
Operasi pertama Bu Een telah lewat beberapa hari yang lalu dan berjalan dengan lancar. Kondisi Bu Een masih terus dalam pemantauan dokter Leonard, jika menunjukkan kemajuan maka kemungkinan besar operasai kedua bisa dilakukan akhir pekan ini. Mirza baru pulang dari rumah sakit dan memberitahu kabar gembira itu pada Via.
“Syukur Alhamdulillah, Mas. Semoga operasi kedua ibu juga berjalan dengan lancar ya.” Sambut Via dengan perasaan bahagia.
“Iya, Sayang. Aamiin.”
Riri yang mendengar obrolan mereka dari ruang makan tanpa sadar membatin, kok aku malah jadi khawatir ya kalo Mak Lampir itu sadar dan sembuh seperti sedia kala? Apa nggak lebih bagus dia biarin aja koma selamanya, biar tenang dan damai nih dunia persilatan?
Astaghfirullah! Mikir apaan sih aku ini? Kan kasian juga Mas Mirza kalo sampe emaknya kenapa-napa? Hush, hush! Pergi sana jauh-jauh pikiran jelek, jangan dateng lagi! Riri menepuk-nepuk jidatnya sendiri hingga membuat Via keheranan.
“Ri, kenapa kamu?”
“Eh, nggak. Nggak kenapa-napa kok Mbak.” Sedikit kaget karena kepergok kakaknya. “Kayaknya tadi aku denger suara Mas Mirza deh.” Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
“Iya, barusan dateng. Lagi mandi dia.” Menarik kursi, duduk di samping Riri.
“Mbak mau teh?” Menawari teh hangat yang baru saja diseduhnya.
“Nggak, Mbak laper nih. Tapi belum mau makan, pingin ngemil apa ya yang enak?”
Berpiki sejenak. “Aku pesenin kebab mau nggak? Aku pernah beli kebab enak deh waktu sama Toni. Bentar ya, aku cari kontaknya dulu, kayaknya masih nyimpen.” Mengotak-atik ponselnya.
“Hem, asik ya makan kebab berdua sama Toni?” Ledek Via menyenggol lengan Riri.
“Ish, apaan sih Mbak? Biasa aja ah!” Riri cuek.
“Sering ya kamu ngedate sama dia?” Via kepo.
“Nah ketemu!” Riri tak menanggapi kekepoan kakaknya, ia sibuk mengetik pesan. “Done!”
“Ri?”
“Hm?” Menoleh seraya menyeruput teh hangatnya.
“Kamu sering jalan berdua sama Toni?”
“Lumayan. Kenapa emang Mbak?” Wajah Riri santai bin cuek aja sambil sekali lagi menyesap tehnya yang hangat, sehangat pelukan sang kekasih halal.
“Gimana kalo kamu nikah aja sama dia?”
Uhuk … uhuk … Riri tiba-tiba tersedak, buru-buru dia meletakkan gelasnya dan mengambil tisu mengelap mulutnya.
“Sampe batuk gitu?” Semakin meledek sang adik sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Makanya jangan mikirin Toni mulu.”
“Ish!” Riri manyun.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk di ponsel Riri.
“Kebabnya segera dikirim bentar lagi.” Sahutnya setelah membaca pesan. “Jualannya nggak jauh dari sini kok. Kalo nggak salah nama outlet kebabnya CB kebab apa ya? cuman kebab kaki lima gitu sih, tapi rasanya enak banget lho Mbak. Pasti nanti Mbak Via ketagihan deh kalo udah nyobain.” Papar Riri.
Bertopang dagu memandangi wajah adiknya yang asyik berceloteh. “Siapa?”
“Yang jual maksudnya?”
“Yang nanya?”
Kontan Riri mendengus kesal seraya kembali mengerucutkan bibirnya, Via tertawa renyah melihat tingkah jengkel Riri.
“Kamu itu ya ngeles terus tiap kali disinggung soal Toni.” Mengambil alih gelas teh dari depan Riri kemudian menyesap isinya sedikit, lumayan menghangatkan tenggorokan. Selera Via dan Riri sama, teh melati dengan gula batu yang tak terlalu manis.
“Mbak Via ngeselin!” Cebik Riri.
