
Amara sudah lelap sejak tadi, Om Jaka mengambil kesempatan ini buat ngobrol sama Denaya. Ia cerita soal haji Barkah yang jenguk Bu Een kemarin.
“Masa sih, Beb? Kok ayah nggak cerita apa-apa ya sama aku?” heran Denaya.
“Makanya itu, Han. Mungkin ayah sengaja gak mau cerita sama kita kerana punya maksud tertentu,” Om Jaka mulai menebak-nebak.
Kening berkerut semakin heran, “maksud tertentu gimana?”
“Ya aku juga nggak tau, Han –“ menggantungkan kalimatnya menerka-nerka sesuatu yang mungkin disembunyikan ayah mertuanya. “Udah gitu, si Mbakyu pas ngeliat aku dikirinya aku ayah coba? Dipegang-pegangnya nih muka sambil dipandangi kayaknya seneg banget, padahal kan biasanya langsung tuh darah tingginya kumat kalo ngeliat aku. Aneh banget kan?”
Malah tersenyum, “ya nggak lah, Mbakyu kamu kan emang ada hati sama ayah dari dulu, Beb.”
“Ish, lagi nggak waras juga kalo sama haji Barkah mah inget dia, heran!” ngedumel tak habis pikir.
“Atau gimana kalo kita jodohin mereka, Beb? Mungkin itu bisa –“
“Nggak bisa!” pangkas Om Jaka cepat. “gue orang pertama yang akan menentang hal itu!”
Denaya ketawa, “kan lucu ibu mertuanya mbakyunya sendiri?”
“Lucu buat elu, tapi buat gue kagak!” kesal Om Jaka.
“Yee, kok malah sewot sih?” Denaya ikutan kesel. “Ya udah sana mendingan tanyain sendiri sama ayah kenapa kemarin jengukin si mbakyu tapi nggak cerita? Daripada ngomel-ngomel gak jelas, gitu!” Denaya ambil ancang-ancang mau rebahan di samping Amara.
“Eeh, kamu mau ngapain Han?”
“Tidur, ngantuk!”
“Jangan tidur dulu dong, temenin aku ketemu ayah.”
Meski enggan, Denaya mengekor juga. Mereka liat Haji Barkah lagi duduk di ruang tengah baru saja selesai dengan ponselnya.
“Dena, Jaka? Kalian belum tidur?” melihat pada anak dan menantu yang mendudukkan diri di depannya.
“Ayah sendiri tumben?” sahut Denaya.
Tersenyum meletakkan HP-nya di meja. “Barusan si Azad sama Jane video call, mereka lagi bulan madu di Jerman.”
Saling pandang, “mereka ada di Jerman?” Om Jaka sama Denaya kompakan.
“Iya, di tempatnya Hanson dan Rumi, mereka berempat tadi rame banget, ayah seneng kalo liat mereka semua pada akur.
Manggut-manggut, kompakan lagi.
“Oya, mereka juga nitip salam buat kalian. Katanya kalo mau ke Jerman tinggal hubungi Hanson, semuanya akan ditanggung.”
“Hem, modus!” Cibir Om Jaka. “Bilangin Yah, kagak usah repot-repot. Jaka Sutrisna bisa bayar sendiri, pulang pergi Jerman Indonesia ampe 7x juga sanggup.” Wajah Om Jaka sebel banget.
Denaya mendelik kesel, suaminya lebay banget.
“Oya, Yah –“ ucap Om Jaka yang kemudian ingat maksud tujuannya. “Kemarin ayah jengukin Mbakyu ya? kok nggak bilang-bilang sih?”
“Iya. Kenapa memangnya?” Haji Barkah malah balik tanya. “Ayah menang sengaja kesana karena sekalian lewat. Pasti suster yang bilang ya?”
“Ayah gak punya maksud tertentu?” Om Jaka kayak lagi ngintrogasi.
“Tentu saja punya. Ayah pengen nyemangatin Bu Endang. Ayah prihatin dengan semua musibah yang menimpanya, melihat kondisinya yang seperti itu kita sebagai keluarga sudah seharusnya kasih support. Iya kan?”
“Tuh, dengerin! Jangan nebak-nebak makanya!” omel Denaya pada Om Jaka.
“Menebak-nebak apa memangnya?” Haji Barkah malah jadi heran.
