
Via mundur, ia bukan tak mau melayani suaminya. Hanya saja perutnya masih sangat tak nyaman dan ia sedang tak ingin melakukannya.
Gimana ini? Mas Mirza kok maksa banget sih? Ada-ada aja ih, dateng-dateng malah minta jatah? Apa aku bilang aja ya sekarang kalo aku posituf hamil, biar Mas Mirza nggak maksa aku bukain oleh-olehnya? Duuuh!
“Sayang …” Mirza tak pantang menyerah, ia kembali mendekati Via dan berusaha menyosor istrinya.
“Ah, Mas. Aku …” Via tak mampu melanjutkan kalimatnya karena aksi bibir Mirza yang sudah membungkam mulutnya.
Pikiran Via makin kacau manakala tangan kiri suaminya sudah mulai menelusup masuk ke piyamanya dan menemukan squishi si kenyal nan lembut yang mampu membuat Via menegang seketika dan rasa-rasanya otaknya mulai error. Bagaimana tidak, perutnya tiba-tiba merasa nyeri, mual, perih nggak karuan sedangkan aktifitas yang dibuat suaminya mulai merajalela. Kancing piyamanya sudah terbuka dan kini bibir Mirza sudah menjelajahi dua squishi itu yang membuat Via mengerjap dan mengeluarkan suara seperti anak anjing kejepit pintu. Meski dirinya sudah mulai terpancing, tapi hati Via berharap ini tak berlanjut sebab rasa mualnya sudah naik ke kerongkongan, tenggerokan dan mulutnya terasa asam tak karuan.
“Mas, sebentar …” Ucap Via agak terengah seraya mengangkat wajah suaminya dari dadanya.
“Ada apa, sayang?” Mirza menatapnya heran, berpikir tak mungkin kalau istrinya tak munyakai aksinya.
“Aku …, hoek …” Via merasakan mualnya telah mencapai puncaknya.
Ia mendorong tubuh suaminya dan segera berlari ke kamar mandi sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Hoek, hoek ….” Terdengar via muntah dari dalam kamar mandi.
Mirza sepertinya masih belum sadar karena masih berusaha menguasai dirinya yang terpaksa harus menunda niatnya memberikan oleh-oleh pada Via.
“Hoek, hoek … hoek …”
Ketika terdengar sekali lagi suara Via, barulah Mirza nyamperin ke kamar mandi dan melihat istrinya sedang membungkuk di wastavel dengan keran yang menyala mengguyur semua isi perut Via yang tumpah.
“Sayang, kamu ….”
“Hooeeeeekkk …..” Via masih mual dan berusaha memuntahkan semua isi perutnya namun yang tinggal hanya air.
Mirza jadi kasihan sama isrinya, dipijitnya lembut tengkuk istrinya itu yang masih terus muntah mengeluarkan air dari dalam perutnya.
Setelah sudah tak ada lagi yang keluar, Via membasuh mulutnya dan mengelapnya dengan selembar tisu dari samping wastavel.
“Mas, maafkan aku ya.” Ujar Via dengan wajahnya yang pucat.
“Sayang kamu masih sakit ya?” Mirza membelai rambut Via menatapnya sayu. “Maafkan Mas, ya? Besok pagi kita ke dokter.”
Via menggeleng lemah. “Aku nggak sakit, Mas.” Ucap Via, ia berhenti sebentar berpikir apakah sekarang saja mengatakan kabar bahagia itu atau menunggu besok pagi agar semua keluarga dapat melihat ekspresi bahagia suaminya.
“Sayang, pasti kejadian yang terjadi akhir-akhir ini membuatmu tertekan.” Sesal Miza. “Kamu begitu menderita karena perbuatan Ibu dan perempuan itu terus merongrong ketentraman rumah tangga kita.” Mirza menyelipkan helaian rambut Via ke belakang telinga dan tersenyum penuh arti.
“Besok Mas akan temui Ibu dan memintanya supaya jangan ikut campur kehidupan kita lagi.
Via meraih tangan suaminya. “Maksasih ya, Mas. Tapi bukan itu sebenarnya yang membuatku jadi kayak gini.” Ucap Via berteka-teki.
Mirza memandangi istrinya tak mengerti.
“Aku sekarang sedang …”
“Sedang apa, sayang?” Mirza tak sabar karena lagi-lagi Via berhenti tak melanjutkan kalimatnya.
“Aku sedang hamil anakmu, Mas.” Lanjut Via lirih.
“Apa?” Mirza kaget bukan main, matanya terbelalak . “Coba kamu ulangi sekali lagi, sayang. Ini beneran kan? Mas nggak lagi mimpi kan? Coba katakan sekali lagi, sayang.” Cerocos Mirza dengan raut tak percaya tapi senyumnya mengembang sempurna.
