
Pagi-pagi sekali Ramzi sudah bersiap berangkat ke kantor meninggalkan Sofi yang masih bergelung malas di balik selimutnya. Setelah mengecup sekilas kening istrinya, Ramzi keluar kamar menuju ruang kerja papanya. Ramzi merasa perlu membenahi perusahaannya setelah ditinggal ke luar kota selama seminggu lebih karena kemarin ia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan.
“Papa harusnya tanya aku dulu sebelum mengambil keputusan jika itu berkaitan tentang perusahaanku.” Ramzi menemui Tuan Alatas tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tuan Alatas yang juga sedang bersiap merasa terkejut melihat kedatangan Ramzi yang nampak sangat tergesa, namun ia berusaha tetap tenang.
“Kau ini kenapa, Ram? Bukankah semuanya itu juga hak Papa?” Tuan Alatas bertanya tanpa melihat Ramzi.
“Papa lupa, papa sudah mengalihkan perusahaan garmen dan hotel menjadi milikku dan berada dibawah tanggung jawabku? Lalu kenapa Papa seenaknya saja mengambil alih semuanya kembali dan membekukan aset lainnya yang aku punya?”
Tuan Alatas tersenyum, bangkit dari duduknya menghampiri putra tunggalnya yang berdiri gusar itu. “Nanti akan Papa jelaskan.” Tuan Alatas menepuk pundak Ramzi.
“Aku mau Papa menjelaskannya sekarang.” Sarkas Ramzi.
Tuan Alatas melirik arlojinya, “Papa ada meeteng pagi ini.” Ucapnya pergi mendahului menuju meja makan.
Dengan menahan parsaaannya Ramzi mengekor sang papa, namun ia melewati begitu saja ruang makan dan segera menuju garasi. Tuan Alatas mengulas senyum tipis, pelayan menyiapkan sarapan untuknya.
“Maaf Tuan, apakah Tuan Ram sudah mengetahui semuanya?” Tanya Gerald si kepala pelayan yang melihat roman muka tuan mudanya tadi begitu lain dari biasanya.
“Belum saatnya, Gerald.” Tuan Alatas menyesap kopi gahwanya. “Sekarang kau panggilkan pelayan yang bertugas di kamar si Jal*ang itu.” Titah Tuan Alatas.
Sang kepala pelayan mengangguk patuh, dan tak berapa lama ia kembali bersama seorang pelayan perempuan.
“Kau yang bernama Rinara?” Tanya Tuan Alatas dengan lirikan tajam.
Si pelayan muda itu nampak gugup.”Be-benar, Tuan.”
Tuan Alatas memberi isyarat pada Gerald, dengan sigap sang kepala pelayan itu memutarkan file rekaman CCTV yang sudah dipindah ke ponselnya. Terlihat dengan jelas rekaman yang menunjukkan Rinara yang sedang membersihkan ruang kerja Ramzi lalu diminta keluar oleh Sofi, kemudian Sofi mengobrak-abrik meja Ramzi seperti sedang mencari sesuatu.
Rinara semakin tergagap. “Ma-afkan saya, Tuan besar. Saya t-tidak tau kalau Nyonya Sofi ...”
Tuan Alatas mengangkat tangan kanannya meminta Rinara berhenti bicara. “Mulai sekarang apapun yang kau ketahui tentang perempuan itu, laporkan pada Gerald jika kau ingin tetep bekerja disini. Paham?” Tegas Tuan Alatas.
“Saya mengerti, Tuan besar.” Rinara menyahut patuh.
Setelah kepala pelayan menyuruhnya pergi, Tuan Alatas kembali pada sarapannya, namun pikirannya tertuju pada rekaman CCTV yang baru saja ia lihat beberapa hari yang lalu. Laki-laki lanjut usia yang masih garang itu melihat semua kelakuan anak dan menantunya.