“Bebeb kira ayah sengaja gak mau kasih tau kita kalo udah jengukin Bu Een karena punya tujuan tertentu," melirik pada Om Jaka.
Pak haji malah tertawa, “Ayah lupa bilang sama kalian. Lagian ini bukan hal yang aneh atau apa kan, toh mengunjungi keluarga yang sedang sakit memang sudah menjadi kewajiban kita?”
“Sukur deh, berarti si Mbakyunya aja yang ke-GR-an. Dia sampe ngirain aku ayah lho, tatapan Mbakyu itu penuh cinta –“
“Hush!” menyenggol lengan suaminya, “ngawur aja kalo ngomong!”
Pak Haji terkekeh, “kita memang harus menumbuhkan rasa cinta pada hati Bu Endang. Cinta pada keluarga dan orang-orang terdekatnya. Makanya ayah waktu itu ceritain yang baik-baik soal Via dan Mirza, juga soal kamu Jaka.”
“Tapi kalo sama aku tetep aja judes, Yah.” Gerutu Om Jaka.
“Pelan-pelan akan terbangun rasa cinta itu dihatinya, asal kita telaten dan sabar. Itu yang dinamakan terapi keluarga kata susternya kemarin.”
“Ck, tapi aku gak yakin Mbakyu bisa berubah.”
“kenapa sih Beb, kamu jawab terus jalo dinasehatin sama orang tua?” Denaya sebel banget Om Jaka nyaut terus dari tadi.
“Ya karena itu mustahil, Han.”
“Tidak ada yang mustahil di tangan Allah SWT, karena Dia Maha membolak-balikan hati setiap manusia.”
“Aamiin …”
💕💕💕💕💕
Dua hari Arfan berada di ruang ICU, hari ini ia sudah dipindahkan di ruang perwatan anak. Sofi tak mau berajanjak dari samping Arfan meski hanya sejenak, putra kesayangannya memang sudah berangsur membaik namun tak langsung membuatnya lega, pasalnya Arfan masih belum bisa diajak komunikasi. Bayi belum genap sepuluh bulan itu tertidur sepanjang waktu.
Di depan ruang perawatan, laki-laki tua berwajah sangar tampak muram. Ia memikul semua beban dalam hatinya. Laki-laki tua itu ternyata bisa juga merasa bersalah, padahal sejak kejadian itu belum ada yang menanyakan apapun padanya. Hanya Gerald yang memberitahukan kejadiannya pada Sofi dan Ramzi.
Tuan Alatas baru saja hendak bangkit ketika Ramzi berjalan ke arahnya. “Papa, pulanglah. Kenapa papa masih disini?” ucap Ramzi.
Tak menyahut, dia berjalan ke arah pintu. Langkahnya gontai.
“Pa, dengar aku,” cegat Ramzi.
“Jangan menghalangiku, aku tak akan pulang sebelum melihat keadaannya.” Lirihnya menatap Ramzi tajam.
“Aku mohon, Pa. Sofi belum mau bertemu siapa pun, jangan smapai terjadi keributan di dalam karena Arfan sedang istirahat.” Membalas tatapan penuh permohonan. “Lagipula Papa juga pasti lelah, butuh istirahat karena sejak pagi disini.”
Membuang pandangan dengan napas kasar.
“Aku akan kabari Papa kalau ada pekembangan dengan Arfan.”
Langkah-langkah lebar dari kejauhan berjalan mendekat, sosok tinggi tegap segera membungkuk hormat. “Tuan Besar, Anda –“
“Siapa yang menyuruhmu kesini? Bukankah aku sudah memecatmu?” menatap Gerald lurus dan bengis.
Terperajat kaget, “papa memecat Gerald?”
“Dan dua pelayan yang menyebabkan anakmu terjatuh,” sambung Tuan Alatas.
“Papa seharusnya tak perlu melakukan itu.” Ramzi menggeleng dengan wajah kaget. “Kalau bicara siapa yang paling bersalah, akulah orangnya. Karena aku yang meminta Sofi menitipkan Arfan pada Gerald.
Memutar langkah tak mau mendengar apa-apa lagi dari mulut Ramzi.
__ADS_1
“Tuan Ram, maafkan saya.” Menunduk dengan berjuta penyesalannya.
“Sudahlah, Gerald. Kamu membuatku makin pusing.”
