TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
39 #BOLU GOSONG DAN SEMANGKUK MIE REBUS


__ADS_3

Via menunduk. Dia sungguh tak ingin menambah beban pikiran kakaknya, tapi diapun tak sanggup untuk menyimpan lukanya seorang diri.


“Iya, Mbak.” Sahut Via lirih. “Mas Mirza ketahuan selingkuh.


‘Apa?” Tia setengah berteriak saking kagetnya. “Vi, kamu nggak lagi becanda, kan?” Tia menatap lurus kedua manik mata Via mencari kebenaran.


Via hanya menggeleng pelan, seketika air matanya tumpah. Tia merangkul tubuh Via dengan tangan kanannya.


Adik beradik itu saling diam untuk beberapa saat, sementara Ica sudah tampak mengantuk dipangkuan Tia. Rupanya kejadian yang dilihatnya tadi membuatnya malas sehingga terbuai dalam pangkuan ibunya, padahal hari masih pagi untuk tidur siang.


“Nggak usah cerita apa-apa kalo kamu emang belum siap cerita ke Mbak, Vi.” Tia mengusap-usap lengan Via.


“Nggak, Mbak. Aku kesini emang karena butuh teman bicara. Aku nggak tau mau cerita ke siapa lagi kalo bukan ke Mbak Tia.” Lirih Via diantara isaknya.


Perlahan Tia membawa Ica yang sudah terlelap ke tempat tidur. Ica langsung meringkuk memeluk guling kesayangannya. Tia mengajak Via ke ruang tengah.


“Mbak siap mendengarkan, Vi.”


Dengan perasaan yang teramat sakit Via menceritakan dari awal sampai akhir kronologis Mirza ketahuan selingkuh.


“Jadi kamu belum tahu siapa perempuan itu?” Tanya Via.


“Mas Mirza nggak mau bilang.”


Tia menarik nafas dalam. Digenggamnya erat jemari adikya untuk memberi kekuatan.


"Mbak nggak berhak ikut campur urusan kamu, tapi saran Mbak jika kamu masih mencintai Mirza kamu harus mempertahankan rumah tangga kamu.”


“Nggak tau, Mbak.” Via melepaskan genggamannya dan melempar pandangan keluar jendela rumah kontrakan Tia yang mungil. “Setelah kejadian ini, rasanya kepercayaanku pada Mas Mirza sudah luntur. Aku nggak tau masih cinta apa nggak sama dia.”


Tia memperhatikan wajah adiknya yang biasanya selalu bahagia itu kini terlihat murung. Betapa tidak, Via dan Mirza jarang sekali ada masalah dalam keluarganya, bahkan bisa dibilang nyaris nggak ada maslah berarti. Kalaupun ada itu mungkin karena Bu Een Ibunya Mirza yang terlalu comel pada Via. Tapi sekarang, sekali mendapat masalah langsung besar. Rumah tangga mereka solah oleng diterjang gelombang besar.


Via masih memandang ke luar jendela memandangi daun pisang yang bergoyang-goyang disapa angin semilir, namun Tia tahu pikiran Via nggak ke sana. Entah apa yang sedang dipikirkannya, mungkin tengah sibuk menimbang perasaannya sendiri pada Mirza.


“Vi, kamu udah sarapan?” Tanya Tia coba mengalihkan pikiran Via. Dia tak ingin adik pertamanya itu terlalu larut dalam kesedihan.


“Udah, Mbak. Tadi udah minum teh.” Via menoleh juga.


“Kok cuman minum teh? Mbak kebetulan lagi bikin kue, ada pesenan buat nanti siang. Mbak ambilin ya buat kamu sarapan.”


“Nggak usah, Mbak. Aku belum lapar.”


“Kamu jangan sampe sakit, Vi. Mbak mengerti perasaanmu, tapi kamu nggak boleh lupa dengan kesehatanmu sendiri. Yakinlah, masalahmu pasti ada jalannya.”


