
Rumi melipat kedua tangannya di dada menatap lurus pada Hanson yang nampak sibuk memasukkan buku-buku bermuatan tentang agama Islam ke dalam tas ranselnya.
“Schatzi aku pergi,” melihat sekilas pada Rumi kemudian keluar kamar menyandang tas di punggungnya.
Mendengus kasar seraya mengejar langkah laki-laki bule kekasihnya yang akhir-akhir ini menurutnya sok sibuk. “Baby!” lengking Rumi.
“Ya?” Spontan mengerem langkahnya, menoleh sedikit kaget.
“Kamu nggak bisa giniin aku terus.” Mendekat dengan wajah kesal. “Aku nggak suka dicuekin. Kamu sok sibuk banget sih jadi orang!”
“Astaga! Kenapa kamu berpikir kayak gitu?”
“Ya karena elo emang kayak gitu! Nggak nyadar lo? Gue ngerasa kita sekarang ada jarak.” Sinis Rumi pake lo gue pertanda kekesalannya udah hampir naik ke ubun-ubun.
“Schatzi, ini semua demi masa depan kita berdua. Aku sedang serius memperdalam Islam, biar aku bisa secepetnya menikahi kamu.”
Rumi mengernyit, sebenernya dia sudah menduganya. Pertemuan kekasihnya itu dengan Pak Haji Barkah tempo hari yang sengaja datang ke rumah untuk mengundang mereka semua ke acara syukuran ulang tahunnya, membuat Hanson mempunyai penilaian tersendiri pada Pak Haji yang memang terlihat sangat sholeh dan rendah hati itu. Tapi karena Hanson seperti tak mau berterus terang, Rumi jadi punya pikiran yang nggak-nggak.
“Aku setiap hari datang ke rumah Pak Haji untuk belajar dengannya.”
“Kamu bukan pergi menemui gadis yang kamu panggil cute girl itu?” menatap penuh selidik tak mau langsung percaya.
“Riri?”
“Bodo amat siapa namanya” melengos sebal.
Hanson tersenyum, senang dia melihat Rumi ngambek gitu karena berarti sedang cemburu. “Dia gadis incarannya Azad.”
Seketika Rumi berpaling kembali menatap Hanson sejurus. “Serius lo?”
Mengangguk, “iya, Azad falling in love with her at the first sight.”
Menutup mulutnya terkaget-kaget, “poor Jane.” Sesaat kemudian wajahnya berubah sendu.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Jane kayaknya ada hati sama Azad, tapi kalo gini ceritanya gue kasihan sama Jane.”
“Schatzi, soal hati tak bisa dipaksakan. Azad udah pernah ketemu Riri jauh-jauh hari ketika dia datang kesini untuk menyususl Sofi, mungkin sebelum dia dekat denagn Jane. Jadi tak bisa salahkan Azad kalo perasaan Jane tak berbalas.”
Termenung sejenak, dia tengah memikirkan gimana nasib cinta sahabat sekaligus saudaranya itu.
“Well Scathzi, I have to go now. Aku nggak mau Pak Haji terlalu lama menunggu.” Ucap Hanson menyadarkan angan Rumi.
“Ok. Belajar yang rajin ya, biar kita cepat menikah” melingkarkan kedua lengannya pada leher sang kekasih seraya menguntai senyum manis dekat sekali dengan wajah Hanson.
“Schatzi, tolong jangan begini,” melerai perlahan tubuh Rumi.
“Kamu nggak suka aku peluk?” mengerucutkan bibirnya penuh kekecewaan.
“Bukan, kita belum sah menjadi muhrim. Kata Pak Haji bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya dosa hukumnya.”
Memutar bola mata kesal, “ya udah cepetan pergi sana lo! Gue jadi males sama lo!”
“Jangan marah, Schatzi. Pelan-pelan kita harus memperbaiki prilaku kita untuk sesuai dengan ajaran Islam, agar pernikahan kita kelak sakinah mawaddah warrahmah. Sebab kata Pak Haji, Allah berfirman dalam Quran surat An-Nur ayat 26 yang artinya – “ menjeda kalimatnya sebentar untuk mengambil napas sambil mengingat,
“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”
Rumi bergeming, wajah datar bingung mau ngomong apa, kenapa mendadak pacarnya jadi demen ceramah begitu? Apa sebentar lagi dia akan jadi ustadz bule pertama di negara +62? Oh, no! itu ketinggian.
