
Sofi duduk di samping ranjang Arfan dengan raut sendu, Ramzi mengusap lengannya untuk menghibur sang istri. Mereka menunggu dr. Reza yang tengah mengecek keadaan Arfan.
“Bagaiman, Dok?” Sofi tak sabaran sesaat setelah dokter itu selesai.
“Semuanya berangsur membaik,” ucap dokter Reza.
“Syukurlah,” Sofi membelai lembut pipi putra kesayangannya. “Kapan dia boleh pulang, Dok?”
“Besok atau lusa sudah boleh pulang. Hanya saja ada beberapa hal yang harus Anda berdua perhatikan baik-baik. Karena butuh waktu lama bagi penderita gegar otak untuk bener-benar pulih seperti sedia kala.”
“Dokter tak perlu khawatir, saya akan melakukan yang terbaik untuk anak saya,” sahut Sofi.
Dokter Reza mengangguk, “pola tidurnya mungkin akan sedikit terganggu, jadi disarankan lingkungan keluarga harus tenang. Karena obat yang paling baik untuk penderita gegar otak adalah istirahat, baik secara mental maupun fisik. Karena ketika mendapatkan banyak istirahat, otak akan menyembuhkan dirinya sendiri.” Papar dokter Reza.
“Saya pastikan anak saya akan cukup istirahat, Dok.” Sahut Sofi lagi.
Dokter Reza tersenyum, lantas pamit keluar ruangan. Sofi duduk menghela napas lega.
“Sofia, aku rasa kamu nggak keberatan kan kalau papa menjenguk Arfan?” pertanyaan Ramzi membuat Sofi menoleh.
“Papamu?”
Mengangguk, “Ya, sejak Arfan masuk rumah sakit papa hampir setiap hari datang, cuman aku nggak ngijinin papa dulu karena aku pikir –“
“Tindakanmu sudah benar, Kak,” kembali memalingkan wajahnya, diusapnya lembut kepala mungil yang terbungkus perban di hadapannya. Sofi sungguh hampir tak dapat memaafkan dirinya sendiri atas kebodohannya meninggalkan Arfan hari itu. Butuh waktu beberapa lama baginya untuk berdamai dengan perasaannya sendiri dan berusaha tak menyalahkan siapapun serta menerima musibah ini sebagai goresan takdir bagi bayinya yang malang.
“Sof –“ Ramzi mendekat namun Sofi segera bangkit.
“Aku mau lihat papa dulu,” mengusap genangan air di kedua pelupuk matanya. “Pagi tadi mama bilang Papa sudah diijinkan pulang hari ini,” gegas melangkah keluar tanpa menunggu jawaban Ramzi.
Tuan Husein memang dirawat di rumah sakit yang sama dengan Arfan, namun Sofi belum memberitahukan soal musibah yang menimpa putranya itu pada sang ayah. Ia khawatir kondisi papanya yang baru pulih pasca serangan jantung akan kembali memburuk. Nyonya Husein sudah wanti-wanti agar Sofi dan Ramzi merahasiakan hal ini, juga dari Azad dan Jane agar tak mengganggu bulan madu mereka.
Pintu ruang rawat Arfan terbuka setelah terlebih dulu terdengar ketukan pelan. Tuan Alatas muncul bersama Gerald di belakangnya. Ramzi berdiri, apa mereka gak ketemu tadi? Batinnya, mengingat Sofi juga keluar ruangan belum terlalu lama.
“Ram, bagaimana keadaannya?” Tuan Alatas berjalan mendekat ke bibir ranjang. Netra abu-abunya menyapu seluruh tubuh mungil yang terbaring lemah itu.
“Arfan sudah membaik, Pa. dokter bilang besok atau lusa sudah diperbolehkan pulang.”
“Aku sudah menyiapkan kamar khusus untuknya,” ucap Tuan Alatas tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sang cucu yang sangat pulas. “Aku juga sudah menyewa seorang pengasuh untuk menjaganya.”
Ramzi tertegun, ia tau niatan baik papanya. Setelah kejadian nahas itu sang ayah pastilah dirundung rasa bersalah. Namun ia juga tak bisa langsung setuju dengan semua rencana itu sebelum membicarakannya dengan Sofi.
Sebuah panggilan masuk di ponselnya mengurungkan lisan Ramzi yang baru saja akan mengucapkan sesuatu. Ia melihat nama yang tertera pada layar, gegas keluar ruangan melewati Gerald yang sedari tadi berdiri di dekat pintu.
