
Ketukan pintu kamar beberapa kali membuat mata Sofi mengerjap dan menggerakan badannya mengubah posisi tidurnya.
“Ssssssh” Sofi mendesis pelan sambil meraba perut bagian bawah.
Ceklek
Pintu kamar dibuka, seorang pelayan masuk dan menghampiri .
“Nyonya, apa Anda baik-baik saja? Tanya pelayan itu.
Sofi diam, namun raut wajahnya menyiratkan dia menahan kasakitan, tangannya masih pada perutnya.
“Tuan Ram menunggu Nyonya untuk sarapan di bawah.” Ucap pelayan itu.
Sofi memiringkan badannya membuatnya meringkuk, dan kemudian rasa sakit diperutnya perlahan berkurang.
“Aku sarapan di kamar saja, aku tidak enak badan.” Ujar Sofi.
“Baik, Nyonya. Segera saya kembali untuk membawakan sarapan Anda.” Pelayan itu mengangguk dan keluar kamar.
Dengan bangun perlahan dan agak tertatih Sofi berjalan untuk membersihkan dirinya.
Pelayan menghampiri Ramzi sebelum ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang akan di bawa ke kamar Sofi.
“Maaf, Tuan Ram. Nyonya ingin sarapan di kamar, katanya sedang tak enak badan.”
Ramzi menghentikan aktifitasnya dan menoleh pada pelayan itu.
“Tidak enak badan?” Ramzi mengernyit.
"Sakit apa dia?" Sambar Tuan Alatas.
“Maaf Tuan, saya tidak bertanya.” Pelayan itu menundukkan kepalanya. “Tapi sepertinya nyonya sakit perut karena tangannya terus memegangi perutnya.”
Ramzi dan Tuan Alatas saling pandang.
“Bawakan sarapannya dan jangan lupa minta dia untuk minum batnya.” Perintah Ramzi pada pelayan itu.
“Baik, Tuan.”
Pelayan berlalu menuju dapur.
“Sebentar lagi, Papa.” Ucap Ramzi.
Senyum sinis Tuan Alatas mengembang dibawah kumisnya yang berjumbai-jumbai.
“Perempuan j***ng itu akan menanggung akibatnya.”
“Papa, jangan panggil dia seperti itu.” Protes Ramzi.”
“Kau tidak suka?”
“Dia sekarang sudah menjadi istriku.”
Tuan Alatas tak peduli, ia mengangkat cangkir kopinya sementara Ramzi segera menutup laptopnya.
Ramzi dan Tuan Alatas pun sarapan tanpa kata. Dan setelah selai sarapan Ramzi ke atas untuk menemui Sofi.
Pintu kamar Sofi sudah terbuka, pelayan berdiri tak jauh dari pintu dan Sofi sedang sarapan di atas kasurnya.
“Pelayan bilang kau sedang sakit?” Tanya Ramzi tanpa basa basi.
Sofi melihat sekilas pada suaminya.
“Sudah baikan.” Jawabnya singkat.
“Kalau ada apa-apa hubungi aku.” Ucap Ramzi lantas segera keluar lagi.
Sofi memandangi punggng suaminya dengan kesal.
Cih! Dasar sok perhatian! Sok baik! Dia pikir sikapnya itu bakal membuatku memaafkan perbuatannya terhadap keluargaku? Lihat saja, akan aku buat kamu mengembalikan semua yang kau ambil paksa dari keluargaku!
Sofi jadi tak berselera melanjutkan sarapannya.
“Aku sudah selesai.” Ucap Sofi pada pelayan.
Sang pelayan segera menghampiri.
“Jangan lupa minum obatnya, Nyonya.” Pelayan mengingatkan.
Sofi pun meraih segelas air putih dan obat di samping mangkuk sarapannya dan segera meminumnya.
Pelayan mengambil nampan dan mengangguk hormat keluar dari kamar.
_____________
Mobil Om Jaka memasuki halaman rumah Mirza ketika Mirza keluar rumah menuju garasi.
“Hoy, mau kemana lu?” Sapa Om Jaka begitu keluar dari mobil.
“Mau ke rumah ibu.”
“Wah, sebaiknya jangan deh.” Cegah Om Jaka.
Mirza heran. “Kenapa emangnya, Om?”
“Dari kemarin emak lu minta gue nemenin dia nemuin elu buat ngomongin masalah pindah nama tanah elu itu.” Terang Om Jaka. “Makanya gue semalem nggak pulang kesana. Males denger omelan emak elu yang kayak petasan renceng!”
“Lah, kalo nggak tidur di rumah, terus Om Jaka tidur dimana semalem?”
