TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
204 #MEMANFAATKAN KESEMPATAN


__ADS_3

Sepulang dari kediaman Tuan Husein, Ramzi tak kembali ke kantor. Dia memilih mengurung diri di kamarnya hingga menjelang sore. Dia sungguh tak menduga masalah rumah tangganya akan menjadi sepelik ini. Ramzi sangat menyesal dengan sikapnya yang memang benar tak punya pendirian. Sebagai seorang suami dia memang tak mampu berpijak pada kakinya sendiri. Sesalnya semakin meraja kala ingat calon buah hatinya yang berada dalam Rahim Sofi. Ia bahan belum pernah mengelus perut Sofi hanya untuk sekedar bersapa ria dengan bayinya seperti yang banyak dilakukan para calon ayah lainnya.


“Arrrrgh….!” Ramzi berteriak geram lantas dengan sekali sapuan tangannya ia telah memporak porandakan segala yang ada di atas mejanya.


Kegaduhan yang tercipta tak luput dari perhatian seseorang yang sedari tadi mengawasinya. Siapa lagi kalau bukan Gerald si kepala pelayan. Karena khawatir terjadi sesuatu, Gerald segera mengetuk pintu kamar Ramzi.


Ramzi kembali pada kesadarannya, ia membuka pintu dengan mata menahan amarah.


“Ada apa?” Tanyanya galak.


“Ap-apa Tuan memerlukan sesuatu?” Gerald agak tergagap.


“Memangnya aku memanggilmu?” Sengit Ramzi lantas sengaja menabrak tubuh tinggi Gerald yang menghalangi jalannya. Ramzi menuju lift turun ke lantai dua.


Sang kepala pelayang menghela nafas panjang. Segera ia merogoh gawainya setelah melihat keadaan kamar tuan mudanya yang porak poranda.


“Aku sudah dalam perjalanan pulang. Sebentar lagi sampai.” Ucap Tuan Alatas ketika Gerald mengabarinya.


Gerald segera memerintahkan pelayan untuk membersihkan kamar Ramzi sementara ia sendiri kembali menguntit si tuan muda.


“Tuan Ram ada di kamar lamanya.” Jawab salah satu pelayan yang ditanyainya.


Bak agen FBI gadungan, Gerald menempelkan daun telinganya rapat pada pintu kamar Ramzi yang berada di lantai dua itu. Sepi, tak ada suara atau pergerakan apapun. Mungkin tuan mudanya itu sekarang sedang istirahat. Namun seolah belum terlalu puas, Gerald masih setia merapatkan diri pada daun pintu kamar sang tuan muda.


Ceklek


Whoa…! hup!


Tubuh Gerald agak terhuyung ke arah Ramzi karena Ramzi tiba-tiba membuka pintu. Gerald tercyduk, wajahnya seketika pias. Cepat-cepat ia membenahi posisinya.


“Apa yang kau lakukan disini?” Bentak Ramzi dengan wajah marah. “Kau memata-mataiku?”


“Bukan begitu Tuan. Saya … hanya mengkhawatirkan keadaan Tuan Ram saja.” Gerald berusaha menjelaskan.


“Pergi dari sini! Jangan coba-coba menguntitku!” Usir Ramzi bengis.


BRUG!


Ramzi membanting pintu dengan kasar.


Gerald menyeka keningnya yang berembun, dengan langkah tegap segera ia menuruni anak tangga dan melihat tuan besarnya baru saja sampai.


“Dimana Ram?” Tanya Tuan Alatas.


“Ada di kamar lamanya, Tuan.”


Tuan Alatas menautkan kedua pangkal alisnya.


“Maksud saya, Tuan Ram berada di kamar yang ia tempati bersama Nyonya Sofi dulu.”


Tuan Alatas mendengus kasar. “Kabari aku kalau makan malam sudah siap.” Gegas Tuan Alatas menuju kamarnya.


Gerald mengangguk patuh. Ia tahu pasti akan ada persidangan seorang terdakwa di meja makan nanti malam.


Ramzi merasakan kegersangan hatinya semakin menjadi manakala mengingat kenangan di setiap jengkal sudut kamarnya itu. Ia terbayang akan semua tingkah manis menggemaskan istrinya. Wajah cantiknya yang menggoda penuh gairah, rambut ikal berombaknya, kedua mata bola pingpongnya, belaian lembut jemari lentiknya, senyum merekah di bibir indahnya, ahhhh…. Ramzi seperti terseret dalam lorong waktu dan menghempaskannya pada semua kenangan-kenangan manis tanpa ia tahu semua itu hanya kepalsuan yang dimainkan oleh Sofia sang super drama queen.