“Bye, Schatzi aku pergi dulu ya.” Mengulurkan tangan pada Rumi yang masih terdiam.
“Eh, apaan ini? Lo ngajak salaman? Katanya tadi bilang bukan muhrim?”
“Latihan salim dulu sama calon suami, boleh kali?” Tersenyum lebar.
“Ogah! Gue udah ngambek. Nggak usah sok sweet deh lo, pergi sana!
“Schatzi, kata Pak Haji ….”
__ADS_1
“lo ya dari tadi kata Pak Haji kata Pak Haji mulu, nggak ada kosakata lain? Kesel beneran lama-lama gue sama lo!” Mengentakkan kaki jengkel lantas berbalik cepat melangkah meninggalkan Hanson yang bukannya marah malah senyum makin lebar.
“Assalamualaikum, Schatzi.” Segera keluar rumah mengambil motor di garasi. Sejak Om Jaka tau Hanson serius ingin belajar agama pada ayah mertuanya, Om Jaka mengijinkan Hanson untuk memakai motor Mirza yang selama ini hanya teronggok di garasi sejak rumah beserta semua yang ada disana itu diserahkan Mirza pada ibunya.
Bukan itu saja, Om Jaka juga mengijinkan Hanson dan semua temannya memakai mobil Mirza yang juga sudah lama tak dipakai. Om Jaka pikir daripada mubadzir lama tak dipakai lebih baik dimanfaatkan untuk kebaikan. Urusan sama Bu Een mah belakangan, toh orangnya juga masih di rumah sakit ini.
“Jane, lo mo kemana?” Heran mendapati Jane ya tengah bebenah di kamar. Dia melipat beberapa baju gantinya yang dibelikan Azad ke dalam tas kecil.
“Gue mau balik ke Jakarta.”
“Ha? Balik?” Rumi menghempaskan diri di atas kasur menatap Jane. “Kok buru-buru?”
“Buat apa gue disini? Gue udah nggak ada kepentingan.” Menutup tasnya dengan tergesa.
“Tunggu, tunggu. Lo kayaknya lagi ada sesuatu deh.” Memperhatikan raut wajah Jane yang terlihat kesal. “Lo marahan sama Azad?”
Balas menatap Rumi. “Waktu itu dia ngajakin pulang ke Jakarta karena keadaan Sofi sudah membaik, dia bilang pingin pulang naik kereta berdua sama gue. Tapi nyatanya dari kemarin dia anteng-anteng aja, dia malah sibuk nggak tau kemana dan ngapain. Gue rasa dia jadi kayak gitu sejak ketemu sama cewek yang tempo hari dateng sama Hanson itu.” papar Jane getir, dia mencium aroma mencurigakan anatar Azad dan Riri.
Menarik lengan Jane untuk duduk di sampingnya. “Gue mau bilang sesuatu sama elo, tapi janji jangan marah atau terlalu sedih ya. ini cukup buat elo tau aja.”
“Soal apa?”
“Azad udah suka sama cewek itu sejak dulu, menurut Hanson dia jatuh cinta pada pandangan pertama.” Lirih Rumi.
“Tuh, kan?” berubah sendu. “Kok Hanson bisa tau?”
“Mungkin Azad yang cerita. Dulu Azad pernah kesini buat nyusulin Sofi, terus ketemu deh sama tuh cewek dan langsung jatuh cinta.”
Bangkit langsung mengambil tasnya. “Gue harus benar-bener pergi, nggak ada gunanya gue disini.”
“Jane, tunggu dong! Elo nggak boleh emosi gini.” Rumi menahannya. “Belum tentu juga cewek itu mau sama Azad kan?”
“Sama aja, mau dia mau atau nggak. Karena nayatanya bukan nama gue yang ada di hati Azad.” Tertunduk di akhir kalimatnya.
“Elo suka sama Azad, ya?” Tanya Rumi hati-hati.
