TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
46 #SIASAT


__ADS_3

Disabar-sabarin malah makin bikin tambah emosi Bu Een itu, dari pada ribut terus Om Jaka memilih mengalah. Om Jaka beranjak ke kamar depan tempat biasanya dia istirahat kalo lagi menginap di rumah Bu Een.


“Eh, Jak! Mau kemana kamu?” Panggil Bu Een.


“Istirahat, pening gue Yu, dengerin sampean ngoceh mulu kayak burung beo!”


Bu Een segera mengejar langkah Om Jaka.


“Nanti dulu dong, Jak. Urusannya belum selesai ini.”


Om Jaka berbalik dan melihat pada Bu Een. “Percaya deh ama gue, Yu. Mirza itu kan tipe orang yang kalo semakin ditekan maka akan semakin berontak dia. Jadi sampean nggak usah buru-buru.”


“Bukan gitu. Setidaknya kan dia harus ke sini jelasin semuanya sama aku.” Bu Een mulai lagi.


“Kan tadi sampean udah telpon, udah ngirim WA juga. Tunggu aja nanti juga kalo udah dibaca pasti ke sini dia.”


“Tapi …”


“Kalo dia belum ke sini berarti belum baca pesan sapean dan lagi ada sesuatu yang lebih penting. Sampean jangan ngerusuhin rumah tangga Mirza terus. Malu lah udah tua juga kerjaannya bikin rusuh mulu!” Ucap Om Jaka cuek sambil ngeloyor ke kamar depan.


Bu Een diam menahan kekesalannya. Tapi lantas dia berpikir dan membenarkan juga ucapan Jaka. Kalo dia sekarang nekad nyusulin Mirza ke rumahnya dan minta buat nikahin Sofi, Mirza pasti bakalan nolak mentah-mentah. Dia ingat beberapa tahun silam ketika melarang Mirza untuk jangan menikah dengan Via, Mirza malah semakin gencar mendekati Via dan meyakinkan calon istrinya itu bahwa dirinya pasti akan merestui pernikahan mereka. Dan akhirnya tak ada pilihan lain memang selain menyetujuinya walau sampai detik ini pun Bu Een masih setengah hati menerima Via sebagai menantunya.


Bu Een memutar otak untuk mencari jalan lain agar Mirza menuruti kemauannya.


_______________


Hari semakin siang, Via belum juga selesai acara bersih-bersih halaman rumah. Baginya ini lebih baik daripada berdiam diri dan bersedih dengan kenyataan yang baru saja menimpanya.


Semua tanaman dan bunga-bunga di halaman depan sampai halaman belakang sudah ia siram. Sampah dan daun-daun kering pun sudah ia bersihkan. Rumput-rumput liar pun tak ketinggalan dicabutinya, ikan-ikan di kolam halaman belakang sudah ia kasih makan setelah kolamnya dia kuras dan menjadi makin kinclong. Kaca, jendela pun dibersihkan, lantai sudah tentu disapu dan dipel nggak ada yang ketinggalan satu centi pun dari lantai satu sampai lantai dua. Semua kamar mandi tak luput dari perhatiannya, tinggal genteng aja yang belum dia sikat. Haha, kalo aja dia juga bisa naik genteng pasti dia udah kesana buat nyikatin itu geteng satu-satu daripada ngeliatin suaminya yang dari tadi ngekor terus sambil tak henti memperhatikan setiap gerak geriknya.


Tak sapatah kata pun yang diucapkan Via. Mirza pun paham betul, maka dia hanya ikut-ikutan ngelakuin apa yang Via kerjakan. Semua pekerjaan itu selesai hampir bersamaan dengan kumandang Adzan Dzuhur dari mushola dekat rumah. Via segera naik ke lantai dua untuk mandi. Kegiatannya selama setengah hari ini mebuatnya sangat berkeringat, dia harus mandi lagi biar segar.


Mirza membersihkan diri di kamar mandi lantai bawah kemudian ke dapur memeriksa isi kulkas, sayang sekali tak ada bahan makanan apa pun di sana. Via belum belanja bulanan, maka dia berinisiatif akan mengajak Via makan siang di luar setelah itu berbelanja bulanan seperti yang biasa mereka lakukan bersama.


