TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
209 #PENYESALAN


__ADS_3

Pagi hari sekali saat Danar baru saja akan memulai kegiatannya di Kedai Kopinya, ia mendapatkan kabar Bu Elin jatuh sakit.


Grace


Danar, Tante Elin dini hari tadi ngedrop, sekarang sedang dalam perawatan di Rumah Sakit Permata ruang paviliun 3A. Cepat ke sini, kamu tentu nggak mau kan ibumu kenapa-napa?


Danar cukup terkejut membaca pesan dari Grace, pasalnya ibunya selama ini jarang sekali sakit. Bu Elin adalah tipe orang yang sangat menjaga pola hidup sehat, jadi bisa dihitung dengan jari berapa kali dia sakit dalam usianya yang hampir 60 tahun, itu pun jika ia terlalu kelelahan atau banyak yang dipikirkan tentang pekerjaannya. Ah ya, mungkin saja Bu Elin akhir-akhir ini sedang banyak yang dipikirkan. Tentang sikap Danar yang frontal mungkin itu mempengaruhi kesehatannya.


Danar terdiam sejenak, ada hal yang tak dia sukai pada isi pesan Gace. Kalimat terkhir dalam pesan Grace itu seolah-oleh memojokkannya sebagai orang yang tak mempedulikan ibunya. Tentu saja Danar akan segera ke rumah sakit, dia adalah orang yang paling khawatir tentang kesehatan Bu Elin. Danar segera keluar kedai dan mengunci pintunya karena Ari belum datang. Ia baru saja merogoh sakunya untuk mengambil ponsel mengabari papanya namun ternyata ponselnya berbunyi lebih dulu dan Pak Hadi menelponnya.


“Halo, Pa.”


“Danar, ibumu sakit. Apa kau sudah dapat kabar?” Suara Pak Hadi terdengar datar di seberang.


“Iya, Pa. Ini aku baru mau ke rumah sakit.”


“Jemput Papa sekalian di rumah ya, papa juga mau kesana.”


“Baik, Pa.”


Danar segera menggeber motornya, suasana jalanan yang amsih lengang di pagi hari membuat Danar sampai di rumah lebih cepat. Pak Hadi nampak sudah berdiri di depan gerbang dengan helm ditangannya. Mereka segera meluncur ke rumah sakit di pusat kota. Setelah sampai, Danar berjalan tergesa mencari ruangan perawatan ibunya.


Ceklek


Pintu ruangan dibuka pelan dan wajah Danar muncul diikuti Pak Hadi. Grace dan Pak Rian yang berada di dalam serempak menoleh ke arah mereka.


“Yah, gimana keadaan ibu?” Danar mendekati bed ibunya.


Pak Rian berdiri memberikan kursinya untuk Danar duduk di samping ibunya. “Ibumu hanya kelelahan, ia sudah minum obat dan sekarang sedang tidur.” Ucap pak Rian dengan wajah lelah, dia pasti begadang menahan kantuk karena menunggui istrinya.


“Ayah pulang aja, biar aku yang jaga ibu disini.” Danar memberikan pengertian.


“Ayah mau ke kantin dulu cari kopi.” Pak Rian kemudian menepuk pundak Pak Hadi. “Mas, apa kau mau ikut aku ngopi di kantin rumah sakit?”


Sejenak Pak Hadi melihat pada Danar seolah meminta pertimbangan, namun Danar yang tengah serius mengamati wajah pucat ibunya tak memberikan respon sehingga Pak Hadi pun menyetujui ajakan Pak Rian. Mereka segera keluar ruangan. Grace merasa ini adalah kesempatan yang bagus baginya untuk bicara pada Danar.


Grace memperhatikan Danar yang sedang mengusap lembut punggung tangan ibunya. Raut kesedihan jelas membayang pada raut tampan sang mantan kekasihnya itu. Danar sangat terpukul dengan keadaan Bu Elin. Wajah ibunya yang selalu ceria dan memancarkan semangat kini terlihat sangat pucat. Bu Elin memang tak punya riwayat penyakit yang serius, namun tentu saja melihat keadaan ibunya lemah seperti itu hati Danar bagai tersayat-sayat. Wanita yang sedang terbaring lemah di depannya itu adalah orang yang telah mencurahinya kasih sayang semenjak ia belum dapat mengingat dengan baik siapa wanita yang telah mengandung dan melahirkannya. Bu Ein mencintai Danar tanpa mengesampingkan Rani sahabat baiknya yang merupakan ibu kandung Danar. Hati Bu Elin sangat tulus, sungguh Danar merasa sangat berdosa jika memang dirinya adalah penyebab sakit yang menimpa ibunya.