Ditanya begitu, Om Jaka malah cengar cengir nggak jelas.
“Kok malah cengengesan?” Mirza heran lagi.
“Masuk dulu yok, ntar gue ceritain.” Ajak Om Jaka.
Mirza yang heran pada Omnya itu nurut aja.
“Tapi jangan lama-lama ya ceritanya, aku harus cepetan ke rumah ibu.” Ucap Mirza.
Om Jaka cuek aja, dia mendahului Mirza ke ruang makan.
“Vi, Om minta kopi item dong.” Pintanya pada Via yang lagi di dapur.
“Lho, ada Om Jaka?” Via agak surprise.
“Iya, gue! Emangnya lu pikir siapa, dhemit?”
Via tersenyum, lalu segera membuatkan kopi hitam pesanan Om Jaka.
“Duduk lu!” perintahnya Om Jaka pada Mirza.
“Apaan sih Om, pake nyuruh-nyuruh?” Mirza sebel juga pada Omnya yang seenaknya sendiri itu.
“Emangnya lu mau dengerin cerita gue sambil berdiri aja? Cerita gue ini panjang, kagak bisa dipersingkat.”
“Dibilang jangan lama-lama critanya.” Mirza berdecak kesal namun nurut juga menghempaskan bokongnya di kursi makan.
“Udah dengerin dulu, bawel banget sih lu! Dasar anaknya Endang, sama bawelnya!” Ledek Om Jaka.
Mirza pasang tampang kesal.
“Awas aja kalo ceritanya nggak penting!”
__ADS_1
“Ini kopinya, Om.” Via datang membawakan secangkir kopi hitam dan meletakkannya di depan Om Jaka.
“Makasih ya, Vi. Eh, elu mau denger cerita gue sekalian nggak?” Ucap Om Jaka pada Via.
“Mas Mirza aja deh, aku mau beres-beres kamar dulu, Om.”
“Benaran? Nanti kamu nyesel lho!”
“Nanti kan Mas Mirza bisa ceritain ke aku Om?” Sahut Via. “Keburu siang nanti, soalnya kami mau pindahan.”
“Hah? Pindahan? Siapa? Kapan? Dimana? Kok gue nggak tau?” Om Jaka malah kayak bingung campur histeris sendiri demi mendengar kata pindahan.
“Udah, jangan bahas pindahan dulu! Cepetan ceritain masalah Om dulu!” Mirza makin kesal.
“Iya tapi siapa yang pindahan? Kalian maksudnya?” Om Jaka masih penasaran.
“Iya. Nanti abis ini gantian aku yang cerita.” Mirza masih tampak kesal karena mulai tak sabaran. “Udah sayang, kamu ke atas aja. Beberes ya.” Pintanya pada Via.
Via mengangguk dan segera menuju kamar.
“Cepetan Om cerita!” Tukas Mirza.
Om Jaka menghala napas perlahan sebelum memulai ceritanya.
“Gue diminta nikahin Denaya.” Ucap Om Jaka pelan.
Mirza tak langsung menjawab, ia terdiam untuk beberapa detik meyakinkan dirinya bahwa yang didengarnya itu benar.
“Denaya? Denaya anaknya haji Barkah maksud Om Jaka?” Tanya Mirza masih tak yakin juga.
Om Jaka hanya mengangguk.
Mirza kemudian memandang Omnya itu dengan menyipitkan mata seolah menyelidik adakah hal lain yang disembunyikan Om Jaka darinya.
“Kenapa Om Jaka dimita nikahin Denaya?” Mirza ragu, pasalnya selama ini tak pernah diketahuinya Om Jaka dekat dengan seorang wanita manapun setelah istrinya meninggal empat tahun lalu.
Om Jaka menghela nafas lagi, lantas menyeruput kopinya yang masih mengepul membuat Mirza makin penasaran karena Omnya itu tak langsung menjawab.
“Apa Om Jaka udah menghamili…”
“Uhuk .. uhuk …” Om Jaka tiba-tiba tersedak kopi mendengar kalimat Mirza yang belum selesi itu.
Om jka mengambil tisu di dekatnya dan mengelap mulutnya.
“Maksud elu gue menghamili Denaya gitu?” Om Jaka melototkan matanya kesal dituduh sembarangan oleh keponakannya sendiri. “Emangnya gue ini elu yang bisa-bisanya hamilin anak orang sembarangan!”
“Kok Om jadi bawa-bawa aku sih? Siapa yang hamilin anak orang sembarangan?” Mirza balas dengan nada jengkel.
“Nah ntu si Sofi elu yang buntingin kan?!”
“Enak aja! Belum terbukti!”