Ramzi mengelus sprei halus motif buah cherry berwarna soft pink, warna kesukaan Sofi. Mereka telah melewati banyak pergumulan sengit yang berakhir dengan kenikmatan di atasnya. Hanya Sofia yang mampu membuatnya mabuk kepayang di atas ranjang. Bahkan hanya Sofia yang mampu melahap singkong bakarnya dengan sensasi melenakan yang menyebabkan candu tak berkesudahan. Aiiih… singkong bakar lagi..🤭


Kepala Ramzi mendadak bedenyut-denyut (pening dia singkong bakarnya lama dianggurin😥), langkahnya diseret menuju pintu balkon. Ia sibakkan lebar-lebar tirai yang menghalanginya dan membuka pintu dengan wajah melankolisnya serupa sang pangeran yang baru saja di tinggalkan sang putri idaman.


“Sofia…., Dimana kamu sekarang?” pandangan Ramzi kosong menerawang ke arah entah.


Semilir angin senja mendayu-dayu menambah kehampaan hati yang sedang merindukan sang kekasih. Sekawanan burung melintas pulang menuju sarang. Langit merah memudar perlahan berganti warna kelam. Ramzi beranjak bersamaan dengan bunyi dering ponselnya.


“Halo”


“Tuan, saya belum berhasil menemukan istri Anda. Tapi saya berhasil menemukan mobilnya.”


Dug dug dug dug dug….


Jantung Ramzi serasa dipukul dengan ribuan palu. Bukan hanya kaget, tapi dugaan kejadian buruk seketika menyambar pikirannya.


Apa gerangan yang terjadi dengan Sofi? Mobilnya ditemukan tapi Sofi tidak ada disana? Gusar batin Ramzi.


“A-apa yang terjadi dengan istriku? Jangan bilang dia …..” Ramzi tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Tungkainya mendadak lemah, netranya memanas. Ramzi limbung mencari pegangan, ia bertumpu pada kusen pintu berusaha menjejakkan kesadarannya.


“Mobil istri Anda saya temukan berada di salah satu show room mobil second pusat kota. Sepertinya istri Anda baru saja menjualnya.” Papar suara diseberang yang seketika membuat kekuatan Ramzi pulih dan helaan nafas lega memenuhi rongga dadanya. Oh... syukurlah...


“Sofia menjual mobilnya?” Gumam Ramzi, perasaan penasaran akan apa yang terjadi dengan istrinya kini kembali bersarang memenuhi benaknya.


“Benar, Tuan. Menurut pemilik show room, istri Anda baru saja menjualnya beberapa jam yang lalu dan ia membeli sebuah mobil yang harganya jauh lebih murah juga disana.” Ungkap suara di seberang lagi. “Sebentar saya kirimkan gambar mobil istri Anda, agar Anda bisa mengecek kebenarannya,Tuan.”


Sambungan diakhiri. Ramzi segera menerima satu pesan masuk.



“Benar ini mobil Sofia.” Gumam Ramzi setelah mengecek nomor polisinya. Mobil BMW 320i hitam itu semula adalah hadiah pertunangannya untuk Sofi. Dengan pongah Sofi menolaknya, namun Ramzi tetep memberikannya di hari pernikahan mereka sebagai salah satu mas kawinnya selain emas batangan yang jumlahnya sanggup membuat jantung melorot pindah ke perut.


“Tapi kenapa Sofia menjualnya dan membeli mobil lain yang lebih murah? Apa dia memerlukan uang?” Ramzi terus menerka-nerka alasan Sofi menjual mobil mewahnya. Jika benar itu alasannya sungguh Ramzi tak dapat mengampuni dirinya karena telah menelantarkan istrinya sendiri.


Yaelah Bang, belagak lupa lu? Itu si Sopee udah berapa purnama kagak elu nafkahi lahir batinnya, pake nanya kenapa lagi, amnesia apa hilang ingatan lu? Sama aja yak? Ehe! 😅


❤️❤️❤️❤️❤️


Sudah lama sekali sejak kepergian Udin Bu Een tak bersemangat ketika pagi hari tiba. Jangankan untuk mengurus toko, mengerjakan pekerjaan rumah saja dia kewalahan. Dan sebenarnya pagi ini dia malas buka toko karena tulang-tulang sendinya terasa pegal dan linu, bekas luka jatuhnya pun kembali terasa nyeri. Bu Een hanya selonjoran di sofa ruang tengah. Namun satu gedoran pintu membuatnya jengah, dengan terpaksa Bu Een perlahan berjalan ke depan.


