TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
34 #ULANG TAHUN ICA


__ADS_3

JLEP!


Mirza terdiam untuk beberapa detik sambil melirik Via sekilas. Lantas menarik bibirnya sedikit membentuk senyum acuh.


“Pertanyaan macam apa itu?” Mirza balik bertanya, kemudin melanjutkan makannya.


“Ya kali kamu ada niatan.” Seloroh Yana cuek.


Tak berapa lama mereka selesai, Yana membantu Via membawa piring kotor ke dapur.


“Sayang, aku bikinin kopi ya?” Pinta Mirza pada Via lalu beranjak ke halaman belakang menuju gazebo tempat favoritnya.


Yana memperhatikan Mirza yang berjalan menjauh, lalu didekatinya Via yang sedang mengambil gelas.


“Vi, kamu harus perhatiin baik-baik suami kamu.” Ujar Yana agak berbisik ada Via.


Via mengernyitkan dahinya. “Maksud kamu?”


“Laki-laki itu kalo dikasih kepercayaan penuh, dia akan semena-mena. Apalagi suami kamu sekali kerja perginya jauh dan lama, sedangkan kamu cuman ngejogrok aja di rumah.” Terang Yana masih dengan suara agak berbisik dan sesekali melihat pada Mirza di luar yang lagi main hp.


“Maksud kamu suami aku bakalan selingkuh gitu?” Via hampir saja menaikkan nada suaranya.


“Psssstt!” Yana menempelkan telunjuk kanannya ke dekat bibirnya. “Aku cuman ngasih tau aja kalo …”


“Kamu tuh lebay! Kalo trauma nggak usah ngajak-ngajak lah!” Potong Via sedikit jengah lantas segera mengaduk kopi untuk Mirza dan membawanya menuju halaman belakang.


“Kok lama sih, sayang?” Rajuk Mirza.


“Nggak nyampe setahun kan nunggunya?” Balas Via usil.


Mirza tiba-tiba menarik pergelangan tangan Via yang mau pergi. “Mau kemana sih? Duduk di sini aja.”


Via terduduk di pangkuan Mirza dan langsung saja Mirza mengepungnya dengan pelukan.


“Ya ampuuuun!” Pekik Yana yang tau-tau nongol dengan segelas sirup di tangannya. “Kalian ini bener-bener deh!”


“Apa yang salah memangnya?” Mirza memandang Yana heran.


Via segera bangun berusaha melepaskan diri dari suaminya. “Mas, jangan gitu dong.”


Kloneng Kloneng kloneng


Ponsel Yana tiba-tiba berbunyi dan dia cepat maraihnya dengan tangan kanannya dari saku celananya.


“Halo, Ri.” Sapa Yana, rupanya Riri yang telpon. “Iya, jadi. Ini lagi di tempat Oliv. Bentar lagi, aku juga nggak mau kok lama-lama disini.” Yana melirik pada Via dan Mirza yang duduk berdua. “Oke, bentar lagi nyampe situ!”


Yana langsung mematikan sambungan telponnya.


Gle glek glek


“Ahhh….!” Yana puas menghabiskan segelas sirup dingin yang sedari tadi dipegangnya.


Via dan Mirza hanya saling pandang.


“Seger! Cuacanya beruah jadi panas tiab-tiba.” Yana seperti berujar pada dirinya sendiri kemudian balik lagi ke dapur “Aku pamit ya, bye!” Yana melambaikan tangan tanpa melihat pada Mirza dan Via.


“Yan, minta tolong pintunya ditutu ya!” Seru Mirza setengah berteriak.


Duk!


Via menyikut dada Mirza.


“Aduh! Kenapa sih, sayang?”


“Tutup sendiri sana! Udah tau dia lagi bête malah disuruh-suruh.” Omel Via.


“Gimana kalo kamu aja yang nutup pintunya?” Mirza pasang senyum lebar.


“Tadi yang masuknya belakangan sipa?”


“Si Yana.”


“Sebelum Yana?”


Mirza menunjuk mukanya sendiri.


“Ya uadah berarti Mas yang nutup, sana!”


“Dapet hadiah nggak nanti?” Mirza merajuk laagi.


“Dapet dong.”

__ADS_1


“Yess!” Mirza langsung girang. “Kita kelon ya?”


Kontan saja Via melotot sambil pasang tampang galak. “Otak Mas mesum terus ih, heran!”


“Tadi katanya dapet hadiah?”


“Nih, hadiahnya! Sandal jepit!” Via melepas sebelah sandal jepit merk Swawow yang dipakainya dan memamerkannya pada Mirza.


“Tega kamu, sayang. Bentar aja, yok!” Mirza menarik tangan Via.


PLEK!


Via mukulin sandal jepitnya ke tangan Miirza. “Kita punya janji sama Ibu, Mas!”


“Kan masih nanti sore?” Mirza pasang tampang memelas kali ini.


Tuwing Tuwing Tuwing Wing


Ponsel Via menjerit dari dalam rumah. Ini kesempatan baginya untuk lepas dari suaminya yang tiba-tba omes. Via segera berlari di susul Mirza yang berjalan gontai di belakangnya.


