
229
Langit terang dengan awan berarak riang. Hari yang terlalu indah untuk bermalas-malasan, setelah selesai makan siang beberapa saat yang lalu Via duduk di teras belakang dibuai angin semilir yang bikin ngantuk. Namun Bu Harni sudah wanti-wanti, perempuan hamil jangan kebanyakan tidur siang, ntar anaknya kalo gede jadi pemalas. Padahal kan wanita hamil emang harus banyak istirahat ya? termasuk tidur siang. Tapi karena Via males ribut, ya sudah lah nurut aja. Biasanya dia akan tidur setelah jam 2 siang sampai menjelang waktu ashar nggak lebih dari satu jam.
Via menyibakkan rambutnya, jemari lentiknya memetik dawai-dawai gitar akustik yang dipinjamnya kemarin sore dari Yanti. Gitar itu milik Firman dan sudah lama nggak dipakai, Via tetiba tertarik ingin kembali menyentuh alat musik petik itu setelah sempat membuka album foto-foto lamanya. Maklum lah, kebanyakan bengong di rumah juga kan bosen lama-lama? Selain untuk mengisi kekosongan, ia juga nampaknya ingin mengenang kembali masa SMU-nya dulu. Meski nggak terlalu mahir bermain alat musik, tapi Via kan salah satu anggota grup paduan suara yang cukup beken di sekolahnya hingga bikin si Rindra tengil itu ngefans berat sampe sekarang sama Via.
“Vi, mau dimasakin apa buat makan malam?” Bu Harni sudah berdiri di tengan pintu belakang.
Mengatur setelan gitanya yang dirasa kurang pas. “Apa aja lah, Bu.” Sahut Via tanpa menoleh.
“Jangan apa aja dong, nanti kamu nggak mau makan.”
“Terserah ibu aja, Mas Mirza juga nginep di rumah sakit jadi nggak perlu masak yang ribet-ribet Bu.”
“Ya udah masak mie rebus aja!”
“Boleh.”
“Hiyy! Kamu itu diajak ngomong malah nyuekin ibu sih?”
Menatap sang ibu, “aku akan makan apa pun yang ibu masakin. Mie rebus juga oke.” Coba mengulas senyum demi melihat sang ibu yang kadung cemberut.
“Oke, oke apanya? Wanita hamil nggak boleh keseringan makan makanan instant, Vi!” Mulai ceramah lagi.
“Emangnya aku keseringan makan mie instant ya? kok ibu tau sih? Aku aja lupa kapan terakhir kali makan mie rebus.” Malah garuk-garuk kepala sambil nyengir.
“Hm terserah kamu lah! Mendingan ibu bersih-bersih aja daripada ngeladenin kamu!” Balik badan dengan kesal.
Via hanya mengangkat bahu lantas kembali asyik dengan gitar pinjamannya.
Bu Harni beberes rumah. Apa-apa yang terlihat nggak sreg menurut pandangannya akan ia benahi. Setiap sudut rumah ia bersihkan. Ada enaknya juga ya kalo punya ibu macam Bu Harni, meski kadang cerewet tapi rajin bersih-bersih. Bu Harni kini tengah merapikan kamar Via, tumpukan album foto yang agak berantakan tak luput dari sentuhan tangannya. Salah satu foto yang terjatuh dari dalam album menyita perhatian Bu Harni. Ia menarik sudut bibirnya memandangi wajah putri cantiknya disana.
“Hmm, dari saudara-saudaramu mungkin kamu yang paling beruntung, Vi.” Lirih Bu Harni mengusap foto Via yang tampak sedang tersenyum manis memegang gitar ditangannya. “Rupanya gara-gara foto ini tiba-tiba kamu mau main gitar lagi.” Meletakkan kembali foto itu ke dalam tempatnya.
Seisi rumah sudah beres, Bu Harni kini beralih ke teras depan. Sebuah motor berhenti di luar pagar menghentikan kegiatan Bu Harni.
“Permisi, betul ini rumah Mbak Via?” Tanya seorang laki-laki seraya mendekat membawa dua kaleng krupuk di tangannya.
“Iya, bener.” Mengangguk namun menatap si laki-laki di depannya dengan bingung.
“Ini kerupuk buat Mbak Via.”
“Via pesen kerupuk? Kapan dia pesen kerupuk? Perasaan kerupuk yang dibeliin suaminya aja masih banyak.” Menggerutu sendiri menerima dua kaleng penuh kerupuk yang disodorkan.
