TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
26 #ADA APA DENGANMU?


__ADS_3

Deg!


Mirza sontak kaget mendengar berondongan pertanyaan ibunya. Dia terdiam dan tak berani melihat pada Bu Een.


"Za ... "


"Aku laper, Bu." Potong Mirza lirih coba mengalihkan pikiran ibunya.


Bu Een yang memang sudah menyiapkan hidangan sedari pagi untuk Mirza langsung bersemangat.


"Oh, ibu udah masak opor ayam kesukaanmu tadi pagi. Ibu panaskan dulu ya?"


"Nggak usah, Bu. Nggak papa." Mirza melangkah ke ruang makan, ditariknya kursi dan dia langsung duduk dengan sajian yang sudah disiapkan Bu Een di depannya.


Mirza makan dengan lahap tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Bu Een memperhatikan tanpa bertanya apa-apa lagi karena takut mengganggu kekhusyukan Mirza. Dalam hati Bu Een merasa senang karena Mirza makan masakannya tapi di sisi lain dia masih menaruh kecurigaan bahwa ada yang tak beres dengan anak semata wayang yaitu.


______


Via memerhatikan pesan yang telah dikirimnya pada Mirza, "cuma ceklis satu, artinya hp Mas Mirza nggak aktif. Sibuk banget apa ya Mas Mirza disana? Kira-kira lagi ngapain ya jam segini kok hp-nya belum on?" Via bertanya pada dirinya sendiri sambil memainkan ponselnya.


Sementara itu Riri kelihatan sedang melawan kantuk di depan TV. Kebiasaan anak itu habis makan rebahan terus bablas tidur.


PLUK!


Via melempar kacang atom dari tolpes di meja makan tepat mengenai kepala Riri yang tiduran di karpet.


Krauk ... krauk ...


Riri cuek mengunyah sebutir kacang atom itu tanpa berminat mencari tahu dari mana arah datangnya.


Via sebel banget dengan kelakuan adiknya yang lagi kumat malesnya itu.


"Ri, mandi sana! Abis makan malah tiduran aja, ntar jadi monyet lho!" Via tak tahan lagi melihat Riri.


"Ck, Mbak Via nih ganggu orang aja!" Riri menoleh dengan muka sebal. "Makanan dalam perutku ini lagi diproses Mbak, jadi masih belum boleh mandi. Nanti proses pembakarannya tidak berlangsung dengan sempurna kalo kena air!"


"Alesan aja!" Via melempar pandangan kesal seraya melangkah menuju kamar.


Tin ... tin ...


Terdengar suara klakson mobil dari luar. Via urung menaiki tangga dan langsung menuju ruang depan.


Ting tong ...


Bel berbunyi sekali dan Via langsung membuka pintu.


"Olivku sayang .... " Sambut Yana seraya merentangkan kedua tangannya persis burung bersiap tebang lantas bercipika cipiki dengan Via yang melongo heran. "Kita berangkat sekarang aja yuk, takut telat nanti."


"Berangkat kemana?"

__ADS_1


"Ya ke salon. Tapi kita ke butik dulu ya, abis itu ke toko oleh-oleh."


Via bertambah heran. "Tunggu dulu. Kayaknya ada yang belum aku tau nih." Via menatap Yana dengan pandangan menyelidik.


"Nanti aku ceritain."


"Soal?"


"Ya semuanya. Dari A sampe X."


"Nggak semuanya dong kalo gitu?"


"Y sama Z masih jadi misteri, aku belum berani cerita." Yana sok berteka-teki. "Takut ke GR an." Bisiknya sambil menahan senyum.


Via benar-benar tak mengerti dengan ulah sahabatnya itu, tapi dia juga enggan bertanya lebih lanjut. Via melihat keluar, sebuah Fortuner putih terparkir di halaman rumahnya.


"Terus itu mobil siapa?"


"Pinjem punya Kak Angga. Kan katanya ada Riri, masa kita mau bonceng bertiga naik motor? Kayak cabe-cabean dong!"


"Aku nggak yakin kamu bisa nyetir."


Yana memutar bola matanya kesal. "Udah deh jangan banyak omong. Sekarang mendingan kamu siap-siap." Yana memutar bahu Via menyuruhnya segera ganti baju.


"Ri, cepetan mandi! Nanti kamu ditinggal lho!" Seru Via yang melewati Riri.


"Katanya nanti sore, Kak? Ini jam tidur siang lho."


Yana mengempaskan pantat di atas sofa dekat Riri. "Kalo nggak mau ikut juga nggak papa, kok." Ujar Yana santai.


