
Tia mendudukan dirinya berhadapan dengan Via di ruang tengah. Kedua netranya menatap lurus sang adik yang terdiam dengan ekspresi datar. Keduanya baru saja terlibat obrolan serius tentang nasib pernikahan Via yang bagaikan sedang di ujung tanduk.
“Kamu nggak bisa melakukannya, Vi. Itu nggak adil buat kamu,” ucap Tia setelah mereka berdiaman selama beberapa saat.
“Bukankah Mbak Tia mendukung keputusanku untuk berpisah dengan Mas Mirza?”
“Iya, tapi bukan dengan menggunakan alasan adanya orang ketiga dalam rumah tangga kalian.”
“Memangnya Bu Een bukan orang ketiga? Sama aja kan Mbak, meskipun dia ibu mertua aku dia bisa disebut orang ketiga kan?”
“Dia itu bukan orang, tapi dhemit!” Sarkas Tia kesal. “Astaghfirullahaladziim …” Tia segera beristighfar setelahnya. Membahas soal Bu Een siapapun memang bisa hilang kesabaran, tak terkecuali bagi Tia perempuan anggun berhijab yang lemah lembut itu.
Menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Via. “Maksud Mbak, tolong jangan libatkan Danar dalam urusan rumah tangga kamu karena itu nggak adil buat kamu. Kamu bisa dicap nggak bener, kamu bisa disebut istri tukang selingkuh Vi” menyerot dengan tatapan lebih teduh. “Juga buat Danar, ia bisa dicap perebut istri orang. Padahal dia adalah laki-laki baik, nggak seharusnya kamu memanfaatkan kebaikannya.”
Menghela napas berat, “Mbak Tia benar, tapi aku nggak punya cara lain untuk membuat Mas Mirza meninggalkan aku,”
“Apa Danar sudah tau soal ini?”
“Nggak, dia nggak tau.”
“Dia harus tau, bahwa semua ini hanya settingan.”
Hanya mengangguk samar lantas meluruhkan pandangannya pada perutnya yang buncit, sesak kembali menghimpitnya kala menyadari kelak sang buah hati akan tumbuh tanpa sang ayah di sampingnya.
“Kecuali, kalau kamu dan Danar mempunyai persaan saling suka –“ sambung Tia lirih yang membuat Via mengangkat wajah sendunya.
Bangkit dari duduknya, “aku ke kamar dulu MBak, mau siap-siap. Sebentar lagi Danar mungkin akan datang menjemput.”
“Kalian mau pergi?” mengernyit penasaran.
“Iya, mau ke rumah Denaya. Pak Haji Barkah menggelar acara syukuran kan untuk anak angkatnya yang baru saja menikah?” tanya Via meyakinkan. “Aku baru tahu kalau anak angkat Pak Haji yang dimaksud Mbak Tia waktu itu adalah Hanson.”
“Vi, Mbak cuman pesen sama kamu, hati-hati. tolong jangan sampai kamu merugikan dirimu sendiri.”
“Emh, Mbak Tia nggak ke tempat Pak Haji?” Via malah mengalihkan topik pembicaraan.
“Justru Mbak selesai masak untuk acara itu cepet-cepet pulang kesini karena khawatir sama kamu yang udah Mbak tinggal sejak kemarin. Eh, ternayta kamu malah mau pergi.” Sedikit ngomel.
“Ya udah ikut aja yuk sekalian.”
“Nggak ah, capek.”
“Riri sama ibu dateng nggak ya?”
“Kenapa? Kamu takut ketahuan ibu kalau datang bareng Danar?”balik bertanya dengan penuh selidik.
“Nggak juga,”
“Ibu sama Riri juga pasti kecapekan. Mereka jelas lebih milih istirahat di rumah.”
Via mengangguk lantas melangkah meninggalkan kakaknya untuk bersiap.
-
-
__ADS_1
-
Lepas isya, halaman kediaman Haji Barkah yang luas sudah terlihat para tamu berdatangan. Kursi-kursi tertata rapi di bawah naungan tenda yang berdiri megah. Rumi duduk di samping Denaya dengan mengenakan busana syar’i. Hanson yang berada agak jauh darinya beberapa kali mencuri pandang pada kekasih halalnya itu. cantik, gumam batin Hanson. Tak sia-sia Denaya mengobrak abrik isi lemari pakaiannya untuk mendapatkan busana yang menutup aurat bagi Rumi. Sebenarnya bukan perkara sulit bagi Hanson, dengan sekali kedipan mata ia bisa saja memborong seisi toko pakaaian untuk istrinya. Namun Rumi menolak, ia spertinya masih enggan untuk tampil syar'i dan Hanson tak mau memaksa. Alhasil, Denaya menawarkan salah satu gaun syar’inya yang belum pernah dipakainya.
