
Bu Harni berjalan cepat meninggalkan para emak yang masih bergosip di gerobak tukang sayur kembali menuju ke rumahnya. Emosi dan penasaran bercampur jadi satu hingga hampir tak terbendung lagi. Riri yang sedang bersiap di kamarnya tak ayal di buat kaget dengan kelakuan ibunya.
“Nggak bisa didiemin nih, aku harus cari tau sendiri kebenarannya.” Bu Harni ngedumel sambil mencari sesuatu di ruang tengah. “Pada lancang-lancang banget mulutnya tu orang, masa si Mirza dibilang selingkuh! Liat aja kalo sampe berita itu nggak bener, mulut mereka bakalan aku iket pake karet gelang biar pada kapok!” Lanjut Bu Harni kali ini sambil mengobrak-abrik meja di kamarnya.
Riri penasaran juga hal apakah gerangan yang membuat ibunya ngedumel sampe gedubrak-gedubruk begitu.
“Bu?” Tegur Riri dari pintu kamar Bu Harni.
“Eh, Ri. Kamu liat kunci motor nggak?” Tanya Bu Harni sambil ngos-ngosan karena emosi.
“Ada sama aku, kenapa emangnya?”
“Ayo cepetan antar ibu ke rumah Via sekarang!” Bu Harni langsung menarik lengan Riri.
“Kenapa emangnya Mbak Via, Bu? Kok ibu kayak buru-buru gitu?” Riri heran.
“Ah, udah! Jangan banyak Tanya, nanti juga kamu tau! Ayo, cepetan!”
“Tapi aku mau pergi, Bu. Udah ada janji hari ini.” Ujar Riri.
“Kalo gitu mana kunci motornya? Biar ibu sendiri yang pergi ke sana!" Bu Harni mengulurkan tangannya meminta kunci nggak sabaran.
“Ya nggak bisa dong, Bu. Nanti aku naik apaan?” Riri nggak mau ngalah.
“Aduh, Ri. Ini tuh maslah penting, gawat! Kamu palingan cuman mau main kelayaban nggak jelas, kan? Udah sini, ibu pake dulu motornya!” Bu Harni ngotot.
“Aku juga lagi ada urusan penting, Bu. Hari ini ada janji sama Bu Elin mau liat rukonya di kota, rencananya aku mau disuruh ngelola bisnis barunya Bu Elin nanti di situ, Bu.” Terang Riri nggak mau kalah.
“Alah, bodo amat. Bu Elin itu siapa lagi, ibu nggak kenal.” Bu Harni nggak mau tau.
“Itu yang ngajar sekaligus pemilik tempat kursus aku, Bu.” Terang Riri.
“Nanti aja, ini lebih penting. Ini menyangkut rumah tangga kakak kamu.”
“Maksudnya?” Riri makin nggak ngerti.
“Si Mirza itu digosipin selingkuh sampe hamilin perempuan lain. Satu kampung Jati Asri lagi pada ngomongin Mirza, ibu harus tanya sendiri sama Mirza dan Via bener nggak kabar itu?”
“Astaga, Bu. Nggak usah lah ibu ikut campur urusan Mbak Via sama Mas Mirza kalo nggak mereka yang minta bantuan ibu. Biarin mereka selesain sendiri masalah meraka.” Riri coba memberikan pengertian pada ibunya yang semakin ngos-ngosan.
“Kamu itu tau apa anak kecil? Jelas ibu harus turun tangan lah, bisa berantakan rumah tangga mereka kalo gosip yang beredar itu benar.” Bu Harni makin gusar.
“Bu, udahlah. Udah cukup ibu ikut campur urusan rumah tangga mas Arya dan Mbak Tia aja. Dan cukup rumah tangga mereka aja yang ibu bikin ribut terus, untuk Mbak Via dan Mas Mirza jangan, Bu.” Riri menatap ibunya seperti memohon.
“Ini tu masalah perselingkuhan, Ri. Beda!”
Riri meraih pundak ibunya, mencoba menenangkannya. “Kalo Mbak Via merasa perlu bantuan ibu, nanti juga Mbak Via bakal datang ke sini. Percaya sama aku, Bu. Mungkin ini bukan saat yang tepat buat ibu datang kesana.”
Bu Harni menepis tangan Riri dan menghempaskan pantatnya di kursi tamu.