Ceklek


Mirza membuka pintu kamar dan Via baru saja usai sholat Dzuhur sedang melepas mukenanya.


“Sayang, kita makan di luar yuk.” Ucap Mirza seraya mendekati Via.


“Aku belum laper, Mas aja kalo mau makan.” Sahut Via sambil melipat mukenanya tanpa melihat Mirza.


Dari pagi bersih-bersih masa nggak laper? Aku yakin Via cuman mau menghindariku aja.


Mirza melihat Via yang kini telah membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil memainkan ponselnya acuh. Mirza menarik nafas panjang. Didekatinya Via dan diusapnya rambut istrinya itu perlahan.


“Sayang, aku nggak kuat kita terus-terusan begini.” Lirih Mirza. “Aku tahu kesalahnku sangan besar, tapi tolong bukalah hatimu untuk memberiku kesempatan memperbaiki semuanya.”


Pedih kembali yang dirasakan Via. Air mata mulai menggenang di kedua matanya.


“Sayang … “


“Aku masih butuh waktu untuk memulihkan luka hatiku, Mas.” Sahut Via yang tak bisa lagi menahan butiran hangat itu mangalir di pipi mulusnya.


Mirza mengusapnya lembut. Via membalikkan badan membelakangi Mirza menyembuyikan tangisnya. Mirza ingin memeluknya tapi urung dilakukannya, wanita yang sangat dicintainya itu teramat sakit perasannya akibat ulahnya. Mirza hanya memandangi punggungvVia dengan tatapan sendu.


Suara ponsel Mirza dari atas nakas membuyarkan perhatian Mirza. Dengan malas Mirza meraihnya dan nama ibunya terpampang jelas di layar.


Ya ampun! Ngapain ibu nelpon? Jangan-jangan dia tau tentang Sofi. Apa Sofi masih di rumah sakit? Bodohnya aku, nggak minta Om Jaka segera bawa permpuan gila itu pulang ke Jakarta.


Ponsel Mirza berhenti berbunyi karena Mirza tak juga menerima panggilan itu saking sibuknya dengan benak sendiri. Beberapa detik kemudian ponselnya berbunyi lagi dan tak ayal membuat Via membalikkan badan melihat pada suaminya yang tampang gamang.


“Siapa, Mas?” Via penasaran.


“Ibu.”


“Kok nggak diterima dari tadi?” Tanya Via lagi karena Mirza hanya menatap layar ponsel itu.


“Ya, Bu. Halo … “ Mirza akhirnya menjawab juga panggilan telpon ibunya.


“Za, kamu dari mana aja Ibu telponin dari pagi? Kemarin juga hp kamu malah mati.” Suara Bu Een terdengar biasa aja, dia tak ingin membuat Mirza curiga.


“Maaf, Bu kemarin low batt. Dan hari ini seharian abis bersih-bersih.”


“Oh, berarti kamu belum baca pesan ibu ya?”


“Belum, kenapa emangnya Bu?”


“Itu lho, mobilnya Haji Barkah yang waktu itu kamu bayar uang DP nya suruh diambil hari ini. Kamu bisa kan ke sini sekarang?”


Mirza tak langsung menjawab, dia melirik Via yang kembali asyik dengan ponselnya sendiri.


“Ya udah, aku ke sana sekarang, Bu.”


“Ibu tunggu ya.”


Panggilan pun berakhir. Mirza kembali duduk di bibir ranjang menatap Via.


“Sayang, aku mau ke rumah ibu dulu, ya.”


Via hanya mengangguk, matanya tak beralih dari layar ponselnya.


“Ibu memintaku buat ngambil mobil yang dibelinya dari Pak Haji Barkah.”


“Ya udah, pergi aja Mas.”


Dalam hati Mirza sebenarnya khawatir juga bagaimana kalau bukan itu maksud Bu Een memintanya datang ke sana. Karena walau bagaimana pun Sofi sekarang ada di sini, bukannya nggak mungkin kan dia nekad menemui ibunya. Tapi permintaan ibunya juga tadi masuk akal, memang benar ini mungkin sudah waktunya mengambil mobil yang dibeli ibunya beberapa waktu yang lalu itu.