Via mengangguk seraya memaksakan untuk tersenyum. “Makasih ya, Mbak.”


“Dan satu lagi, kamu jangan menceritakan masalah ini pada siapapun. Karena aib suamimu adalah aibmu juga.”


“Iya, aku paham, Mbak.” Sekali lagi Via mengulas senyum tipis di wajah lelahnya. “Mbak Tia hebat, aku salut sama Mbak. Mbak Tia bisa sesabar ini menghadapi ibu dan Mas Arya selama bertahun-tahun. Ahh, apa aku bisa seperti Mbak Tia?” Via menyandarkan kepalanya di pundak Tia.


Tia mengusap rambut adiknya tulus. Via nyaman sekali dalam kasih sayang kakaknya, sudah lama dia tak manja seperti ini pada Tia. Terakhir kali dia curhat pada Tia sambil menangis ketika masih SMA karena dimarahi Bu Harni.


“Untuk menjadi hebat kita tak perlu menjadi orang lain, Vi. Setiap masalah yang Tuhan berikan pasti sudah disiapkan juga jalan keluarnya.”


“Aku nggak yakin masalahku ini ada jalan keluarnya, Mbak.”


Tia menegakkan kepala Via dari bahunya dan memegang kedua pipi Via menghadapnya.


“Kamu nggak boleh bilang begitu. Rumah tanggamu sekarang bergantung pada keputusanmu. Tapi kamu jangan terlalu terburu-buru mengambil keputusan, Jangan pake emosi. Tanya hati kecilmu, kamu mau apa dengan Mirza setelah ini?”


Via gamang, dia membenamkan wajahnya ke dalam pelukan Tia. “Seandainya aku bisa seperti Mbak Tia.” Lirihnya.


“Vi, Mbak kan tadi udah bilang? Belum tentu kamu sanggup jika diuji dengan masalah yang Mbak alami, begitu ga sebaliknya. Hidup kita sudah ada ukurannya masing-masing. Kamu harus kuat, ya. Mbak akan selalu ada buat dukung apapun keputusanmu.” Sekali lagi Tia mengusap lembut rambut Via.


Via mengeratkan pelukannya. Baginya memang merasa lebih nyaman cerita pada Tia ketimbang pada ibunya, karena jika cerita pada Bu Suharni pasti cuman nambahin masalah aja.


Mereka melepaskan pelukan karena mencium aroma gosong dari dapur.


“Wah! Mbak lupa lagi manggang bolu!” Tia langsung berlari ke dapur mematikan kompor dan membuka oven tangkringnya .


“Yaah, gosong semua ya, Mbak? Maafin aku ya, gara-gara aku curhatnya kelamaan jadi gosong deh kuenya.” Tia merasa sangat bersalah melihat pada dua buah loyang bulu yang coklat kehitaman itu yang kini sudah berada di atas meja.


Tia malah tersenyum lebar. “Berarti ini rejekinya kucing tetangga.”


“Hah? Kok rejekinya kucing sih, Mbak? Emang kucing makan bolu?” Via mengernyitkan dahi heran.


“Kucing jaman now gitu lho.”


Via masih tak habis pikir. “Tapi ini masih bisa dimakan kok, Mbak. Cuman pinggirnya aja yang gosong. “ Ujar Via, lantas dicuilnya bolu gosong itu. “Huft! Panas!” Via meniup jarinya yang kepanasan.


“Ya iyalah, kan baru aja diangkat. Gimana, sih?” Tia cuma nyengir ngeliat kelakuan adiknya.


“Sayang, Mbak. Jangan di buang semua ya.”


“Berarti itu rejekinya kamu sama kucing tetangga.” Seloroh Tia. “Makanya lain kali kalo mau curhat sama mamah Dedeh aja.” Lanjut Tia sambil nyengir lalu mengambil pisau untuk mengiris bolu.


