TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
60 #DILUAR SCRIPT


__ADS_3

Suster masuk membawakan sarapan untuk Tuan Husein. Azad mengusap wajahnya yang masih mengantuk.


“Papa saya kapan boleh pulang, Sus?” Tanya Azad pada suster yang hendak keluar ruangan.


“Kita tunggu hasil visit dokter ya, Pak. Jika keadaan ayah anda stabil, kemungkinan nanti sore sudah diperbolehkan pulang.” Terang suster.


“Terima kasih, Sus.”


Suster mengangguk lalu keluar ruangan. Tuan Husein menoleh melihat pada putranya yang berdiri gusar.


“Azad …” Panggil Tuan Husein lirih.


“Papa? Papa sudah siuman?” Azad yang tak mengetahui kalau ayahnya sudah sadar nampak kaget.


“Papa baik-baik saja, jangan khawatir.” Ucap Tuan Husein lemah.


“Iya, Pa. aku tahu Papa pasti pulih. Sebentar, aku panggilkan …”


Azad hendak memencet tombol di atas bed ayahnya untuk memanggil perawat, namun Tuan Husein mengangkat tangannya lemah menandakan ia tak ingin Azad melakukan itu.


“Nanti juga dokter pasti datang.” Ucap Tuan Husein. “Dengarkan Papa. Kamu sekarang harus temui Tuan Alatas. Katakan padanya jika kita tak kan melepas perusahaan … “


“Jadi benar, papa begini karena dia?” Potong Azad menahan jengkel karena tak ingin membuat keadaan ayahnya semakin memburuk.


Derit sura pintu terdengar membuat Azad menoleh, ternyata Nyonya Husein yang datang beserta seorang pelayan yang menemaninya.


“Papa …” Nyonya Husein langsung menghampiri dengan senyum bahagia begitu melihat suaminya telah sadarkan diri.


Azad berdiri untuk membiarkan ibunya duduk di samping ayahnya.


“Mama sangat takut kemarin, Pa. Papa pingsan dalam perjalanan ke rumah sakit setelah mama berikan nitrogliselin. Mama takut terjadi hal buruk pada Papa …”


Tuan Husein tersenyum untuk menenangkan istrinya yang hampir menangis. Azad melihat pemandangan itu dengan haru. Ayahnya yang gagah dan tegas kini terpaksa harus terbaring dengan selang oksigen dan infus, dan itu semua gara-gara perbuatan Alatas.


“Ma, aku mau pulang dulu. Nanti aku kesini lagi.” Pamit azad.


Nyonya Husein mengangguk, Azad keluar setelah berpesan pada pelayan untuk siaga menemani orang tuanya.


__


“Mas, kamu nggak mau cari Sofi? Semalam kayaknya dia nggak pulang.” Ucap Via pada suaminya yang santai di ruang tengah.


“Kenapa harus dicari? Kan malah bagus dia udah pergi dari sini?” Sahut Mirza cuek.


Via duduk di samping suaminya. “Mas yakin dia nggak bakal balik ke sini?”


Mirza merangkul pundak Via. “Bisa nggak kita nggak usah ngomongin dia dulu. Kita nikmati suasana rumah yang tenang dan damai ini tanpa perempuan tak tau malu itu.” Ujar Mirza memamerkan senyum manisnya.


Via hanya menghela napas. Memang benar, Susana akan kembali damai an tenang tanpa kehadiran Sofi. Tapi masalahnya Via sendiri tak yakin kalau Sofi akan menyerah begitu saja.


“Oya, sayang. Aku hampir lupa.” Tukas Mirza kemudian yang teringat sesuatu.


“Ada apa, Mas?”


“Kemarin sore Mas dapat telpon dari perusahaan pelayaran, katanya Mas lusa harus medical check up yang pertama sebelum nanti akan pergi berlayar lagi.”


Via menoleh seolah meyakinkan dengan apa yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


“Mas udah mau pergi lagi?” Ucapnya dengan tatapan sayu.