“Ngeselin dari mananya? Aku tanya beneran lho tadi.” Tersenyum lebar. “Kenapa kamu nggak nikah aja sama Toni? Kalian kayaknya cocok, Toni juga kayaknya udah siap banget.” Sekali lagi menyesap teh hangat yang sekarang menjadi miliknya.
“Huh, kalo ibu udah ngasih restu aku apsti udah nikah dari kemarin-kemarin.” Gerutu Riri, tangannya memainkan tisu bekas yang tadi digunakan mengelap mulutnya.
“Jadi itu masalahnya?”
Riri menganggguk lesu. “Ibu bilang Toni harus mapan dulu.”
“Terus Toni gimana komentarnya?”
“Ya … dia sih pernah punya rencana mau cari kerja di luar kota biar bisa cepet ngumpulin uang, tapi aku larang.” Masih menunduk memainkan tisu di tangannya.
“Kenapa kamu larang? Kan bagus itu biar kalian bisa cepet nikah?”
Mendesah pelan. “Aku nggak mau jauh dari Toni.” Cicitnya.
Kontan Via kembali tergelak. “Jiah, bucin parah kamu Ri!”
“Hiiiiiy! Mbak Via nih …, ngeselelin!”
Pluk!
Melempar tisu ke wajah Via, untung nggak sampe masuk mulut, wkwkwk…
“Habis belum apa-apa kamu udah bucin gitu. Jaim dikit ngapa sih jadi cewek?” Masih menyisakan tawa karena menurutnya pengakuan Riri terlalu lempeng.
“Kayak Mbak nggak pernah muda aja!” Cebiknya.
“Sembarangan! Mbak masih muda tau!”
“Tapi udah mau jadi emak-emak!”
“Biar emak-emak tapi masih muda.” Via nggak mau kalah.
“Biar muda tapi udah mau emak-emak, wlek!” Menjulurkan lidah balas meledek sang kakak.
“Daripada kamu masih muda belum jadi emak-emak?”
“Ish! Ya bagus dong? Masih kinyis-kinyis, ting-ting tralala trilili.”
Ting tung ting tung
Pertikaian unfaedah kedua kakak beradik itu terhenti ketika terdengar suara bel pintu.
“Itu pasti kebabnya dateng.” Riri segera bangkit. “Sebentar ….” Teriaknya berjalan untuk membuka pintu. “Eh, Mbak uangnya mana?”
“Hem! Kelakuan kamu Ri. Kirain mau traktir, ujung-ujungnya tetep bayar sendiri.” Ikut bangkit menuju ruang tamu setelah menghabiskan sisa teh melati terlebih dahulu.
Ceklek
Riri membuka pintu, seulas senyum dari perempuan muda pengantar kebab menyambutnya.
“Mbak Riri ya?”
“Iya, betul.”
“3 porsi kebab sapi original, semuanya 60 ribu.” Menyerahkan pesanan pada Riri.
“Chelsi?” Surprise Via yang muncul belakangan.
“Mbak Via?” Balas Chelsi tak kalah surprisenya. Dia lantas mengingat alamat yang dikirim Riri lewat pesannya. “Ternyata ini rumah Mbak Via ya?” Senyum manis kembali membingkai wajahnya yang terkesan polos, sekilas dia mirip Riri yang berparas innocent.
“Iya, ayok masuk dulu.” Ajak Via.
“Jadi kalian udah kenal?” Riri keheranan.
“Iya, jadi Chelsi ini pernah hampir ketabrak sama Mbak gara-gara meleng waktu itu.”
“Ha? Kok bisa?” Riri semakin heran.
“Hem, ceritanya panjang.” Via tersenyum kala mengingat tingkah cerobohnya itu. “Makanya ayok masuk dulu, Chel. Kita ngobrol-ngobrol dulu.”
“Eum, bukannya bermaksud menolak nih Mbak. Tapi maaf banget, aku masih ada delivery order lagi.” Chelsi tersenyum tak enak hati. “Tapi nanti aku pasti main, kan aku udah tau ini rumahnya Mbak Via.”
“Bener ya? dari waktu itu lho kamu janji mau main?”
“Iya, maaf belum sempet.”
Via merogoh saku dressnya. “Berapa tadi Ri kebabnya?”
“60 ribu Mbak.”
