TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
32 #LAMARAN


__ADS_3

“Sayang, ikan bakarnya diangetin aja ya? lumayan buat sarapan.” Ucap Mirza, lantas tangannya menghidupkan kompor dan mengambil ikan di meja makan.


Via tak menjawab, dia masih monolog dalam hati.


“Kamu kenapa sayang? Kok mendadak melo begitu mukanya?” Tegur Mirza yang melihat wajah istrinya datar-datar saja.


Via langsung tersadar.


“Ah, nggak kok Mas. Makasih ya udah bantuin.” Sahut Via berusaha menetralkan perasannya.


Via menuju kulkas mau ngambil stok sayuran disana.


“Eh, mau ngapain?” Tanya Mirza yang sudah meletakkan ikan di atas panggangan.


“Masak lah.”


“Biar aku aja. Kamu duduk manis sini ya.” Mirza menarik satu kursi dan menyuruh Via duduk. “Mau masak apa emangnya?” Mirza memeriksa isi kulkas. “Ini ada kacang panjang, tahu, wortel, bayam ...”


“Tumis bayam, kamu kan Popeye, Mas!” celetuk Via.


“Haha.... , itu kan panggilan si Yana buat aku.” Mirza tertawa lebar. ”Tapi boleh juga kalo kamu mau aku masakin tumis bayam. Terus ini ada ayam juga, wortel, terong, tomat, selada, mau dibikin apa ya?”


“Terserah Mas aja, kan katanya tadi Mas yang masak?”


“Iya deh.”


Mirza mengangkut semua sayuran itu dan meletakkannya di meja makan kemudian memilah-milahnya mana yang akan dimasak duluan. Saking rempongnya si Mirza, tomat sama terong sampe pada ngglundung.


HOP!


Untung Via tangkas segera menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.


"Hati-hati dong Mas, sampe pada mau jatuh begini. Kalo kebanyakan ya nggak usah dimasak semua juga kali!” Oceh Via setengah keki yang melihat suaminya masih bingung mau masak apaan.


“Ah, gimana kalo kita bikin comro aja?” Cetus Mirza.


BUK!


Via memukulkan terong yang dipegangnya ke lengan Mirza.


“Aduh! Kok mukul sih?”


“Ya lagian Mas ngaco aja! Comro itu bikinnya pake oncom. Ini liat disini emang ada oncom?” Via sebal sambil menunjuk sayuran di depan mereka.


Mirza menggeleng. “Nggak ada.”


“Terus mau bikin comro pake apa? Mana oncomnya?” Via makin sebal.


“Ya beli dong.”

__ADS_1


“Ogah!”


“Ya udah aku aja yang beli.”


Mirza baru mau jalan tapi keburu di tahan Via.


“Nggak usah aneh-aneh deh, Mas. Masak yang ada aja. Nanti keburu siang, aku udah laper tau!” Via manyun makin sebal.


“Oke deh ...” Mirza nurut. “Ya udah, sini terongnya balikin. Demen amat megangin terong? Pasti imajinasimu kemana-mana ya sambil megangin terong?” Mirza menggoda Via.


“Ih, imajinasi apa maksudnya?” Via mau mukul suaminya lagi pake terong lagi.


“Eit, jangan pukul lagi dong, sayang. Sakit lho.” Mirza menangkap tangan Via sambil pasang muka sok manja.


“Ya makanya cepetan masak sana, jangan kebanyakan mikir. Itu ikannya awas gosong!” Cerocos Via sambil menunjuk kompor.


Mirza langsung lari, dia baru ingat kalo lagi manasin ikan bakar.


__


Sofi duduk tanpa ekspresi ditemani Nyonya Husein di kamarnya. Sofi terlihat begitu cantik dengan dress tosca yang kontras dengan kulit putihnya. Wajahnya pun semakin menawan meskipun dengan riasan yang tak terlalu berlebihan. Namun mata bulat indahnya tak menyiratkan kebahagiaan sama sekali.


Tuan Husein dan Azad yang duduk fi ruang tamu segera bangkit ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka.


“Azad, segera panggil kakakmu, Nak. Keluarga Ramzi sudah datang.” Perintah Tuan Husen pada Azad.


Tuan Husein langsung meyambut Tuan Makhrus Alatas, ayah Ramzi dengan pelukan hangat. Kemudian beralih pada Ramzi yang terpancar rona kebahagiaan di wajahnya.


Setelah berbasa basi sebentar, Tuan Husein mengajak mereka masuk. Beberapa barang bawaan nampak sedang diturunkan oleh sopir dari mobil Tuan Alatas dan dibantu oleh pelayan rumah Tuan Husein.


“Aku sangat merasa terhormat atas kunjungan anda, Tuan Alatas.” Senyum Tuan Husein terus mengembang karena calon besannya itu datang sendiri untuk melamar putrinya.


“Tidak usah terlalu formal begitu, bukankah kita sebentar lagi akan berbesan?” Seloroh Tuan Alatas yang disambut tawa senang Tuan Husein.