Via hanya tersenyum. Dia sungguh merasa nggak enak, berapa modal yang sudah dikeluarkan Tia untuk dua loyang bolu itu. Via tau keadaan kakaknya itu, tapi dia malah mengacaukannya sehingga bolu itu gosong. Tapi Tia masih bisa senyum, tak ada penyesalan pada raut wajahnya. Via semakin kagum dengan kakaknya.


“Aku bantuin bikin bolunya ya, Mbak? Masih berapa loyang lagi yang belum selesai?” Via berinisiatif menawarkan diri.


“Ah, gampang itu.” Tia mengibaskan tangannya lantas membawa potongan bolu itu ke luar pintu belakang.


“Ehh, Mbak! Mau dibawa keman kuenya? Jangan dibuang!” Sergah Via mau ngambil piring bolu.

__ADS_1


“Mau buat si Cimon. Kenapa emangnya? Itu kan masih ada kalo kamu mau .”


Via mengurungkan niatnya. Diirisnya bagian pinggir bolu yang gosong itu dan setalah dirasa cukup dingin disuapkannya bagian bolu yang masih bagus itu ke dalam mulutnya. Nikmat sekali rasanya. Tia kembali dari luar dan melihat Via makan bolu itu dengan khidmat. Tia tersenyum merasa sedikit lega, paling tidak sekarang Via mau makan meskipun itu bolu gosong.


_________________________


Mirza terbangun ketika hari menjelang siang. Dia mimijit pelan dahinya yang terasa penat. Pandangannya menyapu seisi rumah. Sepi.


Mirza menuju kamarnya, lantas diketuknya perlahan pintu kamarnya.


“Sayang, kamu udah bangun kan?” Tanya Mirza pelan.


Tak ada sahutan.


Mirza coba mengetuk sekalilagi.


Tok


Tok


Tok


“Sayang, sekali lagi Mas minta maaf yang sebesar-besarnya. Kamu keluar ya, jangan seperti ini. Kita bicarakan masalah ini baik-baik” Mirza merayu dengan suara lembut.


Masih sepi, tak ada jawaban.


Mirza mendengus, membuang nafas kasar. Ternyata waktu semalam tak cukup untuk Via mengurung diri. Mirza menuruni anak tangga dengan lunglai dan kembali duduk di sofa ruang tengah. Bengong untuk beberapa detik sebelum kemudian dia teringat pada ponselnya.


Jika Via masih tak mau bicara padanya, maka dia kan coba bicara lewat pesan whatapp.


“Huh! Mati lagi!” Sungut Mirza kesal lantas mencari charger di dekat TV.


Setelah ponselnya terisi cukup baterai, Mirza segera menghidupkannya.


Ting


Ting


Tung


Blukutuk


Kluwek


Klutek


Ponselnya langsung bunyi bertubi-tubi. Beberapa pesan seolah langsung berebut masuk dan kepingin segera dibaca. Pesan dari Firman tentu saja yang paling banyak. Laki-laki itu memberondong Mirza dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya mengapa Mirza tak jadi datang buat ikut kongkow bareng kemarin.


[Firman: Kamu di mana sih? Jangan bilang nggak jadi dateng karena mau kelonan ya! Ini masih siang tau!]


[Firman: Cepetan, Woy! udah aku shareloc tuh tempatnya.]


[Firman: Lah, malah dimatiin hpnya. Wah bener-bener ya. Dasar Poppeye mesum!]


Mirza jengah sendiri membaca pesan Firman. Lalu, hop! Ada pesan dari Via. Mirza segera membukanya.


[My love: Mas, aku pergi ke tempat Mbak Tia. Sarapan sama kopimu sudah aku siapin di meja makan]


Tubuh Mirza langsung melorot ke karpet di atas lantai.


"Jadi dari tadi aku ketok-ketok pintu kamar sambil bujukin dia ternyata Via nggak ada di dalam?" Mirza menggerutu sendiri.


Tapi sesaat kemudian Mirza senyum. "Via udah siapin kopi sama sarapan buatku? Berarti dia udah nggak marah lagi, yess! Oh, syukurlah."


