TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
64 #MUSANG KETEMU HARIMAU


__ADS_3

Tap tap tap


Langkah bu Harni sampai di ruang tamu dan langsung membukakan pintu untuk orang yang datang.


JRENG!


Bu harni dan Sofi sama-sama terkejut.


Freeze untuk beberapa detik.


Mereka saling pandang karena merasa sama-sama baru pertama kali bertemu. Tapi lantas Sofi mulai bicara duluan.


“Oh! Ibu pasti pembantu baru ya?” Tanyanya sok yakin. “Bagus deh akhirnya Mirza pengertian juga. Dia tau kalo aku capek banget selama tinggal disini ngurusin rumah segede ini.” Ucap Sofi sambil tersenyum sok manis lalu memberikan barang-barang bawaannya pada Bu Harni. “Ini tolong bawain ke kamar saya ya, saya capek mau istirahat!”


Bu Harni yang masih melongo hanya menerima saja, dan Sofi melenggang dengan santai menuju kamarnya. Namun ketika langkah Sofi memasuki ruang tengah Bu Harni tersadar dari kemelongoannya.


“Heh, tunggu kamu!” Panggil Bu Harni setengah berteriak sambil mengejar langkah Sofi.


Sofi memutar langkahnya, berdiri angkuh dengan mengangkat wajahnya melihat pada Bu Harni tajam. “Yang sopan ya kalo ngomong sama saya! Saya ini calon nyonya di rumah ini!”


Bu Harni kontan meradang, wajahnya berubah garang matanya balas menatap perempuan yang ada di hadapannya dengan kilatan emosi, lantas di lemparkannya barang-barang Sofi yang dibawanya ke depan Sofi.


“Apa-apaan ini?” Sofi kaget bukan main melihat orang yang dikiranya pembantu berani melawannya. “Jangan macam-macam ya kalo nggak pingin saya pecat kamu sekarang juga!" Ancam Sofi.


PLAK!


Satu tamparan keras mendarat di pipi  kanan Sofi yang mulus. Merasa belum puas, saat Sofi masih memegangi pipi kanannya yang nyeri dan perih bukan main, Bu Harni menarik rambut Sofi melampiaskan kemurkaannya pada perempuan yang belum sempat menghindar itu sehingga membuat tubuh Sofi agak terhuyung ke samping.


“Kamu yang jangan macam-macam! Berani kamu menyebut diri kamu sebagai calon nyonya di rumah ini, hah?” Geram Bu Harni tanpa mengendorkan sedikitpun jambakannya pada rambut Sofi.


Sofi meringis kesakitan.


“Aww! Lepas ….” Pinta Sofi sambil meringis.


Bu Harni mendorong tubuh Sofi sampai sempoyongan. Tenaganya masih powerful meski sudah tak muda lagi.


“Kamu tau kamu berhadapan dengan siapa, hah?” kali ini Bu Harni yang berdiri angkuh menantang Sofi.


Sofi ngeri  melihat perempuan tua yang hampir seusia dengan ibunya itu berubah seperti monster menakutkan. Sofi hanya diam masih sambil memegangi pipi kananya yang memerah bekas telapak tangan Bu Harni. Ia tak mampu lagi berkata-kata.


“Za …! Mirza ….! Sini kamu …!” Teriakan Bu Harni memanggil Mirza menggema sampai ke lantai dua.


Mirza yang masih sedang menelpon melihat pada Via, mereka langsung merasa ada yang tak beres demi mendengar teriakan Bu Harni yang begitu kencang.


“Mirza ….! Via …! Cepat kesini kalian …!”


Teriakan Bu Harni terdengar lagi membuat Mirza terpaksa harus mengakhiri teleponnya dan bergegas turun diikuti Via.


JENGJENG!


Mirza dan Via shock melihat ada Sofi dengan wajah tak berdaya dan Bu Harni dengan muka merah merona ehh .. merah padam maksudnya.


“Ini perempuan selingkuhanmu yang tak tau diri itu kan?” Tunjuk Bu Harni pada Sofi masih dengan emosi yang kadarnya belum turun sedikitpun.


Mirza hanya diam, terlebih lagi Via. Mereka sama sekali tak menduga bahwa Bu Harni akan bertemu secepat ini dengan Sofi. Mirza berpikir Sofi nggak akan pulang hari ini dari klinik sehingga ia bisa menjelaskan dulu dengan keadaan rumah tangganya yang sudah kedatangan Sofi pada ibu mertuanya. Tapi apa mau dikata, semuanya sudah terlanjur.