“Ini kenyataan, Mas. Aku benar-benar positif hamil.” Ulang Via meyakinkan suaminya.
“Subhanallah! Alhamdulillah …” Mirza mengusap wajahnya dengan kedua tepak tangannya lantas berlari keluar kamar mandi sampe jidatnya kepentok pintu lalu buru-buru melakukan sujud syukur, berterima kasih pada Yang Maha Kuasa bahwa selama lima tahun penantiannya berbuah manis.
Begitu Mirza ingat istrinya msih di kamar mandi, Mirza balik lagi dan memeluk Via erat.
“Makasih, sayang.” Bisik Mirza lembut penuh haru, Mirza nyaris saja menangis saking bahagianya. “Terima kasih karena kamu telah mewujudkan impianku yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.” Ucap Mirza mengusap-usap punggung istrinya lantas melepaskan pelukkannya dan menghujani wajah Via dengan ciuman bertubi-tubi.
Ya ampun, Mas. Udah dong.” Via sampe risih karena Mirza masih saja menciumi keningnya, matanya, pipinya, hidungnya, bibirnya, dagunya lalu balik lagi keningnya lagi, matanya lagi, pipinya lagi …
“Mas!” Via mendorong pelan tubuh suaminya. “Apa kamu mau nyiumin aku semaleman di kamar mandi ini?” Kesal Via dengan bibir mengerucut.
“Oh, maafkan sumimu yang teramat bahagia ini wahai istriku.” Jawab Mirza sok puitis. “Tentu saja tidak, mari kita lanjutkan diperaduan.”
__ADS_1
Tanpa aba-aba Mirza langsung membopong tubung Via menuju kasur.
“Turunin, Mas. Aku bisa jalan sendiri.” Via memukul lengan suaminya.
Cup!
Mirza mencium singkat sekali lagi bibir istrinya begitu sampai di samping ranjang.
“Tenang saja, sayang. Suamimu ini akan memanjakanmu karena kau sudah betul-betul membuatku jadi laki-laki sempurna yang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.” Oceh Mirza sambil meletakkan tubuh Via di atas kasur busanya.
“Masih 9 bulan lagi, Mas.”
“Itu sebentar lagi, sayang. Tak akan terasa lama, percayalah.” Mirza berbaring di samping Via dan memiringkan posisinya menatap lekat manik hitam mata istrinya.
Tiba-tiba jantung Via terpompa makin kencang mendapati tatapan suaminya itu.
“Mas, kita nggak akan … “
“Nggak, sayang.” Potong Mirza yang melihat raut khawatir pada wajah istriya. “Kita nggak akan melakukannya.” Mirza meraih Via ke dalam dekapannya. “Mas cuman mau tidur sambil melukin kamu aja kok.”
“Bener ya, cuma peluk?” Via mendongak melihat wajah suaminya.
“Iya, sayang.”
“Janji?”
“Janji, sayangku.”
Via menarik napas lega lantas membenamkan wajahnya kembali dalam dekapan dada bidang suaminya.
_________
Keesokkan harinya, semua nggota keluarga sudah berkumpul di lantai bawah, kecuali Om Jaka.
Riri tampak sedikit terkejut ketika membuka pesan di hpnya, lalu jarinya lincah mengetik pesan balasan.
“Kenapa, Ri?” Tanya Tia yang sedari tadi memperhatikan adik bungsunya itu.
“Ooh, kirain ada apa. Emang papanya Danar sakit apa?”
“Kurang tau juga, Mbak. Mas Danar nggak pernah cerita.”
“Ya kamu tanya dong, masa sama pacar sendiri nggak mau cerita dia.”
“Ih, Mbak Tia apaan sih?” Riri merengut sebal. “Siapa juga yang pacaran?”
Tia tersenyum melihat raut kesal wajah adiknya lalu kembali menyuapi Ica yang lagi asyik sarapan sambil nonton Sponges Bob.
Bu Harni yang sedang menata meja makan nampak memperhatikan mereka.
“Bunda, Ica mau lagi tempe gorengnya.” Seru Ica yang sudah menghabiskan tiga potong tempe goreng angetan.
“Oke, Bunda ambilin dulu ya.” Tia menuju meja makan.
“Ck, ini udah boleh sarapan apa belum sih? Aku laper banget.” Riri berdecak sambil menghentakkan kakinya mengekor langkah Tia.
“Tunggu dong, Tuan rumahnya belum srapan, masa kita mau dulan?” Ucap Bu Harni.
