
278
Pemilik wajah klimis dengan setelan jas hitam mengkilap itu duduk di ruang besuk Rutan kota selama hampir lima menit. Sesekali diliriknya rolex bertabur berlian di pergelangan tangan kirinya. Belum pernah dalam sejarahnya menjadi seorang lawyer dibuat menunggu seperti ini. Tepat waktu adalah hal mutlak baginya, sehingga lima menit berselang kemudian ia sudah tak sabar dibuatnya. Hotman kemudian menuju petugas yang berjaga di depan ruangan.
“Masih lama rupanya Bu Endang datangnya?” pertanyaan dengan logatnya yang keras sukses mengagetkan petugas yang sedang menekuri ponselnya.
“Mohon tunggu sebentar, Pak. Mungkin Bu Endang sedang bersiap,” ucap sang petugas yang jantungnya hampir saja copot itu menjelaskan.
“Sebentar, sebentar apanya? Dari tadi aku sudah 10 menit menunggu, belum keluar juga batang hidungnya,” Hotman kesal.
Dari arah lorong utaman yang menghubungkan ke ruangan Rutan, terlihat Bu Endang berjalan di belakang petugas. Wajahnya kuyu, langkahnya tak bersemangat.
“Itu Bu Endang, Pak,” ucap petugas.
Seketika Hotman menoleh, ia perhatikan sosok yang dimaksudkan. “Bu Endang?” Sapa Hotman begitu Bu Een sampai.
Yang ditanya bukannya menjawab malah bengong. Asli, bengong sampai melongo karena tak merasa mengenal sosok yang berada di depannya.
“Silakan ke ruangan besuk saja, Pak,” petugas mempersilakan.
Keduanya pun berjalan mengikuti petugas, “waktu kunjungan 30 menit, silakan pergunakan dengan baik,” ucap petugas kemudian minta diri keluar ruangan.
Kedua netra Bu Een masih menatapi Hotman dengan pelbagai tanda tanya.
“Ah ya, perkenalkan. Saya Hotman Siangbolong,” Hotman mengulurkan tangan kanan yang jari jemarinya dipenuhi cincin emas bermata berlian warna warni mejiku hibiniu.
Agak ragu Bu Een menerima uluran tangan Hotman.
“Saya pengacara Bu Endang,” ucapan Hotman sukses membuat Bu Een melongo untuk yang kedua kalinya, seketika ia melepaskan jabatan tangannya.
“Pe –nga –ca –ra?” ulang Bu Een terbata, wajahnya semakin diliputi keheranan.
“Betul itu. Saya yang akan membantu kasus hukum Bu Endang. Bu Endang tenag saja, serahkan semuanya pada Hotman Siangbolong, semuanya pasti beres,” Hotman seperti biasanya penuh rasa bangga dan percaya diri.
“Tapi saya tidak pernah sewa pengacara,” Bu Een setengah menggumam masih dengan keheranannya.
“Oh ya, saya belum bilang ya. Jack yang minta pada saya untuk mendampingi Bu Endang. Jadi selama masih proses penyidikan dan Bu Endang tinggal di Rutan, saya akan upayakan yang terbaik, Bu Endang tenang saja. Saya pasti akan mendapatkan bukti-bukti untuk meringankan kasus ini, asalkan Bu Endang bersedia bekerja sama dengan baik, menceritakan kronologisnya secara gamblang, rigit, detail, tanpa ada yang ditutupi,” papar Hotman.
“Jack –siapa?” rupanya Bu Een terganggu dengan nama Jack yang asing baginya.
“Jack adik Bu Endang lah, siapa lagi memangnya?”
Langsung melebarkan matanya, “Jaka?”
Mengangguk mantap, “Yess, Jack is Jaka. Saya biasa panggil dia Jack karena –“
“Ngapain dia pake sewa pengacara segala?” memangkas gusar membuat Hotman mengernyit heran.
“Ya kerena dia pikir Bu Endang perlu pengacara.”