“Sayang, kamu lagi ngapain sih, kok asyik banget main hpnya?” Mirza kepo berusaha merebut perhatin Via.


“Chat sama Mbak Tia, kenapa emangnya?” Sahut Via.


Mirza mengambil ponsel Via dan meletakkannya di samping Via.


“Sayang, dengerin aku dulu ya. Ibu minta aku datang ke sana buat ambil mobil yang dibelinya di Haji Barkah.”


“Terus?”

__ADS_1


“Ya nggak papa, aku cuman pingin kamu tau aja, sayang.” Ucap Mirza, dia sebenarnya mau bilang tetang kekhawatiran dalam hatinya namun tak enak meyampaikannya takut Via makin kepikiran.


“Nanti pulangnya sekalian aku bawain makan buat kamu, ya.”


Via mengannguk.


Cup!


Mirza mengecup kening Via lembut lantas keluar kamar dan menuju garasi.


Via menarik nafas lega dan menggeliat perlahan untuk meregangakn otot-ototnya yang terasa pegal karena hampir seharian bersih-bersih. Sadari tadi dia sebenarnya menahan melakukan itu karena tak ingin Mirza mengetahuinya. Sebab Mirza pasti akan memijat kakinya, tangannya, pinggangnya, punggungnya dan lainnya jika tau dirinya kelelahan. Dan Via tak ingin Mirza melakukan itu. Via memejamkan mata coba menikmati suasana harinya.


Dalam perjalanan ke rumah Bu Een, Mirza terpikirkan sesuatu. Dia memperlambat laju mobilnya, Mirza coba menelpn Tia.


“Halo, Mbak.” Sapa Mirza begitu Tia menerima panggilan darinya.


“Iya, Za. Ada apa, tumben nelpon?”


“Mbak Tia lagi di mana sekarang?”


“Ini baru pulang dari sekolah, gimana emangnya?”


“Oh, abis chatingan sama Via ya?”


“Kok tau?”


“Iya, tadi Via yang bilang. Aku bisa minta tolong nggak, Mbak?”


Deg!


Tia jadi curiga.


Mau minta tolong apa si Mirza? Tadi Via chat katanya masalah dengan suaminya memang belum selesai sepenuhya. Walau pun begitu Via bilang nggak mau ambil pusing dulu karena ingin menata hatinya. Apa Jangan-jangan Mirza minta dirinya buat campur tangan urusan mereka. Ah, ogah banget kan ikut campur masalah rumah tangga orang, meski Via itu adik kandungnya sendiri.


“Mbak?” Panggil Mirza karena Tia tak menjawabnya.


“Eh, iya. Gimana, Za?” Tia sedikit tergagap karena sibuk menerka-nerka maksud Mirza.


“Aku minta tolong nanti Mbak Tia ke rumah temani Via ya?”


“Lho, emang kenapa Via?” Tia langsung tak enak, jangan-jangan Via kenapa-napa meskipun tadi waktu chattingan nggak bilang apa-apa sih, tapi kan Via emang begitu. Selalu tak mau merepotkan orang.


“Via cerita kan sama Mbak Tia kalo lagi ada sedikit masalah sama aku?” Tanya Mirza.


Sebenarnya Mirza tidak terlalu yakin, tapi dia hanya menebak saja sebab istrinya bukanlah orang yang suka cerita tentang maslah pribadinya kemana-mana. Dan Mbak Tia adalah orang yang paling dekat dan lebih dewasa darinya, jadi Mirza pikir Via pastilah sudah bercerita banyak tentang masalah dalam rumah tangganya.


“Iya.” Sahut Tia pelan.


Dalam hati Tia agak kesal juga, perselingkuhan kok dibilang sedikit masalah. Itu tu masalah serius banget tau!


“Aku lagi mau ke rumah ibu nih, ada perlu sedikit. Via belum makan, kalo Mbak Tia ada masakan bisa bawain buat Via sekalian kan, Mbak?” suara Mirza terdengar memohon.


“Iya, Za. Nanti Mbak masakin buat Via, sekalian juga Mas Arya sama Ica juga belum makan kok, kan Mbak baru pulang dari ngajar.”