"Cih! Dia sengaja menipu Ram dengan tubuhnya. Dasar ja**ng!“ Geram Tuan Alatas ketika teringat rekaman adegan mesra Ramzi dan Sofi di ruang kerja Ramzi itu.
Tuan Alatas menyudahi sarapannya, ia sepertinya kehilangan selera makan. Hatinya benar-benar geram mengetahui putra semata wayangnya dengan mudah termakan bujuk rayu Sofi untuk bercinta di ruang pribadi yang menyimpan surat-surat penting perusahaan.
"Tuan harus terus memeriksa rekaman CCTV dari setiap ruangan secara berkala." Gerald memberi saran.
"Ya, kau benar. Karena kesibukanku aku sampai melupakan hal semacam itu." Suara Tuan Alatas terdengar menyesal. "Beruntung aku sudah mengamankan semua surat-surat berharga dari tangan Ramzi. Aku yakin, perempuan ja**ng itu sangat kecewa tak menemukan apa yang dicarinya.” Ucap Tuan Alatas kemudian.
“Sekarang apa rencana Anda, Tuan?” Tanya Gerald yang masih setia berdiri di dekat Tuan besarnya.
“Kita akan tunggu waku yang tepat untuk membeberkannya pada Ramzi.”
“Mengenai surat berharga yang sudah berhasil diambil Nyonya Sofi bagaimana, Tuan? Saya yakin ia sudah memberikannya pada adiknya waktu itu karena saya mendengar sendiri dengan jelas Nyonya Sofi berbicara dengan adiknya di dalam kamar untuk mengamankan surat-surat itu.”
Tuan Alatas bangkit setelah mengelap mulutnya. “Saya sendiri yang akan membereskannya.”
❤️❤️❤️❤️❤️
“Kenapa sih gue nggak boleh ikut, Jane?” Rumi bersungut-sungut mengikuti Jane yang sedang mondar-mandir mengambil tas dan sepatu.
“Aku mau pergi kerja, Rumi! Bukan mau piknik!” Jane melotot kesal.
“Gue kan bisa nungguin elo di loby kantor sambil ngegame.”
“Haish! Kalo mau ngegame mendingan di rumah, lagian kamu kayak nggak ada kerjaan aja mau ikut ke kantor.” Jane memakai sepatunya dan merapikan rambutnya sebentar.
“Emang nggak ada kok.”
“Udah ah, nanti aku telat.” Jane agak berlari keluar dari kamar, Rumi mengikutinya persis anak kecil yang nggak mau ditinggal ibunya.
“Rumi!” Kesal Jane ketika dia membalikkan badan secara tiba-tiba dan hampir menabrak Rumi yang di belakangnya. “Minggir!” Jane masuk lagi ke kamar karena lupa memakai jam tangan.
“Ayolah, Jane ....” Bujuk Rumi.
“Mendingan kamu pulang deh, Papa kamu jadwalnya terapy kan? Atau kamu pergi nongkrong atau shopping ngabisin duit kiriman mama kamu kayak biasanya itu.”
“Ck! Udah semua. Papa gue udah terapy, gue juga udah shopping kemarin dan kemarinnya lagi, udah jalan-jalan juga, udah nongkrong, udah renang, udah semua pokoknya! Dan sekarang gue bosen!”
Sungut Rumi lagi.
“Kamu juga pasti bosen kalo ikut aku, disana bukan arena bermain anak-anak.”
“Ish! Aku cuman mau ganti suasana nongkrong aja kok.”
“Kamu bener-bener jadi makin aneh setelah ditinggal si bule itu.” Jane menatap Rumi prihatin. “Harusnya kamu nggak ijinin dia pergi ke Jerman kalo jadi begini akhirnya. Kamu udah kayak orang stres, tau!” Jane melenggang keluar tak mempedulikan lagi saudaranya itu.
Jane berdiri di samping mobilnya merogoh tasnya, mengubek-ubek isinya dengan sediit panik.
“Elo cari ini?” Rumi mengacungkan kunci mobil Jane.
