman mau melihat keadaanmu karena aku baru mengetahui kabarmu dari papamu.”
Ramzi bergeming, wajahnya yang masih pucat tak menyiratkan apapun. Keheningan untuk beberapa lama diantara mereka sampai akhirnya Jane memutuskan untuk pergi saja karena merasa ia tak diinginkan.
“Baiklah, aku pamit. Istirahat ya, semoga cepat sembuh.” Jane bangkit.
“Hm, Jane.” Panggil Ramzi lirih.
“Ya?” Jane mengurungkan langkahnya.
“Bisa minta tolong?”
Jane mengangguk.
Ramzi terdiam sejenak. “Tolong bukakan jendelanya, aku mau hirup udara segar.” Ucapnya kemudian.
Jane mengulas senyum lantas berjalan ke arah jendela.
“Makasih ya.”
“Ada lagi?”
Ramzi menggeleng pelan.
“Apa kamu nggak mau keluar ke balkon? Udara di luar lebih segar.”
Ramzi menggeleng lagi.
Jane melihat nampan makanan Ramzi yang disimpan di atas nakas. “Apa kau mau makan?”
“Nanti saja, aku nggak laper.”
Jane menghampiri. “Makanlah Ram meskipun sedikit, agar kamu cepat pulih. Lagipula istrimu pasti sedih melihatmu begini.”
“Jangan kau sebut dia di depanku!” Sarkas Ramzi.
Jane agak terkejut mendengarnya. “Maaf.” Ucap Jane pelan, ia menyadari mungkin ada yang tak beres antara mantan bosnya itu dengan sang istri. “Kalo gitu aku pulang dulu ya.”
Ramzi tersenyum tipis seraya mengangguk.
Jane segera ke bawah untuk berpamitan pada Tuan Alatas.
“Datanglah lagi besok.” Pinta Tuan Alatas.
“Tapi Ram …”
“Dia butuh teman agar cepat pulih. Kau tak keberatan kan?” Ada sedikit penekanan dalam kalimat Tuan Alatas yang membuat Jane tak bisa menolaknya.
Gerald mengantar Jane sampai depan, tuan Alatas tersenyum senang.
“Si jala** itu benar-benar bodoh meninggalkan suaminya.” Sinis Tuan Alatas ketika Gerald sudah kembali. “Dia akan menyesali tindakannya karena aku akan membuat Ram kembali dekat dengan Jane.”
“Maaf Tuan, tapi apa tidak sebaiknya kita mencari Nyonya Sofi untuk segera mendapatkan surat-surat perusahaan yang dia ambil?” Ucap Gerald agak ragu.
“Tidak usah terburu-buru. Waktu itu aku hanya menggertaknya saja.” Sahut Tuan Alatas santai. “Lagipula aku sudah tau dimana dia berada sekarang. Semakin lama dia tak pulang, akan semakin benci Ram padanya.” Seringai Tuan Alatas dengan perasaan puas.
Sementara itu di kediaman keluarga Husein, Sofi sedang bersantai memainkan gadgetnya di ruang tengah.
“Kak.” Panggil Azad yang baru pulang dari kantor meletakkan tas kerjanya di meja dekat Sofi.
Sofi hanya menoleh sekilas lantas kembali pada benda pipih di tangannya.
“Sudah berapa hari Kakak nggak pulang?”
“Apa kamu keberatan?” Sofi malah balik bertanya, tapi lagi-lagi tak mengalihkan matanya dari gadget.
Azad mendengus seraya mendaratkan pantatnya di samping sang Kakak. “Tidak baik seorang istri pergi tanpa seizin dari suami.
“Kamu tau apa, nikah saja belum, nggak usah ceramah!” Cibir Sofi.
Azad yang kesal meraih paksa ponsel Sofi. Sofi melotot tak terima. “Azad, kamu ini apa-apaan? Aku hampir menang tadi! Kembalikan!” Sofi berusaha merebut ponselnya namun Azad menyembunyikan di balik punggungnya.
