TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
238 #HIJRAH


__ADS_3

Ramzi keluar dari Rutan kota dengan langkah-langkah lebar menuju parkiran, ia melirik sekilas pada rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 11.20 siang. Segera masuk mobil karena sengatan matahari terasa membakar kulit. Satu helaan panjang untuk mengisi rongga paru-parunya sebelum ia membuka block nomor ponsel ayahnya.


“Rupanya kau ingat juga padaku.” Sapaan bernada dingin langsung menyergap telinga Ramzi begitu panggilannya tersambung dengan Tuan Alatas.


“Pa, aku punya kabar baik untukmu.”


“Aku tidak mau dengar. Cepatlah pulang, perusahaan membutuhkanmu” Tuan Alatas tak mau menanggapi Ramzi.


“Dengar dulu, Pa.”


“Sudah ku bilang, aku tidak mau dengar apa-apa!” tegas Tuan Alatas. “Cepatlah pulang, jangan bersembunyi seperti seorang buronan.”


“Oke, aku akan pulang. Tapi aku akan membawa istri dan anakku.”


Hening, Ramzi tak tau apa yang tengah dirasakan sang ayah di seberang jauh sana. Mungkin sedang terperanjat kaget namun berusaha menutupinya.


“Diammu aku anggap setuju, Pa.”


“Cih! Aku tak sudi punya keturunan dari perempuan ja**ng seperti istrimu!”


“Berarti papa harus siap akan kehilangan aku sebagai satu-satunya anakmu.”


“Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?” Rahang Tuan Alatas mengeras, genggaman pada gawainya mencengkeram kuat. “Lebih baik aku kehilangan kamu, daripada harus menerimamu dengan … “


“Baik,” Pangkas Ramzi. “Akan ku tanggalkan nama Alatas sekarang juga. Nikmatilah hari tuamu sendirian dalam kesepian, Pa.”


“Dasar anak kurang ajar!” Maki Tuan Alatas. “Ini balasanmu terhadapku, setelah berpuluh tahun aku membesarkanmu sebagai seorang single fighter?”


“Mau apa lagi? Papa sendiri yang mengajarkan sikap keras hati padaku, aku belajar darimu.”


JLEB!


Tuan Alatas terdiam, mendadak hatinya nyeri mendengar ucapan anak semata wayangnya barusan.


"Oya, 3 orang suruhan yang kau perintahkan untuk menculik Sofia sekarang sudah mendekam di dalam sel tahanan. Aku baru saja menemui mereka.”


“Bicara apa kau ini?” Tuan Alatas tersentak.


“Jangan pura-pura tidak tau, Pa. mereka sudah mengaku padaku kalau Papa yang menyuruh mereka. Aku punya rekaman pengakuan mereka, nanti aku kirimkan.”


“Jangan asal bicara kau, Ram!”


“Sudahlah Pa, jangan menutupinya. Tenang saja aku tak akan mengatakannya pada polisi, lagipula mereka juga tidak mengaku bahwa mereka orang suruhanmu. Untuk smentara mereka hanya didakwa dengan pasal perampokan.”


Diam lagi, Ramzi yakin kini ayahnya tengah bergulat dengan pikirannya sendiri.


“Pikirkan baik-baik tawaranku ini, Pa. jika Papa menolak istri dan anakku berarti Papa harus siap terseret dalam kasus kriminal yang akan menamatkan riwayat Papa selamanya. Karir Papa sebagai pengusaha akan hancur, Papa akan kehilangan segalanya, dan aku pun tak akan menjenguk papa kelak. Lebih baik aku menikmati hidup bersama istri dan anakku.”


“Keterlaluan kau Ram.” Menggeram menahan emosi.


“Tinggal aku perintahkan mereka untuk mengaku, maka beres semuanya. Mereka hanya orang surhan, papalah dalang utamanya. Aku akan membantu mereka keluar dengan menyewa pengacara handal.”


“Cukup, Ram!” Meluap sudah emosi yang berusaha ditahannya.


“Dan jangan lupa, aku punya banyak saksi. Orang satu kampung akan memberikan kesaksian.” Ramzi terus memojokkan sang ayah.


“Kau benar-benar sudah gila! Kau mau melaporkan papamu sendiri?” Dengus Tuan Alatas.


“Menghadapi papa memang harus dengan kegilaan.” Ramzi tersenyum sarkas. “Aku akan memberimu waktu, Pa. tapi tak banyak, dua hari aku rasa cukup.”


