TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
49 #TRENDING TOPIC


__ADS_3

Rintik gerimis mengawali hari, membuat matahari enggan menampakan dirinya. Via turun setelah selesai berkutat dengan semua kegiatannya di kamar. Mirza tidur di sofa ruang tengah. Heran juga dia kenapa suaminya tidur disana padahal di lantai bawah ada dua kamar tidur yang kosong. Via melewati Mirza acuh, kali ini tak ingin memandangnya walau dia sedang terlelap. Perlakuan Mirza kemarin membuatnya kesal.


Via bertopang dagu di meja makan, belum tau apa yang mau dikerjakan. Tak ada bahan makanan di kulkas. Dia juga nggak mungkin mau bersih-bersih rumah lagi, karena setiap sudut rumahnya dari dalam sampai luar sudah kinclong dari kemarin.


Satu tangan menyentuh pundak Via membuatnya kaget.


“Mas?” Reflek Via menoleh.


“Aku minta maaf, sayang.” Ucap Mirza pelan.


Ternyata Mas Mirza udah bangun? Batin Via.


“Aku nggak bisa tidur semalaman.” Ujar Mirza seolah tau isi hati Via. “Maafkan perlakuan Mas yang kasar kemarin ya.” Mirza mengambil kursi di sebelah Via lantas duduk menatap Via sendu.


Meski dada Via terasa penuh dengan kata Maaf dari Mirza tapi dia mengangguk juga. Dia tau menolak ‘keinginan’ suami adalah dosa besar. Hanya saja Mirza memang tak tau keadaan kemarin.


“Mas kebawa emosi, terus terang Mas nggak mau kamu bersikap dingin terus. Mas kangen kamu.”


“Aku juga nggak mau seperti ini terus sebenarnya, Mas. Tapi hati aku menolak kamu karena teringat perselingkuhan yang kamu lakukan sampai membuat perempuan itu hamil.” Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari Via, namun tak sedikitpun dia melihat pada suaminya. Pandangannya lurus kosong ke depan, hampa.


“Kalo gitu apa yang harus Mas lakukaan agar kamu bisa kembali lagi?”


Via menggeleng lesu. “Nggak tau.”


Keduanya sama-sama menghela nafas berat hampir berbarengan.


“Sayang, kemarin ibu minta Sofi untuk tinggal di sini tapi aku nggak akan mengijinkannya menginjakkan kaki di sini.” Ucap Mirza.


Via diam. Ditutupnya rapa-rapat rasa kaget karena mendengar kalimat Mirza barusan.


“Perempuan tak tau malu itu harusnya pulang ke Jakarta karena aku sudah menolaknya dengan keras.” Lanjut Mirza.


“Bagaimna kalau ternyata benar dia hamil anak kamu, Mas?” Tanya Via datar masih dengan tatapan kosong.


Mirza menyentuh dagu Via dan menghadapkan wajahnya lurus di depannya. “Tolong jangan bahas itu sampai anak dalam perutnya lahir dan benar-benar terbukti sebagai anakku.”


“Kalau memang dia anakmu, apa kamu akan menikahi Sofi?”


“Tidak.” Sahut Mirza yakin.


“Tapi anak itu … “


“Aku akan bertanggung jawab pada anak itu tapi tidak akan pernah menikahi Sofi. Aku hanya mau kamu yang jadi istriku.”


Sedari kamarin sebenarnya Via yakin betul dengan setiap perkataan Mirza yang dilontarkan padanya. Dia yakin dengan ketulusan cinta Mirza, dia yakin Mirza tak bermaksud menyelingkuhinya, dia yakin Sofi bukan perempuan baik-baik, tapi tetap ada perasaan mengganjal di dalam hatinya yang membuatnya belum bisa bersikap kembali hangat pada Mirza.


“Kita mulai lagi semuanya dari awal, sayang. Aku mencintaimu.” Mirza meraih Via kedalam pelukannya.


_______


Gerimis baru saja usai. Kabar mengenai Mirza yang menghamili perempuan lain langsung menjadi trending topic di seantero Jati Asri. Arya yang sedang nongkrong di pos ojek sehabis mengantar penumpang pagi itu mendengar perbincangan dua orang temannya sesama tukang ojek. Awalnya dia yang tak mau tau jadi penasaran juga.