Kedua mata Jane menyipit, makin kesal ia pada si Rumi. “Balikin!”
“Tidak semudah itu, Esmeralda.” Seringai Rumi.
NGOK NGOK
Rumi membuka kunci mobil Jane dan dengan seenak jidatnya nyelonong masuk duduk di samping jok kemudi.
“Masuk buru!” Perintah Rumi semena-mena lantas melemparkan kunci itu pada Jane.
Hup!
Jane menangkapnya, tak punya pilihan selain menuruti kemauan aneh Rumi. Mobil Jane meninggaklan rumah melaju menuju kantor Azad.
__ADS_1
“Nanti kunci mobilnya biar gue yang pegang ya kalo gue bosen nungguin elo, gue mau jalan-jalan.” Celoteh Rumi dalam perjalanan.
Jane tak menyahut, matanya fokus ke jalan yang mulai dipadati kendaraan yang sibuk.
“Jane? Kok diem aja sih lo?” Tegur Rumi.
“Terserah kamu aja.”
Rumi tersenyum lebar merasa menang karena keinginannya dituruti. Sejak malam itu ia ditembak Hanson secara tak resmi, Rumi jadi gelisah tak menentu. Terlebih lagi Hanson kemudian benar-benar pamit untuk pergi ke Jerman. Rumi sebenarnya bahagia juga terharu pada nasibnya sendiri, betapa pengejarannya selama ini terhadap Hanson ternyata membuahkan hasil. Tapi ia tak ingin terlalu percaya diri karena masih ada setitik keraguan di hatinya pada Hanson.
Hari-hari Rumi terasa begitu hampa karena sang bule dambaan hatinya benar-benar pergi meski berjanji hanya sebentar dan akan segera kembali.
Bip bip
Rumi meraih gawainya d8 dalam tas, satu pesan masuk dan matanya langsung membola ketika membacanya.
“Anterin gue ke airport, Jane!” Ucap Rumi tiba-tiba.
Jane menoleh heran. “Mau ngapain?”
“Hanson hari ini pulang.” Rumi berseri bahagia.
“Udah nyampe? Kok baru ngabarin sih?”
“Dia masih transit di Bangkok.” Rumi sibuk mengetik pesan balasan.
“Terus kamu mau nungguin dia di airport dari sekarang?”
“Iya! Cepetan anterin gue sekarang. Nggak usah bawel!”
Jane yang sempat reda dari kesalnya kini mulai kesal lagi, bener-bener nggak ada perasaan si Rumi. Udah tau Jane lagi buru-buru karena takut telat malah dia minta dianterin ke airport. Jane yang males ribut akhirnya milih diam, ia terus mengemudi sedaangkan Rumi masih sibuk berbalas pesan sambil sesekali senyum-senyum, kadang cekikikan kadang juga tampak tersipu-sipu sendiri, bener-bener nggak jelas tuh orang!
Rumi baru menghentikan kegiatannya ketika mobil Jane berhenti.
“Udah nyampe ya? Kok cepet banget?” Rumi mengedarkan pandangannya. “Lah, ini kan bukan di airport? Jane elo gimana sih?” Rumi bingung campur sebel.
“Gue mau ngantor bukan mau jadi sopir elo! Kalo mau ke sana, pergi aja sediri!” Jane menumpahkan kekesalannya sampe ikut elo gue juga ngomongnya. Jane segera membuka pintu mobill dan melangkah lebar memasuki loby.
“Jane, lo tega…!!” Arumi menyusl Jane dengan menghentak-hentakkan kakinya. “Mana kunci mobile lo, gue pergi sendiri kalo elo nggak mau nganter!”
“Enak aja. Naik taxi kan bisa!” Jane terus melangkah menuju lift.
“Pelit lo!” Rumi mengikuti Jane masuk ke dalam lift. Keduanya kini menuju lantai 9 tempat dimana Jane bekerja.
Ting!
Pintu lift terbuka. Rumi masih mengekor langkah Jane.
