TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
185 #MELAHIRKAN


__ADS_3

**Eits! Jangan tertipu sama judulnya yaa😄


baca dulu sampe selesai 😉😉


❤️❤️❤️❤️❤️**


Om Jaka dan Mirza paginya benar-benar pergi lepas subuh saat para istri mereka masih bergelung malas dibalik selimut tebalnya.


“Sayang, Mas pergi ya. Cup!” Mirza mengecup kepala Via membuatnya menggeliat.


“Mas? Kok udah wangi, emang udah mandi?” Mata Via mengerjap melihat wajah tampan suaminya yang tepat berada di atasnya.


“Udah dong.”


Via duduk di hadapan suaminya dengan mata setengah merem setengah melek. “Kenapa nggak bangunin aku? Kan bisa aku bikinin sarapan Mas?”


“Udah sarapan roti selai coklat, Sayang.”


Via melukin suaminya dengan wajah malas khas orang baru bangun tidur. “Mas sama Om Jaka hati-hati di jalan ya, kabari kalo ada apa-apa.”


“Iya, Sayang.”


Tok tok tok ….


Pintu kamar Mirza diketok dari luar.


“Za? Udah siap belum lu? Buruan kita berangkat!” Panggil Om Jaka dari luar.


“Bentar, Om!” Balas Mirza. “Ya udah, Mas pergi ya. Kamu juga hati-hati Sayang, mungkin Mas pulangnya agak sore atau bahkan malam.”


Via mengangguk masih sambil setengah mengantuk membuat Mirza gemas melihatnya.


“Kamu masih mau tidur apa mau Mas gedong ke kamar mandi, hm?” Tanya Mirza pada istrinya yang masih gelendotan manja di lehernya.


“Mau tidur lagi aja deh, masih ngantuk.” Via melepaskan pelukannya dan menjatuhkan diri kembali di atas kasur. “Capek banget aku Mas.”


“Hm, capek tapi enak kan?” Goda Mirza menowel hidung Via.


“Ish, semua ini gara-gara Mas!”


“Za! Ya elah, buruan lu! Lagi ngapain sih?” Panggil Om Jaka lagi dari luar kamar.


Mirza melihat pada daun pintu. “Lagi olah raga pagi dulu!”


“Busyet! Bukannya semalem udah? Jam berapa ini kita perginya? Ah, elu lelet banget jadi orang!” Om Jaka mengomel di luar kamar membuat Mirza cekikikan.


“Ya udah Mas, cepetan pergi sana. Kasian Om Jaka tuh udah nungguin.”


“Iya Sayang. Jangan telat bangun ya, nanti waktu subuhya habis lho.” Pesan MIrza.


“Iya Mas, aku cuman mau males-malesan dulu.”


“Pasang waker Sayang, nanti kesiangan. Kamu juga kerja kan hari ini?”


“Iya Mas, iya. Tenang aja. Udah cepet pergi sana ah!” Via mendorong suaminya. “Jadi ilang deh kan ngantuknya?” Via sebel.


“Pasti ilang lah kalo udah liat wajah tampan suamimu ini, hehe….” Mirza nyengir lantas mendekatkan wajahnya pada bagian bawah Via.


“Mas mau ngapain?” Via menahannya sambil melihat dengan tegang.


“Mau nyium anak kita. Emangnya kamu pikir Mas mau ngapain?”


“Oo …” Via lega dengan bibir membualat.


“Anak Ayah, kamu jangan nakal ya sama Bunda di rumah. Ayah pergi dulu. Baik-baik ya sama Bunda.” Mirza berbicara pada perut Via yang masih datar setelah menyingkap sedikit piyama Via.


“Ish Mas, dia kan belum berbentuk, emangnya udah bisa denger?” Via rada aneh dengan kelakuan suaminya.


“Tuh, kamu denger kan Nak? Bundamu itu cerewet, pasti dia jealous tuh!”


“Mas…! Udah sana cepetan!” Via kembali mendorong suaminya.


Cup cup cup cup!


Mirza menghujani perut Via dengan ciuman-ciuman kecil membuat Via kegelian, terakhir, Mirza sengaja usil banget memencet dua squishi kesukaannya membuat Via menjerit kaget.


“Aaaarrh…!”


Mirza bangkit dengan wajah puas dan senyum lebar. “I love you, Sayang.”


“Waduh! Si Via ampe kenceng begitu teriaknya?” Di luar kamar Om Jaka sampe ikut kaget mendengar teriakan Via. “Beneran olah raga pagi deh kayaknya tuh bocah!” Om Jaka bangkit dari Sofa mendekat ke ke kamar Mirza.


Ceklek.


Pintu kamar Mirza terbuka, Mirza keluar dengan senyum manisnya. “Ayok Om!” Ajaknya.


“Elu udah mandi ju**b belum?” Om Jaka malah menatap Mirza sangsi.


“Om nggak liat, aku udah cakep kelimis manis kayak gini?”


