TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
80 #OD


__ADS_3

Suster baru saja keluar ruangan IGD ketika Azad selesai dengan telponnya.


“Gimana kondisi kakak saya, Sus?” Tanya Azad pada Suster.


“Sudah membaik. Nanti begitu infusnya habis sudah boleh dibawa pulang kok.” Terang Suster.


“Terima kasih, Sus.”


Suster pun berlalu, Azad lekas menemui Sofi yang masih tergolek di ruang IGD Rumah Sakit Almera.


“Dari mana aja sih kamu?” Tanya Sofi sedikit ketus.


“Kenapa memangnya? Kakak mau ke toilet lagi?” Azad malah balik tanya.


Sofi melengos, terlihat kesal karena sejak dari ia masuk IGD Azad baru menemuinya.


“Beruntung Kakak tertolong, coba kalo nggak?”


Sofi cuek tak mau dengar kata-kata Azad.


“Aku masih penasaran kenapa Kakak tiba-tiba kena diare?” Ucap Azad menyelidik.


“Aku juga nggak tau. Memangnya kamu pikir aku mau kayak gini?” Sahut Sofi masih dengan nada yang sama, ketus.


Azad masih menaruh curiga pada kakaknya sendiri, dia sempat kebingungan juga ketika baru datang tadi susuter menanyainya penyebab mengapa Sofi bisa kena diare.


“Suster, tolong kakak saya.” Azad berjalan panik sambil menggendong Sofi masuk ke IGD beberapa jam lalu.


Dua orang perawat jaga dengan sigap mempersiapkan brangkar dan Azad segera meletakkan Sofi disana.


“Kenapa Kakak Anda?” Tanya seorang perawat laki-laki.


“Dia terkena diare, sepertinya dia kehabisan banyak cairan. Tolong dia!”


“Baik, kami akan segera lakukan penanganan.”


“Ah, tapi dia sedang hamil. Tolong perhatikan juga kehamilannya, jangan sampai kenapa-napa.” Ucap Azad cemas.


“Baik kami mengerti.”


Perawat laki-laki itu menarik gorden pembatas brangkar tempat Sofi berbaring dengan meja dimana seorang suster duduk di kursi untuk mencatat data tentang pasiennya sementara Sofi masih saja merintih merasakan perutnya yang terus saja mendidih.


“Apa kakak Anda mempunyai riwayat sakit yang berkaitan dengan pencernaan sebelumnya?” Tanya Suster.


“Nggak, dia hanya terkena diare saja beberapa saat lalu.”


“Apa yang dia konsumsi hari ini?”


“Seingat saya hanya nasi saja.”


Suster masih melanjutkan dengan beberapa pertanyaan lagi dan setelah selesai Azad dipersilakan keluar. Pada saat yang sama Tuan Husein menelponnya untuk menayakan keberadaan Sofi. Azad tak berkata banyak, juga tak menceritakaan tentang kondisi kakaknya yang sedang terkena diare. Sungguh penyakit yang tidak elit sama sekali untuk diceritakan, pikir Azad. Lebih dari itu, dia hanya tak mau jika orang tuanya kepikiran akan kondisi kakaknya. Azad hanya mengatakan mereka akan pulang malam ini juga.


Ponsel Azad dalam saku kemejanya bergetar lagi, ternyata itu dari ayahnya lagi. Azad melangkah keluar.


“Mau kemana?” Tanya Sofi.


“Papa nelpon.” Sahut Azad pendek lantas menerima panggilan Tuan Husein agak jauh dari ruang IGD.


“Zad, jam berapa kamu akan sampai rumah?” Nada suara Tuan Husein terdengar khawatir.


“Kenapa memengnya, Pa? Kami sekarang sudah dalam perjalalan.”


Tuan Husein tak langsung menyahut, sementara terdengar samar suara Nyonya Husein dari belakang yang meminta untuk bicara.


“Azad, ini Mama.”


“Iya, Ma. Ada apa? Apa Papa sakit lagi?” Azad cemas.


“Tidak, Papa baik-baik aja. Mana Sofi?”


Kali ini Azad yang diam, “masih tidur, Ma” Jawab Azad akhirnya beralasan.


“Oh.” Terdengar suara Nyonya Husein mendesah lirih. “Zad, Utusan dari keluarga Alatas baru saja kemari, mereka mengatakan kita harus mengosongkan rumah hari ini juga.”