“Tapi elu ikun nyelup juga kan?”
“Om!” Mirza emosi. “Jangan ungkit-ungkit masalah itu lagi ya!”
“Ya elu yang mulai!” Om Jaka nggak mau kalah.
“Aku kan cuman nanya, nggak usah sewot dong!”
“Nanya kok kayak orang nuduh?”
“Aku nggak nuduh!”
“Ya ampun! Ini ada apa sih? Mas Mirza kok malah ribut sama Om Jaka sih?”
Tanpa mereka sadari Via yang rupanya mendengar keributan mereka dari kamar langsung turun ke ruang makan.
“Ye, Om Jaka yang gampang naik darah! Dasar adiknya Endang!”
“Mas, Om, udah dong! Orang mau cerita kok malah jadi berantem sih?” Via nggak habis pikir dengan mereka berdua, udah sama-sama dewasa tapi kelakuannya kayak bocah.
Via duduk menarik kursi di seberang sisi meja makan.
“Aku mau dengerin cerita Om Jaka.” Via pasang tampang manisnya membuat Om Jaka lupa dengan kejengkelannya pada Mirza.
“Jadi gini Vi, gue diminta menikahi Danaya oleh Haji Barkah.”
“Apa?” Via bereaksi sangat kaget. “Haji Barkah pemilik toko matrial dan juragan tanah itu, Om?”
“Iya, Haji Barkah sendiri yang meminta gue menikahi putrinya.” Om jaka meyakinkan.
“Kok bisa? Bukankah Om Jaka nggak kenal sama Haji Barkah?” Via semakin antusias.
Lalu mengalirlah cerita Om Jaka. Rupanya Haji Barkah sudah menaruh hati pada Om Jaka dari pertemuan pertama mereka ketika Om Jaka mengantar Bu Een ke rumahnya untuk membayar mobil Denaya yang dibeli Bu Een. Rupanya dari perkenalan itu Haji Barkah merasa Om Jaka orang yang cocok untuk mendampingi Denaya yang sudah masuk usia kepala 3 tapi masih juga belum menikah.
Ketika itu memang Haji Barkah sempat bertanya tentang kehidupan Om Jaka, dan setelah Haji Barkah tau bahwa Om Jaka seorang duda dia semakin yakin akan pilihannya.
Beberapa minggu setelahnya, secara tak sengaja mereka bertemu kembali di sebuah mushola di pom bensin ketika Haji Barkah sedang ke Jakarta untuk urusan bisnis. Dari situ Haji Barkah semakin tertarik dan yakin bahwa Om Jaka adalah orang yang tepat untuk menjadi imam bagi putrinya. Setelah merela ngobrol cukup lama sehabis sholat, Haji Barkah mengundang Om Jaka secara khusus untuk datang ke rumahnya. Maka jadilah Om Jaka ikut pulang dengan Mirza ketika Mirza ke Jakarta.
Via manggut-manggut mendengar penuturan Om.
“Wah. Om Jaka bakal jadi orang kaya yang tajir melintir!” Seru Mirza. “Terima Om, sayang kalo ditolak, hehe….”
“Huh! Dsar matre lu, kayak sama emak elu!” Decak Om Jaka kesal.
“Terus Om Jaka udah kasih jawban?” Via penasaran.
Om Jaka mengangguk.
“Apa jawabannya?” Tanya Mirza dan Via hampir bersamaan.
“Ya gue terima.”
Mirza dan Via tersenyum bahagia.
“Selamat ya Om, bentar lagi Om Jaka bakal ganti status, hahaha….” Mirza terkekeh meledek Omnya.
Sejurus kemudian wajah Om Jaka berubah datar.
“Tapi gue bingung, Za. Gimana cara bilangnya sama emak elu ya? Kan gue juga mau minta restunya, biar gitu juga dia kakak gue.”
“Kenapa bingung? Tinggal bilang aja, Om.”
“Eh, Bokir! Pan emak elu itu dulu napsu banget mau jodohin elu sama Denaya anaknya Haji Barkah itu. Terus apa jadinya kalo tiba-tiba gue yang akhirnya nikahin Denaya?” Om sedikit kesal.
“Itu kan dulu, Om. Lagi juga aku nggak pernah tertarik sama Denaya, di hatiku udah penuh sama nama Via.” Mirza melayangkkan tatapan mautnya pada Mirza. “Iya kan, sayang?” Mirza mengulurkan tanganya pada Via.
“Makasih ya Mas Mirza sayang, udah milih aku jadi istrimu.” Via menyambut tangan Mirza.
Mereka saling berpegangan dan melempar senyuman.
