TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
226 #AKSI PENCULIKAN


__ADS_3

Waktu menunjukan hampir pukul 01 dini hari. Suasana malam hening, udara kering musim pancaroba berhembus dingin menembus pori-pori. Sofi tengah terlelap dibalik selimutnya dibuai mimpi. Sebuah mobil van putih baru saja berhenti tepat di depan rumah Bu Een. Tiga orang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba hitam dengan topi hoodie di dalam mobil nampak mengamati keadaan rumah Bu Een yang sepi.


“Lu yakin kita nggak salah alamat?” Tanya Pria 1 yang berada di balik kemudi.


“Yaelah, lu kira gue ayu tingting demen sama alamat palsu?” Sahut pria 2 yang duduk disampingnya.


“Bukan gitu maksud gue, nyet!” Menoyor kepala teman disebelahnya. “Ini rumah kayaknya biasa-biasa aja, lu yakin menantunya Tuan besar ada di dalem sana?”


“Elu ngeraguin kemampuan gue melacak GPS?” Pria 2 nggak terima. “Jelas-jelas sore tadi titik koordinatnya nunjukin ke alamat ini.”


“Serah lu deh, tapi kalo kita sampe salah alamat apalagi salah nyulik orang, lu yang tanggung jawab ya!” Pria 1 keki.


“Dasar penculik amatir lu! Udah berapa lama kita kerja di dunia perculikan? Apa pernah kita salah nyulik orang?” Pria 2 kesal.


“Tapi kan selama ini yang kita culik cuman bocah-bocah? Lah ini manusia dewasa, mana cakep banget dah ah! Mana tadi fotonya?Gue mau liat lagi!” Pria 1 meminta foto Sofi.


Pria 2 mengeluarkan foto Sofi dari dalam saku kemeja hitamnya. “Nih! Elu perhatiin baek-baek tampangnya!”


Pria 1 mengamati foto Sofi dengan seksama. “Asli, cakep banget dah ini mah. Udah mirip artis.”


“Ntar kalo dia nongol langsung elu eksekusi. Buruan siapin obat biusnya!” Titah pria 2.


“Elu aja deh! Gue kagak tega!” Tolak pria 1.


“Dasar amatir lu! Sejak kapan penculik pake hati nurani?” Pria 2 kesel beneran.


“Kalo yang diculik kagak cakep sih gue tega-tega aja, tapi yang ini gue ogah! Mending gue nunggu di mobil aja deh.”


“Mau makan gaji buta lu?”


SREEK


KROTAK KREK


Pria 3 yang duduk di jok tengah yang sedari tadi mendengarkan perdebatan kedua temannya langsung beranjak membuka pintu.


“Eh, mo kemana lu?” Tanya pria 1 seraya menoleh.


“Eksekusi! Kelamaan lu berdua pada!” Keluar kemudian membanting pintu mobil.


BLAM!


Dua orang laki-laki dengan sarung melilit di leher yang sedari tadi mengamati mobil van dari balik pohon Mahoni tak terlalu jauh dari rumah Bu Een nampak terkejut melihat seorang pria bebadan kekar keluar dari mobil menuju rumah Bu Een.


“Sprol, siapa tuh orang?” Bisik Ucup pada Saprol teman rondanya malam ini.


“Nggak tau Cup, gerak geriknya mencurigakan banget ya?” Saprol terus memperhatikan mobil van itu kemudian dua pria menyusul keluar dari sana. “Ternyata banyak orangnya, Prol. Aku curiga mereka orang jahat nih.”


“Iya. Mending kita panggil bantuan aja yuk ke pos ronda. Kita jelas kalah jumlah, mana mereka badannya besar-besar lagi.” Ucup ngeri sendiri melihat ketiga pria berbadan kekar itu.


“Kamu aja yang ke pos ronda cari bantuan Cup. Aku jaga sini sapa tau ntar ada apa-apa kan?” Ucap Saprol.


“Oh iya, sip!” Ucup segera pergi dengan langkah secepat kilat.


Saprol menyelimutkan sarungnya menutupi kepala hingga menyisakan sedikit saja wajahnya, ia mengendap-endap mencari lokasi persembunyian yang lebih dekat untuk mengamati pergerakan ketiga orang yang mencurigaan itu.


Sementara itu ketiga penculik sudah berada di teras rumah Bu Een, mereka nampak memastikan situasi sekitar aman. Mereka menarik topi hoodi menutupi wajah hingga hanya kedua mata saja yang terlihat. Bunyi gesekan ranting-ranting pepohonan menambah suasana dini hari itu kian mencekam dan dingin.


“Ini rumah kagak ada belnya apa ya?” Pria 1 mencari-cari bel pintu.


