
Rembulan mengintip di balik awan mendung, desau angin malam membuat kulit meremang. Pukul 01.05 dini hari, mobil Via yang dikemudikan Danar sampai di rumah sakit bersalin. Setengah berlari Danar memanggil suster jaga.
Derap langka-langkah cepat suster mendorong brangkar menuju ruang IGD dengan Via berada di atasnya menahan nyeri yang semakin lama semakin cepat durasinya. Peluh mulai mengembun di kening Via, Danar mengimbangi langkah dua orang suster di depannya.
“Maaf, Pak. Mohon tunggu diluar saja,” seorang suster menghadang langkah Danar yang hendak ikut masuk ruang IGD.
“Tapi, Sus –“
“Kami akan berbuat yang terbaik untuk istri Anda,” suster menutup pintu ruang IGD tanpa menunggu Danar menyelesaikan kalimatnya.
Rasa cemas yang teramat sangat menuntun pikiran Danar untuk menghubungi Mirza. segera dirogohnya ponsel dalam saku kemejanya.
Nut
Nut
Nuut
Terdengar beberapa kali nada sambung sampai panggilan berakhir dengan sendirinya. Kesal dengan orang yang dihubunginya tak menjawab panggilan, Danar mencoba sekali lagi. Namun hasilnya sama saja.Mencoba lagi, lagi, lagi dan lagi. tetap nihil!
Jemarinya baru saja hendak mengetik pesan untuk Mirza ketika satu panggilan masuk dari Tia mengurungkan niatnya.
“Halo, Mbak –“
“Danar, gimana Via? Apa sudah dapat penanganan?” suara Tia penuh kekhawatiran di seberang.
“Sudah masuk ruang IGD mbak.”
Tiba-tiba pintu ruang IGD dibuka, seorang suster keluar dan Danar segera memburunya.
“Suster, gimana keadaan Via?” Tanya Danar pada suster yang tadi melarangnya ikut masuk.
“Istri Anda baru pembukaan 4, kondisinya cukup baik dan stabil, kami akan pindahkan ke ruang bersalin.”
“Mak –maksud suster?”
Belum sempat suster menjawab tanya Danar, brangkar Via di dorong keluar dengan jarum infus sudah menancap di pergelangan tangan kanan Via. Danar berjalan cepat menghampiri.
“Vi, kamu baik-baik aja kan? Sabar ya, kamu pasti kuat.” Reflek meraih jemari kiri tangan Via.
Hanya anggukan samar yang diberikan Via sebagai respon, kemudian suster membawanya ke ruang bersalin.
“Danar, Danar … Halo!” suara Via terabaikan tenggelam dalam saku kemeja Danar.
“Oh, maaf Mbak.” Meraih ponselnya kembali.
“Giaman keadaan Via? Mbak denger tadi kamu bicara sama suster,” terdengar semakin panik.
“Udah pembukaan 4 katanya Mbak,” berujar agak ragu, karena baginya -lelaki yang masih awam tanpa pengetahuan apa-apa soal kehamilan dan persalinan, kata ‘pembukaan 4’ itu sungguh asing di telinganya. Apanya yang buka sampai 4? Terus suruh buka sampai berapa? Begitu kira-kira pikir Danar.
“Mbak nitip Via ya, maaf selalu ngerepotin kamu. Riri sama ibu dan Toni sudah berangkat dari rumah kok, mungkin setengah jam lagi sampai.”
“Iya Mbak, tenang aja. Aku akan jagain Via disini,” ucap Danar yakin. “Emh, Mbak. Apa Mirza udah tau?” tanyanya kemudian.
“Belum. Sejak Via masih di rumah, Mbak coba telpon dia tapi nggak diangkat-angkat.” Tia terdengar agak kesal.
Danar mengakhiri panggilannya dan segera melanjutkan mengetik pesan untuk Mirza.
Za, datang ke Rumah Sakit Bersalin Kasih Bunda sekarang. Via akan melahirkan.
Singkat, padat, dan jelas isi pesan Danar untuk Mirza. ia kembali menyimpan ponselnya dan menyusul Via ke ruang bersalin. Seorang dokter spesialis kebidanan baru saja keluar darisana.