“Hem, sebagai permintaan maafku karena belum sempat main ke rumah Mbak Via, kebabnya aku kasih gratis.” Chelsi tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
“Eh, mana bisa begitu?” Protes Via.
“Iya, keenakan Mbak Via dong?” Timpal Riri.
“Ish, kamu ini!” Melototin Riri. “Bukan gitu maksudnya, kamu kan jualan Chel, masa kebabnya dibagi-bagiin sih?”
“Nggak papa, kan sebagai permintaan maafku Mbak.”
“Nggak, kamu nggak boleh gitu dong. Ini tolong diterima.” Memberikan uang pada tangan Chelsi.
“Jangan, Mbak. Aku ikhlas kok.” Mengembalikan uang Via.
“Oke, kalo kamu nggak mau terima uangnya nanti aku nggak mau makan kebabnya lho.”
Chelsi nyerah. “Hem, ya udah deh aku terima uangnya ya Mbak. Tapi nanti kalo aku main aku bawain lagi kebabnya buat Mbak Via. Gratis.”
“Nah, kalo itu udah lain ceritanya.”
__ADS_1
Setelah aksi sedikit gontok-gontokan masalah duit 60 ribu itu kelar, Chelsi akhirnya pamit. Riri segera membawa kebab yang masih hangat itu ke ruang makan.
“Bentar ya, Mbak panggil Mas Mirza dulu. Dari tadi mandi lama amat nggak selesai-selesai?” Via menuju kamar. Sepi, suaminya tak terlihat disana. “Mas?” panggilnya setelah mengetuk pintu kamar mandi.
“Ya, kenapa Sayang?” Sahut Mirza dari dalam kamar mandi.
“Lagi ngapain? Tidur ya, betah banget di dalem?”
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Mirza muncul dengan handuk melingkar sebatas pinggang, dada bidang terekspose sempurna.
“Baru selesai mandinya? Lama banget?” Terheran-heran menatap sang suami, rambut gondrongnya menitikkan air seperti sisa-sisa hujan menandakan ritual mandinya memang baru saja usai.
“Tdi Mas BAB dulu sebum mandi. mules, hehe …”
“Kirain ketiduran?”
“Kamu ngajak tiduran?” Mendekat meraih pinggang sang istri yang sudah tak begitu ramping lagi.
“Ketiduran Mas, bukan tiduran.” Cebik Via.
“Ooh, kirain … “ Memangkas jarak, menyapu wajah cantik sang istri dengan jemari yang terasa sejuk pada permukaan kulit wajah Via yang mulus.
“Mas, ih! Handukan dulu, rambut kamu masih basah banget kayak abis kecemplung.” Mendorong perlahan sang suami yang memnyiratkan tanda-tanda mencurigakan.
“Nggak usah, Sayang. Nanti mau keramas lagi.” Tersenyum penuh arti mengalungan kedua tangan Via pada lehernya.
“Mas, mau ngapain?” Melepaskan tangan dengan tatapan penuh kewaspadaan.
Bukannya jawab malah meyudutkan Via hingga mepet ke tembok.
“Emh, Mas aku punya kebab. Kita makan bareng yuk. Mas pasti laper kan isi perutnya abis dikeluarin?” Coba mengulas senyum barangkali bisa berhasil menghalau maksud dadakan sang suami.
“Makan kebabnya nanti aja, sekarang Mas mau makan kamu dulu.” Langsung nyosor setelah mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya.
“Humph!” Melepaskan serangan bibir dadakan sang suami. “Mas benaran mau …”
“Beneran dong, Sayang.” Pangkas Mirza dan langsung kembali menyambar bibir kissable istrinya seolah tak ingin memberikan kesempatan Via untuk bicara.
Deep and wet kiss, meski sempat berusaha menolak namun nyatanya Via mulai menikmati juga bibir rasa mint menyegarkan suaminya, manis-manis seger gitu, wkwkwk…
Det det det …
Sebuah gerakan intens dirasakan oleh Via dari dalam perutnya.
“Awh …” Spontan ia melepas pa***an bibir sang suami dan memegangi perutnya.
“Kenapa, Sayang?” Ikut meraba perut sang istri.
“Kayaknya dede bayinya nggak ngijinin nih, Mas.”
“Masa sih?” Membungkuk mendekatkan bibirnya pada perut Via. “Halo anak ayah, kamu lagi ngapain? Ayah sama bunda boleh olah raga bentar kan ya? biar ayah sama bunda kamu sehat, Nak.”