Agak menepi dari teras ruangan, Ramzi berbicara dengan raut serius. Cukup lama ia berbincang sampai tak menyadari Gerald berada tak jauh darinya.
“Kau nguping pembicaraanku?” menatap curiga begitu berbalik menyudahi percakapannya di telepon.
“Maaf, aku tak sengaja. Tadi aku keluar untuk memberi kesempatan pada Tuan Besar agar bisa bersama cucunya.”
“Kamu mendengar semuanya?” Ramzi masih penasaran.
Menggeleng, “hanya sedikit, maafkan saya Tuan Muda.”
Menghela napas. “Aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mengembalikan harga saham ALS Corporindo kembali stabil,” ungkap Ramzi. “Aku gak mau papa semakin terbebani dengan semua keadaan ini,” tersenyum samar. “Rencana yang aku buat terpaksa harus aku patahkan sendiri.”
“Aku rasa prioritas Tuan Besar sekarang adalah kesembuhan anak Anda, Tuan. Bukan yang lain.”
Menatap Gerald lurus, ia tahu Gerald mengenal papanya sama baiknya dengan dirinya. Yang dikatakan Gerald benar, sikap papanya sekarang jauh melunak sejak kejadian itu. Meski rasa sesak di hati Ramzi, mengapa harus Arfan yang berkorban?
“Oya, omong-omong aku senang melihatmu bersama papa lagi,” ujar Ramzi kemudian.
“Norman membantuku bicara pada Tuan Besar.”
“Ya, memang disanalah tempatmu,” menguntai senyum penuh kelegaan, namun tak lama senyumnya berganti raut kekhawatiran ketika melihat Sofi. Gegas Ramzi berjalan menuju ruangan diikuti Gerald.
“Kak, kau meninggalkan Arfan sendirian?” tanya Sofi heran sebelum tangannya menyentuh handle pintu, terlebih lagi dia lihat Gerald bersama suaminya.
Ramzi hanya menggeleng.
Sofi membuka pintu dan mendapati Tuan Alatas tengah duduk di samping ranjang Arfan. Ia melempar tatapan tajam pada sang suami.
“Papa hanya ingin melihat keadaan Arfan,” ucap Ramzi.
“Aku pikir kau mengrti ucapanku tadi pagi,” lirihnya tertahan.
Tuan Alatas berdiri, “apa kau ingin melarangku bertemu dengannya?” bertanya dengan nada datar.
“Aku tidak pernah melarang, tapi bukankah Anda sendiri yang tidak menginginkan kehadiran anakku di istana megah Anda itu?” balik bertanya dengan senyum tipis. “Lalu sekarang Anda datang melihat putraku, untuk apa? Anda mau tau apa dia masih hidup atau tidak?”
“Sofia, jangan bicara seperti itu,” Ramzi coba menenangkan.
“Kenapa, Kak? Apa aku salah bicara seperi itu? apa aku salah bertanya pada papamu untuk apa maksud tujuannya datang kemari?”
“Pelankan suaramu, nanti Arfan bisa bangun.”
Tuan Alatas barada di situasi sulit, “Gerald, ayo kita pergi,” ucapnya pada Gerald tanpa mau meldeni Sofi. “Ram, jangan lupa.” pesannya sebelum meninggalkan ruangan. “ Aku sudah menyipakan semuanya untuk anakmu, dan aku tidak ingin dibantah.”
Merasa ada yang aneh dengan ucapan ayah mertuanya, “tunggu!” menyusul langkah dan berdiri tepat di depan Tuan Alatas. “Jika itu menyangkut Arfan, maka jangan coba-coba mendikte, karena aku ibunya, aku yang melahirkannya jadi aku yang lebih berhak dari siapapun!”
Melempar pandangan pada Ramzi seolah meminta sang putra untuk menjelaskan pada istrinya itu, namun Sofi sudah menentang lebih dulu.
“Jangan pernah bermimpi Arfan akan kembali ke istana Anda,” ucapan Sofi pelan tapi sangat menusuk. “Semuanya sudah cukup, aku tidak mau dia lebih menderita lagi.”
“Sofia, tapi kita tidak mungkin kembali ke rumahmu. Papamu tidak boleh tau tentang Arfan.” Ramzi mengingatkan.
