
Mirza tiba di rumah sakit sesaat sebelum Via masuk menemui dokter kandungan dengan hasil tes ditangannya.
“Sayang, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?” Mirza langsung menghampiri dan memeluk Via.
Via yang terkejut kenapa suaminya tiba-tiba bisa nongol di sana langsung membalas pelukan suaminya dengan air mata yang tak bisa ditahan lagi. Rasanya ia ingin menumpahkan kesedihannya selama dua hari ini ditinggal Mirza dalam kondisi terpuruk.
Mirza melerai pelukannya dan menghapus air mata yang basah di pipi lembut istrinya.
“Mas Mirza kok bisa tau aku ada disini?” Via heran.
“Tadi waktu Mbak Via sholat, Mas Mirza telpon udah mau nyampe. Makanya aku suruh langsung ke sini aja.” Riri menjawab.
Via menatap lekat manik mata suaminya dengan sisa tangis yang masih sesenggukan.
“Jangan nangis dong. Kan suamimu yang tampan dan baik hati ini udah pulang. “ Mirza menggoda Via seraya mencolek hidung Via usil.
Perlakuan manis Mirza membuat tangis Via pecah kembali. Sekali lagi ia menghambur ke pelukan suaminya. Sedih banget memang, dia sudah kepingin nangis di pelukan Mirza sedari kemarin.
“Sayang, udah dong. Jangan nangis terus. Iya aku tahu kamu pasti kangen banget sama aku, tapi nanti aja nangisnya. Malu tuh diliatin orang.” Hibur Mirza sambil melihat beberapa pasang mata yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah mereka dengan tatapan kepo.
Via masih belum mau melepaskan pelukannya sampai kemeja Mirza basah oleh air matanya.
“Mas Mirza yang sabar ya.” Riri akhirnya buka suara karena tak tega melihat kakaknya yang terus menangis dan harus mengatakan hal yang menyakitkan itu. “Mbak Via didiagnosa mengalami kehamilan ektopik.” Lanjut Riri dengan suara lirih.
Mirza melongo. Ia tak percaya, heran campur kaget dengan hal yang baru di dengarnya. Namun belum sempat ia bertanya lebih lanjut, suster memanggil nama Via untuk masuk ke dalam ruang dokter.
“Masuklah Mas, temani Mbak Via.” Ucap Riri.
Mereka berdua pun akhirnya masuk ke ruangan dan dokter kandungan sudah menunggu mereka di dalam.
“Halo, Bu Livia.” Sapa dokter itu ramah. “Gimana kabarnya? Silakan duduk.”
Via hanya tersenyum samar, mereka duduk berhadapan dengan sang dokter.
“Dokter, apa yang terjadi dengan kandungan istri saya?” Tanya Mirza tak dapat menahan diri.
Dokter itu tersenyum simpul pada Mirza.
“Boleh saya lihat hasil labnya, Bu.” Ucap dokter pada Via.
Via pun memberikan amplop yang dibawanya, dokter membukanya dan memperhatikan dengan seksama. Sesaat kemudian dokter itu mengangkat wajahnya dan menatap Via.
“Seperti yang saya katakan kemarin, hasil tes darah pun menunjukkan Ibu Livia mengalami kehamilan ektopik.” Ungkap dokter itu.
“Maksud dokter?” Mirza memburu dengan tak sabaran.
Lalu dokter itu mengulang kembali penjelasannya yang kemarin, Mirza menyimak dengan sangat serius. Kemudian tatapannya beralih pada sang istri di sampingnya setelah dokter itu selesai dengan penjelasannya. Kedua mata Via sudah kembaliberkaca-kaca, Mirza segera memberikan pelukan terbaiknya, tak peduli ada orang lain di depanya. Dokter itu pun sepertinya sangat maklum dengan kondisi pasiennya.
“Sekarang yang terpenting kita harus mengangkat sel ektopik itu secepatnya, kerana kalau dibiarkan terlalu lama akan berdampak buruk pada kondisi pasien.” Imbuh sang dokter kembali menjelaskan.
“Baiklah Dok, lakukan apa saja yang peting istri saya sehat dan selamat.”
“Karena kehamilan Ibu Livia masih pada tri semester pertama dan sel-sel ektopik belum berkembang banyak maka prosedur suntik methotrexate adalah metode yang paling tepat untuk menghilangkan sel oktopiknya.”
“Maaf, saya kurang paham maksud dokter.” Sahut Mirza.
Dokter kandungan laki-laki setengah baya itu menghela nafas sebelum kembali memulai penjelasannya.