“Tidak! Saya tidak butuh pengacara!” membantah keras.
Hotman memundurkan posisinya, bersandar pada kursi yang tidak terlalu empuk. Ia cermati raut wajah perempuan tua di depannya, keriput disana sini, guratan keras dengan rahang menonjol karena bertambah tirus setelah hampir seminggu tinggal di dalam Rutan.
Wajar saja si Jack tak mau cerita hubungan persaudaraan dengan kakaknya ini. Macam Mak Lampir mau mengeluarkan jurus ku rasa mukanya dia ini kalau marah, Hotman membatin sambil terus menelaah wajah Bu Een yang mulai jengah diperhatikan.
“Kenapa kamu ngeliatin saya kayak gitu?” semprot Bu Een.
Hotman malah tersenyum. Profesinya yang sudah sangat terbiasa berhadapan dengan bergabai macam karakter orang, membuatnya tetap tenang dan santai walaupun Bu Een kentara sekali sudah melayangkan ajakan siap berperang lewat sorot mata cekungnya yang masih tajam menyeramkan.
“Saya cuma merasa aneh saja, kenapa Bu Endang ini tak mau pakai pengacara?”
“Karena saya memang nggak butuh,” ketus Bu Een. “Buat apa pengacara segala? Buang-buang duit saja!”
__ADS_1
Malah terkekeh membuat Bu Een mendelik kesal.
“Apanya yang lucu? Kenapa ketawa? Kamu ngejekin saya?”
“Ya sudah, kalau Bu Endang tak mau ya tak apa, tidak ada ruginya juga buat saya. Berarti Bu Endang sudah siap menghadapi tuntutan jaksa 5 tahun penjara dan –“
“Apa? Lima tahun?” kedua biji mata Bu Een nyaris melompat demi mendengar kata lima tahun.
Mengagguk, “iya, lima tahun.”
Langsung lemes, rasanya tubuhnya ingin sekali merosot ke lantai lalu tiduran disana. Jelas saja, lima tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi harus tinggal di dalam sel tahanan.
“Sebagai pengacara, saya jelas tidak dirugikan, malah tentu saja diuntuungkan,” Hotman mengusap cincin yang paling besar berlinannya di jari manis tangan kirinya. “Saya sudah terima DP dari Jack, tanpa harus menyelesaikan kasusnya. Fix, pembatalan bukan dari saya,” Hotman mebenahi duduknya lantas bersiap bangkit.
“Berapa Jaka bayar kamu?” Bu Een digelitik rasa penasaran.
“Tidak terlalu banyak, hanya 200.”
“200 ribu?”
Hampir menyemburkan tawanya, Mak Lampir di depannya ini betul-betul katrok! “200 juta!”
“200 juta?” ikut berdiri saking kagetnya. “DP saja 200 juta?” memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa berputar-putar.
“Santailah, Bu Endang ini macam tak tau harga lawyer papan atas saja. 200 juta tidak banyak, itu sudah diskon harga pertemanan dengan Jack. Bagi saya 200 juta angka yang kecil itu, buat beli tisu toilet saya saja sebulan masih kurang.”
Terduduk lemas di tempatnya semula, belum lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang kemudian muncul di benaknya membuat Bu Een semakin pusing 7 keliling. Dari mana Jaka dapat uang sebanyak itu? Kenapa Jaka sampai bayar pengacara semahal itu? Jangan-jangan uangnya dia hitung sebagai hutang? Atau dia ambil dari asetnya yang masih tersisa?
“Bailkah, kalu begitu saya permisi Bu Endang,” ucapan Hotman menyadarkan Bu Een.
Tak menjawab, masih sibuk mengatasi shocknya sendiri.
“Saya tidak berharap Bu Endang berubah pikiran, hanya saja kalau besok atau lusa Bu Endang dapat petunjuk dari Tuhan, Bu Endang bisa bilang Jack untuk segera hubungi saya,” memutar tumitnya tak ambil pusing dengan Bu Een yang sedang memijit-mijit jidatnya sambil menunduk menahan segala perasaan dalam dadanya.