KLIK!


Ramzi mengakhiri sambungan sepihak, senyum lebar terbit di wajahnya. Segera ia lajukan mobilnya menuju hotel, ia harus mengantar Sofi untuk menemui baby Arfan Hafez yang makin hari makin terlihat berisi dan membuat Sofi tak sabar untuk segera menggendongnya.


“Kak, kenapa anak kita tak menggunakan nama belakangmu?” Pertanyaan Sofi beberapa hari lalu ketika Ramzi memberi nama untuk anaknya.


Menggeleng samar. “Namanya sudah bagus.”


“Bagaimana kalau Arfan Hafez Husein?” Usul Sofi.


“Tidak terlalu buruk, tapi memakai nama keluarga dari ibu tidak dibenarkan.”


“Apa kau tak ingin anak kita menjadi seorang Alatas?” menatap dengan sendu.


“Jika tanpa nama Alatas, anak kita bisa lebih baik kenapa tidak?” Malah balik bertanya. “Namanya benar-benar sudah bagus, Arfan Hafez artinya laki-laki yang cerdas dan penuh tanggung jawab.”


“Baiklah, aku percaya padamu.”


Ramzi tersenyum mengingat percakapan dengan Sofi, sungguh istrinya kini telah menjema menjadi wanita yang penurut. Dan Ramzi akan memperjuangkannya untuk terus bersamanya walau harus berhadapan dengan ayahnya sendiri. Angannya tersentak ketika ponsel yang diletakkannya di atas dash board bergetar, segera diraihnya karena khawatir Sofi sudah lama menunggunya.


Satu pesan masuk dari Om Jaka.


Om Jaka


Ram, jangan lupa dateng ke rumah gue ya ntar sore sama bini lu!


Secepat kilat Ramzi membalasnya


Ok


Kemarin Om Jaka memang sudah memberitahunya untuk datang bersama Sofi sore ini, meski terkesan agak misterius namun Ramzi enggan menanyakannya pada Om Jaka ada hal penting apa sampai –sampai ia harus datang bersama Sofi ke rumah Om Jaka.


-


-


-


Rumah Mirza di kampung jati Asri,


“Schatzi, lihat! Aku membelikanmu banyak pakaian bagus.” Seru Hanson yang kerepotan menjinjing beberapa paper bag berisi pakaian untuk Rumi.

__ADS_1


“Banyak amat kamu belanja, Baby?” Berbinar bahagia menerima semua barang pemberian Hason dan segera membukanya. “Baby, kamu nggak salah beli kan?” memandang Hanson setelah selesai memeriksa belanjaan Hanson ternayata kesemuanya baju-baju muslimah syar’i dan ada juga beberapa pashmina.


“Nggak, semua itu buat kamu Schatzi.” Tersenyum ceria.


“Kayak gini kamu bilang pakaian bagus?” melotot sambil menunjuk semua pakaian yang berserak di atas sofa.


“Iya, itu pakain muslimah biar kamu makin cantik.”


“Bukannya cantik yang ada aku malah kegerahan!” Dengus Rumi lantas bangkit dengan raut kesal.


“Schatzi, tunggu!” Mencegat langkah Rumi. “Kamu ingat tentang yang pernah aku bilang soal seorang laki-laki baik hanya untuk perempuan baik dan …”


“Terus maksud lo gue bukan perempuan baik gitu?” Rumi nyolot. “Jangan sok ya? baru juga lo belajar agama berapa hari gaya lo udah yang paling bener!”


“Bukan gitu maksudku.” Meraih tangan Rumi.


Menepisnya kasar. “Kalo elo menganggap gue bukan perempuan baik, fine! Kita udahan!


“Wait, Shcatzi! Jangan kayak gini dong.”


“Gue nggak suka lo atur-atur! Kita cukup sampe disini!”


Menarik nafas mencoba bersabar. “Semua ini demi kebaikan kamu. Aku ngak suka jika banyak mata lelaki yang melihat belahan dadamu, paha mulusmu dan leher jenjangmu. Aku nggak suka istriku kelak menjadi pusat perhatian laki-laki lain selain aku.”


Tertegun, ada benarnya juga perkataan calon suaminya itu.


“Aku memang belum menjadi baik, tapi apa salahnya jika kita sama-sama berusaha untuk menjadi baik.” Lirih Hanson.


“Aku nggak bisa langsung berubah frontal seperti keinginanmu.” Balas Rumi tak kalah lirihnya. “Beri aku waktu.”


