TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
179 #I LOVE YOU SO


__ADS_3

Hari ini tak biasa-biasanya Rumi menyibukkan diri di dapur bersama ART-nya. Pemandangan yang tak pernah terlihat seumur hidup Pak Joni itu tak ayal membuatnya keheranan. Dia terus memperhatikan gerak-gerik sang putri tunggalnya yang patuh mengikuti instruksi sang ART, Pak Joni mesem saja melihatnya.


“Papa! Sejak kapan Papa disitu?” Rumi kaget ketika membalikkan badan melihat Pak Joni ada di dekat kulkas. “Papa sengaja ngintipin aku belajar masak?” Rumi merengut.


“Papa senang liat kamu akhirnya terjun ke dapur, Rumi.” Sahut Pak Joni masih dengan senyumnya.


“Nggak usah ngeledek ya Pa!” Rumi malah nyolot.


“Beneran. Akhirnya anak gadis Papa mau belajar masak juga. Memang seharusnya begitu kan? Karena kamu sebentar lagi akan menjadi istri Hansol.”


“Hanson Papa, Hanson! Bisa nggak sih sekali aja bener nyebut nama dia? HANSON! H-A-N-S-O-N!” Rumi geregetan dengan Pak Joni selalu aja salah sebut nama calon suaminya itu.


“Iya pokoknya begitu lah.” Pak Joni cuek. “Papa tuh kayak meliat suatu keajaiban dunia tau nggak Rum liat kamu menginjakkan kaki di dapur?”


“Apa? Papa pikir aku patung Spinx di Mesir? Lebay banget keajaiban dunia apaan?” Rumi tak habis pikir dengan papanya itu.


“Itu saking takjubnya perasaan Papa, Rumi.”


“Terus Papa mau lapor sama UNESCO biar aku beneran dimasukin ke salah satu keajaiban dunia gitu?” Rumi mendelik tajam.


"ke WHO, Rum..." Pak Joni menahan tawa.


"Papa ini ..."


“Non, airnya udah mendidih tuh. Masukin ayamnya.” Perkataan ART memotong kesal Rumi pada Pak Joni.


“Masukin keman, Bi?” Tanya Rumi bingung.


“Ya masukin ke panci lah Non, masa ke kandang?”


“Ish, si Bibi nih! berani sama aku ya? aku potong gainya 50% nih!” Kesal Rumi.


“Ehh, jangan dong Non. Iya maaf…”


Pak Joni tersenyum geli. “Harusnya kamu tambahin gajinya Rum, kan Bibi udah ngajarin kamu masak?”


“Ish, Papa nggak usah ikut campur ya? Sana minggir, ngapain dari tadi nemplok di kulkas? Papa udah kayak cicak aja!” Rumi ngedumel membuka pintu kulkas mengambil ayam dari freezer.


“Non, nggak boleh kasar sama orang tua. Ntar kualat lho.” Si Bibi mengingatkan.


“Apa itu termasuk dari resep ayam opor, Bi?” Rumi mendelik pada sang ART.


“Ya nggak sih Non …”


“Ya udah, Bibi juga nggak usah cerewet!" Rumi mendelik.


“Baik, Non.”


Pak joni cuman bisa geleng-geleng kepala, ia memilih meninggalkan dapur. anaknya tu memang kelakuannya unik. Ia tak bisa menyalahkan Rumi sepenuhnya, karena ia sendiri yang terlalu memanjakannya sejak Rumi kecil, makanya Rumi sering asal kalo ngomong. Tapi sebenernya Rumi baik kok, cuman lagaknya begitu. Songong! Wkwkwk…


Lagi asyik-asyiknya masak. hengpong Rumi tak henti bordering


Dengan tangan yang masih basah Rumi meraih ponselnya. "Halo! Apaan sih nelpon-nelpon? Nggak tau apa gue lagi sibuk kursus masak?" Ketus Arumi pada sang penelpon.


"Halo, Schatzi." Sahut Hanson sumringah. "Lernst du kochen? Wow! Meine zukunftige frau ist grobartig." (Kamu lagi belajar masak? Wow, sungguh hebat calon istriku).


"Eh, bule somplak! elo ngomong apaan sih, nggak jelas kayak orang kumur-kumur! Udah nih gue tutup, nggak penting banget!"


