
Hari-hari berlalu, Mirza tetap menjalani runitasnya seperti bisa, namun ketika pulang ke rumah ia kembali menjadi pribadi yang pendiam. Tentu saja Bu Een tak tahan dengan semua itu, ia merasa tak ada yang salah dengan tindakannya selama ini.
“Mirza, ibu mau bicara,” berseru pada Mirza yang baru pulang sore itu.
Menghentikan langkahnya dengan malas, “soal apa?”
“Duduk dulu,” menunjuk sofa ruang tengan dengan matanya. “Kamu nggak bisa bersikap seperti ini terus pada ibu,” ujar Bu Een pada Mirza yang sudah mendudukan dirinya.
“Seperti ini gimana maksud ibu?” menyahut acuh.
“Kamu mendiamkan ibu seolah ibu berbuat salah padamu, padahal sudah jelas-jelas ibu melakukan apapun semuanya demi kebaikan kamu.”
“Bu, sudah. Aku mohon, jangan bahas masalah itu lagi.” Mirza bangkit, “sebaiknya ibu persiapkan diri ibu karena besok ibu akan dijadwalkan menjalani operasi, aku sudah menghubungi dokter Vivery.”
Terperanjat kaget, “kenapa kamu nggak bilang sebelumnya sama ibu? Kamu nggak bisa mengambil tindakan tanpa persetujuan ibu, karena syarat yang ibu ajukan belum bisa kamu penuhi.”
Menghela napas kasar, mengumpulkan segenap ketegaran. “Aku akan berpisah dengan Via,” ucap Mirza tanpa melihat pada ibunya. Ia tak ingin menunjukkan himpitan rasa sesak yang memenuhi dadanya.
“Apa ibu bisa mempercayai ucapanmu?” bartanya penuh keraguan, sebab walau bagaimanapun Bu Een tau Mirza sangat mencintai Via, selama bertahun-tahun ia tak mampu memisahkan mereka meski sudah dengan berbagai cara ia coba.
Menoleh dengan tatapan dingin,”apa aku perlu bersumpah untuk itu?” balik bertanya, “kami akan resmi berpisah setelah anak kami lahir.”
Rasanya Bu Een ingin bersorak sambil lompat-lompat kegirangan mendengarnya. Andai saja kakinya nggak sedang sakit, dia pasti melakukan itu. Bu Een tersenyum puas penuh kemenangan, walau ia harus menderita terlebih dahulu dan bertaruh nyawa masuk ke dalam kolong truk, namun semua itu tak sia-sia, dia berhasil membuat Mirza berpisah dengan Via.
“Ibu pegang kata-katamu, dan memang seharusnya kau melakkannya dari dulu. Karena ia tak pantas untukmu.”
“Pantas atau tidak pantas bukan manusia yang menilai,” sarkas Mirza. “Dan ibu harus tau, selamanya aku akan tetap mencintai Via.”
Tersenyum sinis, “masih saja kamu membelanya, padahal sudah jelas-jelas dia berbuat serong di belakangmu. Apa itu nggak cukup untuk membuat kedua matamu terbuka?”
Menghampiri kursi roda ibunya, “aku menceraikannya bukan kerena itu, Bu. Aku sama sekali nggak percaya Via mampu mengkhianatiku. Kami rela berpisah demi keegosisan ibu!” tandas Mirza dengan perasaan nyeri memenuhi rongga hatinya.
“Kamu bodoh, Za. Cinta sudah membutakan mata dan hatimu. Sudah jelas-jelas buktinya terlihat nyata, masih saja kamu membelanya.” Bu Een terus mencoba memaksakan asumsinya. “Ibu tau siapa laki-laki yang jadi selingkuhan istrimu itu, dia mantan bos diperusahaan tempat istrimu bekerja kan? Mereka memang sudah lama dekat, kamu saja yang menutup mata nggak mau menerima kenyataan. Kamu terlalu naïf sebagai seorang suami Za, terlalu percaya pada istrimu, padahal diam-diam dia menusukmu dari belakang.”
“Cukup, Bu.” Mirza merendahkan suaranya meski perasaan hatinya kian bergejolak, “aku mengenal Via lebih baik dari siapapun. Dia wanita yang setia, jika saja dia mau meghkianatiku kenapa nggak dari dulu ketika sering aku tinggal pergi berlayar? Kenapa baru sekarang dia melakukannya?”
“Karena kamu baru mengetahuinya!” sahut Bu Een cepat, “dan harusnya kamu berterima kasih pada ibu karena sudah membeberkan bukti nayata padamu,”
Melengkungkan senyum sarkas, “sebuah foto bukan berarti apa-apa Bu. Apa jika aku terlihat makan berdua bersama wanita lain, itu juga bisa disebut berselingkuh?”
“Mirza, kamu sudah benar-benar hilang kesadaran. Ternyata pengaruh yang diberikan istrimu sangat kuat,” menggeleng-gelengkan kepalanya menatap anaknya dengan tak habis pikir.