“Danar.” Grace sudah berdiri di samping Danar. “Aku rasa Tante Elin ngdrop karena terlalu memikirkan kamu.” Lanjutnya lirih


Benar saja kan? Dirinya pasti oang yang akan disalahkan dalam hal ini. Namun Danar bergeming, ia masih diam memandangi wajah sang ibunda.


“Aku rasa ada baiknya kamu kembali lagi ke kantor. Lusa akan ada rapat para pemegang saham, kita kondisikan semuanya karena berita pengunduran diri kamu sudah menyebar. Kita pasti bisa memperbaiki semuanya.” Tutur Grace masih dengan suara lirih.


Kita? Pede banget dia menyebut antara aku dan dia dengan sebutan kita? Memangnya dia seyakin itu aku bakalan menuruti kata-katanya? Tapi tunggu! Grace tau tentang perusahaan? Berarti dia memang benar sudah bergabung di perusahaan ibu?


Danar mengusap wajahnya, perlahan ia menoleh pada Grace yang masih setia berdiri di sampingnya. “Grace, bisa tolong tinggalkan aku sama ibu berdua saja?”


Gluk!


Meski sempat terkejut namun Grace tetap berusaha tersenyum. “Baiklah, kamu pasti butuh waktu untuk memikirkan ucapaku barusan.” Ucapnya kemudian menyambar tas slempangnya di pojok ruangan.


Danar menyandarkan punggungnya pada sandaan kursi sembari menghela napas panjang seolah hendak membuang semua resahnya. Dia tak mungkin tak peduli pada ibunya, tapi untuk kembali ke perusahaan adalah bukan pilihan yang tepat untuknya, terlebih lagi sekarang ada Grace di sana. Baginya lebih baik mengenakan kaos oblong dengan apron baristanya bercucuran peluh bersama coffee grindernya ketimbang memakai setelan kemeja dan jas berdasi rapi duduk di kursi empuk ruangan nyaman ber–AC, karena itu sama sekali bukan dirinya. Sudah dia coba beberapa waktu, dan dia seperti menjadi orang lain.


Benak Danar terusik ketika Bu Elin menggerakkan kepalanya perlahan. Danar segera mendekatkan posisinya. Kedua netra Bu Elin mengerjap, pelan dia membuka matanya dan senyum tipis segera mengembang di bibir pucatnya.


“Danar, anak ibu ….” Ucapnya lemah seraya berusaha mengangkat tangan kananya. Danar segera menggapainya dan menangkupkan pada pipinya.


“Iya, Bu. aku disini, ibu jangan khawatir ya.” Lirih Danar balas tersenyum.


Bu Elin mengangguk samar. “Ibu tau kamu masih menyayangi ibu.”

__ADS_1


Ahh…., kenapa ibunya berkata sepeti itu? Seolah-olah dia sudah betahun-tahun mengabaikannya. Hati Danar bagai tecubit, sikapnya beberapa waktu belakangan ini tentu saja membuat ibunya kecewa. Danar meletakkan kepalanya disambing pundak sang bunda, tangan kanannya merangkul pundak Bu Elin sebelahnya. Danar tak ingin bicara, dia hanya menunjukkannya dengan sikap bahwa betapa dia masih sangat menyayangi ibunya dan akan selalu seperti itu smapai kapanpun.


“Sudah lama sekali ya kamu nggak manja-manjaan seperti ini sama ibu?” Ucapan Bu Elin kembali membuat perih di hati Danar. “Terakhir kali kamu memeluk ibu sambil menangis waktu kamu baru lulus SMP. Saat itu ayahmu menyuruhmu masuk SMK agar bisa mengambil jurusan akuntansi, tapi kamu kukuh menolak dengan alasan kamu anak laki-laki tak mau masuk SMK dengan jurusan akuntansi.”


Danar mengusap kedua netranya yang mulai mengembun, bagaimana ibunya bisa tau kalau saat ini dia juga sedang menangis, atau tepatnya hampir menangis jika ia sendiri tak cepat-cepat menghapus genangan air di matanya itu.


“Danar, kamu memang punya prinsip dan pendirian yang sangat kuat. Ibu bangga padamu, Nak.” Danar merasakan belaian lembaut di kepalanya. “Kamu telah tumbuh menjadi laki-laki matang yang sangat membanggakan ibu.”


Perlahan Danar melepaskan tangan dari pundak ibunya, ditatapanya wajah sang ibu sendu. “Bu, maafkan aku ya…..” Hanya kalimat itu yang mampu Danar ucapkan. Ia tak ingin banyak berkata-kata karena takut semakin membuat ibunya kecewa. Semua ucapan ibunya barusan membuat hatinya semakin sakit dan berdosa.