“Baiklah, tak apa kalo kamu tak mau memakainya sekarang. Aku juga yang salah, tak menanyakannya dulu padamu.”


“Terus baju-baju itu mau diapain?”


“Kita kasihin aja buat Romlah.”


“Ide bagus.” Rumi setuju. “Sekarang bagaimana kalo kita belanja lagi?”


“Jangan hari ini ya? aku punya janji dengan Pak Haji nanti sore, takut terlambat.”


Rumi merengut kecewa.


“Kamu ikut ya? punya kan baju yang agak tertutup? Kita akan ketemu banyak orang soalnya.”


Rumi hanya melengos ngeloyor pergi ke kamarnya, dan Hanson anggap itu sebagai jawaban iya.


Hari bergulir sore, saup-sayup kumandang adzan ashar terdengar. Mirza sengaja pulang lebih awal setelah shalat ashar karena tak ingin melewatkan momen penting yang sekiranya akan dihelat oleh Omnya. Demikin juga dengan Om Jaka dan Via, mereka tiba tak lama setelah Mirza.


“Jadi ada apaan nih Om nyuruh aku sama Via kesini?” Mirza tak sabaran.


“Sabar dong, yang lainnya belum dateng.” Jawab Om Jaka.


“Jadi masih ada orang lain yang Om undang?”


“Gara-gara kamu, Dena. Via nyuekin aku.” Seloroh Mirza yang menyaksikan istrinya tengah asyik bermain dengan Amara yang sudah pandai berceloteh walau tak jelas namun berhasil membuat Via tertawa senang karena gemas.


“Segitunya, Za. Ntar kalo kamu punya anak snediri masa kamu juga bakal jealous kayak gitu?” Cibir Denaya.


“Aku nggak jealouse, cuman nggak mau dicuekin.”


Denaya nyengir. “aku nitip Amara sama kalian ya, mau mandi dulu nih.”


Via mengacungkan jempol kanannya lantas kembali mengajak Amara bemain.


“Sayang, apa kalo anak kita lahir kamu akan nyuekin aku kayak gini?” Gumam Mirza dengan wajah memelas.


“Mas apaan sih? Kamu baperan deh! Coba kamu ikut kita main, pasti nggak ngerasa dicuekin.”


“Ya udah, Amara sini ikut sama Mas Mirza yang ganteng yok!” meraih baby Amara, namun juga belum lama Amara dalam gendongan Mirza bayi perempuan lucu itu menggerak-gerakkan bibirnya dengan kedua mata mulai berkaca-kaca, detik berikutnya tangisnya pun pecah sampai membuat Mirza kebingungan.


“Wah, Mas belum lolos nih kalo training jadi ayah.” Via lekas mengambil Amara dan seketika itu juga Amara berhenti menangis.


“Hem, dasar kamu dek,kecil-kecil lebay kayak bapakmu!” Sungut Mirza pada Amara.


Dari luar terdengar suara mobil berhenti, serempak Mirza dan Via mengentikan kegiatan mereka. Kedua wajah yang muncul sukses membuat Mirza dan Via sedikit kaget.


“Ram, udah dateng lu?” Sapa Om Jaka yang baru nongol.


Ramzi dan Sofi langsung duduk di ruang tamu rumah Haji Barkah yang luas, mereka mengambil tempat agak jauh dari Mirza dan Via. Keempatnya saling tatap sejenak.


“Om, ada apaan mereka dateng kesini?” Mirza tak bisa menahan rasa penasarannya.


Belum sempat Om Jaka menjawab, Hanson dan Rumi datang dengan senyuman.


“Assalamualaikum, selamat sore semuanya.” Sapa Hanson formal sekali.


Deg!


Kali ini Sofi yang berdebar, acara apaan sih ini? Batin Sofi mulai gelisah, namun remasan jemari Ramzi membuatnya sedikit tenang.


“Hai, Sof.” Sapa Rumi denegan senyum centilnya seperti biasa. Sofi diam tak menyahut.


“Oke, tinggal kita tunggu Ayah. Sebentar ya, beliau masih shalat ashar.”


Hening, tiga pasang manusia plus Om Jaka yang tengak-tengak bingung nggak tau mau ngapain membuat suasana ruang tamu terasa begitu canggung. Beruntung si bibi datang membawakan nampan berisi kopi dan teh hangat bersama Denaya yang membawakan beberapa camilan.