“Mas Mirza yang pesen waktu itu, Bu.”
“Mirza?” Tambah bingung.
“Iya, Masa Mirza Bu. Waktu itu beli kerupuk sama saya, terus katanya nanti saya suruh anterin lagi kerupuk ke rumahnya buat istrinya yang bernama Mbak Via.” Papar si mamang tukang kerupuk.
Bu Harni manggut-manggut meski tampangnya masih keder, pikirnya mau diapain kerupuk sebanyak itu? Mau buat lomba 17 an kan udah lewat?
“Itu udah dibayar kok sama Mas Mirza, Bu.” Ucap si mamang menyadarkan Bu Harni. “Sama kaleng-kalengnya juga.”
“Udah dibayar? Sama kaleng-kalengnya juga?” Ulang Bu Harni.
Si mamang tukang kerupuk mengangguk seraya tersenyum lantas segera pamit. Masih menyisakan tanya di benaknya, ngapain sang menantu beli kerupuk sampe banyak banget? Bu Harni menuju teras belakang melewati ruang makan dimana beberapa bungkus kerupuk masih teronggok di atas meja makan.
“Vi!” Panggilnya agak mengagetkan Via yang tengah menyenandungkan sebuah lagu dengan petikan gitarnya masih alakadarnya. “Lihat ni kelakuan suami kamu!” Menunjukkan dua kaleng kerupuk yang dibawanya.
“Mas Mirza beli kerupuk lagi?” Mengernyit heran.
“Iya. Sama kaleng-kalengnya!” Menggeleng tak habis pikir. “Mau buka wateg kayaknya suamimu itu.”
Via hanya tersenyum, meski kelakuan suaminya agak berlenihan tapi Via merasa lucu juga dengan kata-kata ibunya yang ngatain Mirza mau buka warteg, mentang-mentang kaleng kerupuk seperti itu kerap eksis nongkrog di meja warteg.
“Buang-buang duit aja suamimu itu beli kerupuk segini banyaknya.” Mulai mengomel.
“Ya udah lah Bu, nggak papa. Ntar aku bagi-bagiin sama tetangga deh.”
“Nggak mau kamu ukur dulu ini diameternya udah pas 8 cm apa belum?” Sindir Bu Harni semakin mengomel.
“Ibu aja deh yang ukurin, aku lagi sibuk.” Kembali pada gitarnya sambil mengulum senyum.
__ADS_1
Bu Harni baru saja memutar langkahnya ketika Via memanggilnya. “Bu!”
“Apa?” Pasang tampang setengah kesal.
“Nanti sore kita ke rumah sakit yuk Bu jenguk … “
“Males!” Potong Bu Harni sebelum Via sempat melanjutkan kalimatnya.
“Bu … “ Bangkit memandang sang ibu dengan tatapan memohon. “Apa ibu nggak kasihan sama Bu Een? Ibu nggak kepingin tau kondisinya?”
“Nggak tuh!”
“Jangan gitu dong Bu, biarpun Bu Een sifat dan sikapnya sering menyakitkan tapi kan dia ibu mertua aku, besannya ibu.”
“Nah itu kamu tau ibu mertua kamu itu sikapnya sering bikin sakit hati? Ngapain kamu masih mau nengokin dia?” Kesal beneran.
“Bu, saat seperti ini kita jangan ingat-ingat yang buruk soal Bu Een ya.” Masih menatap dengan kedua netra redupnya penuh permohonan.
“Terus ibu suruh inget-inget kebaikannya gitu maksud kamu? Di mata ibu nggak ada baik-baiknya ibu mertuamu itu, sedikitpun nggak ada!”
Lebih mendekat hendak menyentuh pundak ibunya, namun Bu Harni keburu menghindar.
“Sekali ibu bilang nggak ya nggak!” Tegas Bu Harni. “Lagi juga Mirza ngelarang kamu ke sana kan? Wanita hamil emang jangan keliaran di rumah sakit. Nurut kata suami kamu, jangan ngeyel!” Menatap tajam membuat Via menunduk kecewa.