“Mbak, boleh nggak sih kerudungnya di lepas aja? Rumi mengibas-ngibaskan telapak tangannya untuk mengusir gerah.
“Jangan dong. Lagian di luar ruangan adem gini kok kamu malah kegerahan sih?” Denaya heran.
“Hem, belum terbiasa aja kali.”
“Ya makanya harus dibiasakan. Hanif kan pingin banget liat kamu pake hijab? Denaya sedikit menekankan karena Rumi memang agak petakilan orangnya. “Seorang istri wajib mentaati perintah suaminya, apalagi perintah itu menyeru ke dalam kebaikan.”
Rumi hanya diam mencoba untuk berkompromi dengan keadaan. Denaya yang sempat sebal sama Rumi segera mengembangkan senyumnya ketika melihat kedatang Via. Ia bangkit melangkah untuk menyongsong sahabat sekaligus keponakannya itu.
“Vi –“
“Maaf ya aku datangnya belakangan, harusnya aku ikut bantu-bantu.” Ucap Via seraya menyambut pelukan singkat Denaya.
“Ah, santai aja. Kan udah banyak yang bantuin. Aku juga seharian cuman duduk manis kok.” Denaya menggandeng lengan Via namun ia urung melangkah ketika melihat Danar yang muncul kemudian. Ditatapnya Via dan Danar bergantian, seolah ia ingin bertanya apa kamu datang dengan Danar?
“Eh, Mirza mana?” justru kalimat tanya itu yang diucapkan Denaya.
Diam sejenak, melihat pada Danar. “Kami nggak bareng, mungkin Mas Mirza masih di rumah ibu.”
“Kalian tadi datang berdua kesini?” tak sabar kerena rasa penasaran yang menyelimutinya.
Keduanya mengangguk bersamaan. Denaya semakin penasaran dibuatnya. Kenapa mereka bisa datang berdua? Mirza kemana? Apa ada sesuatu yang terjadi? Benak Denaya diliputi beragam pertanyaan karena Om Jaka memang belum menceritakan perihal gonjang ganjing rumah tangga Via dan Mirza yang terancam bubur kaena syarat nyeleneh yang diajukan si Mbakyunya agar mau menjalani operasi.
“Ekhem, Dena aku haus nih.” Berdehem menyadarkan Denaya dari benaknya.
“Oh, eh iya sebentar –“
“Kayaknya wedang jahe enak, tadi aku ngeliat ada wedang jahe di sebelah sana.” Via melihat pada meja di dekat pintu masuk.
Danar mengangguk lantas segera pergi.
“Vi, kamu serius hanya datang berdua sama Danar?” tak bisa menyembunyikan rasa keponya lebih lama, Denaya membawa Via duduk agak menajuh dari para tamu.
“Iya,” sahut Via pendek.
“Mirza?” menuntut penjelasan sedetail-detailnya.
“Kan tadi aku udah bilang, mungkin Mas Mirza masih di rumah ibu.”
“Vi, sejak kapan kamu main rahasia-rrahasiaan dari aku?” sedikit menarik lengan Via. “Apa tejadi sesuatu dengan kamu dan Mirza?”
Via hanya menyahut dengan helaan napas, memancing Denaya untuk bertanya lebih jauh, namun ia tak tega karena melihat rona sendu yang tiba-tiba membayang pada raut ayu wajah Via. Diraihnya jemari Via, “aku pernah bilang kan sama kamu kalau Danar itu pasti suka sama kamu. Aku punya feeling kayak gitu sejak ngeliat dia pertama kali di rumah makan waktu itu. dari cara dia natap kamu jelas berbeda. Kamu masih ingat kan aku pernah ngomong begitu?”
Mendesah berat, “Dena, boleh nggak aku istirahat di dalam aja, kepalaku tiba-tiba pusing nih.” Memegangi pelipisnya.
Denaya tiba-tiba disergap perasaan bersalah. Ia terlalu memaksa Via. “Vi, maaf ya –“
Menggeleng dengan senyum tipis sebagai respon dirinya tak apa-apa.
“ayok, aku antar ke dalam.” Membantu Via bengkit bersamaan dengan Danar yang datang membawakan wedang jahe permintaan Via.