“Ica boleh?” Riri mengehempaskan pantatnya di kursi makan sambil mendongakkan dagunya ke arah Ica yang khusyuk di depan TV.
“Ya itu kan Ica, namanya juga anak kecil. Emangnya kamu mau disamain sama Ica?” Bu Harni agak kesal.
Tia hanya menggeleng sambil tersenyum melihat wajah adik bungsunya yang cemberut dan lagi kumat jiwa kekanakkannya itu.
“Mau Mbak suapin sekalian, Ri?” Goda Tia seraya mengambil dua potong tempe dan meletakkannya di piring makan Ica.
“Ogah!”
Tia terkekeh dan kembali ke ruang tengah.
__ADS_1
“Ica itu lho, udah nginep di rumah bagus juga masih aja demennya makan tempe.” Oceh Riri kali ini ngomongin keponakkannya.
“Tempe itu sehat, Ri! Makanan sejuta umat!” Seru Tia dari depan TV.
“Kamu ini apa-apan sih, Ri? Kok pake ngomelin Ica? Ya biarin aja dia mau makan sama tempe apa sama tahu, suka-suka dia.” Balas Bu harni duduk di samping Riri yang masih tampak ceberut.
“Ya karena aku laper, Bu. Jadi bawaannya pingin ngomel mulu.” Riri makin cemberut kesal.
Bu Harni cuman bisa geleng-geleng. Kalo dipikir-pikir anak bungsunya itu emang nggak ada bedanya sama cucunya kalo lagi laper suka resek.
“Halo, selamat pagi semuanya.” Sapa Mirza yang menuruni tangga sambil merangkul pinggang Via mesra.
Semua yang ada melihat pada mereka yang tampak sangat sumringah.
“Nah! Akhirnya turun juga Pangeran dan Tuan Putri.” Celetuk Riri sambil tangan kirinya mencomot tempe goreng dan segera memasukkan ke dalam mulutya.
“Ih, Riri!” Bu Harni mendelik kesal.
“Tuan rumahnya udah bangun, berarti udah boleh sarapan kan?” Ucap Riri cuek. “Sini, Sini Mbak. Duduk samping aku, sini.” Riri menarik kursi di sampingnya untuk Via. “Ayo cepetan makan, nggak usah sungkan dan malu-malu ya?”
Mirza dan Via tersenyum lebar, Bu Harni berdecak kesal melihat kelakuan Riri.
“Mbak Via mau makan sama apa? Biar aku ambilin. Ini semua bukan aku lho yang masak, hehehe….” Cerocos Riri.
“Iya lah, pasti bukan kamu yang masak sebanyak ini. Kamu kan malesan orangnya.” Sahut Via.
“Biar Mas aja yang ambilin.” Mirza maraih mangkuk nasi.
“Jangan banyak-banyak, Mas.” Sergah Via. “Nanti aku mual lagi.”
“Biar dede bayinya sehat, sayang.”
WHAATT?
Bu Harni dan Riri melongo mendengar kalimat Mirza.
“Jadi kamu udah tau, Za?” Tanya Bu Harni agak kaget.
Mirza tersenyum. “Iya, Bu. Aku udah tau kalo Via hamil.”
“Yaah, nggak jadi dong mau kasih kejutannya.” Bu Harni kecewa.
“Semalem aku udah terkejut kok, Bu. Sampe kepentok pintu kamar mandi nih kepalaku saking kagetnya denger kabar bahagia itu.” Ucap Mirza.
“Oya? Coba liat, benjol nggak Mas kepalanya?” Riri melihat kaka iparnya.
“Nggak sih, cuman lumayan.” Mirza nyengir.
“Ya berarti kurang terkejut itu! Harusnya benjol segede bola pongping!”
Semuanya tertawa endengar kelakaran Riri.
“Eh, tapi kok kamu kenapa udah bilang sama suamimu, Vi? Kan kita janji mau ngasih kejutan rame-rame?” Tanya Bu Harni tiba-tiba.
Senyum Via langsung mengkeret dan melihat pada suaminya.
“Mmm, itu karena … semalem … “ Via menggaruk pelipisnya. “Mas Mirza …”
_________
Hayoooo kenapa hayoooo …. 🤣🤣🤭🤭
Bilang nggak ya kira-kira Via sama ibunya kalo semalem Mirza minta bukain oleh-oleh? 🤔🤔🤔 Hehe….😅😅😅
Tungguin bab selanjutnya ya Kak, up hari ini juga agak sorean 🙏🙏❤️❤️
Eits, tapi tinggalkan like dan komen dulu ya akak-akakku tersayang…😍😍🤩🤩
Vote juga boleh banget Kakak 😊😊
__ADS_1
Luv u all🤗🤗😘😘