TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
183 #KENYATAAN PAHIT


__ADS_3

Sejak mendapat kabar tentang kehamilan Via, semua keluarga dan sahabat merasa turut bahagia. Tia dan Arya sampai menyempatkan datang untuk menjenguk kedaan Via. Bu Harni pun sudah melupakan rasa kesalnya, dia bebera kali menelpon Via untuk mewanti-wanti agar Via jaga kesehatan. Yana, Yanti bahkan sampai Om Jaka dan Denaya pun terlihat mengunjungi rumah Via dalam waktu yang berbeda. Pokoknya Via dan Mirza banjir ucapan selamat dan perasaan bahagia tengah meyelimuti mereka. Tentu saja semua itu tak luput dari perhatian si tukang jepret alias paparazzi amatir, siapa lagi kalo bukan Bujel. Dia mengabarkan soal kehamilan Via itu pada sang nyonya besar.


“Din! Cepet siapin mobil!’ Titah Bu Een pada Udin.


“Kita mau kemana, Bu?” Udin heran karena ini bukan jadwal untuk belanja barang-barang kebutuhan toko.


“Nggak usah banyak tanya kamu! Cepet tutup tokonya!”


Udin tak berani bertanya lagi, ia bergeges melaksanakan perintah majikannya. Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah kontrakan Via dan Mirza di kota. Sebenarnya Udin pingin banget nanya apa hal yang membuat majikannya itu tergerak untuk berkunjung kesana, sebab nggak ada hujan nggak ada petir tiba-tiba aja majikannya itu nyamperin rumah anak dan menantunya.


Via dan Mrza tengah bersantai di ruang tengah menikmati week end mereka. Via tiduran di paha suaminya sambil iseng main game cacing, sementara Mirza nampak kesusahan membuka kado dari Yana.


“Ya ampun, kirain isinya apaa?” Ujar Mirza setelah berhasil membuka kotak kecil berbalut kertas kado motif keropi si boneka kodok.


“Apaan sih Mas?” Via mengalihkan fokusnya melihat pada sang suami.


“Nih! Kelakuan sahabat kamu!” Mirza memperlihatkan mainan anak ayam-ayaman berwarna kuning yang biasa buat mainan balita.


Via bangun dan mengambil alih dari tangan sumainya kemudian memutar tuas mainannya sehingga mainan anak ayam itu bergerak-gerak di lantai.


Tik tik tik tik tik tik …..


“Ih, bagus Mas. Lucu!” Via berseru girang.


“Bagus apaan? Kayak belum pernah liat mainan model gitu aja!” Cibir Mirza.


Via cuek, ia malah memaikannya lagi dan memandangi anak ayam itu dengan senyuman di wajah cantiknya.


“Si Yana itu emang aneh! Dia pikir bayi dalam perut kamu udah bisa mainan apa? Lagian bungkus kado gambar kodok, taunya isinya ayam. nggak jelas!” Mirza makin keki. “Orang mah dateng ngasih hadiah bawa makanan, bawa buah, eh dia bawa kayak gituan!”


“Ya udah biarin aja sih Mas, kayak nggak tau Yana aja.” Sahut Via santai. “Lagian ini kan bisa dipake buat mainan anak kita nanti kalo udah lahir.”


“kelamaan sayang! Dasar si Yana nggak modal!” Mirza beranjak menuju dapur, agaknya perutnya mulai lapar. “Sayang kamu laper nggak?” Serunya dari dapur.


“Belum Mas.” Via memasukkan kembali mainan anak ayam itu ke dalam kotaknya.


“Atau kamu mau Mas masakin sesuatu?” Mirza menghampiri.


“Nggak. Kan di kulkas juga udah banyak makanan? Kue dari Mbak Tia masih banyak. Si Yanti juga pagi tadi masakin gulai ikan kakap tuh di meja makan.”


“Beneran kamu nggak mau apa-apa?” Mirza tak yakin, menatap netra istrinya intens.


“Iya beneran, kenapa sih emangnya Mas?” Via malah jadi heran.


“Nggak kepingin makan sesuatu yang aneh-aneh atau yang susah-susah gitu dicarinya? Kayak semisal onde-onde dengan jumlah wijen ganjil atau rujak buah dengan ukuran buah 1x1.5 cm kayak pas kamu ngidam pertama itu, Sayang?” Mirza masih penasaran.


“Ish! Mas nih dibilang nggak ya nggak, kok maksa sih?” Via jadi sebel.