Ceklek


Bu Een membuka pintu dan mendapati tampang Romlah tetangganya nongol disana.


“Ada apa sih? Maksa banget pagi-pagi gedor rumah orang?” Omel Bu Een kesal.


“Mau beli beras Bu, kok tumben jam segini belum buka tokonya?” Tanya Romlah.


“Hari ini saya tutup, mau istirahat.” Ketus Bu Een.


“Yah, jangan gitu dong Bu. beras saya abis nih, suami saya mau berangkat kerja saya belum masak nasi.”


“Bukan urusan saya!”


“Ya ampun Bu, saya ini mau beli lho bukan mau ngutang!” Romlah agak sebal.


“Belinya banyak nggak, kalo cuman sekilo dua kilo sih saya males!” Ketus Bu Een lagi.


“Beli satu sak. Nih uangnya!” Balas Romlah dengan memamerkan sejumlah uang dalam dompetnya.


Akhirnya Bu Een mau juga buka tokonya meski dengan langkah agak diseret. “Tuh! Ambil sendiri di sana!” tunjuk Bu Een asal ke pojokan setalah membuka tokonya.

__ADS_1


Si Romlah celingukan bingung. “Di sebelah mana Bu?”


“Itu di ….”


WAKWAW!


Ternyata zonk! Jangankan satu sak, sebutir beras pun tak ada di sana sodara-sodara. Bu Een melongo be**, dia lupa kalau stok berasnya habis.


“Oh, saya lupa belum belanja beras.” Ujar Bu Een.


“Ya udah kalo gitu saya beli mie rebus aja deh sama telor.” Romlah pergi mencari telor ayam, tapi juga kosong, ia berpindah menuju rak para mie instan biasanya berjajar rapi, tapi ternyata zonk juga dan hanya menyisakan beberapa bungkus mie goreng saja. “Telor nggak ada, Mie rebusnya juga nggak ada, Bu?” Tanya Romlah.


“Itu apa?”


“Ini mie goreng, Bu."


“Sama aja kan? Yang penting judulnya mie!”


“Suami saya nggak suka mie goreng.”


“Blagu banget suami kamu! Sama-sama mau digiling jadi limbah juga pake pilih-pilih segala!” Bu Een malah ngomelin suami Romlah yang jelas-jelas nggak tau urusannya.


“Ya udah kalo gitu saya pinjem berasnya Bu Een aja deh, keburu siang ini!” Cetus Romlah.


“Enak aja pinjem-pinjem, kamu pikir kayak pinjem sandal jepit?”


“Eeh, maksud saya beli. Saya bayarin ini, Bu Een pasti punya persediaan beras kan di rumah?”


Bu Een berpikir sejenak, dia memang masih punya stok beras di rumah, tapi itu untuk persediaannya sendiri entah sampai kapan, dia juga belum belanja semua barang dalam tokonya karena nggak ada yang mengantarnya belanja ke kota, sedangkan dia sendiri nggak bisa nyetir mobil, naik motor pun tak mungkin karena membawa banyak belanjaan.


“Gimana Bu? masih punya stok beras kan di rumah?” Romlah bertanya kembali.


“Punya, tapi nggak dijual!”


“Ya ampun, saya mau beli bukan mau minta Bu!”


“Kalo saya nggak mau jual, kamu mau apa?” Bu Een kekeh.


“Dasar pelit! Tak berperasaan! sama tetangga sendiri aja tegaan!” Romlah meluapkan kekesalan yang sejak tadi ditahannya.


“Kok kamu malah nagata-ngatain saya sih? Terserah saya dong, beras beras saya. Dasar tetangga nggak punya aturan!” Balas Bu Een tak kalah kesalnya.


“Bu Een itu tak punya hati! Tak berperi kemanusian! Sama tetangga tega! awas aja kalo susah jangan minta tolong sama saya!”


“Eeh, maap maap ya, saya mau minta tolong sama kamu! Saya bisa sendiri. Lagi pula kapan saya pernah minta tolong sama kamu? Nggak pernah!” Emosi Bu Een memuncak. “Pergi sana! Udah ganggu orang istirahat malah ngomel-ngomel lagi! Dasar kurang ajar kamu, Romlah!”


