TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
194 #REKAN BISNIS?


__ADS_3

Minggu pagi semua peserta gathering sudah selesai sarapan, bus pariwisata sudah menunggu mereka di depan hotel. Jadwal mereka hari ini adalah mengunjungi beberapa tempat wisata di kota Bogor, setelah itu kembali bertolak ke Jakarta. Via dan Cila beriringan menuju bus.


“Vi, kamu tau nggak?” Cila menghentikan langkahnya karena mengantri masuk bus.


“Tau apa?” Via tak paham maksud pertanyaan Cila.


“Pak Bos udah balik ke Jakarta lho pagi-pagi banget.” Cila agak berbisik.


Via tak mengnggapi, kakinya melangkah masuk bus dan segera menuju joknya diikuti Cila. Via duduk dekat kaca menyandarkan punggungnya membuat dirinya senyaman mungkin.


“Kamu udah tau ya?” kejar Cila yang melihat Via seolah lupa topik bahasan mereka sebelum naik.


“Soal apa?”


“Pak Bos!”


Via menggeleng. “Nggak.”


“Kan semalem kalian jarang bareng?” Cila mulai kepo.


“Ya mungkin dia ada urusan mendadak.” Sahut Via acuh. “Eh Cil, itu si Vony kenapa tuh?” Tunjuk Via ke luar jendela mengalihkan perhatian pada Vony yang berjalan terseok-seok diseret Milen.


Cila malah ngeliatin tampang Via yang datar. “Vi, aku boleh nanya ngga?” Ucapnya kemudian.


“Bukannya dari tadi kamu juga udah nanya mulu ya?”


Cila nyengir. “Sorry ya sebelumnya, tapi aku penasaran banget nih. Kamu sama Pak Bos ada hubungan apa sih sebenarnya? Dari awal masuk kerja kayaknya kalian udah deket banget.” Cila mengutarakan kalimatnya dengan hati-hati dan suara pelan karena takut didengar sama karyawan lain, meskipun saat itu suasana dalam bus ramai penuh dengan gelak tawa dan keriaan peserta gathering yang akan berwisata.


Via mendesah ringan, menatap Cila di sampingnya. “Kalo aku bilang kami cuman berteman, apa kamu percaya?”


Glek!


Cila malah terdiam. Dia bingung mau jawab apa. Kok maah gue yang jadi keder nggak bisa jawab gini ya? Padahal seharusnya Via yang ngerasa kayak gini? Batin Cila.


GUBRAK!


Seisi bus dikagetkan dengan tubuh Vony yang tersungkur nyungsep ke bawah jok sopir karena nggak ngeliat jalan.


“Elo apa-apaam sih, Von? Mata lo kemana? Melek makanya!” Omel Milen kesal seraya membantu Vony berdiri sementara yang lain bukannya nolongin malah tertawa menyaksikan pertunjukan gratis itu.


“Von, elo baru bangun tidur ya? Kok tampang lo lecek gitu?” Cila heran melihat muka Vony yang berantakan.


Milen mendorong vony susah payah untuk duduk di joknya. “Heran gue, badan lo kurus tapi berat banget! Kebanyakan dosa lo kayaknya!” Gerutu Milen sambil ngos-ngosan.


“Kenapa sih dia?” Cila masih dengan keheranannya melihat Vony yang seolah tak bergeming, kepalanya menyandar pada kaca jendela bus sementara matanya merem.


“Clubing dia pulang subuh! Makanya masih ngantuk.” Kesal Milen menghempaskan pantatnya di sebelah Vony.


“Clubing?” Cila melotot. “Bukannya kita pulang bareng ya semalem?”


“Dia keluar lagi pas tengah malem.” Milen masih kesal. Ia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.


“Dasar kuntilanank! Tengah malam manusia pada tidur, dia malah keluyuan!” Cila ikutan kesal, lantas ia kembali pada Via. “Vi …” Cila tak melanjutkan kalimatnya karena melihat Via sudah memasang head setnya asyik bersenandung sambil memejamkan mata seolah benar-benar menikmati lagu yang ia dengarkan, padahal itu adalah sebuah penolakan halus untuknya.


Cila terpaksa menelan mentah-mentah kekepoannya. Ia pun memilih untuk menikmati saja perjalanannya karena bus yang ditumpangi mulai bergerak keluar area hotel.


