
H**ayooo.... siapa yang kemarin nebak tamunya Via itu Bu Een atau Bujel atau Danar atau Mirza....😁😁
Kita liat sama-sama yook.... 😊😊**
like dulu ya, barangkali lupa.... 🤭🤭
up 2 bab nih 🤩🤩
❤️❤️❤️❤️❤️
Via mengajak Gio main di ruang tengah sambil nonton kartun. Anak itu anteng mempehatikan TV sambil sesekali Via menyuapinya biscuit.
Ting tong!
Bunyi bel dari pintu depan.
“Eh, siapa ya? Apa si Yanti kali ya?” Gumam Via. “Gio tunggu sebentar ya, kayaknya bunda kamu balik lagi tuh.”
Via beranjak ke ruang depan dan segera membuka pintu.
JENGJENG!
“Pak Hadi?” Ucap Via begitu melihat sosok ayah Danar itu sudah berada di teras rumahnya.
“Apa saya mengganggu, Nak Via?” Tanya Pak Hadi dengan senyum kharismatiknya.
“Oh, nggak kok Pak. Mari silakan masuk.” Via mempersilakan masuk Pak Hadi kemudian membawa serta Gio ke ruang tamu.
“Maaf sebelumnya, saya hanya mampir sekalian mau tanya kabar.” Perkataan Pak Hadi terkesan basa basi. “Nak Via kok lama nggak main ke rumah? Saya punya bibit paprika yang bagus, baru dikirim oleh salah seorang teman.”
Via tersenyum, “Maaf, saya memang sedikit sibuk akhir-akhir ini Pak. Karena saya juga kerja.”
“Oh, jadi Nak Via sekarang kerja? Kerja dimana?” Pak Hadi pura-pura tak tahu padahal sebenarnya Danar sudah menceritakan perihal Via yang kerja di kantor Bu Elin juga dengan Riri yang menjadi tangan kanan Bu Elin dalam menjalankan bisnis kuenya.
“Di salah satu perusahaan property.”
Pak Hadi manggut-manggut, Via tak berniat menceritakan bahwa dia sekantor dengan Danar karena menurutnya itu nggak penting juga.
“Emh, sebentar ya Pak saya buatin minum dulu.” Ucap Via lantas mendudukkan Gio di sofa dan dia sendiri menuju dapur.
Pak Hadi tersdengar sedang mengajak Gio ngobrol, sebenarnya Via tadi berharap Pak Hadi menolak tawarannya karena ia juga kurang nyaman dengan kedatangan pak Hadi, tapi apa mau dikata ternyata Pak Hadi berniat berlama-lama bertamu di rumah Via.
“Silakan dimunum Pak, tehnya.” Via menyuguhkan secangkit teh melati yang masih mengepul hangat.
“Maksih ya, maaf nih jadi ngerepotin Nak Via.” Senyum Pak Hadi mengembang seraya meraih cangkirnya dan menghirup wangi aromanya.
Pak Hadi menyesap teh hangat itu. Sejenak ia teringat pada sosok Harni, gadis desa nan ayu pujaan hatinya yang selalu menyuguhkan teh melati kala dirinya berkunjung kerumahnya puluhan tahun silam.
Via kembali memangku Gio dan merapikan rambut Gio yang diacaknya sendiri karena risih, sepertinya Gio mulai mengantuk. Pak Hadi melihat Via sekilas sambil sekali lagi menikmati tehnya.
Aku melihat dirimu dalam perempuan muda di depanku ini, Dik Harni. Ia ayu, luwes dan lembut hati sepertimu.
“Oya, Nak. Ini saya bawa sayuran dari kebun belakang.” Pak Hadi kemudian teringat pada plastik yang di bawanya dan memberikannya pada Via.
“Wah, sudah panen Pak?”
__ADS_1
“Baru sebagian, mungkin beberapa hari ke depan selada, cabai dan pokcoy yang di samping rumah juga akan panen.”
“Makasih ya, Pak. Kebetulan saya belum belanja sayuran nih.” Via terus terang.
“Sayuranmu juga pertumbuhannya bagus kok, tadi saya sempat lihat-lihat di depan.”
“Yah, lumayan lah Pak. Cuman memang beberapa hari ini sejak saya kerja jadi kurang terawat.”
“Ngga papa, nggak perlu sering-sering disiram juga kok.”
Via mengangguk lantas kembali mempersilakan Pak Hadi menikmati tehnya. “Ayo Pak, silakan diminum lagi tehnya.
“Assalamualaikum.” Yanti mengucap salam dan langsung masuk karena melihat pintu rumah Via terbuka.
“Wa alaikumsalam.” Sahut Via dan Pak Hadi hampir bersamaan.
“Lho, ada Pak Hadi rupanya? Kirain lagi ada tamu siapa.” Ujar Yanti yang langsung menghampiri Gio.
“Iya, Pak Hadi repot-repot ke sini nganterin sayuran nih Yan.” Via menunjuk sayuran pemberian Pak Hadi.
“Panen ya, Pak? Kok saya nggak dibagi sih, Pak?” celetuk Yanti sambil meraih Gio ke dalam gendongannya.
“Alah, kayak nggak biasanya aja kamu datang ke rumah sendiri, Yan.” Seloroh Pak Hadi. “Atau nanti suruh Firman aja yang ke rumah.”