Terkikik geli demi mendengar ucapan sang suami, “Mas ih ada-ada aja.” Mencubit pipi suami.
“Ssuut.” Menempalkan jari telunjuk ada bibirnya agar Via berhenti tertawa. “Ya boleh ya, Nak?” Kembali berbicara pada si jabang bayi dalam Rahim sang istri. “Anak pinter, coba sekarang kalo kamu ijinin ayah sama bunda olah raga, kamu tendang hidung ayah.” Menempelkan hidungnya pada permukaan kulit perut Via yang masih terbungkus dress satin hijau tosca.
“Mas, mana bisa dede bayinya …”
“Ssstt.” Kembali memberi isyarat dengan jari telunjuknya. “Anak ayah sayang, kamu denger ayah kan?” Masih belum menyerah. “Coba tendang hidung ayah kalo kamu ijinin ayah sama bunda olah raga. Kamu mau ayah sama bunda sehat kan?”
Det! Sebuah pergerakan agak keras dari dalam perut Via yang sudah mulai membuncit menyentuh hidung Mirza hingga ia berseru kegirangan. “Wah, kamu setuhu ya? anak pinter!”
Via sendiri terheran-heran dengan yang barusan terjadi.
“Kamu liat kan Sayang, dede bayinya kasih ijin. Tadi dia tendang hidung Mas lho?” Mirza kegirangan.
“Ih, Mas mana tau tadi itu kaki atau tangannya dede bayi yang gerak? Jangan GR dulu.”
“Ah sama aja, yang penting dede bayinya udah kasih ijin Sayang.” Mengangkut sang istri dengan sekali garakan, tubuh Via yang sudah mulai bohay itu berpindah pada gendongan lengan kekar Mirza.
“Mas, pelan-pelan ya?” Cicit Via setelah tubuhnya sudah berada di atas kasur dikungkung oleh tubuh kekar sang suami.
“Mas akan melakuaknnya pelan-pelan Sayang, kamu tau-tau enak aja.” Tersenyum lebar.
“Ish …” Tersipu malu mencubit dada sang suami.
“Mbak ….!” Teriakan Riri dari luar kamar kontan saja membuat keduanya terperanjat.
Tok tok tok
Riri mengetuk pintu kamar.
“Mbak, kebabnya nanti keburu dingin lho nggak enak!” Serunya.
“Mbak …?” Panggil Riri lagi dari luar kamar.
“I- iya Ri, sebentar …. “ Bangkit mendorong perlahan tubuh sang suami.
“Lagi ngapain sih?”
“Bentar Ri! Mbak kamu lagi nyariin kaos … kaos kaki Mas Mirza!” Sahut Mirza cepat takut keburu Riri masuk mengingat tadi tak mengunci pintunya. “Mas tiba-tiba demam nih abis mandi!” Meraih selimut menutupi tubuhnya sebatas leher.
“Kamu duluan aja makan kebabnya, nanti Mbak nyusul!” Sambung Via.
“Punyaku udah abis dari tadi kali!”
“Ya udah, punya Mbak taroh aja di meja makan.”
“Oke!”
Sepi, sepertinya sudah tak ada tanda-tanda Riri dari luar kamar. Aman, pikir Mirza. Maka lantas segera diraihnya kembali tubuh sang istri untuk turut masuk ke dalam selimut. Tak mau buang banyak waktu, jemarinya mulai bergerilya menelusup masuk ke balik dress yang sudah tersingkap ke atas. Kedua mata Via perlahan terpejam ketika satu persatu kancing dressnya terlepas. ******* erotis dari mulut Via yang merasakan sapuan bibir suaminya di area dadanya menambah hasrat Mirza semakin menggebu. Keduanya sudah hampir masuk ke dalam gerakan inti setelah pemanasan dirasa cukup, namun lagi-lagi mereka harus menunda acara olah raga yang sebenarnya karena pintu kamar mereka kembali diketuk oleh Riri.
Tok tok tok
“Ya ampun! Ada apa lagi sih itu anak?” Mirza terpaksa mengentikan aksinya yang sedang membuka segi tiga bermuda tabir penutup harta karun istrinya yang paling berharga dan yang paling bikin enak.
