TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
218 #MAIN ALUS (PART 2)


__ADS_3

"Bu, tunggu!" Sofi menyusul Bu Een yang baru saja turun dari mobil. "Kenapa ibu meminta Via buat ngijinin Mirza nikahin aku?"


Pertanyaan yang sudah ditahannya sepanjang perjalanan pulang akhirnya terlontar juga dari bibir Sofi. Dia tak mengira Bu Een mengajaknya menemui Via untuk mengatakan hal seperti itu. Semula Bu Een hanya minta ditemani belanja keperluan toko sembako, namun ternyata dia punya niat lain setelahnya


"Memangnya kamu nggak mau nikah sama Mirza?" Bu Een balik bertanya dengan tampang menyelidik. "Dulu siapa yang ngemis-ngemis pingin dinikahi Mirza?


"Tapi keadaannya sekarang beda, Bu. Aku sudah bersuami dan sedang mengandung anak dari suamiku."


Menyunggingkan senyum penuh arti. "Itu bisa diatur nanti.Bukankah kamu nggak bahagia dengan suamimu?" Berjalan memasuki rumah.


"Tunggu dulu, Bu."


Berbalik dengan tatapan jengah. "Ada apa lagi sih?"


“Aku tak mungkin menikah dengan Mirza, aku nggak mau jadi istri ke dua.” Ungkap Sofi menatap wajah permpuan tua yang dipenuhi ambisi.


“Saya kan sudah bilang, kamu jangan bayak protes! Turuti saja apa kata saya!” Ketus Bu Een. “Jangan tanya apa-apa lagi!” Menunjuk muka Sofi yang baru saja hendak buka mulut ingn bicara. “Mendingan kamu turunin semua barang-barang belanjaan dan tata yang rapi di toko!” Titah Bu Een kemudian pergi masuk kamar.


Arrrgh! Sofi menggeram menahan kedongkolan hatinya. Jika saja Bu Een itu seumuran dengannya mungkin udah ditariknya itu rambut nenek-nenek satu itu sampe kejengkang. Tega bener dia main perintah seenak dengkulnya padahal Sofi tengah hamil.


Sofi berjalan ke depan melongok ke luar halaman, pas banget tampak dua orang melintas mengendarai motor berboncengan di depan rumah Bu Een.


“Pak, behenti sebentar!” Panggil Sofi nyaring.


Seketika pengendara motor mengerem laju motornya. “Ada apaan, Mbak?”


“Bisa bantuin saya nggak?”


Kedua pengendara motor yang kebetulan lak-laki semua itu tampak saling beratatapan penuh heran. “Minta tolong apaan, Mbak?” Mereka kompakan.


“Tolong bantuin saya turunin barang-barang dari dalam mobil ya, saya nggak kuat.” Sofi mengelus perut buncitnya membuat kedua orang itu merasa kasihan. “Nanti saya kasih upah sebagi ucapan terima kasih.”


Mendengar kata upah, kedua lelaki itu pun langsung mengikuti langkah Sofi menuju mobil dan menurunkan semua barang belanjaan Bu Een untuk membawanya masuk ke dalam toko. Tak butuh waktu lama, kedua lelaki itu pun sudah menyelesaikan tugasnya.


“Ini untuk kalian.” Sofi memberikan dua lembar uang ratusan ribu.


Kedua lelaki itu melongo saling pandang.


“Kenapa? Kurang ya?” Sofi kembali mengambil dua lembar uang ratusan ribu lagi dari dalam dompetnya. “Saya tambahin.”


Keduanya langsung menyambar uang dari tangan Sofi. “Makasih, Mbak.” Tersenyum lebar seraya menciumi uang yang barusan mereka dapatkan.


Ya ampun! Murah banget harga kebahagiaan buat mereka! Decak batin Sofi memandang kedua leaki itu yang pergi menjauh.


Sofi tersenyum lebar melangkah masuk kamar, sekarang dia bisa istirahat melepaskan semua penatnya karena hampir seharian ini menemani Bu Een belanja kemudian ke rumah Via.