“Yaelah, malah sayng-sayangan di depan gue!” Kesal Om Jaka. “Ini gue gimana caranya bilang ke emak elu, Bokir!” Om jaka mengeplak lengan Mirza.
“Ya udah, tinggal bilang aja. Direstuin atau nggak, Om Jaka harus tetap menikah. Kan Om Jaka nggak perlu wali mau nikah sama Denaya.” Ucap Mirza santai
“Iya juga sih, tapi gue cuman males dengerin emak elu yang nanti pasti ngomel-ngomel.” Om Jaka pasang tampang bete.
“Tapi Om Jaka bener-bener nikahn Denaya karena cinta kan, bukan karena hartanya?” Tanya Mirza kemudian.
“Astaga! Tuh kan, kumat lagi curigaannya? Dasar anaknya Endang!” Kesal Om jaka.
Mirza malah tergelak melihat Omnya yang kesal, Via cuman senyum.
__ADS_1
“Kalo cinta sih mungkin belum. Tapi gue akuin Denaya itu perempuan yang baik. Dia sholehah dan cantik juga cerdas. Tau kagak, dia itu ternayata lulusan S2 kampus terbaik di Jakarta.” Om Jaka terlihat sangat bangga pada calon istrinya. “Dia juga sekarang berhijab, bikin gue makin kagum.” Mata Om Jaka mnerawang dan bibirnya menyunggingkan senyum seolah melihat wajah cantik calon istrinya di plafon rumah Mirza.
"Apa salahnya kan kalo gue buka hati buat dia?" Ucap Om Jaka kemudian.
"Om Jaka bener kok. Om memang harus segera berkeluarga biar Om ada yang mengurus." Ujar Via.
"Pertinyiinyi idilih...."
PLOK!
om Jaka mengeplak lengan Mirza.
"Ngomong apaan sih lu, minyi-minyi begitu?" Om Jaka sebel.
"Pertanyaannya adalah apakah Denayanya mau dinikahkan dengan Om Jaka?"
"Ya jelas mau lah!" Sahut Om Jaka cepat. "Gue kan duda keren kharismatik idaman para wanita." Lanjutnya dengan percaya diri.
"Hebat banget Om Jaka bisa menaklukan hati Haji Barkah dan anaknya." Salut Via.
“Ya udah, Yok! Aku temenin Om!” Mirza berdiri. “Aku juga ada perlu penting sama ibu.”
“Hah?” perlu penting apaan?” Heran Om jaka.
“Sayang, tolong ambilin semua sertifikatnya.” Pinta Mirza pada Via.
Via mengangguk lantas mengambilkan berkas yang diminta suaminya.
Om jaka menatap keponakannya intens.
“Itu sertifikat udah nama emak elu?”
“Iya. Kita pergi peke mobil Om aja ya. Setelah itu aku mau minta bantuan Om buat bantuin aku sama Via pindahan ke rumah kontrakan nanti sore.”
“Hah? Secepat ini?” Om jaka kaget.
“Lebih cepat lebih baik, Om. Aku sama Via akan memulai hidup kami yang baru. Semoga ibu nggak akan mengganggu rumah tangga kami lagi."
Om Jaka menepuk pundak MIrza untuk memberikannya dukungan.
“Gue salut sama elu, Za. Elu keren, laki banget!” Puji Om Jaka tulus.
Lantas mereka pun segera pergi menuju rumah Bu Een setelah Mirza mendapatkan sertifikat rumahnya.
Bu Een sedikit kaget melihat kedatangan Mirza dan Jaka yang berbarengan.
“Ini surat-surat rumah dan tanah semuanya sudah atas nama ibu. Mulai sekarang semuanya sudah resmi menjadi milik ibu.” Ucap Mirza langsung pada permasalahan dan memberikan semua surat-surat tanah itu pada ibunya.
Bagaikan tersihir peri yang tiba-tiba nyelonong lewat, Bu Een melongo untuk beberapa saat. Ia sungguh tak mengira Miza bener-bener mewujudkan perkataannya sendiri.
“Za, kamu sudah pikir masak-masak tentang semua ini?” Tanya Bu Een ragu.
“Udah. Dan setelah ini aku minta ibu jangan lagi mencampuri urusan rumah tanggaku dengan Via.” Tegas Mirza.
“Kamu mau putus hubungan sama ibumu sendiri?” Bu Een tersinggung.
“Bukan begitu, Bu. Aku hanya ingin hidup tennag dengan Via.”
“Jadi maksudmu selama ini hidupmu tak tenang gara-gara ibu?” Bu Een makin tersinggung.
Mirza mendengus kasar, ia mencarai kosakata yang pas agar tak menyinggung hati ibunya lagi.