“Mbak Via, Mas Mirza!” Panggil Riri.
“Iya, Ri!” Menaikkan penutup harta karunnya yang sudah sedikit melorot.
“Mbak, aku mau pamit pulang dulu boleh?”
Mirza terpaksa menjatuhkan tubuhnya di samping Via yang lagi sibuk membenahi dirinya karena sudah cukup semrawut, segera menarik tali pelindung gunung kembarnya yang juga melorot, mengancingkan kembali dressnya. Berjalan ke arah pintu setelah yakin dirinya sudah rapi.
“Eh, kenapa kok mau pulang?”Tanyanya setelah membuka pintu.
“Ini nih, ibu barusan kirim pesan katanya besok ada orderan 500 nasi box buat syukuran ulang tahunnya Haji Barkah.”
“Haji Barkah Ulang tahun?” Sedikit kaget.
“Iya, kata ibu sih gitu.”
“Kok mendadak banget pesennya? Biasanya kan jauh-jauh hari?”
“Nggak tau juga Mbak.”
“Kalo sekiranya nggak snaggup ya nggak usah diterima.”
“Kata ibu nggak enak mau nolak karena Pak Haji orangnya baik.” Riri agak merengut. “Selain itu juga karena baru ada orderan lagi, musim hajatan udah lewat soalnya Mbak.”
“Hem, tau deh ibu kalo soal uang aja mana bisa nolak.” Via segera maklum.
“Ya gitu deh.”
“Ya udah deh kamu pulang aja.”
“Mbak Via nggak papa sendirian? Eh, tapi kan Mas Mirza juga lagi sakit ya, kayaknya nggak ke rumah sakit malam ini?” Melongok ke dalam kamar yang pintunya setengah terbuka, mencuri pandang pada kakak iparnya yang tampak terbaring berbalut selimut dengan mata terpejam, padahal cuman pura-pura tidur.
“Heem.” Via hanya mengangguk.
“Nanti aku pasti nginep lagi kok Mbak kalo pesenan kelar.”
“Iya, terserah kamu aja Ri. Mbak nggak mau ngerepotin kamu kok.”
“Ya udah, aku siap-siap dulu ya.” Melangkah namun segera berbalik, “tapi aku pake motor Mbak pulangnya boleh kan? Soalnya Toni nggak bisa jemput lagi belanja.”
“Iya, pake aja.”
Riri bersiap menuju kamar, sedangkan Via masuk untuk mencari kinci motornya. Mirza membuka matanya mengikuti gerak-gerik sang istri.
“Sayang … “ Panggilnya lirih.
Via menghentikan lagkahnya. “Ya, Mas?”
“Dia sudah tak sabar, jangan lama-lama.” Melihat pada bagian tubuh bawahnya yang masih menegang.
“Suruh dia boboan dulu nggak papa, Mas. Nanti aku bangunin dia kalo udah beres.” Ucap Via seraya melempar senyum lantas segera keluar menutup pintu kamar.
“Haish…!” Menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya, mencoba menahan dan bersabar meski sesuatu yang masih berada dalam balutan handuk itu tegang menuntut pelampiasan.
Semenit, dua menit, hingga lebih dari 5 menit Via belum juga kembali. Mirza memutuskan untuk menyusul istrinya. Namun urung karena Via keburu muncul.
“Riri udah pulang?” Tanyanya penuh penasaran.
__ADS_1
“Udah Mas.”
“Yess!” Bangkit segera mnuju pintu dan menguncinya.
Ceklek ceklek
Via sampai geleng-geleng kepala demi melihat tingkah suaminya yang demikian bersemangatnya.
“Ayok Sayang, kita lanjutkan.” Membelai lembut wajah ayu Via. “Kamu harus tanggung jawab untuk membangunkannya lagi, dia tertidur karena kelamaan nunggu.” Meraih dagu Via dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menuntun tangan kiri Via untuk meraih pusaka saktinya yang masih berselimut handuk putih.
Keduanya saling menyesap, menikmati pag**an demi pag**an bibir yang memabukkan, merasa sudah yakin terbebas karena tak akan lagi ada penggangu, gerakan Mirza lebih agresif. Jemarinya kini menerobos segi tiga bermuda tabir penutup harta karun yang paling nikmat dan bermain-main disana sambil terus menyesap bi**r sang istri, mengekspos lidahnya bertukar saliva penuh kenikmatan.