Mirza berjalan menuju meja makan untuk memeriksa menu sarapannya masih dengan senyum mengembang. Tapi kala dia ingat sesuatu senyumnya langsung hilang dan dia nggak jadi sarapan.


"Jangan-jangan aku cuman ke ge er an aja kalo Via udah nggak marah lagi? Via kan emang gitu, dia tetep buatin aku kopi dan nyiapin makanan meskipun lagi marah? Wah, bener! Aku ke ge er an ini! Kalo dia udah nggak marah, pasti nggak bakal pergi ke rumah Mbak Tia kan?" Mirza terus bertanya sendiri dan dijawab sendiri.


Tampangnya berubah kusut. Dia mengacak-ngacak rambutnya sendiri yang memang dari tadi udah acak-acakan. Lantas diketiknya pesan balasan untuk Via.


[Ya, sayang. Makasih ya udah nyiapin kopi dan sarapan buat Mas. I love you.]


Mirza pencet send dan bernafas lega. Cukup lama dia menatap layar gawainya menunggu tanda centang biru pada pesannya untuk Via, namun tak kunjung berubah warna juga tanda centang dua itu.


______


Via sedang sibuk membantu Tia menyelesaikan kue untuk pesanan siang itu. Sesekali mereka bercerita tentang masa kecil mereka yang sering main masak-masakan, tawa kecil mewarnai kesibukan mereka. Untuk sesaat Via lupa dengan masalahnya, bahkan sampai tak mendengar ada bunyi pesan masuk di hpnya.


Selepas Dzuhur kue pesanan sudah siap. Tia segera mengabarkan pada pemesan kue untuk mengambil ke rumahnya.


"Tau gitu biar aku aja yang nganterin, Mbak. Kan nggak enak masa kuenya malah suruh ambil sendiri?"


"Nggak papa lah, Vi. Orangnya baik kok, udah langganan juga." Sahut Tia.


Tak berapa lama kue buatan Tia sudah dijemput si pemesan. Ica bangun keluar kamar dan merengek minta makan.


"Ya ampun, iya ya sayang. Maafin bunda, dari pagi Ica belum makan ya?" Tia menyesali kealpaannya.


"Ica mau makan mie goreng, bunda." Rajuk Ica.


"Bunda punya sayur sup lho."


Ica menggeleng. "Mie goreng pake telor mata sapi di kasih kecap yang banyak." Ujar Ica mantap.

__ADS_1


"Ya udah, bunda bikinin sebentar ya? Ica tunggu disini sama tante Via." Tia mengangkat tubuh kecil Ica duduk di samping Via. "Kamu mau dibikinin mie sekalian nggak, Vi? Kamu juga belum makan kan dari pagi?"


"Boleh, kalo Mbak Tia nggak keberatan, hehee... "


"Hu! Dasar kamu itu!" Cibir Tia sebal lalu menuju dapur.


"Kalo boleh request aku mau mie rebus aja, Mbak!" Seru Via nyaring. "Pake telor setengah mateng sama potongan cabe rawit ya!" Imbuhnya.


"Tante Via kok masih di sini? Dari pagi belum pulang ya?" Tanya Ica polos.


"Kan tante abis bantuin bunda bikin kue."


Bibir Ica membulat.


Tak berapa lama Tia datang membawa dua mangkuk mie rebus dan sepiring mie goreng yang mengeluarkan wangi khas sampe bikin siapapun yang menghirup aromanya bisa jadi merem melek membayangkan kelezatannya kayak iklan mie instan di layar TV pada umumnya yang kebanyakan lebay.


"Pesanan sudah, siap." Canda Tia sambil meletakkan mangkuk dan piring itu di atas meja.


"Kok mie rebusnya dua sih, Mbak?" Tanya Via agak heran.


"Ya aku juga mau makan, emang kamu aja yang laper?"


Via cuma nyengir mendengar jawaban kakaknya. Mie rebus itu agaknya menjadi mie rebus terlezat sepanjang sejarah Via hidup di dunia. Memang agak lebay ya kedengarannya. Tapi begitulah kenyataannya.