“Lah, tadi bini elu teriak-teriak kenpa? Bukannya abis olah raga pagi?” Om Jaka malah kepo.


“Ah, nggak papa.” Mirza berjalan mendahului.


“Eh, beneran gue penasaran sama elu ini, Za! Elu udah mandi ju**b belom? Jangan sampe kenapa-napa kita ntar dijalan. Soalnya bisa apes, Za!” Om Jaka mengejar Mirza.


“Om Jaka nih cerewet banget kayak nenek-nenek deh!” Mirza berbalik menatap Omnya. “Aku nggak ngapa-ngapain tadi sama Via Om.” Tegas Mirza.


“Oke, yok cuss!” Ucap Om setelah terdiam sebentar seperti coba meyakinkan hatinya sendiri.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hanson dan Rumi sedang menunggu seseorang di sebuah café ternama di pusat kota. Sesekali Rumi menegcek ponselnya melihat beberapa notifikasi yang masuk sementara Hanson hanya duduk sambil menikmati minumannya yang hampir tandas. Mereka di sana sudah sekitar setengah jam, dan orang yang ditunggunya tak jua kunjung muncul.


“Schatzi, kamu yakin dia minta bertemu dengan kita disini? Tanya Hanson yang sudah mulai jemu menunggu.


“Iya, kenapa memangnya?”


“Hem, nggak papa cuma agak aneh aja. Dia kan seorang ustadz, masa minta ketemu di café?” Hanson mengaduk sisa minumannya yang tinggal seuprit.


“Baby, ustadz juga manusia! Masa ke café doang nggak boleh?” Rumi menatap jengah.


“Ya kan harusnya kita bisa ketemu di masjid, atau bisa langsung ke rumah dia?”


“Udah deh, nggak usah cerewet! Yang penting elo punya guru ngaji!” Rumi melotot kesel.


“Tapi apa kamu yakin ustadznya competent?” Hanson masih penasaran.


“Iya lah, dia nih ustadz yang sering ngisi kajian di kampus-kampus. Gue dapet recomend dari temen gue.” Rumi yakin banget.


Sesaat kemudian, nampak seorang pria muda memakai kaos hitam berkerah dengan peci dikepalanya berjalan mendekat diantar seorang waiter.


“Ustadz Salman ya?” Tebak Rumi begitu si pria muda itu mendekat.


Pria muda itu tersenym seraya mengangguk. “Iya. Betul. Mbak Rumi, ya? Dan ini pasti calon suaminya kan, Mas Dietrich Hanson Bergmann?” si pria muda melihat Rumi dan Hanson bergantian.


Agak kaget juga Hanson ustadz itu tau nama lengkapnya. Hum, pasti si Schatzi yang memberitahunya. Batin Hanson.


Mereka bertiga pun kemudian terlibat obrolan basa basi sebentar setelah sang waiter mencatat pesanan ustadz Salman.


“Ustadz, maaf apa nggak kebanyakn tuh aku belajar ngaji setiap hari tanpa hari libur?” Tanya Hanson pada sang ustadz muda yang tengah sibuk dengan ponselnya.


“Oh, emangnya mau berapa kali kita belajanya dalam seminggu?” Ustadz Salman melihat Hanson sekilas kemudian kembali ada layar ponselnya. Serius banget kayaknya dia!


“Baby, kamu jangan nawar ya. Lebih sering kamu belajar, lebih cepat bisa. Lagian ini bayarannya lumayan mehong tau!”Omel arumi setengah berbisik.


“Tapi Schatzi, aku juga punya kesibukan yang lain.” Bantah Hanson ikut berbsisik pula.


“Halah, sibuknya nanti aja, kalo udah lancar ngaji sama bacaan sholat, baru kamu boleh sibuk lagi.”


“No, aku mau privat time twice a week. Aku butuh ke gym, aku harus monitoring bisnis aku, aku juga …”


“Kalo gitu kita nggak jadi nikah!” Potong Rumi.


“Kok gitu? Kamu nggak bisa maksa aku, Schatzi.”


“Kamu kan bis ke gym pagi? Monitoring bisnis itu lah apa lah bisa siang atau malem, sore waktunya ngaji, titik!” Rumi kekeh.


“Kalo gitu aku mau ganti ustadz aja!” Hanson kali ini berani bantah Rumi. “Aku kurang sreg sama dia.” Bisik Hanson lebih dekat lagi dengan telinga Arumi, sementara si ustadz muda masik khusuk pada benda pipih di tangannya, entah apa yang sedang ditulisnya disana, jarinya lincah bener ngetik huruf demi huruf nggak abis-abis sampe waiter datang pun ia ngak mempedulikannya.


“Ekhem!” Rumi sengaja berdehem agak kencang setelah mengamati sang ustadz muda yang seolah puya duania sendiri itu padahal jelas-jelas dia sekarang lagi bertemu sama calon santrinya yang kepingin banget belajar ngaji.


“Eh, iya. Gimana Mbak Rumi?” Sang ustadz muda meletakkan gawainya di meja dan melihat Rumi dengan senyumnya.