“Ngapain lo masih ngikutin gue?”
“Hmm, setelah gue pikir-pikir gue mending nunggu disini dulu deh, pesawat Hanson baru datang siang nanti.” Ucap Rumi dengan santainya.
“Jane?” Sapa Azad yang datang dari arah berlawanan.
“Halo, Mister Akshay. Nice to meet you.” Rumi tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Azad sedikit bingung mendapati Rumi berada di kantornya.
“Nggak usah dihiraukan, dia sengaja ngikutin aku. Dia pikir aku emaknya.” Ucap Jane yang paham kebingungan Azad.
Azad hanya tersenyum tipis .”Oya, sebentar lagi kita ada meeting dengan divisi marketing.” Azad melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang berbulu.
“Oke, ayok kita kesana.”
Azad dan Jane beranjak, Rumi masih setia mengekor.
“Elo tunggu disini!” Titah Jane pada Rumi sebelum mereka masuk ke ruang meeting.
“Mana kunci mobil lo? Kasih ke gue kalo nggak pingin gue ikut masuk.” Rumi mengancam dengan wajah liciknya.
Jane merogoh tasnya. “Nih! Tapi elo harus udah nyampe sini pas jam gue pulang kerja.”
Rumi menyeringai. “Itu bisa diatur, tapi gue nggak janji.”
Jane menatap punggung Rumi yang pergi menjauh lantas segera menyusul Azad masuk.
Untuk beberapa jam Rumi berada di sana dan mengitari kantor azad, naik turun lift gabut banget.
“Ini perusahaan apa tempat pemakaman? Kantor segede gini karyawannya hanya berapa biji.” Guman Rumi yang mulai pegel-pegel dan mengistirahatkan kakinya di sudut loby kantor. “Bener-bener udah bangkrut keluarga si Sofi. Cih! Pantesan aja dia mau dinikahin si raja minyak biarpun harus rela kehilangan janinnya!”
Waktu merambat siang, jam di gawai Rumi menunjukkan hampir pukul 11, perut Rumi mulai terasa lapar karena memang pagi tadi dia hanya minum segelas susu saja. Rumi mengantongi ponselnya dan melangkah keluar, sepertinya dia tadi melihat resto di samping kantor Azad. Rumi akhirnya memutuskan pergi kesana untuk mengisi perutnya karena Hanson masih akan tiba beberapa jam lagi.
Rumi duduk menunggu pesanannya. Sebuah resto dengan konsep terbuka cukup membuat moodnya membaik. Tak berapa lama makanan dan minuman yang di pesannya datang, Rumi segera menyantapnya. Gemericik air mancur dari kolam yang tak jauh dari tempat Rumi duduk membuatnya betah berlama-lama berada di sana. Resto yang tak begitu ramai membuat Rumi merasa seperti di rumahnya sendiri. Dia hampir saja memesan lagi cemilan ketika sepasang matanya menangkap sesosok perempuan yang seperti tak asing baginya.
Seorang permpuan tinggi semampai dengan dres sebatas lutut berjalan di parkiran kantor Azad. Rumi bangkit menajamkan penglihatannya. Lalu dengan buru-buru ia meletakkan beberapa lembar uang di atas meja dan segera kembali ke kantor Azda.
Permpuan berkulit putih yang menjinjing tas branded itu berjalan penuh percya diri menuju loby, Rumi mengikutinya dengan waspada jangan sampai ketahuan. Setelah permpuan cantik yang dikuntitnya itu selesai berbicara pada receptionist, Rumi mengambil posisi aman untuk melihat perempuan cantik itu menuju ke lantai berapa.
“Omegot!” wajah Rumi shock seperti baru ketemu hantu.