“Ibu nggak bisa berdiam diri menunggu Via yang datang kesini, Ri. Ibu harus melakukan sesuatu. Ibu nggak mau kalau rumah tangga mereka sampe kenapa-napa. Memangnya kamu nggak peduli sama Kakakmu? Nggak kasihan kamu sama dia?”
“Bu, aku juga sama kaget dan nggak percayanya sama ibu. Tapi bukan dengan datang ke rumah Mbak Via kita nunjukin kepedulian kita sama mereka. Udah, ibu nggak usah ngeyel. Mbak Via sama Mas Mirza pasti baik-baik aja.”
Tilulit tilulit tilulit lit
Terdengar bunyi ponsel dari kamar Riri. Riri segera menuju kamar.
“Mas Danar?” Ucap Riri heran begitu tau siapa yang menelponnya. “Halo, Mas.” Sapa Riri kemudian.
“Ri, aku udah ada di depan nih.” Sahut Danar.
“Di depan? Di depan mana?” Riri bingung campur heran.
“Di depan rumah kamu.”
“Lah, mau ngapain Mas Danar ke rumah aku?” Riri makin heran.
“Kamu nggak baca pesan aku?”
“Nggak, eh belum, Mas.”
“Ibu nyuruh aku jemput kamu, katanya pingin cepet-cepet ketemu sama kamu buat ngobrolin soal ruko itu karena nanti sore ibu harus ke Bogor.”
“Oh …”
“Kok oh sih?”
“Ya, terus? Masa aku harus bilang wow?”
“Ya kamu cepetan keluar, kita pergi sekarang.”
“Oh iya, iya Mas.”
Riri segera mengakhiri teleponnya bergegas keluar kamar setelah mayakinkan diri di depan cermin bawa penampilannya modis, manis dan kece abis.
“Ri!” Panggil Bu Harni yang melihat Riri hanya melewatinya dengan cuek.
Riri membuka pintu dan mendapati sedan Mercy silver terparkir di depan rumahnya, Danar keluar membuka kaca mata hitamnya menghampiri Riri.
Ya ampun, jantung Riri rasanya mau melompat keluar melihat Danar. Laki-laki berambut ikal gondrong sebahu itu selalu menawan meskipun hanya mengenakan T-shirt polo hitam seperti biasanya dengan jeans navy dan spatu kets setianya. Penampilan Danar terkesan cuek dan nggak neko-noko, tapi bagi Riri Danar itu seperti mempunyai daya tarik sendiri. Aih, Riri sampe melongo nggak sadar.
“Kenapa kamu?” Tanya Danar begitu mendekat.
“Oh, Emh nggak.” Riri sedikit gugup.
“Siapa, Ri?” Bu Harni muncul dari dalam.
“Eh iya, Mas Danar kenalin ini ibu aku.” Riri memperkenalkan Danar pada Bu Harni.
“Danar.” Danar mengangguk sopan lalu mencium punggung tangan Bu Harni.
Bu Harni tersenyum agak canggung pada Danar, lantas melihat pada mobil sedan yang terparkir di halaman rumahnya.
“Teman kamu, Ri? Tanya Bu Harni.
__ADS_1
“Iya, Bu.”
“Ya udah, diajak masuk. Masa di luar aja.”
“Nggak deh, Bu. Kayaknya kita mau langsung pergi aja. Iya kan, Mas?” Tanya Riri pada Danar.
“Iya Bu.” Danar mengiyakan.
“Berarti kamu nggak jadi pake motor kan? Bagus deh, Ibu bisa ke tempat Via sekarang.”
“Bu.” Riri mengingatkan dengan memberi tatapan Mata yang penuh arti.
“Udah nggak papa, kamu cepetan pergi sana. Katanya udah janjian.” Bu Harni mengingatkan. “Nak Danar, tolong jagain Riri dengan baik ya.” Pesan Bu Harni.
Danar hanya mengangguk seraya tersenyum. Mereka berdua masuk mobil. Bu Harni menuju kamar Riri meraih kunci motor di atas meja belajar lalu mengunci pintu dan bergegas menuju rumah Via.
Sementara itu di mobil Riri mencuri-curi pandang pada Danar.
“Ibu kamu tadi mau ke rumah Via, ya?” Tanya Danar tiba-tiba membuat Riri sedikit kaget.
“Iya, Mas. Kenapa emangnya?” Riri balik nanya.
“Nggak papa.” Sahut Danar tanpa melihat Riri, tatapannya lurus ke depan.
Hening untuk sesaat.
“Mas Danar kok tiba-tiba nanyain Mbak Via?” Tanya Riri kemudian.
