
🎶Sejak jumpa pertama
ku langsung jatuh cinta
Walau ku tahu kau ada pemiliknya
Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani
Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini🎵
🎶Maka izinkanlah aku mencintaimu
atau bolehkanlah aku sekedar
sayang padamu
Maka izinkan aku mencintaimu
atau bolehkanlah aku sekedar
sayang padamu 🎶
Lagu lawas milik Chrisye yang disenandungkan Ariel Noah sedemikian merasuknya ke dalam jiwa Danar. Matanya terpejam seolah sedang menghayati kata demi kata dalam syair lagi itu.
Krieet ….
Pak Hadi membuka pintu kamar Danar perlahan.
“Danar …” Panggil Pak Hadi dari ambang pintu, namun yang dipanggil tak bergeming. Pak Hadi berjalan mendekat menghampiri putranya yang berbaring terpejam di atas kasur busanya lantas melepaskan earphone dari telinga kanan Danar.
Danar membuka matanya sedikit kaget dan bangkit melepas sebelah earphonenya.
“Ada apa, Pa?”
“Kamu sudah shalat isya belum?”
“Belum.”
“Shalat dulu sana, terus makan. Pulang kerja tadi kamu belum makan kan?”
“Nggak laper, Pa.” Danar meletakkan gawainya di atas meja kemudian keluar kamar.
Pak Hadi mengikuti langkah anaknya dan menunggunya selesai shalat di meja makan.
“Kamu beneran nggak mau makan?” Tegur Pak Hadi setelah Danar keluar dari mushola.
“Heem, lagi diet.”
Pak Hadi tersenyum tips. “Bikinin Papa kopi.”
Danar urung menuju kamar dan memutar langkahnya ke dapur, Pak Hadi memperhatikan gelagat putra semata wayangnya itu.
“Duduk sini dulu, temani Papa.” Titah Pak Hadi pada Danar yang menyodorkan secangkir kopi hitam favoritnya.
Danar menurut meski dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.
“Kamu lagi patah hati ya?” Tanya Pak Hadi tanpa adeng aling-aling.
Danar yang merasa terkejut langsung menatap papanya sejurus. “Papa udah kayak peramal aja.”
Pak Hadi malah terkekeh. “Soalnya dulu juga kamu kayak gini waktu patah hati sama Grace.”
Danar tak menyahut, pandangannya malah asyik menekuri taplak meja makan yang bermotif kotak-kotak. Pak Hadi semakin yakin dengan dugaannya, sebab gelagat aneh putranya itu sudah sejak beberapa waktu terakhir ini dirasakannya.
“Kamu jatuh cinta sama anaknya Harni?”
JLEB!
Kok papa bisa tau sih? Jangan-jangan ibu udah cerita semuanya ke papa. Ck! Padahal kan aku nggak bilang apapun sama ibu tentang perasaanku sama Via.
“Hoy, malah bengong!” Pak Hadi menepuk pundak Danar.
Danar mengatur nafas, “Papa sok tau!”
Kembali Pak Hadi terkekeh. “Kalo itu semua nggak bener, kenapa kamu jadi pucet begitu?”
Seketika Danar mengusap wajahnya kasar. Pak Hadi menyeruput kopinya perlahan, ekor matanya memperhatikan raut wajah anaknya yang datar.
Setelah penolakan oleh cita pertamanya itu, Danar memang tertutup untuk urusan pribadinya. Ia butuh waktu lama untuk bisa membuka hati lagi, namun setelah ia berhasil menemukan cintanya kembali, ternyata ia jatuh cinta pada orang yang salah.
“Kalau kamu benar-benar mencintainya, kamu harus perjuangkan dia.”
Danar tersentak. “Papa mendukungku?”
“Iya, kenapa tidak?” sahut Pah Hadi dengan ekspresi tak terbaca.
“Tapi dia sudah punya suami, Pa.”
“Tak masalah kalau kamu mencintainya.”
Danar kembali menekuri motif kotak-kotak taplak meja makan, seolah sedang menghitung jumlahnya satu per satu. “Aku nggak mau merebut istri orang.” Lirih Danar.
Pak Hadi menepuk-nepuk pundak putranya seraya tersenyum. “Kalau kamu sudah tau itu salah, kenapa diteruskan?”
Danar mengangkat wajahnya, menatap lekat kedua netra laki-laki tua di sampingnya yang masih terlihat guratan ketampanan di wajahnya itu. Ia paham, kemana arah tujuan maksud kalimat ayahnya.
__ADS_1
“Hapus fotonya dari galeri ponselmu, jangan nyimpen foto istri orang.”
Danar kembali kaget. Sorot matanya seolah bertanya, kok papa tau aku punya foto Via?
“Cintamu bertepuk sebelah tangan, anak muda. Sama seperti papamu dulu.” Pak Hadi kembali mengambil cangkirnya dan menyesap kopinya yang hampir dingin.
