TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
219 # DRAMA PAGI HARI


__ADS_3

219


Selalu ada harapan baru setiap pagi menjelang. Untaian doa-doa dan pengaharapan akan banyak hal meluncur dari kedua hamba yang begitu fakir dalam banyak hal. Mereka tenggelam mengakui segala ketidak berdayaan diri, memohon ampunan atas segala dosa dan petunjuk untuk setiap kesulitan. Bibir mereka mungin tak berucap, namun hati mereka berdialog mesra merayu sang Maha Pencipta memohon belas kasihNYA.


Mirza mengusap wajahnya, terdiam beberapa saat mengatur perasaannya. Via masih bersimpuh menegenakan mukenanya, wajahnya basah sedari tadi. Mungkin letih, mungkin juga sedih dengan ujian cintanya yang seolah tak kunjung usai. Dan ujian itu datang dari orang yang paling dekat dengannya dan suaminya.


“Sayang,” Mengusap kepala Via yang masih terbalut mukena.


Segara Via meraih punggung tangan sang suami dan menciumnya penuh takzim, tak dilepasnya selama beberapa saat. Tangan itu yang selalu membelainya lembut memberikan ketenangan.


“Mas, maafkan aku.” Lirih Via menghambur ke dalam pelukan suami.


Mirza hanya merespon dengan dekapannya, ia tahu istrinya sedang mengalami masa-masa berat.


“Mas, apa nggak lelah bertahan dalam situasi seperti ini?” Meregangkan pelukan menatap manik mata tegas suaminya.


“Asalkan denganmu aku tidak akan pernah merasa lelah, Sayang.”


Via tau tak ada kepalsuan sedikit pun dari sorot mata laki-laki di hadapannya. Dia tulus dan tegas.


“Apa kamu tau Mas, aku kadang merasa menjadi seorang wanita yang jahat karena sudah membuat hubungan seorang anak dan ibunya menjadi renggang dan semakin menjauh.”


“Itu karena kamu terlalu memikirkan kata-kata ibu, Sayang. Sudah ya, kita jangan terlalau memikirkannya, serahkan semuanya pada Allah. Selama kita saling menguatkan, maka tidak ada yang akan memisahkan kita kecuali maut, Sayang.”


Via masih igin menyangkal, namun mengangguk rasanya lebih baik. Ia tak mau membuat suasana pagi menjadi rusak.


“Aku masakin sarapan ya, Mas.” Via bangkit.


“Gimana kalo kita jalan-jalan pagi dulu, bagus untuk perkembangan anak kita juga.” Mirza mengelus perut istrinya. “Mumpung udaranya masih segar, kita jalan santai aja Sayang.”


“Heem, boleh. Kalo gitu sekalian beli soto ayam depan komplek ya, Mas.” Via tersenyum.


“Yah, kalo gitu kamu nggak jadi masakain sarapan dong Sayang?” Mirza bangkit dengan wajah pura-pura kesal.


“Masaknya lain kali aja deh, takut nanti Mas kesiangan berangkat kerjanya kalo kita jalan pagi dulu.”


“Hem, alesan aja deh!” Menowel hidung Via. “ Ya udah Mas ganti baju dulu ya.”

__ADS_1


“Aku tunggu di depan ya, Mas.” Via melipat mukenanya kemudian keluar kamar, ia merasa tak perlu berganti kostum. Cukup dengan mengenakan daster baby dollnya saja. Mirza pun tak mau menyuruhnya ganti pakaian, karena pernah sekali waktu ia meminta Via untuk ganti sandal saja ketika mau periksa kandungan agar jangan pake sandal jepit malah kena sembur dan omelan panjang lebar dari sang istri. Begitulah wanita hamil, suka semaunya sendiri. Biarkan saja, asakan dia bahagia.


“Ayok Sayang.”Mirza keluar dengan gaya casual santai, bercelana pendek kaos oblong menenteng gadgetnya.


Langit pagi di ujung timur menampakkan warna merah kejinggaan saat mereka berdua keluar dari rumah. Udara pagi yang segar membuat mereka tambah semangat melangkahkan kaki. Sesekali mereka melemparkan candaan ringan. Kegundahan yang sempat singgah di hati Via kini sudah berganti dengan keceriaan. Berbeda dengan pagi harinya Sofi. Wanita yang tengah hamil besar itu harus rela pintu kamarnya digedor sedemikian rupa oleh yang empunya rumah.


“Sof, Sofi! Bangun kamu!” Omel Bu Een dari luar kamar setelah menggedor pintu tanpa aba-aba sehingga Sofi yang masih pulas dalam mimpinya terlonjak kaget.


“Sof, bangun! Males bener sih kamu jadi perempuan?!”


Sofi mengacak rambutnya kesal. Ingin dia balas marah tapi nggak berani, alhasil cuman bisa ngomel dalam hati.