Mirza membelai pipi istrinya lembut.


“Kenapa? Kamu takut Popayemu ini nggak akan balik lagi ya? Tenanglah Oliveku sayang, aku pasti kembali.” Mirza memeluk Via.


Via mendorong dada Mirza. “Kok Mas udah kaya Yana aja sih, pake Popaye sama Oliv ngomongnya? Aku nggak suka!” Via merengut.


Mirza malah terkekeh melihat tingkah istrinya.


“Jangan ngambek dong, nanti Mas lahap kamu lagi kayak semalam.” Canda Mirza menjawil dagu Via sambil tersenyum menggodanya.


“Ih! Dasar laki-laki Omes!” Via memukul- mukul dada suaminya kesal, tapi justru senyum Mirza makin lebar dan kembali menarik Via ke dalam pelukannya.


“Tapi kamu suka kan sama laki-laki omes ini?" Mirza memainkan kedua alisnya turun naik. "Buktinya permainan kamu semalam luar biasa, sayang.” Bisik Mirza di telinga Via dan kontan saja wajah Via merona MEJIKUHIBINIU kayak warna pelangi dibuatnya.


Satu cubitan maut langsung mendarat di pinggang Mirza.


"Aawwwh..." Mirza meringis kesakitan melepaskan Via dari pelukannya.


“Rasain!” Cibir Via kesal


__


Bu Een memberikan semangat pada Sofi untuk kembali ke rumah Mirza. Dia berjanji akan selalu siap siaga jika Sofi membutuhkan bantuannya kapanpun. Bu Een meminta maaf soal semalam karena kecapekan tokonya tutup lebih awal dan ponselnya tertinggal di toko.


“Baiklah, Bu. Aku akan mencobanya sekali lagi.” Putus Sofi.


“Jangan hanya sekali, tapi harus berkali-kali sampai wanita itu benar-benar pergi dari hidup Mirza.” Tegas Bu Een.


Sofi mengangguk, ia patuh sudah seperti anak sendiri pada Bu Een.


“Nggak usah, Bu. Aku masih punya vitamin dan obat penghilang nyeri dari dokter kalo sindromku kumat.”


“Baguslah kalo begitu. Kamu harus cepet balik lagi ke sana, biar Udin yang antar kamu.”


Bu Een segera keluar untuk menemui Udin diikuti sofi.


“Din!” Panggil Bu Een nyaring.


Udin segera menghampiri. “Ya, ada apa, Bu?”


“Antar Sofi pulang ke rumah Mirza.” Perintah Bu Een.


Tanpa banyak kata, Udin langsung mengambil motor dari garasi.


“Eh, kenapa naik motor? Pakai mobil saja! Nanti calon cucu saya masuk angin kalo naik motor!” Cegah Bu Een sambil mengusap perut Sofi. “Untung kamu semalam nggak kenap-napa, Sof.” Lanjut Bu Een.


Sofi hanya tersenyum mendapat perhatian yang begitu besar walau Bu Een itu belum resmi jadi ibu mertuanya.


Udin menurut, dia segera mengeluarkan mobil dari garasi.


“Oya, Din. Saya mau ingatkan kamu, bahwa mulai sekarang kalau Sofi hubungi kamu maka wajib hukumnya bagi kamu untuk siap siaga membantunya. Jangan kayak semalam, kamu tak mau terima telponnya sampe ratusan kali ditelpon! Kebiasaan kamu!”


“Tapi saya semalam …”


“Stop!” Potong Bu Een tak mau mendengarkan penjelasan Udin.

__ADS_1


Udin langsung ngiyem.


“Saya nggak mau tahu. Pokoknya, satu kali panggilan Sofi nggak kamu jawab, saya potong gaji kamu 10%. Dua kali panggilan tak terjawab 20%, tiga kali 30%, dan seterusnya!”


“Wah, bisa habis dong gaji saya kalo gitu, Bu.” Sungut Udin memelas.