“Kamu ini istri macam apa, Kak? Kekanakan banget, bukannya urusin suami malah ngegame!” Kesal Azad.
“Bukan urusanmu. Kembalikan ponselku!” Sofi sedikit berteriak.
“Dengar, rumah tanggamu sedang dipertaruhkan. Apa sedikit pun kamu nggak memikirkannya, Kak?” Azad berujar dengan mimik serius.
“Buat apa aku pikirin? Suamiku saja pergi tak pamit sudah berhari-hari, jadi jangan salahkan aku.”
“Aku minta kakak pulang sekarang dan bawa semua surat-surat itu sebelum mertuamu mengambilnya secara paksa.” Bisik Azad masih dengan wajah serius.
“Nggak akan!” Tolak Sofi mentah-mentah. “Kamu masih menyimpannya kan?” Tanya Sofi dengan tatapan lurus.
__ADS_1
“Iya, tapi kalau Kakak nggak mau mengembalikannya. Aku yang akan melakukannya.” Tegas Azad.
“Azad jangan bodoh kamu. Susah payah aku mengambilnya.” Balas Sofi mulai emosi.
“Oke, berarti kamu harus siap-siap kalau mertuamu akan datang kesini untuk mengambilnya secara paksa, kemudian Papa dan Mama mengetahui semuanya.”
Raut cemas menyelimuti Sofi. “Azad sebenarnya kamu berada di pihak siapa sih?”
“Aku berada di pihak yang benar.”
Seketika Sofi geram. “Kamu pikir si tua bangka Alatas itu benar? Dia sudah merampas semua harta kita? Dia gunakan dalih perjodohan untuk mengambil keuntungan dari perusahaan keluarga kita, kita bangkrut dan melarat gara-gara dia! Apa kamu lupa?!” Nada suara Sofi meninggi.
“Tapi cara kamu salah, Kak. Berapa kali aku bilang ….”
“Sudah, aku nggak mau berdebat lagi!” Potong Sofi seraya bangkit dengan jengkel. “Sampai kapan pun aku nggak akan memberikan surat-surat perusahaan itu!”
“Surat-surat perusahaan apa maksudnya?” Tanya Nyonya Husein yang tiba-tiba muncul.
Sofi dan Azad sontak terdiam. Mereka tak mengira akan kedatangan sang Mama.
“Sofia, Azad, apa yang sedang kalian bicarakan? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dari Mama?” Cecar Nyonya Husein yang melihat kedua anaknya tak kunjung menjawab.
“Emh, bukan apa-apa Ma.” Sofi sedikit gugup. “Aku … kurang setuju karena Azad berencana menggadaikan surat-surat perusahaan untuk menambah modal. Iya kan, Zad?” Sofi melirik tajam pada sang adik.
Azad terpaksa mengangguk.
“Kalian nggak bohong?” Selidik Nyonya Husein.
Sofi menghampiri ibunya dan mengusap lengannya lembut. “Nggak, Mama tenang saja. Ini semua untuk kemajuan peusahaan keluarga kita.”
“Baiklah, kalo gitu kalian cepat bersiap. Lepas maghrib kita akan makan malam.” Ucap NYonya Husein lantas segara pergi.
Sofi pun hendak mengekor ibunya namun Azad segera mencekal pergelangan lengan kakaknya. “Tunggu, Kak.”
“Apa lagi?” Bisik Sofi.
“Ayah mertuamu sudah mengetahui keberadaanmu disini, apa kamu nggak memikirkan gimana perasaan Papa nanti kalau sampai dia memerintahkan orang-orang suruhannya untuk mengobrak-abrik tempat ini?” Papar Azad ikut berbisik juga.
“Kamu cerita sama si tua bangka itu?” Sofi menatap curiga.
“Dia menelponku sebagai peringatan pertama.”