Keduanya sama-sama mematung di depan ruangan. Kalimat Ramzi pada papanya tentu saja tak serta merta membuat Gerald terbebas dari rasa bersalah. Andai saja dirinya tak ke kamarnya terlebih dulu untuk berganti pakaian serta mempercayakan Arfan pada Nara dan Mina begitu saja, mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Arfan hari itu seharusnya menjadi tanggung jawabnya penuh, tapi kenapa justru dia teledor memerintahkan dua pelayan bawahannya menjaga Arfan. Namun Gerald juga masih tidak habis pikir mengapa mereka mengandalkan satu sama lain? Saat itu Nara keluar ruangan untuk membuatkan susu karena Arfan rewel, dia tidak pamit pada Mina karena Mina sedang membereskan beberapa buku yang dipakai untuk bermain Arfan sebelumnya. Mina sendiri khusuk dengan pekerjaannya dan mengira Nara ada di dekat Arfan sementar ia menata kembali buku-buku itu ke dalam rak perpustakaan. Kejadiannya berlangsung sangat cepat tanpa keduanya ingat mengapa pintu ruangan baca terbuka sehingga Arfan bisa meluncur keluar.
“Gerald, tolong selalu di dekat papa. Aku nggak mau papa sampai jatuh sakit karena hal ini,” ujar Ramzi kemudian.
“Tapi Tuan Besar sudah memecatku –“
“Papa tidak serius dengan ucapannya, dia sangat membutuhkanmu.” Ramzi meyakinkan.
“Saya memang tidak mungkin meninggalkan Tuan Besar begitu saja, Karena sampai kapan pun kebaikannya tidak akan terbalas walau dengan seumur hidup saya mengabdi padanya,” ucap Gerald penuh perasaan. “Tapi mungkin saya hanya bisa memantau Tuan Besar dari jauh karena saya tidak mau membuatnya murka.”
“Kalau begitu aku akan menghubungi Mirza, mungkin masa cutinya sudah habis.” Putus Ramzi.
“Iya, kedengarannya itu lebih baik.”
Keduanya berpisah, Ramzi masuk ruang perawatan sedangkan Gerald melangkahkan kakinya pulang.
-
-
-
Tuan Alatas hanya berdiri setelah keluar dari mobilnya. Ia seperti termangu memandangi bangunan menjulang di hadapannya, seolah baru menyadari betapa mewah dan megahnya tempat tinggalnya selama ini.
“Tuan, mari saya bantu,” Norman sang sopir pribadi menawarkan diri untuk mengantar sang Tuan masuk.
Seraya menjajari langkah gontai sang Tuan, Norman meminta bantuan seorang pelayan yang menymbut untuk mengantar Tuan Alatas menuju kamarnya di lantai atas.
“Tidak Norman, aku mau disini dulu.” Menuju ruang tengah. “Kau duduklah dulu,” titahnya pada Norman yang terlihat ragu.
Norman masih berdiri di tempatnya.
“Duduklah, aku ingin bicara.”
Norman masih belum berani, selama bekerja disana Norman belum pernah mendaratkan pantatnya di kursi ruangan mana pun kecuali di ruangan para pelayan.
“Apa yang kau pikirkan, kenapa masih berdiri?” menatap setengah jengah. “Kau sudah lama bekerja untukku, jangan sungkan. Cepat duduklah.”
Akhirnya agak ragu pria paruh baya itu duduk di hadapan sang Tuan.
Tuan Alatas menyandarkan kepalanya, mulai mengatur napas perlahan. Untuk beberapa saat tak ada obrolan diantara mereka. Norman mengerti keadaan sang Tuan sedang tidak baik-baik saja.
“Tuan,” tegur Norman perlahan. “Apa Anda ingin saya meminta pelayan menyiapkan secangkir teh gahwa atau –“
Menggeleng lemah, “tidak, aku tidak mau apa-apa.” Menghempaskan napas kasar. “Kau tau, Norman –“ sengaja menjeda kalimatnya, memijat pelipisnya sejenak seolah ingin mengusir penat. “Anak itu tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya sebelum meluncur ke arah tangga.”
Norman terdiam, ia biarkan Tuan Alatas mengatakan apa yang ingin diungkapkannya.