“Kau tanyakan sendiri sajalah,” sahut Hotman enteng.
“Terus elu mau kemana?”
“Ya pulanglah, kakak kau itu tak butuh pengacara.”
Langsung mendekati Bu Een, “Mbakyu, sampean –“
“Dari mana kamu dapat duit buat bayar pengacara?” mengangkat wajahnya dengan kilatan amarah.
“Kenapa emangnya?”
“Jawab! Dari mana?” menaikkan intonasinya.
“Ya dari duit sampean lah, masa duit gue? Enak aja!” menyahut santuy.
“Jaka kamu sudah gila!” Berdiri menantang. “Saya nggak pernah nyuruh kamu sewa pengacara, apalagi semua itu pakai duit saya!” ucap Bu Een geram.
“Yu, semua ini demi kebaikan sampean sendiri. Apa sampean mau mendekam bertahun-tahun di dalam penjara?” Om Jaka coba memberikan pengertian. “Masih untung gue mau bantuin sampean, dan ini semua kalo bukan karena bini gue yang bujukin, gue juga ogah!”
“Nggak usah sok pada perhatian kalian sama saya,” sinis Bu Een. “Saya tau sebenarnya kalian senang melihat saya menderita, iya kan?”
Menggeleng tak habis pikir, “kalo tau bakal kayak gini kejadiannya, gue kagak bakalan mau bantuin sampean, Yu. Biarin aja sampean mau dipenjara 5 tahun kek, mau seumur hidup kek, gue kagak peduli!” Om Jaka mulai emosi.
“Sabar Jack, sabar,” Hotman yang sadari tadi hanya menyimak berusaha menenangkan Om Jaka.
“Sabar aja kagak cukup buat ngadepin manusia model mbakyu gue, Man,” menatap tajam pada Bu Een yang masih kokoh berdiri ditempatnya. “Gue beneran nyesel bantuin dia. Tau gitu gue biarin aja dia dituntut perdata sama para warga. Tau gitu gue bakal larang ayah mertua gue beli semua asetnya dia demi nyelametin dia dari amukan warga,” papar Om Jaka penuh kejengkelan.
“Apa kamu bilang Jaka?” mendekat dengan tatapan nyalang. “Mertua kamu beli semua aset saya? Maksud kamu apa?” mengguncang kedua bahu Om Jaka.
__ADS_1
“Jadi begini Bu Endang,” Hotman berinisiatif menjelaskan. “Semua warga yang rumahnya ikut terbakar dalam musibah itu sudah diberikan ganti rugi yang sepadan dengan nilai kerugian mereka masing-masing.”
Bu Een melepaskan perlahan cengkeraman tangannya dari bahu Om Jaka.
“Itu semua berkat Bapak Haji Barkah yang bersedia membeli semua aset Bu Endang yang tersisa,” sambung Hotman. “Mengenai kelengkapan surat-suratnya sedang saya urus, karena semua dokumen penting Bu Endang ikut terbakar dalam musibah itu.”
“Jadi, sawah dan kebon jati saya sudah dijual?” beralih menatap nanar pada Hotman.
“Iye, kalo kagak dijual sampean mau ganti rugi pake apaan?” sahut Om Jaka jengkel.
“Tega kamu, Jaka,” air mukanya berubah pilu. “Kamu tega mengambil kesempatan padahal saya sedang kena musibah. Adik macam apa kamu, Jaka? Adik macam apa kamu, ha?” berusaha menyerang Om Jaka dengan kehisterisannya, namun Om Jaka lebih dulu mencekal kedua pergelangan tangan Bu Een.