“Saya ganti jadwal ngajinya dari setiap hari menjadi senin sampai kamis aja.” Ucap Rumi.


“Kenapa memangnya Mbak?” Tanya Ustadz salman heran kearena mereka telah sepakat untuk jadwal Hanson setiap hari tana kenal libur. “Setap hari biar cepat bisa Mbak, bila perlu durasi belajarnya di tambah dari ba'da Dzuhur sampai ba’da maghrib.”


Rumi melirik Hanson sebentar, Hanson menggeleng. “Nggak Ustadz. Jumat dia harus ke gym, sabtu dan Minggu buat jalan sama saya.”


“Oh, begitu …” Ustadz Salman manggut-manggut.


“Danke, Schatzi.”(Terima kasih, Sayang) Lirih Hanson sambil mau nyosor Rumi.


“Baby!” Pekik Rumi seraya menutup bibir Hanson yang hampir aja mampir di pipinya.


“Astaghfirullah! Mas Dietrich Hanson Bergmann ini udah mau nyosor aja, halalin dulu Mas.” Ustadz salman godek-godek menatap sepasang calon pengantin di depannya.


“Maaf, ustadz. Kelepasan.” Hanson tersenyum cuek.


“Ekhm, Ustadz silakan makanannya dicicipi dulu.” Ujar Rumi menutupi rasa tak enak hatinya gegera ulah calon suaminya itu.


“Oh, iya. Sebentar, kita selfie dulu ya.” Ustadz meraih gawainya dan mengambil beberapa foto selfie dengan aneka hidangan diantara mereka bertiga.


Cekerek cerek cekrek


“Masya Allah! Keren banget!” Sang Ustadz melihat foto hasil jepretannya dnegan senyum puas, sementara Rumi dan Hanson saling pandang dengan tatapan heran.


❤️❤️❤️❤️❤️


Jam istrirahat siang, Via sengaja keluar kantor paling belakangan karena malas mengantri di lift. Sebelum beranjak dari mejanya dia chat Denaya untuk menanyakan apakah sudah makan siang atau belum.

__ADS_1


Via


Dena, kamu udah makan siang belum? Di kulkas ada banyak makanan kok, tapi mending kamu order pake gofood aja kalo males.


Denaya


Udah kok, Vi. Baru aja. Disini ada Yanti sama anaknya si Gio, lucu banget si Gio …😍😍


Via


Syukur deh kalo udah makan. Oh, Yanti ada di situ ya?


Denaya


Iya, katanya kamu yang nyuruh dia buat nemenin aku. Makasih ya, perhatian banget kamu, hehe…😂😂 dia sampe bawa makanan segala lho. Jadi ngerepotin aku nih ..🤭


Via


Santai aja, Yanti orangnya baik kok. Dia sahabat dan tetangga yang sangat bisa diandalkan.


Denaya


Kamu udah makan belum?


Via


Belum, ini lagi baru mau keluar cari makan.


Denaya


Oh, ya udah cepetan makan sana. Debaynya jangan sampe kelaperan. Don’t worry about me 😘😘


Via


Oke, kabari kalo ada apa-aa ya. Aku pulang jam 5 sore nanti. Salam buat Yanti sama Gio🤗😘


Denaya


Ok


Via memasukkan gawainya ke dalam tas usai ber chat ria dengan Denaya.


“Vi? Kok masih disini?” Sapa Danar yang keluar dari ruang kerjanya. “Kamu udah makan?” Danar menghampiri.


“Ini baru mau keluar cari makan. Kamu … ehh Bapak …”


“Panggil nama aja lagi, ngapain pake Bapak segala.” Potong Danar.


“Kan ini di kantor?” Via tersenyum salting sambil menggaruk pelipisnya yang nggak gatal.


“Kan nggak ada siapa-siapa?”


“Hehe… iya sih.”


“Ya udah kalo mau makan yok bareng.” Ajak Danar.


“Eumh, tapi aku … mau ke toilet dulu, abis itu ke mushola terus ke ATM, baru makan.” Jawab Via mencari alasan karena untuk alasan apapun dia nggak mau terlihat jalan bareng sama Danar. Demi keamanan!


“Oh, oke.” Danar mengangguk mengulas senyum manisnya. Dia tau sebenarnya Via hanya ingin menghindarinya saja, namun dia sangat bisa memakluminya. “Ladies firt, silakan …” Danar menggeser posisinya memberi jalan untuk Via lewat duluan.


“Maksih, aku dulaun ya …” Sahut Via meraih tasnya dan berjalan meninggalkan Danar duluan.


Sementara itu Mirza dan Om Jaka sedang dalam perjalanan menuju ladang garam seusai melihat-lihat empang Haji Barkah yang letaknya ternayata berlainan tempat. Jalanan pedesaan yang masih tanah dan berbatu terjal dengan kondisi jalan rusak parah membuat mobil Om Jaka seolah melompat-lompat dan kadang terseok jalannya. Mirza sampe beberapa kali kepalanya kejedot kaca jendela di sampingnya.