“Andai saja aku lebih cepat mengejarnya, mungkin anak itu tidak akan terjatuh,” sambung Tuan Alatas dengan rona penyesalan kentara terlukis di wajahnya.
“Maafkan saya, Tuan. Menurut saya Anda jangan terlalu menyalahkan diri Anda sendiri, itu semua sudah terjadi dan tak ada yang menginginkannya seorangpun.”
“Aku sendiri jugat tidak tau kenapa semua itu mengganggu pikiranku.”
“Tentu saja karena dia cucu Anda, wajar jika Anda memikirkan hal itu. namun jangan sampai membuat Anda lelah, karena Tuan Muda Ram pasti akan menjaganya dengan baik.”
Tak menyahut, berusaha membenahi duduknya dengan posisi kepala masih bersandar dengan malas. Tepat pada saat itu Gerald datang, namun tak berani mendekat. Ia hanya berdiri di ruang depan, Norman juga tak memberitahukannya pada Tuan Alatas karena mendengar sendiri hari itu Tuan Besarnya sangat murka pada Gerald dan dua pelayan bawahannya.
“Tapi seorang anak tidaklah menanggung kesalahan orang tuanya, Tuan.” Ucap Norman hati-hati takut merusak suasana hati sang Tuan. “Maaf Tuan, rasanya tidak adil jika Anda membencinya juga, karena dia tidak berdosa.”
Mengangguk,” kamu benar, Norman. Gerald juga pernah mengatakannya padaku, tapi aku pikir dia hanya sedang berusaha membujukku untuk mengijinkannya tinggal disini.”
Terdiam lagi, Norman melihat Gerald masih di tempatnya berdiri.
“Omong-omong soal Gerald, aku ingin kau menggantikan posisinya sebagai pelayan pribadiku.”
Ucapan Tuan Alatas sontak mengagetkan Norman. Laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah itu tak menduga Tuannya akan bicara seperti itu.
‘’Maaf, Tuan. Tapi saya sungguh tidak pantas,” Norman tertunduk.
“Apa kau menolak perintahku?” menegakkan posisi duduknya, seperinya Tuan Alatas tengah ambil ancang-anncang untuk marah.
Menggeleng tegas, “tidak, Tuan. Saya hanya –“
“Aku tidak mau tahu, mulai sekarang kau yang bertugas menggantikan Gerald.” Bangkit dari duduknya namun Norman memberanikan diri kali ini untuk menyela.
“Tuan, saya mohon. Jangan pertaruhkan segala hal tentang diri Anda pada saya yang tidak tau apa-apa. Saya hanya seorang sopir, saya tidak mungkin bisa menggantikan posisi Gerald.”
Mengurungkan langkahnya, “apa kau sedemikan bodohnya jadi tidak mau belajar?”
“Bukan begitu, Tuan. Gerald begitu piawai mengurus segala hal tentang keperluan pribadi Anda sampai dengan bisnis Anda, sedangkan saya? Saya tidak mengerti dengan semua itu, saya hanya tidak mau keadaannya semakin bertambah buruk. Anda boleh memerintahkan apa saja pada saya, tapi saya mohon jangan minta saya untuk menggantikan Gerald.” Papar Norman beharap Tuan Alatas menarik kemabali perintahnya.
“Termasuk jika aku memecatmu?” memicingkan matanya sinis.
Tertunduk, tak berani menjawab. Norman berat juga jika harus kehilangan pekerjaannya, ini dilema untuknya. Semenatra itu Gerald terlihat tak tega pada Norman, namun ia juga tak mampu untuk membelanya.
“Kau dan Gerald sama-sama sudah sangat lama bekerja untukku. Apalagi Gerald, dia sudah seperti anakku sendiri, dan dia sangat bisa diandalkan dalam banyak hal.”
Selongsong kelagaan menyelimuti hati Gerald, ternyata sang Tuan tidak benar-benar membencinya. Selama ini dia selalu yakin, bahwa dibalik sikap tegas dan kerasnya Tuan Alatas, hatinya sebetulnya sangat baik, hanya saja arogansinya memang lebih dominan dan kebanyakan orang tak menyadarinya itu.
Norman mengangkat wajahnya perlahan. “Oleh sebab itu, Tuan. Janganlah satu kesalahan yang dilakukan Gerald membuat semua kebaikannya selama ini seolah tak nampak bagi Anda.”