“Dokter,” panggilan Danar menghentikan langkah dokter berbadan agak gemuk berkaca mata yang melitas di depannya itu.
“Ya?”
“Kira-kira berapa lama lagi Via akan melahirkan?”
Dokter perempuan berusia sekitar setengah baya lebih itu malah tersenyum, “sabar ya, Pak. Kita tunggu sampai pembukaannya sempurna.”
“Pembukaannya sempurna?” ulang Danar dengan wajah polos alias bingung alias nggak mudeng!
Tersenyum lagi, “ini pasti anak pertama ya?”
Gluk!
Susah payah Danar menelan salivanya. Apa dia harus mengangguk? Ataukah dia lebih baik menggeleng?
“Lamanya proses pembukaan pada persalianan relatif lama dan berbeda satu orang dengan lainnya, namun yang terjadi pada istri Anda sungguh diluar dugaan. Dari pertama dia merasakan mulas, sampai sekarang sudah mencapai pembukaan 4 hanya kurang dari tiga jam saja.”
“Jadi Via akan melahirkan sekitar jam berapa, Dok?” Danar tak sabar.
Dokter itu melihat arloji di pergelangan tangan kirinya, “lepas subuh saya chek lagi. Saya tinggal dulu ya, sebaiknya Anda damping istri Anda di dalam. Insya Allah istri Anda akan melahirkan secara normal.” Berlalu meninggalkan Danar dengan wajah penuh tanda tanya.
Memberanikan diri dengan langkah agak ragu membuka pintu kamar bersalin, dua orang suster yang tadi bersama Via entah ngilang kemana. Kini tinggal Via sendirian disana, kedua pasang mata itu tak sengaja bertumbuk ketika Danar hampir mencapai pinggir bed.
“Maaf, aku selalu menyusahkanmu,” lirih Via dengan pandangan menunduk.
Hanya menggeleng, “seharusnya Mirza ada disini,” ucap Danar pelan namun masih dapat terdengar jelas oleh Via.
__ADS_1
Tes.
Dua butir Kristal bening menitik besamaan, pedih dan nyeri yang dirasakan Via kini. Menjelang melahirkan adalah momen mendebarkan bertaruh nayawa demi sang buah hati, dan pastinya sangat ingin sang suami berada di sampingnya untuk memberi kekuatan, namun keadaan jualah yang membuatnya seperti ini.
Rasa bersalah singgah di hati Danar, harusnya dia tak berkata seperti tadi hingga membuat Via bersedih. “Maaf,” ucap Danar akhirnya.
“Aaawhh…. “ meringis karena tiba-tiba mulas menyerang kembali.
“Vi –“
“Owhhh,ssshhh ..... “
“Tunggu ya, aku segera panggilkan suster,” berjalan cepat keluar melupakan tombol darurat di samping bed Via begitu saja.
Sebelum mencapai tempat suster, Danar berpapasan dengan Riri dan Bu Harni yang sedang menuju ruangan Via.
“Mas Danar!” panggil Riri mendekat.
“Ri,”
“Danar, kok kamu ada disini?” Bu Harni yak bisa menyembunyikan keheranannya.
“Iya Bu, saya mau panggil susuter dulu. Ibu terus aja kesana, ruangannya di depan itu.” Danar memberikan petunjuk kemudian melanjutkan langkahnya.
Bu Harni dan Riri berjalan cepat mengikuti arahan Danar, mereka segera memburu Via begitu berhasil menemukan ruangannya.
“Vi, kamu gimana keadaannya Nak?” Bu Harni mengusap kening Via diliputi kecemasan yang teramat sangat.
“Sakit sekali, Bu. awwh…. “ Via kembali metintih memegangi panggulnya yang terasa nyeri.
“Sabar ya Mbak, sabar. Mbak Via pasti kuat.” Riri mengusap-usap lengan kiri Via. Suster mucul kemudian.
“Maaf, semuanya boleh menunggu di luar saja, ruangan ini harus streril.” Ucap suster.
“Tapi saya ibunya, Sus.”
“Silakan satu orang saja yang mendampingi pasien.” Ucap susuter lagi.