“Bisa nyetir nggak sih, Om?” Gerutu Mirza sambil mengusap kepalanya yang untung nggak sampe benjol.


“Hehe… ya maap, namanya juga jalannya rusak begini.” Om Jaka malah nyengir ngeliat tampang cemberut Mirza.


“Perasaan dari tadi nggak nyampe-nayampe? Aku kira tempatnya deket dari empang.”


“Bentar lagi nyampe. Kayak anak kecil aja lu, nggak sabaran amat kalo diajakin pergi.” Ledek Om Jaka.


“Masalahnya badan udah pada sakit duluan Om, belum nyampe juga. Nggak ada jalan lain apa?”


“Emang nggak ada. Ini satu-satunya akses utama menuju kesana.”


Mirza mendengus kasar. Pikirannya mungkin menyesal kenapa mau aja diajakin Om Jaka.


“Minggiran kesana kan bisa Om, jalannya lebar juga? Kenapa musti lewat tengah mulu sih? Kan rusak jalannya ini yang tengah, perut aku mual nih. Mana tadi abis makan kenyang banget lagi. Kalo muntah gimana coba?” Mirza terus mengomel kesal.


“Ngomel mulu lu kayak emak-emak!” Balas Om Jaka. “Emang jalannya rusak semua ini nggak bisa dipilih! Persis kayak omongannya para pejabat!”


“Ish, kok jadi nyangkut ke pejabat segala?” Mirza menoleh nggak habis pikir kemana arah pembicaraan Omnya itu.


“Iya kan pejabat itu kalo ngomong suka nggak konsisten. Nggak bisa djadiin pegangan, hari ini ngomong apa besok udah ganti lagi.”


“Hubungannya sama jalan rusak apa?”


“Tau ah! Elu pikir aja sendiri!” Om Jaka keki lantas kembali serius meliuk-liuakan kemudi mobilnya membuat Mirza makin puyeng.


Mirza akhirnya mematikan Ac mobil dan menurunkan kaca jendela di sampingnya. Udara sejuk pedesaan menyerbu masuk mengganti aroma parfum mobil yang membuat Mirza sempat keliyengan. Pepohonan rimbun, langit biru luas membentang dengan awan yang berarak-arak ceria membuat Mirza lebih rileks dan menikamati perjalannya.


“Kenapa nggak dari tadi dibuka kaca jendelanya ya? Kayak gini kan lebih fresh. Itung-itung safari ke desa tertinggal aja.” Mirza bicara pada dirinya sendiri. Matanya sampe sayup-sayup diterpa angin pedesaan yang menerbangkan rambut gondrongnya, kini ia nggak protes lagi meski jalanan masih penuh lubang dan berbatu. Mirza nampaknya sudah bisa menikmati perjalannya.


“Apaan? Ini lebih parah!” Mirza udah mau ngomel lagi.


“Ini udah mau nyampe. Tuh udah keliatan kan hamparan ladang garamnya?” Om Jaka menunjuk pada hamparan petak-petak tanah yang masih nampak dari kejauhan.


Mirza menegakkan posisi duduknya mengikuti arah jari Om Jaka menunjuk. Mereka kini sampai di sebuah perkampungan kecil. Pohon nyiur berjejer menjulang sepanjang perjalanan. Terlihat beberapa orang yang dilewati memandang mereka dengan tatapan kepo. Om Jaka sesekali membunyikan klakson sambil mengangguk ramah untuk menyapa mereka. Sekumpulan anak-anak kecil laki-laki bertelanjang dada nampak berlarian mengejar mobil yang dikemudikan Om Jaka dengan riuh jenaka membuat Mirza menyembulkan kepalanya menoleh ke belakang seraya melambaikan tangan membuat mereka makin kegirangan dan bersemangat untuk mengejar.


“Seru banget! Mereka kayaknya jarang ngeliat mobil deh. Aku curiga ini bukan wilayah Indonesia nih Om.” Ujar Mirza tersenyum lebar kembali pada posisinya.


“Terus elu pikir ini dimana? Di Somalia?” Om Jaka keki.


Mirza tak menyahut, kini ia tengah memandangi hamparan ladang garam yang membentang di kiri dan kana jalan. Sejauh mata memandang memang hanya ada petak-petak tambak garam dengan kincir angin yang berjajar di pinggirnya yang digunakan sebagai tenaga angin oleh para petani garam untuk memompa air masuk ke lokasi tambak.


CIIIT …


NGIIIK …


Mobil Om Jaka berhenti di depan sebuah bagunan semi permanen dimana sudah ada beberapa orang berkumpul di sana. Nampak seorang laki-laki setengah baya menyambut Om Jaka, Mirza turun mengikuti. Rupanya bapak setengah baya itu adalah orang kepercayaan Haji Barkah yang diamanti untuk mengurus semua ladang garam mertua Om Jaka itu kerena dalam percakapan mereka terdengar beberapa kali nama Haji Barkah disebut-sebut.