"Wait .... Wait! Schatzi, wait!" Sergah Hanson panik. "Maaf ya, aku tadi muji kamu kok." Terdengar suara Hanson lembut di seberang.


"Terus? Elo pikir itu penting?" Sinis Rumi.


"Non! Ayamnya hampir gosong itu!" Teriak si Bibi ART yang tangannya lagi blepotan sabun cuci piring.


"Ya ampun! Aduuuh....." Rumi ikut teriak panik lari mengambil spatula dan melemparkan hengpongnya ke sembarang arah.


"Hey, Schatzi? Halo...?" Hanson terus ngomong sendiri karena tak lagi mendengar suara Rumi. "Halo Schatzi, kamu masih disitu? Halo... "


"Iya ni gue!" Rumi yang selesai mengangkat ayamnya langsung menyambar gawainya lagi. "Apaan sih halo-halo mulu? halo-halo Bandung?"


"Schatzi, listen. Besok aku mau ajak kamu jalan." Hanson agak tergesa takut keburu Rumi tutup telponnya.


"Nggak bisa, kan tadi udah gue bilang gue lagi kursus masak!"


"Besok, Schatzi. Bukan sekarang. Memangnya besok juga kamu mau kursus masak?" Hanson heran.


Rumi berpikir menimbang-nimbang sebentar. "Eum, besok ya....?"


"Iya. Aku sudah buat janji sama Ben. Kita udah menghilangkan cincin berlian untuk tunangannya, kamu ingat?"


"Kita? Elo kali, gue nggak ikutan! Kan elo yang maksa ngerebut cincin itu dari jari gue?" Rumi sewot.


"Hemm, ya.... maksudku begitu." Hanson ngalah, malas berdebat dengan kekasihnya yang keras kepala itu.


"Jadi kita mau membelikan cincin buat tunangannya Ben?"


"Iya. Jari kamu kan pas ukurannya."


"Terus kamu nggak beliin buat aku????" Rumi nyolot lagi.


"Oh..., of course aku belikan buatmu Schatzi. don't worry." Sahut Hanson cepat takut Rumi ngambek lagi. "Ich werde dir geben, was immer du willst. Weil ich dich so sehr liebe." (Aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Karena aku sangat mencintaimu).


"Terserah elo ngomong apaan, gue kagak ngarti! Pokoknya gue minta dibeliin cincin berlian, baju, sepatu, tas sama hengpong baru!"


Nut ... nut ... nut ....


Rumi langsung memutuskan sambungannya sepihak tanpa menunggu jawaban Hanson. Ia kembali serius pada acara kursus masaknya bersama sang ART, Sementara di seberang Hanson hanya bisa mengelus dada menerima nasibnya mempunyai kekasih unik seperti Arumi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Menjelang sore Mirza akhirnya berangkat ke rumah Bu Een karena terus di desak Via. Sebenernya dia berat hati membiarkan sang istri turut serta.


"Sayang, kamu yakin ikut ke rumah ibu? Kalo kamu ragu kita bisa puter balik kok." Ucap Mirza melirik istrinya yang anteng di jok penumpang.


"Mas apaan sih kok nanya begitu?" Balas Via tak suka.


"Mas cuman nanya Sayang. Kan kamu masih kurang enak badan."


"Aku udah baikan kok"


Mirza pasrah, dalam hatinya terus berdoa semoga ibunya sedang dalam mode tenang.


SREET ...


Mobil Mirza pun berhenti di halaman rumah Bu Een hampir bersamaan dengan Udin yang tiba dengan membawa bungkusan plastik di tangannya.


"Dari mana, Din?" Tanya Mirza.


"Beli makan Mas. Ibu pingin makan rawon katanya."


mereka bertiga pun kemudian masuk. Sudah dapat diduga kan gimana sambutan Bu Een terhadap menantu semata wayangnya?


"Kenapa ikut kemari, bukannya kamu sakit?" Sinis

__ADS_1


Bu Een begitu Via mengulurkan tangan untuk salaman.


"Aku udah sehat kok, Bu." Via tersenyum meski Bu Een sungkan memberikan tangannya.


"Paling juga kamu cuma pura-pura kan, biar Mirza nggak nungguin saya?" Bu Een melingus membuang muka.