❤️❤️❤️❤️❤️


Sudah beberapa hari sejak kepergian Udin, Bu Een kewalahan menghendel pekerjaannya. Ia harus bangun lebih pagi dan menyiapkan semuanya sendiri padahal kondisi kakinya belum pulih sempurna.


Pagi yang cerah selalu muram pada raut wajah Bu Een. Seperti pagi ini ketika ia masih membersihkan halaman depan dengan daun jambu air yang kering berserak, Bu Een harus segera mmebuka tokonya karena ada salah satu tetangga yang mencari obat demam untuk anaknya.


“Cepetan sedikit dong, Bu. anak saya keburu kejang nanti, badannya panas banget.” Ucap si tetangga tak sabaran.


Bu Een jadi ikut gugup, ia sampai salah beberapa kali memasukkan anak kunci ke dalam gemboknya. “Sabar dong! Kamu nggak liat saya lagi mau buka kuncinya?”


“Saya panik, Bu. takut ada apa-apa sama anak saya.”


“Lagian kamu cari obat di toko saya! Cari obat tuh ke apotik tau!” Kesal Bu Een.


“Tapi kan Bu Een juga jual?”


Setelah berkutat beberapa menit, Bu Een akhirnya behasil membuka kuncinya. Sang tetangga langsung masuk dan mencari sendiri obat penurun panas di etalase paling belakang tempat obat-obatan.


“Bu, ini obatnya saya bawa dulu ya? Bayarnya nanti!” si tetangga langsung ngacir sebelum sempat Bu Een menjawabnya.


Bu Een coba mengejar. “Hoy…! Markonah! Saodah…!” Teriak Bu Een pada si tetangga yang sudah menghilang di tikungan. “Haduh siapa tadi itu namanya? Kurang ajar banget! Udah buru-buru suruh buka toko, malah ngutang! Tau gitu nggak saya bukain, dasar tetangga nggak ada ahlak!” Bu Een terus mengumapat kesal seraya membereskan tokonya.


“Kenapa Bu, pagi-pagi kok udah ngomel?” Tanya seseorang mengejutkan Bu Een.


“Iya, ntar tensi darah naik lho bu.” Timpal satu orang lainnya.


Bu Een langsung nengok dan melemparkan tatapan horornya. “Mau apa kalian pagi-pagi udah kesini? Warung saya nggk nerima utang!” Ketus Bu Een.


“Waduh! Suudzon aja Bu Een ini.”


“Iya, pikirannya jelek mulu sama orang!”


“Heh, denger ya Saodah, Markonah …”


“Saya Rodiyah, Bu ..”


“Saya Rokayah.”


“Kami adalah… 2R!” Ucap mereka kompak dengan gaya emak-emak gesrek.

__ADS_1


“Hoo iya 2R, bagus ya kalian nongol? Kemana aja kalian? Udah berapa abad hutang kalian nggak bayar-bayar, hah? Cepetan sini bayar!” Bu Een langsung menagih hutang mereka dengan tampang galak. “kalo punya duit belanjanya ke orang lain, giliran ngutang dateng ke toko saya! Emang pada nggak tau diri kalian ini!” Bu Een meluapkan kekesalannya.


“Sabar Bu Een, sabar ….” Rodiyah berusaha menenangkan Bu Een yang udah menyingsingkan lengan dasternya.


“Iya, Bu sabar …. Kita kesini justru mau bayar utang kok.” Sambung Rokayah. “Sama sekalian mau belanja juga.


Bu Een memicingkan matanya, menatap mereka berganti-ganti. “Dari maa kalian punya duit?”


“Ya elah Bu, darimana-darimananya itu mah urusan kita. Kepo benaget sih Anda ini jadi orang?” Rokayah agak tersinggung dengan ucapan Bu een.


“Eh, bukannya gitu! Saya kan cuman nanya, kenapa kamu sewot?” Elak Bu Een tak mau kalah.


“Kalo nggak mau dibayar utangnya ya udah!” Rokayah sok-sokan ngambek mau ngeloyor pergi.


“Ett ett iya iya, baperan banget sih kamu jadi orang!” Bu Een menarik lengan Rokayah. “Ya udah kamu mau belanja apa? Cepetan.”


Rokayah melempar senyum penuh makna pada Rodiyah, lantas ia menyebutkan belanjaannya.


