
Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, wajah Mirza tampak murung. Om Jaka melirik keponakannya itu dengan ekor matanya, ia mengerti perkatan Mbakyunya di telpon tadi pasti membuat Mirza kepikiran.
“Udah, jangan baper. Selow aja, selow ….” Hibur Om Jaka. “Lagian kayak nggak biasanya aja emak elu itu ngomel, ya kan?”
Mirza tak menyahut, ia hanya menghela nafas panjang merasa tak habis pikir karena apapun yang ia lakukan selalu salah di mata ibunya.
“Ntar gue yang bantu jelasin ke emak elu deh.” Cetus Om Jaka.
“Nggak usah Om, biarin aja kayak gitu. Cuman keajaiban yang bisa membuat hati ibu berubah.” Mrza terdengar pasrah.
Om Jaka manggut-manggut, ia tak ingin mendebat kalimat Mirza. Sisa perjalanan dihabiskan dengan diam, Om Jaka serius nyopir sedangkan Mirza khusuk pada lamunannya sendiri. Tak berapa lama mobil Om Jaka memasuki komplek perumahan Mirza.
“Nah, nyampe deh!” Seru Om Jaka begitu sampai di depan rumah kontrakan Mirza. “Gue terus ya, ada janji sama calon bii gue soalnya, hehe….” Lanjut Om Jaka seraya memamerkan senyum lebarnya.
Mirza hanya mengangguk lantas segera turun dari mobil.
“Hoy, Za!” Panggil Om Jaka dengan meyembulkan kepalanya dari jendela mobilnya yang terbuka. “Muka lu jangan ditekuk terus, ntar bini lu ikut kepikiran. Kesian dia kan lagi hamil!” Om Jaka memperingatkan.
Mirza segera menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum yang agak dipaksakan.
“Nah, gitu kek! Oke, gue cabut ya!” Seru Om Jaka dan berlalu.
Mirza hanya mengacungkan jempol kanannya, lantas masuk dengan senyuman yang masih agak canggung dirasakannya sendiri.
“Eh, Mas udah pulang?” Via yang baru dari dapur agak terkejut mendapati suaminya sudah berada di dalam rumah. “Masuk kok nggak ucap salam dulu sih, Mas?” Protes Via.
“Maaf sayang, Mas lupa, hehe…” Mirza nyengir berusaha melupakan kegalauan hatinya. “Ini Mas udah dapat onde-onde pesanan kamu lho, sayang.” Mirza memperihatkan kantong plastik yang di bawanya.
“Oh, bagus deh. Taroh aja situ, Mas.” Via menunjuk ke meja makan.
“Lah? Kok nggak dimakan? Ini sesuai dengan permintaan kamu lho, sayang? Kecil, bulat sempurna dan jumlah wijennya ganjil. Coba liat dulu deh, Mas ampe keliling kota lho demi dapet onde-onde ini.” Cerocos Mirza heran karena Via spertinya cuek aja bahkan tak berminat untuk menyentuh onde-onde itu.
Via akhirnya meraih bungkusan plastik yang dibawa suaminya dan mebukanya.
“Iya sip, bener.” Ucap Via setelah melihat isinya sekilas dan meletakkan plastik itu di atas meja makan.
“Kamu nggak mau memakannya, sayang? Tanya Mirza heran.
“Nanti aja Mas, aku mau mandi dulu. Dari pagi belum mandi, lagian aku baru aja makan ayam geprek.” Sahut Via sambil ngeloyor menuju kamarnya.
“Eh, sayang, sayang …” Mirza mengejar langkah istrinya. “Apa kamu nggak mau ngitung jumlah wijennya dulu? Sapa tau ada yang genap?”
“Nggak ah, aku percaya sama kamu kok Mas.” Ucap Via sama sekali tak antusias.
Mirza hanya memandangi punggung istrinya yang berlalu masuk kamar.
HHH…!
__ADS_1
Mirza mendengus kasar seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu.
________________
Pelayan wanita memandang heran pada seorang perempuan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar perawatan majikannya. Apalagi ia sedari tadi hanya duduk memandangi Sofi setelah hanya tersenyum simpul padanya begitu masuk ruangan beberapa saat yang lalu.
“Maaf, apa Anda keluarga dari Nyonya Sofi?” Tanya pelayan itu akhirnya memberanikan diri karena sedari tadi wanita muda itu hanya diam saja duduk di dekat ranjang majikannya.
“Oh, maaf saya smapai lupa belum memperkenalkan diri.” Sahut wanita muda itu melihat pada pelayan dengan senyum simpulnya lagi. “Saya Arumi, sahabat baiknya Sofi.”
Pelayan hanya mengangguk, tapi hatinya masih penasaran apakah benar orang di hadapannya ini sahabat baik dari istri majikannya.
“Saya sangat terkejut melihat keadaan Sofi ini. Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengannya di rumah sakit ini juga, sepertinya dia baru saja dari dokter kandungan. Tapi tiba-tiba hari ini saya mendapati kenyataan sahabat saya ini terbaring lemah dalam keadaan yang memprihatinkan.” Tutur Arumi dengan nada prihatin.
Penjelasan Arumi barusan terang saja memupus rasa penasaran dalam hati sang pelayan wanita.