“Kenapa harus minta maaf? Ibu yang paling bersalah Danar, ibu selalu menginginkanmu menjadi seperti apa yang ibu mau.” Bu Elin terdaim, menatap kedua manik coklat di depannya dalam. “Padahal ibu ini hanyalah ibu angkat.”


JLEB!


Sakit sekali hati Danar mendengarnya. Apa sesakit itu pula batin ibunya mengatakan hal itu? Danar menggeleng, diraihnya jemari sang ibu diciumnya penuh penyesalan. “Ibu sangat berarti buatku, ibu yang telah mengajarkanku banyak hal. Tolong jangan berkata seperti itu, Bu.”


Bu Elin tersenyum, kali ini sebih jelas dari sebelumnya. “Makasih ya Nak, karena kamu telah mewujudkan keinginan perempuan tua ini seperti apa rasanya mempunyai seorang anak. Ibu benar-benar beruntung memiliki putra sepertimu, mamamu juga pasti sangat bangga melihatmu di alam sana.” Cairan bening merembes dari kedua sudut mata Bu Elin yang redup, Danar megusapnya penuh kasih sayang.


Tak ada kata-kata lagi di antara mereka, keharuan mengisi kedua relung hati terdalam sepasang ibu dan anak angkat yang sudah berpuluh tahun saling mengasihi itu. Ruangan putih diselimuti keheningan yang menyejukkan. Senyap, tak ada suara apa-apa bahkan detak jarum jam sekalipun. Kantung infus masih menitikkan cairannya setetes demi setetes menunggu dengan sabar tiba waktunya habis mengisi daya pada yang empunya raga utuk cepat pulih.


“Bu …


“Danar …”


Keduanya buka suara hampir bersamaan, agaknya ada satu unek-unek lagi yang belum mereka tersampaikan.


“Kamu dulu, mau bilang apa sama ibu, Nak?” Bu Elin tersenyum.


“Nggak, aku cuma tanya apa ibu mau sesuatu? Ibu lapar, atau ingin minum?” Danar melihat aneka buah-buahan di atas nakas.


Bu Elin menggeleng samar. “Ibu cuma mau bilang ….” Bu Elin menjeda kalimatnya sebentar untuk menelisik raut wajah putra angkatnya lebih dalam. “Ibu nggak akan lagi memaksamu untuk kembali ke perusahaan ataupun menikah dengan Grace.”


Deg!


“Kenapa diam? kamu nggak seneng ya?” Tegur Bu Elin menyadarkan angan Danar. “Tetaplah menjadi dirimu sendiri, sebagai orang tua ibu rasa ibu terlalu egois selama ini.”


“Bukan begitu, Bu ….” Danar menunduk, ia tak sanggup menatap sorot netra penuh kasih yang sudah dikecewakannya itu.


“Kamu sedih? Apa kamu sedih karena nggak jadi nikah sama Grace atau ….”


“Tentu saja bukan.” Danar seketika mengangkat wajahnya membantah dugaan ibunya.


Bu Elin tersenyum, bahkan ingin tertawa demi melihat raut wajah Danar yang kesal setiap kali mendengar nama Grace. Bu Elin meringis memegahi pelipisnya, kepalanya masih terasa pusing.


“Aduh, kepala ibu pusing tapi ibu pingin ketawa melihat ekspresimu tadi.” Kekeh Bu Elin pelan.


Danar mendengus. “Memangnya ada yang lucu?”


“Kamu itu persis sekali denagn Rani. Dia selalu mudah tersenyum, tapi gampang sekali cemberut kalo aku meledeknya.” Bu Elin mengenang sahabat baiknya. “Tentu saja sikap keras kepalamu itu juga menurun darinya, selain memang dari papamu yang hidupnya tak suka di atur itu.” Bu Elin menyeka sudut matanya yang mulai kembali berair. Tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan bahagia. “Kalo dipikir-pikir Rani dan Mas Hadi memang beneran cocok, ya… walaupun jodoh mereka sangat sebentar. Tapi mereka mempunyai kesamaan. Sama-sama keras kepala, kuat pada pendirian. Dan kamu mewarisinya.”


Danar tersenyum, ia selalu merindukan mamanya setiap kali ibunya itu menceritakan hal mengenainya.


Ceklek


Krieet….


Pak Hadi muncul beriringan dengan Pak Rian membuat Danar menoleh untuk melihat siapa yang datang.