“Udah, mendingan kamu nyanyi lagi sana! Bagusan main gitar sambil nyanyi-nyanyi menghibur diri daripada nengokin ibu mertua kamu yang lagi diazab pelan-pelan sama Tuhan itu! biar tau rasa dia!” melengos lantas melangkah cepat tak ingin mendengarkan permohonan Via lagi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Waktu berputar silih berganti,
hari ini genap satu minggu Bu Een dirawat dalam ruang ICU rumah sakit. Mirza bersiap-siap hendak mengantarkan Bu Harni pulang karena akan gantian dengan Riri yang menginap menemani Via. Meski Via meyakinkan dia akan baik-baik saja tanpa ada yang menemani selama Mirza mejaga ibunya di rumah sakit, namun tak ada yang tega membiarkannya sendirian di rumah dalam kondisi hamil seperti itu.
“Vi, nanti kalo Riri nginep disini jangan bolehin si Toni sering-sering main ya?” Pesan Bu Harni.
“Segitunya Bu? ya biain aja lah, namanya juga orang lagi kasmaran.”
“Ish, kamu ini! Selama ibu nginep disini juga ibu pasang mata-mata buat ngawasin Riri di rumah,biar nggak dua-duaan terus sama Toni, tau!” Kesal Bu Harni karena Via terkesan membela hubungan adiknya denga Toni.
“Nggak sekalian pasang CCTV aja!” Ledek Via. “Atau nikahin aja lah mereka Bu secepetnya kalo ibu takut mereka jadi bahan fitnah.”
Via mendengus kasar mendengar celotehan ibunya. Mirza keluar kamar. “Udah siap, Bu?” Tanyanya.
“Udah dari tadi, Za.”
“Ya udah, ayok!”
“Hati-hati ya, Bu.” Meraih punggung tangan ibundanya dan menciumnya takzim.
Bu Harni mengangguk, namun belum juga mereka melangkah, ponsel Mirza bergetar di dalam saku celananya.
“Om Jaka?” Gumamnya setelah melihat layar gawainya dipenuhi tampang Om Jaka yang narsis abis. “Ya, Om?”
“Za, elu cepetan ke rumah sakit sekarang. Ada kabar baik soal emak elu.” Ujar Om Jaka di seberang.
“Maksud Om Jaka? Ibu …“
“Iya, emak elu menunjukkan perkembangan. Barusan dokter Leopard … “
“Dokter Leonard kali Om!” Ralat Mirza.
“Iya dokter itu dah pokoknya.” Om Jaka nggak mau ribet. “Barusan dia periksa emak elu tuh, terus katanya emak elu menunjukkan perkembangan yang sangat bagus. Kemungkinan operasi bisa segera dilakukan. Makanya elu cepetan kesini buat nemuin dokternya sendiri.” Papar Om Jaka.
“Oke, Om. Aku segera kesana sekarang.”
“Mas, kenapa ibu?” Penasaran menuntut penjelasan setelah suaminya selesai menerima telepon.
“Ibu menunjukkan perkembangan yang bagus, Sayang. Kemungkinan operasinya bisa dilaksanakan dalam waktu dekat ini.”
“Alhamdulillah.” Mengucap sukur penuh haru, Bu Harni cuek aja.
“Bu, kalo kita ke rumah sakit dulu nggak papa kan?” Bertanya pada ibu mertuanya karena Mirza juga sudah terlanjur janji mau mengantarkannya pulang.
“Hemm, nggak papa.” Terpaksa setuju walau hati nuraninya nolak mentah-mentah. Sia-sia usahanya selama ini menolak keras mengunjungi besannya itu.
Mirza pun gegas melajukan mobilnya bersama sang ibu mertua menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan tak henti ia mengucap syukur dalam hati atas kemurahan Tuhan yang memberikan kesempatan kedua untuk ibunya.
Sementara itu di depan ruang ICU lain yang berdekatan dengan kamar Bu Een, tempat Sofi terbaring koma, Azad dan Ramzi juga baru saja mendapatkan kabar baik dari dokter yang baru saja mengecek kondisi Sofi.
__ADS_1
“Jika keadaannya terus stabil seperti ini, besok pagi pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan biasa.” Ungkap sang dokter.
Azad mengangguk. “Terima kasih, Dok.”
“Lalu bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?” Ramzi masih belum bisa tenang.
“Untuk hal itu, silakan Bapak konsultasikan dengan dokter yang bersangkutan ya. Namun sepengetahuan saya, kasus seperti yang dialami anak Bapak kemungkinan besar mengharuskan bayi lebih lama lagi dirawat di ruang NICU meskipun kelak ibu sang bayi sudah pulih dan diperbolehkan pulang.” Papar sang dokter lantas pamit pergi.