“Justru ibu yang sedang mempengaruhiku” pangkas Mirza. “Jika pun sampai Via benar-benar mengkhianatiku seperti apa yang ibu tuduhkan, aku akan tetap memaafkan dan menerimanya kembali, karena aku sangat mencintainya.” Tandas Mirza penuh kesungguhan.
Melebarkan kedua matanya, “tidak seharusnya kamu berkata seperti itu. seorang istri yang sudah berkhianat, ia akan membawa aib dan kesialan bagi kehidupan rumah tangga.” Terus melontarkan sanggahan karena mulai khawatir Mirza akan mengubah keputusannya.
__ADS_1
“Kenapa tidak? Bukankah Via juga memaafkan dan menerimaku kembali ketika aku mengkhianatinya dulu?” membalas tatapan sang bunda telak. “Dengan cinta dan kebesaran hatinya, Via membuka lebar-lebar tangannya untuk menerimaku kembali, padahal sudah jelas-jelas aku berdosa karena sudah menodai pernikahan kami. Ia relakan hatinya yang teramat sakit untuk memaafkan salahku yang begitu besar, dan dia sama sekali tidak membenci ibu meski ibu jelas-jelas membawa wanita itu masuk ke dalam rumah tangga kami untuk membuat kami berpisah.” Sakit Mirza kian dalam kala harus membuka luka lama yang sudah tersimpan rapat-rapat di dasar ingatannya.
“Itu lain cerita –“
“Pengkhianatan adalah pengkhianat Bu seperti apapun wujudnya. Dan aku melakukannya dengan sadar, berbeda dengan Via. Dia terpaksa mengakuinya karena demi mewujudkan keegoisan ibu!”
Terdiam, Bu Een tak mampu lagi berkata-kata. Bukan karena dia merasa bersalah atau pun menyesal, ia hanya tak tau lagi harus mengeluarkan jurus macam apa untuk meyakinkan Mirza bahwa istrinya benar-benar seorang pengkhianat.
“Tapi ibu tak perlu khawatir, aku nggak akan menarik kata-kataku. Aku akan tetap berpisah dengan Via.” Ucapan Mirza paling tidak mampu sedikit melegakan kekhawatiran Bu Een. “Semoga ibu bahagia, dan setelah ini jangan harap ibu akan melihat senyum terbit di wajahku lagi, karena seperuh jiwaku sudah pergi demi mewujudkan keegoisan ibu atas nama bakti seorang anak pada ibunya.”
Jleb???
Tidak! Bu Een sama sekali tidak merasa ter-jleb, meski ada sedikit kaget dengan kata-kata yang terucap dari anaknya, namun segera ia tepis itu karena dalam kamus hidupnya tak ada kata bersalah ataupun menyesal.
Langkah Mirza yang sudah hampir sampai depan kamar terhenti ketika teringat sesuatu. Ia mumutar tumitnya melihat pada sang ibu, “besok akan ada orang yang akan merawat ibu dan membersihkan rumah. Aku harap ibu tak lagi membuat masalah dengan orang yang sudah bekerja pada kita.”
Bu Een tak menyahut, Mirza melanjutkan langkahnya.
kehampaan memenuhi seisi kamar. Mirza melewati malam-malam panjangnya sendirian dengan kesepian. setiap detak jarum jam terasa seperti ancaman teror baginya, ia benci dengan keputusan yang telah dibuat. ia benci mengatakan akan berpisah dengan Via dan juga anaknya kelak. Mirza berharap waktu berjalan lambat, atau jika mungkin waktu haruslah berhenti berputar agar perpisahan itu tidak benar-benar terjadi.
Jauh di dasar lubuk hatinya yang terdalam, Mirza sama sekali tak meyakini istrinya telah benar-benar memiliki rasa untuk laki-laki lain.Mirza sangat yakin Via adalah wanita yang setia. Semua tuduhan yang ia sangkakan hanyalah ungkapan kekecewaannya yang teramat dalam atas penolakan Via yang tak lagi mau bertahan dalam ikatan suci pernikahan.
Tentu saja hati Mirza sama sakitnya seperti Via, mengapa harus ada perpisahan jika masih saling mencinta?Namun benar adanya, dirinya sungguh tak tega jika membiarkan istrinya tersiksa dengan semua penekanan ibunya. Meski dirinya mampu menjanjikan kebahagiaan, namun Via bukanlah sosok istri yang egois. Dia tak kan mampu bahagia di atas penderitaan sang ibu mertua.
❤️❤️❤️❤️❤️
( Note, untuk malam pertama Hanson dan Rumi maaf ya othor skip aja. Udah nggak usah dibayangin, mereka jelas udah lancar jaya kalo soal begituan, wkwkk)
“Han, kamu lagi apa?” Om Jaka mucul menghampiri anak dan istrinya.
“Eh, udah pulang Beb? Manyahut lantas mencium punggung tangan suaminya.
“Iya, sini Nak ikut sama Papa.” Hendak meraih baby Amara namun Denaya tak mengijinkan.