“Ya udah deh, kalo gitu Mas aja yang ngidam ya? Biar sweet kayak pasangan-pasangan romantis dalam novel-novel itu lho.” Mirza nyengir.


“Ngaco! Mana ada ngidam kok direncanakan? Mas ini aneh-aneh aja deh!” Kesal Via nggak habis pikir sama suamina.


“Ya abisnya kamu kok nggak ngidam apa-apa sih Sayang? Atau gimana kalo kamu ngidamnya kayak Denaya aja?”


Via mengernyitkan keningnya. “Ngidam pingin makan manisan belimbing wuluh maksudnya?”


“Bukan, ngidam pingin nyium bau ketek suami.” Via tersenyum lebar.


“Hiiiiiy…..! aseeeeem …..!!” teriak Via sambil mencubit gemas lengan suaminya membuat Mirza terkekeh karena berhasil ngerjain istrinya. Keseruan mereka terhenti ketika mendengar suara mobil berhentu di luar.


“Siapa Mas? Kayaknya ada tamu deh.” Tanya Via.


“Sebentar, Mas liat dulu ya.” Mirza bangkit dan menuju ruang depan. Belum sempat terdengar suara ketukan pintu, MIrza sudah membuka pintu karena melihat siapa yang datang dari balik kaca jendela rumahnya. “Ibu?” Sapa Mirza tak percaya.


“Iya. Kenapa? Kamu kaget ibu dateng kesini?” Jawab Bu Een dengan wajahnya yang ….., ya seperti biasa itu lah ya. Horrrooorrr!!!


“Sama Udin juga? Ayo Bu, masuk.” Mirza mengajak Bu Een masuk setelah mencium punggung tangannya.


“Siapa Mas?” Via muncul dari ruang tengah dan tampangnya tak kalah kagetnya dengan wajah Mirza barusan. “Ibu? Alhamdulillah, apa kabar Bu?” Via menghampiri hendak menyalami ibu mertuanya.


“Nggak usah drama ya kamu!” Sinis Bu Een telak pada Via hingga Via mengurungkan niatnya karena heran dengan maksud perkataan ibu mertuanya.


Via melongo dan saling tatap dengan suaminya. “Drama gimana maksud ibu?”


“Apa maksud kalian menyembunyikan kehamilan Via? Semua orang sudah tau, kenapa hanya ibu sendiri yang nggak diberi tahu?” Bu Een menatap tajam pada anak dan menantunya.


“Oh, soal itu? Iya, maafin Mirza Bu. Kita belum sempet ngabari ibu, rencananya ….”


“Alasan!” Potong Bu Een. “Heh, Via! Kamu sengaja kan ngelarang Mirza nggak ngasih tau saya soal kehamilan kamu?” Sinis Bu Een pada Via.


“Nggak Bu. Buat apa juga aku ngelarang Mas Mirza. Justru kabar bahagia ini ibu harus tau. Ibu kan udah kepingin banget nimang cucu?” Jawab Via tenang.


“Nyatanya saya nggak dikasih tau kok!”


“Bu, ini cuman salah paham aja. Aku minta maaf ya, hari minggu besok rencananya aku sama Via mau jenguk Ibu sekalian ngasih tau kabar bahagia ini.” Mirza menjelaskan.

__ADS_1


“Bohong! Ibu paling nggak suka ya dibongin, Mirza! Istrimu ini udah bawa banyak pengaruh buruk buat kamu. Soal kehamilan aja pake ditutupi, apalagi soal yang lain.”


“Soal yang lain gimana maksud ibu? Nggak ada yang ditutup-tutupi dari kami, Bu.” Mirza meyakinkan.


“Sudahlah, intinya ibu sangat kecewa sama kamu. Terlebih lagi sama dia!” Tunjuk Bu Een pada wajah Via. “Ayo Din, kita pulang!” Bu Een menyeret langkahnya keluar ruang tamu.


Udin yang dari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan mereka langsung terkesiap dan berjalan cepat mendahului sang majikan menuju halaman.


TIN!


Suara klakson mobil membuat mereka semua menoleh pada sumber suara. Seorang gadis muda, cantik dan enerjik turun dari mobil pick up dan menyapa riang.


“Assalamualaikum! Halo Mbakku yang cantik, dan Kakak iparku yang paling ganteng sekomplek perumahan.”


“Riri?” Ucap Via dan Mirza nyaris bersamaan.


Riri langsung memeluk erat kakak keduanya itu kayak udah lama banget nggak ketemu.


“Ri, kamu sama siapa?” Via melihat pada mobil pick up yang terparkir di luar pagar begitu Riri melepaskan pelukannya.