“Yu, apa sampean lupa? Semua sawah dan kebon jati yang sampean akui sebagai milik sampean itu ada hak gue juga disana! Gue kagak pernah ngungkit lagi sejak sampean marah karena gue mau minta bagian waktu itu, sampean bilang gue kagak percaya sama kakak sendiri. Bahkan rumah yang sampean tinggali itu adalah milik gue juga! Sampean terlalu tamak dan rakus jadi orang!” Om Jaka benar-benar tak bisa membendung lagi emosinya. “Kalo ada orang yang berhak marah atas musibah ini itu gue, bukan sampean! Karena gue udah ngerelain bagian warisan dari orang tua gue ikut dijual buat bayarin ganti rugi warga yang jadi korban!”
Bu Een melosot ke lantai, terisak-isak pilu mengetahui semua kenyataan yang baru saja didapatkannya.
“Saya sudah tidak punya apa-apa lagi, saya sudah jatuh miskin sekarang,” nelangsa ditengah tangisnya yang membuat bahunya berguncang-guncang. “Rumah saya, mobil, motor, toko habis terbakar Jaka... , sawah, kebon jati saya, semuanya habis... Semua harta benda saya habis... “ meraung dalam derai air mata yang sudah menganak sungai dikedua pipi keriputnya.
Om Jaka dan Hotman saling pandang sementara Bu Een terus berteriak dalam tangisnya yang semakin menjadi membuat dua petugas jaga masuk ruangan dengan tergesa.
“Ada apa ini, Pak?” tanya salah seorang petugas memandang Om Jaka dan Hotman keheranan.
“Kesurupan!” sahut Om Jaka cuek.
Kedua petugas berusaha membantu Bu Een berdiri namun malah ditepis kasar.
“Lepasin saya! Saya mau semua harta benda saya kembali!”
“Bu, sabar. Ibu tenangkan diri dulu,” bujuk petugas. “kami antar ibu ke ruangan ibu ya.”
“Saya tidak mau dipenjara! Saya mau pulang!” Gegas bangkit dengan agak terhuyung namun kedua petugas lebih gesit mengamankannya.
“Lepasin saya!” memberontak dengan tenaganya yang tersisa. “Saya harus ambil semua harta saya dari dia!” menghunus tatapan tajam pada Om Jaka.
Om Jaka membuang pandangan acuh, tak mau meladeni.
“Kembalikan sawah saya, Jaka! Kembalikan kebon jati saya! Saya tidak mau menjualnya! Saya tidak rela! Kembalikan semuanya, kembalikan...!!” terkulai diakhir kalimatnya, tubuh Bu Een melemah kedua matanya terpejam perlahan.
“Bu, Bu Endang,” seorang petugas berusaha menyadarkan Bu Een.
“Sepertinya dia pingsan,” sambung petugas yang lain.
“Bagus deh, masukin aja bak mandi ntar juga dia sadar sendiri!” ucap Om Jaka cuek.
“Kita bawa ke rumah sakit. Pak Jaka –“
“Maaf, saya nggak mau ikut campur,“ memangkas ucapan petugas. “Terserah pihak Rutan mau diapakan tu si nenek peot, saya sudah tidak peduli,” balik badan dan langsung keluar ruangan diikuti Hotman dibelakangnya.
💕💕💕💕💕
Hai, selamat pagi kakak-kakak readers & author yang cantik 🥰🥰
Terima kasih masih setia membaca tulisan othor yang nongolnya tak tentu ini 🤭🤭
Terima kasih juga buat akak semuanya yang udah doain kesehatan untuk kehamilan othor ya 🙏🙏🙏 hanya Tuhan yang mampu membalas kebaikan doa tulus kalian semua 🤗🤗🤗
Kalo berkenan, buat yang selama ini senyap aja, alias diem-diem bae, alias silent readers, mohon tinggalkan komentarnya ya 😊😊
yang udah selalu like meski belum komen, sesekali boleh dong komen juga 😄😄
yang selalu like, selalu komen, dan kadih vote, kalian semua luar biasa 💕💕💕 jangan bosen ya 😂😂
I love you all 😘😘😘
__ADS_1