“Aku tunggu di luar aja, Bu.” Riri akhirnya yang memilih keluar persis bersamaan dengan Toni yang baru sampai depan ruangan dengan segudang barang bawaannya, dari mulai tikar, bantal, termos air panas, ember, selimut, dan masih banyak pernak pernik yang ada dalam jinjingannya membuatnya mirip orang mau camping.
“Tega banget sih Yang kamu ninggalin aku kerepotan sendirian kayak gini?” sungut Toni dengan wajah memelas begitu melihat kekasihnya.
“Mas Danar kamana tadi?” alih-alih membantu Toni menurunkan barang bawaanya, Riri malah menanyakan keberadaan Danar.
“Kamu nanyain laki-laki lain saat aku lagi kesusahan kayak gini?” menatap Riri tak habis pikir. “sungguh ter-la-lu!” sambung Toni dengan sangat kesal.
“Apaan sih? Nggak usah lebay deh!” Cebik Riri.
“Ngarepin gimana? Jangan nagco deh!”
“Terus, kenapa kamu tau-tau nanyain dia? peduli banget kamu sama dia?”
“Toni, udah ya. aku nggak mau ribut, disini Rumah Sakit.” Mendelik dengan tak kalah kesalnya.
“Yang bilang disini rumah makan siapa?”
“Toni …., kamu itu bener- benerrrr ….” Riri geregetan, ia hampir meledak saking kesalnya si Toni cemburu nggak tau waktu dan tempat.
“kenapa? Kamu nggak terima aku bilangin masih ngarepin Mas Danar?” Toni memberikan semua barang bawaannya secara paksa pada Riri. “Nih! Ambil ini semua, aku kesel sama kamu! Udah dibela-belain tengah malam nganterin kesini, mana pake drama ban motor bocor segala, nggak taunya sampe sini kamu malah lebih merhatiin laki-laki lain daripada aku yang kerepotan dengan semua barang-barang ini!” Omel Toni.
“Jadi kamu nggak ikhlas?” Riri sampe hampir oleng karena kerepotan dengan semua barang yang tiba-tiba memenuhi kedua tangannya.
“Iya, aku nggak ikhlas. Dan aku mau pulang sekarang!” Toni balik badan meninggalkan Riri.
Tak percaya dengan yang dilakukan sang kekasih, Riri meletakkan semua barang-barang itu dia atas kursi tunggu dan segera menyusul langkah Toni.
“Toni, berhenti!” Panggil Riri.
SREEET
NGIIK!
Toni mengerem langkahnya dan berbalik. “Ada apa? Nggak usah kamu ngelarang-ngelarang aku segala?”
“Jangan GR! Siniin kunci mobilnya!” menengadahkan tangannya. “Itu kan mobil aku, kalo kamu mau pulang, jalan kaki aja sana!”
DOENG!
Dalam sepersekian detik wajah kesal Toni langsung berubah drastis. Ia ukir senyuman manis menawannya berbalut cinta kasih dan kata-kata romantis.
“Yang, jangan gitu dong. Maafin aku ya? aku tadi kebawa emosi. Aku cemburu karena aku cinta banget sama kamu,”
Melotot tajam, “perasaan tadi nggak bilang gitu?”
“Aku khilaf Yang, maafin ya …”
“Kamu kayak anak kecil deh, aku nggak suka ya kamu cemburu buta kaya tadi.”
“Iya iya, maaf. Aku janii nggak ulangi lagi.” Mengangkat dua jarinya sebagai symbol swear.
__ADS_1
“aku nggak percaya,”
“Terus aku musti gimana dong, biar kamu percaya?” meraih jemari Riri.
Merengut membuang pandangannya ke sembarang arah, nampak taman rumah sakit yang dihiasi lampu taman tamaram.
“Yang, kamu mau kan maafin aku?” meraih dagu runcing Riri untuk melihatnya. “Semua itu karena aku cinta banget sama kamu,” membelai pipi mulus Riri yang terasa dingin karena angin semilir yang berhembus dini hari ini.
“Janji ya, jangan diulangi lagi?” ucap Riri yang kini sudah dalam mode normal, bahkan rona wajahnya bersemu merah jambu monyet karena jarak yang terlalau dekat degan Toni.
“Aku janji,” bisik Toni. “Kamu percaya kan, hm?” menuntut jawaban dengan tatapan memabukkan.