__ADS_1
“Vi, kamu sakit?” bertanya penuh rasa khawatir.
“Kepalanya pusing katanya, mendingan dia istirahat di dalem aja.”
“Ya udah, kalau butuh sesuatu kasih tau aku ya. ini wedang jahenya biar aku bawa masuk buat kamu.”
“Biar aku bawa sendiri aja. Aku cuman sdikit pusing kok, nggak papa, istirahat sebentar nanti juga udah baikan lagi.” Mengambil gelas dari tangan Danar.
“Beneran kamu nggak papa?” terlihat tak yakin, “atau biar aku belikan obat dulu.”
Mengulas senyum, “Beneran kok. Udah kamu gabung aja sama Om Jaka tuh, acaranya bentar lagi mau mulai kayaknya.”
Mengangguk dan hanya mampu memadangi punggung Via yang menjauh menuju rumah Pak Haji Barkah diiringi Denaya. Tanpa sepengetahuannya, sepasang mata sedari tadi memperhatikannya dengan dada terbakar api cemburu melihat adegan barusan.
GREP!
Satu cekalan kuat menarik lengan kekar Danar, ia pun menoleh kaget dibuatnya.
Mirza?
“Kenapa kamu bisa datang bareng Via?” sorot mata penuh kilatan emosi manatap lurus manik mata Danar yang kecoklatan. “Kamu tau kan dia itu punya suami? Apa pantas seorang laki-laki datang ke suatu acara dengan perempuan yang sudah beristri tanpa ijin suaminya terlebih dulu?” mengeraskan rahangnya menaham emosi yang hampir meledak.
Dengan sekali sentak Danar melepaskan lengannya dari cengkaraman Mirza. “Bukankah saat kami masih satu kantor, aku dan Via juga sering pergi bersama?”
“Kau –“ geram Mirza tertahan.
“Aku bahkan lebih sering berada di dekatnya saat dia butuh pertolongan,” ucap Danar sama sekali tak gentar.
“Kau benar-benar laki-laki bajingan,” Mirza mengepalkan tangannya sebagai upaya pertahanan agar jangan sampai dia lepas kendali, “aku kira kau cukup tau diri. aku hampir percaya dengan sikap baikmu, tapi nyatanya kau licik, kau mempunyai niat terselubung dibalik kebaikanmu,”
“Aku nggak peduli, karena memang begitulah kenyataannya. Aku mencintai Via, aku mencintai istrimu.”
JLEDER!
Tak ada hujan tak ada badai, tapi ada tiba-tiba ada petir menyambar dan meluluh lantahkan hati Mirza. Dengan gamblang dan tak tau malunya laki-laki di depannya itu mengakui bahwa dia mencintai Via yang masih sah menjadi istrinya.
“Danar, Mirza, kok kalian masih pada disini sih?” beruntung Om Jaka datang sehingga pertumpahan darah tak sempat terjadi, “Pak Kiyainya udah dateng tuh, sebentar lagi mau mulai acaranya. Kita gabung asma yang lain yok.” Menepuk pundak Mirza. “Eh, elu kenapa? Kok kayak orang kemasukan jin, muka lu serem banget gitu?” baru sadar dengan raut wajah keponakannya yang memancarkan raut emosi tertahan. “Elu juga, sakit gigi lu Danar? Kok muka lu jelek banget?”
Merasa tak mendapat jawaban dari kedua orang yang ditanyainya, Om Jaka segera mengambil kesimpulan sendiri.
“Oke, apapun yang elu berdua permasalahkan sekarang, gue mohon, selesaikan setelah acara ini. Jangan bikin gue sebagai tuan rumah malu!” Tandas Om Jaka menatap keduanya tegas, lantas ia segera melangkah menuju deretan kursi yang baling depan yang diperuntukkan bagi anggota keluarga. Danar dan Mirza segera mengikuti, walau keduanya sedang berkonflik namun mereka bisa duduk bersebelahan juga.
❤️❤️❤️❤️❤️
***Wooo, kayaknya Danar bakal dihujani hujatan nih🤭🤭🤭
Suka-suka readers deh, hehe….😂😂***
Setelah ini nanti akan othor ungkapkan kenapa Danar bisa ngaku begitu sama Mirza.🤔🤔
Kita lanjut ntar ya, othor mau kondangan dulu nih. 😁😁
Tetep like
Selalu komen
__ADS_1
Dan vote kalo masih bisa
I love you all, tanpa terkecuali 🤗🤗🤗😘😘😘