Tuan Alatas hanya diam, dalam hati kecilnya membenarkan apa yang diucapkan Norman. Dia terlalu emosi mengambil keputusan.
“Aku akan memikirkannya kembali,” ucap Tuan Alatas segera mengayun langkahnya meninggalkan ruang ttengah. Norman sedikit lega melihat raut wajah tua itu agak melunak, ia yakin ucapannya disetujui sang Tuan Besar.
-
-
-
Via membawa Nala masuk kamar ketika Mirza tengah serius menerima telpon berdiri menghadap keluar jendela. Suaminya itu sepertinya tak menyadari kedatangannya. Nala yang nampak mengantuk mengusuk-ngusuk wajahnya dengan tangan mungilnya. Via segera paham apa yang harus dilakukannya. Duduk di bibir ranjang segera memberikan ASI untuk Nala sembari masih memperhatikan sang suami, barangkali ada sesuatu yang bisa ia dengar dari percakapan yang nampaknya sangat serius itu.
“Mas, siapa yang telpon?” Via tak dapat menahan penasarannya ketika Mirza selesai.
“Eh, Sayang –“ menoleh, ternyata benar Mirza tak tau Via ada disana. “Ramzi yang telpon.”
“Ramzi? Ada apa? Tumben,” mengernyit heran.
Duduk di samping sang istri. “Arfan baru saja kena musibah, dia terjatuh dari tangga dan sekarang berada di rumah sakit.”
Mengingat sebentar, “Arfan, anaknya Ramzi?”
__ADS_1
Mengangguk,” ia meluncur dengan baby walkernya, sepertinya cidera serius karena baru keluar dari ruang ICU.”
“Innalillahi, kasihan Arfan,” reflek memeluk Nala kuat, membayangkan jika kejadian itu menimpa anaknya sendiri. “Terus gimana keadaannya sekarang? Kenapa sampe bisa kayak gitu? Apa Ram sama Sofi udah gak pake baby sitter lagi?” memberondong dengan wajah sedih dan prihatin.
“Nggak, mereka tinggal di rumah Tuan Alatas sekarang. Dan kejadian itu saat Sofi dan Ramzi pergi, mereka menitipkannya pada Gerald. Dan sekarang –“ menggantungkan kalimatnya.
Menatap Mirza menuntut kelanjutannya, “Tuan Alatas memecat Gerald, dan Ramzi memintaku segera kembali untuk mengurus Tuan Alatas.” Lanjut Mirza.
“Mas –“ meraih jamari sang suami. “Tapi kamu nggak mungkin meninggalkan ibu, kan? Ibu butuh kamu.”
“Iya, Sayang. Aku juga udah bilang sama Ramzi, aku belum bisa meninggalkan ibu.”
“Mas cerita semuanya soal kondisi ibu kan?”
Mengangguk.
“Ramzi bisa ngerti kan?”
“Iya, sepertinya begitu. Aku udah minta maaf sama dia sayang, kalo masa cutiku molor terlalu lama.”
“Kalo gitu aku juga akan coba ngomong sama Ram, dia harus tau kalau merawat orang tua sendiri jauh lebih utama daripada apapun.”
“Nggak usah, Sayang. Aku yakin Ram ngerti kok.”
Via menghela napas, semoga semuanya berjalan baik-baik saja.
“Sayang, princess kita udah tidur,” melihat pada Nala yang nampak pulas dalam buaian.
Via tersenyum, hati-hati sekali ia melepaskan pu**ngnya dari mulut mungil yang sudah tak menyusu itu lagi.
“Hemm, sore-sore gini kayaknya enak ya kalo –“
“Awas, Mas. Geser sedikit,” Via hendak membaringkan Nala ke atas kasur.
“Tidurin disana aja, Sayang.” Menunjuk box Nala di sisi ranjang. “Biar tidurnya lebih nyenyak.
Via pun menurut. Mirza menggeser posisi duduknya, namun kedua matanya tak beralih dari sesuatu yang membuatnya mendadak jadi omes.
“Sayang, boleh kan kalo –“ meraih pundak sang istri perlahan.
“Astaghfirullah,” memekik kecil. “Mas pasti dari tadi liatin ini ya?” segera membenahi benda berharganya dan mengancing kembali bajunya.