Perempuan cantik berkulit puti, tinggi semampai yang tak lain adalah Sofi itu kini sedang menuju lantai 9. Ya, Sofi siang ini memutuskan untuk mengunjungi kantor Azad untuk membicarakan perihal surat-surat perusahaan suaminya yang ia tiipkan pada Azad tempo hari. Bukannya tanpa alsanan Sofi bertindak demikian, setelah kepulangan suaminya dari luar kota, ia merasa ayah mertuanya gencar melakukan perang dingin dengan dirinya. Bahkan sang kepala pelayan pun seperti selau mengawasi gerak geriknya dimana pun Sofi melangkahkan kaki di istana megah suaminya itu. sofi tak ingin kalah langkah, ia yakin 100% sang ayah mertua sedang mencari celah kelemahannya untuk menghancurkan dirinya di depan suaminya sendiri.
Ting!
Sofi sudah berada di lantai 9, beberapa karyawan nampak keluar dari ruang meeting karena meeting baru saja usai. Sofi tersenyum tipis, ia segera masuk ruangan itu menemui adiknya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat pemandangan yang membuat kedua bola matanya terasa ingin melompat keluar.
“Azad! Apa yang kau lakukan dengan perempuan tak tau malu itu?” Teriakan Sofi berhasil membuat siapapun yang mendengarnya mengalihkan perhatiannya.
“Kak Sofi?” Azad tak kalah kagetnya.
Jane yang mendapatkan tatapan mengerikan dari Sofi sontak menarik diri, ia masih ingat kelakuan Sofi brutal pada dirinya.
__ADS_1
“Jawab kakak! Apa yang dia lakukan disini? Jangan bilang dia bekerja padamu!” Sofi mendekat dengan amarah siap meledak.
Para karyawan yang sudah meninggalkan ruangan meeting kembali berdatangan dengan wajah penasaran, mereka nampak berkumpul di luar sambil saling berbisik, Rumi yang baru sampai pun terlihat berada di antara mereka.
“Jane memang bekerja untukku sekarang, Kak.” Sahut Azad tenang.
“Pecat dia sekarang juga!”
“Apa alasanku memecatnya, Kak? Dia justru membantu perusahaan kita, dia bekerja keras bersamaku untuk memulihkan semuanya.” Bela Azad.
“Membantu, katamu? Kau lupa bagaimana dia dengan liciknya ingin merebut suami kakakmu sendiri? Sekarang malah kau pelihara dia dan kau sebut dia membantumu? Kau kemanakan otakmu, hah?!” Sofi berteriak dengan wajah memerah.
Para karyawan yang mendengar kalimat Sofi seakan mempunyai bahan gossip baru, mereka juga tak menyangka Jane dengan wajah cantik polosnya pernah punya catatan hitam dimata kakak bos mereka.
“Usir dia sekarang, atau aku yang akan melakukannya!” Geram Sofi sambil mendekati meja Jane.
“Kak, tolong. Jangan seperti ini.” Azad menghalangi Sofi dengan tubuh besarnya.
“Minggir! Wanita tak tau malu seperti dia tak pantas berada disini! Aku tak sudi dia bekerja disini, dia itu licik. Dia hanya pura-pura baik, dia pasti punya maksud tertentu. Apa kau tidak paham?” Sofi terus berteriak hilang kendali.
“Kakak! Tenangkan dirimu, semua yang kau tuduhkan itu nggak benar! Jane sudah mengakui kesalahannya, dan dia akan memperbaiki semuanya.”
“Dan kau percaya?” Sofi melihat Azad tak habis pikir. “Hai, Ja*ang!” Pandangannya beralih pada Jane yang sedari tadi hanya membisu. “Rupanya kau sengaja menolak tawaran si tua bangka Alatas karena ingin merebut perhaian adikku! jangan mimpi kamu! Aku nggak akan tinggak diam! Aku kan menyeretmu dari sini!” Sofi menerobos tubuh kekar Azad bermaksud menggapai Jane yang masih tak bergeming.
Beruntung Azad sigap menahan aksi kakaknya.