“Silakan dinikmati ya.” Ucap Denaya ramah. “Vi, Amara aku bawa masuk ya.” Mengambi Amara dari pangkuan Via.


“Jadi semuanya sudah datang?” Suara Haji Barkah membuat semuanya terkesiap. Beliau mengambil duduk di sofa single. Tanpa banyak basa basi Haji Barkah segera menyampaikan maksud dan tujuan dari pertemuan sore itu.


Mirza, Via, Ramzi, Sofi bahkan Rumi cukup kaget dengan keinginan Hanson yang ingin mengakui semua kesalahnnya sebelum behijrah ke dalam Islam.

__ADS_1


“Aku ingin mebuat pengakuan.” Suara Hanson agak bergetar setelah Haji Barkah mempersilakannya untuk bicara. “Mungkin semuanya sudah tau kenyataan yang terjadi, tapi aku merasa sangat perlu untuk meminta maaf pada kalian semua.” Menjeda kalimat seraya menghirup oksigen dalam-dalam.


“Sofi, aku minta maaf atas perbuatanku yang begitu jahat padamu. Aku yang membuat Sofi hamil hingga menyebabkannya menderita dan dibenci oleh suami dan ayah mertuanya sendiri.”


Sofi tertunduk, tanpa permisi bayangan kelam masa lalunya melintas dalam benaknya. Namun sekali lagi Ramzi memberinya kekuatan dengan remasan lembut jemarinya.


“Ramzi, kau boleh menghukumku dengan caramu sesuka hatimu. Aku juga benar-benar minta maaf padamu – “


“Sudahlah, kita lupakan saja semuanya. Lagi pula aku biukan Tuhan yang pantas menghukum manusia lainnya.” Potong Ramzi.


Hanson mengangguk, kini menatap Mirza.


“Mirza, maafkan aku. Karena rumah tanggamu hampir hancur gara-gara ulahku yang ta bermoral pada Sofi.”


Mirza membuang pandangan kesembarang arah, sungguh merasa tak nyaman jika harus bersinggungan lagi dengan masa lalu. Dia memang tak mengenal Hanson secara personal, namun dari pertemuannya beberapa waktu silam dengan Hanson ketika masih berpesiar, dia tau laki-laki macam apa Hanson itu. dan ternyata benar, dia adalah biang kerok dari semua masalahnya.


“Aku ingin kalian juga menjadi saksi atas hijrahku jika telah sudi kalian semua memaafkanku.” Tertunduk, Rumi malah celingak-cllinguk manatapi semua wajah yang tampak diam.


“Meminta maaf adalah perbuatan ksatria, dan memberikan maaf adalah hal yang mulia.” Suara Pak Haji Barkah memecah keheningan. “Saya tidak memaksa, namun haruskah kita berpikir dua kali jika ada saudara kita yang meminta maaf dan ingin meperbaiki diri? Sedangkan Tuhan saja yang begitu berkuasa, Maha Pemaaf? Kenapa kita yang hanya seorang hamba lemah dan juga penuh dosa tak memaafkan satu sama lain?” Mengedar pandang kepada semua penghuni ruang tamu.


“Kami memaafkanmu.” Mirza buka suara lebih dulu. “benar kan, Sayang?” bertanya pada Via yang langsung ddijawab dengan anggukan mantap.


“Aku dan sofia juga memaafkanmu.”


Ingin rasanya Hanson memeluk Ramzi dan Mirza sebagai rasa terima kasih karena telah memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri, namun urung dia lakukan karena ia yakin Mirza dan Ramzi tak ingin dipeluk.


Tanpa mengulur waktu, Pak Haji Barkah menyarakan Hanson untuk segera mengucap 2 kalimat syahadat. Menurut Pak Haji, hal baik jangan ditunda-tunda terus, sebab belum tentu Allah akan memberikan kita kesempatan hidup sampai esok hari. Hanson pun akhirnya setuju, dengan lantang dan khusuk ia mengucapkan 2 kalimat syahadat sebagai ikrar mengakui Keesaan Allah SWT dan kerasulan sang Nabiallah Muhammad saw.


“Alhamdulillahirabbil alamiin …” semuanya mengucap syukur.


Hanson menangis haru di pundak Pak Haji, ternyata dia berhasil menemukan guru yang tepat yang selama ini ia cari. Pak Haji Barkah telah mengajarinya banyak hal, telah mengenalkannya pada Islam secara mendalam.