Menunduk seraya mengangguk, degup jantung Riri tiba-tiba jadi tak karuan. Meski sering menghabiskan hari bersama, namun rasanya dia belum pernah sedekat ini dengan Toni. Entah kerena didorong oleh insting naluriah seorang yang tengah jatuh cinta, ataukah entah karena susananya yang mendukung, udara dingin di tempat sepi begini dengan lampu temaram, membuat jarak keduanya semakin terkikis, reflek Toni memiringkan sedikit wajahnya,
“Bang …” terdengar suara seseorang.
Toni dan Riri freez, mayakinkan apa yang barusan mereka dengar.
“Bang …” suara itu terdengar lagi.
Kompak Riri dan Toni tengok kanan kiri mencari sumber suara. Sepi, lorong-lorong rumah sakit tak ada siapa-siapa.
“Kamu denger suara nggak Yang?” Tanya Toni.
“Iya, kayak suara perempuan,” tengkuk Riri tiba-tiba meremang.
Mengangguk, lantas terjingkat kaget ketika merasakan seuatu yang dingin menyentuh betisnya karena Toni hanya memakai jeans pendek selutut.
“Bang, jangan ciuman disini dong. Eneng kan jadi ngiri,” ucap suara yang ternyata berada di dekat kaki Toni.
Pandanagn Riri dan Toni pun tertuju pada sumber suara itu.
JRENG!
“Huaaaaa …, susuter ngesoooooottt!!!” Kontan keduanya berlarian tunggang langgang setelah melihat siapa si pemilik suara yang tadi mengganggu momen romantis meraka.
Mereka ngibrit sampai tak melihhat jalan.
BRUK!
Aduh!
Awwh!
Toni dan Riri menabrak Danar yang muncul dari arah taman.
“Kalian kenapa sih lari-lari?” Danar mengusap kepalanya yang kejedot jidat Toni.
“It-tu, a-anu Mas, sus, susu, susut, sus …. Ter! Ngeeee, sooooot!” Riri dan Toni tebata-bata dengan wajah pias bercampur keringat dingin.
“Ck, nggak usah halu deh!” Danar megibaskan tangannya. “Susternya tadi jalan nggak ngesot!”
“Mas, kita seriusan! Nggak lagi becandaan!” Riri ngotot.
“Oke, terserah! Mau suster ngesot mau ngepot, aku nggak peduli! Yang terpenting sekarang kita harus bisa nemuin Mirza.”
“Ha? Mas Mirza?” Riri dan Toni kombakan lagi.
“Iya, dari tadi nomornya aku hubungi nyambung tapi nggak diangkat. Sekarang malah nggak aktif.” Danar terlihat gusar.
“Biarin aja, emang lebih baik Mas Mirza nggak usah ada disini.” Ucap Riri cuek.
“Ri, kamu nggak boleh gitu dong.” Danar nggak percaya Riri bisa bilang begitu.
“Emang kenyataan gitu kok.”
“Ri, apa kamu mau nanti saat kamu sudah menikah, hamil dan ketika akan melahirkan kamu nggak didampingi suami kamu? Apa kamu nggak sedih?” pertanyaan Danar sontak mencubit hati Riri.
Segitunya kamu sama Mbak Via, Mas. Kamu itu cinta sama Mbak Via tapi masih mau melihat Mbak Via dan Mas Mirza bersama. Cinta macam apa itu? sungguh cinta yang aneh. Batin Riri tak habis pikir.
“Yang?” meraih pundak Riri. “aku akan damping kamu saat kamu melahirkan nanti,” ucap Toni bersungguh-sungguh.
“Hem, nikah juga belom, masa udah mau lahiran aja?” ngeloyor cuek meninggalkan Danar dan Toni.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sabar ya, othornya emang lagi pengen part ini dilama-lamain. 😁😁
Kezeeeel, ya…🤣🤣🤣
tulis aja di kolom komentar, wkwkwk….😆😆😆
Terima kasih yang sudah setia menunggu dan selalu dukung karya othor awut-awutan ini. Like, komen dan vote, juga giftnya makasih banyak ya….🙏🙏🙏
Like lagi😊
Komen lagi😄
Vote lagi kalau masih bisa ya
__ADS_1
☺️
Maafkan kalau banayk typo, I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