“Oke, saya pergi! Tapi Bu Een ingat baik-baik kata-kata saya tadi. Saya nggak bakalan nolongin ibu kalo Bu Een ada apa-apa!”


“Cih! Saya juga nggak sudi ditolongin sama tetangga model kamu!”


Romlah pun pergi dengan kegondokan yang luar biasa. Sementara Bu Een juga masih nampak mengomel sambil menutup kembali tokonya. Dia berniat untuk mengistirahatkan dirinya daripada buka toko tapi bikin tensi darahnya naik.


“Dia pikir dia itu siapa? Pake sok ngancem saya segala, saya nggak butuh bantuan orang macem si Romlah yang sombong itu! dasar tetangga songong! blagu! tak tau aturan…..”


SREET


NGIIK….


“AAAWW…….!!!” Bu Een menjerit membahana memecah kedamaian pagi sampai bikin para anak ayam tetangga yang lagi mengais-ngais tanah mencari makan berlarian tunggang langgang tak karuan.


Tangan kanan Bu Een baru saja kejepit rolling door. Jari-jarinya mendadak memar merah jingga kuning hijau biru ungu. Bu Een merasakan sakit luar biasa, ingin rasanya dia nangis tapi harus tengok kanan kiri dulu, tengsin kalo ada orang yang liat! Bu Een mau marah tapi marahin siapa? dia hanya mampu memandangi jari jemari tangan kanannya yang bengkak seolah berubah menjadi jempol semua.


Sabar ya Bu … ini ujian 🤣🤭


❤️❤️❤️❤️❤️


“Pak, hari ini kita ada agenda dengan Pak Walikota.” Sekretaris mengingatkan Danar yang hendak beranjak dari kursi kerjanya.


“Kamu saja yang pergi, aku ada perlu.” Danar mengambil jasnya di sandaran kursi.


“Tapi Pak …”


“Nggak usah protes. Saya percaya kamu bisa menghandlenya.” Ucap Danar cuek ngeloyor ke luar ruangan dengan mengayun langkah mantap menyampirkan jas pada lengan kirinya.


Sang sekretaris mendadak disergap kegugupan, bagaimana mungkin dia pergi tanpa sang bos? Ia melirik arlojinya, masih ada waktu sekitar setengah jam lagi. Dia mengejar Danar. sia-sia, laki-laki tegap yang masih dalam kegalauan paripurna itu sudah menghilang ditelan pintu lift.


Danar memasukkan jasnya ke dalam jok motor, segera ia menggeber motornya menuju kedai. Ari cukup surprise dengan kedatangan Danar, pasalnya jam makan siang sudah lewat sejak tadi dan jam pulang kerja pun masih belum waktunya.


“Mas….”


“Jangan banyak tanya!” Seolah Danar tau isi kepala Danar, ia terus berjalan menuju kamarnya di belakang.


Tak hanya Ari yang terheran-heran, beberapa karyawan lain pun nampak penasaran kenapa si bosnya muncul di jam segini dengan tampang masam. Keheranan mereka terjawab manakala Danar muncul kembali sudah berganti pakaian. Ia menuju pantry.


Irish coklatnya menyapu pandang pada semua wajah yang terlihat kepo padanya.



“Kanapa pada ngeliatin kayak gitu? Kerja kerja kerja …” Tukas Danar pada Ari dan teman-temannya. Mereka pun kembali pada kesuburannya masing-masing, kecuali Ari.


“Ini Mas ….” Ari memberikan apron pada Danar.


Danar hanya memandanginya. “Buat apaan?”


“Terserah Mas Danar, buat membalut luka hati juga boleh. Hehehe…..” Ari cengengesan.


“Kamu ya …” Danar sudah hampir melayangkan jitakan mautnya namun Ari keburu menutup kepalanya dengan kedua tangannya.


“Ampun Mas, ampun….”


“Kamu ini bener-bener! Dari kemarin ngeledek terus. Dikira aku main-main ya, aku potong beneran gaji kamu nanti!” Sengit Danar.


“Jangan dong, Mas. Maaf deh…,, kan cuman becanda Mas.” Ari pasang tampang memelas.


“Bikinin Americano!” Titah Danar sambil memutar langkah.


“Kopi, Mas?” Tanya Ari polos.


“Es doger!” Kesal Danar menuju mini stage yang sudah beberapa waktu belakangan ini hanya sebagai hiasan, ia tak lagi perform disana karena kesibukannya di kantor. Pun dengan teman-temannya yang lain yang biasa iseng bermain musik di sana sekedar untuk menyalurkan hobi, mini stage itu sudah cukup lama dianggurin, maka tak heran ketika beberapa pasang mata mendapati Danar naik ke atas mini stage, mereka segera bertepuk tangan.