“Kamu tau dari mana, Prol?” Tanya Arya pada satu temannya yang bernama Saprol.


“Dari Yu Darmi, kemarin aku habis nganter dia ke dokter gigi. Lah dia kan tetanggaan sama ibunya Mirza. Dia dengar sendiri katanya kemarin ada ribut-ribut di rumahnya Bu Endang, malah perempuannya juga ada di sana.” Papar Saprol meyakinkan.


“Eh, Arya! Masa kamu nggak tau sih? Mirza kan suaminya adik ipar kamu, nggak mungkin lah kalo kamu belum denger beritanya.” Celetuk si Santo teman yang lainnya.


“Oh iya, ya. Mirza sodaraan kan sama kamu? Jangan-jangan kamu cuman pura-pura nggak tau aja nih.” Saprol baru ngeh Arya sama Mirza emang kakak adik ipar. “Nggak nyangka ya si Mirza itu, padahal orangnya kelihatannya kalem nggak banyak gaya dari dulu juga, eh nggak taunya malah hamilin perempuan lain, padahal dah punya istri.” Lanjut Saprol.


“Ya begitulah, Prol. Namanya orang kalo udah sukses pasti banyak yang mau." Santo tersenyum lebar sambil melirik Arya. "Mana si Mirza genteng, rumahnya gedong, sawah sama kebon jatinya luas, punya dua rumah kontrakan di kota, mobilnya bagus, ya wajar lah kalo dia berubah jadi banyak gaya sekarang, ya nggak Ar?” Santo menyenggol lengan Arya dengan sikunya.


Arya hanya bengong antara percaya dan nggak.


Tiba-tiba satu orang ibu bersama seorang anak laki-laki berseragam biru putih lewat di depan mereka sambil mendorong motornya.

__ADS_1


“Motornya kenapa, Bu?” Tanya Saprol.


Si ibu itu nengok. “Ini, bannya bocor. Dimana ya ada tukang tambal ban yang udah buka jam segini?”


“Yu Yati, ya?” Santo yang merasa kenal dengan ibu itu langsung mendekat.


“Eh, kamu San. Ini tolongin ban motor saya kempes. Saya harus nganter anak saya ini ke sekolah, takut kesiangan, kasian.”


“Ya udah, saya aja yang nganter. Sampean tunggu di sini aja, nanti sekalian saya carikan tukang tambal ban yang udah buka.” Usul Santo.


“Wah makasih ya, San.”


“Sampean duduk dulu aja, kalo mau sarapan itu di sana ada tukang soto sama tukang bubur yang belum naik haji.” Santo menunjuk gerobak tukang bubur yang katanya belum naik haji itu di seberang pos ojek.


“Iya deh, ini ongkos ojeknya, San.” Yu Yati memberikan selembar uang sepuluh ribuan pada Santo. “Nak, kamu berangkat sekolah sama Mang Santo aja ya, biar nggak kesiangan.”


Si anak mengangguk lantas naik ke boncengan motor Santo dan berlalu.


“Yu Yati ini dari mana, ya? Pasti bukan orang Jati Asri, saya belum pernah liat sampean soalnya?” Saprol sok Akrab.


“Oh, saya dari kampung sebelah, desa Suka Tresna tetanggaan sama kakaknya Santo.” Sahut Yu Yati.


“Oo …” Saprol manggut-manggut. “Berarti sampean tau kabar soal Mirza anaknya Bu Endang yang menghamili perempuan lain dong, Yu?” Jiwa kepo Saprol mulai muncul.


Arya sampe melotot pada Saprol, heran juga kenapa ini laki-laki mulutnya kayak perempuan, doyannya ghibah. Mana masih pagi lagi.


“Woo, tau Banget, Mas. Ni ya, satu kampung itu dari kemarin nggak ada yang nggak ngomngin soal kejadian ribut di rmah Bu Een. Habisnya gimana nggak pada tau kan itu lagi banyak-banyaknya pembeli ya, jadi pasti pada kepo lah mereka. Denger-denger, perempuannya dari Jakarta lho, mana cantik banget lagi.” Cerocos Yu Yati bersemangat.


“Wah, masa sih Yu? Cantik mana sama Via istrinya MIrza?” Saprol makin penasaran.