Ramzi melangkah lunglai, pikirannya kian diselimuti kekhawatiran akan kondisi buah hatinya.Bagaimana mungkin ia akan membiarkan bayi mungilnya ditinggal sendirian sedangkan Sofi kelak sudah boleh pulang?Ia sungguh tak tega, ia ingin selalu berada di dekat bayi mungilnya.
Azad memandangi kepergiannya, mebiarkan saja kakak iparya itu pergi entah kemana. Mungkin dia akan kembali termenung di depan ruang NICU memandangi deretan box incubator tempat salah satu anaknya terbaring disana. Azad mengerti benar akan kondisi Ramzi.
“Kenapa si sultan songong itu?” Om Jaka menepuk pundak Azad dari belakang.
Menoleh sedikit kaget. “Biasalah Om, dia masih sedih dengan kondisi anaknya, padahal dokter baru saja mengabarkan keadaan Kak Sofi membaik, dan besok sudah bisa dipindah ke ruang perawatan.”
“Wah, kok bisa samaan gutu ya?” Om Jaka keheranan sendiri.
“Maksudnya, Om?”
“Sofi sama mbakyu gue. Mereka hari ini kodisinya sama-sama membaik, bener-bener sehati ya meraka?” Terkekeh diujung kalimatnya karena merasa tak habis pikir. “Kompak bener mereka ya?”
Azad hanya mengulas senyum tipis. “Oya Om, soal teman-teman saya …”
“Udah lu kagak usah khawatir, mereka aman udah gue sewain hotel!”
“Ha? Serius Om?” terkaget-kaget.
“Tapi bo-ong, hehe ….” Cengengesan sendiri. “Serius amat lu! Lagian mana ada hotel di kampung?”
“Jadi mereka masih di rumah Bu Een?”
“Kagak, udah gue pindahin ke rumahnya si Mirza yang kosong itu.”
“Rumah Mas Mirza yang dulu?” Tanya Azad ragu.
“Iya, abisnya gue kesian sama temen elu yang bule itu. tidur di kursi sampe melingker kayak uler! Ya gue suruh mereka di rumah Mirza aja soalnya gue suruh pulang pada kagak mau. Katanya betah di kampung.” Papar Om Jaka.
“Maaf ya Om, jadi ngerepotin.”
“Santai aja lah. Gue juga udah nyuruh orang buat bersih-bersih rumah sama masak di sana tiap hari biar temen-temen elu makin betah.”
“Wah, jadi nggak mau pulang beneran nanti meraka Om!”
“Ya biarin aja, bagus lah buat para kaum emak tetangga rumahnya Mirza. Mereka jadi punya hiburan, saben hari wara wiri depan rumah cuman buat liat tampangnya temen elu yang bule itu. maklum lah, mereka kan baru liat bule beneran, hehe ….”
Azad ikut tersenyum ngebayangin si Hanson jadi idola kaum emak tetangganya Mirza di kampung.
Tak berapa lama kemudian Mirza dan Bu Harni sampai di rumah sakit, mereka gegas menuju ruangan ICU. Ketika langkah mereka berhenti di depan ruangan, Bu Harni terkejut mendapati seseorang yang tengah berbincang dengan Om Jaka.
“Za, dia bukannya …. “Tak melanjutkan kalimatnya, menatap pada Azad yang merasa pernah dilihatnya.
“Iya, Bu. ini Azad adiknya Sofi. Sofi juga dirawat disini.”
“Dirawat disini? Kok bisa?” Menatap ketiga laki-laki di dekatnya bergantian. Raut wajahnya menegang seketika manakala mendengar nama Sofi disebut-sebut. Dia langsung teringat dengan wanita yang hampir saja menghancurkan rumah tangga anaknya itu.
“Za, biarin gue aja yang jelasin ke Mbak Har.” Om Jaka mengambil alih. “Elu cepetan temuin dokter Leopard.”
“Leonard, Om!”
“Iya itu maksud gue!”
Mirza pun bergegas menuju ruangan dokter Leonard, sementara Om Jaka mengajak Bu Harni untuk duduk santai mendengarkan penuturannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca, maafkan kalo banyak typo ya. up nya baru bis segini dulu ….🙏🙏🙏
Makasih juga yang udah doain anak bontotnya othor, doi udah baikan tinggal manjanya aja kok. Biasalah bocil kalo abis sakit ya😊😊
Sehat-sehat ya semuanya.😇😇
Jangan lupa selalu like🤩🤩
Komen dan vote juga ya…😍😉
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1