TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
228 #PENYESALAN RAMZI


__ADS_3

Entah sudah berapa lama Ramzi tepekur dalam sujud di rakaat terkhirnya, yang jelas ketika ia bangkit untuk tashayud wajahnya sudah basah. Usai salam ia kembali termenung, susana mushola rumah sakit yang tak terlalu ramai membuat Ramzi semakin menikmati kekhusyukan. Belum pernah dirinya merasa setakut ini dalam sepanjang hidupnya. Meski ia pernah kehilangan mega poyek puluhan trilyun, namun perasaannya tak sekacau ini. Baru kali ini dirinya merasa segala harta yang dimilikinya seolah tak ada artinya jika ia tak bisa melihat istri dan anaknya keluar dari ruang opersi dengan selamat.


Masih mengadu dalam monolog hatinya dengan kedua telapak tangan menengadah, berharap Tuhan sudi mengabulkan doanya. Ramzi menepis rasa malunya, betapa selama ini ia telah begitu jauh dari Tuhannya, dan saat kesusahan menderanya ia mengiba pada Sang Kuasa dengan bercucuran air mata. Tidakkah itu perbuatan yang sangat kurang ajar? Kemarin-kemarin elu kemana aja, Ram?


Tapi tentu saja Tuhan tak akan berkata seperti itu karena Dia Maha Pengasih Maha Penyayang, ia memberi tak pilih kasih, nggak pada yang kaya nggak yang miskin semuanya sama, dan itu membuat Ramzi makin merasa berdosa. Ia telah begitu lalai dari semua kewajiban-kewajbannya sebagai seorang hamba Tuhan, dia sibuk memperturutkan ***** duniawi.


Me-rewind kembali memorinya, hati Ramzi terkoyak-keyok melihat Sofi menahan sakit yang amat sangat. Peluh dan air mata banjir menjadi satu, genggaman jemari yang terasa dingin, helaan nafas melemah, tatapan yang meredup, sungguh ia tak kan kuat jika harus kembali kehilangan Sofia-nya untuk yang kesekian kali, dan mungkin ini untuk selamanya.


“Selamatkan dia, Tuhan. Selamatkan anak kami, aku mohon … hukum aku saja, aku begitu banyak berdosa padanya, pada anakku, pada Mu Rabbku yang sudah berkali-kali memberiku kesempatan untuk bertaubat namun aku abai. Ampuni aku Tuhan, ampuni aku …” Ramzi mengusap wajahnya yang basah, bukan ia meragukan kuasa Tuhan namun ketika ia ingat perbincangan singkatnya dengan dokter, rasa takut kembali menyeruak ke permukaan sanubarinya.


“Syndrom yang diderita istri Anda bisa jadi penyebab memburuknya kondisi kesehatannya. Diusia kehamilannya yang menginjak 33 minggu seharusnya berat janin sekitar 1,8 kg. Namun janin istri Anda beratnya hanya 1,4 kg, itu jauh dari kehamilan normal.” Papar dokter kandungan sebelum Sofi dipindahkan ke ruang operasi.


"Dan rata-rata usia kehamilan 33 minggu paru-paru janin sudah terbentuk sempurna. Juga seharusnya janin sudah mempunyai sistem kekebalan tubuh sendiri yang nantinya berfungsi untuk melawan segala macam penyakit setelah lahir. Tapi disini saya lihat, janin istri Anda perkembangannya belum mencapai tahap tersebut dengan sempurna, ini sangat beresiko karena bisa saja bayi Anda lahir dengan gangguan fungsi paru-paru dan berbagai macam penyakit bawaan yang menyertainya.” Lanjut dokter mengamati hasil rekam medis janin Sofi ditangannya. Ramzi hanya membatu mendengarkan, dia sangat schock dengan kenyataan kondisi calon buah hatinya.


“Apakah istri Anda selama kehamilan mengalami keluhan yang tidak wajar?”


“Apakah istri Anda memeriksakan kehamilannya secara rutin?”


“Apakah obat-obatan yang dikonsumsi istri Anda sudah dikonsultasikan dengan dokter kandungannya sebelumnya?”


“Apakah istri Anda selama hamil mendapat cukup asupan gizi yang seimbang?”


“Apakah istri Anda pernah punya riwayat melahirkan premature sebelumnya?”


“Apakah istri Anda, apakah istri Anda, apakah istri Anda …. “


Begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan sang dokter, namun tak satu pun yang mampu dijawab Ramzi. Ia masih dalam posisi batunya, betapa rasa bersalah dan penyesalannya meraja dalam hatinya. Sungguh ia merasa suami yang sangat dzalim yang tak tau apa-apa akan kondisi kehamilan istrinya selama ini.