“Ck! Dia nggak akan berani berbuat lebih.” Kilah Sofi.
Azad mengencangkan cengkramannya. “Jangan meremehkan. Pikirkan Papa Kak. Kamu mau lihat Papa kena serangan jantung lagi? Sudah cukup ya Kak, ulahmu selama ini bikin Papa menderita!” Geram Azad tertahan karena khawatir ibunya akan datang lagi.
“Aku akan pikirkan nanti!” Sofi berusaha melepaskan tangannya.
“Satu lagi, suamimu pasti akan menceraikanmu kalo kamu nggak segera pulang.”
“Nggak mungkin! Dia bucin setengah mampus sama aku!” Sahut Sofi dengan pedenya.
“Nggak lagi, karena penggantimu sudah Tuan Alatas persiapkan.” Azad tersenyum sinis menatap sang kakak yang tiba-tiba pias. “Jane siap mengambil alih posisimu sebagai Nyonya Ramzi Alatas.”
Azad mengangkat bahu. “Tuan Alatas akan lebih dulu mencincangmu hidup-hidup sebelum kamu melakukannya, Kak.” Pungkasnya lantas berlalau meninggalkan sang kakak yang terpaku dengan wajah memanas.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari masih belum terlalu malam, namun suasana komplek perumahan tampak sepi. Bulan bulat penuh yang bersinar cemerlang agaknya tak membuat para penghuni komplek riang menghabiskan malam week end ini di luaran. Tak seperti jaman dulu, dimana anak-anak bertebaran di pelataran rumah kala bulan purnama, mereka gembira bermain dengan teman sebaya dan orang dewasa asyik bercengkrama berbicara tentang banyak hal. Jaman memang telah berganti, tak peduli bulan purnama, bulan sabit atau bulan-bulanan sekali pun, para penduduk bumi kini lebih memilih menghabiskan waktu dengan kesibukannya masing-masing ketimbang kumpul-kumpul sebentar menikmati indahnya bulan purnama (soalnya kalo nimbrung ujung-ujungnya pasti ghibah. Mendingan main gadget di rumah kan ya? Ghibah online, wkwkwk). 😁😁😁
Sejuknya udara malam masuk melewati pintu utama yang terbuka lebar. Via tengah duduk dengan laptopnya di ruang tamu, raut wajahnya tampak serius. Sesekali dia mengetik sesuatu disana.
“Sayang, mie rebusnya mateng nih! Seru Mirza dari ruang makan.
“Iya Mas, sebentar!” Balas Via.
Beberapa saat Via tak kunjung beranjak hingga Mirza menyusulnya ke depan. “Hm, ditungguin malah masih sibuk. Nanti mienya melar jadi spaghetti lho.”
Via mengangkat wajahnya melihat pada sang suami yang berdiri di sampingnya. “Nanggung Mas, hehe…”
“Ya udah Mas bawa kesini ya? Kita makan disini aja.”
“Begitu lebih baik.” Via tersenyum lebar.
Mirza segera pergi dan kembali dengan dua mangkuk mie rebus lengkap dengan telor mata sapi, dua botol saos tomat dan saos cabai. Aroma harum mie rebus menyeruak memenuhi ruangan. Mirza menutup pintu lalu duduk di samping sang istri.
“Kok ditutup sih Mas pintunya? Kan enak adem.” Protes Via.
“Banyak nyamuk, Sayang.”
“Tapi kan motor belum masuk garasi, pintu pagar juga belum ditutup. Nanti kalo ada pencuri gimana?” Via khawatir.
“Iya nanti habis makan Mas urus semuanya. Kita makan dulu ya sekarang.” Mirza mengaduk mie rebus agar bumbunya tercampur rata. “Matiin dulu dong laptopnya.” Titah Mirza yang meihat istrinya masih tatap-tatapan sama layar laptop.
“Iya.”
“Jangan iya iya aja. Mas olesin saos lho nanti laptopnya.” Mirza sedikit kesal.