"Bu .... "


"Din! Siapkan makan saya!" Belum sempat Mirza melanjutkan ucapannya, Bu Een sengaja berteriak memanggil Udin dan bangkit dari duduknya.


Naluri lembut seorang Via segera menghampiri bermaksud untuk membantu sang ibu mertua yang tampak kepayahan bangun, namun dengan kasar Bu Een menepis tangan Via.


"Saya bisa sendiri!" Sergah Bu Een.


Via langsung terdiam, ia menunduk tak kuasa mendapatkan penolakan. Mirza yang dapat membaca raut kekecewaan sang istri mengelus pundaknya lembut. Via menatap sayu seraya mengulas senyum seolah ingin berkata aku nggak papa kok, Mas. Aku udah biasa diginiin sama ibu.


Mirza baru saja akan mengajak Via untuk duduk ketika ibunya berseru dari ruang makan pada Udin. “Kamu ini bo**h atau apa sih? Saya minta rawon bukan tongseng!”


“Ini rawon, Bu.” Jawab Udin meyakinkan.


“Rawon apa kayak gini rasanya? Nggak enak! Puih, puih!” Bu Een melepeh makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


“Tapi saya …”


“Sudah! Dasar nggk becus!” Hardik Bu Een pada Udin.


Mirza segera ke ruang makan melihat wajah udin yang hanya menunduk. “Ibu maunya makan apa?” Mirza berusaha menghibur ibunya.


“Rawon!”


“Ya udah, Din beliin rawon ya sekarang?”


“Tapi Mas, itu yang saya beli udah bener rawon kok. Lagian cuman ada satu tukang jualan rawon disini.”


“Heh! Kamu itu bu**k ya? Tadi saya bilang itu tongseng, bukan rawon! Jangan ngeyel kamu!” Bu Een ngotot.


Udin garuk-garuk kepala kebingungan, pasalnya yang tersaji di piring itu jelas-jelas rawon! Er a ra, we o won en. Rawon! Udin tetiba merasa dirinya hanya jadi pelampiasan saja. Apakah majikannya itu sedang benar-benar marah ataukah hanya sedang menguji kesabarannya?


“Ibu mau makan rawon ya?” Via menghampiri. “Besok biar aku yang masakin ya, Bu.”


“Nggak usah! Saya udah nggak kepingen!” Ketus Bu Een lalu mendorong piringnya menjauh dan berpegangan pada meja utuk bangun.


“Tapi tadi ibu bilang …”


“Kamu nggak denger? Saya udah nggak kepengen!” Bu Een melotot galak pada Via. “Lagian kamu sengaja ya mau bikin tensi darah naik nyuruh saya makan rawon?”


Glek!


Tenggorokan Via tercekat tiba-tiba. Kok jadi dia yang dituduh begitu ya? Mirza menatap istrinya penuh iba, ia menggeleng samar memberi isyarat pada Via untuk jangan mengatakan apapun lagi.


Bu een kemudian berjalan dengan langkah diseret menuju kamarnya. “Tutup aja Din tokonya, saya mau tidur!” Ucapnya tanpa menoleh. Ketiga orang itu masih setia berdiri di ruang makan.


“Bu. Kalo gitu aku sama Via pamit mau pulang.” Ucap Mirza sebelum langkah Bu Een mencapai pintu kamar.


“Kok pulang?” Bu Een memutar langkah. “Kamu nggak nginep di sini?”


“Nggak Bu, besok kan Via kerja.”


“Biarin aja istrimu pulang, kamu tidur di sini aja.” Bu Een melirik Via jutek.


“Ya nggak bisa gitu dong Bu, masa aku biarin Via pulang sendirian?”


“Suruh aja Udin nganterin dia pulang.” Bu Een menunjuk Via dengan dagunya masih setia pada tatapan juteknya.


“Nggak bisa Bu, lagi pula Via baru sakit ….”


“Ibu kok bicara begitu?” Mirza masih coba bersabar. “Via beneran sakit Bu, dia kelelahan karena …”


“Halah, penyakit apa itu kelelahan? Penyakit mengada-ada! Ngelunjak! Cih, dasar istri manja!” Cibir Bu Een terang-terangan menghunuskan tatapan penuh kebencian pada Via yang sudah remuk redam perasaannya, ia bahkan tak sanggup untuk hanya membalas kedua netra tajam si ibu mertua.