“Emmmh, ahh …” Via melepaskan pag**annya seraya mencekal pergelangan tangan suami yang jarinya tengah lincah bermain dalam harta karunnya.
“Enak Sayang?” Bisik Mirza dengan mata sayu penuh damba.
“Mas …”
“Ya, Sayang …” Menajalari leher sang istri dengan sapuan lidahnya yang lembut membuat Via makin meremang tak kuasa menahan sesuatu yang sudah ditahannya.
“Aku udah nggak tahan.” Lirih Via.
“Sama, Sayang.” Kembali menggerakkan jarinya namun Via mencekalnya sekali lagi.
“Aku nggak tahan mau pipis Mas.”
Menatap sang istri sejurus. Tak mempedulikan raut Mirza yang dalam mode freez, Via gegas ngacir ke kamar mandi.
“Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini …?”
Bugh!
Menjatuhkan diri terlentang di atas kasur, mengatur nafas sejenak memaklumi keadaan yang sedang menguji tingkat kesabarnnya.
Sabar Ya Mas Mirza, wkwkwk….
Yok, dilanjut dalam imajinasi sendiri-sendiri aja ya… hehe…
❤️❤️❤️❤️❤️
Kicau burung riang menjadi penanda pagi yang cerah. Geliat aktifitas di rumah sakit sudah mulai terasa, Ramzi meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Matanya mengerjap, sapaan sinar matahari sedikit menyilaukan. Ramzi bangkit perlahan, mengusap wajahnya yang sudah sangat brewok karena sudah lama tak bercukur. Tertidur sehabis subuh agaknya membuat kepala sedikit pusing, dipijatnya perlahan kedua pelipisnya.
Perhatiannya tercuri ketika seekor kupu-kupu terbang rendah menghampiri bunga soka di taman samping dia duduk. Kupu-kupu itu berwarna hitam legam dengan corak warna orange di ujung kedua sayapnya membuatnya terlihat kontras dan sangat cantik. Ia mengepakan sayapnya anggun mengitari rumpun bunga soka disana, lalu hinggap untuk mengambil sari bunga. Gerakannya begitu menyita perhatian Ramzi seolah dia baru pertama kali itu melihat seekor kupu-kupu sedang menikmati sari bunga.
“Kak Ram.” Sapa Azad mengalihkan fokus Ramzi. “Mandilah dulu, biar lebih segar. Kak Sofi hari ini akan dipindahkan ke ruang perawatan kan?” Duduk di samping kakak iparnya.
“Oh iya. Semoga saja keadaan Sofia benar-benar sudah membaik.”
“Aamiin.”
Bangkit dari posisinya. “Ya sudah, aku mandi dulu ya.”
Azad mengangguk, melirik jam tangannya. Pukul 07.30 pagi. Perasaan Azad lebih tenang hari ini,selain itu tubuhnya juga bugar karena tidur dengan nyenyak di mushola rumah sakit walau hanya beralaskan karpet. Cukup nyaman ketimbang tidur di kursi jaga yang keras.
Azad menghirup udara pagi yang sejuk,ia tersenyum penuh harap akan kondisi kakaknya yang semoga saja benar-benar membaik sehingga bisa keluar dari ruang ICU seperti yang dikatakan dokter kemarin sore. Untuk mengisi waktu sambil menunggu visit dokter yang menangani kakaknya, ia mengeluarkan gadgetnya. Ada begitu banyak pesan yang masuk, salah satunya dari Jane yang menanyakan keadaannya dan juga Sofi. Azad segera membalasnya. Pesan selanjutnya dari sang mama. Azad terdiam, jarinya seperti kaku.
Beberapa hari yang lalu Azad sempat mengabarkan kalau dia keluar kota dengan Ramzi karena ada kerja sama yang akan menyelamatkan perusahaan keluarganya dari kebangkrutan. Tuan Husein kala itu sempat menelpon karena tak percaya, namun Azad berhasilmeyakinkan keluarganya kalau dia pasti pulang jika sudah selesai.
Ma, sebenarnya aku sekarang …
Azad menghentikan jarinya, tak melanjutkan mengirim pesan balasan untuk ibunya. Ia segara menghapus tulisannya. Belum saatnya mama papanya tau, ia terlalu takut jika mereka kepikiran.