“Bu, percayalah. Aku menyayangi ibu, aku sama sekali tak berniat memutuskan hubungan antara ibu dan anak. Sampai kapanpun ibu adalah ibu kandungku dan …”
“Kalo memang begitu kamu nggak akan lebih memilih istrimu itu!” Potong Bu Een mulai emosi.
“Ini bukan soal pilih memilih, Bu. Via itu istriku yang harus aku jaga dan aku lindungi, aku sudah bersumpah untuk menjadi imamnya pada Tuhan ketika ijab qobul hari pernikahan. Dosa besar jika aku menyakiti hatinya, Bu.”
“Berdosa mana dengan menelantarkan ibu kandungnya sendiri?” Suara Bu Een meninggi.
“Yu! Sampean itu jangan cuman mau menang sendiri dengan mengatas namakan dosa!” Sambar Om Jaka yang ikut kesal menjadi pendengar saja dari tadi.
“Diam kamu, Jaka! Aku nggak ngomong sama kamu!” Balas Bu Een geram.
“Udah, Za. Nggak usah diterusin, mata hati emak elu ini udah ketutup sama kebencian. Percuma elu ngomong panjang lebar ngasih penjelasan, dia kagak bakal terima.” Sinis Om jaka.
“Kurang ajar kamu, Jaka!” Bentak Bu Een.
“Nggak usah teriak-teriak Yu, ntar tekanan darah sampean naik.” Ucap Om jaka cuek. “Ingat umur, udah tua itu perbanyak istigffar bukan malah….”
“Jangan sok nasehatin kamu!” Potong Bu Een lagi.
“Tuh, kan. Udah, Yuk cabut aja. Males gue ngomog sama emak elu.” Om Jaka berdiri.
“Bu, percayalah. Aku dan Via akan selalu ada untuk ibu.” Ucap Mirza pelan dengan menatap wajah ibu kandungnya yang sudah merah padam.
Mirza mengulurkan tangan hendak mencium tangan Bu Een namun BU Een menghindar.
“Ibu nggak sudi dicium tangannya oleh anak durhaka macam kamu!”
Deg!
Jantung Mirza berdegup kencang, ia tak mengira kalimat itu akan terucap dari mulut ibu kandungnya.
“Udah, udah…. Nggak usah dimaukin ati.” Tukas Om Jaka yang melihat perubahan raut wajah Mirza. “Satu lagi kabar baik buat sampena Yu.” Lanjut Om Jaka.
Bu een membuang muka tak mau melihat mereka berdua.
“Gue mau nikah sama Denaya. Gue harap sampean mau datang nanti, tapi kalo nggak juga ya nggak papa, gue kagak maksa.”
APA?
JENGJENG!
Bu Een kontan menoleh dan menatap Om Jaka tak percaya. Dari raut wajahnya kelihatan banget kalo Bu Een shock.
“Jaka kamu nggak lagi ngerjain saya kan? Saya nggak salah denger kan? Kamu mau nikah sama Denaya anaknya Haji Barkah yang toko matrialnya dimana-mana itu? Yang tanah dan sawahnya nggak terhitung lagi banyaknya? Yang paling kaya sekecamatan? Yang …”
“Iye kagak salah! Anda Benar, Yu Endang alias Yu Een mbakyuku tersayang!” Tegas Om Jaka yang tentu saja langsung membuat Bu Een terhenyak.
“Udah, gue pamit. Yuk, Za. Cabut!” Om Jaka melangkah seraya menepuk lengan Mirza.
Mereka berduapun pulang meninggalkan Bu Een yang shock sendirian. Dia Nampak kepayahan mengatur nafas dan masih berharap semua yang menimpanya barusan itu cuman mimpi.
“Ya ampun, kayaknya saya harus peri ke dokter THT ini. Pasti saya tadi salah denger omongannya Jaka.” Gumam Bu Een dengan rasa linglung yang mengusai dirinya.
_____
Halo akak, gimana kabarnya? ☺️☺️
Maaf ya 2 hari nggak up. 🙏🙏🙏
Keluarga author baru kena musibah.😢😢😢😢😢😢😢
Saudara sepupu author meninggal hari sabtu kemarin, mohon doanya untuk almarhum agar diampuni segala dosa dan diterima amal baiknya. Alfatihah… 🤲🤲
Semoga akak-akak memafkan author ya….😍😍😍
Teriama kasih yang udah selau setia nungguin kelanjutan Via ❤️Mirza 🙏🙏🙏🤩🤩🤩🤩
Jangan lupa tinggalkan jejak, Ya kak😉😉😀😀
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1