“Ya udah ambil aja sendiri, tuh keranjangnya! Saya mau beberes dulu.” Bu Een menunjuk keranjang belanjaan.


“Tapi saya maunya diambilin, Bu!” Jawab Rokayah.


“Saya repot, nggak usah manja ya kalo mau beli disini!” Omel Bu Een.


“Lho, kita kan pembeli Bu? ya harus dilayani dong. Pembeli kan adalah raja?” Sambar Rodiyah.


“Eh, nggak usah pada ngelunjak ya kalian?” Bu Een malah melotot.


“Kok Bu Een malah marah-maah sih sama kita? Ya udah kita nggak jadi beli!” Rokayah ngambek lagi.


“Iya, nggak jadi bayar utang juga!” Sambung Rodiyah.


Menyadari akan kesalahnnya, Bu Een akhirnya mau juga mengambilkan belanjaan 2R yang emang sengaja niat banget pingin ngerjain Bu Een. Bu Een sampe pegel bolak-balik ngambilin belanjaannya si Rokayah sama Rodiyah. Walau dalam hatinya ngedumel penuh kejengkelan tapi ia sekuat tenaga menahannya, sebab kalo sampe meledak lagi bisa-bisa kabur tuh si 2R. Beberapa hari ini pendapatan toko sembakonya memang menurun sejak ditinggal Udin karena Bu Een buka tutup toko sesempetnya sendiri, akhirnya para pembeli yang kecewa mau beli tokonya tutup pada nggak jadi beli.


“Udah, Bu. punya saya semunya berapa tuh, sama hutangnya sekalian.” Tukas Rokayah sambil membuka dompetnya.


“Punya saya juga nih!” Rodiyah juga ikutan membuka dompet.


Sembari menghitung belanjaan, Bu Een sempet melirik isi dompet mereka yang sengaja dibuka lebar-lebar sehingga nampaklah beberapa lembar uang ratusan ribu di dalamnya.


Huh! Blagu bener sih mereka! Baru punya duit segitu aja mau pamer! Dasar orang miskin sok kaya! Dipikirnya saya belum pernah liat duit segitu apa? Banyakan duit saya kemana-mana sama punya mereka! Bu Een tak henti-hentinya ngedumel jengkel dalam hati.


“Awas salah lho Bu ngitungnya kalo sambil cemberut gitu!” Ucap Rokayah sengaja menyindir Bu Een yang tampangnya udah kayak bangun segi tiga sama sisi, sana sini lancip!🤣🤣


“Nih, udah selesai. Totalnya belanjaan kamu ditambah hutang jadi 295 ribu!” Bu Een memberikan belanjaan Rokayah lantas mulai menghitung belanjaan punya Rodiyah. “Belanjaan kamu sama hutang waktu itu totalnya 190 ribu.” Ucapnya kemudian pada Rodiyah.


2R pun mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan memberikannya pada Bu Een.


“Ini uangnya, Bu. ambil aja kembaliannya.” Ucap Rokayah enteng.


“Ini uang saya. Sama! saya juga nggak usah kembali, buat Bu Een aja.” Timpal Rodiyah lantas menjinjing belanjaannya keluar toko diikuti Rokayah.


“Bu, rokok dong 2 batang aja!” Ucap Saprol.


“Eh, Prol. Kamu tau nggak si Rokayah sama Rodiyah pada punya duit dari mana? Mereka tadi abis bayar utang dan belanja banyak disini.” Bu Een malah ngajakin berghibah.


“Bodo amat Bu mereka punya duit dari mana, bukan urusan saya!” Sahut Saprol cuek. “Lagian ngapain ibu kepo sama mereka? Bukannya seneng ada orang bayar utang sama belanja banyak, malah dicurigain?” Lanjut Saprol sebel.


“Ah, kamu kayak nggak tau aja. Mereka kan super duper kismin. Buat makan aja harus ngutang sana sini, terus tiba-tiba mereka jadi punya duit bayak kayak gitu, wajar dong saya curiga?” Bantah Bu Een.


“Tau ah. Rokok saya mana, cepetan Bu! mau berangkat kerja ini!” Saprol kesel.


“Ck, cuman kerja jadi tukang ojek aja blagu! Kamu dateng telat ke pangkalan juga nggak ada yang bakal ngomelin.” Cibir Bu Een seraya memberikan dua batang rorok jarum pentul pada Saprol.