“Apa papa masih mencintai Bu Harni?” Tanya Danar hati-hati.
“Pertanyaan konyol macam apa itu?”
“Jawab saja, Pa. aku mau tau.” Danar sedikit memaksa.
“Kalau iya memangnya kenapa? Kamu mau nyuruh Papa nikah sama lagi? Terus Kamu dan Via jadi kakak adik begitu?” Pak Hadi terkekeh lagi.
Danar merengut, papanya selalu saja sok berteka-teki tak langsung menjawab jika ditanya.
“Jangan bahas masalah Papa lagi karena hati Papamu ini sudah penuh dengan nama almarhumah mama kamu yang tulusnya tiada bandingannya.”
Danar mengangguk paham. Hening untuk beberapa saat.
“Jangan lupa hapus fotonya. Kalau kamu memandanginya terus bagaimana kamu bisa melupakannya.” Pak Hadi bangkit membawa cangkir kopinya.
“Papa tau dari mana aku punya fotonya Via?” akhirnya kalimat tanya itu meluncur juga.
Pak Hadi menoleh. “Dari kamu sendiri.”
Danar heran, “aku nggak pernah bilang.”
“Dasar anak muda bodoh. Kamu sering tertidur dengan layar ponselmu yang memperlihatkan wajah anak Harni yang cantk itu.”
“Papa menyelinap ke kamarku?”
“Hey, aku bukan maling!”
“Tapi paling tidak Papa mengakui kalau Via itu memang cantik.” Danar tersenyum.
“Cantik, tapi sayang istri orang! jadi lupakan saja dia!” Pak Hadi meneruskan langkahnya menuju teras belakang. Itu memang kebiasaanya, ngopi malam-malam di teras belakang sampai ngantuk menjelang.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pak Haji Barkah sedang memeriksa laporan pembukuan dari tiap cabang toko matrialnya, wajahnya serius tak beralih dari lembar demi lembar kertas yang dipegangnya. Begitu pula Jaka, dia menskrol layar ponselnya membaca laporan perkembangan bisnis barunya. Hari ini semua toko matrial Pah Haji tutup, semua karyawan diberikan libur satu hari setiap akhil bulan.
“Yah, Beb, makan dulu yuk! Masakannya udah siap.” Denaya muncul menghampiri mereka.
“Heum.” Sahut Om Jaka.
Pak Haji segera mengakhiri kegiatannya dan melepas kacamatanya. “Ayok, Jak! Istrimu sudah ngajak makan itu.”
“Nanti saja, Yah. Ayah duluan aja.” Om Jaka masih serius.
Om jaka mengalihkan pandangannya pada istrinya dengan wajah masam.
“Jaka, kalau soal tanah warisanmu itu, nanti ayah akan coba bantu bicara pada Bu Endang.” Ucap Haji Barkah.
“Oh, jadi ini gara-gara itu, Beb? Memang kok, Mbakyunya Bebeb itu orang teraneh sedunia, masa nahan haknya orang? Aalagi itu warisan dari orang tua, bisa kualat nanti.” Cerocos Denaya sebal kala ingat cerita suaminya perihal perdebatannya tentang tanah warisan dengan Bu Een.
“Sudah, nggak usah dikomporin begitu suamimu, Dena.”
“Emang bener begitu kok, Yah.” Denaya kekeh.
“Ayok kita makan dulu, setelah makan kita temui kakakmu.” Pak Haji menepuk pundak menantunya.
“Ayah yakin bisa membujuk Mbakyu? Aku pikir mau langsung ambil jalur hukum saja.”
“Kan belum dicoba, siapa tau bisa. Lagi pula kalu kita bisa menyelesaikannya dengan cara baik-baik, kenapa harus dengan keributan? Nggak baik ujungnya, karena kalian itu saudara kandung. Ayah nggak mau ada perpecahan.” Ungkap Pak Haji bijak.
“Terserah ayah saja kalau begitu.” Om Jaka nurut.
Mereka bertiga menuju meja makan, menu yang dihidangkan Denaya sedemikin komplitnya namun Om Jaka makan dengan tak berselera. Mulutnya yang biasanya comel kini diam tanpa kata. Tak ingin membuang waktu, setelah selesai makan dan shalat dzuhur Om Jaka dan Pak Haji segera menuju rumah Bu Een.
Udin seperti biasa menyambut kedatangan Om Jaka dengan suka cita, namun dia sedikit heran ketika melihat Pak Haji Barkah turut serta.
“Mbakyu ada, Din?”
“Ada Om, di dalam.”
Tolong panggilkan ya, bilang gue sama Pak Haji mau ketemu. Gue tunggu di ruang tamu.”
“Siap, Om!”