“Apa yang ada di pikiranmu, Za? Kamu biarkan perempuan perusak rumah tanggamu ini masuk dan tinggal di rumahmu seenaknya? Kamu nggak pedulikan sama sekali dengan perasaan istrimu? Ibu benar-benar kecewa dengan kamu, Za! Ibu  pikir kamu laki-laki yang tegas, ternyata ibu salah. Ibu salah sudah memaafkan mu dan memberikanmu kesempatan, kalo akan begini jadinya, ibu nggak akan maafin perbuatan bejadmu!” Bu harni menumpahkan semua emosinya atas sikap Mirza yang ceroboh sambil ngos-ngosan.

__ADS_1


Melihat Bu Harni yang begitu emosi, diam-diam hati Sofi bersorak girang. Itu berarti mertuanya Mirza akan menyuruh Mirza menceraikan Via, yess! Berarti dia bakal punya peluang lebih besar untuk mendapatkan Mirza.


“Bu, Ibu dengar dulu penjelasan saya.” Mirza maju berusaha meraih tangan ibu mertuanya.


Bu Harni menepisnya cepat.


“Saya nggak mau denger apa-apa lagi dari mulut kamu! Kamu benar-benar nggak bisa dipercaya, saya kecewa sama kamu!”


“Bu, maafkan saya.” Mirza masih berusaha.


“Jangan minta maaf lagi, saya nggak butuh maaf kamu!”


“Saya mohon, Bu. Ini semua nggak seperti yang Ibu kira …”


“Cukup, Za! Jangan bicara lagi!” Hardik Bu Harni seraya melihat pada menantunya berang. “Dan kamu, Via!” Bu Harni kini beralih pada anaknya sendiri.


Via yang sedari tadi hanya diam menjadi kaget kenapa ibunya tiba-tiba seperti mau ikut marahin dia juga.


“Kamu ini bodoh atau apa? Melihat ada perempuan lain masuk seenaknya di rumahmu, kamu hanya diam saja? Sudah tau perempuan ini yang merusak rumah tanggamu malah kamu berikan dia kesempatan untuk semakin dekat dengan suamimu! Otak kamu dikemanakan, Via?” Bu Harni memandang Via dengan tatapan tak habis pikir.


Kali ini Sofi tersenyum puas melihat Via dimaki-maki sama ibunya sendiri. Tapi cuma dalam hati sih. Kalo dia berani senyum beneran, bisa-bisa dijambak juga mulutnya sama Bu Harni.


“Sudah berapa lama perempuan tak punya malu itu tinggal di sini?” Bu Harni menatap Mirza dan Via bergantian.


“Hampir satu minggu.” Sahut Mirza pelan.


“Apa? Hampir satu minggu?” Teriak Bu Harni tak percaya. “Dan kalian diam saja? Kalian nggak mengusirnya?” Bu Harni makin emosi, lantas melemparkan tatapan tajamnya pada Mirza yang merasa sangat bersalah. “Oh, atau jangan-jangan kamu memang bermaksud untuk menikahinya dan memadu Via, iya begitu Mirza?”


“Nggak, Bu! Saya sama sekali nggak berpikir seperti itu!” Sahut Mirza cepat. “Saya nggak akan pernah menikahinya, saya bersumpah hanya Via yang akan menjadi istri saya!” lanjut Mirza tegas.


“Kalo begitu usir dia dari sini sekarang juga!” Perintah Bu Harni tegas.


“Heh, kamu! Cepat pergi dari sini!” Bu Harni memandang Sofi galak. “Cepat kemasi barang-barangmu dan minggat dari rumah ini!” Bu Harni menunjuk muka Sofi.


“Nggak! Saya nggak akan pergi dari rumah ini!” Tolak Sofi.


“Oh, berani kamu ya?” Bu Harni maju mau jambak rambut Sofi lagi, tapi Sofi kali ini cepat menghindar.


“Saya nggak akan pergi dari rumah ini karena Bu Een yang meminta saya untuk tinggal di sini.” Ucap Sofi tenang sok kepedean.


Bu Harni sontak saja kaget, ia nggak percaya kalo ini semua ulah besannya. Dia nggak nyangka besannya itu tega berbuat seperti itu dan menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri. Bu Harni tau kalo Bu Een memang dari dulu tak merestui hubungan Mirza dan Via, tapi karena melihat kesungguhan Mirza, Bu Harni mendukung anaknya menikah dengan Mirza sambil berharap suatu saat besannya itu luluh dan mau menerima Via.


“Bu Een punya alasan jelas kenapa saya diperbolehkan tinggal disini.” Ucap Sofi lagi yang melihat Bu Harni diam seperti tak berkutik mendengar nama Bu Een disebut-sebut. “Saya sedang hamil anak Mirza, dan itu berarti saya bisa memberinya cucu, sedangkan Via tidak!” Ucap Sofi jumawa.


Sontak saja Bu Harni kembali meradang, dia maju sekonyong-konyong langsung menyerang Sofi yang menurutnya sudah sangat berani dan kepedean. Tangan kirinya menjambak rambut Sofi dan tangan kananya mencakup kedua pipi Sofi sehingga mulut Sofi tak bisa bicara lagi.