Ngebangunin orang udah kayak neriakin kebakaran! Berisik banget! Itu nenek-nenek emang nggak punya sopan santun deh. Asli ngeselin banget. Heran, kenapa Via kok kuat bertahan punya mertua kayak nenek lampir begitu!


Sofi terdiam ketika menyebut nama Via dalam hatinya. Apa dia barusan kagum atau kasihan sama Via yang jadi mantunya Bu Een? Ya, Via sudah tabah dan kuat selama ini. Dirinya baru beberapa hari saja sudah hampir stress. Bu Een baik padanya mungki karena sedang ada maunya, tapi kalo udah beneran jadi mantunya mungkin saja sikapnya juga sama seperti kepada Via.


“Sofi!!!!” Teriakan kencang dari balik pintu kamar kembali mengagetkan Sofi. Dia pun beringsut turun untuk membuka pintu.


Ceklek


“Ada apa katamu? Heh, kamu itu perempuan, dan kamu numpang di rumah saya. Jangan belagak jadi nyonya ya! cepat pergi ke dapur sana, bikinin saya teh dan sarapan!” Titah Bu Een.


Sofi mendengus. “Jam berapa ini Bu, matahari aja belum nongol ibu udah minta sarapan? Dasar perut orang ndeso!” Sofi keceplosan saking kesalnya.


“Apa kamu bilang?” Bu Een melotot. “Ndeso katamu?”


“Emh, eh bu-kan begitu maksudnya Bu …” Sofi tergagap.


“Sudah! Saya nggak mau tau, pokonya kamu cepat siapkan sarapan untuk saya! Saya mau nasi goreng!”


“Nasi goreng?” Sofi tak yakin. Sekali dalam hidupnya ia pernah masak nasi goreng waktu masih esde, itupun lagi mainan masak-masakan sama Azad, ceritanya dia lagi masakin nasgor buat si adik. Soal rasa pasti hancur! Jadi dia tak yakin bisa memasak nasgor untuk Bu Een.


“Kenapa diam? cepat ke dapur sana!” Sembur Bu Een lagi.


“Eum, apa ibu nggak takut makanannya kecampur sama kulit telor lagi?” Sofi berharap Bu Een menarik perintahnya.


“Kalo sampai itu kejadian lagi, saya hukum kamu tidur di bawah pohon jambu!”

__ADS_1


“Tega banget sih, Bu? aku kan lagi hamil?” kaget Sofi, ia khawatir juga ancaman Bu Een itu beneran.


“Kalo gitu kamu bayar denda saja kalo sampe ada cangkang telur dalam nasi gorengnya atau rasanya nggak enak, kamu harus bayar sepuluh juta!”


“Sepuluh juta?” Terbelalak kaget. “Itu sih bisa buat beli gerobak sama sekalian yang jualnya juga!”


“Udah nggak usah bantah terus makanya, cepat kerjain perintah saya! Selesai bikin teh dan sarapan, kamu bersih-bersih rumah terus beresin toko.”


“Terus ibu ngapain dong? Enak banget main nyuruh-nyuruh aku seenaknya, ibu sendiri cuman ongkang-ongkang kaki nggak ngerjain apa-apa? Ini kan rumah ibu, masa aku yang harus ngurusin sih?” Sofi nggak tahan untuk tak membantah.


“Berapa kali saya bilang? Kamu itu disini cuman numpang! Jadi kamu harus nurutin semua perintah saya!” Bu Een nggak mau kalah. “Kecuali kalo kamu bayar sewa sama saya!”


“Fine! Aku mending bayar sewa aja kalo gitu. Berapa aku harus bayar?” Sofi dalam mode songong.


“Satu juta untuk satu malam. Kamu disini udah seminggu jadi kamu bayar ke saya 7 juta.”


“Ok, aku bayar 7 juta!” Sofi kembali masuk dan mengambil dompetnya berharap masih tersisia cukup uang tunai di dompetnya. Ia juga menyapu semua isi tasnya. Didapatlah uang Sembilan juta. Dua juta ia simpan kembali.


“Ini 7 juta, dan jangan usik ketenangan aku selama disini!” Sofi menyodorkan uang itu dengan wajah kesal.


Bu Een tak percaya Sofi memberinya uang semudah itu. ia sungguh merasa puas, ia tak salah pilh jika nanti Sofi sampai beneran jadi mantunya karena memang tajir melintir. “Gitu dong!” Senyum lebar terbit di wajah keriputnya namun kemudian tersadar. “Terus siapa dong yang masak dan bersih-bersih rumah?”


“Masa bodo! Aku mau tidur lagi, bye!” Dengan cueknya Sofi masuk kamar dan membanting pintu tepat di depan muka Bu Een.


BRUK!


❤️❤️❤️❤️❤️


Maaf ya, up nya lagi pendek-pendek Kak… 🙏🙏


Like😍


Komen🤩


Vote❤️


I luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2