“Apa dia sakit? Dan sejak kapan dia di rawat disini?” Tanya Arumi kemudian.
“Nyonya baru saja mengalami keguguran semalam.” Ungkap pelayan itu.
“Keguguran?” Gumam Arumi.
Sungguh kaget sebenarnya Arumi, namun ia berusaha tak terlalu menampakkannya. Ia harus bisa mengorek keterangan lebih banyak lagi dari pelayan itu.
“Sungguh malang kamu Sofi.” Kini Arumi memandang kembali wajah pucat Sofi seolah benar-benar kasihan. “Aku sama sekali tak diundang ke pernikahannya, lalu sekarang tiba-tiba aku mendapat kabar buruk tentangnya. Dan ini semua aku ketahui secara tak sengaja, tadi aku bertemu dengan suaminya di depan.” Papar Arumi lagi, dia sok yakin aja pada Ramzi yang dilihatnya dengan mneyebut itu suami Sofi padahal dia sendiri juga ragu.
Wow! Ini menarik! Harus aku kulik lagi nih info dari pelayan ini. Aku lanjutin dramanya dulu deh. _Arumi tersenyum dalam hati.
Arumi mendekati sang pelayan dan mengajaknya duduk di satu-satunya sofa di sudut ruangan.
“Maafkan saya sebelumnya. Bukannya saya lancang, tapi saya hanya ingin tahu apakah mereka menikah bukan atas dasar cinta?” Pancing Arumi.
Pelayan itu menunduk, tentu saja ia takut mebeberkan hal yang diketahuinya. Ia dan semua pelayan di rumah Tuan Alatas tentu tak bisa menutup mata begitu saja melihat kenyataan yang mereka dapati selama Sofi menjadi istri Ramzi. Namun ia rasanya tak pantas untuk menceritakannya pada orang lain.
“Dengar, saya adalah sahabat baiknya. Saya hanya ingin tahu, saya berjanji tak akan mengatakannya pada orang lain.” Arumi menyentuh pundak pelayan itu dan memandangnya redup penuh permohonan.
Pelayan yang dasarnya sifatnya polos kemudian mengangguk.
“Tuan Ram dan Nyonya baru saja menikah belum lama ini atas perjodohan kedua keluarga mereka.”
Gotcha! Pekik batin Arumi girang.
Satu fakta baru dia dapatkan. Pikiran Arumi mulai meraba benang merah antara kejadian sekarang dan pertemuan sebelumnya dengan Arumi.
“Berapa lama mereka menikah? Sebulan, dua bulan?”
“Sekitar baru satu minggu.”
__ADS_1
Apa? Satu minggu? Dan Sofi sudah hamil? Omegot! Dia hamil sama siapa? Apa sama si raja minyak itu? Nggak mungkin kalo baru nikah satu minggu langsung hamil? Lagi juga mereka dijodohkan, mana mau Sofi begituan sama orag yang dia nggak suka! Wah, gila! Hanson harus tau ini!
Arumi terus bermonolog dalam hatinya karena baru saja mendengar kabar yag sangat mengejutkan. Namun ia berusaha tampak elegan dengan tak menampakkan jiwa keponya yang berlebihan.
Kemudian ponsel pelayan itu berbunyi, ia meraih dari saku pakaiannya dan minta diri untuk menerima panggilan yang ternyata dari kepala pelayan.
“Saya permisi keluar sebentar.” Ucap pelayan itu sopan.
“Silakan.” Arumi mengangguk.
Tak ingin meyia-nyiakan kesempatan, Arumi pun langsung mengambil gawainya dan mendekati ranjang Sofi.
Cekrek cekrek cekrek
Arumi mengambil beberapa gambar Sofi yang terbaring lemah dan tersenyum melihat hasilnya.
Krieet!
Suara derit pintu membuat Arumi langsung memasukkan kembali gawainya ke dalam tasnya.
“Ah, saya harus pamit sekarang. Ayah saya menunggu, dia juga sedang berobat.” Arumi berbalik menghampiri pelayan yang baru saja masuk.
“Terima kasih atas kunjungannya, Nona.” Jawab pelayan itu sopan.
“Oya, apa boleh saya minta alamat rumah Sofi yang sekarang? Saya ingin mengunjunginya jika ia sudah kembali dari rumah sakit.” Ucap Arumi.
“Tentu.”
Pelayan langsung mencari kertas dan pulpen dari dalam tasnya dan menuliskan alamat rumah majikannya.
“Terima kasih, ya. Dan tolong jangan katakan kalau saya kemari, saya takut Sofi merasa bersalah karena tak mengundang saya kepernikahanya. Saya sendiri yang akan mengujunginya nanti.” Pesan Arumi sebelum pergi.
“Bak, Nona.”
Arumi pun segera melangkah keluar. Senyum manisnya mengembang sempurna menghias wajahnya dengan segudang rencana kejutan yang sudah ia siapkan
__________
Eaaaa..... Kira-kira Arumi mau ngapain yaa....??
🤔🤔🤔🤔
ikuti terus kelanjutannya ya Kak...😍😍
Jangan lupa tinggalkan jejak biar Othor makin semangat...😊😊♥️♥️
luv u all 🤗🤗😘😘
__ADS_1