Tak lama, Sofi muncul diiringi Nyonya Husein dengan Azad yang berjalan di belakangnya. Azad nampak sangat khawatir sekali dengan kakaknya. Sedari semalam dia coba bicara dan meyakinkan Sofi kalau tak bersedia menerima lamaran Ramzi maka tak perlu dipaksakan. Tapi Sofi masih membisu.


“Sofia Alta Husein.” Sambut Tuan Alatas berdiri menyambut calon menantunya.


Tuan Alatas sepertinya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat wajah cantik Sofi. Terlebih lagi dengan Ramzi. Tapi dia memberikan ekspresi yang berbeda. Wajahnya sedikit tegang, mata nyaris tak berkedip dan mulutnya melongo mungkin hampir seukuran dengan bola tenis meja dan kalau ada tawon lewat dijamin langsung masuk.


“Kamu sangat cantik.” PujiRamzi ketika berjabat tangan dengan Sofi.


Sofi hanya menarik sedikit bibirnya. Mereka kemudian duduk kembali.


“Jadi bagaimana?” Tanya Tuan Alatas langsung pada permasalahan.


“Pa, tunggulah sebentar. Kenapa papa langsung bertanya seperti itu? Bukankah Papa belum menyampaikan maksud dan tujuan kita kemari?” Ujar Ramzi pada ayahnya.


Tuan Alatas malah terbahak diikuti tawa Tuan Husein yang tak kalah meledak. Jadilah mereka berdua seperti sedang kontes tertawa. Perut Tuan Alatas yang buncit sampai ikut bergerak-gerak naik turun, sedangkan Nyonya Husein hanya tersenyum bersama Azad.

__ADS_1


"Nak, bicaralah." Ucap Tuan Husein pada Sofi setelah reda dari tawanya.


Sofi melihat pada ibunya. Nyonya Husein, perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang 60 tahunan itu mengangguk sambil tersenyum simpul.


"Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum memberikan jawaban." Ungkap Sofi.


Semua diam. Ruang tamu besar bergaya victoria itu terasa kaku diselimuti pertanyaan yang memenuhi benak masing-masing dari mereka. Sofi merasa ada beban yang begitu berat menghimpit hatinya, tapi dia berpikir inilah saatnya untuknya berterus terang.


"Katakanlah, apa ada permintaan khusus darimu?" Ungkap Ramzi yang merasa tak sabar karena Sofi masih juga diam.


Sofi mengedarkan pandangan pada setiap pasang mata yang ada. Semuanya menatap Sofi menunggu penjelasan.


"Aku tak yakin Kak Ramzi tetap akan melamarku." Sofi menatap Ramzi dengan wajah datar.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" Ramzi menggeser duduknya menyerong ke arah Sofi. Sorot matanya menyiratkan ketidakpercayaan.


Ramzi sudah menunggu Sofi begitu lama sampai melewatkan masa-masa mudanya yang bergairah dengan kesendirian dan harus rela didahului menikah oleh kedua adiknya hanya demi menunggu Sofi untuk mau menjadi istrinya.


"Katakan apa keinginanmu, aku pasti akan memenuhinya." Ramzi mendesak dengan penuh keyakinan.


"Ramzi, jangan tergesa-gesa seperti itu." Tuan Alatas memperingatkan dengan nada sedikit ditekan, padahal di awal justru dia sendiri yang tak sabaran


"Jangan meragukan Ramzi. Dia calon suami terbaik untukmu." Tuan Husein turut meyakinkan Sofi.


"Aku ... " Kalimat Sofi sengaja tak dilanjutkan, dia melihat sekali lagi pada ibunya.


Nyonya Husein yang tak tau apa yang sebenarnya terjadi pada Sofi, tentu saja hanya tersenyum sebagai tanda menguatkan.


Sofi menarik napas berat. Ramzi melihat Sofi dengan pandangan sendu, Sofi membalasnya dengan mata yang mulai memanas.


Seandainya laki-laki yang melamarku saat ini adalah kamu, Za. Aku tentu tak kan merasa seberat ini.


Air mata yang menggenang di sudut mata bulat Sofi hampir saja menitik ketika tiba-tiba Ramzi menedekat dan berlutut di disamping Sofi seraya meraih jemari Sofi.


Sofi terperangah, ingin rasanya melepaskan tangan Ramzi. Tapi dia sadar itu pasti melukai Ramzi dan membuatnya malu. Wajah Ramzi memang terlihat lebih klimis sekarang, badannya juga tak terlalu tambun seperti setengah tahun lalu ketika terakhir kali bertemu dengannya. Memang lebih tampan tapi hati Sofi hanya dipenuhi Mirza seorang.


"Kau tau kan, sebesar apa cintaku padamu?" Ungkap Ramzi penuh perasaan. "Aku akan membahagiakanmu."


Sofi tak tahan lagi, air matanya luruh. Telapak tangannya berkeringat dingin dan mulai gemetar.


Tik


Tik


Tik


_______ bersambung ☺️


Terima kasih sudah setia mengikuti ceritaku. Jangan bosan untuk like, komen, rate dan vote ya 🙏❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2