JLEDER!!


“Apa, Ma?” Azad kaget. “Apa mereka sudah sinting? Enak saja mau ngusir kita gitu aja! Nggak bisa! Mama sama Papa pokonya jangan pergi sebelum aku sama Kak Sofi datang.” Azad mulai emosi.


“Tapi mereka masih berjaga di luar bersama beberapa anak buah Tuan Alatas lainnya untuk memastikan kami pergi sekarang juga.” Suara Nyonya Husein terdengar serak, ia mungkin sudah mulai menangis.


“Mama tenang ya, saya akan coba hubungi Kak Ram.”


KLIK


Azad langsung memutuskan sambungan dan lekas menghubungi nomor Ramzi, namun sampai beberapa kali panggilan tak juga diangkat sehingga membuat Azad jengkel. Ia pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Ramzi.


Kak Ram, saya mohon pada Kak Ram untuk berbelas kasih pada keluarga saya. Jika sampai ada apa-apa dengan papa dan mama saya akibat pengusiran dari keluarga Kak Ram, maka saya akan membuat perhitungan dengan keluarga Kak Ram. Sekarang saya sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta bersama Kak Sofi. Semoga ini menjadi jalan terbaik untuk kita semua.


“Bapak Azad Zamzami Husein?” Panggil Suster yang tiba-tiba berdiri di belakang Azad.


“Ya?”

__ADS_1


“Silakan ke bagian administrasi, Kakak Anda sudah boleh pulang sekarang.”


Azad mengangguk dan segera menuju ke bagian administrasi seperti yang diminta suster tadi.


_______________


“Lama banget sih kamu, Din? Cuman belanja segitu aja nyampe sore!” Semprot Bu Een yang melihat Udin masuk, sedangkan dia sendiri lagi rebahan di sofa depan TV.


“Itu toko kenapa jam segini udah tutup, Bu?” Udin balik nanya heran.


“Kelakuan si Jaka! Gegara tadi aku mules bolak balik WC, semua yang beli malah nggak pada bayar!” Bu Een bangun pasang tampang kesal demi mengingat kelakuan Om Jaka.


Udin nyengir mendengarnya karena majikannya itu paling anti sama orang hutang di tokonya, tapi sekarang malah pembeli main ambil-ambil aja semaunya tanpa bayar dulu.


Bu Een mengambil kasar nota belanja yang dari tadi dipegang Udin.


“Kenapa kamu senyem-senuym? Seneng liat saya menderita?” Semprot Bu Een jengkel.


“Nggak, Bu.” Sahut Udin cepat. “Terus sekarang gimana keadaan Ibu, udah baikan?”


“Mendingan.”


“Mau saya antar berobat apa gimana?” Tanya Udin perhatian.


“Nggak usah, aku udah minum semua obat mencret dari yang kapsul sampe yang puyer, tablet, sirop semua udah aku minum.”


“Waduh!” Udin kaget.”


“Ati-hati Bu, nanti OD!” Udin merasa khawatir.


“Majikan kamu kan sakti, Din!” Celetuk Om jaka yang baru nongol.


Udin segera menghampiri Om Jaka untuk menyalaminya.


“Gimana kabarnya, Om? Sehat?” Udin berbasa-basi.


“Gue sih selalu sehat, Din. Majikan elu tuh yang kasihan, moncor-moncor terus dari siang tadi.”


“Ini gara-gara kamu! Sakit perutnya sih nggak seberapa, tapi harus nanggung rugi karena dagangan dijarah sama orang-orang itu yang bikin sayq darah tinggi.” Bu Een ngomel-ngomel.


“Ya elah, ribet banget sampean jadi oang, Yu! Besok kalo ketemu orangnya tinggal sampean tanya ngambilin apa aja terus tagihin uangnya. Beres kan?” Sahut Om Jaka enteng.


“Enak banget ya kalo ngomong kamu, Jak?” Bu Een makin kesel. “Kalo mereka nggak ngakuin semua gimana? Tetep rugi kan aku?”


“Ya anggep aja amal. Lagian jadi orang jangan pelit-pelit Yu, nanti kuburannya sempit!” Kelakar Om Jaka.


“Ya kalo luas namanya lapangan bola!” Bu Een memonyongkan bibirnya sambil membuang muka.


