TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
68 #AMBRUK


__ADS_3

TING TONG


Bunyi bel terdengar sekali lagi.


Mirza dan Bu Harni yang sudah hampir sampai di ruang tamu segera mempercepat langkah mereka. Mirza segera membukakan pintu.


JENGJENG!


“Kenapa lama banget sih, bukain pintunya?” Omel Riri begitu Mirza membukakan pintu untuknya.


“Lho, bukan Arya yang datang?” Tanya Bu Harni.


“Bukan Mas Arya, tapi Mas Danar yang datang.” Sahut Riri sambil senyum lebar seraya melihat Danar di sampingnya.


Mirza dan Bu Harni jadi ikutan ngeliatin Danar.


Danar tersenyum sambil mengangguk sopan.


“Maaf Bu, kalo Riri pulangnya kemalaman.” Ucap Danar agak tak enak hati karena mendapati tatapan ganjil dari Mirza dan Bu Harni yang dialamatkan padanya.


“Mas Danar masuk dulu yuk!” Ajak Riri tanpa mempedulikan ibu dan kakak iparnya.


“Nggak usah, Ri.” Tolak Danar halus.


“Tuh bener kan, bukan Mas Arya?” Ujar Tia yang baru nyampe depan. “Orang tadi dia bilang masih nganter penumpang kok, nggak mungkin udah nyampe sini.”


“Emangnya suami kamu nganter penumpang kemana sih? Tumben amat malem-malem masih narik? Jangan-jangan cuman lagi nongkrong main kartu di pos ronda sama temen tukang ojeknya! Dasar suami kamu itu emang nggak bisa diandalkan!” Omel Bu Harni mulai kesal.


“Ini ada apa sih? Kok ibu ngomel-ngomel gitu?” Riri sampe heran.


“Udah, Bu. Nggak usah ngomel sama Mbak Tia.” Mirza membela kakak iparnya, ia kasihan kalo Tia selalu dipojokkan sama ibunya sendiri. “Aku berangkat sendiri aja nggak papa.”


“Mas Mirza mau berangkat ke stasiun?” Tanya Riri lagi setelah pertanyaan pertamanya tadi nggak dijawab.


“Iya, Ri. Keretanya berangkat jam 7.”


“Oh, gimana kalo minta tolong sama Nak Dana saja?” Usul Bu Harni tiba-tiba dengan mata yang berbinar seolah itu adalah ide paing briliant. “Nak Danar bisa kan anterin Mirza ke stasiun? Kasihan daripada terlambat ketinggalan kereta gara-gara nungguin Arya yang nggak tau lagi nyangkut dimana?!”


Ditodong pertanyaan begitu kontan saja Danar kaget tak menyangka. Dia agak ragu untuk menjawab.


“Nggak usah, Bu. Nanti malah ngerepotin.” Tolak Mirza nggak enak hati. “Aku naik motor sendiri aja.”


“Ibu khawatir, Za motor kamu nanti ilang kalo ditinggal di stasiun.”


“Ya udah, biar saya anta saja sekalian pulang, Bu.” Ucap Danar akhirnya.


“Tuh, Nak Danarnya juga mau. Makasih ya, Nak Danar.” Ucap Bu Harni dengan senyum manisnya.


Mirza masih terlihat agak ragu.


“Udah sana cepetan! Nanti keburu telat!” Bu Harni mendorong tas ransel Mirza.


Setelah berpamitan akhirnya Mirza dan Danar pergi. Bu harni dan kedua putrinya masuk ke dalam.


“Bu, aku laper nih. Ada makanan nggak?” Rajuk Riri sambil memegangi perutnya.


“Enak aja dateng-dateng langsung makan. Jawab dulu pertanyaan Ibu, motor kamu dikemanain? Kok bisa pulangnya sama Danar?” Tanya Bu Harni penuh selidik.


“Bannya kempes, Bu. Makanya Mas Danar nganterin aku pulang.” Sahut Riri santai seraya menuju ruang makan untuk mencuci tangan dan mengambil piring.


Riri membuka tudung saji di meja makan, matanya langsung bahagia melihat hidangan lezat dihadapannya. Capcay, balado telor, dan ayam goreng bumbu kelapa.


“Mbak Tia udah makan, Mbak?” Tanya Riri setengah berteriak karena melihat Tia yang menaiki tangga.