“Eh, si Udin mana Bu? kok perasaan saya nggak liat Udin beberapa hari ini?” Tanya saprol kemudian.


“Minggat!” Ketus Bu Een.


“Minggat? Minggat kemana?” Saprol kaget campur heran.


“Minggat ya minggat, jangan pake tanya kemana! Lagian itu bukan urusan saya!” Ketus Bu Een beranjak dari meja kasir meraih kemocengnya bermaksud membersihkan etalase.


“Wah, aneh banget dia bisa minggat begitu ya? Padahal udah enak-enak kerja disini.”


“Dia emang nggak tau diuntung! Nggak tau balas budi!” Bu Een mulai terpancing emosi.


“Ibu harus cepet cari gantinya lho, capek kalo harus jaga toko sendiri. Belum lagi Bu Een harus belanja, beres-beres toko sama rumah.”


“Iya saya juga lagi cari orang buat gatiin Udin, tapi belum dapet.” Jawab Bu Een. Kemudian …


Tring!


“Prol, gimana kalo kamu aja yang kerja disini gantiin si Udin?” Ide dadakan yang dianggap brilian muncul di kepala Bu Een.


“Saya?” Saprol menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, kamu bisa nyetir mobil kan?”


“Bisa.”


“Ya udah, kamu kerja disini aja daripada jadi tukang ojek.” Cetus Bu Een.


Saprol tampak berpikir. “Iya sih, ngojek sekarang emang lagi sepi. Semua orang udah pada punya motor, jadi jarang dapet penumpang saya.”


“Ya udah, mulai hari ini kamu kerja disini.” Bu Een bersemangat.

__ADS_1


“Eh, tunggu dulu! Gajinya berapa nih? Ada uang makannya nggak? Uang rokok sama bonusnya nggak?”


“Kamu itu kerja di toko sembako bukan di perusahaan, Saprol!” Jawab Bu Een kesal. “ Belum apa-apa udah minta bonus! Dasar mata duitan!”


“Lho, justru saya kerja di toko sembako Bu. pasti lebih menguras tenaga, angkat-angkat barang, beres-beres toko. Kalo duitnya pas-pasan ya saya ogah!”


“Emangnya sehari pendapatan kamu ngojek berapa?” Bu Een penasaran.


“Namanya ngojek ya nggak tentu lah. Gini aja deh, nggak ada bonus nggak papa. Bu Een bayar saya sesuai UMR, gimana? Tapi uang makan sama rokok jangan dihitung ya, itu beda.”


“Banyak maunya kamu ya, nggak kaya si Udin!” Hardik Bu Een.


“Ya udah, Bu Een cari orang lain aja kalo nggak mau. Saya juga ogah kerja bayarannya nggak sesuai. Pantesan aja Udin minggat kalo gitu!” Cerocos Saprol. “Saya jamin sampe lebaran kuda juga Bu Een nggak bakaln dapet karyawan baru kalo sistem bayarannya kayak jaman KOMPENI!” Saprol melangkahkan kakinya keluar toko.


BU Een tertegun sebentar. Jika benar yang dikatakn si Saprol dia nggak akan mendapatkan karyawan baru pengganti Udin, lantas gimana dia bisa mengurus tokonya? Belum lagi dengan pekerjaan rumahnya yang berantakan. Baru beberapa hari saja rasanya semua tuang-tulangnya udah pada mau copot. Ngilu dan pegal kerap ia rasakan jika melam menjelang, badannya terasa remuk. Ia memang tak bisa mengurus semuanya sendirian.


“Prol, tunggu!” Panggil Bu Een. “Baik, saya setuju sama permintaan kamu!”


Saprol memutar langkahnya. “Gaji saya UMR? Ada uang makan dan jatah rokok?”


“Iya.” Jawab Bu Een dengan terpaksa.


“Ok, deal.” Saprol tersenyum lebar penuh kemenangan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Bi Narih tergopoh-gopoh membukakan pintu ketika bel rumah berbunyi.


“Mas Danar?” Bi Narih sedikit surprise.


Danar tersenyum. “Bibi udah masak belum? Aku laper nih, pagi-pagi dari Bogor belum sempat sarapan.” Danar menuju ruang tengah dan membanting tubuhnya yang lelah di atas sofa.