“Om, Om Jaka sering ya kesini? Kok kayaknya udah hafal banget jalan dan akrab banget sama mereka?” Mirza yang sudah duduk di sebelah Om Jaka berbisik pada Omnya.


“Baru sekali doang kok. Ya gue kan orangnya emang sok akrab, hehe …” Om Jaka malah cengengesan.


“Jadi begini Pak Jaka.” Laki-laki setengah baya tadi memotong kasak kusuk antara Om Jaka dan Mirza. “Para penyewa lahan ini juga sebenarnya beminat untuk membeli tambaknya. Selain karena harganya terhitung murah, mereka juga tidak yakin kalau pemilik tambak yang baru nanti orangnya sebaik Pak Haji Barkah.


“Betul, Pak Jaka.” Timpal seorang laki-laki lain yang ada disitu. “Hanya saja kami mohon diberikan sedikit waktu. Karena meskipun murah kan, uang kami masih belum cukup. Apalagi ini belum musim panen. Kiranya Pak Haji bisa menunggu sampai waktu panen garam tiba.”


“Iya, setuju … setuju …” Yang lain ikut mengangguk setuju tanda sepakat dengan usulan teman mereka.


“Tolong disampaikan ya Pak Jaka pesan kami pada Pak Haji Barkah.” Ujar laki-laki setengah baya lagi.


Om Jaka mengangguk kemudian manyampaikan amanah mertuanya yang juga harus disampaikan para penyewa tambak garam itu. Mirza hanya menyimak. Namun begitu ia cepat mengambil kesimpulan, ia sangat tidak tertarik untuk ikut membelinya karena jalan menuju tambak cukup membuat perutnya mules. Mirza sudah punya angan-anagn ingin mebeli empan Haji Barkah beberapa hectar saja sebagai investasi.


Waktu bergulir sore. Sang bagaskara semakin tergelincir ke sebelah barat. Mirza dan Om Jaka baru selesai berkeliling ladang garam untuk melihat-lihat. Mereka kini berpamitan pada para warga dan menuju mobil untuk segera pulang.


Sementara itu di kantor Via juga sudah masuk jam pulang kerja. Via masih merapikan mejanya ketika beberapa karyawan lain menyapanya melambaikan tangan pulang duluan, termasuk Milen cs.


Drrrt ….


Drrrt…


Ponsel Via di dalam tas bergetar. Via cepat meraihnya, mungkin itu suaminya menelpon untuk memberi kabar karena sedari pergi pagi buta tadi belum menelponnya.


“Denaya?” Gumam Via begitu melihat layar gawainya.


“Ya, Halo. Gimana Den …”


“Vi…, Sshhhh…., Awwwh….” Terdengar Denaya seperti merintih kesakitan di seberang.


“Dena? Kamu kenapa?” Via tiba-tiba diliputi kekhawatiran.


“Vi…., kamu udah jam ulang belum? Aku…, Awwwwh….!!”


“Dena…! Kamu kenapa? I-iya aku ini udah mau pulang. Kamu tenang ya?” Via panik karena Denaya terus merintih.


“Vi, perut aku …. Perut aku mules …. Sshhhh… aduuuh…!!!”


“Apa? Mules? Jangan-jangan kamu udah mau ngelahirin?” Via kaget lantas segera bangkit berjalan cepat menuju lift.


“Nggak tau, tapi mules banget….! Dari siang tadi…. Aauuuh….”


Via tiba di depan pintu lift, dan sialnya banyak juga yang berdiri mengantri untuk masuk. Via berjalan menuju lift yang lainnya, namun sama saja, baru saja pintu lift terbuka karyawan sudah meneyerbu masuk memenuhinya.


“Sabar ya…, aku segera pulang.” Via mematikan sambungan dan langsung ambil inisiatif untuk menuju tangga darurat dengan tergesa-gesa.


“Vi!” Seseorang datang mencekal pergelangan tangan kiri Via sebelum kaki Via menginjakkan kaki pada anak tangga.


Via menoleh kaget. “Danar?”


Rupanya sudah sejak keluar ruangan kerja tadi Danar memperhatikan gerak gerik Via yang gusar.


“Kamu kanapa kok buru-buru begitu? Tanya Danar.


“Dena …, Denaya mau ngelahirin. Dia sekarang ada di rumah aku sendirian.” Ucap Via panik.


“Denaya?” Danar seperti mengingat-ingat. “Emang Om Jaka kemana?” Tanyanya setelah ingat Denaya adalah istrinya Om Jaka.


“Om Jaka lagi pergi sama Mas Mirza. Perut Dena sekarang mules, kayaknya kontraksi. Di rumah nggak ada siapa-siapa. Om Jaka mungkin masih lama nyampenya.” Via sudah mau nangis karena saking takut dan khawatirnya Denaya kenapa-kanapa. “Aku haus segera kesana, Danar.”


“Tunggu, Vi. Kamu nggak boleh pake tangga.” Cegah Danar.


“Tapi aku buru-buru, Danar!”