Mirza dan Via kaget melihat aksi Bu Harni dan berusaha melerai.


“Bu, Ibu. Lepasin, Bu!” pinta Mirza dan Via bersamaan.


Bu Harni melepaskan tangannya tapi kembali mendorong tubuh Sofi hingga membentur tembok dibelakangnya.


“Lancang kamu!” Maki Bu Harni pada Sofi yang kembali kesakitan. “Kalo saya mau, saya akan buat kamu keguguran sekarang juga! Dasar perempuan tidak tau malu!”


“Coba saja kalo berani? Saya akan laporkan ke polisi!” Balas Sofi.


“Kamu pikir saya takut?” Bu Harni mau maju lagi tapi keburu di tahan Mirza dan Via.

__ADS_1


“Bu, ibu sudah, Bu!” Cegah Via.


“Sudah, Bu. Nggak ada gunanya ngeldenin dia!” Timpal Mirza.


“Dasar perempuan tak tau diri! Yakin betul kamu itu hamil anak Mirza! Jangan-jangan kamu cuma memanfaatkan kelemahan anak dan menantu saya saja karena laki-laki yang hamilin kamu itu sudah kabur! Dasar perempuan mura**n! Lo**e! Pe*****r!” Maki Bu Harni bertubi-tubi.


Telinga Sofi panas mendengarnya, wajahnya geram, hatinya tak terima dikata-katain seperti itu.


“Kenapa? Kamu tak terima, Hah?” Ejek Bu Harni yang melihat perubahan ekspresi wajah Sofi. “Kamu kan sudah tidur ratusan kali dengan banyak laki-laki, apa namanya kalo bukan lo**e?”


“Jangan hina saya seperti itu.” Desis Sofi.


“Kamu nggak mau saya hina? Makanya kamu sadar dong, ngaca siapa diri kamu, Romlah!”


Bu Harni berkacak pinggang menatap Sofi yang terpojokkan dengan kata-kata pedasnya.


“Masih belum mau pergi juga dari rumah ini?” Tantang Bu Harni. “Baik, saya bakal bikin kamu segera angkat kaki sekarang juga. Tunggu saja!”


Bu harni bergegas pergi ke luar. Mirza dan Via bertanya-tanya dalam hati apakah gerangan yang akan dilakukan Bu Harni. Via tak menyangka ibunya sangat berani menyerang Sofi membabi buta. Meski ia khawatir akan terjadi apa-apa sama Sofi tapi ia juga menyadari tindakan ibunya itu didasari rasa sayang pada dirinya. Sementara itu Sofi memilih segera masuk ke kamar untuk menghindari perlakuan yang lebih buruk lagi yang mungkin akan diterimanaya.


“Dasar nenek tua gila!” Geram Sofi tertahan.


Dia memeriksa wajahnya di depan cermin. Masih terlihat bekas tamparan tangan Bu Een di kulitnya yang putih.


“Lihat saja, akan aku adukan ini.” Sofi meraih ponselnya bermaksud menghubungi Bu Een.


Sekali panggilan, belum ada jawaban. Sofi mencoba menghubunginya sekali lagi.


“Kita lihat saja siapa yang akan pergi dari rumah ini!” Geram Sofi lagi masih terus berusaha menghubungi calon mertuanya itu. Tapi lagi-lagi belum ada jawaban.


“Si nenek tua yang ini juga kemana lagi nih! Harusnya kan dia udah nyape rumah!” Kesal Sofi.


Tak habis akal, Sofi langsung mengetik pesan singkat untuk Bu Een mengatakan kalau besannya sekarang ada di rumah Mirza dan berniat mengusirnya.


Send


“Aku yakin sebentar lagi akan terjadi perang antara kedua nenek tua itu! Posisiku pasti lebih kuat. Aku nggak boleh nyerah.” Ucap Sofi dengan senyum liciknya.


 _____________


 


Hai Kak, selamat sore …. 😊😊


*Maafkan aku ya akak readers tercinta dan akak author tersayang. 🙏🙏😍😍


Aku up lelet banget dan slow repon😢


Kesibukanku di awal tahun membuatku sedikit kewalahan nih 😅😅Semoga secepatnya keremponganku di dunia nyata segera terselesaikan ya… jadi aku kembali bisa up tiap hari lagi*.🤩🤩


Seklai lagi mohon maaaf kalo ada yang belum aku feedback.🙏🙏❤️❤️


Nanti pasti aku sapu bersih😂😂


Salam sayang dariku untuk kalian semua.😘😘


Like, komen, rete 5 dan vote jangan lupa ya kak ☺️❤️

__ADS_1


Luv u all🤗🤗😘😘


 


__ADS_2