“Papaku sudah membaik, ia akan pulang sore ini dan aku sendiri yang akan memberitahukannya.”
“Jangan memperburuk keadaan, kesehatan papamu lebih peting.”
“Keselamatan anakku juga penting,” balas Sofi. “Aku nggak kan membiarkan nyawanya teracam lagi dengan kembali ke rumahmu, Kak. Orang-orang disana tidak menjaganya dengan baik, bahkan mengaku salah dan meminta maaf atas perbuatannya pun tidak,” melirik tajam pada Tuan Alatas.
Tak ingin berlama-lama berada ditengah perdebatan itu, Tuan Alatas mengayun langkahnya keluar ruangan, Gerald segera mengekor.
__ADS_1
“Kau liat sendiri tadi kan? Papamu sama sekali tidak merasa bersalah,” sinis Sofi.
Mengusap wajahnya kesar, penat dengan perdebatan itu. “Kita sudah pernah membicarakannya kan? Sikap papa itu sudah menunjukkan persaan bersalahnya yang amat mendalam.”
“Tapi aku ingin dia mengucapkannya di depanku!”
“Kau dan Papa sama kerasnya.”
“Tidak, aku jauh lebih baik darinya.” Bantah Sofi. “ Aku sudah menurutimu untuk memita maaf dan mengakui perbuatanku selama ini langsung di depannya, tapi dia seprti tak menghargainya. Bahkan perlakuannya lebih buruk, kajadian ini membuatku sadar papamu selamanya tidak akan menerimaku,” ungkap Sofi getir.
“Kau salah, justru papa sudah membuka hatinya karena kejadian yang menimpa Arfan.” Ramzi meyakinkan. “percayalah, perlahan papa akan menerimamu juga. Kita pulang ke rumah papa setelah dari rumah sakit, kau mau kan?” bujuk Ramzi.
Melengos tak menjawab, berjalan ke dekat ranjang Arfan.
“Kalau kau juga bertahan dengan sikap kerasmu, semuanya tidak akan selesai,” ikut mendekat masih terus mencoba meluluhkan hati Sofi. “Mungkin kau merasa kalah karena harus mengalah dari sikap keras hati apa, tapi sesungguhnya kau lah pemenangnya. Karena kau bisa menaklukkan egomu sendiri.”
“Jangan merayuku,” menepis tangan Ramzi yang menyentuh bahunya.
“Aku megatakan yang sebenarnya, coba kau pikir lagi,” sedikit membungkukkan badannya untuk tepat berada di samping wajah sang istri.” Semuanya demi Arfan, demi kebahagiaan rumah tangga kita. Karena aku sangat mencintaimu,” Ramzi menatap manik coklat yang perlahan meredup itu.
Sofi tak menyahut, masih menahan kesal atas sikap ayah mertuanya, namun dia tau yang diucapkan suaminya itu benar-benar tulus. Masih ada wkatu sampai besok atau lusa untuknya berpikir.
Tuan Alatas mengambil jalan ke arah kanan setelah bertanya pada bagian receptionis.
“Tuan, apa Anda yakin akan –“
“Sepertinya bukan ke arah ini,” tiba-tiba berhenti membuat Gerald mejeda kalimatnya. Tuan Alatas lalu membaca petujuk arah ruangan demi ruangan berbekal dari informasi yang didapatkannya dari suster. “Oh, ke arah sana,” memutar langkah menuju ruang paviliun 11.
Gerald hanya mengikuti, ia tak ingin bertanya lagi. Mereka tiba pada sebuah ruangan, Tuan Alatas mengetuk pintu setelah yakin dengan ruangan dan nama pasien yang tertera di samping pintu masuk.
Kedua wajah tua yang yang letih sontak menoleh ke arah pintu ruangan yang terbuka. Tuan dan Nyonya Husein tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dengan langkah tenang Tuan Alatas masuk dan berjalan mendekat.
“Aku datang untuk menjengukmu.”