“Masa sih?”
“Lah, tadi apa?
“Aku kan nanyain ibu kamu.
“Tapi kan ada Mbak Vianya.”
“Kenapa emangnya?” Lagi lagi Danar hanya melihat lurus ke depan tanpa menoleh pada Riri.
“Ish!” Riri melipat kedua tangannya di dada dan membuang pandangan ke luar jendela kesal.
Diam-diam Danar tersenyum kecil sambil melirik Riri dengan ekor matanya.
“Kayaknya mendingan naik odong-odong deh, biar nggak bisa jalan betulan tapi lumayan ada musiknya. Daripada naik mobil bagus tapi sepi kayak di kuburan.” Oceh Riri sambil melihat Danar sekilas.
“Bawel!”
Riri mencebik. “Emang!”
_________
NGIIIK!
Bu Harni mengerem motornya tepat di depan teras rumah Via.
Tok tok tok
Pintu rumah belum dibuka. Bu Harni mengetuk sekali lagi.
Tok tok tok tok tok tok tok
Kali ini ritmenya lebih cepat dan sedikit maksa menandakan ia mulai tak sabaran. Heran juga sih ya, padahal kan ada bel yang tinggal pencet ngapain Bu Harni pake ketuk ketuk pintu? Kalo orang udah nggak fokus jadinya ya gitu deh.
“Ibu?” Sambut Via begitu membuka pintu rumahnya.
Raut keheranan jelas terlihat di wajah Via, sementara Bu Harni yangvnampak cemas langsung menerobos masuk duduk di ruang tamu tanpa Via sempat mempersilakannya lebih dulu.
“Suamimu mana?” Tanya Bu Halni to the point.
Deg!
Jangan-jangan ibu …
“Siapa sayang?” Tanya Mirza yang menyusul Via ke ruang tamu.
“Heh, Mirza, duduk sini!” perintah Bu Harni tegas.
“Ya, ada apa, Bu? Tumben ibu pagi-pagi nyampe sini?” Tanya Mirza merasa tak berdosa.
“Ini karena ibu mau nanyain berita soal kamu menghamili perempuan lain.” Ketus Bu Harni. “Apa berita itu benar?”
“Ibu tau dari mana?” Mirza balik Tanya.
“Nggak penting ibu tau dari mana, tapi sekarang berita itu udah nyebar kemana-mana. Satu kampung Jati Asri udah tau semua.” Bu Harni menatap Mirza geram.
Mirza menyandarkan punggungnya pada sofa ruang tamu, lalu menghela napas berat. Dia bingung, ah lebih tepatnya bosan harus menceritakan berulang-ulang tentang kejadian yang dialaminya bersama Sofi.
“Bu, sekarang ibu liat kan aku sama Mas Mirza baik-baik aja?” Via yang dari tadi cuman diem mulai buka suara.
“Ibu mau dengar pengakuan dari mulut suamimu, kamu tenang aja. Ibu pasti bela kamu.”
Mirza tampak enggan mengulang ceritaya kembali. Ah, andai saja kemarin-kemarin dia rekam semua pembicarannya jadinya kan nggak perlu repot-repot ngulang kayak gini, tinggal pencet play aja.
Via melirik Mirza yang nampak datar.
“Sudahlah, Bu. Apa yang ibu takutkan nggak sama seperti kenyatannya.” Tutur Via lagi.
“Ibu jangan khawatir, aku sama Via akan tetap bersama.” Timpal Mirza akhirnya.
“Apa itu artinya kamu nggak akan menceraikan Via lalu menikahi seingkuhanmu itu?” Tegas Bu Harni meminta kepastian.
“Betul, Bu.”
“Ibu pegang kata-kata kamu, Za.” Ucap Bu Harni menatap Mirza serius. “Dan mulai detik ini kamu jangan sampai berani melukai hati anak ibu lagi, kalo sampe kamu bikin dia nangis kamu bakal nyesel seumur hidupmu karena dia bakal ninggalin kamu.”
“Aku janji, Bu. Aku akan setia sama Via sampai aku mati.” Ucap Mirza bersungguh-sungguh sambil balas menatap mertuanya serius.
__ADS_1
“Bagus. Ibu nggak mau tau soal selingkuhanmu yang lagi hamil itu. Masa bodo dia mau dikemankan, yang jelas hanya boleh ada Via di samping kamu. Kamu juga harus ingat janji kamu sama almarhum ayahnya Via. Kamu berjanji akan bikin Via bahagia kan?”