“Suntikan ini menghentikan sel-sel yang berkembang dan akan diserap oleh tubuh. Selain itu juga obat yag terkandung adalam suntikan ini dapat melindungi tuba falopi agar bisa memberikan kesempatan kehamilan yang lebih baik lagi di masa berikutnya.”
__ADS_1
Mirza manggut-manggut mendengarkan penjelasan sang dokter.
“Lalu apakah ada efek sampingnya, Dok?” Tanya Mirza kemudian.
“Ada, hanya saja tidak terlalu berat, semuanya tergantung dengan kondisi ketahanan tubuh masing-masing. Kebanyakan ibu hamil yang telah disuntik methotrexate mengalami sakit perut beberapa hari setelah disuntik. Selain itu juga bisa mengaikbatkan pusing, mual dan sariawan.”
Mirza manggut-manggut lagi, sementara Via masih dalam dekapan Mirza perlahan ia menegakkan posisi duduknya dan menyeka air matanya yang hampir turun.
“Tapi saya bisa hamil lagi setelah ini kan, Dok?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Via.
“Tentu saja.” Jawab sang dokter yakin. “Seperti yang sudah saya ungkapkan di awal, obat yang terkandung dalam suntikan juga dapat melindungi tuba falopi agak menjadi lebih baik untuk mempersiapkan kehamilan selanjutnya.”
Via segera merasa lega dengan perkataan dokter barusan. Rupanya dia tadi tak menyimak penjelasan dokter dengan baik karena terlalu sibuk dengan kesedihannya.
“Berapa lama boleh hamil lagi setelah ini, Dok?” Sambung Mirza penasaran.
“3 bulan sudah boleh kok.”
“Apakah aman, Dok?”
“Aman.” Sahut dokter yakin sambil senyum.
“Tuh, sayang. Denger kan kata dokter? Sudah boleh hamil lagi setelah 3 bulan.” Mirza menggosok halus lengan Via. “Tapi kalo proses untuk memulai pembuatannya tidak harus menunggu sampai 3 bulan kan, Dok?” Tanya Mirza beralih pada dokter.
“Tentu saja tidak, Pak.” Senyum dokter itu makin lebar karena mengerti kemana arah pembicaraan Mirza. "Boleh segera berproses setah Ibu Livia sudah sehat."
“Tuh, denger kan? Nanti kalo kamu udah sembuh total kita bisa joss lagi.” Bisik Mirza pada Via.
“Apaan sih Mas?” Via spontan meyodok perut Mirza dengan sikunya.
Mirza meringis.
“Oh, tentu saja Dok. Semakin sepat semakin baik. Iya kan sayang?”
“Tapi aku takut, Mas.” Via meremas tangan Mirza.
“Tidak akan ada apa-apa, Bu. Setalah ini ibu bisa langsung pulang. Saya akan terus memantau kondisi hormon hCG ibu selama beberapa hari setelah proses penyuntikan. Jika dirasa sudah turun maka ibu tidak perlu melakukan suntikan yang ke dua. Oleh sebab itu, dua hari setelah proses ini, ibu harus datang kesini lagi untuk saya pantau kadar hormon hCG nya.”
“Baik, Dok. Saya percaya sama dokter. Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya.” Mirza malah yang menjawab dengan sangat mantap.
Siang itu juga akhirnya Via mendapatkan suntik methotrexate dan segera pulang bertiga dengan Riri setelah selesai.
Hari merambat senja, Riri sudah pulang sedari tadi. Mirza baru selesai mandi dan melihat istrinya tengah sibuk membalas chat Yanti.
“Sayang, kita makan yuk. Kamu mau Mas pesankan apa?” Mirza duduk disamping Via sambil bersiap memesan makanan dengan aplikasi.
“Nanti aja, Mas. Aku males makan.” Sahutnya sambil meletakkan ponselnya.
“Kenapa, apa perut kamu suah mulai sakit?” Mirza bertanya dengan khawatir.
Via menggeleng lantas menatap suaminya sendu. “Kasihan anak kita, Mas.” Ucap Via seraya meraba perutnya.
“Ssst, kamu jangan sedih begitu. Ini yang terbaik buat kita.” Mirza mendekap Via ke dalam daada bidangnya. Dia tahu betul perasaan Via sekarang pastilah melebihi orang yang sedang patah hati.
“Kalo aku nggak bisa hamil lagi gimana, Mas?” Tanya Via dengan parau.
Mirza melepaskan dekapannya dan menghadapkan tubuhnya lurus pada istrinya.
“Sayang, jangan pernah kamu berburuk sangka pada Tuhan. Ingat, Tuhanmu seperti apa yang kau prasangkakan.” Ucap Mirza lembut.