Bahu Ramzi berguncang menyembunyikan tangis dalam kedua telapak tangan yang menangkup wajah penuh sesal. “Jangan ambil mereka, Tuhan. Jangan sekarang, aku tidak siap. Biarkan aku menebus dosa-dosaku pada mereka. Sofia menderita karenaku. Aku berjanji Tuhan, aku akan memperbaki semua sikapku. Tolong selamatkan istriku, selamatkan anakku …” Lirih Ramzi dalam isaknya yang tertahan.


“Ram …” Sentuhan dipundak sedikit mengejutkannya.


“Om Jaka?” Mengangkat wajah menatap Om Jaka.


“Sofi udah keluar dari ruang operasi.”


“Benarkah?” Terkesiap penuh kebahagiaan.


“Iya. Dia dan bayinya …”


“Aku harus menemuinya sekarang.” Menghapus jejak air mata, bangkit keluar dari mushola dengan langkah lebar.


“Yaelah, orang gue belum selese ngomong juga main pergi aja.” Gerutu Om Jaka.


Ramzi menyusuri lorong-lorong rumah sakit dengan tergesa setelah mencari Azad sudah tak ada di tempatnya yang semula. Saking semangatnya campur bahagia campur tak sabar ingin segera menemui istri dan buah hatinya, Ramzi sampai menabrak seorang perawat laki-laki yang sedang mendorong brangkar kosong yang datang dari arah berlawanan.


BRUUK!


"Bapak hati-hati dong kalau jalan!” Perawat laki-laki yang ternyata Firman itu setengah kesal dengan kelakuan Ramzi, namun Ramzi cuek aja terus jalan sambil celingukan mencari Azad yang mungkin sedang berada di depan ruang perawatan Sofi. Padahal kan kalo pikiran Ramzi lagi nggak kacau dia bisa nanya ke Firman atau perawat jaga dimana ruangan istrinya.


“Nyari apaan lu? Celingukan mulu dari tadi kayak orang mau nyebrang?” Tau-tau Om Jaka muncul di depannya tanpa Ramzi sadari.


Rupanya dari tadi dia muter-muter akhirnya balik lagi ke lorong dekat mushola rumah sakit, dan Om Jaka baru aja kelar shalat dzuhur.


“Azad, Om. Sofi, dimana Sofi? Anakku dimana? Mereka ada dimana?” Ramzi memburu dengan pertanyaan yang tumpang tindih.


Om Jaka menghela nafas. “Makanya dengerin dulu kalo ada orang ngomong. Gue kan belum selese ngasih tau, tapi tadi elu main kabur aja.”


Ramzi menyugar rambutnya, mendesah berat. “Hm, maaf Om. Aku nggak sabar ingin bertemu istri dan anakku.”


Menatap Ramzi penuh arti. “Ram, anak elu sekarang ada di ruang NICU karena dia butuh perawatan intensif. Dan Sofi berada di ruang ICU kerena kondisinya kritis.”

__ADS_1


Bibir Ramzi bergerak-gerak tapi tak mampu mengucapkan sepatah kata pun hingga Om Jaka menepuk pundaknya kembali. “Meraka akan baik-baik aja. Sabar, Ram.”


“A-aku mau lihat Sofi.” Terbata dengan mata mulai mengembun. “Ah, nggak. Aku mau lihat anakku dulu.” Ralatnya seperti kebingungan.


“Gue temenin.” Merangkul pundak Ramzi.


Di depan ruangan NICU Ramzi dan Om Jaka hanya bisa melihat dari luar ruangan melalui kaca. Pikiran Ramzi berkecamuk, ia memandang satu-satu box bayi dengan peralatan medis disekitarnya. Seorang suster nampak sedang memeriksa kondisi salah satu bayi di dalam ruangan.



“Om, anakku yang mana? Kenapa ada banyak sekali bayi disana?” Ramzi menatap gamang, ia tak mampu melihat dengan jelas satu per satu bayi-bayi mungil yang terbaring di ruangan itu. dari kejauhan semuanya nampak sama, hanya memperlihatkan sebagian kecil saja dari wajah dan tubuh bayi yang dipenuhi berbagai macam selang yang rumit.


“Yang pasti anak elu adalah salah satu dari mereka, Ram.”


Jawaban Om Jaka sungguh tak memusakan hati Ramzi.


“Semua bayi yang ada di ruangan ini terlahir prematur – “


“Tapi aku mau lihat anak aku, Om.” Sambar Ramzi. “Aku nggak suka bayiku ditempatkan bersamaan dengan bayi-bayi yang lain. Nanti kalau tertukar bagaimana?” Raut kekhawatiran jelas tercetak di wajah garang Ramzi yang berubah 100% mellow.