“Eh, ada Bu Een juga? Halo Bu, apa kabar? Katanya sakit? Udah baikan ya Bu?” Sapa Riri pada Bu Een mengacuhkan pertanyaan kakaknya.


Bu Een melengos dengan wajah jutek. Bukan rahasia lagi ya, Bu Een emang sebel banget sama adiknya Via itu. mulutnya pedes kayak oseng mercon kalo ngomong, begitu kata Bu Een. Padahal dia sendiri nggak nyadar ya, mulutnya lebih-lebihin oseng mercon? Oseng bom molotof dia mah, hehe….


“Oya, aku bawain kue nih buat Mbak Via dan calon keponakan aku.” Riri memberikan bungkusan di tangannya seraya mengusap lembut perut Via.


“Maksih ya, Ri. Pake repot-repot segala kamu.” Via tersenyum menerimanya.


“Nggak lah. Kan aku seneng mau dapet keponakan lagi.” Riri tersenyum lebar. “Oya, Bu Een bawain oleh-oleh apa buat calon cucu Bu? Wah pasti bawa banyak makanan ya?”


“Bukan urusan kamu!” Judes Bu Een.


“Lho, kok marah sih?orang aku cuman nanya kok.”


Via meremas lengan Riri memberi kode agar jangan bicara lagi. Tapi dasar Riri, dia emang suka banget ngeledenin Bu Een.


“Ya selayaknya orang kalo mau dapet cucu pertama kan pasti seneng banget dong, biasanya manja-manjain menantunya. Bawain buah kek atau makanan apa kek kesukaannya, biar kandungannya sehat gitu.” Riri sengaja menyindir Bu Een. “Tapi kalo ngeliat roman-roman mukanya Bu Een yang kayak gitu sih, aku curiga ibu dateng kesini bukannya bawa makanan malah bawa masalah ya?”


“Diam kamu, anak bau kencur!” Bu Een melotot galak.


“Nggak apa bau kencur, asal jangan bau kentut aja!” Ceplos Riri cuek.


Via mencubit pinggang Riri karena mulut adiknya itu terus aja nyerocos. “Udah, Ri.” Bisik Via.


“Ri, kita masuk yuk!” Ajak Mirza demi menyudahi aksi Riri dan ibunya agar tak berkelanjutan. “Din, hati-hati ya pulangnya.” Pesan Mirza pada Udin.


“Ri, jangan bilang begitu.” Via memperingatkan Riri yang sudah mulai kelewatan.


“Aku cmuman ngasih tau aja kok, Mbak.” Riri ngeles, kemudian ia melihat seseorang turun dari mobil pick up. “Eh, Ton! Sini!” Riri melambaikan tangan pada Toni yang nyetirin mobil nganterin dia.


Ada yang masih ingat sama Toni? Kalo yang baca kisah Via Mirza dari awal mungkin masih ingat. Yoi, Toni adalah si tukang cilok yang ketemu sama Riri suatu sore di depan tempat kursus Riri. Yang belum kenalan, yuk cuss ke bab MAKAN BAKSO (kalo nggak salah, hehee…). Check it si Babang Toni disana ya!


Toni, laki-laki muda yang betampang agak oriental itu menghampiri.


“Sampe lupa. Mas, Mbak, kenalin ini Toni.” Riri memperkenalkan Toni pada Mirza dan Via.


Toni menyapa ramah dengan senyum manisnya.


“Oh, jadi batal nikah sama laki-laki kaya, kamu mau nikah sama supir mobil pick up? Kasihan!” Cibir Bu Een yang merasa punya celah untuk membalas kejengkelannya pada Riri.


Riri sempat kaget dengan perkataan Bu Een, namun sejurus kemudian ia bisa mengatasinya. “Bukan batal, tapi nggak jodoh! Lagian kenapa emangnya sama supir mobil pick up? Yang penting kan setia dan penuh kasih sayang!” Balas Riri yang sempet membuat Toni diam-diam merasa kege eran.


“Miris!” Ejek Bu Een.


“Ri, udah!” Via terpaksa memperingatkan lebih keras dengan menarik lengan Riri karena melihat Riri masih mau membalas perkataan Bu Een.


“Din, keburu sore kalo mau pulang.” Mirza pun memeberi kode pada Udin.


“Iya, Mas.” Udin membukakan pintu mobil untuk Bu Een yang langsung masuk dengan wajah horornya. “Mas, Mbak, saya pamit dulu ya.” Ucap Udin.