“Gedor aja langsung!” Sahut pria 2.


“Lu mau banguin orang sekampung? Dasar pea lu!” Omel Pria 1 lantas dia menuju halaman samping tempat garasi mobil Bu Een.


Saprol yang mengintai dari kejauhan semakin yakin kalau ketiga pria itu mempunyai niat jahat. “Kayaknya mereka mau nyuri mobil Bu Een deh.” Gumam Saprol pada dirinya sendiri. “Tau aja itu penjahat kalo si nenek lampir lagi sakit dan nggak ada di rumah.”


“Suut, Prol!” Panggil Ucup berbisik yang sudah datang dengan kira-kira 10 orang teman ronda plus dua orang hansip yang bersenjata lengkap dengan pentungan yang menggantung di pinggang mereka.


“Buset, Cup! Orang satu kelurahan kamu bawa semua!” Saprol agak surprise juga setelah balik badan.


“Udah nggak usah banyak komen, mending kita atur strategi buat nangkep penjahat itu.” Sahut Ucup yang diangguki oleh semua orang disana.


Tok tok tok


“Permisi.” Pria 1 mengucap salam setelah mengetuk pintu rumah Bu Een.


PLETAK!


Satu jitakan di kepala mampir di kepala pria 1.


“Sopan amat lu mau nyulik orang?” Pria 2 geram.


Dok dok dok dok!


Gedoran sedikit keras dari si pria 2 nyatanya tak mampu mengusik Sofi yang asyik dalam alam mipinya.


Dok dok dok dok!


Sekali lagi pria 2 menggedor pintu agak keras. Kali ini berhasil membuat Sofi menggeliat, namun ia seolah hanya mendengar suara gedoran itu dalam mimpinya. Ia pun kembali bergelung dalam selimutnya.


“Kalian berdua emang pea!” Pria 3 tak sabaran. “Biar gue yang eksekusi!” Pria 3 merogoh kunci L dari saku celananya.


KREEK KREEK …


“Woy! Siapa kalian?” Teriakan Saprol kontan menghentikan aksi pria 3 yang sedang berusaha membobol pintu.

__ADS_1


Ketiga penculik yang belum sempat meluncurkan aksinya itu saling tatap dalam keterkejutan yang maksimal. Mereka menyapu pandang halaman rumah Bu Een yang sudah dipenuhi warga.


“Mau maling kalian ya?” Seorang hansip maju sambil mengacungkan pentungannya.


Bagai dikomando, warga langsung menyerang hingga perkelahian pun tak terelakan lagi. Ketiga penculik berbadan kekar itu mulanya tak terlalu kesulitan menghadapi selusin warga dengan tangan kosong.


Hiyaaa …


Ciaat…


Bugh


Bugh


Bugh


Bruuuk!


Namun hantaman warga yang bahu membahu berhasil membuat ketiga penculik roboh secara bersamaan.


“Kabur nyet!” si pria 2 memberi kode kepada dua orang temannya. Mereka bangkit berlari menuju mobil namun naas Saprol sudah mengambil kunci mobil mereka seblumnya.


“Mau kabur kemana kalian?” Seringai srigala Saprol mengayunkan tinjunya pada pria 1 yang berdiri paling belakang.


BUGH!


Pria 1 roboh, kedua temannya bukan nolongin malah kembali melarikan diri mengambil arah berlainan arah. Warga pun terbagi menjadi 2 untuk mengejar pria 2 dan pria 3 sedangkan Ucup dan Saprol menjaga pria 1 yang sudah kehilangan daya, sudut bibirnya mengeluarkan darah.


Dari arah pertigaan sorot lampu mobil menyilaukan mata membuat pelarian pria 2 terhenti.


NGIIK


SREET


Ramzi menginjak pedal rem seketika karena kaget dengan kemunculan seseorang yang secara tiba-tiba. Kerumunan warga berlarian di belakang pria 2 yang berdiri mematung dengan wajah tegang.


“Ada apa. Kak?” Azad yang sempat terlelap kaget Ramzi menghentikan mobilnya.


“Tangkap dia!”


“Hoy, berhenti!


“Hajar!”


“Bakar!”


Seruan warga penuh amarah semakin mendekat membuat nyali pria 2 mengkeret seketika. Karena penasaran Ramzi turun dari mobil diikuti Azad bersamaa para warga yang sudah mengepung sang penculik.


“Mati kamu!”


BUGH!


“Bapak-Bapak, ada apa ini sebenarnya?” Tanya Azad yang sudah sejak tadi diliputi penasaran.


“Dia mau maling di rumah Bu Een!” Sahut seorang warga yang masih kelihatan emosi.