“Iya aku matiin ini, Mas.” Via meng-close folder yang sedari tadi diamatinya lantas menekan shut down.
“Lagian besok kan libur, masih aja sibuk dengan kerjaan.” Mirza memberikan mangkuk mie yang sudah diaduk pada istrinya. “Mentang-mentang jadi karyawan teladan.” Cebik Mirza.
“Iih, Mas apaan sih…” Via mencubit gemas pipi suaminya. “Nggak usah ngambek gitu dong.”
“Mas kan cemburu sama laptop kamu, masa dari tadi ditatapin mulu nggak kedip-kedip, ntar kalo dia ge er gimana?” Mirza pura-pura ngambek sambil mengaduk mie rebusnya.
“Ish! Cemburu yang aneh! Masa laptop aja dicemburuin?” Balas Via lantas mulai mnyendok mienya yang masih mengepul.
“Hati-hati panas, Sayang.” Mirza mengingatkan.
“Oh iya, saosnya lupa Mas.” Ingat Via sambil meraih saos tomat.
“Sini Mas aja, soasnya udah hamir abis ini.” Mirza mengambil botol saos dari tangan Via.
“Kayaknya aku masih punya stok deh.” Via beranjak menuju dapur.
__ADS_1
“Jangan lama-lama Sayang!” Seru Mirza.
Tak sengaja seseorang yang sedang melintas di depan rumah Via pun terhenti karena mendengar Seruan Mirza barusan.
“Wih! Kayak suara Mas ganteng Chicko Jerico tuh?” Gumam si orang lewat itu, siapa lagi kalo bukan Bujel.
Melihat pintu pagar yang masih menganga bebas, Bujel yang emang selalu kepo iseng mendekat.
“Ada, Sayang?” Tanya Mirza pada Via begitu kembali.
“Nggak ada Mas, ternyata aku lupa beli.”
“Ya udah kita pake ini aja.” Mirza berusaha mengeluarkan saos tomat yang tinggal seujung botol.
“Susah ya, Mas?” Tanya Via yang melihat saos tak kunjung keluar.
“Hmm, butuh tenaga ekstra.”
“Waduh! Mereka lagi ngapain ya?” Lirih Bujel penasaran. Dia semakin mendekat ke arah pintu, berusaha mencari celah untuk mengetahui kegiatan apa gerangan yang sedang dilakukan Via dan Mirza. Namun sayangnya tak ada lobang sedikit pun, Bujel kemudian pasang telinga lebih waspada.
“Sini aku yang coba.” Via kembali merebut botol saos tomat, dan saos itu terkucrut sedikit demi sedikit (eeh, bahasanya apaan ya? Terkucurut pada ngarti kagak nih 😅😅)
“Buka aja, Sayang. Biar enak.” Usul Mirza, maksudnya Via suruh buka tutup botol saosnya.
“Buka? Biar enak?” pikiran Bujel jadi tak menentu traveling kemana-mana.
“Susah Mas.” Via kesusahan membuka tutup botolnya.
“Biar Mas yang buka.” Mirza mengambil alih. “Nah, bisa kan?” Ujar Mirza setelah berhasil membukanya.
“Mas hebat ih, strong!”
Bujel membekap mulutnya sendiri di luar pintu, matanya melotot. Tak salah lagi, mereka pasti lagi ***-***. Begitu kira-kira pikir Bujel.
“Lagian kamu kok sukanya yang ini sih, Sayang?”
“Ini juga suka Mas, lebih hot!” Via menyambar botol saos cabai.
“Jangan keras-keras Sayang, nanti muncat kemana-mana!” Mirza mengingatkan karena Via terlalu bersemangat mengeluarkan isi botol saos cabai yang tinggal setengah.
Via cuek aja, dia mengaduk sebentar mie rebusnya dan mencicipi kuahnya.