“Iya, tapi ingat kamu juga lagi hamil! Bahaya kalo kamu menuruni tangga dengan tergesa, ini lantai empat lho.” Danar memperingatkan penuh kekhawatiran. “Coba hubungi Yanti atau Firman, mungkin dia lagi nggak ada sift kerja.” Saran Danar.


“Oh, iya bener. Kenapa aku bisa lupa!” Via Segera mencari nomor Yanti, beberapa sat menunggu sepertinya belum ada jawaban. Via ini mondar mandir seraya melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Danar memperhatikan tingkah perempuan cantik di depannya yang tengah didera kepanikan itu.


“Gimana?” Tanya Danar setelah Vai melepas gawai dari kupingnya dengan wajah kecewa.

__ADS_1


“Yanti dan Firman kayaknya lagi sibuk, mereka nggak ada yang jawab.”


“Oke, aku telpon ambulance aja.” Dengan sigap Danar mendial panggilan darurat dan berbicara sangat lugas begitu sambungan terjawab.


“Gimana, Danar?” Gantian Via yang bertanya setelah Danar selesai menelpon.


“Ambulance akan datang ke rumah kamu bentar lagi. Sekarang aku coba hubungi Papa, biar Papa yang nyusulin ke sana sementara menunggu kamu nyampe.” Danar pun segera menelpon Pak hadi.


Drrrt….


Drrrt…


Ponsel dalam genggaman Via bergetar. “Yanti? Halo Yan!” Sapa Via terburu.


“Vi, ada apa nelpon? Aku baru selsai mandiin Gio.”


“Yan, tolongin Denaya, dia kayaknya mau ngelahirin.”


“Ha? Mau ngelahirin?” Yanti malah terkejut. “Parasaan tadi siang waktu aku tinggal pulang nggak papa, nggak ada tanda-tanda mau ngelahirin?”


“Aku juga nggak tau, barusan dia nelpon aku kesakitan gitu. Kamu bisa kan ke rumah aku sekarang?”


“Iya, iya. Sebentar aku titipin Gio dulu, soalnya yang momong dia udah pulang.”


“Firman emang ada sift kerja ya?”


“Iya, Vi. Dia masih rumah sakit, coba aku hubungi dia ya?”


“Barusan aku udah telpon tapi nggak diangkat, mungkin lagi sibuk. Ya udah kamu tolong ke rumah aku aja ya kalo udah beres sama Gio, Danar udah telpon Pak Hadi juga kok. Nanti ada ambulance yan datang ke sana buat bawa Denaya soalnya kalo nunggu aku takut keamaan.” Papar Via.


“Oh, oke oke.”


Via baru bisa bernafas sedikit lega sekarang. “Danar makasih ya. Maaf udah ngerepotin kamu.” Via menatap[ Danar penuh rasa terima kasih.


“Nggak papa, santai aja. Ini Papa udah nyampe rumah kamu, ada beberapa tetangga juga. Barusan Papa chat aku.” Ujar Danar. “Ya udah, sekarang aku antar kamu pulang ya.”


“Nggak usah, aku bawa mobil kok.” Tolak Via halus.


“Tapi bahaya kamu nyetir sendiri dalam kondisi nggak tenang kayak gini. Mobil kamu ditinggal aja di kantor nggak papa.”


Via nampak berpikir sejenak. “Ya udah kalo gitu.” Ucap Via akhirnya. Via membenarkan juga perkataan Danar kerena kakinya sampai sekarang masih aja gemeteran karena panik dan takut.


“Kita pake lift aja, udah nggak ngantri lagi tuh.”


“Eh, sebentar. Tas aku ketinggalan!” Via baru ingat sedari tadi dia nggak membawa tasnya saking paniknya.


“Pelan-pelan aja, nggak usah buru-buru gitu. Ingat kamu lagi hamil.” Danar kembali memperingatan dengan penuh perhatian.


Via mengangguk seraya tersnyum tipis.


“Aku tunggu disini ya.” Danar berhenti di depan pintu lift sementara Via kembli ke ruang kerja.


Beberapa saat menunggu, via belum juga muncul membuat Danar cemas. Danar memilih untuk meyusul Via stelah mendapat kabar Denaya sudah dibawa ke ruamah sakit oleh ambulance ditemani Yanti dan Pak Hadi.


“Vi?” tegur Danar pada Via yang ternyata tengah sibuk dengan ponselnya.


“Eh, maaf Danar. Ini aku lagi coba hubungi Om Jaka sama Mas Mirza tapi nggak ada yang nyambung nih.” Ia kembali coba menghubungi suaminya.


“Mendingan kita sekarng langsung ke rumah sakit aja ya, Denaya barusan udah dibawa kesana pake ambulance ditemani Yanti sama Papa.”