“Eh, mau kemana kamu?” Teriak Bu Een.


Om Jaka dan Udin kontan menghentikan langkahnya..


“Nanya gue apa Udn?”


“Kamu!” Sahut Bu Een sambil melotot pada Om Jaka. “Sini dulu”


“Kalo saya udah boleh pergi kan, Bu?” Tanya Udin.


“Udah, pergi sana yang jauh!”


“Yess! Berarti saya udah boleh pulang ya, Bu?” Udin kegirangan dan langsung ngacir tanpa menunggu jawaban majikannya.


“Duduk!” Perintah Bu Een sambil melotot lagi.


“Demen banget Yu, sampean itu melotot-melotot gitu? Ntar kalo biji mata sampean ampe jatoh gimana?”


“Ngapain kamu dateng ke sini? Tumben, ada perlu apa?” Tanya Bu Een. “Jangan bilang mau minta uang sewa sawah yang di deket kebon jati itu ya? Tahun ini sampe 2 musim ke depan itu jatah bagianku, bagian kamu nanti dua tahun lagi!”


Om Jaka malah nyengir.


“Gue kadang bingun sama sampean, Yu. Jadi orang kok curigaan amat? Gue dateng ke kampung ditanya mau ngapain, gue ngga pulang ditanyain kenapa nggak pulang-pulang?“


“Ya kan aku jelasin, jangan sampe kamu minta duluan! Itu sawah warisan orang tua kita biar aku yang atur, kamu nggak usah ikut campur.”


“Bodo amat! Atur-atur sesuka hati sampean, Yu!” Om Jaka cuek. “Lagian gue kesini itu mau ada perlu lain seklaian anterin Mirza kemaren baru dari Jakarta.”


“Apa? MIrza abis dari Jakarta? Kok dia nggak bilang sama saya sih?” Bu Een ngedumel heran.


“Orang cuman sehari doang dia karena abis medical check up.”


“Dia mau pergi berlayar lagi?” Bu Een sedikit kaget.


“Katanya sih begitu.”


“Cepetan telpon dia suruh ke sini!” Perintah Bu Een.


“Sampean mau ngapain, Yu?”


“Saya mau bilangin dia jangan pergi. Kalo dia pergi gimana dong nanti si Sofi mau ngelahirin? Masa dia nggak ada?” Bu Een heboh sendiri.


“Lah, ya biarin aja! Si Sofi mah beranak ya tinggal beranak aja, apa urusannya sama Mirza?”

__ADS_1


PLAK!


Bu Een mengeplak kepala Om Jaka.


“Adaw!!” Om Jaka mengelus kepalanya yang barusan dikeplak kakaknya.


“Kamu itu ya, mikir dulu makanya kalo ngomong! Dimana-mana kalo istri mau ngelahirin pasti maunya ditungguin suaminya. Nah kalo Mirza nggak ada kan kasihan Sofi, ntar sapa yang nungguin dia?” Bu Een sebel bukan main.


“Emang si Mirza suaminya Sofi?”


“Tapi kan Sofi lagi hamil anaknya Mirza!”


“Yakin bener sampean, Yu?”


“Iya, dong! Sofi itu lagi ngandung calon cucu saya, darah dagingnya Mirza.”


“Eh, Yu. Cucu sampean itu calon bayi yang ada di kandungannya Via tuh! Dia asli darah dagingnya Mirza 100% dijamin halal!” Om jaka terbawa emosi sampe keceplosan ngomong.


“Apa? Kamu bilang apa tadi?” Bu Een keget dan nggak yakin dengan ucapan Om Jaka yang barusan didenagrnya.


Waduh! Gemes banget dah ah sama si mbakyu ini, gue ampe keceplosan kan gara-gara kebawa kesel! Harusnya biar Mirza sendiri yang bilang sama emaknya!


“Eh, Jaka! Kamu ngomong apa barusan?” Seru Bu Een.


Udah kadung! Gue bilangin aja semuanya sekalian nih!


“Jaka! Kamu dengar nggak aku ngomong?” Bu Een menaikkan volume suaranya beberapa oktaf.


“Iya, gue denger! Tadi gue bilang Via lagi hamil anaknya Mirza.”


“Kamu nggak lagi ngeprank kan?” Bu Een masih nggak percaya. “Nggak mungkin Via hamil. Dia itu udah lima tahun nggak bisa hamil, masa tiba-tiba hamil? Kamu jangan mengada-ada ya?” Bu Een kekeh tetep nggak mau percaya.