Setelah menandaskan suapan terakhir mie rebusnya, Via langsung merasa ada yang berubah pada dirinya. Ya meskipun dia nggak berubah jadi Iron Man kayak abis makan odading Mang Oleh ya? Tapi Via seperti mendapat energi dan keyakinan baru. Via tersenyum lega, meski entah belum tau untuk apa.


"Kenapa kamu senyum-senyum, Vi?" Tanya Tia curiga yang rupanya dari tadi merhatiin Via.


"Eh, nggak papa kok. Mie rebusnya enak banget. Makasih ya, Mbak." Via meremas lengan Tia.


"Hem, pasti ada maunya nih." Cibir Tia.


"Nggak lah! Aku tulus kok. Mbak Tia itu emang beneran jago masak, mie rebus aja bisa jadi seenak ini rasanya." Via masih terus memuji-muji kakaknya.


"Apaan sih? Orang tinggal rebus bentar kasih bumbu beres! Semua orang juga bisa kali, Vi! Nggak usah lebay ah." Ujar Tia sambil merapikan mie goreng Ica yang berantakan.


"Tapi aku nggak pernah jadi seenak ini kalo masak mie rebus."


"Itu tandanya perasaan kamu sekarang udah lebih baik dari sebelumnya."


Via tercenung sebentar.


"Mungkin juga ya." Gumamnya.


*Tluwing Tluwing Tluwing Wing


Tluwing Tluwing Tluwing Wing Wing*


Hp Via berbunyi. Via cepat mengambilnya dari dalam tasnya. Ternyata panggilan dari Riri.


"Ya, ada apa, Ri?"


"Mbak Via bisa jemput aku nggak?" Tanya Riri dari seberang.


"Emang kamu di mana ini?"


"Di kota, Mbak. Ini abis acara makan-makan sama temen-temen kursus ngerayain kelulusan ujian. Nah aku nggak ada yang nganter pulangnya, Mbak." Papar Riri.


"Lah, emang kamu sama siapa tadi perginya? Nggak bawa motor sendiri?" Via heran juga dengan kelakuan adiknya.


"Dijemput temen, Mbak. Tapi temenku itu tadi buru-buru pulang karena ada keperluan mendadak."


"Teman kamu yang lainnya?"


"Kasihan Mbak, mereka rumahnya jauh-jauh kalo harus nganterin aku dulu, nanti malah bolak balik."


"Huh, dasar! Kamu kasian sama temenmu tapi nggak kasian sama aku!" Dengus Via kesal.


Tia hanya mendengarkan obrolan via dan Riri yang terdengar lamat-lamat itu, sedangkan Ica cuek tetap makan mie goreng kesukaannya.


"Ya, Mbak? Bisa, kan? Mbak Via baik deh!" Rayu Riri dari seberang.


"Naik angkot aja deh."


"Huh! Tega banget Mbak Via!" Sungut Riri. "Panas, Mbak. lama juga nunggunya. Nanti kulit aku yang putih berseri ini bisa belang-belang kayak sapi polkadot! Udah ah, jemput aja ya? Bisa kan, Mbak? Bisa ya, bisa dong? Mau ya, mau dong?"


"Iya iya! Cerewet!" Via nyerah juga daripada dengerin ocehan Riri mendingan dia ngalah.


"Yess! Oke, aku tunggu di kedai kopi Nostalgia ya, Mbak? Nggak pake lama!"


Klik!


Riri langsung memutus sambungan sepihak, tentu saja nggak tau dengan perubahan raut wajah Via yang mendadak pias.


___________


Bersambung ☺️


Terima kasih akak author tersayang dan readers tercinta atas apresiasinya pada novel pertamaku ini. 🙏🙏🌹🌹


Jangan lupa selalu tinggalkan like, komen, rete dan vote ya. Aku pasti feedback ❤️❤️


Sampai ketemu di Kedai Nostalgia ya 😉😉🌹🌹❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2