“Cantikan selingkuhannya lah, kalo nggak mana mungkin Mirza sampe kepincut gitu, malah dihamilin pula, yak an? Joss bener emang si Mirza itu, istri sendiri belum hamil padahal nikah udah lama, eh selingkuhannya malah langsung cespleng. Dan katanya lagi itu selingkuhan Mirza blasteran negara arab-arab gitu. Kebayang kan gimana cantiknya? Ck, kasihan istrinya Mirza, ya? Pasti mereka itu kenalan di kapal terus terjadilah hal yang memalukan itu."


Yu Yati makin menggebu-gebu ditambah dengan bibir miring kanan miring kiri. Sebentar senyum, sebentar kemudian menggeleng dengan mimik sok prihatin. Gayanya udah kaya presenter acara gosip selebriti Venny Nose.


“Terus, terus Yu?” Saprol makin penasaran.


“Sampean apa udah pernah ketemu sama perempuan itu?”


“Ya belum. Ini rencananya abis nganter anak sekolah pulangnya mau ke toko Bu Een, pura-puranya mau beli telor, padaal saya kepo juga sama selingkuhannya MIrza itu, hehe….”


Telinga Arya makin panas denger pebicaraan itu. Dia langsung pergi dengan motor bebeknya tak menghiraukan panggilan Saprol.


“Woy! Ar … mau kemana? Ini belum selesai lho wawancaraku sama Yu Yati!” Teriak Saprol.


Motor bebek Arya melaju dan berbelok lincah di jalanan kecil menuju rumah kontrakannya.


CIIT!


Motor berhenti tepat di depan rumah, Tia yang mendengarnya langsung melongok. Arya masuk rumah dengan tergesa.


“Mas. Kok udah pulang? Aku kan jam ngajar masih jam 9 nanti.” Ujar Tia heran karena mereka biasa gantian motor kalo Tia mau pergi ngajar.


Arya menyambar tehnya yang tinggal setengah gelas sisa subuh tadi sebelum berangkat ngojek.


“Haus banget kayaknya, Mas? Aku ambilin air putih ya?”


“Nggak usah.” Sergah Arya.


Suara Arya datar namun tegas, Tia jadi agak takut. Biasanya kalau begitu Arya lagi emosi. Dia ingat pertengkaran terakhir beberapa waktu lalu di pagi hari seperti ini karena ocehan ibunya yang tau-tau datang ke rumah.


Jangan-jangan Mas Arya habis ketemu Ibu di jalan, terus cekcok lagi. Ya Allah …


Tia membatin nelangsa, kenapa rumah tangganya hanya berkutat pada permasalah yang itu-itu saja. Padahal ia sudah menuruti perintah Arya untuk tak pergi ke rumah Bu Harni demi rumah tangganya baik-baik saja.


“Kamu kemarin dari rumah Via, kan?” Tanya Arya kemudian.

__ADS_1


Tia sedikit kebingungan ditanya begitu. Namun dia senang juga rupanya suaminya bukan habis ketemu ibunya.


“Iya, kenapa Mas?”


“Aku dengar kabar barusan di pangkalan soal keadaan rumah tangga Via sama Mirza. Apa itu bener?” Arya melihat lurus pada Tia yang berdiri di depannya.


“Bener, Mas.” Sahut Tia lemah duduk di samping Arya. “Maaf kalo aku belum cerita ke Mas Arya, aku ngerasa … “


“Kamu tau kan, aku bukan tipe lak-laki yang suka ikut campur urusan orang.” Potong Arya. “Meskipun mereka keluarga kita sendiri. Tapi kupingku ini panas mendengarnya.” Lanjut Arya.


“Sebenarnya sebelum kejadian ini Via kemari dan cerita banyak soal keadaan rumah tangganya, Mas.” Tia mulai menceritakan detail peristiwa antara Mirza dan Via.


Arya mendengarkan dengan raut serius, lalu mereka berdua sama-sama termenung. Arya sama sekali tak menyangka dengan kondisi rumah tangga Mirza dan Via. Dari luar mereka tampak bahagia dan begitu harmonis, satu kampung tentu setuju dengan pendapat itu. Mereka pasangan paling serasi. Namun siapa yang menyangka?