“Udah.” Sahut Tia pendek, dia masih bete gegara diomelin ibunya tadi.


“Nanti kamu coba kerokin Via ya? Barangkali dia masuk angin!” Perintah Bu Harni pada Tia.


Tia hanya mengangguk, ia menuju kamarnya mau sholat maghrib dulu karena hampir aja kelupaan karena sibuk di dapur dan langsung makan tadi.


Riri baru saja selesai mengambil nasi dan lauk bersiap mau makan ketika Bu Harni duduk di depannya dan menarik piringnya.


“Kamu pacaran sama Danar, Ri?” Todong Bu Harni masih dengan mata penuh selidik.


“Ck, ibu apaan sih?” Riri berdecak kesal. “Nggak lah, kok ibu bisa ngambil kesimpulan kayak gitu sih?”


“Ya habisnya ibu perhatikan dia sering banget antar jemput kamu. Malem ini juga, pake alasan ban motor kempes segala."


“Tapi emang ban motorku itu beneran kempes Bu tadi waktu mau pulang dari ruko.” Riri membela diri nggak mau disalahkan.


“Jadi beneran kamu nggak pacaran sama Danar?” Bu harni masih belum yakin.


“Nggak.” Sahut Riri yakin. “Emangnya kenapa sih, Bu? Kok ibu kayak nggak suka gitu sama Mas Danar? Tadi aja ibu baik-baikin Mas Danar? Kemaren-kemaren juga gitu, kok sekarang tiba-tiba ibu jadi nggak suka?” Riri curiga.


Bu Harni menghela napas, bingung juga ia mau bilang apa. Entah gimana harus ngejelasinnya, Bu Harni kayak punya feeling kalo Danar nggak baik deket-deket sama anaknya. Ia sebenernya udah kurang sreg sejak pertama kali ketemu Danar ketika Danar jemput Riri di rumah.


“Atau jangan-jangan ibu yang naksir Mas Danar?” Canda Riri usil.


“Ngawur! Ibu itu nggak suka liat cowok gondrong nggak rapi gitu!” Sahut Bu Harni coba memberikan alasan.


“Tapi Mas Danar keren kok, cakep, ganteng! Udah gitu nggak kalah kaya sama Mas Mirza.” Riri memuji-muji keIebihan Danar. "Orang tuanya selain punya tempat kursus masak dan kursus nyetir mobil, juga punya mini market dimana-mana, punya tempat gym, kedai kopi dan restoran, juga punya hotel sama resort di pantai Tirta Maya.”


Bu Harni termelongo-melongo mendengar penuturan Riri soal kekayaan orang tua Danar.

__ADS_1


“Kaget kan Ibu kalo Mas Danar itu kaya banget?” Riri senyum godain ibunya yang masih tampak bengong tak percaya. “Orang tuanya Mas Danar itu orang terkaya nomor 2 lho di kota kabupaten setelah artis ndangdut Iis Karlina.”


“Hah? Masa sih?” pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari mulut Bu Harni.


Riri mengangguk mantap, sambil diam-diam mengambil piringnya kembali dan memulai acara makannya yang tadi diserobot sama ibunya.


Semetara itu di dalam mobil menuju ke stasiun, perjalanan terasa sepi. Baik Mirza ataupun Danar belum ada yang memulai obrolan duluan. Keduanya terasa sangat canggung. Mirza masih menyimpan kekesalan dan diam-diam cemburu pada Danar setelah peristiwa ice cream di acara pertunangan Yana. Sedangkan Danar sendiri bingung mau ngobrolin soal apaan, karena ia memang bukan tipe orang yang banyak bicara.


Mirza melirik sekilas pada Danar disampingnya yang lagi serius mengemudi.


“Sorry ya, malah ngerepotin kamu.” Ucap Mirza akhirnya memecah kebekuan diantara mereka.


Mirza tersenyum kecil. “Nggak papa, aku nggak ngerasa direpotkan kok.” Sahutnya tapi tanpa menoleh melihat Mirza.


Hening lagi untuk beberapa saat.


“Di pertigaan itu belok kiri ya.” Ucap Mirza kemudian yang sadar stasiun sudah deket.


“Oke.”


Danar pun mengikuti arahan Mirza.


“Nah, lurus sedikit lagi.”