“Oh, gitu? Ya udah, sebentar aku kirim pesan dulu buat mas Mirza.” Via sibuk mengetik pesan, Danar mencuri pandang pada wajah ayu yang tengah sibuk dengan raut panik itu


Ya ampun, Vi … gimana aku bisa move on dari kamu kalo kayak gini caranya? Masa iya aku harus resign? Danar membatin seraya membuang pandangannya ke sembarang arah berusaha mengendalikan perasaannya. Sadar Danar, dia istri orang! Kamu nggak boleh merusak kebahagiaannya.


“Danar! Kok malah bengong sih?” Tegur Via karena rupanya dari tadi Danar tak menghiraukannya karena sibuk bermonolog dalam hati.


“Eh, iya! Gimana?”


“Ayok kita pergi sekarang. Aku khawatir baget sama Denaya.” Ajak Via masih penuh kekhawatiran.


“Oke!”


Via dan Danar pun berjalan beriringan menuju lift. Mereka hanya berdua di dalam lift dan saling diam karena sibuk dengan benaknya masing-masing. Danar sibuk mengendalikan pikirannya, sementara Vai masih sangat panik memikirkan keadaan Denaya. Via tak tau Om Jaka dan Mirza sekarang sedang mengalami pecah ban begitu keluar dari perkampungan tambak garam. Ponsel Om jaka mati dan ponsel Mirza ditinggal di dalam mobil. Sementara mereka sedang sibuk mengganti ban, setelah itu numpang beristirahat di salah satu rumah warga karena sebentar lagi masuk waktu maghrib.


Via dan Danar kini sudah sampai di rumah sakit. Raut cemas nyata sekali terlukis pada wajah Via. Rasanya dia sudah ingin langsung menghilang untuk sampai di tempat Denaya kini berada saking nggak sabarannya.


“Vi, jangan berlari.” Danar sampai harus mencekal lagi pergelangan tangan Via karena Via udah ambil ancang-ancang kayak mau lari sprint. “Denaya sudah ada di ruang bersalin. Kita kesana sekarang.” Danar berjalan tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan kiri Via.


Via hanya menurut berjalan di samping Danar sambil melihat tangan Danar yang poseseive mengenggam pergelangan tangan kirinya, namun ia juga tak berani mengelak karena raut wajah Danar terlihat sangat dingin. Agaknya Danar kesal juga yang melihat Via mau lari-lari terus padahal lagi hamil muda.


“Man! Gimana Denaya?” Tanya Danar yang melihat Firman melintas dari arah ruang bersalin.


“Oh, syukurlah kalian datang. Ada Yanti menunggu di dalam, kayaknya dokter harus ambil tindakan cessar.”


“Apa, cessar?” Via terkejut bukan main.


“Iya Vi, air ketubannya sudah hampir habis. Kayaknya Denaya nggak menyadarinya sebenarnya sudah sejak pagi air ketubannya keluar.”


“Aku mau lihat Denaya sekarang.” Via hampir menangis.


“Iya, kesana aja. Aku mau ke moshola dulu nyusul Pak Hadi sholat maghrib.”


Firman berlalu, Via dan Danar segera menuju ruang bersalin dengan wajah khawatir masih setia membayangi.


“Apa Bapak dan Ibu ini keuarga pasien Denaya?” Tanya suster yang keluar dari ruang bersalin sebelum mereka bertanya tentang keadaan Denaya lebih lanjut.


“Iya, benar Sus. Gimana keadaannya?” Via sangat penasaran.


“Tekanan darah pasien tinggi sekali, selain itu air ketubannya juga hampir habis. Kami memerlukan perstujuan pihak keluarga untuk melakukan tindakan operasi cessar pada pasien.”


Krieet…


Belum sempat Via berucap, pintu ruangan bersalin terbuka. Seorang perawat yang lain nampak mendorong brangkar dimana Denaya terbaring di atasnya.


“Dena…” Via menghampiri diikuti Danar. “Dena…, kamu sabar ya…, kamu harus kuat. Dena…! suster, kenapa dia diem aja?” Via melihat pada suster dengan air mata yang hampir jatuh.


“Pasien tidak apa-apa, hanya kelelahan saja.”


“Vi….” Panggil Denaya lirih dengan matanya yang terpejam kemudian meringis menahan sakit, hanya saja suaranya tak terdengar lagi.


“Iya, Dena. Aku disini, kamu tenaga ya. Om Jaka sebentar lagi nyampe.” Vai berusaha menenangkan Denaya padahal ia juga tak tau kabar Om Jaka sudah nyampe mana.


“Sebaiknya ibu segera ikut saya untuk mengurus administrasinya.” Ucap perawat yang satu lagi.


“Iya, Vi. Biar aku yang temani Denaya.” Yanti mengangguk kemudian mengikuti suster yang mendorong berangkar Denaya.


Via pun menurut, Danar masih setia menemani. Setelah Via selesai, mereka duduk di depan ruang oprasi bertiga bersama Yanti.


“Vi, kamu nggak papa kan?” Danar khawatir karena wajah Via nampak pucat.