Padahal Danar belum juga ngapa-ngapain, baru naik doang. Duh, kalo pesona sang bintang mah emang gitu ya! auranya udah menebar kemana-mana.


“Nyanyi nyanyi nyanyi ….” Beberapa pengunjung kedai kompakan memberi semanagt.


Danar hanya melempar senyum, jari-jarinya mulai menari di atas tuts keyboard YAMANA memainkan intro sebuah lagu balad, namun baru beberapa detik ia membuai para pengunjung kedai dengan kelihaiannya bermain keyboar, ponsel dalam saku jeansnya bergetar-getar manja membuatnya menghentikan aksinya.


“Yaah ….” Koor kekecewaan terdengar dari para pengunjung.

__ADS_1


Danar turun dari mini stage begitu mengetahui yang menelponya adalah Bu Elin.


“Ke rumah ibu sekarang!” Titah Bu Elin begitu Danar menerima panggilannya.


Tanpa berani membantah, Danar segera melangkah mematuhi perintah sang ibunda.


“Mas, mau kemana?” Heran Ari yang muncul dengan secangkir Americano.


“Aku pergi dulu.”


“Terus, ini kopinya?”


Danar tak menghiraukan, ia terus berjalan keluar lantas pergi dengan motornya tak mempedulikan Ari yang masih bengong keheranan.


Sepuluh menit berkendara, motor Danar sampai di halaman rumah Bu Elin yang luas. Ia mengedarkan pandangan, taman asri yang menghijau penuh aneka bunga dan tanaman hias.


Bagus, tak ada tamu. Berarti ibu menyuruhku kesini bukan untuk menemui seseorang. Batin Danar yang sedikit trauma mengira Grace datang lagi ke rumah ibunya untuk menemuinya. Danar pun segera masuk dengan perasaan siap untuk dicecar dengan rentetan pertanyaan.


Bi Narih memberitahu jika Bu Elin sudah menunggu di ruang kerjanya. Danar masuk setelah lebih dulu mengetuk pintu. Ruangan luas bercat putih tulang dengan aroma citrus itu langsung menyambut kedatangan Danar.


“Ada apa ibu menyuruhku kesini?” Danar melihat ibunya tengah berkutat dengan laptop di sana.


“Duduk.” Titah Bu Elin dingin.


“Kalo ibu memanggilku hanya untuk menanyaiku kenapa tak mau pergi menemui walikota, sebaiknya Ibu….”


“Ibu belum bicara apa-apa kenapa kamu sudah berprasangka?” Lirikan tajam Bu membuat Danar menghempaskan pantatnya di kursi depan Bu Elin.


Bu Elin menutup laptopnya, memperlihatkan mimik serius. “Ibu perhatikan pekerjaan kamu belakangan ini berantakan.”


“Ya, aku tau. Aku memang salah.” Danar menunduk.


“Jangan bilang kinerjamu menurun karena tak ada Via di kantor.”


Danar menghela nafas kasar, membuang pandangannya ke sembarang arah. “Ini tak ada sangkut pautnya denagn Via. Lagi pula aku menyetujui pengunduran dirinya.”


“Jadi kamu punya alasan lain?”


“Heh…" Danar menghela napas panjang. "Aku akan memperbaikinya.” Ia bangkit ingin sesegera mungkin pergi dari ruangan ibunya.


“Danar, tunggu!” Bu Elin ikut berdiri. “Karena kau mulai kewalahan dalam pekerjaanmu, ibu mengangkat Grace menjadi asisten pribadimu.”


WAAAAT???


Seketika Danar tercengang. “Apa Bu? Asisiten pribadi?” Danar menggeleng tak percaya. “Aku nggak butuh asisiten, aku sudah punya sekretaris.”


“Tidak cukup dengan itu, kamu harus lebih ….”


“Nggak Bu!” Tolak Danar mentah-mentah. “Aku nggak mau Grace kerja bersamaku.”


“Tapi Grace sudah setuju denagn tawaran ibu.” Sambung Bu Elin.


“Jelas aja dia setuju, dia memang sengaja ingin berada terus di dekatku, Bu!”


“Karena dia masih mencintai kamu, Danar.”


“Cukup Bu, jika ibu memaksa Grace menjadi asistenku, aku mundur dari perusahaan hari ini juga.” Tegas Danar.