“Bu, cukup. Tak pantas ibu bilang begitu.” Mirza masih mempunyai stok sabar, ia coba untuk tak terbawa arus emosi yang diciptakan ibunya sendiri.


“Belain aja terus istrimu itu!”


“Bukan aku membela Via Bu, tapi memang …”


“Mas, udah nggak papa.” Potong Via dengan suara hampir tercekat. “aku pulang dianter Udin aja. Mas nginep disini temenin Ibu.”


“Tapi Sayang ….”


“Bagus lah kalo kamu tau diri.” Potong Bu Een. “Memang seharusnya Mirza disini merawat ibunya yang sedang sakit, bukan mengurusi istri manja macam kamu!”


“Din, antar aku pulang sekarang ya.” Ucap Via pada Udin.


Udin yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia seketika terkesiap dimintai tolong Via.


“Sayang, aku nggak bisa biarin kamu …”


“Mas, aku beneran nggak papa kok.” Via berusaha meyakinkan suaminya. “Aku pamit pulang ya Mas?” Via sekuat tenaga menahan air matanya agar tak tumpah ketika mencium punggung tangan Mirza.


Dengan berat hati Mirza terpaksa menyerahkan kunci mobilnya pada Udin.


“Bu, aku pamit.” Ucap Via. Ia tak lagi mengulurkan tangan untuk menyalami sang ibu mertua, hatinya sudah cukup perih. Via berjalan agak cepat menuju mobil sementara Udi mengikut di belakang.


Mirza menatap punggung mereka yang keluar rumah. Perasaanya tak tega. Bukan itu saja, ia sungguh merasa sangat bersalah pada istrinya. Bu Een diam-diam tersenyum melihat itu semua. Hati Bu Een bersorak gembira bukan main karena merasa menang dari sang menantu. Hah! Persaan macam apa seperti itu? Dasar ibu mertua durjana!


“Din, tunggu!” Panggil Mirza pada Udin yang membukakan pintu mobil untuk Via.


“Ya? ada apa, Mas?” Tanya Udin, semenatra Via sudah masuk dan duduk di dalam.


“Mana kunci motor kamu?”


“Untuk apa Mas?” Udin heran.


“Udah siniin, jangan banyak tanya.”


Udin merogoh saku celananya dan menyerahkan kunci motornya yang ada gantungan boneka hello kitynya. Sejenak Mirza memandangi gantungan kunci motor ditangannya itu. sok imut banget si Udin! Batin Mirza. Ingin rasanya ia ngeledekin Udin seperti biasanya kalo saja suasana hatinya tak sedang kacau begini.


Sementara di mobil Via memperhatikan sumainya dan Udin dari balik kaca jendela. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu, membuat Via tak sabaran. Ia sudah ingin segara berlari menubruk kasur empuknya dan menumpahkan segala persaannya pada bantal guling kesayangannya.


“Din, cepetan dong!” Seru Via dengan menurunkan kaca jendela mobil.


“Eh, iya Mbak.” Udin pun segera naik ke mobil, Mirza melambaikan tangan pada sang istri dengan senyum simpul, Via hanya membalasnya dengan senyum tipis kemudian menaikkan kembali kaca jendela mobilnya.


Mirza masuk setelah mobil yang dikendarai Udin menghilang dari pandangan.


“Kamu ngapain di luar lama banget?” Tanya Bu Een yang ternyata masih berdiri di ambang pintu kamarnya. “Tolong bikinin ibu wedang jahe.”


“Iya Bu.” Tanpa banyak kata Mirza segera ke dapur dan tak berapa lama ia kembali dengan pesanan ibunya.


“Taroh aja di meja, ibu mau mandi dulu.”


“Emh, Bu. Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Mirza.

__ADS_1


“Mau bicara apa?” Bu Een menatap curiga.


“Ibu duduk dulu ya.” Mirza membantu Bu Een kembali ke sofa ruang tengah.


“Ada apa?” Bu Een tak sabar.


Mirza mengehla nafas sejenak sebelum memulai bicara. “Bu, aku nggak bisa terus-terusan seperti ini.” Ucapnya kemudian.


“Maksud kamu?” Bu Een mengernyit bingung.


“Aku sangat mencintai Via Bu, tolong biarkan aku bahagia dengan Via.”