"Eeh, ikut dong!" Riri bangkit menuju kamar mandi. "Tapi digratisin kan kalo mau ikutan perawatan?" Tanya Riri sebelum masuk kamar mandi tamu yang tak jauh dari ruang tengah.


Yana mengacungkan jempolnya.


"Yess!"


___________


Rumah kediaman keluarga Husein.


Sofi tampang termenung di dekat jendela. Pandangannya lurus ke luar melihat seekor kupu-kupu yang sedang hinggap pada bunga mawar di dekat kamarnya.


Kreek ...


Sofi tak menyadari pintu kamarnya dibuka. Azad adik laki-laki Sofi masuk menghampiri kakaknya.


"Kak, mama sama papa nungguin di ruang tengah." Ujar Azad pelan.


Sofi tak menyahut, tidak juga menoleh. Matanya masih mengamati kupu-kupu berwarna hijau muda dengan sedikit corak kuning di tengah kedua sayapnya yang mengepak pelan.

__ADS_1


"Kak," Azad menyentuh bahu kakaknya pelan. "Mama sangat mengkhawatirkanmu."


Sofi tahu dia berhutang banyak penjelasan kepada kedua orang tuanya. Setelah kepulangannya dari pesiar, Sofi hanya sehari di rumah. Dia menginap di rumah teman dan pergi berobat, namun dokter mengatakan bahwa fibromyalgia belum ada obatnya, jadi untuk sementara Sofi dianjurkan untuk banyak istirahat dan mengurangi beban pikiran agar tak merasakan sakit yang lebih parah lagi.


"Tekanan darah kamu rendah sekali." Ujar dokter waktu itu.


"Iya, dok. Saya memang sering pusing belakangan ini."


"Saya kan sudah bilang waktu itu supaya kamu jangan ikut pelayaran dulu, sekarang lihat keadaanmu." Papar dokter yang memang sudah akrab dengan Sofi. Dokter itu pulalah yang memberitahu bahwa Sofi mengidap sindrom fibromyalgia beberapa waktu lalu setelah melakukan serangkaian tes kesehatan pada Sofi.


"Dok, apakah sindrom ini juga bisa menyebabkan mual pada fase-fase tertentu? Saya sering mual dan muntah-muntah beberapa hari ini."


Dokter tersenyum kecil sambil menuliskan resep. "Ada baiknya kamu ingat siklus bulananmu."


Saat itu rasanya Sofi bagaikan disetrum aliran listrik. Dia ingat bahwa bulan kemarin memang belum mendapatkan menstruasi. Maka hal paling utama yang dia lakukan setelah keluar dari ruangan dokter adalah membeli tespack bukan menebus obatnya.


"Kak ... " Panggil Azad lagi.


"Nanti aku kesana." Sahut Sofi lantas mencuci mukanya di wastafel.


Azad lega, dia juga ikut khawatir karena sejak Sofi pulang tadi pagi hanya mengunci pintu di kamar. Sofi sebenarnya perempuan periang dan selalu membaur dengan keluarganya jika dirumah, dia tak ingin menyia-nyiakan waktu bersama keluarganya. Namun tentu saja kepulangannya kali ini berbeda dan hal itu dirasakan oleh kedua orangtua dan adiknya.


Sofi keluar menemui orangtuanya yang sudah menunggunya di ruang tengah.


"Duduk dekat Mama sini, Sof." Panggil sang mama pada Sofi.


Sofi duduk dengan muka datar, dia melihat Tuan Husein menatap tajam ke arahnya.


"Sebelum kami bicara, apa ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Pak Husein masih dengan tatapan tajam pada Sofi


Sofi menunduk, dia tak berani membalas tatapan tajam mata papahnya. Laki-laki berusia 60 tahun lebih dengan kumis hitam melintang itu masih terus memperhatikan anak sulung.


Sofi menggeleng pelan.


"Apa kamu yakin? sepertinya kamu tidak dalam keadaan baik." Nyonya Husein meraih tangan Sofi yang mulai dingin.


"Aku hanya sedang kurang sehat saja, Ma."


"Mama akan panggil dokter."


"Nggak usah." Sergah Sofi. "Aku sudah berobat. Setelah minum obat pasti keadaanku akan pulih."


Tuan Husein membelai jenggotnya yang lebat. "Baiklah. Sekarang dengarkan papa baik-baik. Besok keluarga Ramzi akan datang untuk melamarmu, dan kamu sudah tidak punya waktu lagi untuk menundanya."


JDUER!


____________berrsambung lagi ☺️


*Te*rima kasih sudah setia mengikuti ceritaku 🙏❤️ jangan lupa like, comment, bintang dan votenya ya 😘🌹

__ADS_1


__ADS_2