“Maksih ya, Mbak. Maaf banget jadi ngerepotin Mbak Tia.” Mirza sangat berterima kasih punya kakak ipar baik hati seperti Tia.


“Oya, nanti ajak Ica sekalian aja, Mbak. Via pasti seneng kalo ketemu Ica.” Usul Mirza ketika ingat ponakan kecilnya yang lucu dan menggemaskan itu.


“Iya, nanti Mbak ajak Ica juga ke sana.”


Setelah berterima kasih sekali lagi Mirza mengakhiri percakapnnya dengan Tia dan kembali melajukan meobilnya dengan kecepatan normal menuju rumah ibunya.


SREET!


Mirza sapai di halaman depan rumah Bu Een. Ada dua mobil terparkir di sana. Mirza segera turun. Di lihatnya toko kelontong milik ibunya di samping rumah, Hanya ada Udin dan beberapa orang pembeli. Mirza memperhatkan kedua mobil itu.


“Ini kan mobilnya Om Jaka?” Guman Mirza. “Terus yang ini mobilnya siapa?”


Perlahan Mirza melangkah ke dalam, perasaannya mulai tak enak. Jangan-jangan itu mobilnya Sofi. Pikirannya mulai tak tenang, tapi tadi ia perhatikan plat nomornya bukan huruf B depannya.


“Bu?” Panggil Mirza pada ibunya yang sedang tiduran di Sofa ruang tamu sambil memijit pelipisnya. “Ibu sakit?” Mirza mendekat duduk di dekat Bu Een.


“Ah, nggak, Za.” Bu Een bangkit.


“Itu ada mobil hitam di depan mobilnya siapa, Bu?” Tanya Mirza mulai curiga.


“Oh, mobil ibu yang dari Haj Barkah.”


Mirza mengerutkan keningnya. “Udah ibu ambil? Terus gapain nyuruh aku ke sini?”


Bu Een menepuk pundak anaknya, ditatapnya manik mata Mirza lekat.


“Ibu memang menyuruhmu ke sini karena ada hal yang sangat penting. “


Deg!


Pasti mengenai Sofi. Om Jaka ada disini, mungkin Sofi juga ada di sini.


“Sofi ada di kamarmu sedang istirahat.” Ucap Bu Een seolah tau isi kepala Mirza.


Perasaan Mirza langsung campur aduk.


Ternyata benar yang ia khawatirkan. Peremuan tidak tau malu itu nekad menemui ibunya.


“Sofi datang sama Udin dari rumah sakit, dia sudah bercerita semuanya pada Ibu.”


“Jadi ibu tau dia sedang hamil?” Mirza datar saja berusaha menguasai dirinya meski dadanya mulai bergemuruh.


“Iya, dan kamu harus mempertanggung jawabkannya.”


“Nggak, bu!” Sahut Mirza tegas.


“Mirza! Yang kamu lakukan itu dosa besar, kamu jangan jadi pengecut!”


“Di mana Om Jaka?”


“Ngapain kamu nyariin Jaka?”

__ADS_1


Mirza berjalan cepat menuju kamar depan tempat Om Jaka biasa beristrahat.


“Om!” Panggil Mirza tanpa mengetuk pintu dulu langsung membuka pintu kamar itu.


Om Jaka yang lagi tiduran kontan saja kaget.


“Buset! Ngagetin aja lu, Za! Nggak bisa apa ketok pintu dulu masuk kamar oang?” Om Jaka ngomel demi melihat kedatangan Mirza yang tiba-tiba.


“Bagus ya, Om malah enak-enakan tiduan?” Mirza kesal menatap Om nya yang santai.


“Terus gue suruh ngapain jam segini? Angkatin jemuran?”


“Om, aku serius!” Mirza benar-benar menatap lurus omnya dengan raut serius. “Om harus bawa Sofi dari sini!”


“Nggak, aku nggak mau pergi dari sini sebelum kamu nikahin aku!” Sahut Sofi yang yang tiba-tiba muncul.


Mirza berbalik menatap Sofi yang sudah berdiri di belakangnya. Dicengkeramnya pergelangan tangan Sofi lalu menariknya untuk keluar.