“Maksud kamu apa, Mirza?” Nada sura Bu Een naik dua oktaf selagus nggak tanggung-tanggug.


Mirza menggeser duduknya lebih mendekat, diraihnya tangan yang sudah mulai keriput ibundanya itu dan dielusnya perlahan. “Bu, aku mohon maaf kalau aku memaksa. Namun sungguh, yang bisa membuat hidupku bahagia hanya Via, Bu. Tolong restui kami.”


Spontan Bu Een menarik tangannya dari genggaman Mirza. “Kurang merestui apa ibu sebagai orang tua? Ibu bahkan sudah membiarkan kamu menikahinya, Mirza!”


Mirza menggeleng. “Nggak Bu, itu belum cukup. Maafkan anakmu ini, aku merasa ibu selalu ingin memisahkan aku dengan Via. Kanapa Bu? Kenapa ibu tidak coba membuka hati untuk Via?” Mirza tergugu, ia mengusap wajahnya kasar.


“Karena kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari dia, Mirza.” Jawab Bu Een tegas. “Keluarganya itu tak sepadan dengan keluarga kita, dia pasti menikahimu hanya karena harta.”


“Jika itu benar, maka Via sudah meninggalkanku sejak aku serahkan semua yang aku miliki pada ibu.” Elak Mirza. “Bukankah rumah, mobil, sawah, dan semua tanah yang aku punya sudah aku serahkan pada ibu? Lantas kenapa ibu masih berpikiran buruk pada Via? Dia betul-betul tulus sama aku, Bu. Dia wanita yang baik.”


“Nggak! Dari dulu dan sampai kapan pun ibu nggak bisa terima dia.” Bu Een tetep kekeh. “Kamu pasti akan mengetahui watak aslinya jika ibu sudah tiada. Dia itu baik karena menungu semua warisanmu. Dia pasti akan menyingkirkanmu setelah menguasai semua hartamu, Mirza. Kamu jangan bodoh. Kamu itu laki-laki, jangan terpedaya dengan paras cantik. Masih bayak perempuan yang lebih cantik dari isrtimu itu. bahkan lebih baik dan pastinya lebih kaya dari istrimu yang hanya dari keluarga yang pas-pasan!” Ungkap Bu Een berapi-api.


“Aku kecewa sama ibu.” Mirza mendesah penuh kekecewaan, wajahnya memerah menahan tangis dan amarah. “Jika ibu masih tetap pada pemikiran ibu yang seperti itu, maka aku pun akan tetap dengan pikiran dan perasaanku ini pada Via, karena sampai kapanpun aku nggak akan pernah meninggalkannya demi apapun.”


“Bahkan demi ibumu ini?” Bu Een manatap tajam, sedetik pun ia tak berkedip memandangi sang putra yang sama menatapnya tajam.


“Ya, kecuali takdir Tuhan yang memaksaku.”


Tangan Bu Een mengepal, hatinya bergemuruh. Kecewa sudah pasti, namun benci lebih merajai hati. “Kamu benar-benar anak durhaka, Mirza.” Geramnya dengan gigi memerutuk menahan amarah. Tatapannya dingin menghujam hati sang putra semata wayang.


“Ibu jangan lupa bahwa selain ada nak durhaka, ada juga orang tua durhaka.” Balas Mirza tak kalah dinginnya.


“Kamu menyindir ibu?” Sinis Bu Een.


“Aku bicara kenyataan.”


“Mirza, kamu sudah benar-benar keterlaluan!” Emosi Bu Een hampir meledak karena sudah mencapai ubun-ubun.


“Aku belajar semuanya dari ibu.”


“Mirza!!”


Mirza bangkit, aura kebekuan meyelimuti ruangan. Ibu dan anak yang sedang bersitegang itu keduanya mati-matian mengusai dirinya sendiri.


“Maafkan untuk semua sikapku. Sampai kapanpun ibu tetap ratu dihatiku karena aku mencintai ibu lebih dulu sebelum mencintai istriku. Aku sayang ibu ….”


Tes ….


Butiran bening yang sedari tadi coba dibendungnya, kini menitik juga jatuh dari mata laki-laki yang sedang terlihat kacau balau itu.


“Aku pergi.” Ucapnya lalu keluar dengan langkah-langkah lebar.