Semilir angin lembut mengusap wajah Sofi yang tengah termangu di depan jendela kamar Om Jaka. Bayang-bayang wajah kaget Via bermain di benaknya. Mata Sofi sempat berserobok dengan mata Via yang menatapnya tajam tak bersahabat, dan Sofi tak kuasa untuk balas menatapnya.


FLASHBACK ON


“Apa dengan ibu melihat Mas Mirza menikahnya ibu akan bahagia?” Via menatap tegas wajah sang ibu mertua setalah melirik tajam pada Sofi yang hanya terdiam tak berani mengangkat wajahnya.


“Iya, Vi. Ibu akan sangat bahagia.” Sahut Bu Een mengulas senyum tak tau malu dan sungguh tak berperasaan.


“Meskipun Mas Mirza nggak akan bahagia dengannya?” Suara Via bergetar namun tak gentar untk sedikitpun meredupkan pandangannya.


“Selama Mirza tak kehilangan kamu, dia pasti akan bahagia. Kamu dan Sofi bisa berbagi suami.” Enteng sekali kalimat itu meluncur dari bibir Bu Een. “Demi ibu, Vi. Demi wanita tua ini.” Masih setia dengan tatapan mengiba mengaharap simpati.


“Aku pikir ibu akan melanjutkan sifat keras hati ibu terhadapku, tapi siapa sangka sekarang ibu justru berubah lembut padaku demi untuk memisahkan aku dan Mas Mirza.”


Gluk!

__ADS_1


Bu Een terlihat kaget Via seolah seperti seorang cenayang yang mempunyai penglihatan menembus dasar hati seseorang.


“Sebenarnya apa yang membuat ibu sangat membenciku?” Tenang sekali wajah Via melontarkan pertanyaan yang menusuk itu. tak sedikit pun terlihat guratan-guratan amarah pada wajah cantiknya.


“Apa saya harus punya alasan?” Bu Een hampir kehilangan bakat aktingnya, tak menyangka Via menanyakan hal itu.


Mengulas senyum samar. “Kalo ibu nggak mau bilang juga nggak apa-apa kok. Itu hak ibu. Terkadang kita memang tak memerlukan alasan apapun untuk mempunyai suatu rasa pada orang lain.” Jeda sebentar melihat ibu mertuanya yang mulai ketar ketir. “Tapi ibu harus tau, tidak akan mudah untuk memisahkan Mas Mirza dari aku. Meski aku bisa jauh darinya, tapi dia tak akan sanggup Bu.”


“Itu yang saya rasakan selama ini, Mirza terlalau tergantung padamu sampai melupakan ibu kandungnya sendiri.”


“Ibu salah, justru karena persaan benci ibu terhadapku sehingga ibu merasa demikian. Rasa benci dalam hati ibu menutup semua kebaikanku dan Mas Mirza selam ini pada ibu.”


“Sayq datang kesini bukan untuk mendengar ceramahmu.” Membuang muka ke sembarang arah karena mulai gerah dengan penolakan-penolakan sang menantu. “Kalau kamu tetap pada pendirianmu, maka selamanya kamu akan mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari saya.”


“Apa jika aku menyetujui Mas Mirza menikah lagi ibu akan bersikap baik padaku?” Sekali lagi melirik tajam pada Sofi yang hanya diam, lalu Via tersneyum sinis. “Belum tentu kan?”


“Via, kamu benar-benar keras kepala. Dan sikap keras kepalamu ini telah merusak hubungan mulia antara ibu dan anak kandungnya. Mirza anak saya satu-satunya, saya tidak akan tinggal diam kamu merebut dan mengusai hidupnya.” Bu Een kembali pada watak aslinya. “Ayo Sofi kita pergi! Nggak ada gunanya kita berlama-lama lagi disini!” Bangkit melangkah keluar duluan.