💕💕💕💕💕
Hari ini panen raya para petani empang di kampung Jumilah. Sejak pagi tadi Jumilah sudah sibuk beberes rumah memastikan tak ada pekerjaan yang tersisa ketika ia tinggal pulang. Begitu pun Via dan Mirza, mereka sibuk memastikan semuanya beres. Namun mereka bukan mau ikut Jumilah, melainkan akan menjemput Bu Een untuk membawanya pulang. Ya, hari ini dokter Wahyu sudah mengijinkan Bu Een pulang dan menjalani berorobat jalan, maka dari itu semua keperluan Bu Een harus dipersiapkan dengan baik. Dan berdasarkan hasil musyawarah keluarga, Bu Een akan tinggal di rumah Mirza di kampung Jati Asri. Walau sebenarnya Via menginginkan mertuanya itu tinggal satu rumah dengannya di kota, namun Om Jaka menentangnya, semua itu juga demi kabaikan bersama.
“Ya, halo, Din?” Mirza menerima panggilan telepon dari Udin yang diberi tugas membersihkan rumahnya dibantu Ice Juice.
“Semuanya sudah beres, Mas. Ibu ditempatin di kamar atas kan, dekat kamar Mas Mirza?” Udin memastikan.
“Iya.”
“Oke, Mas. Semua kamar ruangan juga udah rapih dan kinclong. Halaman depan belakang bersih mengkilat.”
Mirza tersenyum, “makasih ya, aku baru mau jalan ke rumah sakit bentar lagi nih.”
“Sip, Mas. Om Jaka, Mbak Denaya sama Pak Haji juga bentar lagi mau kesini.”
Mirza lantas mengakhiri percakapannya. Via sudah berdiri di sampingnya dengan Nala yang sudah tampil cantik.
“Udah siap?” Tanya Mirza.
Mengangguk, “tapi si Jumilah masih belum.”
Via hanya mengangkat bahu, Mirza kemudian keluar kamar melihat Jumilah masih sibuk menyetrika baju di ruang belakang.
“Astaga, Jum. Ngapain kamu?” tegur Mirza.
Menoleh sedikit kaget karena Mirza datang tiba-tiba, “lagi main mobil-mobilan, Mas,” sahutnya dengan senyum lebar. “Ya nyetrika baju lah, Mas. Kok masih nanya sih? Njum gak mau kalo masih ada kerjaan yang belum beres pas Njum tinggal pulang.”
“Tapi ini udah jam berapa, Jum? Keburu siang, aku udah janjian sama dokter Wahyu jam 10 nyampe rumah sakit.” Mirza agak kesal.
“Oh, gitu ya? ya udah deh, ayok!” Jumilah melipat baju terakhir yang disetrikanya. “Tapi ini belum selesai gimana, Mas?”
“Udah tinggal aja, atau kamu jalan sendiri ke terminal kalo masih mau nyelesein itu dulu.”
“Eh, nggak mau! Enak aja, masa udah cantik begini suruh jalan sendirian ke terminal, ntar kalo Njum digodain preman gimana?”
“Ya makanya ayok cepet!” balik badan meninggalkan Jumilah yang buru-buru merapikan meja setrikaan.
Via dan Nala sudah menunggu di depan, Mirza menyusul dengan membawa perlengkapan Nala.
“Jum!” Mirza sedikit berteriak nggak sabaran karena Jumilah belum juga nongol. Diliriknya arloji di pergelangan tangan kiri, pukul 10.12. ”Ya ampun, itu orang ngapain lagi sih?” baru akan menyusul ke dalam namun Jumilah muncul dengan kerempongannya.
“Njum’s coming!” Ujarnya dengan senyum lebar sepeti biasanya.
“Kamu mau pindahan apa gimana? Kok banyak banget bawaannya?” Mirza melihat dua tas pakaian Jumilah yang terisi penuh.
“Ini Njum bawa baju-baju dari Mbak Via yang udah gak kepake, Mas. Mau dibagiin ke tetangga, kan sayang daripada dibuang?”
“Ya udah cepetan masukin ke bagasi!” Sahut Mrza.
“Inces Nala kesayangan, jangan kangen Mbak Njum ya. Mbak Njum janji nggak akan lama kok, kalo udah selesai panen ikan bandeng, Mbak Njum pasti balik lagi ke sini.” Jumilah pamitan sama Nala.
“Jum!” Mirza memberi isyarat dengan matanya untuk Jumilah lekas memasukkan tasnya ke bagasi belakang.
“Iya, Mas. Iya!”
Via hanya senyum, kemudian semuanya segera masuk mobil.
Di ruangannya, Bu Een sudah menunggu dengan suster Ani. Beberapa kali Bu Een melihat ke arah pintu, rautnya agak cemas.