“Mau pergi peke apaan lo? Pake baling-baling bambunya Doraemon?” Raumi tak habis pikir.
“Mobilnya yang di garasi boleh dipake kan kata Om Jaka? Elo harus anterin gue ke stasiun sekarang.”
“Stasin mana?”
“Stasiun dekat sini, gue udah search dan udah beli tiketnya juga online. Keretanya berangkat jam setengah sembilan nanti. Cepetan, elo harus anterin gue.” Menggeret lengan Rumi. “Gue nggak mau Azad liat gue pulang.”
“Ck! Nyusahin aja lo jadi orang!” Decak Rumi kesal namun nurut juga menuju garasi setelah menemukan kinci mobilnya.
“See? Mobilnya bagus, gue heran kenapa pemiliknya meninggalkan rumah dan segala kemewahan ini begitu saja.” Gumam Jane melihat mobil MIrza yang masih mengkilat dan terawat.
“Tanyakan pada rumput yang bergoyang.” Sahut Rumi asal, lantas segera masuk diikuti Jane yang duduk di jok sbelahnya. “Harusnya sih mobilnya bisa jalan.”
“Kan kemarin udah dipanasin sama Om Jaka?”
“Sayur kali ah dipanasin!” Memutar kunci dan terdengar suara mesin mobil yang halus, sesaat kemudian mereka sudah berada dalam perjalanan menuju stasiun.
❤️❤️❤️❤️❤️
Malam beranjak larut, Mirza baru sampai rumah dengan membwa keletihannya. Malam ini Om Jaka menyuruh Mirza pulang karena kasihan melihat keponakannya yang tampak lelah sudah beberapa hari bermalam di rumah sakit. Om Jaka menggantikan Mirza menjaga Bu Een malam ini. Sebenarnya bukan serta merta Om Jaka rela melakukannya, hal itu dia sanggupi karena mengetahui keadaan Mbakyunya yang masih sangat lemah meski sudah siuman dan dinyatakan pulih dari koma.
Bu Een belum bisa bergerak, dan berkata banyak. Menurut dokter, beberapa syarafnya belum bisa berfungsi normal pasca operasi. Masih dibutuhkan beberapa waktu lagi untuk benar-benar kembali pada kondisi normal. Namun jika melihat dari rentang waktu yang sudah dilalui Bu Een sejak dari pertama dia masuk rumah sakit sampai hari ini, dokter juga mangatakan itu sungguh diluar perkiraan kerana Bu Een mampu melewati semuanya dalam waktu yang terbilang lebih cepat dari prediksi dokter.
“Emak elu emang sakti beneran, Za. Gue curiga dia punya ilmu kanuragan yang sangat tinggi hingga bisa cepet banget kemajuannya.” Seloroh Om Jaka kala itu ketika bersama dengan Mirza mendengarkan penuturan dokter Leonard.
Ceklek
Mirza membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati sebab ia yakin Via sudah tidur, dan benar saja, sang istri tengah pulas berbaring dengan perutnya yang semakin bertambah buncit. Mirza mengulas senyum memandangi wajah Via sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai berganti baju, Mirza rebah perlahan di samping tubuh istrinya yang berbalut selimut sebatas pinggang. Sungguh ia ingin sekali mencium wajah cantik itu, namun ia urungkan karena takut mengganggu tidur pulas sang istri. Mirza menatap langit-langit kamar, menguapkan semua penat lelahnya. Kiranya kenyamanan kasur empuknya mampu membuatnya nyenyak malam ini karena tidak harus terjaga berkali-kali demi melihat kondisi ibunya yan mungkin saja membutuhannya sewktu-waktu.
Namun belum lama ia memejamkan mata, samar-samar terdengar isakan pilu mampir di telinganya. Kedua mata Mirza terbuka sempurna, ternyata Via tegah terisak-isak dalam tidurmya, ia bahkan sampai melelehkan air mata dari kedua sudut netranya yang masih terpejam.
__ADS_1
“Sayang,” menggoyang pelan bahu sang istri untuk menyadarkannya. “Sayang, kamu kenapa?” menggoyangkan lebih keras karena Via masih saja terisak sedih. “Sayang, bangun.” Kali ini menepuk pipi Via perlahan.