“Mas Danar mau dimasakin apa?” Tanya Bi Narih. “Bibi nggak masak, soalnya kan ibu sama Bapak masih di Bogor, cuman ada Bibi sama Mang Juned di rumah, tadi pagi cuman sarapan telor ceplok.”


“Hem, ya udah apa aja deh. Telor ceplok juga boleh.” Danar nggak mau yang ribet, perutnya emang udah keroncongan banget, tadi males mau mampir rest area. Pikirnya biar bisa cepet sampai rumah dan bisa istrirahat sebelum nemuin rekan bisnis ibunya.


“Ya udah, tunggu sebentar ya Mas.”


“Pake kecap ya, Bi.”


“Beres, Mas.”


“Aku ke kamar dulu, capek banget mau rebahan sebentar.” Danar bangkit hendak menuju kamarnya


“Eh, anu .. itu, emh… Mas Bibi lupa, tamunya udah dateng.” Bi Narih agak tergagap mau ngasih tau Danar.


“Tamu?” Kening Danar mengernyit.


“Iya, tamunya Mas Danar.” Bi Narih hati-hati sekali karena sudah diwanti-wanti sama Bu Elin nggak boleh memberitahukan siapa orang yang harus ditemua Danar pagi itu.


“Maksud Bibi rekan bisnis ibu?”


“Eum, ya… itu Mas maksud Bibi.” Bi Narih tersenyum canggung.


Danar celingukan. “Dimana? Kok aku nggak liat siap-siapa tadi? Di depan juga ngga ada mobil lain.” Danar keheranan.


“Tamunya nunggu di teras belakang Mas.”


“Nunggu di teras belakang?” Ulang Danar makin terheran-heran.


Bi Narih mengangguk.


“Bibi nyuruh rekan bisnis ibu nunggu di teras belakang? Ya ampun …!” Danar tak habis pikir pada wanita setengah baya lebih yang sudah mengabdi pada ibu angkatnya itu berpuluh puluh tahun lamanya. “Udah lama dia dateng? Sejak kapan dia di sana? Kenapa Bibi nggak suruh nunggu di ruang tamu aja?”


“Eum… anu… itu, apa namanya ….” Bi Narih makin gelagapan bingung.


Danar memilih tak menghiraukan kebingungan Bi Narih. Ia bergegas menuju teras beakang dekat dengan taman keluarga yang sangat asri. Danar melangkah lebar penuh kekhawatiran. Bagaimana bisa seorang tamu penting rekan bisnis perusahaahn keluarganya harus menunggu kedatangannya di teras belakang rumah? Danar merasa sangat tak enak hati, ia melupakan rasa laparnya yang semula mencubit-cubit dinding lambungnya.


Tap tap tap …


Danar sudah berada di teras belakang rumah Bu Elin. Matanya langsung tertuju pada seorang perempuan yang duduk sendirian agak menunduk karena tengah sibuk dengan gadgetnya.


Perlahan Danar mendekati perempuan itu. Ia merasa mengenali posturnya. sosok itu seperti tak asing baginya. Perempuan muda yang sedang diperhatikannya pun tersadar dengan kehadiran sang tuan rumah. Ia mengangkat wajahnya dan sebuah senyuman tipis membingkai wajah cantiknya. Danar sungguh tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dua pasang mata itu saling tatap untuk beberapa detik.



“Grace?” Gumam Danar.


❤️❤️❤️❤️❤️


Ada yang masih ingat sama Grace? 😊😊


Hayoo, Grace itu siapa….?😀


Sosoknya memang belum pernah muncul secara langsung ya, tapi udah pernah beberapa kali othor singgung di bab tengah-tengah. Lupa bab berapa …😂😂


❤️❤️❤️❤️❤️


Halo, semuanya...


Maaf ya, kalo upnya belum bisa maksimal dan banyak kesalahan. terima kasih buat support readers setia tersayang dan teman-teman sesama author tercinta semuanya.🙏🙏🙏


Bersama kita lawan covid 19. Othor sadar banget, mental kita sedang diuji saat ini. Saat kita down, justru keadaan akan bertambah buruk. Semoga badai covid ini segera usai.


Salam sayang untuk semuanya.😍😍😍

__ADS_1


Jangan lupa tetap jaga kesehatan dan patuhi prokes ya. terutama untuk para emak, jangan ampe sakit mak…. Karena kita adalah pilar keluarga 💪💪💪💪


I love you semunya😘😘😘😘😘


__ADS_2