__ADS_1
Via menunduk.”Tapi aku takut, Mas. Takut aku nggak bisa memberimu keturunan.” Cicit Via.
Mirza mengangkat dagu istrinya perlahan.
“Sayang, diluaran sana ada banyak perempuan yang harus kehilangan rahimnya, mereka jauh lebih terpuruk dari kamu. Jadi kamu tak punya alasan untuk terus bersedih. Percayalah, semuanya pasti akan baik-baik saja. Anggaplah ini memang belum rejeki kita.” Hibur Mirza panjang lebar.
“Tapi Mas, kita sudah menunggu lama untuk punya anak. Dan sekarang begitu aku hamil, kita harus kehilangan dia secepat ini.” Kedua netra indah Via mengembun seketika. “Aku meras betul-betul tidak berguna jadi perempuan. Ibumu pasti akan semakin membenciku setelah kejadian ini.” Air mata Via akhirnya tumpah juga.
“Jangan kamu takutkan hal lain diluar kuasa kamu, sayang. Biarlah itu menjadi urusan Tuhan, tugas kita hanya pasrah dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik. Jika setelah ini ibu membencimu, itu urusannya sendiri, bukan urusan kita. Yang penting kita tidak pernah membencinya.”
Kata-kata Mirza sungguh menenangkan di hati sanubari Via. Namun masih ada satu hal lagi yang mengganjal.
“Mas, apa yang akan kamu lakukan kalau kenyataannya Tuhan belum juga memberi kita keturunan?” Via kembali mengulang pertanyaan itu karena merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. “Apakah kamu akan meninggalkanku, Mas? Sedangkan Sofi ...” Via sengaja tak melanjutkan kalimatnya, ditatapnya lurus manik mata suaminya.
Mirza membalasnya dan meraih jemari Via.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, sayang. Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga kita, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku bersumpah, dan Tuhan sebagai saksinya.” Ucap Mirza penuh keyakinan. “Dan soal Sofi, kamu tau pendirianku dari awal kan? Kita sudah pernah membahasnya. Jadi kamu jangan pernah mengungkit lagi soal itu.”
Via mengangguk, ia tahu dirinya hanya mempunyai kekhawatiran yang sangat berlebihan.
“Kamu pasti tau, ada banyak pasangan yang tidak dikarunia anak secara biologis, tapi mereka bisa tetap hidup bahagia sampai maut memisahkan. Dan kalau kamu mau, kita bisa adopsi. Apapun yang kau inginkan, aku siap mengabulkannya.”Lanjut Mirza.
“Makasih ya, Mas. Aku beruntung mempunyai suami sebaik kamu.” Via tak kuasa menahan air matanya yang semakin meleh membasahi kedua pipi halusnya.
Mirza segera memberikan pelukan. “Aku jauh lebih beruntung karena memiliki istri sepertimu. Love you, sayang.”
Cup!
Mirza memberikan kecupan lembut di bibir Via, membuat Via sangat bahagia.
_____________
Naah... gimana sudah sedikit lega belum akak dengan kondisi Via? 😊😊😊
Jalan hidup manusia nggak ada yang lurus terus ya kan? 😉😉
Meski ini hanya dalam novel, tapi kan othor udah pernah bilang, novel ini othor tulis mendekati kenyataan yang mungkin terjadi di sekeliling kita.😃😃😃
Jadi, don't worry pasti akan ada pelangi setelah hujan. 😍😍😍
Hah, othor sok puitis ya.. wkwkwk...🤣🤣🤣
Initinya mah, biarkan othor menyelesaikan cerita ini sesuai plot yang sudah othor punya, ok... 😘😘😘
Masukan dan kritik tentu saja boleh dan sangat bisa dipertimbangkan selama tidak berbelok terlalu jauh dari garis besar cerita dari novel ini.♥️
♥️❤️
Terima kasih akak readers tercinta dan akak othor hebat semua atas apresiasi yang bagi othor awut-awutan ini terasa sangat luar biasa dan berharga.🙏🙏🙏🤩🤩🤩
Support kalian yang bikin othor selalu semangat untuk terus menulis.😇😇😇
Dan, kalo ada kesalahan dalam penjelasan text tentang beberapa keterangan yang berkaitan dengan medis, mohon dimaklumi ya.🙏🙏
Othor dapat tanya sama mbah google soalnya. Maafkan keterbatasan ilmu othor, awut-awutan ini, ya...😁😁
Finally, jangan lupa like, komen rate 5 dan vote seikhlasnya ya Kak😂😂😂
Luv u full🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1