“Nggak usah banyak protes!” Bu Een melotot galak. “Itu peraturan undang-undang ketenagakerjaan yang baru dan saya resmikan mulai hari ini berlakunya, titik!”


Udin hanya bisa mengurut dada menahan diri untuk bersabar. Ia baru saja merasa kalau majikannya itu kini sudah berubah lebih kejam dari Firaun!


Sepanjang perjalanan ke rumah Mirza, tak henti-hentinya Udin merutuki dirinya sambil sesekali melirik sofi yang duduk di sampingnya.


Semua ini gara-gara kehadiran selingkuhan Mas Mirza ini! Huh, bikin susah orang yang memang sudah susah! Lagi juga udah tau Mas Mirza nolak dia mentah-mentah masih aja ni perempuan nyamperin. Dasar nggak tau malu! Cantik-cantik sayang akhlaknya minus!


“Kenapa kamu? Kok curi-curi pandang gitu sama aku?” Tegur Sofi yang sadar dirinya diperhatikan diam-diam sama Udin.


“Idih, jangan ge er deh, Mbak! Siap juga yang curi-curi pandang? Mendingan juga curi ayam tetangga, lumayan buat lauk makan!” Sahut Udin sebel.


“Huh, dasar norak!”


Mendingan norak daripada situ nggak tau malu! Balas Udin dalam hati.


 


__


Mirza sedang membantu Via mengganti taplak meja ruang tamu ketika terdengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Mirza mengintip dari balik tirai jendela melihat siapa yang datang. Ternyata itu mobil ibunya, Mirza melihat Sofi turun. Maka cepat-cepat ia mencari Via.


“Sayang, sini deh!” Panggil Mirza menarik tangan Via untuk ikut ke sofa ruang tengah.


“Apaan sih, Mas? Aku belum selesai mengganti sprei kamar belakang." Protes Via. "Katamu kita harus bikin lebih banyak lagi cucian kotor buat ngerjain Sofi kalo balik lagi kesini?” Lanjut Via setengah sebal karena Mirza main tarik aja tangannya.


“Justru itu, dia udah ada di depan!”


“Hah? Serius?” Via tak percaya secepat itu Sofi kembali ke rumahnya.


“Iya. Makanya sini, cepetan!” Mirza mengajak Via untuk duduk di sofa ruang tengah.


“Kita mau ngapain?” Tanya Via heran.


Mirza tak menyahut, dia membuka dua kancing atas dress via dan mendorong tubuh Via rebah di atas sofa kemudian menindihnya.


“Mas kamu mau …”


Belum sempat Via melanjutkan kalimatnya, Mirza sudah membungkam mulut Via dengan bibirnya hingga terpaksa Via menerima ciuman dadakan yang hot itu. Tak sampai di situ, ketika pintu depan terdengar dibuka, bibir Mirza semakin liar membuat Via sedikit kewalahan, lantas beralih merayap ke bagian leher Via untuk membuat tanda kepemilikkan disana. Via mendesah tertahan dibuatnya, Mirza semakin menggila dan melanjutkan aksinya sehingga desahan demi desahan lolos begitu saja dari bibir Via dan itu membuat langkah Sofi terhenti di ruang tengah yang dekat dengan kamarnya. Matanya nanar melihat adegan panas yang terpampang jelas di hadapannya.


Mirza tau Sofi pasti melihatnya maka dia mengulangi kegilaannya yang sebenarnya sama sekali tak ada dalam skenario untuk mengusir Sofi. Mata Sofi memanas, tangannya mengepal, tubuhnya gemetar. Dengan langkah lebar dia menuju kamarnya.


BRAAK!!


Sofi membanting pintu kamar dengan keras.


____


Fiuh! Nafas dulu ya Kak, cooling down sebentar, hehe…. 😂😂😂😅😅😅


Makasih banyak buat akak-akak tersayang yang udah setia hadir di karyaku🙏🙏😘😘

__ADS_1


Selalu dukung author dengan like, komen, rate 5 juga vote ya Kak❤️❤️❤️


Luv u all😘😘🤗🤗


__ADS_2