Danar mengurangi kecepatan laju mobilnya ketika melewati pasar Kecamatan yang sepi karena malam hari toko-toko di sana sudah tutup.


“Ya, berhenti disini.” Ucap Mirza.


Danar mengentikan sedan hitamnya di depan bangunan stasiun bergaya Kolonial Belanda yang tak terlalu besar itu. Stasiun kereta itu memang bukan stasiun besar dan hanya melayani beberapa perjalan kereta saja.


Danar ikut keluar dari mobil. Ia memandangi suasana stasiun dan pasar kecamatan yang sudah sepi itu. Matanya memindai semua keadaan yang ada disana. Danar menghirup dalam udara malam yang terasa lembab dan agak berbau tak sedap karena bersebelahan dengan pasar sayur yang kemungkinan banyak sayur mayur busuk masih tertimbun disana. Pikirannya menerawang, mencoba menerka-nerka seperti apa gambaran pasar dan stasiun itu pada kurang lebih 33 tahun yang lalu.


“Makasih ya udah nganterin sampe sini.” Ucap Mirza menyadarkan pikiran Danar.


“Oh, iya oke.” Balas Danar agak kaget. “Ya udah, cepetan masuk. Keretanya udah dateng tuh.” Lanjut Danar yang memang melihat rangkaian gerbong kereta udah terparkir di stasiun itu.


Mirza mengangguk seraya mengulurkan tangan. “Sekali lagi makasih ya.” Ucapnya sambil tersenyum


Danar menyambut uluran tangan Mirza dengan senyum juga.


“Sama-sama. Hati-hati ya.” Balasnya seraya menepuk pundak Mirza.


Tak berapa lama terdengar suara Mbak woro-woro di pengeras suara stasiun memberitahukan kalo kereta akan segera berangkat. Mirza pun berjalan cepat memasuki stasiun.


Kembali ke rumah Via,


Ica yang mulai mengantuk  dan hampir tertidur di samping Via jadi tersadar dari kantuknya karena Via mencoba bangun.


“Tante mau kemana?” Tanya Ica.


“Tante mau kemana?” Ulang Ica.


“Mau ke kamar mandi, sayang.” Sahut Via yang sudah berhasil duduk di bibir ranjang, lantas mendesis pelan memegangi pelipisnya.


“Tante kenapa?” Tanya Ica perhatian banget.


“Nggak papa kok.”


“Tante, Ica boleh nyalain TV nggak?” Tanya Ica lagi.


“Boleh, sayang.”


Ica meraih remot dia atas nakas. Via bangkit dan mencoba melangkah pelan menuju kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba pening dikepalanya terasa begitu nyeri, pandangannya berkunang-kunang, apa yang dlihatnya seperti berputar-putar.


BRUUKK!


Via ambruk di depan pintu kamar mandi.


“Tante!” Pekik Ica kaget bukan kepalang melihat tante kesayangannya jatuh ke lantai, ia segera mengampirinya. “Tante! Tante kenapa?” Ica mengguncang-guncang lengan Via.


Melihat tantenya diam saja dengan mata hampir tertutup, Ica semakin panik dan langsung keluar kamar.


“Bunda …., Nenek …! Tolong …! Tolong …!” Teriak Ica sekencang-kencangnya membuat seisi rumah kaget.


Tia yang sedang khusyuk dengan Al Quran mininya langsung menyudahi kegiatannya begitu mendengar teriakan Ica yang minta tolong. Begitu juga dengan Bu Harni dan Riri di ruang makan, mereka langsung naik menuju kamar Via.


“Ada apa, sayang?” Tanya Tia panik.


“Ica, ada apa Nak?” Bu Harni tak kalah kagetnya.


“Tante Via …” Ica tak bisa melanjutkan kalimatnya karena tercekat sudah mau menangis ketakutan, ia hanya menunjuk ke dalam kamar Via.


Tia berlari masuk diikuti Bu Harni dan Riri.


“Astaghfirullah, Via.” Tia kaget langsung meraih kepala adiknya ke atas pangkuannya. “ Vi, kamu kenapa Vi?” Tia menepuk-nepk pelan pipi adiknya.


“Via Bangun. Kamu kenapa? Jangan bikin ibu takut, Nak.” Bu Harni hampir menangis.


“Bu, kayaknya Mbak Via pingsan.” Ucap Riri sambil meraba nadi Via yang lemah.