Melerai Hanson, “Semoga kamu itiqomah dalam iman islam, Ahmad Faza Al-Hanif.” Pak Haji menepuk pundak Hanson dengan kedua mata mengembun.


Agak surprise. “Itu nama untukku, Pak Haji?”


“Iya. Artinya laki-laki yang berjaya yang mempunyai hati lurus dalam keislaman.”


“Subhanallah. Terima kasih Pak Haji.” Sekali lagi Hanson memeluk Pak Haji. “Pak Haji, bolehkah aku menganggap Anda sebagai orang tuaku? Aku sangat tersentuh dengan pribadi baik Pak Haji yang membuatku semakin jatuh cinta dalam islam.” Ucap Hanson memohon setelah puas memeluk Pak Haji Barkah.


“Tentu saja, aku juga akan menganggapmu sebagai anakku.”


Kebahagiaan tak terkira dirasakan Hanson. Sungguh ia tak pernah menyangka jika dirinya yang seorang pendosa yang banyak berbuat maksiat di masa lalu akan mendapat hidayah kenikmatan iman islam yang begitu membuatnya seperti seseorang yang baru terlahir kembali.


“Hanson, selamat ya. sekarang kita saudara seiman.” Mirza berdiri menghampiri.


Hanson terbelalak, bahkan Mirza pun menganggapnya sebagai saudara.


“Terima kasih, Mirza.” Menyambut uluran tangan Mirza, lantas keduanya berpeluk singkat.


“Aku hanya ingin kamu tak mengulangi kesalahnmu di masa lalu.” Ramzi sudah berdiri di belakang Hanson.


“Ramzi, Aku sudah taubatan nasuha.”


“Bagus, bahagialah dengan hidup barumu.” Menepuk pundak Hanson dengan senyuman.


“Terima kasih.” Tak bisa menahan diri untuk tak memeluk Ramzi karena rasa bersalahnya yang sudah sangat mendalam telah merusak wanita yang sangat dicintai Ramzi.


Tak kuasa menolak, Ramzi pun membalas pelukan Hanson.


“Oke, udah selesai. Acara selanjutnya adalah makan-makan dan berfoto bersama.” Seloroh Om Jaka.


“Om, bolehkah aku juga memelukmu?” Tanya Hanson.


“Dih! Ogah!” Langsung menghindar.


“Bukankah aku sudah dianggap anak oleh Pak haji, itu berarti kita saudara kan?”


“Saudara buat elu, tapi buat gue kagak!” Ketus Om Jaka.


“Jaka.” Pak Haji menajamkan matanya pada sang menantu.


“Terus kalo kita sodaraan mau apa lu? Mau godain Denaya? Awas aja ya lu kalo berani modusin bini gue!”


“Aku cuman minta peluk Om, tidakkah Om jaka juga mau memberiku ucapan selamat karena aku sudah berhijrah?”


“Hem, selamat. Selamat datang dalam islam.”


“Kok gitu banget sih, Om?” Protes Mirza.


“Masih gedek gue sama dia.”


“Jaka, berarti kamu belum memaafkannya?” Haji Barkah kembali menatap tajam.


“Udah Yah, tapi kan memaafkan bukan berarti melupakan?”


“Itu artinya hati kamu masih diliputi dendam.”


“Nggak kok.” Bantah Om Jaka. “Iya deh, aku peluk dia.” Segera merangkul Hanson. “Selamat ya Son, gue udah maapin elu kok. Tapi jangan diulangin lagi.”


“Makasih, my brother.” Tersenyum lega karena abang angkatnya mau juga akhirnya memberikan pelukan.


Matahari merangkak ke perduan, senja yang indah seindah hati yang lepas dari semua amarah. Hari ini teramat bersejarah bagi seorang Hanson Dietrich Burgman yang diberi nama Ahmad Faza Al-Hanif oleh Pak Haji sebagai tanda hijrahnya dalam Islam.


Sabda Rasulullah SAW,


Jika hari kiamat tiba terdengarlah suara panggilan “Manakah orang-orang yang suka mengampuni dosa sesama manusianya?” Datanglah kamu kepada Tuhan-mu dan terimalah pahala-pahalamu. Dan menjadi hak setiap muslim jika ia memaafkan kesalahan orang lain untuk masuk surga. (HR Adh-Dhahak dari Ibnu Abbas r.a.)


Source: www.renunganislam.com


Terima kasih sudah membaca, maaf ya kalau banyak typo dan kesalahan 🙏🙏😊😊

__ADS_1


Love you all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2