“Elu pikir mereka sandal bisa ketuker?” Sahut Om Jaka keki. “Kan di boxnya ada nama orang tuanya, gimana ceritanya mereka bisa ketuker? Aneh-aneh aja lu! Elu kebanyakan nonton drama sih, makanya pikirannya jadi kayak emak-emak!” Lanjut Om Jaka sambil nyengir.


Ramzi tak mempedulikan celotehan Om Jaka, ia gegas memburu suster yang baru saja keluar dari ruang NICU itu.


“Suster!” Panggil Ramzi menahan langkah suster.


“Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya suster.


“Saya mau semua bayi yang ada di ruangan itu dipindahkan – “


“Ram, elu apa-apaan sih?” Potong Om Jaka tak habis pikir. “Elu nggak boleh egois gitu dong! Mereka juga kan butuh perewatan intensif sama kayak anak elu, mereka juga lahir prematur sama kayak anak elu!” Om Jaka agak kesal.


“Maaf, maksud Bapak gimana ya?” Suster menatap Ramzi bingung.


Suster paham. “Maaf, Pak. Tapi di rumah sakit ini hanya ada satu ruangan NICU.”


“Kenapa? Kenapa cuma ada satu? Saya mau perawatan yang terbaik untuk anak saya. Saya nggak mau tau pokoknya rumah sakit ini harus menyediakan ruangan khusus untuk anak saya! Katakan pada direktur rumah sakit ini bahwa saya mita disiapkan ruang NICU khusus untuk anak saya sekarang juga! Berapapun biayanya akan saya bayar!” Tuntut Ramzi berapi-api yag sukses membuat suster didepannya gemeteran.


“Ram!” Om Jaka menarik kasar lengan Ramzi. “Elu nggak bisa semena-mena gitu dong!” Meninggikan nada suaranya.


“Semena-mena gimana, Om?” Ikut meninggi. “Wajar kan, semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya? Apalagi sekarang anaknya sedang berjuang untuk bertahan hidup di dalam incubator sendirian?”


“Dan semua bayi yang ada disana juga sedang berjuang, Ram! Jangan mentang-mentang elu sultan, elu bisa seenaknya! Rumah sakit ini bukan sekelas rumah sakit swasta terbaik di ibu kota atau di luar negeri! Punya ruang NICU ada udah sukur, karena bayi elu bisa dirawat disana. Dan harusnya elu lebih bersukur lagi karena bayi elu berhasil dilahirkan, coba bayangkan kalo enggak? Bayi elu bisa mati sebelum bisa menghirup udara bebas di alam dunia ini! Paham kagak, lu?” Om Jaka jadi emosi beneran gegera Ramzi kekeh pada pendiriannya.


Ramzi terdiam, dia mencerna semua kata-kata Om Jaka. Suster yang berdiri diantara mereka jangan ditanya gimana tampangnya, dia udah pucet dari tadi menyaksikan perdebatan dua orang laki-laki di depannya itu. Boro-boro mau mengingatkan untuk jangan ribut, mau napas aja kayaknya susah tuh suster saking takutnya. Kesian ya?🤣🤭


“Kalo elu masih ngeyel juga nggak nurut sama kata-kata gue, elu bawa aja bayi elu keluar dari ruangan itu sekarang! Sekalian bawa Sofi juga pergi dari rumah sakit ini! Gue kagak mau peduli lagi sama anak dan bini elu! Terserah, itu bukan urusan gue!” Lanjut Om Jaka dengan nada masih menyisakan emosi walau tak setinggi tadi.


Perlahan Ramzi tersadar, ia lupa bahwa baru saja ia berjanji pada Tuhan jika dirinya akan merubah semua sikapnya. Ramzi menghela nafas. “Maaf, Om. Aku hanya – “


“Suter, maafin dia ya?” Pangkas Om Jaka beralih pada suster yang masih kelihatan tegang. “Tolong maklumin, dia lagi shock.”


Suster mengangguk samar, Om Jaka mempersialkan suster itu pergi dengan isyarat tangannya.


“Sekali lagi maafkan aku, Om.” Lirih Ramzi menatap Om Jaka menyesal.


“Makanya jangan ngeyel mulu, lu. Kalo mau ngomong itu dipikir dulu!”


“Iya, Om. Aku tau aku salah, aku terlalu takut akan kondisi anakku.” Mengusap wajahnya gusar. “Kalo gitu Om mau kan temenin aku ke ruangan Sofi?”


“Hem! Tapi awas aja lu kalo nyampe sana bikin gue emosi lagi, lama-lama gue tonjok beneran lu!” Sedikit mengancam untuk memberi peringatan.