“Ibu, Mas.” Ujar Via pada Mirza. “Ya, Bu?” Sapa Via. “Oh, belanjanya sekarang aja? Oke, Bu. Aku sama Mas Mirza segera ke rumah Ibu ya.”


Via mengakhiri percakapan.


“Maaf, anda belum beruntung.” Via menjulurkan lidahnya lantas cepat menuju kamar untuk mengambil tasnya.


_____


Keesokan harinya,


Persiapan ulang tahun Ica sudah selesai. Ruang tamu Bu Suharni didekorasi dengan hiasan khas ulang tahun anak-anak dengan balon dan pita warna warni menggantung di mana-mana. Ica yang sedang duduk di depan kue ulang tahun yang besar dengan hiasan kartun favoritnya tampang manyun tak seceria layaknya anak yang berulang tahun pada umumnya.


“Ica, sayang. Kok cemberut gitu mukanya?” Tegur Tia yang heran dengan raut muka anaknya.


“Temen-temen Ica mana, Bun?” Tanya Ica sedih. “Kok yang dateng teman-temannya Eyang semua?”


“Nanti dateng kok, sayang. Mungkin masih pada belum berangkat.” Tia berusaha menenangkan Ica.


“Ibu kamu itu memang kebangetan, yang ulang tahun Ica masih aja pengen narsis! Takut banget nggak dibilang kaya sama temen-temmen pengajiannya!” Arya yang duduk tak jauh dari Ica berujar datar.


“Mas, jangan ngomong kayak gitu, dong.” Tia memperingatkan karena takut di dengar oleh ibu-ibu pengajian yang mulai berdatangan.


“Mas!” Panggil Tia sedikit tertahan.


Tia ingin menyusul Arya tapi Ica sudah mulai menangis.


“Sayangnya bunda, jangan nagis ya. Nanti teman-teman Ica pasti datang kok.” Bisik Tia meyakinkan Ica berharap tangis Ica tak semakin menjadi.


Via dan Mirza yang baru turun dari mobil berpapasan dengan Arya yang keluar dengan langkah-langkah besar.


“Mas?” Sapa Mirza pada Arya. “Udah mulai acaranya?”


Arya cuek aja ngeloyor tak menyahut. Mirza dan Via saling berpandangan heran. Mereka lantas segera masuk dan mendapati Tia sedang mengusap air mata Ica yang membasahi pipi tembemnya.


“Mbak? Ica kenapa, kok nangis?” Tegur Via.


“Eh, Vi.” Tia sedikit kaget. “Ini, Ica sedih karena belum ada teman-tmannya yang dateng.”


“Terus tadi kenapa Mas Arya kok kayaknya buru-buru banget pergi, Mbak?” Tanya Mirza polos tak menyimpan kecurigaan sama sekali.


“Oh, kemana Mas Arya, Za?”


“Barusan aja tadi ketemu di depan.”


“Vi, Mbak nitip Ica bentar ya.” Ujar Tia lantas segera keluar.


Untuk kesekian kalinya Via dan Mirza saling pandang. Tapi lantas mereka langsung menghibur Ica dan tak melnjutkan keheranan mereka. Untungnya tamu undangan para ibu-ibu pengajian nggak memperhatikan mereka. Tau sendiri lah ya, emak-emak kalo udah ngumpul dan ada makanan pasti langsung rumpi sambil asyik comot sana sini nyobain aneka kue yang memang udah disiapkan. Bu Suharni juga untungnya masih di kamar sedang berhias dibantu Yana.


“Mas! Mas, mau kemana?” Tia berlari keci menyusul suaminya yang sudah berada di atas motor bebeknya yang diparkir agak jauh dari rumah Bu Suharni karena sengaja halaman rumah diperuntukkan buat parkir tamu.


“Ngapain nyusulin aku? Masuk sana!” Usir Arya dengan muka berang.


“Mas jangan gitu. Ica butuh kamu, ini kan hari ulang tahunya. Masa kamu nggak ada?”Ucap Tia memohon.


“Memangnya penting kehadiranku disana?”


“Penting Mas, kamu kan ayahnya. Acaranya nggak akan mulai kalo nggak ada kamu di sana Mas. Tolong jangan pergi, Mas.”


Arya terlihat sangat jengkel namun berusaha mengendalikan emosinya.


“Seandainya kamu nurut sama aku, nggak akan kayak gini jadinya.” Ungkap Arya dalam.

__ADS_1


“Maafin aku, Mas. Tapi ini kan rencana ibu. Aku bisa apa?”


“Ya itu lah kamu! Selalu saja lemah di depan ibumu! Padahal aku ini suamimu! Kamu harusnya dengerin omonganku!” Suara Arya mulai meninggi lagi.


Tia meraih tangan Arya yang mengepal. “Mas jangan begitu, aku benar-benar minta maaf. Kita masuk sekarang ya, nggak enak kalau sampe dilihat orang.”