Seketika Via membuka matanya, ia seperti baru kembali ke alam nyata. Antara kaget dan bahagia, dia peluk sekuat-kuatnya tubuh Mirza. “Mas, jangan tinggalin aku …” tangisnya pecah basah dalam dada bidang sang suami.
“Ssssuuut, kamu mimpi apa Sayang?” megusap pucuk kepala Via dan menciumanya.
Via masih belum mau melepaskan pelukannya, malah makin erat dan bahunya berguncang karena masih menangis. Mirza membiarkannya beberapa saat, sebelum akhhirnya Via sendiri yang melepaskannya dan memandangi wajah suaminya dengan matanya yang basah.
“Sayang, kamu mimpi apa hm?” mengusap pipi Via menatapnya lembut.
“Mimpi?” Gumam Via, lantas memindai sekeliling kamar. “Oh, syukurlah cuma mimpi.” Lanjutnya penuh kelegaan.
“Iya, kamu cuma mimpi. Tapi mimpi apa sampai bikin kamu mennagis sedih seperti itu?" Masih penasaran.
Bukannya menjawab, malah menelisik wajah sang suami seksama dan dalam. “Mas, jangan tinggalin aku.” Lirihnya sedih.
“Kamu mimpi kayak waktu itu lagi? Mimpi Mas ninggalin kamu?”
Mengangguk samar, lantas kembali menghambur ke pelukan sang suami. “Aku nggak mau sendirian, aku butuh kamu untuk membesarkan anak kita.”
“Sayang, dengar.” Mendorong pelan Via untuk melihat wajahnya. “Kamu cuma mimpi.”
“Tapi mimpinya sama akayak waktu itu. Kamu pergi ninggalin aku, Mas. kamu terus berjalan jauh nggak menghiraukan aku. Kamu … “
Menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Via untuk berhenti bicara. “Mas udah berjanji nggak akan pernah ninggalin kamu walau apapun yang terjadi, kan? Kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan.” Menggengam jemari Via memberikan keyakinan. “Percayalah, Mas akan selalu ada disampingmu, untuk kamu, untuk anak kita.” Mengecup lembut kening Via dan membawanya tidur dalam pelukannya yang menghangatkan.
Meski lega dapat terjaga dari mimpi buruk, namun Via masih sulit memejamkan kembali kelopak matanya. Helaan teratur nafas Mirza justru membuat Via makin susah tidur, ia sendirian kini sebab yakin suaminya itu sudah terlelap. Perasaan aneh mulai mengusik hatinya. Apa mungkin mimpi yang sama bisa datang dua kali?
“Tidurlah sayang, anak kita pasti nggak mau bundanya begadang.” Ucap Mirza mengusap perut Via, ia tahu istrinya belum tidur.
Via mendongak, ternyata suaminya juga belum tidur walau matanya terpejam.
“Mas, I love you.” Lirih Via sendu.
“I love you more.” Membenamkan wajah istrinya kembali dalam pelukannya. “Udah ya, jangan ngomong lagi Sayang.”
“Tapi aku nggak bisa merem Mas.”
“Mau Mas buat kamu merem melek?”
Sekali lagi mendongak melihat wajah kokoh suaminya.
“Jangan menatapku seperti itu, Sayang.” Ucap Mirza ternyata dia bisa tau Via lagi ngeliatin dia padahal kedua matanya terpejam rapat. “Atau akan Mas buat kamu beneran merem melek dalam kenikmatan.”
Bug.
Meninju lengan suaminya, “Mas mau ngapain aku emang?”
“Mau apa ya …?” membuka matanya dan memainkan kedua alisnya naik turun.
“Jangan macem-macem ya.” Via mulai khawatir.
“Makanya cepetan tidur, Sayang.”
Beranjak dari pelukan sang suami, berbaring mengambil posisi membelakangi Mirza. “Aku tidur, jangan ganggu Mas, bye.”
Mirza tersenyum, harus dengan cara seperti itu istrinya mau kembali tidur.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏🙏
Like😍
Komen 🤩
Vote😘
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1