“Udah, nggak usah pamitan! Sama saya saja mereka nggak peduli, apalagi sama kamu!” Ketus Bu Een pada Udin.


BLAM!


Pintu mobil dibanting dengan keras oleh si empunya. Udin segera masuk melajukan mobilnya pelan keluar halaman. Mirza dan Via memandangi kepergian Bu Een dengan hati aneka rasa dan rupa. Mirza membaca raut sendu wajah sang istri.


“Sayang, ajak Riri sama Toni masuk yuk!” Mirza merangkul pundak Via lembut.


Via mengangguk. “Ayok, Ri!”


Mereka berempat pun masuk, Riri menceritakan kalau sekarang bisnis cateringnya mengalami banyak kemajuan. Barusan dia sama Toni selesai mengantarkan pesanan nasi box yang cukup bayak dan pulangnya sengaja mampir ke tempat Via. Riri juga berencana membeli mobil pick up milik tetangganya itu, daripada dia menyewanya ia kepikiran mempunyai mobil sendiri untuk mendukung akomodasi bisnisnya. Riri akan menggunakan uang dari Bu Elin untuk membayarnya, sisanya ia pakai uang tabungannya yang sudah cukup banyak. Tak terlalu susah buat Riri untuk menjalankan bisnis permulaannya secara mandiri ini, karena sewaktu masih bekerja pada Bu Elin Riri sudah mempunyai banyak kenalan dan relasi. Riri bermain cantik dalam menjalankan bisnisnya, dia gencar promosi di sosmed dengan mengibarkan bendera sendiri. Via dan Mirza memuji keberhasilan Riri dan mendukung penuh bisnis adiknya itu.


Semetara itu ketika hampir keluar dari komplek perumahan, Bu Een tiba-tiba meminta Udin untuk putar balik.


“Putar balik, Din!”

__ADS_1


“Kenapa Bu? Ada yang ketinggalan ya di rumah Mas Mirza?” Tanya Udin.


“Kita ke rumah si ikan buntal!”


_


_


_


Hayo lho,mau ngapain kira-kira Bu Een ketemu sama Bujel ya?


❤️❤️❤️❤️❤️


Sejak keluar dari rumah sakit, Sofi selalu mengurung diri di kamar. Tuan dan Nyonya Husein merasa ada yang tak beres dengan putri mereka, namun Azad tepaksa mengatakan kalau Sofi hanya sedang mengalami stress akibat sindromnya yang kambuh dan terpaksa harus istirhat di rumah sebab Ramzi keluar kota. Azad tak ingin mengatakan dulu kebenarannya kerana mengkhawatirkan kesehatan papanya.


“Azad, kamu nggak bohong sama Mama kan?” Nyonya Husein menghampiri Azad yang sedang santai di halaman belakang rumah mereka yang mewah.


“Soal apa, Ma?” Azad mengalihkan perhatiannya dari layar gawainya.


“Tentang Kakakmu. Apa dia sedang bertengkar dengan Ram?” Nyonya Husein memandang Azad penuh selidik.


Laki-laki muda berbadan tegap itu sedikit gusar diibuatnya. “Mama kenapa punya pikiran seperti itu?”


“Azad, Mama tau kapan saat anak-anak Mama berbohong dan saat berkata jujur.” Manik coklat wanita setengah baya berdarah campuran Arab Turki itu masih menatap tajam pada sang putra. “Mama sudah berkali-kali coba menghubungi nomor Ram, tapi tidak tersambung.”


Gelek!


Azad menelan salivanya, semakin merasa gugup.


“Mungkin Kak Ram sedang berada di daerah yang koneksinya buruk.” Azad masih berusaha menutupi.


“Mama nggak yakin. Kalau kamu masih belum mau jujur, Mama akan cari tau sendiri kebenarannya.”


“Untuk apa, Ma? Mama percaya sama aku, Kak Sofi hanya lagi stress.”


“Jangan kamu tutupi lagi masalah kakakmu itu.” Suara Tuan Husein tiba-tiba terdengar mengejutkan Azad dan mamanya. Tuan Husein sudah berdiri di belakang Azad. “Suruh Kakakmu keluar untuk menemui utusan Alatas.” Perintah Tuan Husein dengan raut dingin.


“Utusan Alatas? Apa maksud Papa?” Azad kaget, begitu juga dengan Nyonya Husein.


“Kamu lihat saja sendiri di depan!”


Azad bergegas ke ruang tamu diikuti Nyonya Husein yang juga sangat penasaran. Seorang laki-laki nampak duduk di ruang tamu beruansa timur tengah dengan ornamen dan hiasan didominasi warna merah.