FLASHBACK OFF


❤️❤️❤️❤️❤️


“Sayang apa ada yang menggangu pikiranmu?” Mirza melihat istrinya masih duduk termangu di kursi kerjanya yang sekarang berbah fungsi menjadi kursi tempat melamun. “Ini udah malam, kenapa kamu belum tidur?” Menutup buku tebal tentang daftar nama-nama obat yang baru dikenalnya.


“Via menghela napas. “Mas tidur aja dulan, aku belum ngantuk.”


Bangkit meletakkan buku di meja sang istri. “Mas tadi malah udah ketiduran. Kamu nggak tau?” Menyingkirkan anak rambut dari dahi istrinya. “Mas semakin yakin pasti ada yang mengganggu pikiranmu.”


“Mas sotoy banget ih!” Bangkit menghindari tatapan sang suami malah kabur ke kamar mandi. “Aku mau wudhu dulu, belum shalat isya.”


Fix! Mirza semakin yakin istrinya menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui olehnya. Mereka telah menikah hampir delapan tahun, satu sama lain saling mengenali sikap aneh yang tak biasa.


“Sayang, katakan ada apa denganmu.” Mirza sudah menghadang di depan pintu kamar mandi.


“Bilang dulu, ada apa denganmu?”


“Ck! Ada apa denagnmu, kayak judul lagu aja!” menghindar melewati celah antara tubuh tegap suaminya dan lemari.


“Kalo kamu nggak mau bilang, Mas cium nih!” Menghadang langkah Via seraya memajukan wajahnya.


Freez! Ketika wajah suaminya sangat dekat, entah mengapa Via merasa sangat sentimentil. Tiba-tiba kedua netranya mengembun. Ia susuri setiap lekuk wajah kharismatik di depannya yang selalu memberinya kebahagiaan, mencurahinya kasih sayang tiada pernah jemu dengan sorot mata yang tak sanggup lagi menahan tumpahan lelehan air mata. Via benar-benar tak kuasa membayangkan jika sang suami harus berbagi kasih dengan wanita lain. Istri mana yang sanggup merelakan suaminya menikah lagi? Via bukan wanita kuat dan tangguh yang dapat dengan ikhlas melepaskan sang suami demi kebahagiaan orang lain, meski itu adalah ibu kandung suaminya sendiri.


“Sayang, kenapa menangis?” Menangkup kedua pipi Via dengan telapak tangannya kemudian membawanya ke dalam pelukannya yang seperti biasa sangat menenangkan.


“Mas, jangan tinggalin aku, hiks …..” cairan bening terus merembes dari kedua matanya membasahi kaos yang dikenakan sang suami.


“Mas nggak kemana-mana Sayang. Mas nggak akan pernah ninggalin kamu.” Mencium pucuk kepala Via penuh kasih sayang, semakin yakin dugaannya ada suatau hal yang terjadi pada istrinya.


Perlahan dibimbingnya Via ke bibir ranjang. “Sayang, bukankah kita sudah berjanji akan selalu terbuka untuk hal apapun. Katakan, apa yang terjadi?”


Menghela nafas berat. “Tadi siang ibu dan Sofi datang kesini.” Tutur Via.


“Ibu dan Sofi datang kesini?” Ulang Mirza dengan kaget.


Mengangguk sambil mengusap pipinya yang basah. “Ibu minta aku ngijinin Mas buat nikahin Sofi.”


Tak ada jawaban, hanya ada nafas gusar yang terdengar. Namun Via tau sorot mata suaminya penuh amarah.


“Mas …” Lirih Via.


Masih tak menyahut. Diraihnya ponsel dari atas nakas.

__ADS_1


“Mas, mau ngapain? Jangan telpon ibu!” Sergah Via.


“Tapi aku nggak bisa membiarkan ibu bertindak seperti itu! aku nggak suka ibu menyakitimu! Ibu harus tau kamu adalah istri aku, satu-satunya istri aku sampai kapanpun!”