Om Jaka mengajak ayah mertuanya masuk ke ruang tamu dan menunggu yang empunya rumah di sana. Sesaat kemudian Udin muncul bersama Bu Een.
“Oh, jadi kamu bawa bantuan kesini?” Bu Een langsung menyambut dengan pertanyaan sinis.
“Assalamualaikum, apa kabar Bu Endang.” Sapa Haji Barkah dengan senyum teduh menenangkan.
“Wa alaikum salam, Pak Haji.” Si Udin malah yang menjawab salam dari Haji Barkah, kontan saja Bu Een mengeplak kepala Udin.
PLAK!
“Aduh …!” Si Udin meringis memegangi kepalanya.
“Kamu ngapain masih disini? Jaga toko sana!” Usir Bu Een galak, Udin pun keluar.
Bu Een mendudukkan diri di sudut sofa agak jauh dengan para tamunya. Sementara Udin nggak benar-benar ke toko, ia malah mengambil sapu lidi dan berinisiatif membersihkan halaman rumah majikannya yang dipenuhi daun jambu kering yang berserak. Mau nguping dia, wkwkwk….
__ADS_1
“Nggak usah panjang lebar, saya sudah tau maksud kedatangan kalian ke sini.” Ketus Bu Een.
“Bagus dong, berarti sampaen bakal segera memberikan hak gue kan?” Om Jaka nggak kalah ketusnya.
“Kamu ini amnesia atau apa sih? Saya bilang kan sawah yang di kampung sebelah belum selesai panen, Jaka!” Bu Een menatap Om Jaka sengit.
“Gue nggak urus soal panenan, gue cuman minta semua sertifikat tanah dan sawah gue. Itu aja!” Tegas Om Jaka. “Masa bodo panennya udah selesai apa belum, kan nggak ada hubungannya sama sertifikatnya?”
Bu Een diam, akal-akalan apa lagi yang mau dia pakai untuk menahan sawah dan tanah milik adiknya itu. dia sungguh tak rela jika Om Jaka mendapatkan haknya yang jumlahnya memang lebih banyak daripada hak yang ia dapatkan dari orang tuanya.
“Sebelumnya saya minta maaf pada Bu Endang.” Pak Haji memulai pembicaraannya. “Bukan maksud saya untuk ikut campur. Demi Allah, dalam hal ini saya akan berusaha netral dan tak membela siapa pun. Saya hanya ingin meluruskan saja permasalan keluarga ini agar tak berkepanjangan.”
Bu Een terang-terangan melengos, pura-pura tak mau dengar perkataan Pak Haji.
“Agama kita telah mengatur pembagian harta waris dengan sangat adil. Adil disini bukan berarti sama banyak antara hak anak laki-laki dan hak anak perempuan. Dalam surat An Nisa ayat 11 kita sama-sama bisa melihat pembagiannya secara rinci. Di sana Allah menjelaskan bahwa bagian untuk seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika ….”
“Sudah, sudah! Pak Haji nggak usah ceramah di sini! Saya ngerti kemana arah tujuan pembicaraan Pak Haji.” Sela Bu Een tiba-tiba.
“Sampean itu sangat idak sopan Yu, menyela pembicaraan orang yang mau menjelaskan tentang ayat Al Quran.” Om Jaka menatap Mbakyunya sinis.
“Eh, Jaka! Kamu pikir rumah saya ini masjid? Jadi mertua kamu bisa ceramah seenaknya disini? Saya nggak perlu diceramahin juga udah paham!”
“Kalo paham kasihin dong bagian gue, jangan dikekepin mulu!” Om Jaka mulai maksa.
Bu Een langsung diam ditodong seperti itu.
“Bu Endang, berdosa hukumnya bagi kita menahan hak orang lain. Apalagi Bu Endang paham soal agama. Sekiranya ada yang masih mengganjal, ada baiknya Bu Endang musyawarahkan dengan Jaka secara terbuka agar semuanya jelas.” Pak Haji bertutur bijak.
Perundingan yang sekiranya berjalan secara kekeluargaan itu nyatanya berlangsung alot. Bu Een terlihat belum menunjukkan itikad baik untuk menyerahkan semua apa yang menjadi hak Om Jaka. Pak Haji Barkah yang coba bernegosiasi dengan halus pun nyatanya sama sekali tak membuat Bu Een luluh.
“Gue nggak mau buang-buang waktu, Yu. Gue mau besok sampean serahin semua apa yang jadi hak gue, sampean masih punya waktu sehari buat menyiapkan semuanya. Jika sampe besok sampean nggak nongol di rumah gue, gue bakal tempuh jalur hukum!” Om Jaka bangkit. “Ayok, Yah. Kita pulang aja, nggak ada gunanya berlama-lama di sini, bikin senewen aja!” Om Jaka berjalan mendahului ayah mertuanya.