__ADS_1


“Nggak Om, aku janji akan menuruti perkataan Om Jaka. Makasih udah peduli pada kami, Om.” Uca Ramzi bersungguh-sungguh. “Ya udah, kita pergi sekarang Om.” Melangkah gontai mendahului Om Jaka.


“Hoy! Mau kemana lu jalan kesitu?” Panggil Om Jaka.


Ramzi berbalik. “Menemui Sofi, Om.”


“Kesana ruang mayat! Noh!” Menunjuk papan penunjuk arah di perbatasan lorong.


Ramzi mendengus pelan menyadari kekonyolannya, mengambil arah kiri sesuai papan penunjuk ruangan ICU berada.


“Dasar sultan brewok songong! Badan aja lu gede, otak lu ciut kayak idung marmut!” Cebik Om Jaka mengikuti langkah Ramzi.


Ruangan ICU terdiri dari beberapa kamar dan terletak beberapa blok dari ruang NICU. Namun tak sampai lima menit mereka sudah hampir sampai disana. Dari kejauhan terlihat seseorang yang juga sedang berjalan menuju ruang ICU, langakahnya terhenti ketika melihat Om Jaka yang berjalan beriringan dengan seorang laki-laki yang tak dikenalnya.


“Om?” Sapa Mirza namun matanya sekejap tertuju pada Ramzi.


“Eh, Za?” Balas Om Jaka. “Sendirian lu?”


Mengangguk masih memindai Ramzi yang memang asing baginya, begitu juga sebaliknya.


“Oya, Za. Ini Ramzi suaminya Sofi. Ram, ini Mirza keponakan gue.”


Mendengar kata Mirza disebut, darah Ramzi seolah blukutuk-blukutuk hampir mendidih. Bagaimana tidak, ia pernah mendengar cerita mengenai hubungan istrinya dengan Mirza dari Azad beberapa waktu yang telah lalu saat dirinya baru saja menikah dengan Sofi. Emosi sudah pasti, karena menurutnya Mirza turut serta dalam kehancuran hidup istrinya. Namun setelah dia ingat kembali janjinya pada Tuhan selepas shalat dzuhur tadi, perlahan ia tekan perasaannya. Lagi pula ia menyadari Hanson yang lebih berhak disebut ba**sat karena sudah berkali-kali meniduri istrinya dan mencampakkannnya begitu saja. Diam-diam Ramzi justru merasa malu karena kelakuan istrinya juga sebenarnya sangat buruk di masa lalunya.


“Emh, senang bertemu denganmu.” Mengulurkan tangan.


Sejenak terdiam, Mirza juga sejujurnya agak kaget waktu Om Jaka bilang laki-laki yang bersamanya itu adalah suaminya Sofi. Namun tentu saja perassaan Mirza santai karena sudah berdamai dengan masa lalunya.


“Sama-sama.” Balas Mirza singkat saja.


Meski keduanya berusaha bersikap tenang nyatanya Om Jaka mampu membaca ketidaknyamanan yang sempat hadir diantara mereka.


“Lu bedua pada kenapa? Kenalan kok malah sambil mrengut gitu tampangnya? Senyum dong!” Menepuk pundak Ramzi. “Masa lalu biarlah masa lalu, fokus ke masa sekarang dan masa depan aja. Perbaiki semuanya biar hidup kalian lebih baik lagi. Jangan kebenyakan liat ke belakang,ntar nabrak.”


Seutas senyum terukir di bibir Mirza dan Ramzi bersamaan. Berdamai dengan masa lalu memang bukanlah hal yang mudah. Hanya orang yang berbesar hati yang mampu melakukannya.


-


-


note ; Ruang NICU atau Neonatal Intensive Care Unit adalah ruang perawatan intensif di rumah sakit yang disediakan khusus untuk bayi baru lahir yang mengalami gangguan kesehatan. Umumnya bayi dimasukkan ke ruang NICU pada massa 24 jam pertama setelah lahir.(source ; google)


❤️❤️❤️❤️❤️


Maafan othor ya…. up nya telat banget🙏🙏


Anak bontot othor baru sakit nih, biasalah anak laki kebanyakan jemur main layangan jadi demam deh. Keknya belom lulus untuk disebut sebagai alay (anak layangan) deh dia, minta doanya ya biar anak bontot othor sehat kembali.😇😇


Bedewey, selamat hari kemerdekaan ya untuk semua rakyat negri ini💟💟💟


Semoga kita bisa merdeka dari segalam macam rasa takut dalam diri.


Dirgahayu Indonesia, Dirgahayu bangsaku


I ❤️ Indonesia


__


Like🤩


Komen😍

__ADS_1


Vote😉


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2