Drrrt
Ponsel di tangan Azad bergetar, pesan dari sang mama lagi.
Mama
Azad, kamu sebenarnya dimana dengan Ram? Papamu sangat khawatir, sejak dua hari yang lalu dia berangkat ke kantor untuk menggantikan mu, tapi semua orang disana mengatakan tak ada yang tau kamu dan Ram pergi kemana.
Deg!
Pesan ibunya membuatnya mulai goyah, haruskah dia berterus terang sekarang? Termenung, menimbang hal baik dan hal buruk yang mungkin terjadi jika dia mengatakan keadaan Sofi sekarang.
Ponselnya kini bergetar lagi, kali ini sang mama menelpon karena Azad tak kunjung membalas pesannya. Azad bergeming, membiarkan ponselnya sampai berhenti berbunyi sendiri.
Drrt
Mama
Nak, kenapa tak terima telpon dari mama? Jangan bikin kami khawatir. Kenapa Ram juga tak bisa dihubungi?
Menghalau perasaan galaunya. Langkah-langkah cepat suster berlomba dengan sebuah brankar yang di dorong menyisakan suara berderit-derit di lantai lorong seberang membuat Azad mempunyai jawaban yang paling tepat untuk sang mama.
Azad
Ma,maaf aku lagi persiapan meeting. Tenanglah. Kalian tak usah khawatir. Aku pasti pulang dengan kabar bahagia. Salam untuk papa, maaf harus ke kantor menggantikan aku untuk sementara.
Azad segera memasukkan gawainya ke adalam saku kemejanya setelah selesai, lantas beranjak bermaksud menuju kantin untuk menikmati kopi pagi. Namun langkahnya harus terhenti ketika berpapasan dengan dokter yang menangani Sofi.
“Dok, apa ini sudah waktunya visit kakak saya?” Tanya Azad heran karena menurutnya ini masih terlalu pagi.
“Iya, memang lebih pagi dari biasanya karena jam 9 nanti saya ada meeting.”
“Oh, begitu?”
Azad urung menuju kantin, ia mengekori langkah dokter yang berjalan dengan seorang suster.
"Dok, apa saya boleh ikut masuk?”
“Boleh. Tapi pakai dulu pakain protektifnya. Suster, tolong.” Meminta pada sang suster untuk mengambilkan pakain khusus berwarna hijau polos dari nakas di balik pintu ruangan.
Dokter melenggang masuk, sementara Azad masih harus mensterilkan diri terlebih dahulu sebelum mengenakan baju protektifnya. Selama kakaknya dirawat di ruang ICU, dia belum penah sekali pun masuk melihat langsung hanya berjaga di luar saja. Razmi yang terkadang ikut masuk bersama sang dokter karena tak diperbolehkan pasien dijenguk oleh lebih dari satu orang.
“Dok, kakak saya bergerak.” Lirih Ramzi begitu dia sampai di samping bed Sofi, ia memperhatikan kedua kelopak mata kakaknya bergerak-gerak.
“Pasien memang sudah melewati masa kritisnya.”
“Kak Sofi …” Azad tak kuasa membendung rasa harunya ketika melihat kedua mata indah kakaknya terbuka perlahan.
Sementara dokter sibuk memeriksa sang kakak dan suster serius memindai segala sesuatunya ke dalam catatannya, Azad meraba lembut punggung tangan Sofi yang terasa dingin. Bibir pucat sang kakak yang berada di balik masker oksigen bergerak perlahan seolah ingin mengatakan sesuatu menambah rasa haru yang semakin menyisir seluruh hati Azad.
Azad mengangguk seolah paham apa yang hendak di katakan kakaknya. “Tenanglah Kak, jangan khawatir. Bayi mungilmu dalam keadaan sehat.” Ucap Azad membelai punggung tangan Sofi menguntai sneyum, tak terasa buliran bening luruh dari kedua netranya. Meski Azad seorang laki-laki yang berperawakan tegap dan terkesan sangar dengan jambang brewok hampir menutupi kedua pipinya, namun perasaan Azad sangat lembut, terutama jika itu berkaitan dengan Sofi. Sedemikian sayangnya dia pada kakak satu-satunya itu.