Pah Haji menghela nafas seraya melihat pada Bu Een yang masih pasang tampang jutek. “Saya pamit dulu, Bu Endang. Semoga Bu Endang memikirkan perkataan Jaka masak-masak. Asaalamualaikum.”
Pak Haji keluar dan tak ada sahutan salam yang keluar dari mulut Bu Een, ia menatap mobil Om Jaka yang beranjak keluar halaman rumahnya dari balik kaca jendela ruang tamu.
❤️❤️❤️❤️❤️
Yanti tampak sedang mendorong sepeda-sepedaan Gio di halaman rumah Via. Cukup lama ia tak menghabiskan waktu bersama sejak Via sibuk bekerja.
“Turunin aja Yan, biar Gio sesekali main di tanah.” Ucap Via yang asyik memanen tanaman cabe rawitnya.
“Nanti kotor, Vi.”
“Alah, belum mandi ini kan? Berani kotor itu baik.”
Yanti nyengir. “Kayak jargon iklan aja kata-katamu, Vi.”
“Turunin Gio cepetan, biar dia jalan-jalan sendiri. Kunci aja tuh gerbangnya. Kamu bantuin aku ngambilin pokcoy tuh.”
Yanti akhirnya nurut. Gio bocah laki-laki yang baru bisa jalan itu senang bukan main ketika kaki telanjangnya menyentuh tanah. Ekspresinya sungguh menggemaskan membuat Via sesekali menggodanya.
“Wuih, lumayan juga dapetnya ya Vi?” Ucap Yanti senang melihat hasil penen cabe rawit Via yang hanya beberapa pohon itu. “Bisa tuh buat dijual, kan harga cabe rawit sekarang lagi mahal?”
Via nyengir. “Gimana kalo kamu aja yang jualin keliling komplek?”
“Ha, enak aja!”
“Ya udah, makanya jangan main jual-jual aja. Mending kita masakk sendiri. Nih, kita bagi dua ya, kamu yang agak banyakan. Kamu kan suka pedes.” Via meletakkannya di keranjang sepeda Gio.
“Iya, aku sama Mas Firman suka pedes. Makasih ya, lumayan deh bisa buat bikin sambel beberapa hari, hehe …”
Via mencuci tangan di keran, lantas menemani Gio yang berjalan ke sana kemari, Yanti menyelesaikan panen pokcoynya. Dari balik gerbang, muncul sosok yang sudah lama tak beredar di dunia persilatan memperhatikan kegiatan mengasyikan di halaman rumah Via itu.
“Halo, Jeng Isyana dan Jen Yanti. Lagi pada ngapain kalian?” Sapa sosok itu yang tak lain adalah Bujel itu.
Via dan Yanti kompak menoleh ke sumber suara,
“Haish! Si biang rusuh dateng.” Decak Yanti sebel.
“Buakain dong Jeng gerbangnya. Saya boleh gabung kan? Kayaknya kalian asyik banget deh, lagi pada ngapain sih?” Tanya Bujel lagi seraya melongokkan kepalanya dari atas gerbang yang hanya setinggi leher orang dewasa.
“Nggak usah sok akrab deh! Mau ngapain kesini-sini?” Kesal Yanti.
“Yam mau gabung dong, ikut kalian disitu. Boleh kan Jeng Isyana?” Bujel tersenyum pada Via.
“Jangan dibukain Vi, dia pasti mau bikin rusuh.” Bisik Yanti.
“Saya bawain rambutan nih buat kalian!” Bujel mengacungkan plastik berisi rambutan yang baru saja dibelinya di tukang buah yang biasa lewat depan rumahnya.
“Modus aja deh itu. nggak biasanya kan dia bawa-bawa?” Yanti curiga
Namun Via yang tak enak hati, terpaksa membukakakn gerbangnya untuk Bujel yang sudah pasang senyum lebar.
“Ini Jeng, rambutan buat kamu. Enak lho itu manis kayak aku.” Bujel mulai narsis.
Via menerimanya meski agak ragu. Yanti benar, memang tak bisa-biasanya Bujel baik kayak gini pake bawain rambutan segala, biasanya kan dia malah minta mulu. Selalu aja ada ulahnya, yang minta pepaya lah, minta garam, minta gula, terus pernah pinjem panci, pinjem saringan teh, bahkan pernah juga pinjem jepitan rambut, iseng banget kan? Tapi rasa-rasanya Via mau curiga tak enak juga, karena kedatangan Bujel kaii ini kayaknya emang bukan mau rusuh. Padahal tanpa Via dan Yanti ketahui, Bujel memang punya misi tertentu datang ke sana.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏😍😍
Jangan lupa untuk selalu tingglkan jejak dengan like komen dan vote bila berkenan😊😊😊
Maaf othor lagi riweh ini jadi belum bisa up maksimal ya.🙏🙏
__ADS_1
Luv u all