“Mas, makasih ya udah setia jadi suami aku dan ayah buat Ica.” Tia tiba-tiba berujar sendu. “Meskipun Ibu selalu membuatmu jengkel, tapi kamu tetap disampingku. Aku akan menerimamu seperti apapun adanya, asal jangan selingkuhi aku, Mas.” Mata Tia tiba-tiba berkaca-kaca.


Arya merangkul pundak Tia. “Nggak akan. Susah senang kita akan selalu bersama.”


______


Di sekitaran rumah Bu Suharni juga tak kalah hebohnya berita tentang Mirza dan Via. Ibu-ibu yang sedang belanja sayur asyik berghibah sampe lupa dengan belanjaan mereka.


“Ibu-ibu, ini jadi pada belanja nggak sih? Ngobrol mulu dari tadi?” Protes si tukang Sayur.


“Jadi dong, Mang! Sebentar dulu, lagi tanggug!” Sahut si ibu gendut.


“Iya, hitung aja dulu tuh, Mang punya saya!” Timpal ibu yang kurus.”


“Terus, terus gimana? Jadi nggak Mirza nikahin selingkuhannya itu? Kalo jadi kasihan si Via kan? Bener-bener nggak ada ahlak ya si Mirza itu!” cerocos ibu yang setengah gendut setengah kurus.


“Eh, eh itu Bu Harni ke sini.” Si ibu yang gendut berbisik, matanya menunjuk pada Bu Harni yang berjalan menghampiri mereka.


“Pagi, ibu-ibu … pada mau masak apa nih?” Sapa Bu Harni ramah.


“Eh, Bu Harni, bener nggak menantu Bu Harni itu mengahmili perempuan lain? Wah, kalo bener suruh cerei aja, Bu! Kurang ajar itu namanya!” Ujar ibu kurus tanpa tadeng aling-aling.


Bu Harni langsung kaget. “Mantu saya? Menghamili perempuan lain? Jangan bikin fitnah, dong Bu. Nggak mungkin!” Sangkal Bu Harni yakin setengah sewot.


“Yah. Bu Harni rupanya belum tau ya, silakan Tanya sendiri sama anak dan mantu itu kalo nggak percaya!” Saran ibu setengah kurus setengah gendut.


“Kalo saya jadi Bu Harni nih, sudah otomoatis saya pecat jadi mantu laki-laki model begitu. Udah punya istri cantik, baik, setia, eh masih juga selingkuh sama perempuan lain. Sampe hamil pula!” Ibu Gendut mengmpori.


Bu Harni geram bukan main. Ia tak meyangka sepagi ini akan sarapan berita panas. Dia sebenarnya ragu, tapi para ibu-ibu rempong itu sepertinya meyakinkan sekali. Tangan Bu Harni mengepal menahahan emosi.


“Kurang ajar si Arya, berani benar dia selingkuh. Dasar tak tau diuntung!” Umpat Bu Harni tak bisa menahan emosinya.


“Eh, Bu. Bukan Arya yang selingkuh, tapi si Mirza!” Ujar si ibu gendut.


DOENG!


WAAAATT?


___________


Sebelum lanjut, jangan lupa like dan komen lagi ya, Kak. ☺️☺️❤️❤️ Rate 5 dan votenya juga jangan ketinggalan yaa 😉😉


Maafkan author akak-akakku, sedikit membuat kalian kecewa. Mirza dan Via akan baikan dulu dibeberapa part ke depan yaa 🙏🙏😂😂🤭🤭


Oya, buat akak-akak yang penasaran kenapa sih Bu Harni benci banget sama Arya dan sayang banget sama Mirza (padahal kan sama-sama menantunya ya), ceritanya ada di part-part sebelumnya ya, Kak. silakan dicek ☺️☺️🌹🌹


Ceritanya memang complicated, nggak lurus mulus kayak jalan tol ya, Kak (eh, jalan tol aja ada belok-beloknya kan denk 😅😅), biar nggak bosan dengan konflik Sofi yang bikin tekanan darah naik, hihi🤭🤭🤣🤣


Jika ada waktu luang sempatkan membaca dari bab awal ya Kak, biar nggak bikin bingung kok ceritanya kayak lompat-lompat gitu🤔🤔😍😍


Maksih semua akak author dan akak readers tersayang. Luv u all ❤️❤️

__ADS_1


❤️🌹🌹🌹😘😘😘😍😍😍


__ADS_2