“Kalian siapa?” Seorang warga maju ke depan. “Jangan-jangan kalian komplotannya ya?” Menatap curiga pada Azad dan Ramzi yang memang kelihatan asing di kampung mereka. Warga yang lain spontan ikut menatap penuh kecurigaan.


“Wah iya, plat mobilnya B sama kayak plat mobil si maling ini!” Seru seorang warga lain. “Mereka pasti komplotannya!”


“Sabar, Bapak-Bapak! Sabar …!” Azad berusaha menenangkan para warga. “Kami kesini memang mau ke rumah Bu Een.”


“Ada keperluan apa kalian?”


“Iya, ada perlu apa? Pasti mau maling kan?”


“Saya mohon tenang dulu.” Azad tetap berusaha sabar menghadapi warga sedangkan Ramzi tampak serius mengamati wajah sang penculik yang tergeletak tak sadarkan diri. “Kenalkan, saya Azad adik Sofia yang sekarang berada di rumah Bu Een. Dan ini Ramzi suaminya. Maksud kedatangan kami kemari adalah untuk menemui Sofia kakak saya.”


Para warga saling pandang dan bergumam seolah berusaha meyakinkan satu sama lain.


“Kalau Bapak-Bapak nggak percaya, kita ke rumah Bu Een sekarang untu menemui kakak saya.” Cetus Azad kemudian.


“Betul, sebaiknya memang begitu!” Ucap salah seorang dari mereka.


“Iya, ayok! Cepat kita bawa pencuri ini juga kesana.


Para warga bergotong rotong menggotong tubuh pria 2 ke bagasi belakang mobil Ramzi. Jane yang tertidur langsung terbangun dan bingung dengan keadaan yang terjadi namun Azad mengatakan nanti juga Jane tau sendiri. Mobil Hanson yang sampai belakangan langsung mengikuti mobil Ramzi yang berjalan pelan dari belakang yang diiring oleh para warga.


“Baby, kok banyak orang sih?” Kaget Rumi yang melihat para warga berjalan mengikuti mobil Ramzi.


“Nggak tau Schatzi.” Mengangkat bahu ikut memelankan laju mobilnya.. “Ini sebenarnya kita mau kemana sih? Dari masih di Jakarta kamu nggak mau bilang, aku udah capek dan ngantuk banget nih!” Keluh Hanson.


“Nggak usah banyak tanya ah! Kayaknya kita bentar lagi juga nyampe.” Sahut Rumi.


Benar saja, mobil Ramzi berhenti tepat di sebuah rumah yang juga sudah terdapat banyak orang di sana. Rupanya pria 3 juga sudah tertangkap. Para warga langsung mengangkat tubuh pria 2 untuk digabungkan dengan kedua temannya yang juga sudah babak belur. Salah satu dari warga sudah menelpon polisi. Jane keluar diikuti Azad dan Ramzi.


“Schatzi!” Ucap Hansol dengan pandangan mata mengarah pada Ramzi.


“Ada apa, Baby?”


“Jadi untuk ini kamu nyuruh aku ngikutin mobil itu?” Nada suara Hanson menahan amarah.


“Maksudnya?” Rumi melongo.


“Kamu minta aku buat ngikutin mobil laki-laki itu sampai sejauh ini? Untuk apa? Kau udah bodohin aku!”

__ADS_1


“Karena aku khawatir Jane diapa-apain. Di dalam mobil itu ada Jane temen gue, saudara gue! Gue nggak mau kalo dia sampe kenapa-napa!”


“Itu bukan urusan aku!”


BUGH!


Hanson memukul setir mobil memluapkan kejengkelannya, betapa dia merasa sangat konyol mau aja disuruh ngikutin mobilnya Ramzi sampai kesini. Andai ia tau itu Ramzi, nggak bakalan dia mau.


“Jadi kamu nyesel udah nurutin aku sampai sejauh ini?” Rumi balas emosi. “Ya udah, pulang aja sana!” membuka pintu mobil dengan kasar lantas melangkah lebar bersamaan dengan mobil patroli polisi yang datang.


“Schatzi!” Panggil Hanson berusaha menahan Rumi. “Aaaargh!” Menahan geram hingga terpaksa ikut keluar dari mobil juga.


Rumi terheran-heran melihat para warga menggotong 3 orang pria berbadan besar ke dalam mobil patrol.


“Kami ucapkan terima kasih atas kerja samanya. Apresiasi kami setinggi-tingginya untuk warga kampung Suka Tresna atas kepeduliannya ikut menjaga keamanan para warga dan lingkungan.” Ucap salah satu polisi sebelum ia menuju mobilnya.


“Sama-sama, Pak.” Sahut para warga hampir bersamaan.


“Jane elo nggak papa?” Tanya Rumi setelah mobil patroli berlalu. “Sebenernya apa yang terjadi?” Raut bingung diperlihatkan Rumi.