Kaget, jelas saja Via kaget. Mirza tiba-tiba meledak, seorang yang baisanya sangat tenang dan humoris bisa saja langsung meluap jika ketenangnnya diusik tak peduli yang mengusiknya adalah ibu kandungnya sekalipun.


“Mas ….”


“Wanita itu harus segera angkat kaki dari rumah ibu. Jika ibu tak mampu melakukannya, maka aku yang akan meneyretnya sendiri!”


Via segera menghambur mendekap tubuh suaminya, tangisnya semakin pacah sampai badannya berguncang-guncang. Seketika Mirza tersadar, dia mungkin telah membuat istrinya ketakutan, bagaimanapun juga Via kini sedang hamil dan perasaannya lebh sensitive.


“Sayang, maafkan Mas. Bukan maksud Mas membuatmu takut.” Mengeratkan pelukan penuh penyesalan.


Via menggeleng. “Nnggak Mas, aku nggak takut. Aku justru sangat bersyukur, melihat Mas marah seperti itu semakin membuatku yakin Mas nggak akan pernah ninggalin aku walau apapun yang terjadi.” Ucap Via disela-sela isaknya.


Melerai pelukan perlahan, manatap kedua mata istrinya yang basah. “Selamanya, Sayang. Mas nggak akan pernah meninggalkan kamu.”


Cup!


Kecupan lembut didaratkan pada kening Via.


“Sekarang Mas udah nggak marah lagi, Mas selalu merasa adem kayak di dalam gentong kalo di samping kamu.” Ujar Mirza mengulas senyum manis lesung pipinya.


“Ish!” Mencubit kecil perut sang suami.


“Bener, Sayang. Kamu selalu bisa menyejukkan hati Mas. Kamu sejuk kayak …”


“Udah deh, jangan diterusin gombalnya.” Cebik Via.


“Aih, manisnya istriku kalo mencebik gitu, gemesin!” menjewew pipi kanan Via. “Ya udah, wudhu dulu sana. Kan katanya tadi mau shalat isya? Abis itu Mas temenin kamu tidur Sayang.”


“Emangnya Mas nggak mau tidur?” heran Via.


“Mas mau baca buku lagi. Masih banyak yang harus Mas pelaajari.”


“Tapi bukan mau telpon ibu atau Sofi kan?”


“Nggak!”


“Janji?”


“Heem.” Mnegangguk dengan mengangkat kedua jari kanannya.


“Aku cuman takut aja Mas akan berbuat kasar.”


“Jangan khawatir Sayang, suamimu ini masih waras. Tadi hanya kebaawa emosi aja. Nanti Mas akan pikirkan gimana caranya menyingkirkan wanita itu dari rumah ibu.”


Via lega. Lega untuk sikap suaminya, namun tentu saja masih ada yang mengganjal dalam hatinya tentang ibu mertuanya dan Sofi. Ia tahu tak kan mudah menyadarkan, bahkan mungkin mustahil untuk membuat ibu mertuanya berhenti mengganggu rumah tangganya. Namun selepas sholat, Via seolah mendapat pencerahan. Maka ketika ia melihat suaminya masih khusuk dengan buku bacaannya, Via mengambil sesuatu dari tas ransel yang bisa dipakai suaminya bekerja. Setelahnya ia segea merayap ke atas tempat tidur memasang wajah manis menggemaskan. Tidur berbantalkan lengan suaminya dengan tangan bermain-main pada dada bidang sang suami sesekali beralih pada brewok tipis yang tumbuh dipipi Mirza. Angin malam mendesau perlahan, sepinya membuai wanita yang ada dalam pelukan dada bidang Mirza ke dalam alam mimpi.


❤️❤️❤️❤️❤️


Segini dulu ya Kak ….😊


Silakan ngomel lagi, othor tunggu ya….🤩🤩


Terima kasih yang sudah vote. Ya belum, masih bisa kalee ….😁😁


Sehat-sehat semuanya ya, meski partnya lagi tegang mulu moga aja nggak bikin imun turun ya😂😂


Salam sayang buat kalian semua😍

__ADS_1


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2