“Wah, kayaknya ibumu udah kelihatan seger? Apa dia sudah boleh pulang hari ini ya?” Ucap Pak Rian yang melihat binar ceria pada wajah istrinya, ia berdiri mengusap puncuk kepala istrinya. “Ibu kayaknya seneng banget, habis bahas apaan sama Danar?”


“Nggak usah kepo, Yah!” Meski dengan suara lemah Bu Elin tetep bisa ketus juga pada suaminya membuat Danar dan Pak Hadi tertawa.

__ADS_1


“Yan, kamu pulang aja dulu istirahat. Biar Herlina aku dan Danar yang menjaganya.” Ucap pak Hadi.


Bu Elin mengangguk setuju.


“Baiklah kalo kalian memaksa.” Pak RIan tersenyum lebar.


“Nanti siang kesini lagi ya Yah, ibu beneran sudah baikan dan mau segera pulang.” Ucap Bu Elin pada suaminya.


“Iya, nanti biar Danar yang tanyakan sama dokter.” Pak Rian melihat pada Danar.


“Baik, Yah.”


“Ibumu sudah kangen pingin berduaan sama Ayah, makanya dia mau cepat-cepat pulang.” Pak Rian sengaja berbisik dengan suara yang masih dapat didengar Bu Elin.


Bu Elin mencebik meskipun kemudian meringis lagi karena kepalanya kembali berdenyut.


“Ayah pulang dulu ya, Bu. Jangan lupa sarapan dan minum obatnya.” Pesan Pak Rian seraya mendaratkan kecupan singakat di kening sang istri kemudian keluar ruangan.


“Danar, kamu nggak sarapan Nak?” Tanya Bu Elin.


“Nanti aja Bu.”


“Sarapan dulu sana, ibumu biar papa yang nungguin.” Titah Pak Hadi yang tentu saja tak bisa Danar bantah karena sebenarnya perutnya juga sudah mulai keroncngan.


“Iya Pah. Apa ibu mau dibelikan seuatu?” Tanya Danar pada ibunya.


“Nggak, sebentar lagi juga suster datang bawakan sarapan ibu.”


Danar mengangguk. “Nanti aku yang suapin ibu ya.” Ucapnya kemudian keluar ruangan.


Belum sempat ia melangkahkan kaki, dari kejauhan Grace berjalan mendekat dengan gelas plastik di tangannya.


“Danar, ini kopi buat kamu.” Ucap Grace dengan senyumnya yang selalu menawan.


Danar tak langsung menerimanya, membuat Grace berdecak agak kesal. “Jangan khawatir, aku nggak akan memintamu membayarnya seperti kamu malam itu.”


Danar tersenyum membuat hati Grace berflower, ia kira candaannya lucu. Namun Danar kembali pada mode juteknya. “Aku nggak minum kopi racikan orang lain. Makasih ya udah repot-repot.”


Andai saja yang mengucapkan kalimat itu bukan Danar, sudah dipastikan kopi panas itu pindah ke muka orang yang ngomong barusan. Grace teramat kesal dengan penolakan Danar, namun ia hanya bisa menahannya. Ia tatap punggung Danar yang mejauh, dengan menghentakkan kaki ia lemparkan gelas plastik berisi kopi hitam itu ke taman depan ruang perawatan Bu Elin.


“Mbak, Maaf. Tolong jangan membuang sampah sembarangan.” Seorang suster yang entah nongol darimana tiba-tiba menegur Grace. Suster itu berdiri di belakang Grace dengan wajah tak habis pikir, kenapa wanita yang berpenampilan apik dan terlihat berpendidikan mempunyai kelakuan minus seperti itu.


Grace tersenyum untuk menutupi malunya. “Maaf Sus, aku nggak sengaja.”


“Tolong buang sampah pada tempatnya. Setiap pegunjung harus ikut menjaga kebershan rumah sakit ini.” Suster mununjuk tempat sampah di dekat pilar sebelah kanan teras kamar.


Dengan raut kesal campur malu Grace kembali memungut gelas yang tadi dilemparkannya. Sang suster masuk ke ruangan dengan mendorong kereta berisi hidangan untuk sarapan Bu Elin.


❤️❤️❤️❤️❤️


Neng Grace, sabar ya Neng …..😅😅


Wah Bu Elin udah menyadari kesalahannya tuh, terus apa Grace masih bakalan ngejar-ngejar Danar lagi ya…?🤔🤔


Tungguin bab selanjutnya ya Kak …🤩🤩


Makasih sudah membaca🙏🙏


Like ya jangan lupa😍


Komen lagi Kak, othor suka bacain komen-komennya bikin semangat….😄😄

__ADS_1


Vote boleh banget…😉😉


Tetap jaga kesehatan ya, I love you all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2