“Mirza, lepasin!” Bentak Bu Een menghentikan aksi Mirza.


“Ibu mau belain perempuan nggak tau malu ini?” Mirza sudah tak bisa mnegontrol emosinya, ditatapnya perempuan 60 tahun itu gusar. “Dia ini akan menghancurkan rumah tangga aku sama Via, Bu!”


“Tapi dia sedang hamil anakmu, Za!”


Mirza tersenyum sinis. “Aku nggak yakin, Bu. Karena dia sudah sering tidur dengan laki-laki lain sebelum denganku.”


"Apa Maksud kamu?” Bu Een terbelalak nggak percaya.


“Ternyata benar, ibu hanya tau cerita menurut perempuan tidak tau malu ini saja. Baik, aku akan ceritakan semuanya.” Mirza menghempaskan pergelangan tangan Sofi yang sedari tadi dicengkramnya dan meninggalkan bekas merah pada kulit putih Sofi.


“Perempuan ini, sebelum tidur denganku pergaulannya sangat bebas. Dia sudah berpacaran selama dua tahun dengan pria asing berkebangsaan Jerman dan sudah tidur puluhan bahkan mungkin ratusan kali dengannya.” Mirza menunjuk wajah Sofi sengit.


Bu Een terperangah tak percaya. Sofi menggeleng dangan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Dan laki-laki yang sudah dua tahun menidurinya itu memutuskan hubungan mereka sepihak karena perempuan ini mengidap sindrom fibromyalgia. Pada saat itulah dia coba mendekati aku dan merayuku hingga aku terparangkap dalam jebakannya.”


“Nggak! Bukan selerti itu, Bu.” Sofi terisak mendengar penuturan Mirza. “Aku benar-benar mencintai Mirza. Dan kami berdua melakukanya dengan kesadarn penuh, Bu.” Sofi berusaha mendapatkan simpati Bu Een.


“Dan lagi, perempuan tidak tau malu ini sebenarnya sudah dijodohkan oleh keluarganya sadari kecil dengan pria keturunan timur tengah juga yang sepadan dengan keluarganya, tapi dia malah mengejar kehidupannya yang bebas. Dan ketika dia merasa kehidupannya hampir berakhir karena pacarnya meninggalkannya dia justru merayuku.”


“Mirza, kamu lupa.” Sofi menatap Mirza nanar dengan air mata berlinangan. “Kita melakukannya tanpa alat pengaman. Sedangkan aku dengan Hanson tak pernah sekali pun melakukannya tanpa alat pengaman kerena aku sadar aku dan dia hanya untuk bersenang-senang, bukan atas dasar ccinta. Sedangkan dengan kamu …”


“Nah! Ibu dengar sendiri kan?” Potong Mirza menatap ibunya dan Sofi bergantian. “Perempuan ini mengakui kalau hubungannya dengan pacarnya hanya sebatas kesenangan! Apa pantas seorang perempuan baik-baik melakukan semua itu? Pantas, Bu? Katakan padaku! Apa menurut ibu itu pantas?” Ulang Mirza berkali-kali dengan emosi yang membuncah.


Bu Een berdiri bagai patung, lidahnya terasa kelu, nafasnya bagai terhenti. Kalimat demi kalimat yang diluncurkan Mirza dan Sofi membuatnya berpikir ekstra keras. Dia harus mempercai yang mana, anaknya atau Sofi?


“Aku bersumpah bayi yang ada dalam kandunganku ini adalah anaknya Mirza, Bu.” Lirih Sofi meyakinkan Bu Een yang masih diam.


“Sofi, sebaiknya kita pulang ke Jakarta. Dan kamu, Mirza. Sebaiknya kembali kepada kesepakatan awal, bahwa jika bayi yang nanti dilahirkan Sofi benar-benar terbukti anakmu maka kamu harus menikahi Sofi.” Om Jaka buka suara untuk menengahi.


“Nggak akan!” Bantah Mirza keras. “Dia sendiri yang merusak kesepakatan itu, Om. Maka aku nggak akan memberikan kesempatan kedua untuknya.”


“Tega kamu, Za! Tega!” Sofi menyerang Mirza memukuli dengan tangannya yang semakin lama semakin melemah lalu dia mabruk ke lantai.