“Kayaknya sore-sore gini boleh dong kita olah raga sebentar, mumpung princess tidur,” melempar tatapan nakal, tangan kanan terulur membelai rambut panjang sang kekasih halal.
“Umm –“
“Bentar aja.” Mendekatkan wajahnya.
“Bentar aja ya? soalnya aku belum nyiram tanaman Mas,” cicit Via, wajahnya bersemu merah.
Tersenyum semakin lebar, “masa tanaman terus yang disiram? Kamu juga udah waktunya disiram kan, Sayang?”
Menunduk, menyembunyikan senyumnya. Udah nikah lama tapi masih aja malu-malu. Manusiawi kan?
Meraih dagu sang istri lembut untuk mengangkat wajahnya perlahan. Terpancar binarr-binar cinta diantara netra keduanya. “Bissmillahirrohmanirrahim Allahumma –“
Tok tok tok
Ketukan pintu dari luar kamar disambung panggilan dari sebuah suara membuyarkan niatan Mirza yang sudah menggebu.
“Mbak Via –“ panggil Jumilah.
Keduanya kompakan melihat ke arah pintu kamar.
“Astaghfirullah, kenapa si Jumilah dateng di waktu yang gak pas sih?” ngedumel pelan membuat Via tersenyum melihat raut kesal sang suami.
“Mbak Via,” ulang Jumilah. “Ada paket nih.”
Via berajak, Mirza menggulingkan dirinya di atas kasur menahan kesal.
“Paket dari siapa, Jum?” membuka pintu kamar.
“Nggak tau nih, Hot – hot “
“Oh, dari Bang Hotman ini.” Ucap Via setelah menerimanya dari Jumilah. “Maksih ya, Jum.”
“Sama-sama , Mbak,” segera berlalu dan Via menutup kembali pintu kamarnya.
“Paket apaan, Sayang?” Mirza rupanya mendengar percakapn tadi.
Menggeleng, dan memberikannya pada Mirza yang bangkit karena penasaran.
“Ngapain Bang Hotman pake ngirim paket segala buat kamu?” membuka dengan penasaran.
Tadaaa …. Ternyata isinya sebuah clutch berwarna hijau tosca dengan taburan Kristal svalosky di bagian depannya.
To Adek Livia dan Mirza
Terima kasih ya sudah menjamu Abang selama disana dengan sangat baik. Kasus orang tua kalian sudah selesai, tapi semoga saja hubungan silaturahmi kita tetap terjalin baik ya, dan hadiah ini hanya sebagai tanda mata saja, semoga Adek LIvia menyukainya.
Salam, Abang Hotman Siangbolong
Mirza langsung melempar clutch itu ke atas kasur. “Ngapain dia ngasih ginian? Modus banget sih tuh orang! Bener kata Om Jaka, dasar pengacara sengklek!” mengomel tertahan karena takut membangunkan Nala.
Via senyum-senyum, "Mas cemburu ya?"
"Iya lah! Masa udah tau orang punya suami masih aja dimodusin?" kesal dan tak tela istrinya dapet hadiah dari Hotman. "Lagian juga harusnya kita yang ngasih hadiah tanda terima kasih karena dia udah bantuin kasusnya ibu. ini malah kebalik, aneh banget!"
"Ya udah gak usah ngambek gitu ah, aku gak bakalan pake kok kalo Mas gak suka," hibur Via.
"Lagian kenapa harus panggil kamu adek sih, Sayang? Sejak kapan jadi kakak adek? To adek Livia dan Mirza" mengulang kembali isi pesan Hotman dengan gaya mencibir kesal.
Via terkikik geli melihat suaminya.
"Ya kalo emang buat aku sama kamu harusnya gak ngasih kayak gituan dong?" melirik sebal pada benda tak berdosa pemberian Hotman itu. "Kasih yang laen kek, dikiranya Mas gak mampu beliin apa?"
Beringsut mendekat, "masih mau diterusin nih ngedumelnya?"
"Kesel, Sayang!"
"Terus, olah raganya nggak jadi dong kalo lagi kesel?" goda Via.
Sontak menatap lurus sang istri. "Jadi dong, Sayang." gegas mendorong pelan pundak sang istri hingga keduanya rebah bersama.
niiiiittt..... sensor 😁
💕💕💕💕💕
__ADS_1
Hi, readers kesayangan..... 🥰🥰🥰
othor cuman mau bilang, I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