“Mandi dulu sana, baru boleh pegang baby Amara.”
“Hmm, istrihat bentar Han. Aku kan capek abis muter-muter? Ini semua demi saudara angkat kamu nih, dia yang mau pesta gue yang repot muter-muter kampung ngundangin warga suruh dateng” sungut Om Jaka dengan wajah letihnya.
Denaya malah terkekeh, “salah Bebeb sendiri, kenapa nggak kasih pengumuman di masjid aja biar sekali jalan langsung deh orang satu kampung pada tau!”
Melotot kesal, “lu pikir gue mau ngasih pengumuman innalilllahi? Pake suruh koar-koar di masjid segala?”
“Ish, ngomong pake lu gue lagi, aku jambak mulut kamu ya Beb!” gantian Denaya yang melotot galak, dia paling sebel kalo suaminya itu udah ngomong pake elu gue.
Segera menutup mulut dengan telapak tangannya, “maaf Hani” ucapnya tertahan.
__ADS_1
“Lagian pinter sedikit kenapa sih Beb? Kan sekarang era digital, tinggal kasih pengumuman atau undangan di sosmed aja kan beres? Suruh sapa capek-capek keliling kampung?” Cibir Denaya.
“Eh, Katemi, enak bener ya kalo ngomong? Elu, ehh .. kamu pikir Pak Markun yang sesepuh desa itu punya sosmed? Boro-boro dia punya FB, tweeter, WA, apalagi IG, ngarti HP aja kagak dia. Terus belum lagi Mbah Marjan yang tinggal di ujung kampung sana, Mbah Poniman, Mbak Kasiran, Mbah Kasiman, Kamijan, Kartiman semuanya kagak ngarti HP Katemi …!!” Om Jaka mengomel gemas.
“Terserah kamu deh Bokir, orang kan mana tau anak atau cucunya dari para simbah itu punya sosmed terus kasih tau sama mbahnya mereka?” ngeles menanggapi suaminya.
“Iya kalo punya, kalo kagak? Kalo pun punya belum tentu mereka ada kuota?”
Berpaling karena malas debat dengan suaminya yang lagi nyebelin itu, Denaya menyibukkan dirinya mengajak baby Amara ngobrol.
“Gini nih, kalo bikin acara sukanya dadakan. Tahu buat aja kudu digoreng dulu baru bisa dimakan, ini mau pergi ke Jerman pake repot-repot mau ngadain pengajian, mana nggak ada persiapan. Kayak mau umroh aja pingin ada pengajian segala. Pulang mah pulang aja sono jauh-jauh ke negara elu, kenapa gue yang harus repot?”
Sontak Denaya melirik tajam pada Om Jaka yang ngedumel sendirian, “Bokir, bisa nggak sih nggak usah ngomel terus?” ketus Denaya. “Pengajian ini kan idenya Ayah juga, biar Rumi sama Hanif pernikahannya semakin barokah, biar perjalanan mereka pulang ke Jerman lancar. Kok kamu jadi sewot gitu sih? Kalo nggak mau bantu ya udah, nggak usah ngedumel dong!”
“Bukan begitu Hani Katemiku sayang –“
Berusaha merayu karena istrinya terlajur marah.
“Nggak usah pegang-pegang,” menghindar dari Om Jaka. “aku sebel sama kamu. Bantuin kayak nggak ikhlas gitu.”
“Maaf Han, aku ggak bermaksud begitu kok. Aku cuma –“
“Udah, jangan ngomong lagi.” Pangkas Denaya. “Nih jagain dulu baby Amara, aku mau lihat kerjaan orang-orang dulu di depan.” Menyerahkan baby Amara pada Om Jaka.
Menerima buah hatinya dengan legkungan senyum lebar, namun tak dapat menahan diri untuk tak ngedumel setelah Denaya melangkah. “Tadi katanya nggak bloleh? Suruh mandi dulu lah apalah, sekarang malah dikasihin.”
“Bebeb!” Denaya berbalik.
Om Jaka kaget, “Iya Hani Kemiku sayang …” udah salah tingkah karena takut Denaya mendengar gerutuannya.
“Mirza sama Via diundang juga kan?”
Bernapas lega, ternyata istrinya tak mendengar dia ngedumel. “Diundang kok, Danar juga. Aku udah telpon mereka, Han.”
Tersenyum kemudian pergi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai, readers kesayangan ....
othor up 2x yaa, bukan karena rajin tapi karena belum kelar tuh episode sebelumnya keburu ngejar waktu. alhasil berantakan deh bab 253, tapi udah othor edit lagi kok. Maafkan othor yaa 🙏🙏
terima kasih readers setia yang udah selalu kasih like, dan votenya juga. meski masih ada yang belum mau komen, nggak papa deh othor tungguin komennya ... 😊😊
buat akak sesama othor juga, makasih banyak... 🙏🙏🙏
__ADS_1
I ❤️ you semuanya 🤗🤗🤗😘😘😘