Bu Elin terdiam. Sungguh tak menyangka ia akan mendapatkan penolakan keras dari Danar. Keputusannya untuk melibatkan Grace dalam perusahaan ternyata adalah kesalahan besar. Danar bahkan lebih memilih untuk melepas semuanya ketimbang berada satu kantor dengan Grace.


“Danar, kenapa kamu begitu keras kepala. Bukalah hatimu, lupakan Via dan terimalah Grace kembali.” Sura Bu Elin memohon.


“Bu, aku sudah pernah bilang soal Via, jangan ungkit dia lagi karena aku tahu dia tidak akan jadi milikku. Tapi jika ibu terus memaksaku menggunakan Grace untuk membuatku melupakan Via, itu malah semakin membuatku sulit melupakannya.”


“Tapi kenapa Danar? Bukankah setiap cinta yang hilang akan bisa tergantikan dengan cinta yang lain?” Bu Elin setengah memaksa.


“Aku sudah tidak mencinta Grace lagi.” Danar berpaling.


“Jangan egois Danar. Tolong biarkan ibu tenang dimasa-masa tua ibu, papamu dan juga ayahmu pasti juga merasa demikian. Kami hanya ingin melihatmu bahagia dengan seorang perempuan yang akan mendampigi hidupmu.”


“Tapi bukan Grace orangnya Bu!” Bersikukuh pada pendapatnya.


“Oke, ibu akan carikan perempuan lain kalau begitu.”


“Perempuan seperti apa lagi yang akan ibu paksakan untukku? Kemarin Riri, sekarang Grace, apa mungkin besok Bi Narih?” Setengah kesal Danar kembali mengempaskan pantatnya ke atas kursi.


“Ibu serius, Danar!”


“Aku pun lebih serius, Bu!” Danar bangkit menyugar rambutnya gusar. “Aku tak bisa terus menerus ibu atur-atur seperti anak kecil. Aku ingin hidup di atas kakiku sendiri. Kalau ibu tetep memaksaku untuk menerima Grace, aku akan benar-benar mudur dari perushaan.” Tagas Danar kembali.


“Danar, Ibu …”


Danar menangkat tangannya mengisyaratkan agar ibunya tak melanjutkan bicara. Diraihnya kedua pundak sang ibu dengan tatapan penuh keyakinan “JIka ibu mengkhawatirkan perusahaan, ibu bisa mengangkat Grace untuk mengurus perusahaan sekalian. Angkat dia jadi CEO.”


“Danar, kamu salah paham.” Bu Elin menatapnya sendu.


“Aku rela melepaskan jabataku, Bu. demi kebaikan perusahaan.” Danar mengulas senyum.


“Tapi bukan itu maksud ibu.” Bu Elin menggeleng menepis tangan Danar.


“Perusahaan memang membutuhkan orang yang cerdas seperti Grace, aku yakin perusahaan akan lebih maju.”


“Kamu sudah benar-benar salah paham denagn maksud ibu. Ibu sama sekali tak ingin Grace menggantikan posisimu, ibu hanya ngin dia membantumu.” Bu Elin menjelaskan.


“Sama saja. Dan aku sama sekali tak keberatan. Sebaiknya ibu bicarakan dulu ini dengan ayah Rian.” Danar mengusap lengan ibunya. “Aku pergi dulu, Bu.” Danar melangkah keluar meninggalkan Bu Elin yang berdiri dengan kelu, niat baiknya ternyata justru menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.


Danar tau ibunya memang sama sekali tak punya niatan sejauh itu, Danar hanya mengambil kesempatan itu untuk lepas sepenuhnya dari semua beban yang mengganggu pikirannya. Danar lega, sungguh sangat lega. Justru ibunya telah membukakan jalan baginya untuk kembali pada kehidupannya yang semula.


❤️❤️❤️❤️❤️


Akhirnya bisa up juga, hehe…..😁😁


Week end gini biasanya libur kerja othor sibuk banget sama kerjaan domestic yang sudah terbengkalai selama 5 hari. Tapi ternyata othor bisa juga nyelesin bab ini meski mungkin agak berantakan yaa… 😅😅


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏


Like udah belum?😊


Kasih komen dong kalo udah like😄


Votenya boleh juga kalo sudi, hihihi….🤭


Maaf kalo ada typo dan beberapa miss ya. jangan lupa dengerin juga audio booknya terpaksa selingkuh by adik Chen Liong ya…😍😍


Sehat-sehat semuanya, happy week end …❤️


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2