Via menggeleng lemah. “Danar, gimana kalo ada apa-apa sama Dena? Kasihan dia, Om Jaka belum juga bisa dihubungi. Jangan-jangan Om Jaka dan Mas Mirza juga kenapa-napa. Sampai sekarang nggak ada kabarnya.” Gumam Via dengan kepala bersandar di tembok, matanya menatap kosong.


“Vi, kamu nggak boleh bilang begitu. Kita harus yakin, Denaya dan bayinya pasti selamat.” Danar menyentuh pundak Via lembut. Hatinya sungguh tak tega melihat perempuan pujaan disampingnya itu lemah tak berdaya.


“Danar benar, Vi. Kita serahkan pada Yang Kuasa. Semuanya pasti baik-baik aja.” Timpa Yanti. “Vi, kamu makan dulu ya, kayaknya kamu kecapekan deh, muka kamu pucet banget” Yanti juga menyadari raut pucat wajah Via.


Via kembali menggeleng pelan. “aku khawatir banget sama Denaya….” Lirihnya.


“Iya, tapi kamu juga nggak boleh kecapekan dan bayak pikiran. Danar, aku ke kantin dulu ya cariin Via makanan.”


“Iya.” Danar mengangguk.


Sepuluh menit sudah berlalu, Via masih menatap kosong dengan wajahnya yang semakin pucat, Danar bertambah khawatir karena tiba-tiba Via memegangi kepalanya.


“Vi, kamu nggak papa?” Danar menggeser posisinya lebih dekat. Via hanya melirik dengan tatapan sayu, Danar semakin khawatir dan mendekat lagi. Aroma manly Danar terendus nafas Via. "Vi ... apa kamu sakit?"


Vi atak menyahut, matanya perlahan terpejam dan tubuhnya nyaris saja jatuh ke samping, beruntung Danar segera menangkapnya dan membawanya ke dalam pelukannya.


“Vi! Bangun, Vi!” Danar menepuk-nepuk pelan pipi Via dengan cemas.


“Nghh….” Via terdengar seperti mengigau. Ia ingin membuka matanya namun kepalanya terasa sangat berat. “Mas, Mas Mirza …..” Panggil Via lirih menyebut nama Mirza.


Deg deg deg!


Jantung Danar berdegup tak beratutan, perempuan yang sangat dicintainya itu kini dalam dekapannya dan sepertinya tengah mengira dirinya adalah Mirza.


“Vi! Ya ampun, tangan kamu dingin banget.” Danar menggenggam erat jemari Via yang lemah. “Vi …” Danar masih bersaha menyadarkan Via.


Diantara debaran jantungnya yang semakin bertalu tak karuan dan kepanikannya yang menyatu, ada perasaan behagia menelusup masuk tanpa permisi menguasai seluruh relung hatinya. Ini kali kedua ia sangat dekat dengan Via setelah dulu dia juga yang menggendong Via menuju mobil saat Via pingsan di rumahnya dalam keadaan hamil anak petamanya. (Uunch.., sweet banget kan, ternyata Danar sama Via pernah pelukan juga, meskipun nggak sengaja? Wkwkwk…😆😆 yang belum tau, yok intipin mereka di bab … bab berapa ya? othor lupa 😂😂 itu waktu Mirza berangkat ke Jakarta pokoknya 😁)


Ok, lanjut pelukan … ehh lanjut ceritanya…🤭🤭


Perasaan hangat menyelemuti seluruh hati Danar. Rasanya ia tak ingin melepaskan pelukannya. Wangi rambut indah Via tercium nyata, perempuan cantiknya itu kini tak berdaya. Danar ingin sekali mengusap pipi lembut itu, namun ia tahan. Tak pantas rasanya ia lakuakan itu. Danar hanya memandangi dengan penuh rasa takjub maha karya Sang Pencipta yang kini terkulai dalam dekapannya.


“Danar?” Sapaan Pak Hadi sontak mengagetkan Danar yang tengah memandangi wajah Via.


“Pa … Papa…?” Danar sedikit tergagap karena Pak Hadi melihat tajam padanya. “ Pa, Via pingsan ….”


“Pingsan?” Pak Hadi kaget, lantas memperhatikan Via yang memang tak bergerak. “Kalo gitu kenapa malah didiemin aja? Bawa dia ke IGD, cepat!” Perintah Pak hadi.


“I-iya Pa…” Danar segera menggendong tubuh lemas Via menuju IGD dikuti tatapan tajamjam Pak Hadi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Eeea….. 4682 kata lho ini Kak…. 😄😄


Panjang amat yaak…. 😆😆


Biarin aja deh, makin panjang kan makin enak….😁😁 Wkwkwk…🤭🤭🤭


Mumpung lagi on fire🔥🔥🤩🤩


Oke, terima kasih sudah membaca ya Kak. Mohon maaf kalo banyak typo dan kesalahan. 🙏🙏🙏


Like boleh 😊


Komen boleh banget😉


Baca aja, nggak like ngak komen juga nggak papa kok… wkwkkk…😂😂


Jangan vote ya, tapi kalo maksa nggak papa deh, hehe…😅😅

__ADS_1


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2