“Kak, cukup!” Azad mencekal kedua pergelangan tangan Sofi. “Ingat kondisimu sedang hamil! Kau jangan seperti ini!” Azad hampir terpancing emosi. “Sebaiknya Kakak pulang, kita bicarakan nanti masalah ini di rumah. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kehamilanmu jika kau emosi seperti ini.” Azad terus berusaha menenangkan Sofi.
Jadi si Sofi itu lagi hamil? Hem, tokcer juga si raja minyak itu ya bisa bikin Sofi cepat hamil! Pasti digenjot tiap malem tuh si sofi, wkwkwkkk. Rumi membatin masih sambil asyik menonton adegan seru menegangkan di dalam ruang meeting itu.
Nafas Sofi masih memburu, tatapannya masih nyalang seolah siap memangsa Jane hidup-hidup. Ia sungguh tak rela jika perempuan yang hampir saja merebut saminya itu bekerja bersama adiknya.
“Ayo aku antar kakak pulang.” Azad menarik paksa kakaknya yang jelas sekali masih enggan meninggalkan mangsa buruannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Jam pulang kantor pun tiba, wajah Via nampak paling berseri diantara para karyawan lainnya yang bertampang lesu karena penat bekerja seharian.
Via
Mas, udah nyampe mana? Aku udah jam pulang nih.
Via mengetik pesan untuk suaminya sambil berjalan menuju lift.
Mirza
Nggak tau sampai mana ini, Sayang. Mas baru bangun tidur. Nanti Mas kabarin ya. Sekitar jam 7 malam baru sampai setasiun kota.
Via
Oke deh, kalo gitu aku pulang dulu ya mau siap-siap jemput suamiku pulang.
Mirza
Iya sayang. Tunggu aku ya. Luv u 😘😘
Via
Luv u more 😘😘😘😘
Via tersenyum sendiri menyimpan ponselnya ke dalam tas dan melangkah masuk besama beberapa karyawan yang lain karena pintu lift sudah teruka.
"Lihat tuh, dia pasti baru dapet gebetan Om Om baru. Dari tadi senyum-senyum sendiri." Bisik Milen pada Cila yang berdiri di pojokan lift.
"Iya. Dasar perempuan gampangan!" Cila balas berbisik.
Tak berapa lama mereka menghambur keluar lift. Dengan langkah lebar Via menuju parkiran dan cepat masuk ke dalam mobil. Om Jaka yang tau keponakan kesayangannya akan pulang sengaja meminjamkan mobilnya pada Via untuk menjemput Mirza karena Via menolak tawaran Om Jaka untuk menjemput suaminya itu.
"Eh, Cil! Itu kan mobil si Om yang nyamperin Via tempo hari kesini itu!" Milen memperhatikan mobil Om Jaka yang berjalan keluar parkiran.
"Masa sih?"
"Iya. Aku ingat kok." Milen yakin.
"Iya bener!" Timpal Vony.
"Heum, biasa naik motor sekarang udah naik mobil dia." Sinis Cila.
"Gitu deh kalo jadi simpanan Om Om." Cibir Vony.
Milen Cs pun berpisah diparkiran setelah puas berghibah ria sore itu.
Waktu merangkak petang. Lepas maghrib Via sudah siap akan menjemput Mirza di stasiun. Ia tak mau suaminya itu lama menunggu. Setelah yakin dengan penampilannya, Via menyambar kunci mobil dari atas nakas.
Ting tung!
Suara bel sedikit mengejutkan Via.
"Siapa lagi yang bertamu jam segini. Nggak tau orang mau pergi apa? Jangan-jangan si Bujel lagi tuh!" Via menggerutu sendiri.
tap tap tap ...
Via menuju ruang tamu dan membuka pintu.
JENGJENG!
❤️❤️❤️❤️❤️
Siapa ya tamunya 🤔🤔🤔🤔
Othor minta maaf banget selama bulan puasa ini up belum bisa maksimal. Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak selalu ya Kak 🙏🙏🙏🙏🤩🤩🤩🤩
__ADS_1
Feedback meluncur slowly but sure yaa, 😍😍
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