“Cepat telpon Mas Arya, Ri! Suruh dia cepet kesini! Udah nyampe mana, lama banget!” Tia makin panik.


“Kita bawa Via ke klinik dokter Burhan. Ayo Tia, kita bawa sekarang.” Bu Harni diselimuti rasa khawatir yang berlebihan.

__ADS_1


“Sebentar, Bu. Kita mau bawa Via gimana? Dia pingsan, kita tunggu Mas Arya.”


“Giman, Ri? Dimana Arya?” Tanya  Bu Harni tak sabaran.


“Halo, Mas Arya! Mas nyampe mana? Cepetan ke rumah Mbak Via, Mas. Mbak Via pingsan!” Ucap Riri gugup setelah sambungan teleponnya dijawab Arya.


“Oh, udah nyampe depan? Cepetan masuk aja ke kamar Mbak Via!” Riri berlari keluar menyusul Arya yang ternyata sudah ada di halaman rumah Mirza.


Bu Harni dan Tia sanagt khawatir, Ica nampak mojok dibalik pintu sambil sesenggukan karena sangat takut.


“Mas, cepet tolongin bawa Via ke klinik!” Tukas Tia yang melihat suaminya sudah datang.


“Kita angkat saja dulu ke atas kasur, Mbak. Kita kasih minyak kayu putih atau apa, siapa tau bisa sadar.” Usul Riri.


“Ya udah, Mas cepetan angkatin Via. Aku nggak kuat.”


Arya lalu mengambil alih tubuh Via yang terkulai lemas dan memindahkannya ke atas kasur busanya.


“Bunda, tante nggak papa kan?” Tanya Ica sambil sesengguan mendekati bundanya.


“Insya Allah, Nak.”


“Mana minyak kayu putihnya?” Pinta Riri.


“Nggak tau,  Mbak nggak bawa. Via juga belum tentu punya. Mas bawa bawa angin nggak?” Tanya Tia sama suaminya.


“Bawanya minyak nyong-nyong.”


“Ih, malah becanda!” Tia menepuk lengan suaminya kesal.


“Udah, kita cepet bawa Via ke klinik aja. Ibu takut ada apa-apa sama Via kalo nggak segera ditangani.” Bu Harni makin takut karena anak-anak dan menantunya sama sekali tak punya solusi.


“Ya udah, ayok cepetan!” Tia bangkit. “Tapi bawanya gimana, Bu? Via kan pingsan?”


“Sama suami kamu lah!”


“Masa mau naik motor?”


“Ya pake mobil lah! Cepetan keluarin mobilnya!”


“Kamu bisa nyetir mobil, Mas?” Tanya Tia pada suaminya.


“Nggak. Kamu kan tau?”


“Iya.”


“Terus kenapa pake nanya?”


“Terus gimana ini bawa Via ke kliniknya?”


“Huh, dasar kamu laki nggak guna! Apa-apa nggak bisa!” Kesal Bu Harni pada Arya.


“Ya udah naik motor aku aja bonceng tiga!” Usul Arya konyol.


“Ngawur! Yang ada juga nyampe klinik subuh nanti, itu pun kalo nggak motor butut kamu mogok di jalan!” Omel Bu Harni makin kesal.


“Duh, kok malah pada ribut sih?” Riri pusing denger ibu sama kakak iparnya malah debat.


“Ah, Danar! Cepet kamu telpon Danar, Ri! Minta dia balik lagi kesini buat anter Via!” Cetus Bu Harni yang tiba-tiba ingat sama Danar.


Riri memandang ibunya dengan tatapan ragu.


“Ibu yakin?”


“Iya. Udah cepet telpon Danar!” Perintah Bu Harni benar-benar tak sabar.


 _____________________


Eaaa ….. istirahat dulu ya Kakak ….😂😂


Gimana ya... kira-kira Danar dateng nggak ya buat nolongin Via?🤔🤔🤔


Yang dukung Via sama MIrza, maafkan author yaa…😅😅 Bab berikutnya mau part Danar dan Via dulu, 😍😍hehehe…🤭🤭


Makasih akak readers dan akak author yang udah dukung Livia yaa…🙏🙏❤️❤️


Like selalu🌹


Komen juga❤️


Rate 5 jangan lupa🤩


Vote boleh banget😍


Luv u all🤗🤗😘😘


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2