“Gue juga nggak tau, Rumi.” Lirih Jane.


“Schatzi, ayo kita pulang sekarang.” Bisik Hanson menarik lengan Rumi. “Jane nggak kenapa-napa kan? Dia aman sudah sampai sini.”


“Belum aman. Dia belum ketemu sama mantan elo! Gue takut ntar dia dicekek!”


“Mantan aku?” Kali ini Hanson yang melongo bingung.


Krieet ….


Pintu rumah Bu Een dibuka dari dalam, wajah Sofi muncul dari balik pintu dengan ekspresi kaget campur bingung campur heran mendapati begitu banyak orang di depan rumah.


“Ada apa ini? Kenapa – “


“Sofia … “ Ramzi langsung menyeruak ke depan menghampiri Sofi yang berdiri di ambang pintu dengan muka bantalnya namun tetep terlihat cantik. Iyalah, orang cakep mah meski baru bangun tidur juga tetep kelihatan cakep yaa …


“Kak Ram?” Gumam Sofi dengan keterkejutan yang luar biasa.


“Kak Sofi, kamu baik-baik aja kan?” Azad mendekat mendahului Ramzi memeluk sang kakak yang belum sadar dari shocknya.


Para warga yang menyaksikan adegan itu agaknya mulai percaya bahwa perkataan Azad memang benar adanya.


“Mbak Sofi, ini bener adiknya Mbak Sofi?” Tanya Ucup yang tak lain adalah suaminya Romlah hanya untuk sekedar lebih meyakinkan.


Sofi hanya mengangguk, ia masih tak menyangka kalau Azad dan suaminya tengah malam bengini muncul di hadapannya. Agaknya dia berusaha untuk meyakinkan diri kalau dia bukan sedang bermimpi.


Para warga pun kemudian mulai membubarkan diri masing-masing. Pandangan Sofi yang semula bingung kini jadi tegang ketika sadar setelah para warga bubar ternyata ada Jane, Rumi dan juga Hanson.


“Azad, kenapa kamu bawa mereka kesini?” Sorot mata Sofi berkilat amarah ketika menatap Jane.


“Kak, kami kesini untuk menjeputmu pulang karena – “


“Nggak! Aku nggak mau pulang!” Potong Sofi gusar. “Pergi! Aku nggak mau kalian ada disini!” Sofi mundur meraih daun pintu untuk menutupnya.


“Kak, tunggu! Dengarkan aku dulu! Azad berusaha menahan pintu agar tak tertutup.


“Pergi, kataku! Aku nggak mau diganggu!” Sofi kekeh mendorong pintu sekuat tenaga, dia sama sekali nggak mau melihat wajah-wajah yang tak kehendakinya.


“Sofia, aku mohon!” Ramzi turun tangan ikut menahan pintu hingga Sofi melepasnya.


“Untuk apa kamu datang kesini?” Menatap nyalang suaminya. “Kamu sengaja datang dengan dia biar aku tahu kalian adalah pasangan yang tak terpisahnkan, iya?” Sofi meradang tak bisa lagi membendung emosinya. “Menjijikan!” Melempar tatapan sinis pada Jane yang terdiam.


“Kak, pelankan suaramu. Para warga baru saja pergi.”


“Aku nggak peduli! Tidak ada yang mengundang kalian kesini! Bila perlu aku akan panggil kembali warga agar mengusir kalian!” Amarah Sofi semakin menjadi.


“Kak, tolong jangan begini.” Azad berusaha menenangkan kakaknya.


“Sofia, kamu betul-betul tak tau terima kasih. Aku datang kesini justru untuk menolongmu!” Ramzi mulai emosi.


“Kak Ram. Tolong biarkan aku yang bicara sama Kak Sofi.” Azad tak mau Ramzi memperkeruh situasi. “Kak, bisa kita bicara di dalam?” Meraih kedua bahu kakaknya membawanya masuk.


Tak ada penolakan, meski sempat menatap penuh kebencian pada Rmazi namun Sofi mau diajak masuk oleh Azad sementara Ramzi masih di teras, tiba-tiba ….


SREET


BUGH!


Satu bogem mentah mendarat telak di wajah Ramzi.


“Baby! Kamu ini apa-apaan?” Pekik Rumi kaget.


❤️❤️❤️❤️❤️


Nah lo …. Bang Ramzi tau-tau kena tonjok sama Babang Hansol? 😳😳


Tungguin lanjutannya besok yaa…🤩🤩


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏 Makasih juga yang udah kasih vote dengan suka rela😍😘


maafkan kalau banyak typo🙏


Like☺️


Komen😊

__ADS_1


Vote😉


I love you🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2