“Kakak Anda akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.” Ucapan dokter membuat Azad segera mengusap pipinya yang basah. “Suster akan segara menyiapkan ruangannya.
“Saya minta ruangan dengan perawatan terbaik untuk kakak saya.”
“Baik.” Dokter segera keluar diikuti suster.
Azad mengambil kursi duduk di dekat bed Sofi. Matanya tak lepas dari wajah pucat sang kakak. Kedua mata indah Sofi nampak sangat sayu.
“Istirahatlah lagi Kak. Kamu akan baik-baik saja. Kita akan pindah ke ruang perawatan. Disana kamu pasti cepat pulih.” Mengusap bahu kakaknya, meski samar tapi Azad tahu Sofi coba untuk tersenyum sebelum kemudian kedua matanya mengatup kembali.
Azad memeperhatikan layar monitor ICU di samping bed sang kakak. Meski dia tak bisa membaca dan mengartikan angka dengan deretan garis berwarna hijau dan kuning disana, namun dia yakin keadaan kakaknya baik-baik saja karena tak ada yang berubah dan mencurigakan dari pergerakan layar mnitor itu, masih sama seperti yang ia lihat ketika masuk tadi. Cukup lama Azad menemani sang kakak disana hingga dua orang suster masuk untu memindahkan Sofi ke ruang perawatan.
Azad menunggu di luar, ia menghubungi Ramzi untuk mengabarkan kondisi terkini Sofi.
“Ck, ponselnya nggak aktif!” Decak Azad kesal sementara suster sudah membawa Sofi keluar ruang ICU.
Azad mengetik pesan singkat, berharap Ramzi nanti akan mengaktifkan ponselnya jika mendapatinya sudah tak ada di depan ruang ICU. Suster sudah berada jauh dan berbelok mengambil lorong kanan menuju ruangan baru untuk Sofi. Azad cepat mengejar dengan setengah berlari. Nafas Azad setengah tersengal, dia memilih duduk di kursi depan ruang perawatan Sofi sambil menunggu suster selesai dengan kakaknya.
“Azad, gimana keadaan Sofia? Kenapa dia sudah dipindahkan?” Ramzi tau-tau muncul yang juga dengan nafas ngos-ngosan, rupanya dia tadi sempat melihat Azad berlarian mengajar suster yang membawa istrinya.
“Ah, kau lama sekali dari mana aja sih Kak? Aku telpon ponselmu nggak aktif.” Kesal Azad.
“Maaf, aku tadi shalat dhuha. Meminta rejeki berupa kesehatan untuk Sofia.”
“Kak Sofi sudah siuman, dia sudah bisa berinteraksi makanya dipindahkan.”
“Benarkah?” Binar kebahagiaan terpancar dari wajah Ramzi.
Azad mengangguk. “Masuklah, temui dia.”
Ramzi segera memburu pintu kamar Sofi bertepatan dengan dua suster yang hendak keluar dari sana. Saking semangatnya, Ramzi sampai tak menghiraukan para suster itu dan tubuh besarnya menyenggol keduanya hingga mereka oleng hampir terjatuh.
Azad segar memita maaf pada suster atas kelakuan kakak iparnya, suster hanya menggerutu sedangkan Ramzi sudah berada di dalam ruangan.
“Sofia, sayangku …” Panggilnya seraya mengusap lembut pipi Sofi.
Perlahan kedua mata sayu Sofi terbuka, wajah suaminya ditatapnya lekat. Meski tanpa kata, ia merasakan kehangatan memenuhi relung hatinya.
“Sofia, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Terima kasih sudah berjuang untukku dan malaikat kecil kita.”
Cup!
Kecupan hangat singgah di kening Sofi. Lama Ramzi mendaratkan bibirnya disana. Kedua mata insan itu lantas saling menatap dalam, menyusuri relung kalbu satu sama lain lewat sorot redup berbingkai kebahagiaan yang hanya mereka yang mampu memaknai semuanya.
❤️❤️❤️❤️
***Terima kasih sudah membaca dan setia menunggu kelanjutan kisahnya 🙏🙏
Maafin ya kalo banyak typo🙏
Makasih juga yang udah ngasih tambahan vote😍😘😘
__ADS_1
like dan komen selalu ya🤩🤩
Iove you all pokokmen🤗🤗🤗😘😘😘***