“Sofi!” Pekik Bu Een berusaha menggapai Sofi.


“Biarkan saja! Dia memang sudah biasa seperti itu, aku sudah jengah, Bu!” Ujar Mirza cuek.


“Tapi dia sakit ini, Za.” Bu Een mulai khawatir.


“Ibu harus yakin, aku mengandung darah daging Mirza, Bu.” Sofi berlinangan air mata. “Keadaanku yang lemah seperti ini yang membuatku dicampakkan oleh pacarku. Tapi aku bersumpah, Bu. Aku tulus mencintai Mirza, dan aku akan merubah gaya hidupku. Aku ingin hidup bersama Mirza membesarkan anak kami mungkin sampai aku tiada nanti.”


Bu Een menyangga kepala Sofi dengan lengan kirinya dan menatap perempuan cantik di pangkuannya itu dengan sendu. Om Jaka sampe bingung mau ngapain, sudah barang tentu pastilah nanti dia juga yang akan diminta tolong mengangkat Sofi.


“Aku nggak mau di bawa ke rumah sakit, Bu. Aku lelah, aku hanya ingin disini sama Mirza.” Sofi memohon.


“Cih! Dasar perempuan tidak tau malu! Kamu pikir aku sudi hidup denganmu, hah?” Mirza mulai geram lagi.


“Mirza, jaga bicaramu!” Hardik Bu Een. “Apa kamu nggak kasihan, dia begini juga karena ulahmu!”


“Ulahku ibu bilang? Apa ibu tadi nggak denger semua penjelasanku?” Mirza kaget tak habis pikir.


“Terserah, terserah apa katamu! Tapi yang jelas kalo Sofi memang sedang mengandung anakmu, berarti bayi yang ada dalam rahim Sofi ini cucu ibu! Dan ibu harus menjaganya!”


“Ibu sudah ketularan nggak waras kayak Sofi rupanya!”


“Mirza! Kamu nggak sopan sama ibumu!” Om Jaka memperingatkan Mirza.


“Kenap Om? Memang kenyataannya begitu. Setelah merusak pikiran Via, kini perempuan ini juga merusak pikiran Ibu! Dan semuanya menyudutkan aku! Kiranya aku memang benar telah berselingkuh dengannya maka itu adalah suatu kebodohan terbesar yang aku lakukan seumur hidupku, dan aku menyesalinya! Namun aku nggak sudi jika harus menikahi perempuan tidak waras ini!” Mirza berapi-apai, dadanya sampai tersengal-sengal, matanya nyalang menatap Sofi yang sudah tak berdaya.


Keributan itu terdengar juga sampai ke toko Bu Een. Beberapa pembeli yang sedari tadi masih di sana kini mulai kepo dan bertanya pada Udin ada apakah gerangan di dalam tumah Bu Een sampe ribut-ribut begitu.


Udin bingung mau jawab apa hingga ibu-ibu yang kadung kepo itu mendekat untuk mencari tau sendiri meski Udin sudah berusaha melarangnya.


“Om Jaka saja yang urus perempuan itu, aku nggak peduli dengannya! Rumah tanggaku dengan Via lebih penting daripada mengurusi dia!”


Mirza hendak beranjak namun Bu Een menahannya.


“Tunggu, Za!”


“Apa lagi, Bu! Sekali aku bilang tidak maka tidak! Aku tidak akan menikah dengannya. Via adalah satu-satunya istriku dan aku nggak akan pernah meninggalkan Via!"


“Kalau begitu mulai hari ini Sofi akan tinggal di rumahmu!” Ucap Bu Een tajam.


JLEDERR!


__________________


bersambung untuk ambil napas dulu ya, Kak ☺️☺️


kasih like, komen, rate 5 dan vote dulu boleh dong biar author makin semangat nulisnya 😂😂🙏🙏


next chapter, as soon as possible yaa...😉😉😉😉😉😉


terima kasih sudah setia membaca dan mohon maaf buat akak author yang belum aku feedback ya.🙏🙏🙏🙏🌹🌹🌹🌹


Tapi aku pasti feedback kok.

__ADS_1


luv u all ❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2