“Ya mungkin aja lah, Yu. orang mereka bikin anaknya tiap malem, lagian Via kan punya suami? Masa nggak bisa hamil? Kok sampean kayaknya heran nggak mau terima gitu, sih? Yang harusnya sampean ragukan tuh si Sofi! Dia ngaku-ngaku hami l sama Mirza, sampean percaya gitu aja, padahal nggak kenal siapa Sofi sebelumnya. Terus ini giliran mantu sendiri yang hamil malah nggak percaya. Dasar aneh!” Om Jaka terus nyerocos kesal.


Bu Een Nampak terhenyak mendengar semua kalimat-kalimat pedes Om Jaka.


“Nggak, nggak …” Bu Een bergumam sambil menggeleng seolah mau mengingkari kenyataan bahwa Via telah berhasil hamil.


"Kenap dia bisa hamil …” Bu Een menyandarkan punggungnya pada sandaran Sofa.


Om Jaka hanya melihatnya dengan tatapan nggak habis pikir. Mbakyunya itu bukannya senang mau punya cucu malah kayak orang linglung bgitu. Memang betul-betul aneh.


“Aduuh, Jak…” Tiba-tiba Bu Een meringis memegangi perutya, lalu beralih ke dadanya, lalu memegangi kepalanya sendiri. “Jak, kenapa ini…?”


“Ngak usah acting, Yu!” Cibir Om Jaka yang masih kesal.


“Jak, kepalaku pusing. Kok dadaku juga sesak ya? Perutku juaga mual…..” Bu Een meracau sambil memegangi kepala, dada dan perutnya berganti-ganti.


“Mataku berkunang-kunang, Jak.”


Om Jaka mulai khawatir, sepertinya mbakyunya itu nggak lagi acting.


“Waduh, Yu! Janagn-jangan sampean punya penyakit kombinasi!” Om Jaka mendekat panik.


“Komplikasi, Jak! Kombinasi itu roti. Roti coklat kombinasi keju!”


“Iya begitu maksud gue!” Om Jaka tak hirau, karena panik beneran liat kakaknya. “Sampean sakit beneran ini Yu.”


“Tapi aku nggak punya penyakit, Jak. Ini tiba-tiba aja. Aduuuh, pusing banget Jak! Mual…, hoeeek…” Bu Een seperti mau muntah tapi nggak jadi.


“Lah, Via yang hamil kok sampena yang muntah-muntah sih, Yu? Sini gue pijitin.”


Om Jaka mau mijitin tengkuk Bu Een tapi Bu Een menepisnya.


“Nggak usah dipijitin, kepalaku pening banget. Dadaku sesek ini, tolongin Jak…”Suara Bu Een terengah-engah.


Om Jaka meraba kening Bu Een yang terasa dingin kaya kulkas.


“Waduh, jangan-jangan bener kata si Udin! Sampean Over dosis obat mencret!” Seru Om Jaka. “Aduh, ada-ada aja sih sampean Yu! Nggak keren banget masa bisa OD obat mencret?!”


Om Jaka terus ngomong sendiri sementara Bu Een udah lemes dengan mata yang yang setengah tertutup.


“Yu! Jangan mati dulu,dong! Ya elah, Mbakyu!” Om Jaka panik beneran sambil mengguncang-guncang pundak Bu Een. “Ngerepotin gue aja sampean Yu!”


Om Jaka segera mengeluarkan ponselnya ditengah-tengah kepanikannya.


_________


Halo Kak, maaf ya telat banget up nya. 🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Maaf juga kalo agak berantakan, author lagi nggak enak badan nih dari pagi. Tapi sayang kalo hari ini nggak up. Semoga nggak terlalu mengecewakan ya….😅😅😅😅😄😄😄


maafkan juga yang belum sempat author feedback ya Kak. slowly but sure pasti feedback karya akak author kok 🤩🤩🤩


Terima kasih yang udah selalu setia dukung Via dan Mirza.🙏🙏🌹🌹🌹🌹


Kita tungguin kalanjutannya Bu Een kenapa itu ya Kak?😂😂😂


Like, komen, rate 5 dan vote jangan lupa ya Kak.😍😍😍


Luv u all 🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2