Arya menepiskan tangan Tia. “Kamu lebih peduliin orang lain dari pada suamimu sendiri? Aku ini sudah nyaris keilangan harga diriku sebagai seorang laki-laki di mata ibumu, kau paham itu kan?”


“Mas, Maaf. Aku …”


“Kembali ke dalam! Cepat, sebelum Ibu kamu berteriak-teriak manggil kamu!” Arya menunjuk ke rumah Bu Harni menyuruh Tia kembali.


Tia menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca.


“Nggak Mas, aku nggak mau masuk kalo nggak sama kamu.”


Arya menarik napas dalam, ditatapnya Tia yang tertunduk mengusap air matanya yang hampir jatuh. “Sikap keras kepalamu ini harusnya kau tunjukan pada ibumu, bukan sama aku!” Ujar Arya datar, emosinya sudah mulai berkurang walau raut wajahnya masih mengeras.


“Sekarang lihat sendiri, acara ulang tahun anak kecil dihadiri rombongan emak-emak, apa ini lucu? Kenapa kita tak merayakannya seperti biasa saja dirumah, yang cukup dengan kue kecil dan doa-doa sederhana seperti tahun-tahun sebelumnya? Kamu tahu kan teman-teman Ica yang diundang rumahnya jauh dari sini? Mereka dekat dengan rumah kontrakan kita, nggak mungkin mereka datang ke sini. Ini jelas cuma ajang pamer ibumu saja biar dipuji teman-teman pengajiannya.”


Tia hanya terdiam mendengar semua penuturan Arya. Dalam hatinya membenarkan juga ucapan suaminya, tapi dia juga tak ingin mengecewakan ibunya.


“Mas Arya, Mbak Tia, maaf …” Mirza muncul menyusul mereka. “Acaranya mau dimulai, sebaiknya kita segera masuk.”


Tia menatap suaminya dengan pandangan memohon sekali lagi. “Demi Ica, Mas.” Pinta Tia lirih.


Arya bergeming. Dia membuang pandangan menghindari tatapan sendu Tia. Batinnya masih bergejolak, antara amarah dan kebahagiaan putrinya.


“Mas Arya, maaf kalo aku ikut campur.” Mirza akhirnya coba menengahi. “Mungkin masalah Mas Arya dan Mbak Tia bisa diselesaikan nanti, sekarang kita dahulukan dulu kebahagiaan Ica. Teman-teman Ica udah ada yang datang kok beberapa, Ica udah nggak sedih lagi. Apa Mbak dan Mas tega bikin Ica nangis lagi?”


Arya akhirnya luluh. “Baiklah. Demi Ica.” Ujarnya lirih. “Tapi aku nggak mau hal seperti ini terulang lagi.” Lanjutnya pada Tia penuh tekanan, lantas dia berjaan mendahului Tia dan Mirza.


Tia bisa bernafas sedikit lega sekarang.


“Makasih ya, Za.” Tia menepuk bahu adik iparnya sambil tersenyum.


___


Sofi baru saja selesai merias wajahnya dengan polesan make up tipis ketika Azad masuk ke kamarnya.


“Kak? Mau keluar?” Tanya Azad sedikit heran.


Sofi hanya mengangguk, lantas memakai sepatunya. “Kakak boleh pinjam mobilmu?”


“Untuk apa? Pakai mobil dari Kak Ram saja.”


Mata bulat Sofi langsung membelalak. “Mobil … dari Kak Ramzi?” Tanya Sofi ragu.


“Iya, ini kuncinya.” Azad memperlihatkan kunci mobil dan menggoyang-goyangkannya di depan muka Sofi yang masih keheranan. “Barusan saja sampai, Kak Ram memberikannya untukmu sebagai hadiah pertunangan.”


Sofi ingin menolak, tapi nggak mungkin karena mobil itu sudah sampai di rumahnya.


“Halo, Kak Ram.” Sofi langsung menelpon Ramzi.


“Ya, ada apa? Kau sudah terima hadiah dariku?” Bals Ramzi dari seberang dengan nada tenag.


“Kak, bisa kita ketemu?” Tanya Sofi mengabaikan pertanyaan Ramzi.


“Tentu, kita makan malam nanti di rumah ya. Ayah pasti ….”


“Aku ingin kita berdua saja.” Potong Sofi.


“Baiklah.”


“Aku ke kantormu sekarang.”


Sofi menyambar kunci dari tangan Azad.


“Tunggu pesan dariku, aku akan minta kamu menjemputku di kantor Kak Ram.” Tukas Sofi sebelum pergi.


Azad hanya bisa bengong. Ada apa dengan kakaknya? Apa seperti itu roman dan perasaan orang yang baru saja menerima hadiah mobil baru dari tunangannya?


_______


*be**rsambung dulu ya ☺️


Terima kasih sudah setia membaca tulisanku 🙏🌹


Jangan lupa like, komen, rate dan votenya ya* 😉😉


Salam sayang buat kalian semua 🤗😘❤️

__ADS_1


__ADS_2