“Suster nggak bohongin saya kan, kalo anak sama mantu saya mau jemput hari ini?” tanya Bu Een.
“Nggak, Bu.” Suster Ani tersenyum. “Kan kemarin ibu denger sendiri waktu Mas Mirza ngobrol sama dokter Wahyu?”
Berpikir sebentar, coba mengingat apa iya kemarin anaknya bicara sama dokter Wahyu soal kepulangannya hari ini? Beberapa saat mencoba, ternyata belum mampu mengingat. Beruntung Mirza segera muncul sebelum Bu Een bertanya untuk kesekian kalinya pada susuter Ani.
Bu Een langsung menyambut, binar matanya berubah takjub ketika melihat Nala dalam gendongan Via.
“Ini –“ Bu Een melihat pada Via dan Mirza.
__ADS_1
“Cucu ibu,” ucap Mirza.
Bu Een lebih mendekat, ia usap lembut kepala Nala yang mengenakan bandana lucu. Via terdiam menyaksikan interaksi pertama kali antara nenek dan cucu itu. “Cantik sekali,” lirih Bu Een tak mengalihkan sedikitpun netranya dari wajah Nala. “Sama seperti ibunya,” melihat pada Via dengan senyuman.
“Namanya Nala,” sambung Mirza.
Nala langsung tersenyum ketika namanya disebut membuat Bu Een makin suka cita pada wajah bisadari kecil di hadapannya itu. “Dia punya lesung pipi kayak kamu,” Bu Een berseru kegirangan seolah apa yang dilihatnya itu adalah suatu keajaiban besar.
Mirza dan Via saling tatap, hati mereka diliputi letupan kebahagiaan. Betapa tidak, Nala yang sejak kelahirannya dulu tak dipandang sedikit pun oleh Bu Een kini seolah seperti menjadi malaikat kecil yang merebut seluruh hati Bu Een.
“Boleh ibu menggendongnya?” bertanya pada Via.
Via mengangguk namun Mirza mengisyaratkan keraguan. “Bu, nanti saja ya.” Mirza coba membujuk, “ibu kan udah mau pulang. Nanti di rumah ibu bisa main sama Nala sepuasnya.”
“Bener ya?” Bu Een meyakinkan.
Mirza mengangguk, “sekarang lebih baik kita temui dokter Wahyu untuk pamitan ya, Bu.” Mirza meraih kedua bahu sang bunda.
“Mari saya antar,” Suster Ani mengambil tas pakain Bu Een kemudian berjalan mendahului menuju ruangan dokter Wahyu.
Tak menghabiskan waktu lama bagi mereka untuk berpamitan, setelah dokter Wahyu memberikan beberapa pesan yang harus dilakukan keluarga selama masa pendampingan pemulihan Bu Een, meraka pun meninggalkan rumah sakit. Dan sepanjang perjalanan, Bu Een tak henti mengajak Nala mengobrol dan becanda. Anehnya Nala kayak nyambung aja dan kadang tertawa melihat tingkah neneknya yang memang mirip anak kecil juga itu, sampai kemudian Nala terlihat rewel.
“Biar ibu pangku, Nala sepertinya mengantuk.” Ucap Bu Een. “Mana botol susunya?”
“Nala minum ASI Bu,” sahut Via.
“Oh, begitu.” Sedikit kecewa karena tak bisa menina bobokan sang cucu dalam pangkuannya.
Mirza melihat dari kaca spion tengah, ia tau ibunya sangat menyukai Nala. “Setelah tidur siang, nanti ibu bisa mengajaknya main lagi,” hibur Mirza.
“Apa Nala sudah diberi makan?” Bu Een kepingin tahu, “nanti setiap hari biar ibu yang nyuapin ya.”
“Belum, Bu. kan belum genap 6 bulan.” Sahut Via.
“Sebentar lagi, Bu. nanti boleh kok ibu yang suapin,” timpal Mirza.
“Kenapa harus nunggu 6 bulan sih? Kamu dulu umur dua hari udah ibu kasih pisang kerok,” Bu Een mulai ngeyel.
“Ya memang anjuran kesehatannya begitu, Bu.” Mirza coba menjelaskan dengan sedikit menoleh pada jok tengah. “Karena organ pencernaan pada bayi belum berkembang optimal sebelum masa 6 bulan.”