“Iya deh, besok minggu Mas Firman ke sana. Lumayan buat masak, hehe….” Yanti nyengir lebar.
“Eh, kamu kok udah pulang? Katanya mau ke dokter?” Tanya Via pada Yanti.
“Aku lupa Vi kalo hari sabtu dokternya tutup, jadi tadi ke apotik aja beli obat.”
Hening sejenak, Yanti Nampak mengsap-usap kepala Gio dan perlahan mata anak itu terlhat sayu dalam gendongan ibunya.
“Ya sudah, kalu begitu saya pamit ya Nak Via. Maksaih lho tehnya.” Pak Hadi bangkit dari duduknya.
“Saya juga makasih ya Pak udah dikirimin sayuran, mana banyak banget lagi ini.”
“Simpan saja di kulkas, Nak.”
Via mengantar Pak Hadi sampai teras sementara Yanti mengambil perlengkapan Gio di dalam.
“Oya, saya nitip salam buat ibu kamu ya.” Ucap Pak Hadi sebelum pergi.
“Insya Allah nanti saya sampaikan, Pak.” Jawab Via tanpa mau berprasangka apapun.
Pak Hadi pun meninggalkan halaman rumah Via, tak jauh dari sana nampak seseoraang mengerem langkahnya dan buru-buru bersembunyi di dekat pohon srikaya.
“Pak Hadi? Abis ngapain dia dari rumah Jeng Via?” Lirih sesorang di bawah pohon srikaya yang buahnya cuman beberapa biji itu, lantas tanpa pikir panjang mengeluarkan ponselnya.
“Mbak Lita, ngapain kok sembunyi di situ? Awas ada uletnya lho itu pohon srikaya.” Tegur pak Hadi yang melihat sosok itu yang tak lain adalah Bujel alias Jelita.
Bujel rada gugup, ia cengar-cengir langsung keluar dari persembunyiannya dan pura-pura lagi ngetik pesan padahal mengarahkan kamera ponselnya ke wajah pak Hadi.
“Ah, nggak Pak. Ini saya lagi balesin pesan yang masuk kok.”
“Oh, kirain lagi nyamar jadi bunglon.”
__ADS_1
Pak Hadi berlalu, sementara Bujel segera mengirimkan foto tersebut pada Bu Een dan memberikan keterangan informasi singkat tentangnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Tiga hari ini Tuan Husein di rawat intensif di rumah sakit, dan seusai visit dokter yang terakhir Tuan Husein diijinkan pulang. Nyonya Husein segera berkemas, sementara Sofi mengajak Azad bicara empat mata di luar kamar perawatan.
“Apa kamu sudah menemukan pelakunya?” Tanya Sofi.
“Pelaku apa?” Azad tak mengerti.
“Pelaku pembakaran pabrik lah!”
“Itu murni kecelakaan akibat arus pendek, Kak. Polisi sudah menyelidikinya.”
Sofi berdecak kecewa. “Dan kau percaya begitu saja?”
“Sudahlah, Kak. Kita fokus dulu dengan kesehatan Papa saat ini.”
Sofi menggeleng, memandang adiknya tak percaya. “Lihat saja, aku akan mendapatkan bukti dan menemukan pelakunya.”
“Kakak mau apa? Jangan mencari masalah! Kita masih beruntung karena saat kejadian kebakaran itu malam hari, jadi tak ada karyawan pabrik yang turut jadi korban.” Azad berusaha menenangkan Sofi.
“Kita sekarang sudah nol, kau bilang masih beruntung? Dan papa sampai sakit begini kau juga bilang masih beruntung?” Nada Sofi meninggi. “Azad, otakmu dikemanakan? Kenapa kamu lembek banget jadi laki-laki?!”
Azad mengusap wajahnya kasar. Sikap Azad yang tenang dan tak gampang tersulut emosi agaknya dimanfaatkan Sofi untuk mengusik jiwa lelakinya, namun Azad memilih untuk tak termakan perkatan kakaknya.
“Aku yakin, jika kita memberikan sejumlah uang pada polisi maka mereka akan mengungkap kebenaran dari kejadian ini.” Lirih Sofi melirik tajam adiknya yang tanpa ekspresi.
“Simpan saja uangmu untuk keperluan lain.” Jawab Azad datar. “Sudahlah, aku nggak mau debat sama kamu, Kak. Sebaiknya aku antar Kakak pulang. Istirahatlah, tenangkan dirimu. dari kemarin kau tak pulang kan?”
“Aku bisa pulang sendiri.” Sinis Sofi. “Memangnya mobilku mau dikemanakan kalo aku pulang diantar kamu?”
“Suruh saja pelayan mengambilnya. Aku khawatir padamu kalo nyetir sendiri, kamu kelihatan pucat dan lelah sekali menjaga Papa dari kemarin.”
Sofi ngeloyor cuek dengan wajah kesal. Ia masuk kembali dan pamit pada kedua orang tuanya. Azad tak bisa berbuat apa-apa meskipun ia sangat mengkhawatirkan keadaan Sofi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Cuss… ke next chapter kakak….😍😍😍
Eits, like dan komen dulu dong….😊😊😊
Terima kasih, luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1