"Aduuh! Ssshh...." Via mendesis kaget karena kuahnya masih agak panas.
"Hati-hati, Sayang. Nanti lidah kamu bisa terluka." Mirza kembali mengingatkan.
Via mengangguk lantas meniupnya sebentar. “Hmmmm, nikmat banget Mas.” Ucap Via puas dengan hasil racikannya.
Bujel yang nguping di luaran makin semrawut pikirannya. “Muncrat keman-mana? Lidah terluka? Nikmat banget?” Ulang Bujel pelan seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri. Dia kemudian memegangi dadanya yang berdegup lebih kencang tak beraturan. “Omegooot! Mereka sungguh tega, tak berperasaan! Bisa-bisanya melakukan itu di ruang tamu?” Wajah Bujel sudah pucat pasi, tapi rasa penasarannya makin besar.
“Mas mau kayak gitu, Sayang.” Pinta Mirza yang melihat kuah mie rebus Via kayaknya emang sedep banget.
“Sini!” Via mengambil mangkuk mie rebus suaminya dan menuang saos cabai.
“Lagi Sayang …”
“Nanti terlalu hot lho, Mas.”
“Sedikit lagi.”
“Ahh…, susah udah mau abis juga.”
“Hah? Mau abis? Apanya?” Bujel membulatkan matanya. “Apakah Jeng Isyana kalah dalam permainan hot itu?”
“Mas bantu, Sayang.” Mirza ikut-ikutan megangin botol saos cabai.
“Aww! Jangan keras-keras Mas, sakit!” Cebik Via yang tangannya kepencet sama Mirza.
“Ya udah lepasin, biar Mas aja yang ngeluarin.”
Via pun membiarkan suaminya berusaha sendiri mengeluarkan sisa saos cabai itu.
“Ooh…, akhirnya keluar juga, Sayang.” Mirza tersenyum senang. “Aduk-aduk, dan …. Ahhh nikmat, Sayang.
Bujel yang setia nguping di luar kepalanya udah puyeng nyut-nyutan mebayangkan aksi Via Mirza.
“Sampe keringat gini ya Mas kita? Saking apanya coba, hihiii….” Via terkikik geli mengingat perjuangan keras mereka hanya untuk mengeluakan isi botol saos tomat dan saos cabai.
“Semuanya gara-gara kamu Sayang. Coba kalo kamu nggak mulai duluan? Mas pasti nggak ikutan.”
“Tapi Mas suka kan…?”
“Iya lah, apapun yang kamu suka pasti Mas juga suka.” Mirza tersenyum lebar.
“Ya udah ayok Mas, ngomong terus dari tadi.” Via mengangkat mangkuknya.
“Apa?" Bujel terkaget melongo sendiri. "Jadi dari tadi mereka belum mulai? Udah ampe keluar, nikmat berkali-kali, muncrat kemana-mana dan keringetan begitu belum mulai juga? Ternyata itu baru pemanasan?? Oh, tidaaak…..!” Bujel menggeleng-gelengkan kepalnya semakin oleng dia membayangkan apa yang akan terjadi selanjutanya. “Aku nggak sanggup lagi. Telingaku semakin ternoda ini. Mana suamiku nggak ada lagi. Ya Tuhan ampuni aku…., mereka bener-bener keterlaluan!” Sungut BUjel menahan gejolak jiwanya yang tanpa pelampiasan lantas mengambil langkah seribu meninggalkan rumah Via dengan perasaan carut marut.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hahahaaa…. Suruh sapa ngupingin tetangga, ye kaaan….? Udah kayak gitu aja baru inget Tuhan, dasar Bujel! 🤣🤣🤣
Maafin othor, part unfaedah nih hihihi…. Semoga pikirannya nggak pada liar kayak Bujel ya. Cukup pikirannya othor aja yang kemana-mana, ehh🤭🤭🤭
Like and komen selalu ya biar othor makin semangat🙏🙏🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1