“Orang kamu juga sehat-sehat aja kok! “ potong Bu Een. “Mitos itu, jangan percaya Via. Kasih anakmu makan nanti ya, biar cepet besar. Jangan dengerin suamimu.”
Via hanya mengulas senyum, kalo udah ngeyel begitu rasanya ibu mertuanya memang sudah kembali pada sifat aslinya. Tak berapa lama mereka sampai di kampung Jati Asri, mobi Mirza memasuki halaman rumahnya yang luas. Rumah yang sudah sekian lama ditinggalkannya begitu saja karena persengketaan antara ibu dan anak yang tak kunjung usai.
“Kok ada tenda segala, Mas?” heran Via ketika melihat tenda dan banyak kursi yang sudah berderet rapi.
“Nggak tau, Sayang. Udin pagi tadi nggak bilang apa-apa,” gegas turun membukakan pintu untuk ibu dan istrinya.
“Ini rumah kamu, Mirza?” Bu Een terpaku memandangi bangunan dua lantai di depannya.
“Ini rumah ibu,” jawab Mirza.
“Rumah ibu?” heran.
“Iya.”
“Apa ibu tinggal disini sebelum di rumah sakit?” masih dengan raut keheraan yang terlukis jelas di wajah tuanya.
Mirza hanya mengangguk karena tak ingin menjawab dengan kalimat yang lebih panjang sehingga membuat ibunya bertanya lagi.
“Halo, Mbakyu. Selamat datang … “ beruntung Om Jaka segera keluar diikitu Udin dan Pak Haji Barkah
Bu Een nampak masih kebingungan.
“Za, kenapa emak lu kayak orang linglung begitu?” bisik Om Jaka.
“Bu Endang, apa kabar? Sehat-sehat kan?” Haji Barkah tak ketinggalan menyapa sebelum Mirza menyahuti Omnya.
“E –he, sehat Pak Haji,” tersenyum dan mengalihkan perhatiannya dari pandangan heran akan rumah itu pada wajah kharismatik Pak Haji.
“Syukur Alhamdulillah.”
“Emh, ini kok ada tenda segala kenapa ya?” tanya Mirza.
“Oh iya, aku belum bilang.” Sahut Udin. “Jadi Pak Haji nanti malem mau ngadain acara syukuran buat kesehatan ibu sama sekalian tahlilan buat rumah ini, Mas. Akan udah lama nggak ditempatin.”
“Kamu nggak keberatan kan, MIrza?” timpal Pak Haji.
“Oh, nggak. Nggak sama sekali, malah saya sangat senang.”
“Jadi Pak Haji nagadain syukuran buat nyambut saya?” sela Bu Een dengan senyum agak tersipu.
“Lebih tepatnya untuk mendoakan agar Bu Endang selalu dieri kesehatan, karena sekarang sudah kembali ke tengah-tengah keluarga lagi.” Pak Haji coba meluruskan.
“Terima kasih ya, Pak Haji. Saya jadi merasa sangat tersanjung sekali,” menunduk dengan senyum makin tersipu.
“Hem, emak elu kumat ganjennya deh,” Om jaka ngedumel melirik Mirza.
“Ya, ampun. Kok masih pada di luar sih? Ayok, buruan masuk,” seru Denaya yang menyusul ke halaman. “Vi, Nala tidur tuh kayaknya,” melihat pada Nala.
“Iya, udah dari tadi nih.”
“Ya udah, ayok cepetan masuk. Ngapain masih pada kumpul disini? Aku sama Ice udah siapin makan siang.” mengajak semuanya masuk.
Udin menbantu membawakan semua barang bawaan, mereka menuju ruang tengah untuk istirahat sebentar sambil melanjutkan ngobrol sementara Via membawa Nala ke kamarnya yang dulu di lantai atas ditemani Denaya.
“Rumah ini terlalu besar kalau ditinggali sendiri,” Bu Een menggumam sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. “Kayaknya nggak mungkin kalo saya tinggal disini sebelumnya.”
Kalimat Bu Een sontak mebuat semunya terdiam. Mirza dan Om Jaka saling pandang. Apa mungkin ibunya mulai mengingat sesuatu?
💕💕💕💕💕💕
Hi, dear..... 🥰🥰
__ADS_1
othor cuman mau bilang maaf baru up dan makasih selalu setia support othor 🙏🙏🙏🙏
I love you all pokokmen 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