Bu een tertegun, freeze untuk beberapa saat sampai kemudian dia tersadar ketika mendengar deru mesin motor yang keluar dari halaman rumahnya.


“Mirza ….!!!” Panggilnya, namun sia-sia, Mirza sudah melesat jauh.


Sementara itu di dalam mobil, Udin beberapa kali mencuri pandang pada Via yang memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela samping seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Udin prihatin sekali dengan keadaan rumah tangga Mirza dan Via. Dia sudah sangat tau luar dalam bagaimana hubungan kedua orang itu dengan majikannya karena Udin bekerja pada Bu Een sudah lebih dari sepuluh tahun, jauh sebelum Mirza dan Via menikah.


“Mbak? Mbak Via nggak papa?” Tanya Udin khawatir.


Via yang sedikit kaget dengan teguran Udin segera mengusap kedua matanya yang mengembun. Udin tau itu, hati Via pasi sakit sekali sekarang.


“Nggak papa, kanapa emangnya?” Via balik nanya namun nggak menoleh.


“Nggak, cuma nanya aja kok Mbak.”


Mereka pun kembali diam, Udin terus fokus menyetir. Mereka sedang melintasi areal persawahan yang sepi. Mobil Udin melaju dengan kecepatan pelan membuat Via tersadar tiba-tiba.


“Din, persaan dari tadi kamu nyetirnya pelan banget? Bisa nggak sih agak cepat sedikit?” Kali ini Via menoleh melihat pada Udin.


“Oh, itu … emh, ini ... karena kita masih di jalannan kampung Mbak.” Sahut Udin agak terbata.


“Sepi gini kok jalannya kayak siput? Turun aja, gantian aku yang nyetir.” Via agak kesal.


“Eh, jangan Mbak.”


“Ya udah buruan, aku mau cepet nyampe rumah.”


Udin menambah sedikit kecepatan laju mobilnya. Tak berapa lama dari arah belakang nampak sebuah sepeda motor dengan kecepatan tinggi meyalip mobil yang dikendarai meraka dan berhenti tepat di depan mobil.


CKIIIIT….


NGIIIK ….


Udin menginjak rem tiba-tiba hingga membuat tubuh Via sedikit terdesak ke depan, untung saja ia sudah pake seat belt.


“Din, apa-apan sih?” Via kesal.


“Itu….” Udin menunjuk pada pengendara motor yang berhenti menghalangi jalan.


“Apa-apaan sih tuh orang?” Omel Via, namun kemudian raut wajahnya berubah kala melihat si pengendara motor turun dan menghampiri. “Mas Mirza?” Gumamanya tak percaya.


Udin lekas membuka pintu mobil dan turun, Mirza segera mengambil alih kemudi.


“Makasih ya, Din.” Lirih Mirza.


Udin mengacungkan jempol kanannya lalu naik motor dan pergi duluan.


“Mas? Mas Mirza kok nyusul sih?” Via terheran-heran karena kini sang suami sudah berada dengannya di dalam mobil.


“Nggak usah banyak tanya, Sayang.” Mirza memutar kunci mobil.


“Tapi ….”


“Aku sangat mencintaimu. Jangan bicara lagi, kita pulang sekarang.” Mirza mengusap pipi Via lembut dengan tanagn kirinya.


Via tak berkata apapun, ia hanya menatap sang suami yang mulai melajukan mobilnya perlahan. Berjuta syukur ia panjatkan dalam hati, sungguh anugrah terindah dari Tuhan yang Maha pemurah telah memberinya suami yang begitu baik hati dan penyanyang seperti laki-aki yang berada di sampingnya itu. meski ia tahu ke depan pasti akan lebih banyak lagi cobaan mendera, namun ia yakin mampu melewatinya dengan Mirza berada disisinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Benarkan mereka akan bahagia, pemirsa? O, tidak semudah itu Esperanza! 😁😁😁


Jangan senang dulu, maaf ye…. 😂😂😂


Yang lelah boleh menepi dulu, istirahat sejenak Kakak 😊😊


Dan biarkan othor menyelesiakan cerita sesuai plot yang sudah othor punya. Oke… 😉😉😉


Terima kasih sudah membaca. 🙏🙏🙏😍😍

__ADS_1


Like, vote dan komen yaa…🤩🤩


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2