“Iya, Bu. Aku nggak lupa janji itu.”
Bu harni bangkit dengan perasaan lega.
“Kalo gitu ibu pamit dulu, ya.”
Mirza meraih tangan ibu mertuanya dan mencium pungung tangannya takzim.
“Maafkan aku ya, Bu. Udah bikin ibu khawatir.”
Bu Harni tersenyum pada mantu kesayangannya itu seraya menepuk-nepuk bahu Mirza.
“Setiap orang pasti pernah berbuat salah, tinggal bagaimana cara memperbaikinya.” Ucap Bu Harni bijak, ia rupanya udah lupa pada emosi yang sempat membuatnya mendidih tadi pagi gegara omongan para tetangga yang comel.
Mirza dan Via mengantar ibu keluar.
“Oya.” Ujar Bu Harni membalikkan badan. “Ibu rasa kalian harus cepat punya anak secepatnya.”
Mirza dan Via saling pandang, ini kali pertama Bu Harni ngomong soal anak pada mereka. Biasanya dia tak terlalu peduli kapan mereka mau punya momongan.
“Biar Via nggak dijutekin terus sama mertuanya.” Lanjut Bu Harni, lantas langsung menclok di atas jok motornya dan berlalu.
Mirza tersenyum memandang Via yang masih menatap kepergian ibunya.
“Ngapain kamu senyum-senyum, Mas?” Ucap Via sambil ngeloyor ke dalam.
Mirza segera menyusulnya dan mengunci pintu.
“Sayang, tunggu!”
“Ada apa, Mas?”
“Aku rasa ucapan ibu tadi benar.”
Via menelengkan kepalanya.
Mirza meraih pinggang ramping Via. “Kita harus cepat punya anak.” Bisiknya pada telinga Via.
Via hendak menepis, namun Mirza mengeratkan tangannya dan menyapukan bibirnya pada leher jenjang Via yang langsung membuat bulu-bulu halus di tengkung Via kontan berdiri.
“Mas, aku … “
“Demi apapun kamu nggak boleh nolak lagi. “ Potong Mirza.
Ditatapnya irish mata Via lekat. “Kita sudah sepakat akan memulainya lagi dari awal, sayang. Aku mencintaimu.”
Cup!
Satu kecupan singkat didaratkan Mirza pada bibir Via, lantas direngkuhnya Via dalam gendongangannya.
“Mas nggak perlu kayak gini juga, kalo jatuh gimana?” Via sedikit kaget.
“Diamlah, nggak usah protes, sayang.” Ucap Mirza yang mulai menaiki anak tangga. “Sebaiknya kamu pegangan.”
Via mengalungkan kedua tangannya pada leher Mirza.
“Nah, begini jauh lebih romantis.” Mirza tersenyum senang, langkahnya sudah hampir sampai di depan kamar kini.
Tangan kanan Mirza masih bisa membuka handle pintu, lalu dengan sekali hentakan kakinya menutup kembali pintu kamar itu.
KREB!
“Kita mungkin akan melakukannya lebih lama, karena cuaca di luar mendung sabaiknya kita nggak usah kemana-mana.” Ucap Mirza setelah membaringkan tubuh Via di atas kasur.
“Ih, Mas ini apaan sih?” Via menepuk pipi Mirza. “Otaknya mesum terus.”
Mirza mencubit hidug Via gemas. “Aku tau kalo kamu udah ngomong begitu, berarti kamu setuju.” Goda Mirza.
__________
Eaa … yang kecewa karena Via baikan sama Mirza mana suaranya? 😂😂😂🤭🤭🤭
Hehe, maafkan author ya🙏🙏🙏
Jangan sambit author pake kata-kata pedes, sambit aja pake vote yang banyak kakak 😉😉😉😘😘😘❤️❤️❤️
Sabar ya akak-akak, jalan ceritanya harus begini dulu. Biar nggak spaneng terus.😅😅😅
Yang suka karena ketemu Danar lagi, ada nggak ya ….😊😊😊🤩🤩🤩
Mulai part ini Danar bakalan sering muncul ya walau tpis-tipis dulu, hehe.😂😂
Makasih akak author dan akak readers semuanya 🙏🙏🌹🌹🌹🌹Selalu dukung author dengan like, komen, rate 5 dan vote ya❤️❤️❤️❤️.
Luv u all😘😘🤗🤗
__ADS_1