“Selamat sore, Tuan.” Sang tamu yang tak lain adalah Gerald sang kepala pelayan Tuan Alatas berdiri menyapa lebih dulu pada Azad.


“Anda ….”


“Iya, saya diminta Tuan Alatas untuk bertemu dengan NYonya Sofia.” Ujar Gerald dengan sopan.


“Ada keperluan apa?” Tanya Azad setelah mempersilakan Gerald duduk kebali.


“Saya perlu membicarakannya sendiri dengan Nyonya Sofia.”


“Kakak saya sedang istirahat. Dia masih masa pemulihan karena baru saja pulang dari Rumah Sakit. Anda bisa membicarakannya dengan saya.”


Gerald menarik nafas, sepertinya ia berpikir sejenak. “Baiklah.” Gerald meraih sebuah map berwarna tosca di sampingnya. “Tolong sampaikan ini pada Nyonya Sofia.”


“Apa ini?” Azad membuka map tersebut dan membaca tulisan didalamnya. “Apa maksudnya semua ini?” Azad terkejut menatap Gerald meminta penjelasan. “Bukankah Kakak saya sedang hamil? Kak Ram tidak boleh menceraikan Kak Sofi sdalam keadaan hamil!”


Nyonya Husein segera merebut map tersebut dan ikut membacanya. “Ram, Ramzi …. Akan menceraikan Sofi …?” Suara Nyonya Husein tercekat.


“Tolong dibaca lebih seksama lagi, Tuan. Pada lembar berikutnya tertulis, Tuan Ram akan menceraikan Nyonya Sofia setelah melahirkan nanti.” Gerald menjelaskan. “Dan selama proses menunggu persalinan, Nyonya Sofia tak perlu datang lagi menemui Tuan Ram karena ia sendiri yang memilih pergi untuk meninggalkan rumah Tuan Ram tanpa seijin dari Tuan Ram. Dan anak yang kelak dilahirkan Nyonya Sofia akan berada dibawah hak asuh Tuan Ram.” Pungkas Gerald.


“Perjanjian apa seperti ini? Nggak bisa! Katakan pada Tuan Alatas, saya dan keluarga menolaknya!” Tegas Azad.


“Maaf, Tuan. Tapi saya hanya menjalakan tugas. Jika ada hal yang kurang jelas atau ada yang perlu ditanyakan, Anda bisa menghubungi pengacara Tuan Ram. Disana sudah ada nomor kontaknya.” Gerald menunjuk sopan pada map yang masih dipegang oleh Nyonya Husein.


“Tidak, perceraian ini tidak boleh terjadi!” Nyonya Husein menggeleng kuat. “Azad, sebenarnya ada apa dengan Kakakmu? Kenapa Ram sampai tega ngin menggugat cerai Sofi?” Air mata Nyonya Husein luruh sudah, ia teramat shock dengan keadaan yang sangat Azad takutkan ini.


“Jika Nyonya Sofia tidak bersedia, maka ia tidak akan mendapatkan sepeser pun harta bagian dari Tuan Ram. Begitu juga dengan anak yang lahir kelak, ia tidak akan menyandang nama Alatas pada nama belakangnya."


“Persetan dengan itu! katakan pada Tuanmu, Kakak saya tidak butuh itu! kakak saya butuh keadilan!” Azad emosi. “Alatas tidak bisa menggunakan bayi yang belum lahir untuk mengancam posis Kakak saya!”


“Jika begitu, berarti Anda sudah tau kan apa yang haus Nyonya Sofia perbuat?” Gerald mengukir senyum tipis yang sulit diartikan. “Masalah ini berawal dari Kakak Anda. Saya permisi.” Gerald pamit tanpa menunggu jawaban Azad.


Nyonya Husein meraung-raung meratapi nasib putrinya, sedangkan Azad masih berusaha mencerna kalimat terakhir yang diucapkan sang kepala pelayan tadi. Sementara di sudut ruangan teripsah, Tuan Husein hanya berdiri mematung dengan wajah tanpa ekspresi. Perlahan tangan kanannya meryap meraba bagian dadanya sebelah kiri yang terasa begitu sesak. Dengan langkah tertatih Tuan Husein menuju Sofa beludru di ruang tengah lantas menjatuhkan diri disana.


❤️❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏🙏


Like serta komen selalu ya Kak.😍😍😍 Vote juga boleh banget. 🤩🤩


Mohon maaf jika ada typo.🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa dengerin terpaksa selingkuh versi audio booknya juga ya by adik Chen Liong😊😊


Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2